KETIKA REZEKI MENEMUKAN PEMILIKNYA

 

Guru Besar Universitas Malahayati

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Marno dan Santo duduk di atas tumpukan batako. Debu masih melekat di sepatu mereka, dan suara palu dari kejauhan jadi irama yang akrab.

“San, kadang aku mikir,” kata Marno sambil menyesap kopi dari gelas plastik, “hidup kita ini aneh ya. Tiap hari kerja di tempat berbeda, tapi nasib rasanya muter-muter di situ saja.”

Santo tersenyum tipis. “Iya, tapi siapa tahu muternya lagi nyari jalannya. Rezeki itu kan nggak kelihatan bentuknya.”

Marno menghela napas. “Aku kerja keras, San. Dari pagi sampai sore. Tapi kadang cukup, kadang pas-pasan. Rasanya kayak nebak-nebak.”

“Justru itu,” jawab Santo pelan. “Kita nggak pernah tahu rezeki kita di mana. Tapi aku percaya, rezeki tahu kita di mana. Kalau nggak hari ini, ya besok. Kalau bukan uang, mungkin sehat. Atau pulang masih bisa ketawa sama keluarga.”

Marno terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “Kamu ini kalau ngomong suka bikin mikir. Tapi ada benarnya juga. Kemarin istriku senyum pas aku pulang, capekku langsung ilang.”

Santo ikut tertawa. “Nah itu. Jangan lupa bahagia, No. Tiap hari beda cerita. Hari ini panas, besok mungkin hujan, tapi kita tetap jalan.”

Marno mengangguk, memandang bangunan setengah jadi di depan mereka. “Iya ya, San. Selama kita masih bisa kerja, masih bisa senyum, berarti rezeki belum kehabisan alamat.”

Santo berdiri, meraih helmnya. “Ayo kerja lagi. Siapa tahu hari ini ceritanya baik.”

Manusia sering berjalan dengan peta di tangan, menebak-nebak ke mana langkah akan membawa hasil. Namun kenyataannya, peta itu sering kali meleset. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika kebaikan datang tanpa diminta. Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu di mana rezekinya berada. Ia bisa tersembunyi di tikungan yang tak terpikirkan, atau datang melalui pintu yang selama ini dianggap tertutup.

Rezeki tidak selalu berwujud angka, harta, atau benda yang bisa disimpan. Ia hadir sebagai kesempatan, kesehatan, ketenangan, dan pertemuan yang mengubah arah hidup. Banyak orang baru menyadari nilai rezeki setelah ia pergi, atau ketika sesuatu yang sederhana tiba-tiba menjadi sangat berarti. Dalam diam, rezeki seolah tahu ke mana ia harus pulang, menemukan pemiliknya pada waktu yang paling tepat, meski sering kali tidak sesuai rencana manusia.

Di tengah ketidakpastian itu, senyum menjadi bentuk perlawanan yang lembut. Senyum bukan tanda bahwa hidup selalu mudah, melainkan bukti bahwa seseorang memilih untuk berdamai denga  n keadaan. Saat hari terasa berat, senyum membantu napas tetap panjang dan pikiran tetap jernih. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum didapat, tetapi juga tentang apa yang masih bisa disyukuri hari ini.

Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai tujuan akhir, padahal ia lebih tepat disebut sebagai cara berjalan. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan sering merasa lelah dan kosong. Sebaliknya, mereka yang menemukan bahagia dalam proses, sekecil apa pun, akan memiliki tenaga untuk terus melangkah. Kebahagiaan tidak menunggu hari sempurna; ia tumbuh dari penerimaan dan harapan yang dijaga.

Setiap hari membawa cerita yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat hidup  bergerak. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang sunyi, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Tidak semua cerita harus dipahami saat itu juga. Beberapa baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap kejadian memiliki perannya sendiri.

Dalam perjalanan itu, manusia belajar bahwa mengontrol segalanya adalah ilusi. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga niat tetap lurus, dan membuka hati terhadap kemungkinan. Ketika usaha bertemu dengan waktu yang tepat, rezeki pun datang dengan caranya sendiri. Kadang ia mengetuk pelan, kadang ia datang tiba-tiba, dan kadang ia menyamar sebagai tantangan.

Tantangan sering kali menjadi pintu masuk rezeki yang tidak disangka. Dari kegagalan, lahir ketangguhan. Dari kehilangan, tumbuh kepekaan. Dari penantian, muncul kedewasaan. Jika manusia hanya mengukur hidup dari hasil instan, banyak rezeki batin akan terlewatkan. Padahal, bekal itulah yang membuat seseorang mampu menerima dan menjaga rezeki yang lebih besar ketika tiba.

Pada akhirnya, hidup adalah tentang berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang dititipkan akan sampai. Tugas manusia bukan mengejar dengan cemas, melainkan menjemput dengan kesiapan. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia, karena setiap hari membawa ceritanya sendiri. Selama langkah dijaga dan hati tetap terbuka, rezeki akan selalu menemukan jalannya datang.

Salam Waras

Editor : Chandra Faza

Setelah Seragam Dilipat

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah teras rumah tua yang menghadap taman, dua pria sepuh pensiunan jenderal duduk berhadapan. Seragam telah lama tergantung rapi di lemari, digantikan kemeja sederhana dan secangkir kopi yang mulai mendingin.
Salah seorang mantan jenderal yang lebih senior membuka percakapan; “Sunyi juga ya, Mil,” ujar Jendral Komar sambil menatap daun-daun yang gugur perlahan. “Dulu, satu langkah kita diikuti puluhan orang. Sekarang, suara burung lebih sering menyapa.”
Jendral Kamil, sebagai yang lebih junior menjawab sambil tersenyum tipis. “Sunyi, tapi jujur. Dulu ramainya bukan karena kita, tapi karena jabatan.”

Komar mengangguk pelan. “Aku masih ingat, saat pertama kali masuk ruangan rapat, semua berdiri. Sekarang, masuk ke kantor lama saja, prajurit jaganya sempat bertanya aku mau ke siapa.”
Kamil tertawa pendek, lalu terdiam dan sejurus kemudian berkata: “Itu bukan hinaan, jenderal. Itu pengingat. Bahwa dunia menghormati kursi, bukan orang yang duduk di atasnya.”
Komar menghela napas, dan berguman, “Masalahnya, saat kita duduk di kursi itu, mereka memuji seolah kita tak tergantikan. Begitu turun, seakan jasa kita ikut turun.”
“Kau kecewa, jenderal?” tanya jenderal Kamil lirih.
“Bukan. Lebih ke… heran,” jawab jenderal Komar, seraya menghirup kopinya yang sudah mulai dingin, seraya berkata; “Bagaimana pujian bisa secepat itu berubah jadi lupa.”

Jenderal Kamil tidak kalah seru, beliau menukas: “Aku belajar satu hal setelah pensiun. Penghormatan sejati bukan yang diucapkan keras-keras, tapi yang tetap ada meski kita tak lagi punya kuasa.”
Jenderal Komar menoleh sambil berguman. “Dan kalau itu tak ada?”.
“Berarti kita harus berdamai,” jawab Jenderal Kamil tenang, seraya menambahkan. “Bahwa yang kita lakukan dulu cukup untuk diri kita sendiri, bukan untuk ingatan dunia.”

Angin berhembus pelan. Dua jenderal pensiunan itu terdiam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena akhirnya mengerti: tidak semua jasa ditakdirkan untuk dikenang, dan tidak semua akhir harus dirayakan. Datang disambut, pergi dihina. Berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Begitulah dunia. Kalimat ini terasa pahit, tetapi jujur menggambarkan irama kehidupan manusia yang kerap berulang dari zaman ke zaman.

Dunia sering kali bersikap ramah di awal, penuh senyum dan harapan, namun berubah dingin ketika kepentingan telah terpenuhi. Manusia dipuja saat dibutuhkan, lalu dilupakan bahkan direndahkan ketika perannya dianggap selesai. Fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin watak sosial yang masih terus hidup hingga hari ini.

Pada awal kehadiran seseorang, dunia cenderung membuka pintu dengan tangan terbuka. Sambutan hangat, sanjungan, dan pujian mengalir deras. Kehadiran dianggap membawa manfaat, solusi, atau keuntungan. Nilai seseorang diukur dari apa yang bisa ia berikan. Selama kontribusi itu nyata dan menguntungkan, ia ditempatkan di posisi terhormat. Namun, sambutan tersebut sering kali tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari harapan akan hasil. Ketika harapan itu terpenuhi, pujian pun menjadi mata uang sosial yang murah dan mudah dibagikan.

Masalah muncul ketika waktu berjalan dan keadaan berubah. Dunia yang dulu memuji mulai menuntut lebih, tanpa melihat batas kemampuan manusia. Kesalahan kecil diperbesar, kelelahan dianggap kelemahan, dan penurunan peran dipersepsikan sebagai ketidakbergunaan. Saat seseorang tak lagi mampu memberi seperti sebelumnya, nada dunia pun berubah. Sambutan hangat berganti sikap acuh, bahkan hinaan. Seolah-olah jasa yang pernah diberikan tak pernah ada, lenyap ditelan ingatan kolektif yang selektif.

Ironisnya, manusia sering kali ikut melanggengkan pola ini. Kita terbiasa mengingat seseorang dari kegunaannya saat ini, bukan dari perjalanan dan pengorbanan yang pernah ia lalui. Penghargaan menjadi bersyarat: ada selama manfaat terasa, hilang ketika manfaat menguap. Dalam logika seperti ini, nilai manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi dianggap rusak atau usang, manusia diperlakukan layaknya barang yang bisa dibuang.

Rasa sakit terbesar bukanlah saat tidak lagi dipuji, melainkan saat jasa masa lalu dihapus begitu saja. Pengabdian yang dulu diagungkan berubah menjadi catatan yang dianggap tidak relevan. Inilah luka yang sunyi, karena sering kali tak terlihat dan tak diakui. Banyak orang memilih diam, menelan kekecewaan, dan melanjutkan hidup dengan sisa harga diri yang masih mereka genggam. Dunia mungkin tak peduli, tetapi luka itu nyata.
Namun, di balik getirnya kenyataan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik. Dunia yang mudah memuji dan menghina mengajarkan bahwa menggantungkan harga diri pada penilaian luar adalah fondasi yang rapuh. Pujian bersifat sementara, hinaan pun demikian. Keduanya datang dan pergi mengikuti kepentingan. Jika makna diri hanya dibangun dari keduanya, maka hidup akan terus terombang-ambing tanpa pijakan yang kokoh.

Kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari nilai yang lebih dalam dan personal. Berbuat baik bukan lagi demi tepuk tangan, melainkan karena keyakinan. Bekerja dan berjasa bukan semata agar diingat, tetapi karena itu bagian dari integritas diri. Ketika penghargaan datang, ia disyukuri. Ketika hinaan muncul, ia disikapi dengan jarak emosional. Bukan karena kebal rasa, tetapi karena memahami bahwa dunia tidak selalu adil dalam menilai.
Pada akhirnya, dunia memang seperti itu: datang disambut, pergi dihina; berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Mengharapkan dunia berubah sepenuhnya mungkin terlalu utopis. Namun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya larut dalam pola tersebut. Kita bisa memilih untuk lebih adil dalam menilai sesama, lebih setia mengingat jasa, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan mereka yang pernah berkontribusi.

Di tengah dunia yang mudah lupa dan cepat menghakimi, menjaga nurani adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna. Sebab ketika dunia gagal menghargai, setidaknya kita tidak gagal menghargai diri sendiri dan orang lain. Dan mungkin, dari sikap kecil itulah, dunia yang kejam perlahan belajar untuk menjadi sedikit lebih manusiawi.
Salam Waras (Rj)

Editor : Chandra Faza

Anomali Sosial Negeri Ketoprak

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Satu adegan kesenian ketoprak sedang berlangsung di satu panggung negeri ini. Sebelum adegan dimulai dua tokoh Kirun dan Kiran membaca naskah sambil diskusi di balik layar:

“Ran, aku ini kadang bingung, apa aku salah baca naskah atau memang ceritanya sudah terbalik,” kata Kirun.

“Kenapa lagi, Run? Jangan bilang ada lakon yang lebih aneh dari kemarin”.

“Ada. Ini soal penjambret yang mati karena menabrak tembok waktu kabur. Eh… yang dijambret malah diminta ganti rugi, ” kata Kirun.

“Hah? Jadi tembok dan dompetnya korban jadi saksi, tapi yang disalahkan malah yang dirugikan?” tanya Kiran.

”Iya. Logikanya jungkir balik. Orang jatuh karena lari dari melakukan kejahatan, tapi orang lain yang jadi korbannya harus menanggung akibatnya”.

“Kalau begitu, Run, maling jatuh ke got juga bisa minta santunan ke dinas pekerjaan umum,” Kiran tak bisa menahan tawa.

Kirun memegang perut karena  tak kuasa menahan tawa.

“Hehehe. Jangan-jangan nanti ada tulisan ‘Hati-hati, berbuat jahat bisa ditanggung bersama’”.

“Lucu tapi ngeri. Kalau pelaku kejahatan saja bisa diposisikan sebagai korban, batas benar dan salah jadi kabur,”kata Kirun,  “makanya ketoprak zaman dulu jelas. Yang jahat ya jahat, yang salah ya salah”.

“Sekarang peran ditukar. Penjahat pakai baju korban, korban disuruh mengerti, ” kata Kiran.

Akhirnya orang takut membela diri. Takut nanti malah disalahkan! ”

“Lebih aman pasrah, ya Run?”

“Iya, tapi negeri tanpa keberanian cuma jadi panggung sandiwara kosong!” entak Kirun.

“Dalangnya entah ke mana,” tukas Kiran,”pemainnya kebingungan, penontonnya cuma geleng-geleng. ”

“Kalau begini terus, ketoprak tidak lagi lucu,” kata Kirun.

“Tapi tetap kita tertawa Run… tertawa pahit, sambil bertanya dalam hati, apakah keadilan masih ikut main, atau sudah pulang duluan”.

Ketoprak, sebagai kesenian yang lahir dan tumbuh di wilayah bekas Kerajaan Mataram, sejak awal adalah panggung cerita tentang manusia: tentang kuasa, laku, dan akal sehat.

Ia memadukan humor, tragedi, dan petuah dalam satu tarikan napas. Namun di negeri yang kini terasa seperti panggung ketoprak yang salah kelola, cerita-cerita itu seolah keluar dari naskah, meloncat ke jalanan, ruang kelas, dan kantor-kantor, lalu berubah menjadi anomali sosial yang mengusik nalar.

Bayangkan sebuah adegan: seorang guru berdiri di depan kelas, menasihati murid-muridnya agar menjaga sikap, menghormati sesama, dan bertanggung jawab. Dalam logika pendidikan, itu adalah tindakan wajar, bahkan mulia. Namun di panggung ketoprak versi baru, adegan itu dipelintir.

Nasihat berubah menjadi tuduhan, teguran menjadi ancaman. Orang tua datang bukan untuk berdialog, melainkan melapor, seolah-olah kata-kata yang dimaksudkan membangun karakter telah menjelma kejahatan.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh justru menjadi ruang genting, tempat setiap kalimat ditimbang bukan dengan akal sehat, melainkan dengan rasa tersinggung. Dan, berujung orang tua lapor polisi untuk mempidanakan guru. Lucunya, itu dituruti oleh pihak yang harusnya mengayomi.

Adegan lain lebih absurd. Seorang penjambret terjatuh dan meninggal dunia setelah menabrak tembok saat melarikan diri. Dalam nalar hukum dan moral, peristiwa itu adalah konsekuensi tragis dari tindakan kriminal. Namun ketoprak anomali menulis ulang ceritanya: pihak yang dirugikan justru diminta bertanggung jawab, seolah-olah korban harus menebus nasib pelaku. Ketika aparat yang seharusnya menjaga rasa keadilan malah memberi ruang pada logika terbalik, publik dipaksa menelan ironi pahit. Keadilan tidak lagi berdiri di tengah, melainkan condong mengikuti sorak-sorai kekuasaan dan simpati yang salah alamat. Untung di negeri ini ada anggota dewan perwakilan yang masih waras, guna menyelamatkan muka negeri. Sekalipun ada yang mengatasnamakan “pihak yang dirugikan dengan logikanya”, masih tidak kehilangan muka untuk membela diri di ruang hampa.

Belum selesai penonton mencerna adegan itu, tirai terbuka pada kisah lain. Seorang pencuri motor gagal membawa hasil curiannya karena pemilik kendaraan mengamankan bagian penting mesin. Alih-alih lari atau menyerah, pelaku justru membakar motor tersebut. Api menyala bukan hanya pada rangka besi, tetapi juga pada nalar kolektif kita. Tindakan merusak menjadi ekspresi kemarahan yang dibiarkan, bahkan kerap dimaklumi. Dalam ketoprak ini, kegagalan berbuat jahat dibalas dengan kejahatan yang lebih besar, dan masyarakat hanya bisa menonton dengan dada sesak.

Rangkaian peristiwa itu bukan sekadar kumpulan kasus, melainkan gejala. Gejala dari masyarakat yang kehilangan kompas nilai. Ketika rasa benar dan salah menjadi cair, ketika tanggung jawab pribadi dikaburkan oleh perlindungan semu, dan ketika hukum diperlakukan seperti properti panggung yang bisa dipindah-pindah sesuai adegan, maka yang tersisa hanyalah kebisingan. Semua orang berteriak, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar.

Satir penamaan “negeri ketoprak” bukanlah ejekan pada keseniannya, melainkan cermin bagi kita. Ketoprak sejati selalu punya pakem: ada tokoh bijak, ada penguasa lalim, ada rakyat jelata, dan ada pesan moral yang dititipkan di akhir cerita. Dalam anomali sosial yang kita saksikan hari ini, pakem itu diacak. Tokoh bijak dibungkam, penguasa abai, dan pesan moral tercecer di antara sensasi dan amarah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi.

Ketika kejadian-kejadian ganjil itu diterima sebagai keseharian, ketika publik lebih sibuk berdebat di permukaan daripada membenahi akar masalah, maka remuk yang dirasakan bukan lagi retakan kecil. Ia menjadi keruntuhan pelan-pelan, nyaris tak terdengar, tetapi pasti. Kita tertawa getir, membuat lelucon, dan menyebutnya satir, padahal yang sedang kita hadapi adalah krisis empati dan akal sehat. Di titik itu, pertanyaannya sederhana namun mendesak: apakah kita masih penonton yang kritis, atau sudah menjadi figuran yang pasrah dalam ketoprak anomali sosial?

Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

SAKIT ITU ANUGERAH

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Perawat itu masuk dengan langkah pelan, membawa nampan obat dan segelas air hangat. Ruangan perawatan itu terasa sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar samar. “Bagaimana rasanya pagi ini Pak?” tanya perawat muda yang tampan itu dengan suara lembut sambil tersenyum kepada pasien tua yang terbaring lemah. Pasien menarik napas perlahan. “Masih sakit. Kadang rasanya melelahkan harus bangun dengan kondisi seperti ini.”

Perawat mengangguk, seolah memahami sepenuhnya. “Wajar Pak merasa begitu. Tubuh sedang berjuang, dan perjuangan memang tidak selalu nyaman.” Pasien menatap langit-langit kamar. “Aku sering bertanya-tanya, kenapa harus sakit? Rasanya hidup kok jadi berhenti.” “Boleh saya jujur Pak?” ujar perawat sambil berdiri membetulkan botol infus. “Tentu.” Jawab pasien renta itu. Perawat menukas: “Banyak orang yang baru benar-benar mendengar dirinya sendiri justru saat sakit. Saat tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa berpura-pura kuat.”

Pasien tua terdiam sejenak. “Aneh… sejak di sini, aku jadi lebih sering mengingat hal-hal kecil. Nafas, waktu, orang-orang yang peduli.” Perawat tersenyum tipis. “Itu bukan hal kecil. Itu kesadaran. Kadang sakit datang bukan untuk melemahkan, tapi untuk mengingatkan.” “Mengingatkan tentang apa?” tanya balik pasien pelan. Perawat menjawab sambil membenahi letak obat di meja pasien, “Bahwa kita manusia ini terbatas, oleh karena itu  butuh bantuan. Dan, tidak harus selalu kuat.” Pasien menoleh, matanya tampak lebih tenang. “Jadi menurutmu, sakit ini bukan sepenuhnya buruk?”. Perawat menyerahkan obat dengan hati-hati. “Tidak selalu. Ada pelajaran yang hanya bisa datang lewat jalan seperti ini.”

Pasien tua itu mengangguk pelan, sambil berguman. “Mungkin… di balik rasa sakit ini, ada sesuatu yang sedang disiapkan.” Perawat tampan itu sambil pamit undur diri untuk keluar sambil berkata. “Dan tugas kita adalah menjalaninya dengan sabar. Selebihnya, biarkan waktu dan Yang Maha Kuasa yang bekerja.” Pasien tua itu penasaran dan berkata sedikit berteriak; “kuliahmu di mana dulu”. Perawat itu menyilangkan tangannya di dada sambil  tersenyum ihlas dan sedikit membungkukan badan, kemudian menutup pintu.

Sakit sering dipahami sebagai sesuatu yang harus dihindari, disangkal, bahkan ditakuti. Ia hadir membawa rasa tidak nyaman, keterbatasan, dan terkadang keputusasaan. Namun di balik segala perih yang menyertainya, sakit dapat dimaknai sebagai rezeki yang indah dari Yang Maha Kuasa. Sebuah anugerah yang tidak selalu dibungkus dengan kegembiraan, tetapi menyimpan pelajaran mendalam tentang makna hidup, kesadaran diri, dan hubungan manusia dengan Penciptanya.

Dalam keadaan sehat, manusia kerap merasa mampu mengendalikan segalanya. Waktu terasa panjang, tenaga seolah tak terbatas, dan rencana masa depan disusun dengan keyakinan penuh. Namun sakit datang sebagai jeda yang memaksa. Ia menghentikan langkah yang terlalu cepat dan menundukkan kepala yang mungkin terlalu tinggi. Dalam keterbatasan itulah manusia belajar bahwa dirinya rapuh, bergantung, dan tidak sepenuhnya berkuasa atas tubuh serta hidupnya sendiri. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk meluruskan kembali arah batin yang mungkin mulai jauh dari rasa syukur.

Sakit juga mengajarkan keheningan. Ketika aktivitas berkurang dan tubuh meminta istirahat, ruang refleksi terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk mengejar hal-hal duniawi perlahan bergeser pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam: tentang tujuan hidup, tentang makna keberadaan, dan tentang hal-hal yang benar-benar penting. Dalam sunyi itu, banyak hal yang sebelumnya terabaikan menjadi terlihat jelas. Perhatian terhadap hal kecil, seperti napas yang teratur atau detak jantung yang stabil, berubah menjadi nikmat yang tak ternilai.

Sebagai rezeki, sakit menghadirkan bentuk pemberian yang tidak kasat mata. Ia melatih kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan. Tidak semua hal bisa diubah sesuai kehendak, dan tidak semua doa dijawab dengan cara yang diharapkan. Namun di situlah letak keindahannya. Proses menerima kenyataan, berjuang tanpa kepastian, dan tetap berharap di tengah ketidaknyamanan adalah latihan spiritual yang sangat berharga. Ia menumbuhkan kedewasaan batin yang sering kali tidak bisa diperoleh melalui kenyamanan.

Selain itu, sakit membuka pintu empati. Ketika seseorang merasakan sendiri betapa rentannya kondisi tubuh, pandangan terhadap penderitaan orang lain pun berubah. Rasa iba yang dulu mungkin hanya sebatas simpati kini tumbuh menjadi pengertian yang lebih dalam. Ada kesadaran bahwa setiap orang memikul beban yang tidak selalu terlihat. Dengan demikian, sakit berperan sebagai guru yang mengajarkan kelembutan hati dan kepedulian sosial.

Rezeki tidak selalu berbentuk materi atau kebahagiaan instan. Terkadang ia hadir sebagai ujian yang membentuk karakter. Sakit mengajarkan untuk menghargai kesehatan, sesuatu yang sering dianggap biasa sebelum ia hilang. Setelah melewati masa sulit, hal-hal sederhana seperti berjalan tanpa nyeri, tidur nyenyak, atau tersenyum tanpa beban terasa seperti hadiah besar. Rasa syukur pun tumbuh bukan karena memiliki segalanya, melainkan karena menyadari nilai dari hal-hal mendasar.

Hubungan dengan Yang Maha Kuasa juga mengalami pendalaman melalui sakit. Dalam kondisi lemah, doa menjadi lebih jujur dan harapan menjadi lebih tulus. Tidak lagi dipenuhi tuntutan, melainkan kepasrahan. Ada keintiman spiritual yang lahir dari pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan di luar dirinya. Dalam momen-momen seperti itu, iman tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan.

Pada akhirnya, sakit bukan untuk diratapi, tetapi untuk dimaknai. Ia bukan tanda hukuman, melainkan cara halus untuk mengingatkan, membersihkan, dan membentuk. Jika dilihat dengan kacamata keimanan dan kesadaran, sakit menjadi rezeki yang indah; indah bukan karena rasanya, tetapi karena dampak yang ditinggalkannya. Ia mengajarkan cahaya melalui luka, kekuatan melalui kelemahan, dan harapan melalui keterbatasan. Dalam perjalanan hidup, mungkin sakit adalah salah satu cara paling jujur untuk belajar menjadi manusia seutuhnya. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

“Sakit” Surat Rahasia dari Langit

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Beberapa hari ini penulis mendapat ganjaran dari Sang Maha Pencipta untuk menikmati sakit; Alhamdullilah dengan ganjaran itu dapat memunculkan inspirasi dialog seperti ini:
Tubuh yang sedang tidak baik-baik saja berguman: “Aku lelah. Setiap gerak terasa berat, setiap tarikan napas seperti mengangkat beban yang tak terlihat. Aku menjerit lewat nyeri, berharap kau mau mendengar”. Jiwa menjawab dengan terbata-bata: “Aku mendengarmu, tapi selama ini aku terlalu sibuk. Aku memaksamu terus berjalan, seolah kau tak pernah punya batas.
Tubuh sedikit mendengus menjawab: “Aku bukan baja. Aku diciptakan untuk dijaga, bukan dipaksa. Saat kau abaikan istirahat, saat kau simpan amarah dan cemas terlalu lama, aku ikut menanggungnya dalam diam.
Jiwa terperanjat, dan berkata:”Aku mengira kuat itu berarti tak boleh berhenti. Aku lupa bahwa tenang juga bagian dari hidup”. Tubuh sedikit kesal dan menukas:”Makanya aku jatuh sakit. Bukan untuk menyusahkanmu, tapi agar kau berhenti sejenak. Agar kau menoleh ke dalam, bertanya apa yang selama ini kau lupakan”.
Jiwa mengiba:”Apakah ini teguran?”. Tubuh menjawab tajam: “Bisa jadi. Atau mungkin cara membersihkan debu yang menempel terlalu lama. Rasa sakit hanyalah bahasa yang kupunya untuk menyampaikan pesan padamu dan semesta”.
Jiwa menjawab memelas: “Aku takut. Sakit membuatku sadar bahwa akhir bisa begitu dekat”. Tubuh menyergah: “Tak perlu takut. Kesadaran bukan ancaman, melainkan undangan. Undangan untuk berdamai, memaafkan, dan melepaskan beban yang tak perlu dibawa pulang”. Jiwa menjawab lembut: “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang wahai tubuh?” Tubuh menjawab lirih: “Dengarkan aku. Rawat aku dengan sabar, dan rawat dirimu dengan ikhlas. Jika aku lemah, jangan marah. Jika aku nyeri, jangan mengeluh berlebihan. Jadikan ini waktu untuk mendekat pada Yang Maha Menghidupkan”.
Jiwa menjawab dengan santun: “Baik kalau begitu. Jika kau adalah amanah, aku akan belajar menjagamu. Dan jika sakit adalah pesan, aku akan mencoba membacanya dengan hati yang lebih lapang”.

Sakit datang tanpa aba-aba, seolah menjadi tamu yang tak diundang, namun sulit untuk diusir. Dalam keheningan itulah pikiran mulai bekerja lebih jauh dari biasanya, mencoba mencari makna di balik rasa yang mengganggu raga. Dalam keyakinan, sakit bukan sekadar gangguan fisik. Ia bisa menjadi karunia yang tersembunyi. Bisa jadi ia adalah teguran lembut dari Allah, sebuah cara halus untuk menghentikan langkah yang terlalu cepat, atau arah yang terlalu jauh menyimpang. Ketika tubuh dipaksa berhenti, jiwa diberi ruang untuk bertanya: sudah sejauh apa hidup dijalani dengan kesadaran? Sudah seberapa sering lupa untuk bersyukur, lalai untuk berdoa, atau menunda kebaikan dengan alasan dunia yang tak pernah selesai?.
Namun sakit juga bisa dimaknai sebagai proses pencucian diri. Rasa nyeri, lemah, dan ketidakberdayaan menghadirkan kesadaran bahwa manusia sejatinya rapuh. Tidak ada kekuatan mutlak, tidak ada kendali penuh atas tubuh sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kesombongan perlahan luruh. Doa-doa yang mungkin dulu diucapkan dengan ringan, kini terasa lebih jujur dan mendesak. Air mata menjadi lebih mudah jatuh, bukan karena lemah, tetapi karena sadar betapa kecilnya diri ini di hadapan Yang Maha Kuasa.

Ada pula pikiran yang melangkah lebih jauh, bahwa sakit adalah cara untuk bersiap menghadapi kematian. Bukan dengan ketakutan, melainkan dengan perenungan. Sakit mengajarkan bahwa hidup tidak selamanya tentang rencana jangka panjang, ambisi besar, atau keinginan yang terus ditumpuk. Ia mengingatkan bahwa hidup bisa berhenti kapan saja, dan yang dibawa bukanlah harta, jabatan, atau pujian, melainkan amal dan keikhlasan. Dalam rasa sakit, kematian tidak lagi terasa jauh atau abstrak, melainkan sesuatu yang nyata dan pantas untuk dipersiapkan.
Di sisi lain, ada pula kemungkinan bahwa sakit adalah karma dari apa yang pernah dilakukan, baik secara sadar maupun tidak. Pola hidup yang diabaikan, emosi yang dipendam, atau sikap yang menyakiti diri sendiri dan atau orang lain, perlahan menuntut tanggung jawabnya. Namun memaknai sakit sebagai karma bukan berarti terjebak dalam penyesalan tanpa akhir. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi pintu untuk berdamai dengan masa lalu, menerima konsekuensi dengan lapang dada, dan berkomitmen untuk hidup dengan lebih bijak ke depannya.

Menariknya, semua kemungkinan makna itu tidak harus dipilih salah satu. Sakit bisa menjadi teguran, pencucian, persiapan, dan pembelajaran sekaligus. Ia tidak datang untuk menghukum semata, melainkan untuk mengembalikan manusia pada kesadaran paling dasar: bahwa hidup adalah titipan, dan tubuh adalah amanah. Ketika amanah itu terguncang, ada pesan yang ingin disampaikan, ada pelajaran yang ingin ditanamkan.

Dalam sakit, waktu terasa melambat. Hal-hal kecil menjadi lebih berarti: napas yang lega, tidur yang nyenyak, atau sekadar bangun tanpa rasa nyeri. Dari sana tumbuh rasa syukur yang lebih jujur, bukan karena segalanya baik-baik saja, tetapi karena masih diberi kesempatan untuk merasakan, belajar, dan memperbaiki diri. Sakit mengajarkan bahwa sehat adalah nikmat yang sering dilupakan, dan sabar adalah kekuatan yang sering diremehkan.
Pada akhirnya, sakit adalah bahasa Tuhan yang tidak selalu bisa diterjemahkan dengan logika. Ia lebih sering dipahami dengan hati yang tenang dan jiwa yang mau mendengar. Entah ia datang sebagai teguran, pencucian diri, persiapan menuju akhir, atau konsekuensi dari perjalanan hidup, sakit tetap membawa peluang yang sama: untuk lebih dekat, lebih sadar, dan lebih jujur pada diri sendiri. Dan mungkin, di situlah letak rahmatNYA yang paling halus. Kesembuhan dan kematian adalah dua sisi mata uang yang sama, sama-sama anugerah, sama-sama keberuntungan; tinggal dari sisi mana kita menikmati. Bisa jadi anugerah yang tidak menguntungkan, atau bisa juga mungkin keuntungan yang sejatinya bukan anugerah. Namun bagi mereka yang selalu bersyukur memandang keduanya adalah pintu untuk menuju pulang dengan kegembiraan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Di Balik HGU SGC, Ada Tangan Kapalan yang Selalu Diabaikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

KABUT mulai terangkat, tapi suasana justru makin terasa berat. Paimin mengaduk sisa kopi hitam di gelas kaleng, sementara Paino menyeringai tipis melihat spanduk “ASET NEGARA” yang dipasang di gerbang pabrik.

Paimin: “Lihat itu, No. Spanduknya baru, tulisannya gede. Aset negara katanya. Kita ini apa? Bonus penderitaan?”.

Paino: “Haha… mungkin kita ini aset yang lupa dicatat. Soalnya aset yang satu ini kerjanya cuma makan nasi sama garam, nggak pakai proposal.

Paimin tertawa hambar. “Dulu kalau pabrik butuh lembur, kita dipanggil patriot. Sekarang giliran ditutup, kita jadi angka kecil di catatan kaki.”

Paino: “Iya. Katanya gula nasional harus kuat, harus berdaulat. Tapi buruhnya disuruh puasa kedaulatan. Berdaulat menahan lapar.”

Paimin menatap tangannya yang kapalan. “Tanganku ini sudah hapal batang tebu, No. Tapi mungkin negara mikirnya tangan kayak gini bisa langsung berubah jadi tangan ahli strategi.”

Paino: “Atau disuruh jadi wirausaha. Modalnya apa? Pengalaman nunggu gajian telat?”

Mereka terdiam sebentar, lalu Paino terkekeh. “Lucunya, Min, kita disuruh sabar. Katanya perubahan butuh pengorbanan. Tapi kok yang selalu dikorbankan orang yang sama.”

Paimin: “Sabar itu kayak tebu, No. Diperas terus, manisnya diambil, ampasnya dibuang.”

Paino mengangguk pelan. “Kalau nanti pabrik ini jadi gedung baru, aku pengin datang cuma buat lihat. Biar bisa bilang ke anakku: ‘Dulu bapak ikut bikin tempat ini berdiri, walau akhirnya bapak disuruh berdiri di luar.’”

Paimin tersenyum pahit. “Ya sudahlah, No. Kita ini buruh tebang. Kalau bukan tebu yang tumbang, ya harapan kita.”

Angin berdesir. Tebu bergoyang. Dan satire hidup mereka tetap berdiri, tanpa perlu panggung.

Pencabutan hak guna usaha atas puluhan ribu hektare lahan perkebunan tebu serta fasilitas pabrik gula yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat di Lampung merupakan sebuah tipping point dalam relasi antara negara, korporasi, dan warga pekerja.

Keputusan mengembalikan lahan tersebut ke pengelolaan negara melalui institusi pertahanan bukan semata persoalan administratif agraria atau hukum semata; ia juga membuka pertanyaan mendasar soal bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diintegrasikan dalam kebijakan redistribusi aset negara.

Dari perspektif humanisme kontemporer; yang menempatkan martabat dan kesejahteraan manusia sebagai pusat telaah, keputusan ini harus dibaca tidak hanya melalui lensa legalitas kepemilikan lahan, tetapi juga dampaknya terhadap puluhan ribu pekerja dan komunitas lokal yang bergantung pada operasi perusahaan gula itu untuk penghidupan.

Sebuah perusahaan besar tidak hanya berarti sebidang tanah dan mesin; ia mengandung kehidupan sosial-ekonomi yang terjalin melalui pekerjaan, keterampilan, industri lokal, sampai jaringan pasokan dan konsumsi.

Ketika hak guna usaha dicabut, terlebih dalam skala sangat luas, ancaman terhadap mata pencaharian pekerja bukan sekadar potensi: ia menjadi realitas yang harus dijawab secara serius.

Humanisme kontemporer menuntut kita melihat warga pekerja bukan sebagai angka statistik atau biaya produksi yang bisa dihilangkan dari neraca, tetapi sebagai individu yang memiliki hak atas rencana hidup yang aman, stabil, dan bermartabat.

Ketika ketidakpastian menggantung,“masih bisa bekerja atau tidak?” menjadi pertanyaan harian bagi banyak pekerja; ketidakpastian itu sendiri menjadi sumber trauma psikologis, tekanan sosial, dan kemungkinan pemburukan kondisi kesehatan mental serta fisik keluarga mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, kerja memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan uang. Pekerjaan memberikan struktur bagi kehidupan, rasa harga diri dan kontribusi sosial. Kehilangan akses terhadap pekerjaan yang stabil berarti kehilangan akses terhadap makna sosial dan rasa keterhubungan komunitas.

Ketika masyarakat daerah menggantungkan ekonomi lokal pada industri utama seperti pabrik gula, keputusan untuk mencabut operasional itu tanpa strategi transisi yang adil berpotensi memperbesar jurang ketimpangan dan mengikis jaringan sosial yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Humanisme kontemporer juga menekankan perlunya kebertanggungjawaban negara dalam transisi sosial-ekonomi.

Negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi memiliki kewajiban moral, selain legal; untuk memastikan bahwa perubahan kebijakan yang berdampak luas tidak menambah beban pada kelompok paling rentan.

Artinya, pencabutan HGU dan ambil alih lahan negara semestinya tidak berhenti pada sekadar pengembalian aset negara, tetapi juga harus diikuti dengan langkah konkret yang menjamin bahwa pekerja dan keluarga mereka tidak menjadi korban dari proses redistribusi itu sendiri.

Ini termasuk pemberdayaan ekonomi, program pelatihan ulang keterampilan, kompensasi yang adil, jaminan sosial sementara, serta akses ke peluang kerja lain, termasuk dalam proyek baru yang mungkin dijalankan di bawah manajemen negara.

Selain itu, dalam kajian humanisme, penting untuk mempertimbangkan aspirasi kolektif masyarakat lokal, yang bisa saja berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Pemerintah dan para pembuat kebijakan perlu membuka ruang dialog yang memadai dengan komunitas pekerja, serikat pekerja, dan warga desa sekitar lahan; tidak hanya pada level teknis hukum tetapi juga pada level keseharian hidup mereka.

Tanpa dialog inklusif, kebijakan apa pun berisiko dipersepsikan sebagai paksaan top-down yang mengabaikan realitas kehidupan warga, sehingga memperlemah legitimasi sosial kebijakan itu sendiri.

Di sisi lain, dari sudut pandang etika ekonomi, redistribusi lahan yang bertujuan memperbaiki kesalahan penerbitan HGU harus dirancang dengan prinsip keadilan distributif.

Jika lahan itu memang secara hukum milik negara, dan penguasaan sebelumnya merupakan sebuah kekeliruan atau pelanggaran, maka negara berhak mengambil langkah korektif. Namun, koreksi ini harus dilakukan sambil menjaga keberlangsungan mata pencaharian mereka yang terdampak.

Ide humanisme kontemporer berfungsi sebagai pengingat bahwa keadilan tidak cukup hanya ditegakkan dalam tataran hukum, tetapi juga dalam tataran kehidupan nyata warga yang bergantung pada struktur ekonomi yang sedang dipermasalahkan.

Singkatnya, dalam kaca mata humanisme kontemporer, nasib pekerja dan komunitas lokal harus menjadi pusat evaluasi kebijakan, bukan sekadar legalitas lahan atau efisiensi administratif.

Transformasi ini menuntut sebuah pendekatan yang menghormati martabat manusia, menyediakan jaminan sosial dan peluang masa depan, serta membangun dialog yang tulus antara negara dan masyarakat yang terkena dampak.

Tanpa itu, keputusan besar di lapangan bisa berubah dari gula yang memaniskan kehidupan menjadi empedu yang pahit dinikmati oleh mereka yang paling rentan, dan ironisnya ini yang paling bawah dan paling banyak. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Diam Mengungkap Makna

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Dua orang pensiunan sahabat karib sedang nongkrong di teras sebuah rumah.

“Pagi terasa lebih sunyi sejak kita tak lagi berangkat kerja, ya, San,” ujar Husen sambil menyeruput kopi yang uapnya masih mengepul pelan kepada temannya.

Hasan tersenyum tipis.

“Sunyi, tapi anehnya tidak menakutkan. Dulu, bahkan saat libur, pikiranku tetap penuh. Sekarang justru terasa lebih ringan.” “Kau rindu masa sibuk itu?” tanya Husen, sambil menatap halaman rumah yang mulai diterpa cahaya pagi.

Hasan menggeleng pelan. “Bukan rindu. Lebih ke heran. Kita dulu mengejar banyak hal: jabatan, target, pengakuan. Seolah kalau berhenti sebentar saja, hidup akan tertinggal.” Husen tertawa kecil. “Dan sekarang kita benar-benar berhenti. Tapi ternyata dunia tidak runtuh.”

“Tidak,” jawab Hasan. “Yang runtuh justru kesibukan semu itu. Awalnya aku gelisah. Bangun pagi tanpa agenda terasa kosong. Tapi setelah beberapa waktu, duduk diam tanpa tergesa justru terasa menenangkan.”

“Itu juga yang kurasakan,” sahut Husen. “Aku baru sadar, selama ini kita jarang benar-benar diam. Bahkan saat beribadah, pikiran masih ke mana-mana.”

Hasan mengangguk. “Karena kita terbiasa sibuk dengan hal-hal yang sebenarnya tidak selalu penting. Banyak yang ramai, tapi sia-sia.”

“Sejak pensiun,” lanjut Husen, “aku mulai belajar memilih. Tidak semua kabar perlu diikuti, tidak semua obrolan perlu ditanggapi. Lebih banyak diam, lebih sungguh dalam ibadah.”

Hasan menatap cangkirnya sejenak sebelum berkata lirih, “Mungkin memang itu pelajaran di usia ini. Ketenangan tidak datang karena kita berhenti bekerja, tapi karena kita berhenti mengejar yang tak perlu.”

Keduanya terdiam. Dalam jeda sederhana itu, Hasan dan Husen sama-sama merasa: diam kadang lebih jujur daripada seribu kata

Di tengah budaya kekinian yang serba cepat, reaktif, dan penuh suara, diam sering disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal, diam justru dapat menjadi bentuk kejujuran paling dalam; ruang refleksi, empati, dan kesadaran diri yang menjaga makna hidup di dunia yang terlalu ramai.

Di zaman ketika kata-kata diproduksi lebih cepat daripada sempat dipikirkan, diam menjadi sesuatu yang terasa asing. Linimasa digital dipenuhi opini, komentar, dan penilaian yang saling bertabrakan. Setiap peristiwa menuntut reaksi instan, seolah keterlambatan berbicara berarti ketertinggalan.

Dalam situasi ini, kata-kata sering kehilangan bobotnya. Ia menjadi ringan, mudah dilepaskan, dan kerap menjauh dari kejujuran batin. Di tengah kebisingan seperti inilah, diam menemukan maknanya. Diam kadang lebih jujur daripada seribu kata, karena ia lahir dari kesadaran, bukan dari dorongan untuk tampil.

Diam bukan sekadar tidak berbicara. Ia adalah keputusan sadar untuk menunda respons, memberi ruang bagi pikiran dan perasaan agar tidak dikuasai emosi sesaat. Dalam konteks kekinian, banyak kata lahir dari kemarahan, ketakutan, atau keinginan untuk diakui. Reaksi cepat sering kali lebih dihargai daripada pemikiran yang matang.

Diam, sebaliknya, memberi jarak antara perasaan dan ekspresi. Dalam jarak itulah kejujuran diuji: apakah kata yang ingin diucapkan benar-benar mewakili nurani, atau hanya refleks dari tekanan sosial.

Kejujuran tidak selalu nyaman. Ia sering menuntut keberanian untuk tidak menyenangkan semua orang. Dalam dunia yang mengagungkan visibilitas dan popularitas, berkata jujur kadang berisiko disalahpahami atau ditolak. Karena itu, diam bisa menjadi pilihan paling jujur ketika kata-kata yang tersedia tidak cukup mewakili kebenaran. Diam menjaga integritas ketika berbicara justru akan mereduksi makna atau mengaburkan niat. Ia menjadi bentuk kesetiaan pada diri sendiri, bukan tanda ketidakpedulian.

Dalam kehidupan sehari-hari, diam juga berfungsi sebagai ruang refleksi. Banyak kegelisahan modern bukan lahir dari masalah yang terlalu besar, melainkan dari pikiran yang tidak pernah diberi waktu untuk berhenti. Informasi mengalir tanpa jeda, tuntutan hadir dari berbagai arah, dan manusia jarang benar-benar sendirian dengan dirinya sendiri. Diam memberi kesempatan untuk mendengar suara batin yang sering tertutup oleh kebisingan luar. Dalam keheningan, seseorang dapat mengenali apa yang benar-benar ia rasakan, bukan apa yang diharapkan untuk ia rasakan.

Diam juga mengajarkan empati yang lebih dalam. Dalam budaya percakapan hari ini, mendengar sering kalah oleh keinginan untuk berbicara. Banyak orang menunggu giliran bicara bukan untuk memahami, tetapi untuk membalas. Diam yang sadar mengubah pola ini. Dengan tidak tergesa mengisi jeda, seseorang memberi ruang bagi orang lain untuk menuntaskan pikirannya dan menata perasaannya. Dalam konteks ini, diam menjadi bahasa kepedulian yang paling jujur. Ia mengatakan, tanpa kata, bahwa kehadiran lebih penting daripada argumen.

Di ranah digital, makna diam menjadi semakin kompleks. Tidak berkomentar, tidak ikut menyebarkan, atau memilih untuk menahan diri sering dianggap sebagai sikap netral atau bahkan apatis. Padahal, diam di ruang digital bisa menjadi bentuk tanggung jawab etis. Tidak semua isu perlu ditanggapi, tidak semua konflik perlu diperbesar, dan tidak semua provokasi layak diladeni. Dengan memilih diam, seseorang menolak menjadi bagian dari kebisingan yang tidak membawa solusi. Diam menjadi cara menjaga kewarasan kolektif di tengah banjir opini yang sering lebih panas daripada bermakna.

Dalam ranah personal, diam sering menjadi tempat berlindung bagi kejujuran yang rapuh. Tidak semua perasaan perlu diumumkan, tidak semua luka perlu dijelaskan, dan tidak semua kebahagiaan perlu dipamerkan. Diam menjaga pengalaman tetap utuh, tidak tereduksi menjadi sekadar narasi konsumsi publik. Dalam diam, seseorang memberi dirinya hak untuk merasa tanpa harus menjelaskan. Ini adalah kejujuran yang paling intim, yang tidak membutuhkan pengakuan dari luar.

Di tengah dunia yang mengukur nilai diri dari seberapa sering dan seberapa keras seseorang berbicara, diam menawarkan ukuran lain: yaitu kedalaman. Diam mengingatkan bahwa makna tidak selalu lahir dari banyaknya kata, melainkan dari ketepatan dan kesadaran. Kadang, satu sikap tenang lebih bermakna daripada seribu kata yang terburu-buru. Dalam keheningan itulah, manusia kembali bertemu dengan dirinya sendiri: tanpa topeng, tanpa tuntutan, dan tanpa kebisingan yang menipu. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

MENUJU PERJALANAN ABADI

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Malam telah turun perlahan. Lampu-lampu temaram menggantung di serambi suatu pesantren, sementara suara jangkrik bersahutan memecah keheningan. Seorang Santri duduk bersila, menunggu dengan gelisah. Ketika langkah kaki terdengar mendekat, ia menundukkan kepala.

“Engkau tampak resah,” ujar sang Kiai pelan, suaranya tenang seperti air yang mengalir. “Maaf, Kiai,” jawab Santri itu lirih. “Saya hanya… sering bertanya-tanya akhir-akhir ini.” “Pertanyaan adalah tanda hidup,” kata sang Kiai sambil duduk di hadapannya. “Apa yang mengusik pikiranmu?”

Santri itu menarik napas. “Mengapa di pesantren ini kami diajarkan hidup sederhana, diam, dan mengulang hal-hal yang sama setiap hari? Sementara di luar sana, orang berlomba-lomba mengejar banyak hal. Saya takut, jangan-jangan hidup saya tertinggal.” Sang Kiai tersenyum tipis. “Apakah engkau yakin hidup itu perlombaan?” Santri terdiam. “Bukankah semua orang ingin sampai lebih dulu, Kiai?”. “Kemana?” tanya sang Kiai balik.

Pertanyaan itu membuat Santri terhenyak. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam. “Saya tidak tahu,” jawabnya jujur. “Di sinilah letak pelajarannya,” ujar sang Kiai lembut. “Pesantren tidak mengajarkanmu untuk berlari, tetapi untuk berjalan dengan sadar. Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang sunyi itu tertinggal.”

Santri mengangkat wajahnya. “Lalu, apa sebenarnya yang sedang kami persiapkan di sini, Kiai?”. Sang kiai memandang langit yang gelap, seolah membaca sesuatu yang tak tertulis. “Engkau sedang mempersiapkan dirimu sendiri. Membersihkan niat, menata hati, dan mengenali batas-batasmu sebagai manusia.”

“Untuk apa semua itu?” tanya Santri pelan. “Untuk perjalanan yang tak bisa dihindari oleh siapa pun,” jawab sang Kiai. “Perjalanan yang tidak memerlukan bekal dunia, tetapi membutuhkan kejernihan jiwa.” Santri terdiam lama. Angin malam berembus pelan, membawa ketenangan yang aneh. “Berarti,” katanya kemudian, “jalan sunyi ini bukan hukuman?”. “Bukan,” sahut sang Kiai mantap. “Ia adalah tugas terakhir kehidupan. Agar ketika engkau sampai di ujung, engkau tahu siapa dirimu, dan ke mana engkau akan kembali.” Santri itu menunduk lebih dalam. Di wajahnya tak lagi tampak kegelisahan, melainkan kesadaran yang baru mulai tumbuh.

Jalan sunyi mempersiapkan perjalanan abadi adalah tugas terakhir dari kehidupan. Kalimat ini menemukan maknanya dalam sebuah ruang hidup yang sederhana, tertib, dan penuh pengendalian diri. Di tempat semacam ini, kehidupan tidak bergerak mengikuti arus dunia luar yang bising, melainkan berjalan pelan dalam irama yang teratur. Hari-hari diisi dengan rutinitas yang sama, doa yang berulang, dan keheningan yang justru mengajarkan banyak hal tentang arti menjadi manusia. Dari sudut pandang filsafat humanistik, ruang ini adalah tempat manusia belajar memahami dirinya sebagai makhluk yang sadar akan tujuan akhir, bukan sekadar pelaku aktivitas duniawi.

Filsafat manusia menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab. Namun kebebasan tidak selalu berarti bergerak tanpa batas. Di ruang hidup yang asketis ini, kebebasan justru ditemukan dalam pembatasan. Aturan-aturan yang mengikat, kesederhanaan fasilitas, dan kedisiplinan waktu bukanlah penjara, melainkan sarana untuk melatih kehendak. Manusia belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi, dan tidak semua dorongan harus diikuti. Dalam pengendalian diri itulah martabat manusia ditegakkan, karena ia mampu memilih nilai, bukan sekadar menuruti naluri.

Kesunyian menjadi elemen penting dalam proses ini. Kesunyian bukanlah ketiadaan kehidupan, melainkan ruang untuk mendengar suara batin. Filsafat humanistik memandang refleksi diri sebagai syarat utama bagi manusia untuk hidup secara otentik. Tanpa refleksi, manusia mudah terjebak dalam kehidupan yang mekanis. Dalam keheningan malam, ketika aktivitas fisik berhenti dan pikiran mulai tenang, manusia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar: untuk apa hidup dijalani, apa yang benar-benar bernilai, dan ke mana arah langkah ini bermuara. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlahan mempersiapkan manusia menghadapi perjalanan yang tak dapat dihindari.

Jalan sunyi juga berarti mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia tanpa harus memusuhinya. Dunia tetap diakui sebagai bagian dari kehidupan, tetapi bukan sebagai tujuan akhir. Dalam filsafat humanistik, ini disebut sebagai kemampuan transendensi: manusia mampu melampaui kepentingan sesaat menuju nilai yang lebih tinggi. Dengan mengurangi keterikatan pada hal-hal material dan simbol-simbol sosial, manusia diarahkan untuk menata ulang orientasi hidupnya. Ia belajar bahwa keberhasilan sejati tidak selalu tampak dari luar, melainkan dirasakan dari kedalaman batin.

Tugas terakhir dari kehidupan, jika dipahami secara filosofis, bukanlah pencapaian eksternal, melainkan kesiapan internal. Perjalanan abadi tidak menuntut bekal materi, melainkan keadaan batin yang jernih. Kesadaran akan kefanaan justru membuat hidup dijalani dengan lebih bertanggung jawab. Manusia menyadari bahwa setiap tindakan memiliki makna, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Kesadaran ini tidak melahirkan ketakutan, tetapi kebijaksanaan.

Pada akhirnya, jalan sunyi adalah proses memanusiakan manusia. Dalam kesederhanaan, keteraturan, dan keheningan, manusia diajak kembali pada esensinya. Hidup tidak lagi dipahami sebagai perlombaan tanpa akhir, melainkan sebagai perjalanan yang penuh makna. Setiap hari menjadi latihan, setiap diam menjadi pengajaran. Ketika saat perjalanan abadi itu tiba, yang dibawa bukanlah kebisingan dunia, melainkan ketenangan batin yang telah ditempa sepanjang jalan sunyi kehidupan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

REZEKI AYAM TIDAK AKAN DI SAMBAR ELANG

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Saat meluncurkan artikel yang terbit kebeberapa teman dekat; salah seorang diantaranya memberikan komen seperti judul di atas. Beliau adalah seorang Doktor yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Penulis berperan menjadi penguji utama saat beliau mengambil gelar tertinggi di dunia akademik, membaca pemikirannya, memang beliau  orang cerdas dan visioner. Komen beliau menjadi “bara api” untuk menulisnya dalam seting keseharian. Adapun tulisannya sebagai berikut:

Senja turun perlahan di halaman pesantren. Suara adzan magrib baru saja usai, menyisakan hening yang akrab. Seorang santri duduk bersila di serambi, wajahnya tampak gelisah. Kiai keluar membawa tasbih, lalu berhenti sejenak menghampiri santri, dan berucap  “Kenapa tampak berat pikiranmu, Nak?” tanya kiai lembut.

Santri itu menunduk. “Saya sering merasa tertinggal, Yai. Teman-teman saya banyak yang sudah pandai, sudah dikenal, bahkan ada yang sukses di luar. Saya di sini merasa biasa saja.” Kiai tersenyum tipis seraya bertanya. “Kau pernah lihat ayam di halaman pesantren?” Jawab santri “Sering, Yai.” Kiai  meneruskan, “Apakah ayam itu iri pada elang yang terbang tinggi?”

Santri terdiam, lalu menggeleng. “Ayam hanya sibuk mencari makan di tanah.” Jawabnya. “Nah,” kata kiai pelan, “rezeki ayam tidak akan disambar elang. Ayam punya jalannya sendiri. Elang pun demikian.” “Tapi bukankah elang lebih kuat?” sahut santri.

“Lebih kuat tidak selalu lebih tenang,” jawab kiai. “Elang harus terbang jauh, menantang angin, berburu dengan risiko. Ayam mungkin sederhana, tapi ia cukup dengan apa yang ada di sekitarnya.” Santri menghela napas. “Jadi saya tidak perlu menjadi seperti mereka?”. “Kau perlu menjadi dirimu sendiri,” ujar kiai. “Ilmu tidak diukur dari cepat atau lambat, tapi dari manfaat dan keberkahan. Jangan sibuk melihat piring orang lain sampai lupa nasi di hadapanmu.”

Angin berembus membawa aroma kayu bakar dari dapur. Santri mengangguk perlahan. “Teruslah belajar,” lanjut kiai, “berjalanlah sesuai langkahmu. Jika rezekimu ayam, ia akan datang. Tak perlu takut disambar, selama kau jujur dan sabar menjalaninya.”

Wajah santri tampak lebih tenang. Ia mencium tangan kiai, sementara langit pesantren perlahan berubah gelap, menyimpan pelajaran yang tak tertulis di kitab mana pun

Ungkapan “rezeki ayam tidak akan disambar elang” hidup lama dalam kebijaksanaan lisan masyarakat Nusantara. Ia menyiratkan keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki bagian  rezekinya masing-masing, dan tidak semua yang terlihat kuat atau tinggi posisinya berhak mengambil apa yang bukan peruntukannya. Dalam konteks kontemporer, peribahasa ini tetap relevan, bahkan menemukan makna baru di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang bergerak cepat serta sering kali memicu kecemasan kolektif tentang persaingan, ketimpangan, dan rasa tidak aman akan masa depan.

Secara kontemporer, makna rezeki tidak lagi semata-mata soal materi. Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan mental, relasi sosial yang sehat, kesempatan belajar, serta rasa aman. Banyak orang yang secara ekonomi tampak “elang” justru rapuh secara emosional, terjebak dalam tekanan performa dan validasi publik. Sebaliknya, mereka yang menjalani hidup sederhana, diibaratkan sebagai ayam, sering kali memiliki ketenangan, kejelasan tujuan, dan rasa cukup. Dalam hal ini, rezeki tidak disambar; ia dijalani dan diterima melalui ritme hidup yang selaras.

Ungkapan tersebut juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap ketamakan struktural. Dalam sistem ekonomi modern, sering kali yang besar semakin besar, sementara yang kecil terpinggirkan. Jika elang terus menyambar rezeki ayam, keseimbangan ekosistem sosial runtuh. Ketimpangan melebar, kepercayaan publik menurun, dan konflik horizontal mudah tersulut. Dari sudut pandang ini, peribahasa tersebut mengandung pesan etis: ada batas moral dalam mengejar keuntungan. Tidak semua peluang layak diambil, terutama jika merugikan yang lebih rentan.

Pada tingkat personal, ungkapan ini mengajak individu untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang melelahkan. Algoritma digital sering menampilkan potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih cepat, dan lebih gemilang. Tanpa kesadaran, seseorang bisa terdorong untuk merebut apa yang bukan kebutuhannya, mengorbankan nilai, atau melampaui batas dirinya sendiri. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membantu menjaga fokus pada proses pribadi, bukan pada bayangan keberhasilan orang lain.

Selain itu, peribahasa ini juga mengandung dimensi spiritual yang tetap hidup dalam masyarakat modern, meski diekspresikan dengan bahasa yang lebih rasional. Ia menegaskan adanya keteraturan dalam kehidupan, bahwa usaha dan hasil tidak selalu linear tetapi tetap bermakna. Kepercayaan ini bukan ajakan untuk pasif, melainkan dorongan untuk berusaha tanpa panik dan tanpa merusak. Ayam tetap harus mencari makan, tetapi ia tidak perlu terbang setinggi elang untuk bertahan hidup.

Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan kebijaksanaan tentang proporsi, batas, dan rasa cukup. Di tengah dunia yang mendorong ekspansi tanpa henti, ia mengingatkan nilai kesederhanaan dan keadilan. Rezeki bukan medan perburuan tanpa aturan, melainkan bagian dari tatanan hidup yang menuntut kesadaran etis. Selama ayam dan elang menjalani perannya masing-masing, keseimbangan dapat terjaga, dan kehidupan berlangsung dengan lebih manusiawi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Pak Ujang dan Warung Nasi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Tepi jalan utama menuju pantai di kota ini, berdiri sebuah warung nasi yang sudah lama ada; bahkan dalam hitungan generasi warung itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Sedikit dialog antara pemilik dan pelanggan; seperti ini,
“Pak, masih buka?” suara seorang pelanggan terdengar di sela deru kendaraan yang melintas cepat, setelah waktu ashar berlalu. “Masih,” jawab Pak Ujang sambil menggeser kursi plastik. Beliau adalah generasi kedua dari warung ini yang sudah usia lanjut, namun masih gesit menunggui anak dan cucu mengelola warung nasi peninggalan mertuanya.

“Silakan duduk. Mau makan apa?” sergah Pak Ujang. “Yang sederhana saja, Pak. Nasi sama sayur. Kalau ada tempe, satu.” Jawab pelanggan. Pak Ujang mengangguk, menyendok nasi dengan tangan yang sedikit bergetar. “Di kota begini, yang sederhana malah sering paling dicari.” Celetukan Pak Ujang. Pelanggan itu tersenyum. “Iya, Pak. Dari tadi muter-muter, yang mahal semua. Di sini rasanya beda, lebih tenang.”
“Tenang itu bukan tempatnya,” kata Pak Ujang pelan. “Orangnya yang harus belajar pelan.” Ia meletakkan piring di meja. Asap nasi mengepul, bercampur bau knalpot. “Silakan. Dimakan selagi hangat.” Pelanggan itu menatap piringnya sesaat. “Pak, warung ini sudah lama ya?” “Lama,” jawab Pak Ujang. “Lebih lama dari gedung-gedung itu.” Ia menunjuk samar ke arah jalan. “Dulu jalannya belum seramai ini.”
“Bapak tiap hari di sini?”sambung pelanggan. “Hampir,” jawab Pak Ujang. “Kalau badan masih mau diajak bangun pagi.” Pelanggan itu ragu sejenak, lalu bertanya, “Pak, kalau ada orang nggak punya uang apakah masih dilayani?”. Pak Ujang tersenyum tipis. “Kalau lapar, ya makan. Urusan uang belakangan.” “Bapak nggak takut kekurangan?” sambung pelanggan penasaran. Pak Ujang menggeleng. “Takut itu kalau nggak bisa bantu apa-apa.

Pelanggan itu terdiam, lalu berkata lirih, “Sekarang jarang orang mikir begitu.” Pak Ujang menatap jalanan yang padat. “Kota ini bikin orang lupa. Tapi kalau semua lupa, warung begini buat apa ada?”. Pelanggan itu mengangguk pelan, melanjutkan makan, sementara Pak Ujang kembali ke dandang, menjaga nasi tetap hangat di tengah kota yang tak pernah benar-benar berhenti
Pak Ujang tidak banyak bicara. Sapanya singkat, geraknya hemat tenaga, seolah ia tahu tubuhnya tak lagi bisa diajak berkompromi. Usia dan sakit-sakitan membuat langkahnya melambat, tetapi kebiasaan lama menuntunnya tetap hadir. Warung nasi itu bukan sekadar tempat bekerja; ia adalah bagian dari hidup yang telah ia jalani puluhan tahun. Warung itu dulu milik mertuanya, kemudian menjadi penopang keluarga, dan kini telah melewati tiga generasi. Anak dan cucunya mengelola sebagian besar pekerjaan, namun kehadiran Pak Ujang tetap menjadi poros yang tak tergantikan.

Di kota yang serba cepat, warung itu bergerak dengan ritme sendiri. Pelanggan datang dari berbagai arah: pekerja harian, sopir, pedagang kecil, dan mereka yang tak lagi ditanya tujuannya. Percakapan singkat sering terjadi, seperti pagi itu, tentang perut yang lelah, tentang jalanan yang ribut sejak subuh. Pak Ujang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Baginya, warung bukan hanya tempat makan, tetapi ruang kecil untuk saling mengakui keberadaan.
Satu prinsip yang tak pernah berubah sejak warung itu berdiri adalah memberi makan orang yang tidak mampu. Tidak ada papan pengumuman, tidak ada pernyataan resmi. Prinsip itu hidup dalam gerakan tangan yang tetap menyendok nasi meski dompet pelanggan tak dibuka. Di tengah kota yang mengukur segalanya dengan transaksi, tindakan ini tampak sederhana, bahkan naif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Warung itu bertahan bukan karena strategi besar, melainkan karena keyakinan lama bahwa rezeki tidak selalu datang dari perhitungan, dan tidak akan tertukar.

Dalam konteks kontemporer, warung Pak Ujang mencerminkan wajah lain kota besar: ekonomi informal yang menopang banyak kehidupan tetapi jarang disorot. Ia menjadi jaring pengaman bagi keluarga besar yang hidup bersama anak, menantu, cucu; dalam satu atap dan satu usaha. Di sana, kerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal kesinambungan. Anak dan cucu belajar bukan dari buku manajemen, melainkan dari pagi yang panjang, dari pelanggan yang datang dan pergi, dan dari keputusan-keputusan kecil tentang memberi atau menahan.

Pak Ujang sendiri kini lebih sering duduk daripada berdiri. Penyakit membuatnya mudah lelah, dan sebagian pekerjaannya telah digantikan oleh anaknya. Termasuk perannya sebagai marbot masjid di dekat warung. Masjid itu dibangun bersama tetangga, dari gotong royong yang kini terasa semakin asing di tengah kota. Dulu, membersihkan masjid dan menyiapkan keperluan ibadah adalah bagian dari rutinitasnya, sama pentingnya dengan membuka warung.
Namun Pak Ujang tidak mengeluh. Ia memahami bahwa hidup adalah tentang bergeser, bukan berhenti. Seperti warung yang kini dikelola generasi berikutnya, perannya pun berubah. Ia menjadi penjaga nilai, bukan lagi penggerak utama. Dalam diam, ia memastikan bahwa prinsip memberi tetap hidup, bahwa warung tidak hanya mengejar untung, dan bahwa manusia tetap didahulukan dari angka.

Melankolia kisah ini lahir dari kesadaran akan waktu. Kota terus tumbuh, trotoar semakin sempit, dan kemungkinan penggusuran selalu membayangi warung pinggir jalan. Anak dan cucu Pak Ujang hidup di persimpangan antara mempertahankan warisan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Namun selama panci masih dipanaskan dan nasi masih dibagi, warung itu tetap menjadi ruang perlawanan kecil terhadap logika kota yang dingin.

Selamat perjuang Pak Ujang, pahlawan kemanusiaan yang tidak memerlukan penghargaan. Berjalan dengan keyakinan, hidup harus diselesaikan, bukan untuk dikeluhkan. Berbagi itu pasti, karena rejeki bukan urusan nanti, itu milih Illahi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR