Pak Djarwo, Bagaimana Saya Bisa Lupa?

Oleh Udo Z Karzi

DI negeri ini, orang sering lupa. Lupa janji saat kampanye. Lupa utang setelah gajian. Lupa sejarah setelah jadi pejabat. Dan yang paling sering: lupa kepada guru setelah merasa pintar.

Karena itu, ketika membaca tulisan Juwendra Asdiansyah tentang Prof. Dr. Sudjarwo berjudul “Prof Sudjarwo: Yang Siap Dilupakan, Yang Mengukir Keabadian” (Wartalampung.id, 20 Mei 2026), saya justru berpikir: bagaimana mungkin saya bisa lupa kepada Pak Djarwo?

Lupa itu perlu syarat. Pertama, orang yang mau dilupakan memang tidak meninggalkan jejak. Kedua, kita memang tak pernah benar-benar bersentuhan dengannya. Ketiga, kita malas mengenang.

Nah, masalahnya, Pak Djarwo itu meninggalkan jejak di kepala saya. Dan jejak itu bukan sekadar tanda tangan di lembar absensi kuliah.

Ia adalah dosen saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung. Mengajar Metode Penelitian Sosial (MPS) dan sosiologi perdesaan. Dua mata kuliah yang sebenarnya bisa sangat mengerikan bila diajarkan dengan wajah birokratis, suara datar, dan diktat lusuh hasil fotokopi generasi ketujuh.

Tapi, Pak Djarwo beda.

Ia mengajar seperti orang yang percaya bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori untuk ujian semester, melainkan alat memahami manusia. Dan manusia itu makhluk yang rumit, absurd, lucu, kadang tolol, tapi menarik diteliti.

Saya masih ingat salah satu hal yang paling membekas dari mata kuliah MPS: pendekatan sejarah dalam penelitian sosial. Dari situ saya makin menyukai sejarah apa saja. Sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah sastra, bahkan sejarah orang putus cinta.

Sebab, sejarah membuat kita paham mengapa sesuatu terjadi. Dan, lebih penting lagi: mengapa sesuatu terus berulang.

Masalahnya memang begitu. Manusia ini makhluk keras kepala. Sudah berkali-kali sejarah menunjukkan akibat keserakahan, penyalahgunaan kuasa, kebodohan kolektif, tapi tetap saja diulang dengan penuh percaya diri. Mungkin karena manusia merasa dirinya generasi paling canggih. Padahal cuma generasi terbaru dari spesies yang sama-sama suka mengulangi kesalahan.

Itu pelajaran penting dari Pak Djarwo. Bukan sekadar teori sosiologi. Tapi cara memandang kehidupan.

Dan yang paling saya suka: beliau melarang mahasiswa mencatat saat kuliah.

Ini revolusioner.

Di kampus-kampus kita, mahasiswa biasanya sibuk mencatat sampai lupa mendengar. Tangan bergerak cepat, otak parkir. Dosen ngomong apa, tidak penting. Yang penting catatan penuh supaya bisa difotokopi sebelum ujian.

Pak Djarwo justru meminta kami mendengarkan. Menyimak. Mencerna. Setelah itu baru materi boleh difotokopi.

Kalau rajin mengumpulkan materi kuliah, jadilah diktat. Tapi Pak Djarwo tidak menjadi “diktat-or” yang menjadikan mahasiswa sebagai pasar fotokopian wajib. Ini penting dicatat. Sebab di republik pendidikan kita, kadang ada dosen yang lebih semangat menjual diktat daripada memperbarui isi kuliah.

Ada dosen yang tiap tahun mengajar teori lama dengan semangat purbakala, tetapi diktatnya berganti cover terus supaya mahasiswa tak bisa pinjam kakak tingkat.

Ekonomi kreatif memang luar biasa.

Beruntung kami punya Pak Djarwo.

Dan keberuntungan berikutnya: beliau bukan hanya dosen yang mengajar. Beliau menulis.

Nah, di sinilah masalah besar dunia akademik kita sebenarnya.

Banyak dosen bisa bicara panjang lebar di seminar, tetapi ketika menulis, kalimatnya seperti truk pengangkut batu gagal nanjak: berat, berisik, lalu mundur perlahan. Ada tulisan akademik yang setelah dibaca tiga paragraf membuat pembaca merasa bersalah telah lahir ke dunia. Padahal menulis itu mestinya menyampaikan pikiran, bukan menyembunyikannya.

Karena itu saya sepakat dengan Juwendra: dosen yang benar-benar bisa menulis dengan baik memang tidak banyak.

Pak Djarwo termasuk yang langka itu.

Ketika saya menjadi jabrik (penanggung jawab rubrik) halaman Opini di Lampung Post, sayalah yang kerap memuat tulisan-tulisannya.

Eh, redaktur Opini Lampost itu silih berganti. Seingat saya nama-nama redaktur Opini di Lampost di antaranya: Fajrun Najah Ahmad, Heri Wardoyo, Uten Sutendy, Heri Mulyadi, Rahmat Sudirman, Hesma Eryani, Budi Hutasuhut, Sudarmono, sampai SW Teofani. Sebuah zaman ketika koran masih dibaca sambil ngopi, bukan sambil rebahan sambil mengutuk algoritma media sosial.

