KETIKA RAMADAN PERGI DENGAN SUNYI

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung (malahayati.ac.id) : Ramadan hampir berakhir. Hari-harinya yang terasa begitu cepat kini tinggal menghitung waktu. Seolah baru kemarin malam-malam pertama dijalani dengan semangat yang penuh, masjid-masjid ramai oleh langkah kaki yang datang membawa harapan, dan hati dipenuhi keinginan untuk menjadi lebih baik. Namun tanpa terasa, semuanya perlahan memudar. Ramadan yang begitu dinanti itu kini bersiap pergi, meninggalkan ruang yang terasa hampa di dalam diri.

Ada sesuatu yang berbeda ketika menyadari bahwa Ramadan akan segera berakhir. Bukan sekadar pergantian bulan dalam penanggalan, melainkan sebuah perpisahan yang diam-diam menyentuh perasaan. Selama sebulan penuh, kehidupan terasa memiliki warna yang lain. Waktu dini hari tidak lagi sepi karena ada sahur yang menyatukan keluarga atau setidaknya membangunkan kesadaran bahwa hari baru dimulai dengan niat yang lebih baik. Senja tidak lagi sekadar akhir dari aktivitas, tetapi menjadi saat yang dinanti untuk berbuka dengan rasa syukur yang sederhana.

Malam-malamnya pun terasa lebih hidup. Ada doa yang dipanjatkan lebih lama dari biasanya, ada harapan yang dititipkan dalam sujud yang lebih khusyuk, dan ada air mata yang mungkin jatuh tanpa diketahui siapa pun. Ramadan menghadirkan ruang sunyi yang memungkinkan seseorang berbicara dengan hatinya sendiri. Dalam kesunyian itulah banyak orang menyadari betapa rapuhnya dirinya, betapa banyak hal yang selama ini terlewatkan dalam kesibukan dunia.

Namun kini Ramadan itu akan pergi. Seperti tamu yang singgah sebentar lalu melanjutkan perjalanan, ia tidak tinggal lebih lama dari yang telah ditentukan. Ketika hari-hari terakhirnya tiba, suasana yang dulu terasa begitu hidup mulai berubah menjadi kenangan yang perlahan menjauh. Masjid yang selama ini penuh akan kembali lengang. Malam yang biasanya diisi dengan ibadah panjang mungkin akan kembali menjadi malam yang biasa saja.

Ada rasa sedih yang sulit dijelaskan ketika menyadari hal itu. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang kesempatan yang jarang datang. Kesempatan untuk memperbaiki diri, kesempatan untuk mendekatkan hati kepada hal-hal yang lebih bermakna, dan kesempatan untuk menata kembali arah kehidupan. Ketika kesempatan itu berakhir, muncul perasaan seolah-olah sesuatu yang berharga baru saja terlepas dari genggaman.

Yang membuat perpisahan ini semakin terasa dalam adalah kesadaran bahwa tidak ada jaminan untuk bertemu kembali dengannya tahun depan. Setiap orang berjalan bersama waktu yang terus bergerak maju tanpa pernah menoleh ke belakang. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah tahun depan masih diberi usia untuk menyambut Ramadan lagi. Bagi sebagian kita, Ramadan tahun ini mungkin adalah yang terakhir tanpa pernah kita sadari sebelumnya.

Kesadaran itu membuat setiap detik Ramadan terasa lebih berarti, terutama ketika ia hampir berakhir. Tiba-tiba muncul penyesalan kecil tentang waktu-waktu yang mungkin terlewat begitu saja. Malam yang seharusnya bisa diisi dengan doa justru terlewati dengan kelelahan. Kesempatan untuk memperbaiki diri kadang ditunda dengan alasan masih ada waktu. Padahal waktu tidak pernah menunggu.

Di saat seperti ini, hati sering kali dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti. Apakah semua usaha yang telah dilakukan selama Ramadan cukup berarti? Apakah perubahan yang diharapkan benar-benar akan bertahan setelah bulan ini pergi? Dan yang paling sunyi dari semuanya adalah pertanyaan sederhana: apakah masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadan di tahun yang akan datang?

Pertanyaan itu tidak selalu diucapkan dengan kata-kata. Ia lebih sering hadir sebagai bisikan halus di dalam hati. Sebuah kesadaran bahwa hidup ini berjalan di atas waktu yang terbatas. Bahwa setiap pertemuan pada akhirnya akan berujung pada perpisahan, termasuk pertemuan dengan bulan yang begitu istimewa ini.

Namun mungkin justru di situlah letak makna dari Ramadan yang pergi. Ia tidak datang untuk tinggal selamanya, tetapi untuk meninggalkan pelajaran tentang arti kesempatan. Selama sebulan penuh manusia diingatkan bahwa dirinya mampu menjadi lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat dengan nilai-nilai kebaikan. Ramadan menunjukkan kemungkinan bahwa kehidupan bisa dijalani dengan cara yang lebih bermakna.

Ketika Ramadan akhirnya benar-benar berlalu, yang tertinggal bukan hanya kenangan tentang hari-harinya, tetapi juga jejak perasaan yang sulit dilupakan. Ada rindu yang mungkin baru terasa setelah semuanya berakhir. Rindu pada suasana sahur yang tenang, pada doa-doa yang dipanjatkan dalam gelapnya malam, dan pada perasaan damai yang jarang hadir di bulan-bulan lainnya. Ramadan pergi dengan sunyi, tetapi ia meninggalkan gema yang panjang di dalam hati. Gema yang mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan bahwa setiap detik kehidupan seharusnya digunakan dengan lebih berarti.

Dan ketika bulan itu benar-benar menghilang dari kalender, satu pertanyaan tetap tinggal bersama kita, seperti bayangan yang tidak pernah sepenuhnya pergi: apakah suatu hari nanti masih ada usia untuk menyambutnya kembali.

Salam Silaturahim