{"id":85991,"date":"2026-06-18T01:59:43","date_gmt":"2026-06-18T01:59:43","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991"},"modified":"2026-06-18T01:59:43","modified_gmt":"2026-06-18T01:59:43","slug":"negeri-apodio","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991","title":{"rendered":"Negeri Apodio"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Sudjarwo<\/strong><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Guru Besar Universitas Malahayati<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa hari lalu ada pembaca artkel penulis di media daring dengan meninggalkan komentar ungkapan khas Palembang. Bunyi lengkapnya \u201cNegeri Apodio\u201d. Dan, bunyi ini memancing memori lama yang terekam dalam ingatan bagaimana raut muka teman-teman dari Palembang jika mengucapkan ini dalam kondisi kesal.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cApodio?\u201d adalah sebuah ungkapan yang akrab di telinga masyarakat Palembang. Kata ini sering terlontar ketika seseorang mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak masuk akal, meragukan sebuah pernyataan, atau bahkan mengejek keadaan yang dipandang aneh dan sulit dipercaya.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan ini tidak sekadar menjadi kata tanya, melainkan telah berkembang menjadi simbol sikap kritis sekaligus sindiran terhadap berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitar kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika ditarik ke dalam makna yang lebih luas, \u201cNegeri Apodio\u201d dapat dibayangkan sebagai sebuah negeri imajiner yang dipenuhi berbagai kejanggalan. Di negeri ini, banyak hal terjadi dengan cara yang terbalik. Sesuatu yang seharusnya sederhana menjadi rumit, sementara yang rumit justru dianggap biasa. Aturan ada, tetapi sering kali hanya menjadi pajangan. Janji diucapkan dengan mudah, namun pelaksanaannya sering menghilang tanpa jejak. Karena itulah, setiap kali muncul peristiwa yang membingungkan, masyarakat spontan bertanya, \u201cApodio?\u201d<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Negeri Apodio bukanlah sebuah tempat yang dapat ditemukan di peta. Ia hidup dalam pengalaman sehari-hari. Negeri ini hadir ketika masyarakat menyaksikan ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan. Ia muncul ketika harapan yang dibangun dengan penuh keyakinan berakhir menjadi kekecewaan. Dalam situasi seperti itu, ungkapan \u201cApodio?\u201d menjadi cara sederhana untuk mengekspresikan rasa heran, kecewa, sekaligus ketidakpercayaan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di negeri ini, informasi beredar sangat cepat. Kabar yang belum tentu benar sering kali dipercaya lebih dahulu daripada fakta yang telah terverifikasi. Pendapat lebih dihargai daripada pengetahuan, dan sensasi lebih menarik perhatian dibandingkan kenyataan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akibatnya, masyarakat kerap dihadapkan pada berbagai cerita yang terdengar luar biasa tetapi sulit dibuktikan. Ketika logika tidak lagi menjadi pegangan utama, pertanyaan \u201cApodio?\u201d kembali terdengar sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap kebingungan yang terus berulang.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Negeri Apodio juga menggambarkan kondisi ketika masyarakat terbiasa menyaksikan berbagai kontradiksi. Seseorang dapat berbicara tentang kesederhanaan sambil mempertontonkan kemewahan. Ada yang menyerukan kejujuran tetapi enggan menerima kritik. Ada pula yang menuntut perubahan tanpa pernah mau mengubah dirinya sendiri.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kontradiksi semacam ini menciptakan ruang bagi lahirnya sindiran-sindiran yang tajam. Dalam budaya tutur masyarakat Palembang, sindiran sering disampaikan dengan cara yang ringan namun mengena. Kata \u201cApodio?\u201d menjadi salah satu alat untuk mengungkapkan ketidaksetujuan tanpa harus melontarkan kemarahan secara langsung.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun Negeri Apodio tidak selalu harus dipandang sebagai gambaran yang sepenuhnya negatif. Kehadiran ungkapan ini justru menunjukkan bahwa masyarakat memiliki daya kritis yang kuat. Mereka tidak mudah menerima sesuatu begitu saja. Mereka mempertanyakan, mengamati, dan menilai berbagai keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Sikap kritis merupakan modal penting dalam kehidupan sosial karena dapat mendorong munculnya kesadaran kolektif untuk memperbaiki keadaan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada banyak kesempatan, humor menjadi cara masyarakat menghadapi kenyataan yang sulit. Ketika persoalan terasa terlalu berat untuk diselesaikan, tawa sering kali menjadi pelipur lara. Negeri Apodio lahir dari tradisi humor semacam itu.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia merupakan cermin yang memantulkan berbagai kekurangan manusia, tetapi dipresentasikan melalui bahasa yang ringan dan akrab. Dengan tertawa, masyarakat tidak berarti mengabaikan masalah. Sebaliknya, mereka sedang mengakui keberadaan masalah tersebut sambil menjaga agar kehidupan tetap berjalan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada saat yang sama, Negeri Apodio mengingatkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi bagian dari kejanggalan yang mereka kritik. Tidak jarang seseorang menertawakan kesalahan orang lain, padahal ia sendiri melakukan hal yang serupa. Oleh karena itu, ungkapan \u201cApodio?\u201d sebenarnya dapat diarahkan kepada diri sendiri sebagai bentuk refleksi.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah tindakan yang dilakukan sudah selaras dengan nilai yang diyakini? Apakah kritik yang disampaikan juga diikuti oleh kesediaan untuk memperbaiki diri? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat makna Negeri Apodio menjadi lebih dalam daripada sekadar bahan candaan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di era modern, Negeri Apodio semakin mudah ditemukan. Perkembangan teknologi memungkinkan berbagai peristiwa tersebar dalam hitungan detik. Kejadian yang dahulu hanya diketahui oleh lingkungan terbatas kini dapat menjadi konsumsi publik dalam waktu singkat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setiap hari masyarakat disuguhi berbagai peristiwa yang memancing rasa heran. Sebagian mengundang tawa, sebagian lagi menimbulkan keprihatinan. Dalam menghadapi arus informasi yang demikian deras, sikap kritis menjadi semakin penting agar masyarakat tidak terjebak dalam kebingungan yang berkepanjangan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Negeri Apodio adalah metafora tentang kehidupan manusia yang penuh paradoks. Ia menggambarkan kenyataan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai logika dan harapan. Di dalamnya terdapat kritik, sindiran, humor, sekaligus refleksi. Ungkapan sederhana yang sering terdengar dalam percakapan masyarakat Palembang itu menyimpan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pertanyaan. Ia menjadi simbol keheranan terhadap berbagai kejanggalan yang terus muncul dalam kehidupan sosial.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama masih ada ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan, selama masih ada peristiwa yang sulit diterima akal sehat, dan selama manusia tetap memiliki kebiasaan mengulangi kesalahan yang sama, Negeri Apodio akan terus hidup. Ia tidak memiliki batas wilayah, tidak memiliki pemerintahan, dan tidak memiliki penduduk tetap. Namun kehadirannya dapat ditemukan di mana saja, setiap kali seseorang memandang sebuah keadaan yang ganjil lalu spontan bertanya, \u201cApodio?\u201d (*)<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Salam Apodio<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Beberapa hari lalu ada pembaca artkel penulis di media daring dengan meninggalkan komentar ungkapan khas Palembang. Bunyi lengkapnya \u201cNegeri Apodio\u201d. Dan, bunyi ini memancing memori lama yang terekam dalam ingatan bagaimana raut muka teman-teman dari Palembang jika mengucapkan ini dalam kondisi kesal. \u201cApodio?\u201d adalah sebuah ungkapan yang akrab di telinga [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-85991","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Negeri Apodio - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Negeri Apodio - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Beberapa hari lalu ada pembaca artkel penulis di media daring dengan meninggalkan komentar ungkapan khas Palembang. Bunyi lengkapnya \u201cNegeri Apodio\u201d. Dan, bunyi ini memancing memori lama yang terekam dalam ingatan bagaimana raut muka teman-teman dari Palembang jika mengucapkan ini dalam kondisi kesal. \u201cApodio?\u201d adalah sebuah ungkapan yang akrab di telinga [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-18T01:59:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\"},\"author\":{\"name\":\"humas\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"headline\":\"Negeri Apodio\",\"datePublished\":\"2026-06-18T01:59:43+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\"},\"wordCount\":791,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"articleSection\":[\"Opini\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\",\"name\":\"Negeri Apodio - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-06-18T01:59:43+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Negeri Apodio\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png\",\"width\":1280,\"height\":1228,\"caption\":\"Universitas Malahayati\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Negeri Apodio - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Negeri Apodio - Universitas Malahayati","og_description":"Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Beberapa hari lalu ada pembaca artkel penulis di media daring dengan meninggalkan komentar ungkapan khas Palembang. Bunyi lengkapnya \u201cNegeri Apodio\u201d. Dan, bunyi ini memancing memori lama yang terekam dalam ingatan bagaimana raut muka teman-teman dari Palembang jika mengucapkan ini dalam kondisi kesal. \u201cApodio?\u201d adalah sebuah ungkapan yang akrab di telinga [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-06-18T01:59:43+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991"},"author":{"name":"humas","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"headline":"Negeri Apodio","datePublished":"2026-06-18T01:59:43+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991"},"wordCount":791,"publisher":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","articleSection":["Opini"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991","name":"Negeri Apodio - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-06-18T01:59:43+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=85991#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Negeri Apodio"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization","name":"Universitas Malahayati","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png","width":1280,"height":1228,"caption":"Universitas Malahayati"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85991","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=85991"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85991\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":85994,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/85991\/revisions\/85994"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=85991"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=85991"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=85991"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}