Dan saya ingat para penulis yang rutin mengirim opini. Pak Djarwo, tentu saja. Juga Syarief Makhya, Nanang Trenggono, sampai Ari Darmastuti yang menulis meski jarang. Maaf, Bu Ari. Hehee…

Yang menarik dari tulisan-tulisan Pak Djarwo ialah nadanya. Tenang. Santun. Tidak menggebu-gebu seperti status Facebook orang baru menemukan teori konspirasi.

Sebagai sosiolog, ia tidak memaki-maki masyarakat. Ia mengajak pembaca merenung. Tidak menggurui, tetapi mempersilakan orang berpikir. Di tengah dunia yang makin berisik, tulisan model begitu justru terasa mewah.

Sekarang kita hidup di zaman semua orang ingin menjadi komentator tercepat. Semua ingin viral. Semua merasa harus marah tiap hari. Bahkan orang belum selesai membaca berita sudah siap menghina di kolom komentar.

Pak Djarwo justru mengingatkan bahwa kecendekiaan tidak harus gaduh. Bahwa pikiran jernih sering lahir dari suara yang tenang.

Ini kata Pak Djarwo yang dikutip Juwendra: “Jarang yang mau membaca (tulisan saya) karena banyak orang begitu membaca istilah filsafat langsung ambil posisi minggir sebelum berjalan.”

Kalimat ini lucu sekaligus menyedihkan. Kita memang bangsa yang cepat minder terhadap istilah-istilah intelektual. Baru membaca kata “epistemologi”, orang langsung merasa dikejar setan akademik. Padahal filsafat itu sebenarnya cuma usaha manusia memahami hidup secara lebih serius.

Masalahnya, kita sudah terlalu lama dididik untuk takut berpikir rumit. Kita lebih suka slogan daripada perenungan. Lebih suka kutipan pendek daripada membaca buku utuh. Lebih suka video 30 detik daripada esai 1.000 kata.

Dan ironisnya, di tengah budaya instan itu, masih ada orang seperti Pak Djarwo yang tekun menulis dengan kesabaran seorang guru.

Maka bagaimana saya bisa lupa?

Apalagi buku Ngilo karya beliau masih tertata rapi di Lepau Buku saya. Buku kumpulan opini yang terbit tahun 2014 itu bukan sekadar kumpulan tulisan koran. Ia semacam rekaman batin seorang intelektual yang mengamati masyarakat dengan mata teduh.

Saya kadang berpikir, mungkin memang nasib banyak guru besar yang baik adalah perlahan-lahan disisihkan oleh zaman yang lebih menghargai sensasi daripada kebijaksanaan.

Tapi ada yang tak dipahami zaman: tulisan yang baik punya umur panjang. Ia bisa melampaui tepuk tangan seminar. Melampaui jabatan. Melampaui baliho akademik. Dan dalam hal itu, Pak Djarwo mungkin benar-benar sedang mengukir keabadian.

Sedangkan kita? Kita cuma sedang sibuk scrolling.

Resimen Mahasiswa (Menwa) sukses mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional

 

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Tiga mahasiswa Universitas Malahayati yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Resimen Mahasiswa (Menwa) sukses mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Mereka berhasil membawa pulang trofi Juara 1 dalam ajang kejuaraan menembak bergengsi Jakarta Tactical Shooting Championship (JTSC) 2026 yang berlangsung di Markas Yonif Mekanis 202/Tajimalela, Jakarta, pada 9–10 Mei 2026.
​Ketiga mahasiswa berprestasi tersebut berasal dari program studi yang berbeda, yaitu:


​Stepanus Dipta Duta H (Program Studi S1 Psikologi, NPM 22370013)
​M. Fathur Rizky (Program Studi S1 Manajemen, NPM 22220181)
​Muhammad Sabki (Program Studi S1 Akuntansi, NPM 23210248)

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata dari kedisiplinan, ketangguhan, dan ketekunan para anggota Menwa Universitas Malahayati dalam mengasah kemampuan taktis dan konsentrasi tinggi yang diperlukan dalam cabang olahraga menembak.
​Saat dimintai keterangan,  Muhammad Fathur Rizky sebagai komandan Menwamengungkapkan rasa bangga dan syukurnya yang mendalam atas pencapaian ini. “Bangga sekali rasanya bisa membawa nama baik Universitas Malahayati (UNMAL) serta Komando Resimen Mahasiswa (Skomen) di ajang nasional ini. Kemenangan ini kami dedikasikan untuk kampus tercinta,” ujarnya penuh semangat, merefleksikan semboyan Widya Castrena Dharma Siddha.
​Senada dengan Stepanus, M. Fathur Rizky dan Muhammad Sabki juga menyampaikan rasa bangganya karena tidak hanya membawa harum nama almamater, tetapi juga mewakili Provinsi Lampung di tingkat pusat. Mereka berharap raihan prestasi ini dapat menjadi pemantik motivasi bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya di Universitas Malahayati untuk terus aktif mendulang prestasi, baik di bidang akademik maupun non-akademik.
​”Kami berharap raihan prestasi ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemeringkatan kampus dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Provinsi Lampung. Semoga ke depan, UKM Menwa Universitas Malahayati bisa terus mencetak kader-kader yang berprestasi dan berkarakter unggul,” tutur Fathur Rizky yang diamini oleh Sabki.
​Rektorat beserta seluruh civitas akademika Universitas Malahayati menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dedikasi dan kerja keras ketiga ksatria Menwa ini. Pihak kampus berkomitmen untuk terus mendukung penuh setiap kegiatan kemahasiswaan yang berdampak positif dan mampu mengharumkan nama institusi di kancah nasional maupun internasional.
Editor : chandra fz

 

WORKSHOP “PENINGKATAN KUALITAS PENELITIAN MAHASISWA” SUKSES DIGELAR DI UNIVERSITAS MALAHAYATI

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Program Studi Farmasi Universitas Malahayati sukses menyelenggarakan workshop bertajuk “Tingkatkan Kualitas Penelitian Melalui Pengelolaan Referensi Karya Ilmiah dan Keterampilan Analisis Data Statistik” pada Rabu–Kamis, 20–21 Mei 2026 di Ruang Kuliah I.3 Universitas Malahayati.
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas penelitian mahasiswa, khususnya mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi. Workshop diikuti oleh 196 mahasiswa Program Studi Farmasi tingkat akhir, dengan antusiasme tinggi selama dua hari pelaksanaan.

Ketua Panitia, apt. Annisa Primadiamanti, M.Sc., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengelola referensi karya ilmiah serta melakukan pengolahan dan analisis data statistik penelitian secara tepat dan sistematis.
“Melalui workshop ini diharapkan mahasiswa dapat memahami pentingnya penggunaan referensi ilmiah yang benar, menghindari plagiarisme, serta mampu mengolah data penelitian dengan baik sehingga menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas,” ujarnya.
Workshop menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yaitu Dr. Mala Kurniati, S.Si., M.Biomed. dengan materi “Manajemen Referensi Karya Ilmiah” serta Nova Muhani, S.S.T., M.K.M. dengan materi “Pengolahan dan Analisa Data Kesehatan dan Farmasi”.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pengelolaan referensi, teknik sitasi yang benar, hingga penggunaan aplikasi manajemen referensi dalam penulisan karya ilmiah. Sementara pada sesi kedua, peserta diberikan pelatihan pengolahan data statistik penelitian kesehatan dan farmasi menggunakan software statistik disertai praktik langsung.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan interaktif. Para peserta aktif berdiskusi dan mengikuti sesi praktik yang diberikan oleh narasumber. Selain meningkatkan kemampuan teknis mahasiswa, workshop ini juga menjadi wadah pengembangan kompetensi akademik dalam mendukung penelitian yang berkualitas dan berdaya saing.
Program Studi Farmasi Universitas Malahayati berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya mendukung peningkatan mutu penelitian dan publikasi ilmiah mahasiswa di lingkungan Universitas Malahayati.

Editor : chandra fz

Rektor Unmal Ucapkan Selamat atas Terpilihnya Prof. Dr. Elfahmi sebagai Rektor ITERA Periode 2026–2030

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id )  – Rektor beserta seluruh Sivitas Akademika Universitas Malahayati Bandar Lampung menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terpilihnya Prof. Dr. Elfahmi, S.Si., M.Si. sebagai Rektor Institut Teknologi Sumatera (ITERA) untuk periode masa jabatan 2026–2030.

Ucapan ini disampaikan sebagai bentuk apresiasi dan dukungan penuh terhadap kepemimpinan baru di lingkungan perguruan tinggi negeri kemitraan di Lampung tersebut. Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, SH., MH, berharap momentum ini dapat mempererat hubungan akademis dan kolaborasi antar-perguruan tinggi di wilayah Sumatera.

“Segenap keluarga besar Universitas Malahayati mengucapkan selamat atas amanah baru yang diemban oleh Prof. Dr. Elfahmi. Semoga di bawah kepemimpinan beliau, ITERA semakin maju, inovatif, dan terus berkontribusi nyata dalam perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta pembangunan SDM unggul, khususnya di Sumatera dan Indonesia,” ungkap manajemen dalam keterangan resminya.

Sinergi antarkampus di Lampung, baik swasta maupun negeri, diharapkan terus berjalan beriringan demi memajukan mutu pendidikan tinggi nasional serta menjawab tantangan global di masa depan, selaras dengan semangat “Let’s Challenge The Future”.

Editor : Chandra fz

Peringati World Thalassemia Day, IACC Gelar Edukasi dan Skrining Thalassemia di kampus

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Dalam rangka memperingati Hari Thalassemia Sedunia (World Thalassemia Day) yang jatuh setiap tanggal 8 Mei, Indonesian Association for Clinical Chemistry (IACC) Cabang Lampung menggelar kegiatan berbasis kepedulian kesehatan masyarakat bertajuk “IACC Goes to Campus: Edukasi dan Skrining Thalassemia”. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran generasi muda, khususnya mahasiswa, terhadap penyakit kelainan darah genetik Thalassemia.

Acara yang berlangsung dengan khidmat ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes. Kehadiran dan dukungan jajaran pimpinan institusi serta organisasi profesi menegaskan pentingnya kolaborasi edukasi kesehatan di lingkungan akademis. Turut hadir dalam agenda ini Ketua IACC Cabang Lampung, Dr. dr. Hidayat, M.Kes, Sp.PK(K), serta Wakil Rektor III yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan, M. Ricko Gunawan, M.Kes.

Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat deteksi dini merupakan salah satu kunci utama dalam memutus mata rantai penurunan penyakit Thalassemia kepada generasi penerus.

Sesi Talkshow: Pentingnya Screening Dini Thalassemia
Sebagai inti dari kegiatan edukasi, acara ini menghadirkan sesi Talkshow interaktif yang mengupas tuntas materi mengenai Thalassemia, perbedaan antara pembawa sifat (carrier) dan penderita, serta pentingnya melakukan skrining pranikah (pre-marital screening).

Diskusi edukatif ini dipandu oleh dr. Lusita, Sp.PK selaku moderator, dengan menghadirkan panel pemateri yang ahli di bidangnya, yaitu:

dr. Muhammad Nur, M.Sc., Sp.PK

dr. Mulat Muliasih, Sp.PK

Dr. dr. Hidayat, M.Kes, Sp.PK(K)

dr. Aditya, M.Biomed

Melalui pemaparan para ahli tersebut, peserta ditekankan untuk tidak hanya memahami Thalassemia secara teori, tetapi juga berani mengambil langkah nyata untuk memeriksakan status kesehatan darah mereka sejak dini melalui fasilitas skrining gratis yang disediakan di lokasi.

Selain Talk Show pada kegiatan ini juga dilakukan Screening Thalassemia kepada para mahasiswa yang hadir.

Sinergi dan Kolaborasi Kesehatan
Kegiatan ini dapat terlaksana dengan sukses berkat kolaborasi erat antara IACC Cabang Lampung dengan sejumlah organisasi profesi, lembaga kesehatan, serta instansi pendidikan, di antaranya:

Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia (ILKI)

Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI)

PT. Sarana Maju Megamedilab Sentosa,

PT. Enseval.,

PT. Sumber Mitra (Summit),

PT. Lambadefa dan Laboratorium Pramitra

Antusiasme peserta terlihat cukup tinggi sepanjang acara. Selain mendengarkan pemaparan materi yang berbobot dari para narasumber, para mahasiswa juga memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan konsultasi langsung serta mengikuti rangkaian proses skrining darah yang disediakan oleh tim medis di lokasi.

Melalui gerakan Goes to Campus ini, diharapkan kesadaran akan bahaya Thalassemia dapat terus meluas di kalangan generasi muda, sehingga angka kelahiran anak dengan Thalassemia Mayor di Indonesia dapat ditekan secara signifikan di masa depan.

Editor : Chandra Fz

Rapat Pimpinan Universitas Malahayati Bahas Baseline dan Target IKU Tahun 2026

Universitas Malahayati menggelar rapat pimpinan dalam rangka pembahasan baseline dan target Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan rektorat, para dekan, kepala lembaga, serta kepala biro di lingkungan Universitas Malahayati.

Kegiatan rapat diawali dengan arahan dari Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes yang menekankan pentingnya penyusunan baseline dan target IKU sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu dan tata kelola perguruan tinggi yang berkelanjutan. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa pencapaian IKU harus menjadi komitmen bersama seluruh unit kerja guna mendukung daya saing institusi di tingkat nasional maupun internasional.

Rapat dipandu oleh Kepala Lembaga Penjamin Mutu Internal (LPMI) Universitas Malahayati, Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep. Dalam kegiatan tersebut, pembahasan difokuskan pada penyamaan persepsi terkait indikator capaian, evaluasi baseline tahun sebelumnya, serta strategi penetapan target IKU Universitas Malahayati tahun 2026 yang realistis dan terukur.

Penjelasan teknis mengenai mekanisme penyusunan dan pelaporan IKU disampaikan oleh Wakil LPMI, Prima Dian Furqoni, M.Kes. Beliau menjelaskan tahapan penginputan data, penyesuaian indikator pada masing-masing unit, hingga strategi monitoring dan evaluasi pencapaian target IKU secara berkala.

Melalui rapat pimpinan ini, diharapkan seluruh unit di lingkungan Universitas Malahayati dapat meningkatkan sinergi dan komitmen dalam mencapai target IKU tahun 2026 sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola universitas yang unggul dan berdaya saing.

Editor : Chandra Fz

Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Sukses Gelar Yudisium Sarjana Kedokteran

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Malahayati Bandar Lampung sukses menyelenggarakan acara Yudisium Sarjana Kedokteran untuk Program Studi Pendidikan Dokter. Acara sakral yang menandai keberhasilan akademik para mahasiswa ini berlangsung dengan khidmat di Gedung Rektorat Universitas Malahayati pada Selasa, 19 Mei 2026.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan universitas dan fungsionaris Fakultas Kedokteran, antara lain :

