{"id":86329,"date":"2026-07-14T02:41:10","date_gmt":"2026-07-14T02:41:10","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329"},"modified":"2026-07-14T02:41:10","modified_gmt":"2026-07-14T02:41:10","slug":"calak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329","title":{"rendered":"Calak"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh:\u00a0<strong>Sudjarwo <\/strong><\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Guru Besar Universitas Malahayati<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah menjalankan kegiatan ritual subuh, pagi itu berbincang dengan salah seorang tetangga yang kebetulan dari Sumatera Selatan. Sehingga kami berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Palembang. Entah apa yang dibahas hari itu, keluarlah istilah \u201cCalak\u201d, ini menarik karena dikaitkan dengan kondisi kekinian bangsa ini. Mari kita telusuri diksi itu dari pintu masuk filsafat kontemporer.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di setiap daerah di Indonesia terdapat kata-kata yang tidak sekadar menjadi bagian dari bahasa, tetapi juga mencerminkan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan. Dalam khazanah bahasa Palembang, salah satu diksi yang menarik adalah Calak. Kata ini menggambarkan seseorang yang banyak akal, pandai mencari jalan, dan mampu menemukan berbagai cara untuk mencapai tujuan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, calak bukanlah istilah yang sejak awal bermakna baik ataupun buruk. Ia berada pada posisi yang netral atau ontologis. Nilainya ditentukan oleh arah yang dipilih oleh orang yang menyandang sifat tersebut atau epistemologis dan axiologisnya.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seseorang dapat disebut calak ketika ia mampu keluar dari kesulitan dengan kreativitas, membangun usaha dari keterbatasan, menemukan solusi atas persoalan yang rumit, atau memanfaatkan peluang tanpa merugikan orang lain. Dalam pengertian ini, calak adalah kecerdasan yang disertai integritas. Ia menjadi modal penting bagi kemajuan masyarakat. Bangsa yang besar justru membutuhkan lebih banyak orang-orang calak seperti ini, yakni mereka yang berani berpikir di luar kebiasaan, bekerja keras, dan menciptakan inovasi demi kepentingan bersama.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, makna calak juga memiliki sisi lain. Banyak akal dapat berubah menjadi kelicikan ketika kecerdasan tidak lagi dibimbing oleh moral. Akal digunakan bukan untuk menciptakan manfaat, melainkan mencari celah demi keuntungan pribadi. Kepandaian dimanfaatkan untuk mengakali aturan, menyiasati hukum, mempermainkan prosedur, atau menyembunyikan kesalahan. Pada titik inilah calak kehilangan kemuliaannya dan berubah menjadi sifat yang merusak.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika menengok kondisi negeri saat ini, masyarakat sering kali menyaksikan berbagai persoalan yang seolah lahir dari kecerdasan yang berjalan tanpa hati nurani. Berbagai bentuk penyalahgunaan jabatan, korupsi, manipulasi kebijakan, konflik kepentingan, hingga pengabaian terhadap kepentingan rakyat menunjukkan bahwa kemampuan berpikir yang tinggi tidak selalu melahirkan kebijaksanaan. Justru kecerdasan yang tidak dikendalikan oleh etika mampu menghasilkan kerusakan yang lebih dahsyat dibandingkan kebodohan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ironisnya, tindakan semacam itu sering kali dilakukan secara sistematis. Aturan dipelajari bukan untuk dipatuhi, melainkan untuk dicari kelemahannya. Kekuasaan dipandang sebagai kesempatan memperkaya diri. Amanah publik diperlakukan sebagai hak istimewa yang dapat dimanfaatkan sesuka hati. Semua dilakukan dengan perhitungan yang matang sehingga tampak seolah-olah tidak melanggar apa pun, padahal substansinya jelas mengkhianati kepercayaan masyarakat. Inilah wajah calak dalam pengertian yang negatif.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Akibatnya, rakyatlah yang paling sering menanggung beban. Anggaran yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, jalan, irigasi, atau pelayanan publik berkurang manfaatnya. Program yang dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan menjadi tidak optimal. Kesempatan kerja menyempit, kualitas pelayanan menurun, dan ketimpangan sosial semakin terasa. Di sisi lain, masyarakat juga kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang, yaitu kepercayaan terhadap institusi dan penyelenggara negara.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fenomena ini mengajarkan bahwa persoalan bangsa sesungguhnya bukan kekurangan orang pintar. Negeri ini memiliki banyak sumber daya manusia yang cerdas dan berpendidikan. Yang sering kali menjadi persoalan adalah ketika kecerdasan dipisahkan dari kejujuran. Akal yang tajam tanpa karakter hanya akan melahirkan berbagai cara baru untuk menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, kecerdasan yang dibangun di atas nilai kejujuran akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bangsa.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sebenarnya mampu membedakan antara calak yang patut dihargai dan calak yang patut diwaspadai. Orang yang menggunakan kepandaiannya untuk membantu sesama akan dikenang sebagai pribadi yang bermanfaat. Sebaliknya, mereka yang memanfaatkan kecerdasannya untuk merugikan orang lain mungkin memperoleh keuntungan sesaat, tetapi pada akhirnya akan meninggalkan kerusakan yang panjang.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh karena itu, makna calak layak direnungkan kembali. Banyak akal bukanlah kesalahan. Bahkan, bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang kreatif, inovatif, dan mampu menemukan jalan keluar dari berbagai persoalan. Akan tetapi, kecerdasan harus selalu berjalan berdampingan dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kepentingan publik. Tanpa itu, kecerdasan hanya akan menjadi alat untuk memperhalus penyimpangan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Barangkali tantangan terbesar negeri ini bukan bagaimana mencetak lebih banyak orang yang calak, melainkan bagaimana memastikan agar setiap kecerdasan diarahkan untuk menghadirkan keadilan dan kemaslahatan. Sebab ketika calak dipandu oleh nurani, ia menjadi kekuatan yang membangun. Namun ketika calak dikuasai oleh keserakahan, rakyatlah yang selalu menjadi pihak yang harus membayar harga paling mahal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh:\u00a0Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Setelah menjalankan kegiatan ritual subuh, pagi itu berbincang dengan salah seorang tetangga yang kebetulan dari Sumatera Selatan. Sehingga kami berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Palembang. Entah apa yang dibahas hari itu, keluarlah istilah \u201cCalak\u201d, ini menarik karena dikaitkan dengan kondisi kekinian bangsa ini. Mari kita telusuri diksi itu dari pintu masuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-86329","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Calak - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Calak - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh:\u00a0Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Setelah menjalankan kegiatan ritual subuh, pagi itu berbincang dengan salah seorang tetangga yang kebetulan dari Sumatera Selatan. Sehingga kami berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Palembang. Entah apa yang dibahas hari itu, keluarlah istilah \u201cCalak\u201d, ini menarik karena dikaitkan dengan kondisi kekinian bangsa ini. Mari kita telusuri diksi itu dari pintu masuk [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-14T02:41:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\"},\"author\":{\"name\":\"humas\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"headline\":\"Calak\",\"datePublished\":\"2026-07-14T02:41:10+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\"},\"wordCount\":680,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"articleSection\":[\"Opini\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\",\"name\":\"Calak - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-14T02:41:10+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?page_id=73273\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Calak\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png\",\"width\":1280,\"height\":1228,\"caption\":\"Universitas Malahayati\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Calak - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Calak - Universitas Malahayati","og_description":"Oleh:\u00a0Sudjarwo Guru Besar Universitas Malahayati Setelah menjalankan kegiatan ritual subuh, pagi itu berbincang dengan salah seorang tetangga yang kebetulan dari Sumatera Selatan. Sehingga kami berkomunikasi selalu menggunakan bahasa Palembang. Entah apa yang dibahas hari itu, keluarlah istilah \u201cCalak\u201d, ini menarik karena dikaitkan dengan kondisi kekinian bangsa ini. Mari kita telusuri diksi itu dari pintu masuk [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-07-14T02:41:10+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329"},"author":{"name":"humas","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"headline":"Calak","datePublished":"2026-07-14T02:41:10+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329"},"wordCount":680,"publisher":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","articleSection":["Opini"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329","name":"Calak - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-07-14T02:41:10+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86329#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?page_id=73273"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Calak"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization","name":"Universitas Malahayati","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png","width":1280,"height":1228,"caption":"Universitas Malahayati"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86329","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=86329"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86329\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":86331,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86329\/revisions\/86331"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=86329"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=86329"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=86329"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}