Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hari itu kondisi sedang tidak baik-baik saja; entah mengapa otak sedang tidak mau diajak berfikir, rasa sedang tidak mau diajak “duduk”. Akibatnya untuk melakukan apapun, seolah kehilangan daya dorong; dan hanya bisa “deleg-deleg” dikursi kerja. Entah inspirasi atau keisengan, membuka media, terdengar lagu lawas oleh seorang maestro lagu daerah mendendangkan irama “Nganti mati ora bakal lali… la kae… lintange mlakuuu”. Ternyata dari penggalan itu dawai filsafat mulai bekerja untuk medorong pikir dan menuang rasa pada layar putih sebagai papan rekam kerja.
Kalimat ini bukan hanya sekadar barisan kata dengan nada puitis atau melankholis. Akan tetapi ungkapan rasa, sekaligus pernyataan eksistensial tentang pengalaman manusia yang paling hakiki: memiliki, kehilangan, mengingat, dan tetap menjaga dalam diam. Di dalamnya terletak inti dari keberadaan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari relasi dengan waktu, rasa, dan makna, sekalipun itu sudah menjadi masa lampau. Dan jika kita menyelami lebih dalam, maka kita akan menem ukan bahwa kalimat itu tidak hanya bicara tentang suka, akan tetapi juga tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan sebagai makhluk yang sadar, merasa, dan berpikir: tentang siapa dirinya, apa yang telah terjadi, dan mengapa ia tidak bisa melupakan.
Manusia hidup dalam waktu, tapi tidak hanya sebagai penumpang pasif. Ia merasakan waktu itu, dan dia menyimpan masa lalu dalam bentuk kenangan, membayangkan masa depan dalam bentuk harapan, dan berusaha memahami keduanya melalui permenungan yang berlangsung di masa k ini. Dalam proses itu, ada pengalaman-pengalaman tertentu yang tidak sekadar berlalu, tetapi membekas dan tinggal menetap. Laksana bintang yang pernah menyala terang di langit malam, kenangan itu tidak padam begitu saja meski telah jauh atau bahkan hilang dari pandangan. Justru karena ia pernah begitu terang, begitu nyata, maka lintangnya terus berjalan di langit hati, menjadi cahaya kecil yang menuntun langkah, kadang juga menjadi luka, namun tetap terus dihidupi.
Kenangan bukan sekadar ingatan. Ia adalah bagian dari struktur batin manusia. Setiap kenangan membawa serta rasa, makna, bahkan identitas. Ketika seseorang mengatakan, “aku tidak akan pernah lupa,” itu bukan sekadar karena ia tidak mau lupa, tapi karena ia tidak bisa. Lupa bukan pilihan, karena yang dikenang sudah melebur menjadi bagian dari jati diri. Maka, jika ada satu momen yang begitu dalam, maka kehadirannya tidak pernah benar-benar hilang. Meski secara fisik telah berlalu, ia terus hidup dalam bentuk lain: sebagai lintang yang mlaku, bintang yang berjalan, yang tetap menyala, menembus batas waktu dan ruang.
Dalam lintasan filsafat, manusia bukan sekadar tubuh yang hidup, tapi juga subjek yang mengalami. Ia tidak hanya menjalani hidup, tapi juga merefleksikannya. Ia merasakan kehilangan, dan tidak berhenti pada rasa sakit, tetapi mencoba memahami apa arti kehilangan itu. Di situlah muncul kesadaran mendalam bahwa tidak semua yang hilang bisa digantikan. Ada hal-hal yang hanya terjadi sekali dalam hidup, dan ketika ia lewat, yang tersisa hanyalah kenangan. Tapi justru karena ia hanya sekali itulah, ia menjadi sangat berarti. Maka, tidak mengherankan jika banyak manusia lebih mengingat satu momen tertentu daripada seribu hari biasa. Sebab, ada yang tak bisa diulang, tak bisa diganti, tak bisa dihapus. “Lintang iku wis mlaku, tapi padhange isih katon”.
Setiap manusia pernah memiliki lintang masing-masing. Masing-masing punya cahaya sendiri, punya orbit sendiri, dan berjalan mengikuti irama batin manusia itu sendiri. Dan meski waktu terus bergerak, dan segala hal berubah, lintang itu tetap “mlaku”, sebagai pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang ada di depan mata, tetapi juga tentang apa yang pernah ada dan masih menyala di dalam hati.
Filsafat manusia bependapat bahwa kenangan bukan beban, tetapi dia dia bisa menjadi rumah. Dalam dunia yang terus berubah, di mana segala hal bisa pergi begitu cepat, kenangan adalah tempat pulang. Ia memberi kehangatan, memberi makna, memberi rasa bahwa hidup pernah sangat dalam. Tentu, rumah itu kadang sunyi, kadang penuh air mata, kadang juga penuh tawaria. Tetapi justru di sanalah keaslian manusia hadir. Ia tidak menyembunyikan apa-apa. Ia mengakui, ia menerima, dan ia menyimpan semuanya sebagai bagian dari hidup yang penuh warna.
Hidup manusia adalah rangkaian dari hadir dan tiada, datang dan pergi, menyala dan padam. Tapi cahaya sejati bukan yang paling terang, melainkan yang paling bertahan. Dan lintang-lintang kenangan itulah yang bertahan. Ia mungkin tidak menyilaukan, tapi selalu ada. Ia menjadi cahaya yang halus, tapi tak bisa padam. Bahkan ketika tubuh telah lelah, ketika napas telah satu-satu, lintang itu masih ada. Maka, ketika seseorang berkata “nganti mati ora bakal lali,” ia bukan sedang mengikat dirinya pada masa lalu, melainkan sedang menegaskan bahwa pengalaman yang sejati tidak bisa mati. Ia melampaui waktu. Ia abadi dalam bentuk yang tak kasat mata.
Akhirnya, ketika seseorang mengucapkan “la kae… lintange mlakuuu,” itu adalah seruan yang lahir dari perpaduan antara rasa yang paling dalam, kehilangan, dan penerimaan. Ia bukan sekadar ratapan, tetapi juga pengakuan. Pengakuan bahwa hidup tidak bisa selalu dipegang, tapi bisa diingat. Bahwa tidak semua kebahagiaan bisa diulang, tapi bisa disyukuri. Dan bahwa tidak semua cahaya bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Itulah kenapa lintang tetap mlaku. Karena ia hidup bukan di langit sana, tapi di dalam dada manusia yang tahu caranya mengenang. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Api yang Membakar Diri Sendiri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu mendapat kiriman keluhan dari sahabat lama tentang kondisi saat ini, melalui media sosialnya. Beliau mengeluh penggunaan media sosial yang sangat vulgar saat ini oleh banyak kalangan, dan beliau mempertanyakan bagaimana pendidikan etika saat ini yang sudah tergerus oleh teknologi. Rasa malu yang sudah entah minggat kemana, sehingga banyak orang sudah tidak memilikinya. Bisa dibayangkan ucapan bahkan aibnya sendiri diumbar tanpa rasa sungkan, apalagi risi. Keluhan sahabat tadi memicu dawai rasa untuk menuliskan apa yang sedang terjadi dari kacamata filsafat kontemporer.
Dunia maya kini telah menjadi panggung besar tempat manusia menampilkan segala sisi dirinya tanpa batas. Di sana, segala hal mengalir begitu cepat; pikiran, perasaan, bahkan hasrat yang paling pribadi sekalipun. Media sosial yang dahulu digadang sebagai alat untuk memperluas wawasan dan mempererat koneksi antarmanusia, kini tampak seperti ruang yang berisik, vulgar, dan sering kali kehilangan arah moral. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah ini merupakan kegagalan pendidikan? Ataukah justru ini adalah cermin jujur dari wajah pendidikan itu sendiri, yang sejak awal mungkin telah kehilangan jiwanya?
Jika kita menelusuri akar persoalannya, tampak bahwa media sosial bukanlah penyebab tunggal dari lunturnya moralitas. Ia hanyalah media, bagai cermin besar tempat manusia menatap pantulan dirinya sendiri. Namun ketika pantulan itu tampak kabur, penuh dengan ekspresi syahwat, ego, dan narsisisme, maka yang patut disalahkan bukan cerminnya, melainkan wajah yang dipantulkan di dalamnya. Media sosial, dalam hal ini, hanya memperlihatkan betapa rapuhnya fondasi nilai yang ditanamkan oleh sistem pendidikan dan kebudayaan kita. Ketika seseorang dengan mudah menayangkan tubuhnya, amarahnya, bahkan kehinaannya kepada dunia tanpa rasa malu, maka sesungguhnya ia sedang menegaskan bahwa nilai-nilai tentang rasa hormat, batas, dan tanggung jawab tidak lagi menjadi bagian dari kesadarannya.
Pendidikan yang sejati seharusnya tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan. Namun yang terjadi kini, pendidikan lebih sering berperan sebagai pabrik pengetahuan, yaitu mengajarkan manusia untuk memahami rumus, teori, dan konsep, tapi tidak untuk memahami dirinya sendiri. Manusia didorong untuk menjadi cerdas, produktif, dan kompetitif, tetapi tidak diarahkan untuk menjadi arif, sadar, dan beradab. Maka tak heran jika hasilnya adalah generasi yang pandai memanfaatkan teknologi, namun kehilangan arah dalam menggunakannya. Mereka mampu mengolah gambar, kata, dan algoritma, tetapi tak mampu mengolah makna, rasa, dan tanggung jawab.
Dari sudut pandang filsafat kontemporer, krisis moral di media sosial bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: hilangnya pusat nilai dalam kehidupan manusia modern. Dunia digital hidup dalam logika yang serba cepat, instan, dan visual. Nilai-nilai moral yang sejatinya tumbuh dalam permenungan dan refleksi menjadi tidak kompatibel dengan ritme digital yang tak memberi ruang bagi jeda. Segalanya harus segera: berpikir cepat, bereaksi cepat, menilai cepat. Dalam situasi seperti itu, moralitas yang membutuhkan kedalaman justru dianggap tidak relevan. Manusia menjadi seperti bayangan yang bergerak cepat tanpa arah, mengikuti arus data dan tren tanpa sempat bertanya: untuk apa semua ini?
Pendidikan moral yang diajarkan di sekolah sering kali berhenti pada tataran normative, yaitu sekadar daftar larangan dan perintah. Ia tidak lagi berbicara kepada hati dan kesadaran manusia, melainkan hanya kepada kepatuhan formal. Maka ketika individu masuk ke dunia yang tidak memiliki pengawasan langsung, seperti media sosial, ia kehilangan orientasi. Tanpa rasa takut pada otoritas eksternal, ia menunjukkan siapa dirinya sebenarnya: produk dari pendidikan yang gagal menanamkan kesadaran moral intrinsik. Dalam arti itu, benar bahwa kebobrokan moral di media sosial adalah kegagalan pendidikan, tetapi bukan kegagalan yang terjadi di ruang kelas belaka. Ia adalah kegagalan kolektif; kegagalan keluarga, masyarakat, bahkan sistem nilai yang menopang kehidupan bersama kita.
Menyalahkan pendidikan semata juga tidak cukup. Ada dimensi lain yang harus disadari: teknologi digital sendiri dibangun di atas logika kapitalisme global yang memonetisasi perhatian. Setiap klik, setiap gambar vulgar, setiap ekspresi emosi ekstrem memiliki nilai ekonomi. Platform digital dirancang untuk menstimulasi bagian otak yang haus akan penghargaan instan. Dalam ekosistem semacam ini, nilai moral tidak memiliki tempat yang menguntungkan secara finansial. Maka tidak mengherankan bila yang paling cepat menyebar adalah yang paling sensasional, bukan yang paling bernilai. Dalam arus itu, individu yang telah kehilangan kesadaran etis akan mudah terseret, mengira bahwa popularitas adalah ukuran kebermaknaan.