  1. (WR) I: Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep, Ns., M.Kes

  2. (WR) IV: Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes

  3. Dekan FK: Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes

  4. Wakil Dekan Bidang Akademik: Abdurrohman Izzudin, dr., M.Kes., Sp.J.P

  5. Kaprodi Pendidikan Dokter: Rakhmi Rafie, dr., M.Kes

  6. Sekprodi Pendidikan Dokter: Dr. Nita Sahara, dr., M.Kes., Sp.PA

  7. Kaprodi Profesi Dokter: Ade Utia Detty, dr., M.Kes

  8. Sekprodi Profesi Dokter: Anggunan, dr., M.M.

  9. Rohaniwan: Ustdz. Sutikno, S.Pd.I, M.Pd.I

Prosesi yudisium merupakan momen penting bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh tahapan beban studi akademik di tingkat sarjana. Dengan disandangnya gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked), para lulusan kini bersiap untuk melangkah ke tahapan berikutnya, yaitu program pendidikan profesi (koas) di rumah sakit pendidikan.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, menyampaikan rasa bangga sekaligus menitipkan pesan mendalam bagi para yudisian.

“Gelar Sarjana Kedokteran ini adalah buah dari kerja keras dan dedikasi panjang. Namun, perjalanan belum selesai. Jadikan momentum ini sebagai pijakan untuk memasuki tahapan profesi dokter dengan integritas tinggi, terus mengasah empati, serta menjaga nama baik almamater dalam melayani masyarakat,” ujar Dr. Tessa.

Apresiasi senada juga disampaikan oleh Wakil Rektor IV Universitas Malahayati, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Beliau menekankan pentingnya peran lulusan kedokteran Universitas Malahayati di tengah masyarakat.

“Universitas Malahayati terus berkomitmen mendukung peningkatan kualitas mutu pendidikan, khususnya di bidang kedokteran. Kepada para lulusan, kami berharap kelak ketika resmi menjadi dokter, kalian mampu menjadi tenaga medis yang humanis, responsif terhadap perkembangan teknologi kesehatan, dan siap berkontribusi nyata bagi ketahanan kesehatan nasional,” tegas Drs. Suharman.

Di antara para peserta yang dikukuhkan pada yudisium periode ini, terdapat 5 mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter FK Universitas Malahayati yang turut maju menerima selempang kelulusan dan penghargaan

Acara yang dipenuhi suasana haru dan khidmat ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustdz. Sutikno, S.Pd.I, M.Pd.I, serta dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara para lulusan baru dengan jajaran pimpinan universitas dan fakultas.

Editor : Chandra Fz

Prof. Sudjarwo, Puncak Ilmu Pengetahuan adalah Adab

kado Ulang Tahun ke-73 

PROFESOR Dr. Sudjarwo, M.S. memang telah memasuki usia kepala tujuh. Namun, soal semangat menulis dan ketajaman berpikir, banyak anak muda mungkin masih tertinggal jauh darinya.

Setiap ada persoalan sosial yang menjadi polemik, baik di daerah maupun nasional, pisau analisis sosiologisnya selalu hadir mengiris tajam. Menariknya, ketajaman itu tidak pernah terasa melukai.

Saya sering dibuat kagum. Baru saja saya berniat mengirim pesan WhatsApp untuk membahas isu yang sedang ramai, tulisannya sudah lebih dulu masuk ke redaksi Heloindonesia.com.

Kadang saya sampai berpikir, jangan-jangan beliau bukan manusia biasa, melainkan “AI” (artificial intellegence) sungguhan dalam dunia nyata, dunia literasi.

Meminjam penilaian penggiat literasi Gunawan Handoko, tulisan Guru Besar Universitas Malahayati itu setajam silet, tetapi tetap menjaga kesantunan. Kritik-kritiknya argumentatif, berbasis teori, tanpa harus menyebut nama atau jabatan pihak yang dikritik.

Bagi Prof. Sudjarwo, tampaknya bukan siapa orangnya yang penting dibedah, melainkan persoalannya. Ia bermain di wilayah konsep dan gagasan. Adab akademik selalu dikedepankan. Kritik disampaikan dengan pemikiran, bukan makian.

Penilaian itu rasanya tidak berlebihan. Lebih dari setengah abad hidup di dunia akademik telah menempa dirinya menjadi ilmuwan yang analitik sekaligus menjunjung tinggi etika.

Di Universitas Lampung (Unila), ia mendedikasikan diri selama 43 tahun sebelum melanjutkan pengabdiannya di Universitas Malahayati hingga hari ini.

Nilai-nilai itu sangat terasa saat beliau menyampaikan pidato valediktori atau pidato perpisahan sebagai guru besar dan aparatur sipil negara di Unila, di Aula K FKIP Unila pada 31 Mei 2023.Dalam pidatonya, beliau berkata:
Ilmuwan itu akan bermakna manakala lakunya menunjukkan akhlakul karimah, karena puncak ilmu itu pada adab yang didasari etika.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Prof. Sudjarwo menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Seberat dan serumit apa pun polemik di masyarakat, ia mampu membedahnya dengan tajam tanpa membuat siapa pun merasa dipermalukan.

Energinya dalam menulis pun seperti tak pernah habis. Rasanya beliau justru gelisah jika terlalu lama menyimpan gagasan di kepala. Dari era media cetak tahun 1980-an hingga zaman media online hari ini, tulisan-tulisannya terus mengalir. Dari masa artikel masih dihargai honor lumayan hingga era “media bokek”, semangatnya tetap sama: menulis untuk mencerahkan.

Kadang saya membayangkan, Prof. Sudjarwo baru bisa menikmati secangkir teh dengan tenang setelah gagasannya terbit di media. Adrenalin menulisnya masih sanggup diadu dengan anak-anak muda.

Karya-karyanya pun tidak sedikit. Saat memasuki masa purnabakti dari Unila, beliau meluncurkan buku berjudul Legacy, yang memuat kisah perjalanan hidup sejak masa kecil, kumpulan opini di berbagai media, hingga testimoni dari sahabat, kolega, dan para jurnalis.

Selama aktif mengajar dan meneliti, Prof. Sudjarwo dikenal sangat produktif menulis buku, terutama di bidang metodologi penelitian, ilmu sosial, dan pendidikan. Ia juga pernah dipercaya bergabung dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta tim ad hoc sertifikasi guru demi pengembangan mutu pendidikan Indonesia.

Bagi beliau, seorang akademisi dan guru besar adalah ilmuwan yang seharusnya berada di wilayah ontologi—wilayah persepsi yang bebas nilai. Sebab ketika seorang ilmuwan terlalu larut dalam wilayah epistemologi dan aksiologi, penilaian subjektif akan mudah masuk dan mengaburkan kejernihan berpikir.

Karena itu, menurut Prof. Sudjarwo, laku seorang begawan adalah berusaha tidak menyakiti orang lain sambil terus memperbaiki diri sendiri. Sebab manusia tidak pernah tahu kapan hari terakhirnya di bumi.

Dengan sederhana ia menjelaskan:
“Ontologi adalah ilmu, epistemologi adalah otak, dan aksiologi adalah hati. Melayani dengan hati, berpikir dengan otak, dan bertindak dengan ilmu, maka kita adalah profesor kehidupan.”

Seorang jurnalis senior pernah menilai Prof. Sudjarwo memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, dengan mata yang jeli dan rasa ingin tahu yang besar—seorang pencari makna di balik realitas.

Dan memang, warisan pemikiran yang telah beliau tinggalkan begitu banyak. Entah sudah berapa ratus doktor lahir dari bimbingannya. Entah berapa gunung skripsi, tesis, dan disertasi yang mendapatkan sentuhan tangan dinginnya. Semua itu menjadi amal ilmu yang akan terus mengalir.

Pembaca tulisan-tulisannya pun tidak terhitung jumlahnya. Banyak orang mendapatkan inspirasi, wawasan, bahkan cara pandang baru tentang kehidupan dari gagasan-gagasan yang beliau tulis.

Setelah menguasai berbagai jurus dan melihat luasnya dunia persilatan, seorang pendekar sejati justru menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu disombongkan. Puncak tertinggi dari sebuah perjalanan bukanlah keangkuhan, melainkan kesadaran diri dan kerendahan hati.

Terima kasih, Pak Sudjarwo, atas semua pemikiran yang telah mengalir kepada publik. Tulisan-tulisan itu bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membuka cakrawala dan dimensi kehidupan banyak orang.

Hari ini, 20 Mei 2026, Prof. Sudjarwo genap berusia 73 tahun. Tak ada hadiah istimewa yang bisa saya berikan selain doa: semoga Profesor selalu sehat, panjang umur, tetap bernas dalam berpikir, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi berikutnya.

Selamat ulang tahun, Profesor idolaku.
Tabik puuun. ***

Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S. adalah guru besar tetap dalam bidang Ilmu Sosial/Pendidikan di Universitas Lampung (Unila) yang lahir di Lubuk Linggau pada 20 Mei 1953. Beliau telah memasuki masa purnabakti pada pertengahan tahun 2023 dan melanjutkan dedikasi ilmu pengetahuannya ke Universitas Malahayati.

Berikut adalah ringkasan profil dan riwayat perjalanan karier beliau:

Riwayat Pendidikan

S1 / Doktorandus: Universitas Sriwijaya (1980)
S2 / M.S.: Universitas Padjadjaran (1993)
S3 / Doktor: Universitas Padjadjaran (1997) [1, 2]

Riwayat Jabatan & Kariir

Guru Besar: FKIP Universitas Lampung (dikukuhkan sebagai profesor pada tahun 2006)

Direktur: Pascasarjana Universitas Lampung

Dekan: FKIP Universitas Lampung

Ketua Program Studi: Pascasarjana Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Unila.

menjelang senja

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Tanggal 20 Mei 2026 bukan sekadar angka dalam kalender. Ia hadir sebagai penanda perjalanan panjang yang kini mencapai usia tujuh puluh tahun lebih: sebuah usia yang sarat dengan pengalaman, pengujian, dan pemaknaan. Jika masa muda dahulu dipenuhi dengan ambisi dan keinginan untuk menaklukkan dunia, maka di usia ini, hidup terasa lebih seperti ruang hening untuk memahami dunia dan diri sendiri. Tidak lagi berlari, melainkan berhenti sejenak untuk melihat ke belakang, menimbang, dan kemudian menerima.

Perjalanan hidup yang telah dilalui bukanlah jalan yang rata. Ia penuh dengan onak dan duri, tikungan tajam, serta tanjakan yang melelahkan. Ada masa ketika langkah terasa ringan, seakan segala sesuatu berpihak. Namun, tidak sedikit pula saat di mana hidup terasa begitu berat, bahkan untuk sekadar melangkah satu langkah ke depan. Dalam rentang waktu yang panjang ini, saya menyadari bahwa penderitaan dan kebahagiaan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu kenyataan yang sama, yaitu: kehidupan itu sendiri.

Ketika menengok ke masa lalu, luka-luka yang dulu terasa begitu dalam kini tampak berbeda. Ia tidak lagi sekadar menyakitkan, tetapi juga mengandung pelajaran yang tak ternilai. Dari kegagalan, saya belajar tentang keterbatasan diri. Dari kehilangan, saya memahami arti kehadiran. Dari kesalahan, saya mengenal pentingnya kejujuran dan kerendahan hati. Hidup, pada akhirnya, adalah guru yang keras namun jujur; ia tidak pernah memberi tanpa sekaligus menguji.

Di usia ini, saya mulai melihat bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang harus dikejar tanpa henti. Ia bukan sesuatu yang bisa dimiliki secara permanen. Kebahagiaan datang seperti angin yang berhembus; kadang lembut, kadang tak terasa, dan sering kali pergi tanpa peringatan. Dulu, saya mungkin terlalu sibuk mencarinya di tempat-tempat yang jauh, dalam pencapaian besar atau pengakuan dari orang lain. Kini, saya justru menemukannya dalam hal-hal sederhana: keheningan pagi, tawa kecil bersama anak anak yang kini sudah dewasa, makan berdua di luar bersama istri, diskusi seru dengan para cucu; itu semua lebih dari sekadar rasa cukup.

Waktu, yang dahulu terasa begitu luas, kini terasa semakin terbatas. Hari-hari tidak lagi berlalu tanpa makna; setiap detik memiliki bobotnya sendiri. Kesadaran akan keterbatasan ini menghadirkan perspektif baru. Bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi waktu yang ada. Ada keinginan yang semakin kuat untuk tidak menyia-nyiakan sisa perjalanan ini, bukan dengan mengejar lebih banyak, tetapi dengan menjalani lebih dalam dan berbagi lebih banyak.

Kematian, yang dulu mungkin terasa sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, kini hadir sebagai kenyataan yang tak terelakkan. Ia bukan lagi bayangan gelap yang harus dihindari, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang wajar. Dalam kesadaran ini, muncul suatu bentuk penerimaan yang perlahan menenangkan. Bahwa pada akhirnya, setiap perjalanan pasti memiliki titik akhir. Dan mungkin, yang terpenting bukanlah kapan hari akhir itu datang, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kehadirannya.

Refleksi ini juga membawa saya kembali pada hubungan dengan sesama. Ada begitu banyak wajah yang pernah hadir dalam hidup; sebagian masih ada, namun kebanyakan dari mereka telah berpulang. Setiap pertemuan meninggalkan jejak, setiap perpisahan menyisakan cerita. Dalam perjalanan ini, tidak semua hubungan berjalan mulus. Ada kesalahpahaman, ada luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. Namun, di usia ini, muncul kesadaran bahwa memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebebasan. Melepaskan beban masa lalu justru membuat langkah menjadi lebih ringan.

Saya juga mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu diukur dengan pencapaian besar. Dunia sering kali menilai keberhasilan dari apa yang tampak: jabatan, kekayaan, atau pengakuan. Namun, dalam keheningan refleksi, saya menemukan bahwa makna hidup sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang tidak terlihat. Menjadi pribadi yang jujur, yang berusaha berbuat baik kepada sesama mahluk, meskipun tidak selalu dihargai, menurut saya itu adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.

Usia tujuh puluh lebih ini membawa saya pada kesederhanaan yang lebih dalam. Keinginan untuk memiliki semakin berkurang, digantikan oleh keinginan untuk memahami. Hidup tidak lagi tentang mengumpulkan, tetapi tentang melepaskan. Melepaskan ambisi yang tidak lagi relevan, melepaskan beban yang tidak perlu, dan bahkan melepaskan ego yang selama ini tanpa sadar mengikat. Dalam proses inilah, saya menemukan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Menjelang senja kehidupan, ada dorongan untuk merapikan segala sesuatu. Bukan hanya hal-hal yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi dalam hati. Ada keinginan untuk berdamai dengan masa lalu, untuk mengakui kesalahan tanpa harus tenggelam dalam penyesalan, dan untuk menerima diri apa adanya. Proses ini tidak selalu mudah, tetapi terasa perlu; seperti menyiapkan diri untuk perjalanan panjang yang akan datang.

Akhirnya, ulang tahun kali ini bukanlah sekadar peringatan bertambahnya usia. Ia adalah momen perenungan yang mendalam, sebuah titik di mana kehidupan dilihat dengan kejernihan yang mungkin tidak dimiliki di masa lalu. Dalam keheningan ini, saya menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar sempurna, tetapi selalu memiliki makna bagi mereka yang mau melihatnya. Dan, ketika saat itu benar-benar tiba, ketika kehidupan mencapai ujungnya, saya berharap dapat menyambutnya dengan ketenangan. Bukan karena tidak ada ketakutan, tetapi karena telah belajar menerima. Bukan karena tidak ada penyesalan, tetapi karena telah berusaha menjalani hidup dengan sepenuh hati. Dalam kesadaran itu, senja tidak lagi terasa sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai bagian indah dari menuju perjalanan abadi. Jika diri larut dalam fana yang sunyi, Lenyaplah aku, tinggallah Dia Yang Abadi. Jika hijab tersingkap di ujung perjalanan, Hamba dan Tuhan menyatu dalam pengenalan. Salam Keabadian (R-1)

Sinergi OJK dan Prodi manajemen Universitas Malahayati Gelar Kuliah Umum : Sosialisasi Pasar Modal Terpadu 2026 untuk Cetak Investor Muda Cerdas

BANDAR LAMPUNG, ( malahayati.ac.id ) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Universitas Malahayati Lampung sukses menyelenggarakan Kuliah Umum berskala besar dengan tajuk “Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2026”. Acara yang bertempat di Gedung Graha Bintang, Universitas Malahayati ini menjadi momentum penting dalam memperkuat literasi keuangan dan investasi legal di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa universitas malahayati di Provinsi Lampung, Selasa (19/5/2026).

Acara bergengsi ini dihadiri langsung oleh jajaran petinggi OJK Pusat dan daerah, pimpinan Self Regulatory Organization (SRO), pejabat pemerintah daerah, serta jajaran pimpinan rektorat Universitas Malahayati.

Kuliah umum ini dibuka dengan sambutan hangat dari Rektor Universitas Malahayati melalui during, Bapak Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H. Beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kepercayaan OJK dalam menempatkan program edukasi terpadu ini di kampus Universitas Malahayati. Menurutnya, pemahaman mengenai pasar modal sangat krusial agar mahasiswa tidak terjebak dalam investasi ilegal atau pinjaman online ilegal yang marak di era digital.

Kehadiran jajaran pimpinan universitas juga mempertegas komitmen institusi dalam mendukung penuh kegiatan ini. Tampak hadir mendampingi rektor, Wakil Rektor 1 Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes. Yang membidangi fungsi akademik, serta ketua PMB Romy J Utama, SE., M.Sos, Sinergi rektorat ini menegaskan bahwa edukasi literasi keuangan telah menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa di luar kelas.

Turut memberikan dukungan moral, Wakil Gubernur Lampung, Ibu dr. Jihan Nurlela, M.M., yang diwakili oleh Dr.Drs Sulpakar.,M.M, beliau mengapresiasi langkah kolaboratif antara otoritas keuangan dan dunia pendidikan tinggi ini demi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah berbasis investor domestik yang cerdas.

Sebagai pembicara kunci (keynote speech), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK RI, Bapak Hasan Fawzi, memaparkan arah kebijakan OJK dalam menjaga stabilitas dan transparansi pasar modal. Beliau menekankan bahwa mahasiswa adalah aset strategis yang akan menjadi motor penggerak utama pasar modal Indonesia di masa depan.

“Mahasiswa bukan lagi sekadar penonton di industri keuangan, melainkan aset strategis yang akan menjadi motor penggerak utama pasar modal Indonesia di masa depan. Lewat pemahaman literasi keuangan yang matang sejak di bangku kuliah, generasi muda di Lampung diharapkan mampu mengambil peran aktif, berinvestasi dengan cerdas, dan membentengi diri dari risiko investasi ilegal di era digital ini.”

Untuk memberikan pemahaman teknis yang mendalam, sesi diskusi panel dipandu oleh Euis Mufahamah, S.E., M.Ak. (Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas Malahayati). Diskusi ini mengupas tuntas ekosistem pasar modal bersama empat narasumber utama:

  1. Bapak Reynant Hadi (Kepala Divisi Hukum PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia / IDClear)

  2. Bapak M. Mukhtar (Kepala Divisi Pengawasan Pengelolaan Investasi 1.2 OJK)

  3. Ibu Nur Harjantie (Kepala Pengembangan Wilayah Area 1 PT Bursa Efek Indonesia / IDX)

  4. Bapak Fitriyanto (Kepala Divisi Pengawasan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia / KSEI)

Para pakar menjelaskan secara runut rantai bisnis pasar modal—mulai dari tempat bertransaksi (IDX), lembaga pembukuan dan penyimpanan aset (KSEI), hingga lembaga yang menjamin penyelesaian transaksi (IDClear), serta bagaimana OJK menjalankan fungsi pengawasan ketat demi melindungi hak investor.

Selain dihadiri secara tatap muka oleh 1500 mahasiswa Universitas Malahayati yang memadati Graha Bintang, sosialisasi ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal resmi YouTube Otoritas Jasa Keuangan (OJKTV). Jangkauan digital ini disiapkan agar edukasi dapat diakses oleh masyarakat umum di seluruh penjuru tanah air.

Acara yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 12.00 WIB ini ditutup dengan sesi interaktif. Para peserta yang mengikuti kegiatan hingga akhir dan menyelesaikan post test berhak mendapatkan fasilitas berupa E-Certificate, suvenir eksklusif, serta berbagai hadiah menarik dari panitia sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif mereka, kemudian acara di tutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama .

Editor : Chandra fz