Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Malahayati Raih Prestasi Gemilang di Ajang Estetik Beauty Lampung 2026

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat regional. Kali ini, prestasi datang dari bidang pengembangan potensi dan bakat mahasiswa. Cindy Tia Pirnanda, mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum (NPM 2410140), sukses meraih penghargaan sebagai Third Runner-Up Miss Aesthetic Beauty Lampung 2026.

Ajang bergengsi Estetik Beauty Lampung merupakan sebuah platform yang dirancang untuk menggali potensi, kreativitas, dan pesona generasi muda di Provinsi Lampung. Kompetisi ini tidak hanya menilai aspek penampilan fisik semata, melainkan juga menekankan pada kecerdasan, karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan para peserta dalam membawa diri dengan penuh elegansi.

Keberhasilan Cindy dalam menyabet gelar juara harapan ketiga (Third Runner-Up) membuktikan bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu bersaing secara positif, tidak hanya di bidang akademik tetapi juga dalam ajang pembentukan karakter dan wadah inspiratif luar kampus.

Menginspirasi Generasi Muda

Pihak universitas menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pencapaian luar biasa ini. Melalui ajang ini, Cindy diharapkan dapat menjadi representasi positif bagi rekan-rekan sesama mahasiswa dan menginspirasi generasi muda lainnya untuk terus menggali potensi terbaik mereka.

“Beauty bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang kepercayaan diri, karakter, dan bagaimana seseorang membawa dirinya dengan penuh elegansi. Selamat kepada Cindy Tia Pirnanda. Teruslah berkarya, bersinar, dan tunjukkan versi terbaik dari dirimu!” tulis pesan apresiasi dari lingkungan kampus.

Prestasi ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung penuh mahasiswanya untuk aktif, kreatif, dan berprestasi di berbagai bidang. Selamat kepada Cindy Tia Pirnanda, semoga pencapaian ini menjadi awal dari kesuksesan yang lebih besar di masa depan

Editor : Chandra Fz

Kuliah Pakar Kesehatan Masyarakat Bahas Komunikasi Persuasif di Era Digital

 

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Program Studi Kesehatan Masyarakat menyelenggarakan kegiatan Kuliah Pakar dengan tema “Komunikasi Persuasif dalam Praktik Kesehatan Masyarakat: Strategi Membangun Kepercayaan Masyarakat di Era Digital” pada Selasa, 2 Juni 2026 pukul 08.00 WIB bertempat di MCC Bawah. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat dengan antusias sebagai bagian dari upaya peningkatan wawasan dan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi tantangan komunikasi kesehatan di era digital. Tema kuliah pakar ini sejalan dengan pentingnya penguatan literasi digital dan komunikasi kesehatan dalam praktik kesehatan masyarakat saat ini.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Dekan Fakultas Kesehatan, Dr. Lolita Sary, M.Kes, yang dalam sambutannya menyampaikan pentingnya kemampuan komunikasi persuasif bagi tenaga kesehatan masyarakat dalam membangun kepercayaan masyarakat, terutama di tengah derasnya arus informasi digital. Beliau berharap mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang dapat menyampaikan informasi kesehatan secara tepat, efektif, dan bertanggung jawab.

Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai narasumber Dr. Razie Razak, S.Sos., M.I.Kom., CIQaR., CIQnR, yang memaparkan berbagai strategi komunikasi persuasif dalam praktik kesehatan masyarakat, khususnya dalam membangun kepercayaan publik melalui media digital. Materi yang disampaikan mencakup teknik penyampaian pesan kesehatan, pengelolaan informasi di media sosial, serta pentingnya kredibilitas komunikator dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program-program kesehatan.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Okta Nursadia berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang melibatkan mahasiswa secara aktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait tantangan komunikasi kesehatan di masyarakat serta strategi menghadapi misinformasi dan hoaks kesehatan yang banyak beredar di media digital.

Melalui kegiatan kuliah pakar ini, mahasiswa Kesehatan Masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya komunikasi persuasif sebagai salah satu kompetensi utama dalam praktik kesehatan masyarakat, sehingga mampu berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui penyampaian informasi yang efektif, edukatif, dan terpercaya.

Editor : Chandra Fz

 

WISANGGENI MINTA NEGERI

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Di antara tokoh-tokoh besar dalam dunia pewayangan, Wisanggeni menempati posisi yang istimewa. Ia dikenal sebagai putra Arjuna dan Dewi Dresanala yang memiliki kesaktian luar biasa sejak lahir. Dalam berbagai lakon, Wisanggeni digambarkan sebagai sosok yang cerdas, berani, tegas, dan sulit dikendalikan oleh kepentingan kekuasaan. Berbeda dengan banyak ksatria yang tunduk pada tata aturan istana, Wisanggeni justru sering mempertanyakan keputusan yang dianggapnya tidak adil. Karena itulah ia kerap dipandang sebagai tokoh yang mewakili suara kebenaran yang lahir dari nurani, bukan dari kepentingan politik. Salah satu lakon yang menarik untuk direnungkan adalah “Wisanggeni Minta Negeri”, sebuah kisah yang tidak hanya berbicara tentang kekuasaan, tetapi juga tentang hak, pengakuan, dan keadilan. Walaupun cerita ini tidak ada pada Pakem Utama, dan merupakan “Carangan” para dalang saja.

Secara harfiah, permintaan Wisanggeni atas sebuah negeri dapat dipahami sebagai keinginan memperoleh wilayah kekuasaan sebagaimana para ksatria lainnya. Namun dalam pemaknaan yang lebih mendalam, negeri dalam kisah tersebut adalah simbol dari ruang hidup yang layak, kesempatan untuk berperan, serta pengakuan atas kapasitas dan keberadaan seseorang. Wisanggeni tidak sekadar meminta tanah atau tahta kerajaan Hastina yang diduduki Doryudana; tetapi, dia sedang mengajukan pertanyaan mendasar kepada sistem yang berlaku: apakah mereka yang memiliki kemampuan, pengabdian, dan integritas telah memperoleh tempat yang semestinya di negeri ini ?.

Pertanyaan itu terasa sangat relevan dengan kondisi kehidupan berbangsa saat ini. Di tengah perubahan jaman yang begitu cepat, lahir generasi yang tumbuh dengan akses informasi yang luas, pendidikan yang lebih baik, dan kesadaran kritis yang semakin tinggi. Mereka memahami berbagai persoalan bangsa bukan hanya dari satu sudut pandang, melainkan dari beragam perspektif yang mereka peroleh setiap hari. Kesadaran tersebut melahirkan harapan besar terhadap masa depan, sekaligus kegelisahan ketika kenyataan tidak selalu sejalan dengan janji yang pernah disampaikan.

Pada konteks ini sosok Wisanggeni menemukan relevansinya. Ia adalah lambang keberanian untuk bertanya dan menagih. Ia tidak menerima begitu saja keadaan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai keadilan. Ketika hak dan pengakuan belum diberikan, ia memilih menyampaikan tuntutannya secara terbuka. Sikap ini sering disalahpahami sebagai bentuk pembangkangan. Padahal dalam filsafat pewayangan, keberanian menggugat ketidakadilan justru merupakan bagian dari laku ksatria yang sejati.

Banyak orang muda hari ini menunjukkan karakter yang serupa. Mereka menagih komitmen yang pernah dijanjikan tentang pemerataan kesejahteraan, kesempatan kerja yang lebih luas, pendidikan yang terjangkau dan berkualitas, pelayanan publik yang baik, serta tata kelola pemerintahan yang bersih. Tuntutan itu bukan lahir dari keinginan untuk merusak, melainkan dari harapan agar negeri bergerak ke arah yang lebih baik. Mereka ingin memastikan bahwa janji bukan sekadar kata-kata yang diucapkan saat memperoleh dukungan, melainkan diwujudkan dalam kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Lakon “Wisanggeni Minta Negeri” juga mengandung kritik yang halus terhadap struktur kekuasaan yang kadang terlalu nyaman dengan dirinya sendiri. Dalam banyak kisah pewayangan, Wisanggeni hadir sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa koreksi berpotensi menjauh dari tujuan awalnya. Karena itu, keberadaan sosok yang berani mengingatkan menjadi penting. Sebuah negeri tidak akan berkembang apabila semua orang hanya mengangguk dan menyetujui. Kemajuan justru lahir dari keberanian untuk mengevaluasi, memperbaiki, dan mengoreksi kekeliruan yang terjadi.

Dari sudut pandang filosofis, Wisanggeni dapat dipahami sebagai representasi energi pembaruan. Ia adalah simbol generasi yang tidak puas hanya menjadi pewaris keadaan, melainkan ingin menjadi pencipta masa depan. Dalam banyak peristiwa sejarah, perubahan besar memang sering lahir dari kelompok yang berani mempertanyakan kemapanan. Mereka tidak selalu diterima pada awalnya, bahkan kerap dicurigai. Namun justru dari keberanian itulah lahir gagasan-gagasan baru yang mendorong kemajuan.

Kisah Wisanggeni juga mengajarkan bahwa tuntutan harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Meminta negeri berarti siap memikul beban negeri. Menagih perubahan berarti bersedia ikut menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Kritik yang baik bukan hanya menunjukkan apa yang salah, tetapi juga menawarkan jalan untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengamat atau pengkritik. Mereka juga harus hadir sebagai pelaku yang menghadirkan karya, inovasi, dan solusi nyata bagi masyarakat.

Di sisi lain, mereka yang memegang amanah kekuasaan perlu memandang kritik sebagai bagian dari kesehatan demokrasi. Ketika suara-suara muda muncul dengan berbagai tuntutan dan pertanyaan, yang dibutuhkan bukanlah sikap defensif, melainkan kesediaan untuk mendengar. Sebab sering kali suara yang paling keras lahir dari kepedulian yang paling besar. Anak-anak muda yang bersuara sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa mereka masih memiliki harapan terhadap negerinya.

“Wisanggeni Minta Negeri” bukan sekadar cerita tentang seorang ksatria yang menginginkan wilayah kekuasaan. Lakon ini merupakan refleksi tentang hubungan antara rakyat dan pemimpin, antara harapan dan kenyataan, antara janji dan tanggung jawab. Negeri yang diminta Wisanggeni dapat dimaknai sebagai cita-cita tentang masyarakat yang adil, terbuka, dan memberi ruang bagi setiap orang untuk berkembang sesuai kemampuannya.

Ketika banyak anak muda hari ini menagih komitmen yang pernah dijanjikan kepada mereka, sesungguhnya gema suara Wisanggeni kembali terdengar. Ia hadir dalam bentuk keberanian untuk bertanya, mengingatkan, dan menuntut perbaikan. Bukan untuk merebut negeri, melainkan untuk memastikan bahwa negeri ini tetap berjalan menuju tujuan yang dicita-citakan bersama. Sebab sebuah bangsa akan tetap hidup selama masih ada generasi yang peduli, berani bersuara, dan tidak lelah memperjuangkan keadilan bagi semua. Salam Waras.

Tingkatkan Kompetensi Praktis, Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Kunjungan Industri ke Bank Mandiri

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Dalam rangka memperkuat pemahaman praktis mahasiswa mengenai expor, impor serta transaksi trade internasional Program Studi (Prodi) Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati sukses menyelenggarakan kegiatan Kunjungan Industri pada Selasa, 26 Mei 2026.

Kegiatan akademik yang diikuti oleh 20 mahasiswa dan didampingi oleh 2 dosen Ayu Nursari S.E., M.E dan Hamida Nur Rahmawati, S.Pd., M.Pd bertujuan untuk mempelajari secara langsung proses serta alur transaksi ekspor-impor di sektor perbankan.  Kunjungan industri ini merupakan bagian nyata dari implementasi kurikulum berbasis OBE (Outcome Based Education) yang diterapkan oleh Universitas Malahayati pada semester Genap tahun akademik 2025/2026. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori di dalam kelas, melainkan juga mampu melihat langsung relevansi ilmu manajemen di lapangan.

 

Acara yang berlangsung interaktif ini disambut hangat oleh pihak Bank Mandiri branch manager Mandiri KCP Antasari Robby Wijaya Saputra , S.KOM Selama kunjungan, para mahasiswa diberikan pemaparan mendalam oleh narasumber Kristin Wijaya, S.T sebagai senior manajer Trade mengenai kontribusi perbankan dalam memfasilitasi perdagangan internasional, pembiayaan ekspor-impor, hingga pengenalan produk-produk keuangan strategis yang mendukung ekosistem bisnis yang berkelanjutan.

Sesi kunjungan diakhiri dengan foto bersama antara jajaran dosen, mahasiswa Universitas Malahayati yang kompak mengenakan jas almamater hijau kebanggaan, serta pihak manajemen bank di area aula utama, menandai suksesnya sinergi antara dunia pendidikan tinggi dan industri perbankan.

Editor : Chandra fz

Negeri Palsu

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Menjelang Idhul Adha lalu ada seorang jurnalis profesional yang sangat mumpuni pada bidangnya, dan sangat jago buat menulis, beliau ngudoroso (bahasa Jawa yang makna bebasnya kegiatan ngobrol sama diri sendiri dalam hati); mengatakan bahwa banyak pihak yang tiba-tiba pandai menulis bagus, ternyata dibantu oleh program buatan yang sedang marak sekarang.

“Obrolan sanubari” sang jurnalis tadi ditanggapi banyak teman, termasuk penulis, bahwa hal seperti itu sedang mewabah di negeri palsu. Bahkan, kini kepalsuan justru dilakukan terang-terangan, seolah menjadi bagian normal dari kehidupan bersama. Yang dipalsukan bukan lagi sekadar tanda tangan atau dokumen kecil, melainkan hal-hal yang seharusnya menjadi fondasi moral sebuah bangsa: pendidikan, ekonomi rakyat, ibadah, bahkan ilmu pengetahuan.

Kepalsuan itu sebenarnya secara filosofis selalu lahir dari dua hal: yaitu keserakahan dan pembiaran. Keserakahan mendorong orang mencari keuntungan tanpa kerja keras, sementara pembiaran membuat kebohongan tumbuh tanpa rasa takut. Dalam keadaan seperti itu, kejujuran menjadi sesuatu yang dianggap bodoh. Orang yang bekerja sungguh-sungguh kalah cepat dibanding mereka yang memanipulasi keadaan.

Masyarakat perlahan belajar bahwa penampilan lebih penting daripada isi, simbol lebih dihargai daripada kualitas, dan citra lebih menentukan daripada integritas.

Ijazah palsu bukan hanya soal lembar kertas. Ia adalah pengkhianatan terhadap pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya menjadi jalan pembentukan karakter, disiplin, dan kemampuan berpikir. Namun ketika ijazah dapat dibeli atau direkayasa, maka ilmu kehilangan makna. Gelar tidak lagi mencerminkan kemampuan, melainkan sekadar akses terhadap kekuasaan dan pekerjaan.

Akibatnya, ruang publik dipenuhi orang-orang yang mungkin memiliki jabatan, tetapi miskin kompetensi. Mereka berbicara tentang masa depan tanpa pemahaman, mengambil keputusan tanpa kapasitas, dan memimpin tanpa keteladanan. Mereka yang paling dirugikan adalah yang belajar dengan jujur selama bertahun-tahun, sebab usaha mereka terasa tidak ada nilainya di tengah budaya manipulasi.

Di sektor ekonomi rakyat, kepalsuan juga menemukan bentuknya sendiri. Nama koperasi yang seharusnya menjadi simbol gotong royong dan kesejahteraan bersama justru dipakai untuk menipu masyarakat kecil. Bagaimana tidak, bangunan koperasi diletakkan pada tempat yang bukan tempatnya; di atas gunung, di lereng jurang, di tengah tambak, di tepi kuburan, dan masih banyak lagi keanehan.

Belum lagi rakyat yang dibiarkan berjuang sendiri, mencari modal sendiri, mencari pelanggan sendiri; begitu kelihatan sedikit bisa bernapas, datang petugas pajak untuk memalak mereka. UMKM yang seharusnya dibina malah dibinasakan.

Pada urusan ibadah kepalsuan tetap mendapat tempat. Dibeli dari anggaran negara, yang berarti itu uang rakyat, justru hewannya atas nama pejabat tertinggi negeri ini. Padahal kurban seharusnya menjadi simbol keikhlasan dan pengorbanan. Ketika ibadah dicemari penipuan, yang akan rusak adalah nilai spiritual masyarakat. Main cantiknya; ketika hari penyembelihan tiba, kawan terbang ke luar negeri atas nama tugas negara. Padahal di dalam negerinya sendiri tugas masih amat sangat berjibun.

Paling menyedihkan lagi adalah ketika kepalsuan merambah dunia akademik menyangkut riset dan ilmu pengetahuan. Ilmu seharusnya menjadi cahaya bagi kemajuan bangsa, tetapi kini ada penelitian yang dibuat dengan pola menipu, data yang dimanipulasi, dan publikasi dikejar hanya demi mendapatkan cuan. Angka-angka disusun bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk dimanipulasi. Bahkan jati diri penelitipun ikut dimanipulasi alias dipalsukan. Bagaimana mungkin sebuah negara bisa maju jika fondasi pengetahuannya dibangun di atas kebohongan ?. Secara filosofis jika hakekat ontologis sudah dipalsukan; maka tinggal menunggu saja kehancuran peradaban akademik suatu negara.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kepalsuan bukan lagi perilaku individu semata, melainkan sudah menjadi budaya yang merembes ke berbagai lini kehidupan. Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih sibuk terlihat hebat daripada benar-benar menjadi hebat. Media sosial memperparah keadaan dengan memberi panggung besar bagi pencitraan. Banyak orang rela memoles kehidupan agar tampak sukses, religius, pintar, dan peduli, meski kenyataannya kosong.

Masyarakat akhirnya terbiasa menilai sesuatu dari kemasan, bukan dari isi. Dalam situasi seperti itu, kebohongan menjadi mudah diterima karena orang lebih menyukai ilusi daripada kenyataan. Joged di atas panggung dua tahun lalu yang kita saksikan, ternyata hasilnya derai air mata yang kita tuai hari ini.

Kepercayaan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa. Tanpa kepercayaan, pendidikan kehilangan wibawa, ekonomi kehilangan stabilitas, ibadah kehilangan makna, dan ilmu pengetahuan kehilangan kehormatan. Masyarakat yang saling curiga akan sulit bersatu membangun masa depan. Semua orang akan sibuk melindungi diri masing-masing karena tidak lagi yakin pada sistem maupun sesama warga.

Sebuah bangsa tidak menjadi besar karena banyaknya slogan yang diproduksi, melainkan karena keberanian mempertahankan kebenaran yang harus ditegakkan kapanpun juga. Negeri yang dipenuhi kepalsuan mungkin masih tampak megah dari luar, tetapi rapuh di dalam. Cepat atau lambat, kebohongan akan runtuh oleh beratnya sendiri. Pertanyaannya tersisa adalah: ketika semua topeng itu jatuh, apakah negeri ini masih memiliki cukup orang jujur untuk menyelamatkannya ?

Entahlah.

Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Pagi menjelang siang terjadi diskusi kecil lewat piranti media sosial dengan seorang penulis, sekaligus penggiat demokrasi. Bermula dari remeh-temeh persoalan ringan, kemudian naik kelevel yang lebih “ngeri-ngeri sedap”; karena bicara masalah negara. Tampaknya ada sekelompok kepentingan yang mencoba “memancing diair keruh”; berharap friksi oposisi berubah menjadi pembenci kepada pemerintahan yang sah. Diskusi itu meluas menyangkut pimpinan negeri yang tidak mau mendengar kritik , dan sampai pada peluang adanya kudeta sunyi atau kudeta merayap yang dilakukan oleh kelompok yang punya kepentingan. Dari diskusi tadi memancing penulis untuk menelisik lebih jauh, tentu bersumber dari referensi yang ada, itupun sebatas dari sudut pandang filsafat manusia.

Sejarah politik menunjukkan bahwa keruntuhan kualitas pemerintahan jarang diawali oleh perebutan kekuasaan secara terbuka. Dalam banyak kasus, kemunduran justru berawal dari proses yang lebih halus, lebih sistematis, dan sering kali tidak disadari oleh para pelaku utamanya. Proses tersebut terjadi ketika kekuasaan secara perlahan kehilangan kemampuan untuk mendengar kritik, menerima koreksi, dan mengakomodasi pandangan yang berbeda. Pada titik inilah apa yang dapat disebut sebagai “kudeta sunyi” mulai berlangsung, yakni kudeta terhadap akal sehat dan mekanisme pengendalian kekuasaan itu sendiri.

Fenomena tersebut biasanya tidak ditandai oleh hadirnya oposisi yang kuat, melainkan oleh melemahnya keberanian di lingkungan internal kekuasaan. Ketika seorang pemimpin semakin yakin bahwa intuisi pribadinya lebih unggul dibandingkan nasihat para ahli, maka proses pengambilan keputusan akan bergeser dari pendekatan rasional menuju pendekatan personalistik. Dalam situasi demikian, kebijakan publik tidak lagi ditentukan oleh kualitas ar gumentasi, melainkan oleh kedekatan terhadap pusat kekuasaan.

Masalah utama dari kepercayaan diri yang berlebihan bukanlah optimisme, melainkan ilusi infalibilitas, yaitu keyakinan bahwa seseorang tidak mungkin salah. Dalam tradisi politik modern, tidak ada ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan keyakinan bahwa kekuasaan telah mencapai tingkat kebijaksanaan yang tidak lagi memerlukan kritik. Ketika hal tersebut terjadi, kritik tidak lagi dipandang sebagai instrumen koreksi, melainkan sebagai bentuk pembangkangan. Nasihat dianggap gangguan. Sementara pujian diterima sebagai konfirmasi bahwa seluruh kebijakan telah berjalan sesuai arah yang benar. Salah satu ciri kepemimpinan model ini ialah; jika mendapat masukan, apalagi kritik, belum selesai lawan bicara, sudah mencelah, dan memaksakan pembenarannya sendiri.

Akibatnya, ruang deliberasi mengalami penyempitan. Diskusi yang seharusnya menjadi arena pertukaran gagasan berubah menjadi mekanisme reproduksi persetujuan. Para pembantu kekuasaan tidak lagi berlomba menghadirkan solusi terbaik, melainkan berlomba menghadirkan kalimat yang paling menyenangkan untuk didengar. Dalam kondisi demikian, loyalitas memperoleh posisi yang lebih tinggi dibandingkan kompetensi, sedangkan kepatuhan lebih dihargai daripada kejujuran intelektual.

Ironisnya, situasi semacam ini sering dianggap sebagai bukti stabilitas politik. Tidak adanya perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai kesatuan visi. Tidak adanya kritik dianggap sebagai keberhasilan kepemimpinan. Padahal dalam perspektif kelembagaan, hilangnya kritik justru merupakan indikator melemahnya kesehatan sistem politik. Sebuah pemerintahan yang sehat bukanlah pemerintahan yang bebas kritik, melainkan pemerintahan yang mampu mengelola kritik sebagai sumber perbaikan.

Dalam konteks tersebut, ancaman terbesar bagi sebuah negara bukanlah perlawanan dari luar, melainkan terbentuknya ruang gema kekuasaan. Ruang gema muncul ketika seorang pemimpin hanya mendengar informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri. Fakta-fakta yang tidak sejalan disaring sebelum mencapai pusat pengambilan keputusan. Laporan yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan direduksi. Data yang menunjukkan kegagalan disajikan dengan bahasa yang lebih lunak. Pada akhirnya, pemimpin tidak lagi berhadapan dengan realitas, melainkan dengan representasi realitas yang telah dimodifikasi oleh para penjaga akses kekuasaan.

Kondisi tersebut menciptakan paradoks yang menarik. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin sedikit informasi jujur yang diterimanya. Semakin tinggi posisi politiknya, semakin besar kemungkinan ia hidup dalam konstruksi kenyataan yang berbeda dari pengalaman masyarakat sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, kebijakan publik berisiko kehilangan relevansinya karena dirumuskan berdasarkan persepsi yang tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan kondisi objektif di lapangan.

Lebih jauh lagi, kepercayaan diri yang tidak disertai kesediaan untuk mendengar kritik berpotensi menghasilkan apa yang oleh ilmuwan politik disebut sebagai overconfidence trap. Pemimpin mulai menganggap keberhasilan masa lalu sebagai jaminan keberhasilan masa depan. Setiap peringatan dianggap berlebihan. Setiap kekhawatiran dipandang sebagai pesimisme. Setiap kritik dicurigai memiliki motif politik. Akhirnya banyak orang yang berbeda dimasukkan penjara tanpa mengetahui apa salahnya. Akibat lanjut kapasitas untuk melakukan evaluasi diri melemah secara signifikan.

Argumentasi filosofis mengatakan bahwa banyak pemimpin justru merasa paling kuat pada saat mereka sedang kehilangan instrumen koreksi. Mereka merasa memperoleh dukungan penuh ketika tidak ada lagi yang berani berbeda pendapat. Mereka menganggap situasi terkendali ketika seluruh laporan menunjukkan hasil positif. Mereka percaya sistem berjalan sempurna ketika tidak ada suara yang mengganggu kenyamanan kekuasaan. Padahal yang sedang terjadi mungkin sebaliknya: sistem telah kehilangan kemampuan untuk menyampaikan kabar buruk kepada puncak kekuasaan.

Di sinilah kudeta sunyi menemukan bentuknya yang paling nyata. Kudeta tersebut tidak dilakukan oleh oposisi, tidak pula oleh kelompok bersenjata. Kudeta itu berlangsung melalui normalisasi budaya kepatuhan yang berlebihan, pengabaian terhadap kritik, serta penguatan lingkungan politik yang hanya memproduksi persetujuan. Yang direbut bukanlah kursi kekuasaan, melainkan kemampuan kekuasaan untuk melihat dirinya sendiri secara jernih.

Oleh karena itu, ukuran kematangan seorang pemimpin tidak terletak pada seberapa banyak pujian yang diterimanya, melainkan pada seberapa besar kesediaannya mendengar pandangan yang tidak menyenangkan. Sebab sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa kekuasaan jarang runtuh karena terlalu banyak kritik. Sebaliknya, kekuasaan sering kali tersandung karena terlalu lama mempercayai bahwa dirinya tidak memerlukan kritik sama sekali. Ketika keyakinan tersebut mengakar, maka yang berlangsung bukan lagi sekadar kesalahan politik, melainkan proses perlahan yang menyerupai kudeta terhadap nalar dalam jantung kekuasaan itu sendiri.

Secara filosofis kudeta seperti ini sangat berbahaya, lebih berbahaya dari kudeta apapun. Pada moment satu Juni sebagai hari lahirnya falsafah bangsa yang diberi nama Pancasila ini; mari kita sadar diri bahwa tidak ada satupun bangsa luar sana yang rela melihat bangsa ini damai. Mari kita bersatu padu dalam menyelamatkan negeri ini dari kehancuran; sekalipun kita secara entitas memiliki perbedaan. Salam Waras (R-2)

LORONG SUNYI DI HARI LIBUR

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Saat menjelang libur panjang Idhul Adha lalu, sementara menunggu jemputan, maklum sudah menjadi taman kakek-kakek, berbincang dengan seorang karyawan yang bertugas pada level bawah. Saat ditanya mau kemana libur panjang, mukanya tampak sekilas agak berubah, dan tidak lama menghela nafas dalam-dalam. Beliau berkata lirih mengatakan bahwa libur terlalu lama itu malapetaka baginya. Tentu jawaban ini mendorong untuk bertanya lebih dalam, dan ternyata semua itu berkaitan dengan berkurangnya pendapatan mereka.

Bagi banyak orang, libur panjang adalah berkah yang selalu ditunggu. Kalender yang dipenuhi tanggal merah terasa seperti pintu menuju kebahagiaan kecil setelah hari-hari panjang yang melelahkan. Jalanan dipenuhi kendaraan yang membawa keluarga pulang ke kampung halaman, pusat perbelanjaan dipenuhi wajah-wajah gembira, dan rumah-rumah kembali hidup oleh percakapan yang selama ini tertunda oleh kesibukan. Orang-orang merasa memiliki alasan untuk bernapas lebih pelan, tidur lebih lama, dan melupakan sejenak kerasnya tuntutan hidup. Libur panjang dianggap sebagai kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang utuh setelah terlalu lama dipaksa menjadi mesin.

Namun kebahagiaan tidak pernah dibagi secara merata, disitulah letak adilnya Sang Maha Pencipta. Di balik suasana ramai dan penuh tawa itu, ada sedikit orang yang justru merasa terjebak dalam hari-hari yang terlalu sunyi. Libur panjang tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai tekanan yang bergerak perlahan di dalam kepala. Ketika aktivitas berhenti, pikiran mulai berjalan tanpa arah. Ketika pekerjaan menghilang sementara, ketakutan yang selama ini tertutup rutinitas mulai bermunculan satu demi satu.

Ada orang-orang yang menggantungkan hidup pada pekerjaan harian, pada upah yang datang dari langkah kaki dan tenaga yang dikeluarkan setiap hari. Bagi mereka, libur panjang bukan kesempatan untuk beristirahat, melainkan jeda yang menakutkan. Penghasilan berhenti, sementara kebutuhan tetap berjalan seperti biasa. Tagihan tidak ikut libur. Harga kebutuhan pokok tidak menjadi lebih murah hanya karena kalender menunjukkan hari merah. Hidup tetap meminta biaya, bahkan ketika kesempatan mencari uang sedang ditutup sementara sekalipun.

Di saat banyak orang menikmati makan bersama keluarga, sebagian lainnya duduk dalam diam sambil menghitung sisa uang yang makin menipis. Mereka membuka dompet berkali-kali seolah berharap jumlahnya berubah dengan sendirinya. Mereka memeriksa telepon bukan untuk membaca ucapan liburan, melainkan untuk memastikan apakah masih ada pekerjaan yang mungkin datang secara mendadak. Ada kecemasan yang sulit dijelaskan ketika seseorang sadar bahwa beberapa hari tanpa penghasilan dapat mengubah seluruh keadaan hidupnya.

Kesibukan sebenarnya sering menjadi cara paling sederhana untuk melarikan diri dari ketakutan. Saat tubuh sibuk bekerja, pikiran tidak memiliki cukup ruang untuk memikirkan banyak hal. Manusia merasa hidupnya masih bergerak karena setiap hari memiliki tujuan yang jelas. Namun ketika libur panjang datang dan semua mendadak berhenti, manusia dipaksa duduk bersama dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, banyak suara gelap mulai terdengar lebih jelas.

Bagi sebagian orang, malam saat libur panjang terasa jauh lebih berat dibanding hari biasa. Tidak ada kelelahan pekerjaan yang dapat memaksa tubuh segera tidur. Pikiran justru terus berjalan tanpa henti. Suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Lampu kamar terasa terlalu redup. Kesunyian seperti duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan setiap kecemasan yang muncul perlahan. Ada orang-orang yang terjaga sampai dini hari bukan karena menikmati waktu santai, melainkan karena terlalu takut menghadapi hari esok.

Ironisnya, dunia selalu menganggap libur panjang sebagai waktu yang membahagiakan. Orang yang terlihat murung ketika semua orang sedang bersenang-senang sering dianggap aneh. Padahal tidak semua manusia memiliki rumah yang hangat untuk pulang. Tidak semua orang memiliki keluarga yang mampu mengusir rasa sepi. Ada yang justru merasa semakin kosong ketika terlalu lama berada di rumah. Ada yang merasa hidupnya kehilangan arah ketika rutinitas berhenti mendadak.

Media sosial membuat keadaan terasa lebih menyakitkan. Foto-foto perjalanan, meja makan yang penuh, dan wajah-wajah bahagia muncul tanpa henti di layar medsos. Kebahagiaan orang lain bergerak begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh untuk disentuh. Sebagian orang akhirnya hanya menatap layar sambil merasa hidupnya semakin tertinggal. Mereka tidak iri pada kebahagiaan itu, tetapi merasa asing karena tidak mampu merasakan hal yang sama.

Pada akhirnya, libur panjang hanya memperlihatkan keadaan manusia yang sebenarnya. Sebagian menemukan ketenangan dalam jeda, tetapi sebagian lain menemukan ketakutan yang selama ini berhasil disembunyikan oleh kesibukan. Hari-hari yang seharusnya membawa istirahat berubah menjadi lorong sunyi yang dipenuhi bayang keraguan, kecemasan, dan rasa takut akan hidup yang terus bergerak tanpa belas kasihan. Bagi sedikit orang, libur panjang bukan waktu untuk merayakan kebersamaan, melainkan saat ketika kesunyian terasa paling keras dan kehidupan tampak jauh lebih berat daripada hari-hari biasa. Benar kata para ulama terdahulu yang mengatakan bahwa bisa jadi sesuatu itu berkah bagi yang lain, tetapi malapetaka bagi lainnya.

Salam Waras dari lorong waktu

Mengkaji Partitur Orkestrasi Kepsek SMAN 14, 100 Persen Siswa Terima PTN

Penulis Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Ditengah keraguan akan mutu pendidikan di provinsi ini, kita dikejutkan oleh satu berita di media yang digawangi Herman Batin Mangku (HBM) ini, yaitu lolosnya seluruh siswa SMA Negeri 14 Kota Bandarlampung masuk ke Perguruan Tinggi Negeri di republik ini. Terbayang wajah kepala sekolahnya.

Beberapa tahun lalu, penulis diundang beliau dalam satu even pendidikan di sekolahnya. Kepala sekolah bertangan dingin ini sudah menangani entah berapa sekolah, dari yang paling melegenda sampai sekolah pinggiran.

Beliau dengan kepiawaiannya membangun orkestrasi di tempat bertugas. Dan, inilah capaian puncak beliau menjelang masa-masa purna bakti.

Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia, keberhasilan sebuah sekolah mengantarkan seluruh siswanya lolos ke PTN merupakan pencapaian yang luar biasa.

Prestasi seperti ini bukan sekadar angka statistik yang membanggakan, melainkan cerminan dari proses panjang yang dibangun melalui budaya sekolah yang sehat, kepemimpinan yang visioner, kerja keras para guru, dan karakter siswa yang kuat.

Kesuksesan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik capaian seratus persen siswa diterima di perguruan tinggi negeri, terdapat fondasi yang kokoh berupa sinergi antara sekolah, tenaga pendidik, peserta didik, dan lingkungan belajar yang mendukung.

Keberhasilan sebuah sekolah sering kali dimulai dari arah kepemimpinan yang jelas. Kepala sekolah memiliki peran penting sebagai penggerak utama budaya pendidikan.

Sosok pemimpin yang mampu membangun semangat, kedisiplinan, dan visi bersama akan menciptakan suasana sekolah yang hidup dan penuh optimisme.

Pemimpin pendidikan yang baik tidak hanya hadir sebagai administrator, tetapi juga menjadi inspirator bagi guru dan siswa.

Ia memahami bahwa keberhasilan akademik tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan siswa, melainkan membutuhkan sistem yang terorganisasi dan motivasi yang terus dijaga. Soal yang satu ini tidak banyak orang yang mampu melakonkannya.

Kepemimpinan yang baik tidak akan berjalan tanpa dukungan guru-guru yang andal. Guru merupakan ujung tombak pendidikan yang bersentuhan langsung dengan siswa setiap hari.

Peran mereka tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun kepercayaan diri, semangat juang, dan daya tahan mental peserta didik.

Guru yang hebat adalah mereka yang memahami bahwa setiap siswa memiliki kemampuan berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Keandalan guru terlihat dari kesungguhan mereka mendampingi siswa menghadapi proses seleksi masuk perguruan tinggi yang semakin kompetitif.

Mereka rela meluangkan waktu tambahan di luar jam belajar, memberikan bimbingan intensif, mengadakan latihan soal, hingga menjadi tempat bertanya bagi siswa yang mengalami kesulitan.

Guru yang berdedikasi tidak pernah membiarkan siswa merasa sendiri dalam perjuangannya. Mereka hadir sebagai pembimbing sekaligus motivator yang terus mengingatkan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Selain itu, keberhasilan sekolah juga lahir dari budaya disiplin yang diterapkan secara konsisten. Disiplin bukan hanya soal aturan berpakaian atau ketepatan waktu, tetapi juga tentang komitmen menjalankan proses belajar dengan sungguh-sungguh.

Ketika seluruh warga sekolah memiliki semangat yang sama untuk maju, maka energi positif akan terbentuk dengan sendirinya. Lingkungan seperti inilah yang mampu mendorong siswa mencapai potensi terbaik mereka.

Kondisi ini tercipta tidak datang dari langit, tetapi diciptakan bersama antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lain, dan komite sekolah.

Dengan kata lain, prestasi seratus persen masuk PTN juga menunjukkan bahwa pendidikan yang berhasil tidak semata-mata bergantung pada fasilitas mewah. Yang paling utama adalah kualitas manusia di dalamnya.

Sekolah yang memiliki pemimpin inspiratif, guru berdedikasi, dan siswa berkarakter kuat akan mampu melahirkan prestasi besar meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan pendidikan sejatinya dibangun melalui kerja sama, ketulusan, dan semangat untuk terus berkembang.

Pada akhirnya, keberhasilan seluruh siswa diterima di perguruan tinggi negeri merupakan bukti bahwa mimpi besar dapat diwujudkan ketika semua pihak berjalan bersama.

Kepemimpinan yang kuat memberi arah, guru yang andal memberi ilmu dan semangat, sementara siswa yang rendah hati menjaga proses belajar tetap hidup dan bermakna. Ketiganya menjadi kunci utama lahirnya prestasi yang membanggakan.

Lebih dari sekadar angka kelulusan, keberhasilan ini adalah cermin bahwa pendidikan yang dijalankan dengan hati, kerja keras, dan karakter yang baik akan selalu menghasilkan masa depan yang gemilang.

Semoga pimpinan tertinggi daerah ini dapat mengapresiasi kerja-kerja pendidikan seperti ini.

Salam Waras

Saat Rakyat Menjadi Kurban Abadi

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Gema takbir kembali memenuhi langit dan jalan-jalan dipadati manusia yang membawa harapan, doa, dan keyakinan bahwa pengorbanan adalah jalan menuju kemuliaan. Hewan-hewan kurban disembelih sebagai simbol keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama. Namun di balik suasana yang khidmat itu, ada pertanyaan yang diam-diam menggantung di kepala: mengapa rakyat seolah tidak pernah berhenti menjadi pihak yang paling sering diminta berkorban?

Entah sudah berapa kali perayaan datang dan pergi dalam bentuk apapun, dan entah sudah berapa banyak kurban disembelih; namun kehidupan sebagian masyarakat tetap berjalan di lorong yang sama. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, lapangan pekerjaan makin sulit diperebutkan, sementara penghasilan tidak bertambah secepat kebutuhan hidup. Banyak orang bekerja sejak matahari belum terbit hingga malam menjelang, tetapi tetap merasa hidupnya hanya cukup untuk bertahan sampai esok hari. Dalam keadaan seperti itu, kata “pengorbanan” terdengar tidak lagi sakral, melainkan seperti kewajiban abadi yang dibebankan kepada rakyat kecil.

Negara sering meminta masyarakat bersabar demi pembangunan, demi stabilitas, demi masa depan yang lebih baik, demi angka statistika yang harus terlihat rapi. Kesabaran itu memang penting, tetapi masalah muncul ketika kesabaran berubah menjadi alasan untuk membiarkan penderitaan berlangsung terlalu lama. Rakyat diminta memahami keadaan ekonomi, menerima kenaikan harga, memaklumi kebijakan yang membebani, dan tetap percaya bahwa semuanya dilakukan demi kepentingan bersama. Ironisnya, mereka yang paling banyak diminta memahami keadaan justru adalah mereka yang hidupnya paling rapuh.

Pergantian pemimpin sering menghadirkan harapan baru. Wajah-wajah baru muncul dengan janji perubahan, perbaikan, dan kesejahteraan. Kampanye dipenuhi kata-kata tentang keberpihakan kepada rakyat kecil. Namun setelah pesta demokrasi usai, kehidupan sehari-hari masyarakat sering kembali berjalan seperti sebelumnya. Pedagang kecil tetap kesulitan mendapatkan pembeli, buruh tetap dihantui ketidakpastian upah, petani tetap bergantung pada cuaca dan harga pasar yang tidak menentu.

Pergantian pemimpin kadang hanya terasa di layar televisi dan media sosial, tetapi belum tentu terasa di dapur rakyat. bahkan jika ada rakyat yang berteriak justru pemimpin tertinggi berteriak “kalau pintar kenapa tidak jadi presiden”. Ini menjadi ironi, semula mengemis, mengiba, menderaikan air mata dihadapan rakyat. Ternyata bak pepatah lama “bagai musang berbulu domba”.

Periuk nasi menjadi simbol paling jujur tentang keadaan masyarakat saat ini. Selama periuk itu masih mengepul, orang akan berusaha bertahan. Tetapi ketika harga beras naik, minyak mahal, dan biaya hidup terus menekan, menjaga agar periuk tidak terbalik saja sudah menjadi perjuangan besar. Banyak keluarga harus mengurangi kebutuhan, menunda keinginan, bahkan mengorbankan kesehatan dan pendidikan demi memastikan makanan tetap tersedia di meja makan. Dalam kondisi seperti itu, kemewahan bukan lagi soal kendaraan atau rumah besar, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar tanpa rasa cemas.

Menyedihkan lagi adalah ketika pengorbanan rakyat dianggap hal biasa. Kesulitan hidup perlahan dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Orang miskin dianggap harus bekerja lebih keras, seolah kemiskinan semata-mata akibat kurangnya usaha. Padahal banyak masyarakat telah bekerja tanpa henti dan tetap tidak mampu keluar dari lingkaran kesulitan. Ada sistem yang kadang tidak memberi ruang adil bagi semua orang untuk tumbuh bersama.

Di tengah situasi itu, masyarakat sebenarnya tidak menuntut hal muluk-muluk. Mereka tidak selalu meminta hidup mewah atau fasilitas berlebihan. Banyak orang hanya ingin harga kebutuhan pokok stabil, pekerjaan tersedia, pendidikan terjangkau, layanan kesehatan mudah diakses, dan masa depan anak-anak mereka tidak suram. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang tanpa dihantui ketakutan bahwa esok hari akan lebih berat daripada hari ini.

Sayangnya, perhatian terhadap rakyat sering muncul lebih kuat saat momentum politik mendekat. Setelah itu, suara-suara kecil kembali tenggelam di antara pidato dan angka-angka statistik yang terlihat indah di atas kertas. Pertumbuhan ekonomi diumumkan dengan bangga, tetapi sebagian masyarakat tetap merasa jauh dari kesejahteraan. Ada jarak antara data dan kenyataan. Di satu sisi, pembangunan tampak megah; di sisi lain, masih banyak orang yang harus menghitung uang receh untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Padahal sebuah negara seharusnya hadir untuk mengurangi beban rakyat, bukan sekadar meminta rakyat terus menanggung beban demi negara. Pengorbanan memang bagian dari kehidupan berbangsa, tetapi pengorbanan itu harus dibagi secara adil. Jangan sampai hanya masyarakat kecil yang terus diminta mengencangkan ikat pinggang, sementara sebagian pihak hidup dalam kenyamanan yang jauh dari rasa krisis. Ketidakadilan semacam inilah yang perlahan melahirkan kelelahan sosial dan hilangnya kepercayaan.

Meski demikian, rakyat sering menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Dalam keterbatasan, mereka tetap saling membantu. Tetangga berbagi makanan, keluarga saling menopang, dan masyarakat kecil menemukan cara untuk bertahan bersama. Solidaritas tumbuh justru ketika keadaan sulit. Ini menunjukkan bahwa kekuatan bangsa sebenarnya terletak pada rakyatnya yang tidak mudah menyerah.

Namun ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan mereka terus menderita. Kesabaran masyarakat ada batasnya. Negara membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kehidupan nyata rakyat, bukan sekadar narasi yang terdengar indah. Kesejahteraan tidak cukup dijanjikan; ia harus dirasakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Hari raya kurban sejatinya mengajarkan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Semangat itu seharusnya tidak berhenti pada ritual tahunan, melainkan menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara. Mereka yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab semestinya juga belajar berkorban demi kepentingan rakyat, bukan sebaliknya. Sebab jika rakyat terus-menerus menjadi pihak yang paling banyak diminta mengalah, maka kurban tidak lagi menjadi simbol kemuliaan, melainkan lambang panjangnya penderitaan yang belum juga menemukan akhir.
Selamat Idhul Adha. (R-2)

( malahayati.ac.id ) – Gema takbir kembali memenuhi langit dan jalan-jalan dipadati manusia yang membawa harapan, doa, dan keyakinan bahwa pengorbanan adalah jalan menuju kemuliaan. Hewan-hewan kurban disembelih sebagai simbol keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama. Namun di balik suasana yang khidmat itu, ada pertanyaan yang diam-diam menggantung di kepala: mengapa rakyat seolah tidak pernah berhenti menjadi pihak yang paling sering diminta berkorban?

Entah sudah berapa kali perayaan datang dan pergi dalam bentuk apapun, dan entah sudah berapa banyak kurban disembelih; namun kehidupan sebagian masyarakat tetap berjalan di lorong yang sama. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, lapangan pekerjaan makin sulit diperebutkan, sementara penghasilan tidak bertambah secepat kebutuhan hidup. Banyak orang bekerja sejak matahari belum terbit hingga malam menjelang, tetapi tetap merasa hidupnya hanya cukup untuk bertahan sampai esok hari. Dalam keadaan seperti itu, kata “pengorbanan” terdengar tidak lagi sakral, melainkan seperti kewajiban abadi yang dibebankan kepada rakyat kecil.

Negara sering meminta masyarakat bersabar demi pembangunan, demi stabilitas, demi masa depan yang lebih baik, demi angka statistika yang harus terlihat rapi. Kesabaran itu memang penting, tetapi masalah muncul ketika kesabaran berubah menjadi alasan untuk membiarkan penderitaan berlangsung terlalu lama. Rakyat diminta memahami keadaan ekonomi, menerima kenaikan harga, memaklumi kebijakan yang membebani, dan tetap percaya bahwa semuanya dilakukan demi kepentingan bersama. Ironisnya, mereka yang paling banyak diminta memahami keadaan justru adalah mereka yang hidupnya paling rapuh.

Pergantian pemimpin sering menghadirkan harapan baru. Wajah-wajah baru muncul dengan janji perubahan, perbaikan, dan kesejahteraan. Kampanye dipenuhi kata-kata tentang keberpihakan kepada rakyat kecil. Namun setelah pesta demokrasi usai, kehidupan sehari-hari masyarakat sering kembali berjalan seperti sebelumnya. Pedagang kecil tetap kesulitan mendapatkan pembeli, buruh tetap dihantui ketidakpastian upah, petani tetap bergantung pada cuaca dan harga pasar yang tidak menentu.

Pergantian pemimpin kadang hanya terasa di layar televisi dan media sosial, tetapi belum tentu terasa di dapur rakyat. bahkan jika ada rakyat yang berteriak justru pemimpin tertinggi berteriak “kalau pintar kenapa tidak jadi presiden”. Ini menjadi ironi, semula mengemis, mengiba, menderaikan air mata dihadapan rakyat. Ternyata bak pepatah lama “bagai musang berbulu domba”.

Periuk nasi menjadi simbol paling jujur tentang keadaan masyarakat saat ini. Selama periuk itu masih mengepul, orang akan berusaha bertahan. Tetapi ketika harga beras naik, minyak mahal, dan biaya hidup terus menekan, menjaga agar periuk tidak terbalik saja sudah menjadi perjuangan besar. Banyak keluarga harus mengurangi kebutuhan, menunda keinginan, bahkan mengorbankan kesehatan dan pendidikan demi memastikan makanan tetap tersedia di meja makan. Dalam kondisi seperti itu, kemewahan bukan lagi soal kendaraan atau rumah besar, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar tanpa rasa cemas.

Menyedihkan lagi adalah ketika pengorbanan rakyat dianggap hal biasa. Kesulitan hidup perlahan dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Orang miskin dianggap harus bekerja lebih keras, seolah kemiskinan semata-mata akibat kurangnya usaha. Padahal banyak masyarakat telah bekerja tanpa henti dan tetap tidak mampu keluar dari lingkaran kesulitan. Ada sistem yang kadang tidak memberi ruang adil bagi semua orang untuk tumbuh bersama.

Di tengah situasi itu, masyarakat sebenarnya tidak menuntut hal muluk-muluk. Mereka tidak selalu meminta hidup mewah atau fasilitas berlebihan. Banyak orang hanya ingin harga kebutuhan pokok stabil, pekerjaan tersedia, pendidikan terjangkau, layanan kesehatan mudah diakses, dan masa depan anak-anak mereka tidak suram. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang tanpa dihantui ketakutan bahwa esok hari akan lebih berat daripada hari ini.

Sayangnya, perhatian terhadap rakyat sering muncul lebih kuat saat momentum politik mendekat. Setelah itu, suara-suara kecil kembali tenggelam di antara pidato dan angka-angka statistik yang terlihat indah di atas kertas. Pertumbuhan ekonomi diumumkan dengan bangga, tetapi sebagian masyarakat tetap merasa jauh dari kesejahteraan. Ada jarak antara data dan kenyataan. Di satu sisi, pembangunan tampak megah; di sisi lain, masih banyak orang yang harus menghitung uang receh untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Padahal sebuah negara seharusnya hadir untuk mengurangi beban rakyat, bukan sekadar meminta rakyat terus menanggung beban demi negara. Pengorbanan memang bagian dari kehidupan berbangsa, tetapi pengorbanan itu harus dibagi secara adil. Jangan sampai hanya masyarakat kecil yang terus diminta mengencangkan ikat pinggang, sementara sebagian pihak hidup dalam kenyamanan yang jauh dari rasa krisis. Ketidakadilan semacam inilah yang perlahan melahirkan kelelahan sosial dan hilangnya kepercayaan.

Meski demikian, rakyat sering menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Dalam keterbatasan, mereka tetap saling membantu. Tetangga berbagi makanan, keluarga saling menopang, dan masyarakat kecil menemukan cara untuk bertahan bersama. Solidaritas tumbuh justru ketika keadaan sulit. Ini menunjukkan bahwa kekuatan bangsa sebenarnya terletak pada rakyatnya yang tidak mudah menyerah.

Namun ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan mereka terus menderita. Kesabaran masyarakat ada batasnya. Negara membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kehidupan nyata rakyat, bukan sekadar narasi yang terdengar indah. Kesejahteraan tidak cukup dijanjikan; ia harus dirasakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Hari raya kurban sejatinya mengajarkan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Semangat itu seharusnya tidak berhenti pada ritual tahunan, melainkan menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara. Mereka yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab semestinya juga belajar berkorban demi kepentingan rakyat, bukan sebaliknya. Sebab jika rakyat terus-menerus menjadi pihak yang paling banyak diminta mengalah, maka kurban tidak lagi menjadi simbol kemuliaan, melainkan lambang panjangnya penderitaan yang belum juga menemukan akhir.
Selamat Idhul Adha. (R-2)

Anindya Bakri dan Muhammad Kadafi Rektor Universitas Malahayati Qurbankan 6 Ekor Sapi, Dibagikan untuk Anak Yatim binaan kampus dan masyarakat

Anindya Bakrie bersama muhammad Kadafi melaksanakan kegiatan qurban sebanyak 6 ekor sapi di lingkungan Universitas Malahayati pada Kamis, 28 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial serta semangat berbagi kepada masyarakat dan anak yatim binaan kampus.
Dalam pelaksanaannya, Ketua Kadin Indonesia Anindya Bakrie diwakili oleh Bapak Romy J. Utama, S.E., M.Sos yang hadir langsung dalam proses penyerahan hewan qurban. Daging qurban kemudian didistribusikan kepada masyarakat sekitar serta anak yatim binaan Universitas Malahayati sebanyak kurang lebih 700 bungkus.

Perwakilan Kadin Indonesia, Romy J. Utama, menyampaikan bahwa kegiatan qurban ini merupakan bentuk nyata kepedulian sosial dan kebersamaan antara dunia usaha dengan dunia pendidikan.
“Melalui momentum Idul Adha ini, kami ingin menanamkan nilai kepedulian dan kebersamaan. Semoga qurban yang disalurkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi keberkahan untuk kita semua,” ujar Romy J. Utama mewakili Ketua Kadin Indonesia, Anindya Bakrie.
Sementara itu, Rektor Universitas Malahayati, dr. H. Muhammad Kadafi S.H., M.H., menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin antara Kadin Indonesia dan Universitas Malahayati dalam kegiatan sosial kemasyarakatan tersebut.

“Kegiatan qurban ini bukan hanya tentang berbagi daging qurban, tetapi juga mempererat silaturahmi dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama, khususnya anak-anak yatim binaan Universitas Malahayati dan masyarakat sekitar kampus,” ungkap Rektor Malahayati.

Suasana kegiatan berlangsung penuh kebersamaan dengan melibatkan civitas akademika, panitia qurban, mahasiswa, serta relawan kampus yang turut membantu proses penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban kepada para penerima manfaat.

Editor : Chandra fz