{"id":86430,"date":"2026-07-21T05:14:15","date_gmt":"2026-07-21T05:14:15","guid":{"rendered":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430"},"modified":"2026-07-21T05:14:15","modified_gmt":"2026-07-21T05:14:15","slug":"sekongkol","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430","title":{"rendered":"Sekongkol"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam percakapan sehari-hari masyarakat Palembang, terdapat sebuah diksi yang terasa begitu hidup: \u201csengkongkol\u201d. Kata ini bukan sekadar sinonim dari berkomplot atau bersekongkol sebagaimana dipahami dalam bahasa Indonesia baku. Sengkongkol mengandung makna yang lebih pada rasa dan halus sekaligus lebih berbahaya.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ia menggambarkan kerja sama yang dilakukan secara tersembunyi untuk mengelabuhi, memperdaya, pihak lain dengan cara yang tampak wajar sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diarahkan menuju sebuah jebakan. Tujuannya bukan semata-mata menjatuhkan orang lain, melainkan memperoleh keuntungan pribadi melalui jalan yang tidak jujur.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sengkongkol tidak selalu dilakukan dalam ruang gelap atau melalui pertemuan rahasia. Justru kekuatannya terletak pada kemampuannya menyamar sebagai sesuatu yang sah, legal, bahkan seolah-olah demi kepentingan bersama. Bahasa yang digunakan terdengar indah, prosedur tampak dipenuhi, dan aturan seakan dihormati.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, di balik semua itu telah tersusun kesepakatan diam-diam yang menguntungkan segelintir orang. Inilah bentuk pengkhianatan yang paling sulit dikenali karena wajahnya sering kali menyerupai kebaikan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di dalam kehidupan berbangsa, sengkongkol menjadi ancaman yang jauh lebih besar daripada pelanggaran yang dilakukan secara terang-terangan. Ketika seseorang melakukan kesalahan sendirian, dampaknya mungkin terbatas. Akan tetapi, ketika sejumlah orang yang memiliki kewenangan saling menopang untuk menutupi penyimpangan, kerusakan yang ditimbulkan menjalar ke berbagai lini. Sistem yang seharusnya menjadi benteng keadilan perlahan berubah menjadi alat untuk melindungi kepentingan kelompok tertentu.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi demikian menjadi perhatian masyarakat pada masa kini. Berbagai kebijakan sering memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat terbesar. Tidak sedikit keputusan yang tampak mengutamakan kepentingan publik, tetapi hasil akhirnya justru memberikan ruang keuntungan kepada kelompok tertentu yang memiliki kedekatan dengan pusat-pusat kekuasaan. Dugaan tentang adanya sengkongkol pun mudah muncul ketika proses pengambilan keputusan berlangsung tertutup, minim transparansi, dan sulit diawasi oleh masyarakat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sengkongkol juga dapat tumbuh melalui budaya saling melindungi. Kesalahan tidak lagi dipandang sebagai pelanggaran yang harus diperbaiki, melainkan sebagai rahasia yang harus disembunyikan bersama. Kritik dianggap ancaman, pengawasan dipandang sebagai gangguan, sedangkan loyalitas kepada kelompok lebih dihargai daripada kesetiaan kepada hukum dan etika. Dalam situasi seperti ini, kejujuran justru menjadi sesuatu yang terasa asing.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahaya terbesar dari sengkongkol bukan hanya kerugian materi negara, tetapi juga terkikisnya kepercayaan masyarakat. Ketika rakyat berulang kali menyaksikan penyimpangan yang seolah tidak pernah menemukan ujung penyelesaian, muncul keyakinan bahwa hukum hanya tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada mereka yang memiliki kekuasaan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dipulihkan dibandingkan membangun gedung, jalan, atau infrastruktur fisik. Sebab, negara berdiri bukan hanya di atas beton dan baja, melainkan juga di atas keyakinan rakyat bahwa keadilan masih memiliki tempat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lebih mengkhawatirkan lagi apabila sengkongkol telah berubah menjadi budaya. Orang yang baru memasuki sebuah lembaga dipaksa menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang telah berlangsung lama. Mereka yang ingin bekerja lurus dianggap mengganggu kenyamanan kelompok.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedikit demi sedikit idealisme dikikis oleh tekanan lingkungan hingga akhirnya penyimpangan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Pada titik itulah sengkongkol tidak lagi dilakukan karena kebutuhan, melainkan karena tradisi.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, jabatan pada hakikatnya adalah amanah. Kekuasaan diberikan bukan untuk memperkaya diri, keluarga, ataupun kelompok, melainkan untuk menghadirkan pelayanan yang adil bagi seluruh masyarakat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika amanah diubah menjadi kesempatan mencari keuntungan pribadi, jabatan kehilangan makna moralnya. Yang tersisa hanyalah perlombaan memanfaatkan kewenangan sebelum masa kekuasaan berakhir.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di tengah perkembangan teknologi informasi, masyarakat memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Informasi dapat menyebar dengan cepat, data dapat dibandingkan, dan berbagai kebijakan dapat dikaji secara terbuka.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, keterbukaan informasi juga menuntut kedewasaan masyarakat agar tidak mudah terjebak pada prasangka atau tuduhan tanpa dasar. Dugaan mengenai adanya sengkongkol harus diuji dengan fakta, bukti, dan mekanisme hukum yang adil. Dengan demikian, upaya menjaga integritas tidak berubah menjadi penghakiman yang mengabaikan asas keadilan.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sengkongkol hanya dapat dipatahkan apabila integritas menjadi budaya yang lebih kuat daripada kepentingan pribadi. Transparansi, akuntabilitas, pengawasan yang independen, serta keberanian untuk menolak kompromi terhadap penyimpangan merupakan fondasi yang harus terus diperkuat.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Negara yang sehat bukanlah negara yang bebas dari godaan, melainkan negara yang memiliki sistem yang mampu mencegah, mengungkap, dan menindak setiap bentuk penyalahgunaan kewenangan tanpa pandang bulu.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sengkongkol bukan sekadar sebuah kata yang hidup dalam dialek Palembang. Ia merupakan peringatan tentang watak manusia ketika kekuasaan bertemu dengan keserakahan dan ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan bersama.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selama masih ada ruang untuk menutup kebenaran demi keuntungan segelintir orang, selama itu pula sengkongkol akan terus mengintai kehidupan berbangsa. Karena itu, menjaga negeri tidak cukup hanya dengan membangun ekonomi atau mempercepat pembangunan fisik.<\/p>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang jauh lebih penting adalah membangun karakter, menegakkan integritas, dan memastikan bahwa setiap amanah dijalankan demi kepentingan rakyat, bukan demi keuntungan mereka yang memilih jalan sengkongkol. \u2026Salam Waras (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di dalam percakapan sehari-hari masyarakat Palembang, terdapat sebuah diksi yang terasa begitu hidup: \u201csengkongkol\u201d. Kata ini bukan sekadar sinonim dari berkomplot atau bersekongkol sebagaimana dipahami dalam bahasa Indonesia baku. Sengkongkol mengandung makna yang lebih pada rasa dan halus sekaligus lebih berbahaya. Ia menggambarkan kerja sama yang dilakukan secara tersembunyi untuk mengelabuhi, memperdaya, pihak lain dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":83993,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-86430","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.1.1 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sekongkol - Universitas Malahayati<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sekongkol - Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di dalam percakapan sehari-hari masyarakat Palembang, terdapat sebuah diksi yang terasa begitu hidup: \u201csengkongkol\u201d. Kata ini bukan sekadar sinonim dari berkomplot atau bersekongkol sebagaimana dipahami dalam bahasa Indonesia baku. Sengkongkol mengandung makna yang lebih pada rasa dan halus sekaligus lebih berbahaya. Ia menggambarkan kerja sama yang dilakukan secara tersembunyi untuk mengelabuhi, memperdaya, pihak lain dengan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Malahayati\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-21T05:14:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"688\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"375\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"humas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"humas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\"},\"author\":{\"name\":\"humas\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\"},\"headline\":\"Sekongkol\",\"datePublished\":\"2026-07-21T05:14:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\"},\"wordCount\":739,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"articleSection\":[\"Opini\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\",\"name\":\"Sekongkol - Universitas Malahayati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"datePublished\":\"2026-07-21T05:14:15+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg\",\"width\":688,\"height\":375},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?page_id=73273\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sekongkol\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization\",\"name\":\"Universitas Malahayati\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png\",\"width\":1280,\"height\":1228,\"caption\":\"Universitas Malahayati\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3\",\"name\":\"humas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"humas\"},\"url\":\"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sekongkol - Universitas Malahayati","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sekongkol - Universitas Malahayati","og_description":"Di dalam percakapan sehari-hari masyarakat Palembang, terdapat sebuah diksi yang terasa begitu hidup: \u201csengkongkol\u201d. Kata ini bukan sekadar sinonim dari berkomplot atau bersekongkol sebagaimana dipahami dalam bahasa Indonesia baku. Sengkongkol mengandung makna yang lebih pada rasa dan halus sekaligus lebih berbahaya. Ia menggambarkan kerja sama yang dilakukan secara tersembunyi untuk mengelabuhi, memperdaya, pihak lain dengan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430","og_site_name":"Universitas Malahayati","article_published_time":"2026-07-21T05:14:15+00:00","og_image":[{"width":688,"height":375,"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"humas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"humas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430"},"author":{"name":"humas","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3"},"headline":"Sekongkol","datePublished":"2026-07-21T05:14:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430"},"wordCount":739,"publisher":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","articleSection":["Opini"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430","name":"Sekongkol - Universitas Malahayati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","datePublished":"2026-07-21T05:14:15+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#primaryimage","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/prof-sujarwo.jpg","width":688,"height":375},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?p=86430#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?page_id=73273"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sekongkol"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#website","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","name":"Universitas Malahayati","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#organization","name":"Universitas Malahayati","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png","contentUrl":"https:\/\/malahayati.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/logo-kecil-1.png","width":1280,"height":1228,"caption":"Universitas Malahayati"},"image":{"@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/0fae20b7f5af36316447ec105310c2d3","name":"humas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/malahayati.ac.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/f67d39acb328e764588f10ddd7295b014cb2f0bc31b54da841aad63a3986b6dc?s=96&d=mm&r=g","caption":"humas"},"url":"https:\/\/malahayati.ac.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86430","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=86430"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86430\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":86432,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/86430\/revisions\/86432"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/83993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=86430"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=86430"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/malahayati.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=86430"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}