Ironisnya, di tengah kebisingan media sosial, manusia modern justru semakin kesepian. Ia mengumbar diri bukan karena percaya diri, tetapi karena haus pengakuan. Ia berteriak di ruang digital karena tak lagi mampu mendengar dirinya sendiri. Dalam kondisi ini, pendidikan moral seharusnya tidak lagi berbicara dengan bahasa hukuman dan dogma, melainkan dengan bahasa kesadaran dan empati. Ia harus mengajarkan manusia untuk menatap ke dalam, menyadari keterbatasannya, dan menghargai martabat dirinya sendiri.
Maka, pada akhirnya, apa yang kita saksikan di media sosial bukan hanya kegagalan pendidikan, melainkan juga kesempatan bagi manusia untuk memulai kembali. Dunia digital telah memperlihatkan betapa rapuhnya kita, dan kesadaran atas kerapuhan itu seharusnya menjadi titik tolak untuk membangun sistem pendidikan yang lebih manusiawi, pendidikan yang mengajarkan bagaimana menggunakan kebebasan dengan bijak, bagaimana menjaga kehormatan diri di tengah keterbukaan tanpa batas, dan bagaimana menjadi manusia yang utuh di tengah arus data yang melenakan.
Kebebasan yang sejati bukanlah kebebasan untuk menelanjangi diri, melainkan kebebasan untuk memilih tetap bermartabat ketika semua orang kehilangan rasa malu. Jika media sosial kini menjadi ruang yang vulgar, maka solusinya bukan dengan menutup ruang itu, melainkan dengan membuka kesadaran kita sendiri. Karena pada akhirnya, pendidikan moral yang paling hakiki tidak diajarkan di sekolah, melainkan dimulai dari keberanian untuk menatap diri dan bertanya: sudahkah aku benar-benar manusia di tengah dunia yang begitu bebas ini? Jawabannya kembali kepada hati nurani kita masing-masing yang paling dalam. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Ketika Kenangan Menjadi Rumahnya Jiwa
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hari itu kondisi sedang tidak baik-baik saja; entah mengapa otak sedang tidak mau diajak berfikir, rasa sedang tidak mau diajak “duduk”. Akibatnya untuk melakukan apapun, seolah kehilangan daya dorong; dan hanya bisa “deleg-deleg” dikursi kerja. Entah inspirasi atau keisengan, membuka media, terdengar lagu lawas oleh seorang maestro lagu daerah mendendangkan irama “Nganti mati ora bakal lali… la kae… lintange mlakuuu”. Ternyata dari penggalan itu dawai filsafat mulai bekerja untuk medorong pikir dan menuang rasa pada layar putih sebagai papan rekam kerja.
Kalimat ini bukan hanya sekadar barisan kata dengan nada puitis atau melankholis. Akan tetapi ungkapan rasa, sekaligus pernyataan eksistensial tentang pengalaman manusia yang paling hakiki: memiliki, kehilangan, mengingat, dan tetap menjaga dalam diam. Di dalamnya terletak inti dari keberadaan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari relasi dengan waktu, rasa, dan makna, sekalipun itu sudah menjadi masa lampau. Dan jika kita menyelami lebih dalam, maka kita akan menem ukan bahwa kalimat itu tidak hanya bicara tentang suka, akan tetapi juga tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan sebagai makhluk yang sadar, merasa, dan berpikir: tentang siapa dirinya, apa yang telah terjadi, dan mengapa ia tidak bisa melupakan.
Manusia hidup dalam waktu, tapi tidak hanya sebagai penumpang pasif. Ia merasakan waktu itu, dan dia menyimpan masa lalu dalam bentuk kenangan, membayangkan masa depan dalam bentuk harapan, dan berusaha memahami keduanya melalui permenungan yang berlangsung di masa k ini. Dalam proses itu, ada pengalaman-pengalaman tertentu yang tidak sekadar berlalu, tetapi membekas dan tinggal menetap. Laksana bintang yang pernah menyala terang di langit malam, kenangan itu tidak padam begitu saja meski telah jauh atau bahkan hilang dari pandangan. Justru karena ia pernah begitu terang, begitu nyata, maka lintangnya terus berjalan di langit hati, menjadi cahaya kecil yang menuntun langkah, kadang juga menjadi luka, namun tetap terus dihidupi.
Kenangan bukan sekadar ingatan. Ia adalah bagian dari struktur batin manusia. Setiap kenangan membawa serta rasa, makna, bahkan identitas. Ketika seseorang mengatakan, “aku tidak akan pernah lupa,” itu bukan sekadar karena ia tidak mau lupa, tapi karena ia tidak bisa. Lupa bukan pilihan, karena yang dikenang sudah melebur menjadi bagian dari jati diri. Maka, jika ada satu momen yang begitu dalam, maka kehadirannya tidak pernah benar-benar hilang. Meski secara fisik telah berlalu, ia terus hidup dalam bentuk lain: sebagai lintang yang mlaku, bintang yang berjalan, yang tetap menyala, menembus batas waktu dan ruang.
Dalam lintasan filsafat, manusia bukan sekadar tubuh yang hidup, tapi juga subjek yang mengalami. Ia tidak hanya menjalani hidup, tapi juga merefleksikannya. Ia merasakan kehilangan, dan tidak berhenti pada rasa sakit, tetapi mencoba memahami apa arti kehilangan itu. Di situlah muncul kesadaran mendalam bahwa tidak semua yang hilang bisa digantikan. Ada hal-hal yang hanya terjadi sekali dalam hidup, dan ketika ia lewat, yang tersisa hanyalah kenangan. Tapi justru karena ia hanya sekali itulah, ia menjadi sangat berarti. Maka, tidak mengherankan jika banyak manusia lebih mengingat satu momen tertentu daripada seribu hari biasa. Sebab, ada yang tak bisa diulang, tak bisa diganti, tak bisa dihapus. “Lintang iku wis mlaku, tapi padhange isih katon”.
Setiap manusia pernah memiliki lintang masing-masing. Masing-masing punya cahaya sendiri, punya orbit sendiri, dan berjalan mengikuti irama batin manusia itu sendiri. Dan meski waktu terus bergerak, dan segala hal berubah, lintang itu tetap “mlaku”, sebagai pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang ada di depan mata, tetapi juga tentang apa yang pernah ada dan masih menyala di dalam hati.
Filsafat manusia bependapat bahwa kenangan bukan beban, tetapi dia dia bisa menjadi rumah. Dalam dunia yang terus berubah, di mana segala hal bisa pergi begitu cepat, kenangan adalah tempat pulang. Ia memberi kehangatan, memberi makna, memberi rasa bahwa hidup pernah sangat dalam. Tentu, rumah itu kadang sunyi, kadang penuh air mata, kadang juga penuh tawaria. Tetapi justru di sanalah keaslian manusia hadir. Ia tidak menyembunyikan apa-apa. Ia mengakui, ia menerima, dan ia menyimpan semuanya sebagai bagian dari hidup yang penuh warna.
Hidup manusia adalah rangkaian dari hadir dan tiada, datang dan pergi, menyala dan padam. Tapi cahaya sejati bukan yang paling terang, melainkan yang paling bertahan. Dan lintang-lintang kenangan itulah yang bertahan. Ia mungkin tidak menyilaukan, tapi selalu ada. Ia menjadi cahaya yang halus, tapi tak bisa padam. Bahkan ketika tubuh telah lelah, ketika napas telah satu-satu, lintang itu masih ada. Maka, ketika seseorang berkata “nganti mati ora bakal lali,” ia bukan sedang mengikat dirinya pada masa lalu, melainkan sedang menegaskan bahwa pengalaman yang sejati tidak bisa mati. Ia melampaui waktu. Ia abadi dalam bentuk yang tak kasat mata.
Akhirnya, ketika seseorang mengucapkan “la kae… lintange mlakuuu,” itu adalah seruan yang lahir dari perpaduan antara rasa yang paling dalam, kehilangan, dan penerimaan. Ia bukan sekadar ratapan, tetapi juga pengakuan. Pengakuan bahwa hidup tidak bisa selalu dipegang, tapi bisa diingat. Bahwa tidak semua kebahagiaan bisa diulang, tapi bisa disyukuri. Dan bahwa tidak semua cahaya bisa dilihat, tapi bisa dirasakan. Itulah kenapa lintang tetap mlaku. Karena ia hidup bukan di langit sana, tapi di dalam dada manusia yang tahu caranya mengenang. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati dan Universiti Putra Malaysia Kunjungi Green House Ketahanan Pangan Desa Hajimena
Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan Community Health Service bertema “Sosialisasi Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui Pemanfaatan Ovitrap” yang dilaksanakan di desa tersebut. Tujuan kunjungan ini adalah untuk melihat langsung inovasi dan praktik ketahanan pangan berbasis masyarakat yang dikembangkan di Desa Hajimena, sekaligus memperkuat hubungan antara dunia akademik dan masyarakat lokal.
Turut hadir dalam kegiatan ini Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati, Dr. Lolita Sari, SKM., M.Kes., didampingi para Kaprodi dan dosen FIK, serta Plt. Kepala International Office, Syafik Arisandi, S.S., M.Kes. Dari pihak Desa Hajimena, kegiatan ini juga dihadiri oleh Anggota DPRD Provinsi Lampung Komisi IV, Wahrul Fauzi Silalahi, S.H., M.H., Ketua PKK Desa Hajimena, Rosni Abu Bakar, serta sejumlah kader kesehatan dan masyarakat setempat.
Dalam kesempatan tersebut, rombongan Universitas Malahayati dan Universiti Putra Malaysia berkeliling melihat berbagai hasil budidaya yang dikembangkan di Green House, mulai dari tanaman hortikultura hingga sayuran organik yang menjadi bagian dari program ketahanan pangan desa.
Dr. Lolita Sari, SKM., M.Kes., menyampaikan apresiasi terhadap kreativitas dan kemandirian masyarakat Desa Hajimena yang mampu mengelola sumber daya lokal menjadi program ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh masyarakat Hajimena. Program Green House ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga menunjukkan kesadaran tinggi terhadap lingkungan sehat dan berkelanjutan. Ini sejalan dengan semangat pengabdian masyarakat dan pemberdayaan komunitas yang kami dorong di Universitas Malahayati,” ujar Dr. Lolita.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kolaborasi lintas negara tidak hanya menghasilkan manfaat akademik, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat—menjadikan Desa Hajimena sebagai model desa yang sehat, produktif, dan berdaya secara mandiri. (gil)
Editor: Gilang Agusman
FIK Universitas Malahayati dan Universiti Putra Malaysia Gelar Pengabdian Masyarakat, Sosialisasi Pencegahan DBD Melalui Pemanfaatan Ovitrap di Desa Hajimena
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak dari lingkungan akademik, pemerintahan desa, serta tenaga kesehatan. Dari Universitas Malahayati, hadir Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, Dr. Lolita Sari, SKM., M.Kes., para Kaprodi dan dosen FIK, serta Plt. Kepala International Office, Syafik Arisandi, S.S., M.Kes.
Sementara itu, dari pihak Desa Hajimena, hadir Anggota DPRD Provinsi Lampung Komisi IV, Wahrul Fauzi Silalahi, S.H., M.H., Ketua PKK Desa Hajimena, Rosni Abu Bakar, Kepala UPTD Puskesmas Hajimena yang diwakili oleh Sri Wahyuni, S.ST selaku Pengelola Program DBD, serta Bidan Desa dan Kader Kesehatan Desa Hajimena.
“Kegiatan ini bukan hanya bentuk kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga ajang berbagi ilmu lintas negara. Melalui sinergi akademisi dan masyarakat, kita berharap dapat menekan angka kasus DBD dengan cara yang inovatif, salah satunya melalui pemanfaatan Ovitrap sebagai alat sederhana namun efektif dalam mengendalikan populasi nyamuk Aedes aegypti,” ujar Dr. Lolita dalam sambutannya.
Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan seperti ini menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa, baik dari Universitas Malahayati maupun Universiti Putra Malaysia, untuk memahami langsung kondisi lapangan serta tantangan dalam upaya pencegahan penyakit menular di masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih atas kegiatan ini. Sosialisasi dan pelatihan yang diberikan sangat bermanfaat bagi kader kesehatan dan masyarakat. Dengan pemanfaatan Ovitrap, masyarakat dapat turut serta aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mencegah penyebaran DBD secara mandiri,” ungkap Rosni.
Ia juga berharap agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut sehingga masyarakat Desa Hajimena semakin sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan pemberantasan sarang nyamuk.
Kegiatan ini turut dihadiri langsung oleh Wahrul Fauzi Silalahi, S.H., M.H., yang menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pengabdian masyarakat tersebut.
“Program seperti ini sangat baik karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Pencegahan DBD tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi perlu peran aktif masyarakat. Saya mengapresiasi kolaborasi antara perguruan tinggi lokal dan internasional yang membawa dampak nyata bagi desa,” ujar Wahrul. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Bupati Tanggamus Kasih Wejangan 5 Mahasiswa Universiti Putra Malaysia
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Lima mahasiswa Universiti Putra Malaysia (UPM) yang tengah menjalani Student Mobility Program: Clinical Elective Placement (CEP) 2025 di Universitas Malahayati (Unmal), melakukan kunjungan kehormatan ke Rumah Dinas Bupati Kabupaten Tanggamus,
Kunjungan tersebut dihadiri oleh para mahasiswa UPM, yaitu Nazirul Mubin, Harith Hazmi, Farah Liza, Zulaikha Nasron, dan Fareesha Hana, yang merupakan peserta program internasional hasil kerja sama antara Universiti Putra Malaysia dan Universitas Malahayati. Dalam kunjungan ini, para mahasiswa UPM didampingi oleh Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes (Ka. Biro Kemahasiswaan Unmal) dan Emil Tanhar, S.Kom (Kabag Humas Unmal) yang langsung disambut hangat oleh Bupati Tanggamus Drs. H. Mohammad Saleh Asnawi, M.A., M.H. didampingi oleh Irvan Wahyudi, ST, MM (Asisten I Pemkab Tanggamus), Drs. Rakhman Husin, MM (Plt.Kepala Dinas Pendidikan) Maryani, S. Kep. Ners (Kabag Kerjasama Setdakb. Tanggamus) Novrizal Mulkan (Kabid Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Tanggamus) Ivan Rinaldo HR (Analis Data Ilmiah Bapperida) Rio Apriansyah (Analis Pemanfaatan IPTEK Bapperida).
Silaturahmi dan kunjungan singkat yang berlangsung hangat dan akrab ini menjadi ajang pertukaran gagasan dan pandangan terkait dunia pendidikan, kesehatan, serta potensi kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Universiti Putra Malaysia melalui Universitas Malahayati.
Bupati Tanggamus Drs. H. Mohammad Saleh Asnawi, M.A., M.H. dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat mengapresiasi atas kunjungan mahasiswa internasional tersebut.
“Saya menyambut dengan hangat kehadiran para mahasiswa dari Universiti Putra Malaysia yang sedang menjalani Student Mobility Program: Clinical Elective Placement (CEP) 2025 di Universitas Malahayati. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa kerja sama antaruniversitas lintas negara tidak hanya memperkuat hubungan akademik, tetapi juga mempererat persaudaraan antara Indonesia dan Malaysia.”
Program seperti ini sangat penting untuk memperluas wawasan, memperdalam pengalaman lintas budaya, serta menumbuhkan semangat kolaborasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Saya berharap para mahasiswa dapat mengambil banyak pelajaran berharga selama berada di Lampung, serta membawa kesan baik tentang keramahan masyarakat dan kekayaan budaya daerah ini.
Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Malahayati yang telah memfasilitasi program internasional ini dengan baik. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk terus belajar, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan dunia.”
Sementara itu Ricko Gunawan, S.Kep., M.Kes, selaku Kepala Biro Kemahasiswaan Universitas Malahayati, menyampaikan bahwa kunjungan ini menjadi bagian penting dari rangkaian program mobility yang tidak hanya fokus pada kegiatan akademik, tetapi juga membangun nilai-nilai sosial dan kepemimpinan.
“Kami ingin para mahasiswa memperoleh pengalaman yang lebih luas, tidak hanya di ruang perkuliahan atau rumah sakit, tetapi juga memahami bagaimana kepemimpinan dan pemerintahan daerah bekerja. Itu akan menjadi nilai tambah bagi mereka dalam pengembangan karakter dan profesionalitas,” ujar Ricko.
Emil Tanhar, S.Kom, Kepala Bagian Humas Universitas Malahayati juga menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi dan keramahan masyarakat Lampung, khususnya Kabupaten Tanggamus.
“Kami berharap para mahasiswa UPM membawa kesan positif tentang Indonesia, tentang Lampung, dan khususnya tentang Tanggamus. Ini juga sekaligus menjadi promosi daerah dalam konteks hubungan antarbangsa di bidang pendidikan,” jelas Emil.
Perwakilan mahasiswa Universiti Putra Malaysia (UPM) yang mengikuti Student Mobility Program: Clinical Elective Placement (CEP) 2025 di Universitas Malahayati menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaan mereka atas sambutan hangat masyarakat Lampung selama menjalani program tersebut.
Salah satu perwakilan mahasiswa UPM menyampaikan bahwa pengalaman belajar dan berinteraksi di Lampung memberikan kesan mendalam yang tak terlupakan.
“Kami merasa sangat diterima di sini. Masyarakat Lampung ramah, dosen dan staf di Universitas Malahayati sangat membantu, dan kami belajar banyak hal baru — baik di bidang klinis maupun kehidupan sosial,” ungkapnya.
Selain mengikuti kegiatan akademik di rumah sakit dan universitas, para mahasiswa juga berkesempatan menikmati kuliner khas Lampung, seperti Nyeruit, Bakso Sony, Nasi Uduk Toha yang memberikan pengalaman cita rasa tersendiri. Mereka juga mengunjungi sejumlah objek wisata populer, di antaranya Pulau Pahawang.
HUMAS
Sekda Provinsi Lampung Terima Kunjungan Mahasiswa Universiti Malaysia dalam Rangka Student Mobility Program Di Unmal
Bandarlampung (malahayati.ac.id): Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Lampung Dr. Marindo Kurniawan, S.T., M.M., menerima kunjungan tujuh mahasiswa Universiti Putra Malaysia (UPM) yang tengah menjalani Student Mobility Program: Clinical Elective Placement (CEP) 2025 di Universitas Malahayati, jumat (31/10/2025).
Kunjungan para mahasiswa UPM kali ini diwakili oleh Hanis Farhana, Nurdeena Shukriah, Nur Fareesha Hana, Farrah Asyiqin, Nurul Azrin, Sharifah Ruqayyah, Zulaikha yang merupakan peserta program internasional hasil kerja sama antara Universiti Putra Malaysia dan Universitas Malahayati.
Dalam kunjungan ini, para mahasiswa UPM didampingi oleh Bapak Romy J Utama, SE., M.Sos. Ahmad Iqbal, S.S (Ka Biro Administrasi Akademik), Syafik arisandi S.S., M.kes (Ka Kerjasama Internasional) yang langsung disambut hangat oleh Sekda Provinsi Lampung Bapak Dr. Marindo Kurniawan, S.T., M.M. didampingi oleh Ganjar Jationo, SE., M.AP (Kadis Kominfo provinsi lampung).
Silaturahmi dan kunjungan singkat yang berlangsung hangat dan akrab ini menjadi ajang pertukaran gagasan dan pandangan terkait dunia pendidikan, kesehatan, serta potensi kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Lampung dan Universiti Putra Malaysia melalui Universitas Malahayati.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Lampung Dr. Marindo Kurniawan, S.T., M.M., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih dan sangat mengapresiasi atas kunjungan mahasiswa internasional tersebut.
“Kami sangat menyambut baik dan bangga atas kehadiran para mahasiswa dari Universiti Putra Malaysia ke Provinsi Lampung. Saya secara pribadi juga ingin menyampaikan bahwa selama berkegiatan di Lampung, diharapkan para tamu dapat memperoleh kesan yang baik, serta dapat memberikan informasi positif kepada pihak Universitas Putra Malaysia dan juga kepada rekan-rekan di Malaysia. Hal ini berarti bahwa kunjungan kali ini tidak hanya berhenti sampai di sini, tetapi diharapkan dapat dilanjutkan dengan kunjungan berikutnya, baik untuk berwisata maupun untuk kegiatan lainnya di Provinsi Lampung.”
Sementara itu, Bapak Romy J Utama,SE., M.Sos. menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi yang baik antara Universitas Malahayati dan Universitas Putra Malaysia. Mahasiswa dari Universitas Putra Malaysia telah bermukim di Lampung selama kurang lebih tiga minggu, dan selama itu mereka memberikan kesan yang sangat positif. Selama kegiatan di Universitas Malahayati maupun di rumah sakit, para mahasiswa menunjukkan antusiasme yang tinggi, serta turut menikmati kehangatan budaya lokal dan beragam kuliner khas Lampung yang menjadi pengalaman berharga bagi mereka.
Disisi lain, Ahmad Iqbal S.S (Ka Biro Administrasi Akademik) dan Syafik arisandi S.S., M.kes (Ka Kerjasama Internasional) menambahkan bahwasanya Student Mobility Program: Clinical Elective Placement (CEP) 2025 di Universitas Malahayati ini akan ada kunjungan balasan yang akan dikirim ke Universiti Putra Malaysia untuk melakukan kegiatan akademik dan kegiatan wisata ke malaysia.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa UPM, tetapi juga mempererat hubungan persahabatan antara Malaysia dan Indonesia, khususnya antara Universitas Malahayati dan Universiti Putra Malaysia.
Humas
Mahasiswa Universiti Putra Malaysia (UPM) Kunjungi Rumah Dinas Wali Kota Metro dalam Rangka Student Mobility Program di Universitas Malahayati
Kunjungan tersebut dihadiri oleh para mahasiswa UPM yaitu Nazirul Mubin, Harith Hazmi, Farah Liza, Zulaikha Nasron, dan Fareesha Hana, yang merupakan peserta program internasional hasil kerja sama antara Universiti Putra Malaysia dan Universitas Malahayati.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban ini menjadi ajang pertukaran gagasan dan pandangan terkait dunia pendidikan, kesehatan, serta potensi kolaborasi antara Kota Metro dan Universiti Putra Malaysia melalui Universitas Malahayati.
“Kami sangat menyambut baik kehadiran para mahasiswa dari Universiti Putra Malaysia di Kota Metro. Kunjungan ini bukan hanya mempererat hubungan antara dua institusi pendidikan, tetapi juga membuka peluang kerja sama lintas negara dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Kami berharap para mahasiswa dapat mengambil banyak pengalaman dan pengetahuan selama berada di Indonesia, khususnya di Universitas Malahayati,” ujar Walikota Metro.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kehadiran mahasiswa asing di Metro menjadi bukti bahwa kota ini semakin dikenal sebagai kota yang ramah pendidikan dan memiliki potensi besar dalam pengembangan kerja sama internasional.
“Metro terus berkomitmen untuk menjadi kota yang terbuka terhadap kolaborasi global, terutama dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Kami bangga Universitas Malahayati menjadi bagian dari gerakan ini,” imbuhnya.
Disisi lain, Kepala Humas dan Protokol Universitas Malahayati, Emil Tanhar, S.Kom., menambahkan bahwa kegiatan Student Mobility Program ini merupakan bagian dari upaya kampus dalam memperkuat jaringan akademik internasional dan memberikan pengalaman lintas budaya bagi mahasiswa.
Kunjungan ke Rumah Dinas Wali Kota Metro menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan mahasiswa UPM selama mengikuti Clinical Elective Placement di Universitas Malahayati. Para mahasiswa juga dikenalkan dengan kebudayaan, sistem kesehatan, dan pemerintahan daerah di Kota Metro.
Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperluas wawasan mahasiswa UPM, tetapi juga mempererat hubungan persahabatan antara Malaysia dan Indonesia, khususnya antara Universitas Malahayati dan Universiti Putra Malaysia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Asah Kemampuan Analisis Data, Prodi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Bootcamp “Statistik Jadi Asik”
Kegiatan yang diikuti oleh 204 mahasiswa angkatan 2022 ini dirancang sebagai wadah pembekalan keterampilan analisis data bagi mahasiswa yang tengah mempersiapkan penelitian dan penyusunan tugas akhir.
Statistik memegang peranan penting dalam penelitian ilmiah, khususnya dalam pendekatan kuantitatif. Melalui statistik, peneliti dapat mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan data numerik secara objektif untuk menguji hipotesis dan menarik kesimpulan yang valid. Dalam bidang ilmu sosial dan ekonomi, kemampuan memahami serta mengolah data statistik menjadi keterampilan esensial yang menentukan kualitas hasil penelitian.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana, Harold Kevin Alfredo, S.E., M.B.A, yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang turut mendukung terselenggaranya acara tersebut.
“Bootcamp ini diadakan untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan praktis dalam pengolahan dan analisis data. Harapannya, kegiatan ini dapat mempermudah mahasiswa dalam menyusun tugas akhir serta menghasilkan penelitian yang berkualitas,” ujar Harold.
• Dr. Febrianty, S.E., M.Si dengan materi “Tips & Trik Pembuatan Kuesioner Penelitian yang Benar dan Pemanfaatan AI”
• Euis Mufahamah, S.E., M.Ak yang membahas teknik pengolahan data menggunakan SPSS
• Muhammad Irfan Pratama, S.E., M.E yang mengulas pengujian data melalui EViews
• Reza Hardian Pratama, S.E., M.M yang memaparkan metode analisis data dengan SmartPLS
Keempat narasumber tersebut tidak hanya memberikan penjelasan teoritis, tetapi juga memandu peserta secara langsung melalui simulasi dan praktik, sehingga mahasiswa dapat memahami proses pengolahan data secara lebih aplikatif.
Kegiatan Bootcamp ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa Manajemen untuk mengasah keterampilan riset yang lebih tajam, ilmiah, dan relevan dengan kebutuhan akademik maupun dunia kerja. Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa mampu menghasilkan penelitian yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik manajerial.
“Statistik bukan sekadar angka, tetapi alat untuk memahami fenomena sosial-ekonomi secara mendalam. Dengan bekal ini, mahasiswa diharapkan lebih percaya diri dan terampil dalam melakukan penelitian berbasis data,” tutup salah satu narasumber. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Pasar Ilang Kumandange
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Akhir-akhir ini dalam media sosial banyak menampilkan pasar yang ditinggalkan pembeli; dari pasar besar setingkat grosir, sampai pasar ditingkat kecamatan, bahkan pedesaan. Peristiwa ini mengingatkan pesan Pujangga Besar pada jamannya, yaitu Ranggawarsita, yang mengulas tanda-tanda “jaman” yang mengarah kepada “kehancuran”. Sebelum lebih jauh kita membahas, sebaiknya kita memahami siapa Ranggawarsita itu. Beliau adalah pujangga besar Jawa dari Surakarta (1802–1873), dikenal sebagai pujangga terakhir Keraton. Ia menulis karya sastra dan ramalan berisi kritik sosial serta kebijaksanaan hidup. Beberapa karya terkenal Ranggawarsita antara lain: Serat Kalatidha, Serat Sabdajati, Serat Wedhatama, Serat Pustakaraja Purwa, dan Serat Jaka Lodhang. Ranggawarsita memang dikenal sebagai penulis Serat Jangka Jayabaya, sebuah karya yang berisi ramalan-ramalan masa depan, termasuk tentang hilangnya keramaian pasar. Dalam Serat Jangka Jayabaya, terdapat petikan yang berbunyi:
“Mbesuk yen ana kreta mlaku tanpo jaran, tanah Jawa kalungan wesi, prahu mlaku ing dhuwur awang-awang, kali ilang kedunge, pasar ilang kumandange.”
Secara keseluruhan, “Pasar Ilang Kumandange” adalah bagian dari ramalan Jayabaya yang menggambarkan perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam hal hilangnya keramaian pasar tradisional.
Ungkapan “pasar ilang kumandange” selalu menggema sebagai salah satu frasa paling puitis sekaligus paling getir dari khazanah kebijaksanaan Jawa. Di dalamnya tersimpan renungan yang jauh melampaui sekadar keluhan sosial atau ramalan masa depan. Ia adalah pantulan kesadaran seorang pujangga yang menyaksikan dunia berubah begitu cepat, dan manusia di dalamnya perlahan kehilangan gema dirinya sendiri.
Pasar dalam pandangan budaya Jawa bukanlah sekadar tempat transaksi. Ia adalah lambang dari kehidupan dunia, tempat manusia saling bertemu, bertukar bukan hanya barang tetapi juga rasa, pandangan, bahkan nasib. Suara pasar seperti: tawar-menawar, tawa, teriakan, panggilan, dan canda, itu adalah simbol dari denyut kehidupan manusia itu sendiri. Maka ketika sang pujangga berkata “pasar ilang kumandange”, yang ia maksud bukan sekadar pasar sepi pembeli, tetapi dunia yang kehilangan getar kehidupan. Suara manusia meredup, interaksi menjadi dingin, dan dunia berubah menjadi ruang tanpa gema.
Di sini, kata “kumandang” menjadi sangat penting. Dalam bahasa Indonesia, kumandang berarti suara yang bergema, pantulan bunyi yang menandakan adanya kehidupan, ruang, dan kehadiran. Tetapi dalam kedalaman batin Jawa, kumandang juga berarti getaran hidup yang menyatukan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi. Hilangnya kumandang berarti padamnya resonansi antara manusia dan dunia, antara lahir dan batin, antara cipta, rasa, dan karsa. Dunia tetap ada, tetapi kehilangan jiwa.
Dalam konteks itu, “pasar ilang kumandange” dapat dibaca sebagai pernyataan ontologi, yaitu dunia kehilangan “ada”-nya. Ranggawarsita melihat bagaimana arus zaman membawa manusia masuk ke dalam dunia yang penuh aktivitas tetapi miskin makna. Orang bekerja, berdagang, bergaul, namun semua berlangsung tanpa kesadaran mendalam. Aktivitas menjadi rutinitas, relasi menjadi mekanis, dan kehidupan menjadi semacam mesin yang berjalan tanpa tujuan spiritual. Dunia yang dulu hidup kini menjadi kosong, seperti wadah tanpa isi. Inilah yang disebut krisis ontologis: keberadaan kehilangan kehadirannya. Dalam istilah para pemikir modern, manusia telah lupa akan keberadaan; ia terperangkap dalam kejatuhan eksistensial, hidup di tengah hiruk-pikuk tanpa sempat mendengarkan gema dirinya sendiri.
Dalam pandangan Jawa, dunia bukanlah sekadar ruang material. Dunia adalah harmoni antara jagad gedhe (alam semesta), jagad cilik (manusia), dan sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan Ilahi). Ketika pasar kehilangan kumandangnya, berarti keseimbangan antara tiga ranah itu telah rusak. Manusia tidak lagi berelasi dengan alam secara selaras, tidak lagi berinteraksi dengan sesamanya secara hangat, dan tidak lagi menyapa Tuhan secara khusyuk. Dunia menjadi bisu bukan karena tidak ada suara, tetapi karena manusia tidak lagi mampu mendengar.
Krisis yang digambarkan Ranggawarsita kini menemukan bentuk paling nyata dalam dunia modern. Kita hidup di zaman ketika pasar benar-benar kehilangan kumandangnya dalam arti harfiah. Pasar tradisional yang dulu menjadi ruang sosial kini tergantikan oleh layar-layar digital. Interaksi manusia berpindah dari tatapan mata menjadi ketukan jari. Suara manusia berganti dengan notifikasi. Kumandang berubah menjadi algoritma. Dunia menjadi sangat efisien, tetapi juga sangat sunyi. Manusia saling terhubung, tetapi tidak benar-benar bersentuhan. Teknologi menciptakan kenyamanan, namun sekaligus menjarakkan manusia dari rasa kemanusiaannya sendiri.
Ungkapan “pasar ilang kumandange” pada akhirnya bukanlah kutukan, melainkan peringatan. Ia adalah ajakan untuk merenung tentang makna menjadi manusia di tengah perubahan yang tak terbendung. Ia mengingatkan bahwa suara sejati kehidupan bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri yang sadar. Selama manusia masih mampu mendengar gema batinnya, selama ia masih bisa merasakan denyut kehidupan yang sejati, maka kumandang itu tidak akan benar-benar hilang. Dunia akan tetap bergema, dan manusia akan tetap menjadi manusia. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Pendidikan Kedokteran Universitas Malahayati Kunjungi Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Dapatkan Pembekalan Program Puskesmas Sesuai Permenkes No. 9 Tahun 2024
Dalam kesempatan tersebut, dr. Festy Ladyani, M.Kes selaku dosen pengampu blok CHOP, menjelaskan bahwa kegiatan lapangan seperti ini sangat penting untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap penerapan kedokteran komunitas.
Kunjungan ini juga menjadi momen penting bagi mahasiswa untuk mendapatkan pembekalan langsung dari Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung terkait program-program Puskesmas yang telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 9 Tahun 2024.
Para pemateri dari Dinas Kesehatan yang hadir dan memberikan penjelasan dalam kegiatan ini antara lain:
• drg. Santi Sundari, M.Kes
• Leni Syahnimar, SKM., MH
• Leni Septiana, SKM
• W.D. Ari Pratama Ade Putra, SKM
• Ria Rachmawati, S.Kom
• Dini Ariyanti, SKM., M.Kes
Materi yang disampaikan mencakup penjabaran lima klaster utama Puskesmas berdasarkan Permenkes No. 9 Tahun 2024, yaitu:
1. Klaster 1: Alur administrasi Puskesmas
2. Klaster 2: Kesehatan ibu hamil, bayi, balita, dan anak
3. Klaster 3: Kesehatan remaja, dewasa, dan lansia
4. Klaster 4: Penyakit menular dan tidak menular
5. Klaster 5: Lintas sektoral (pelayanan poli, farmasi, IGD, laboratorium, dan lainnya)
Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Dekan Akademik Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, dr. Neno Fitriyani Hasbie, M.Kes, Ka.Prodi Pendidikan Dokter, Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, bersama dosen prodi pendidikan dokter dr. Mira Aprilika, M.Biomed.
Dengan adanya kunjungan ini, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati terus berkomitmen membekali mahasiswanya dengan kompetensi akademik dan keterampilan lapangan yang sejalan dengan kebijakan dan kebutuhan sektor kesehatan di Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman