Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hampir disetiap senja daerah ini selalu mendapatkan limpahan rahmat berupa hujan, walaupun terkadang rintik, namun tidak jarang juga deras, sehingga berakibat banjir dibeberapa ruas jalan masuk komplek. Seperti biasa senja itu hujan juga datang, ternyata benar yang dikatakan ajaran agama “hujan adalah rahmat”; karena pada saat itu kita dapat dengan bebas membaca tanpa harus berucap, melihat kemudian meresapi fenomena alam yang ada. Sedang asyik mengikuti jalannya pikiran yang menelisik fenomena alam yang sedang terjadi dengan memandang titik air hujan, tiba-tiba ada pesan masuk dari sahabat karib seorang jurnalis senior; maka diskusi virtual berlangsung; dan jadilah judul di atas mewakili suasana kebatinan kami berdua saat itu.
Makna filosofis dari “membaca tanpa kata” bisa ditafsirkan dalam beberapa lapisan makna yang dalam dan reflektif. Frasa ini mengandung nuansa kontemplatif yang membuka ruang tafsir lebih luas dari sekadar aktivitas membaca secara literal. Berdasarkan literatur digital ditemukan informasi beberapa makna filosofis yang bisa dimunculkan:
Pertama. Membaca dengan Hati, Bukan Hanya Mata
Artinya, kita menangkap makna, pesan, atau suasana dari sesuatu tanpa harus ada kata-kata tertulis atau terucap. Misalnya, membaca ekspresi wajah seseorang, suasana alam, atau getaran perasaan—itu semua adalah “teks” yang tak tertulis tapi bisa “dibaca” oleh jiwa yang peka. Oleh karena itu dalam konsep filsafat manusia ada diksi yang terkenal bertulis “kadang, diam lebih lantang daripada kata.” Jadi tidak salah jika banyak ulama menganjurkan untuk banyak diam mengingat Allah dari pada bicara tidak berguna.
Kedua. Pemahaman Mendalam Melampaui Bahasa
Bahasa kata itu terbatas. Tapi realitas, pengalaman, dan makna hidup seringkali tak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata. Oleh karena itu “membaca tanpa kata” adalah menyentuh makna dengan kesadaran langsung, tanpa harus melalui perantara simbol bahasa. Oleh karena itu filsuf terkenal pada zamannya berkata “dimana pencerahan datang bukan dari logika verbal, tapi dari keheningan batin”. Dalam istilah Jawa posisi ini sering disebut dengan “mesu budi”.
Ketiga. Belajar dari Alam dan Kehidupan
Alam semesta, kejadian sehari-hari, bahkan keheningan, semuanya menyampaikan pelajaran. “membaca tanpa kata” di sini bisa berarti belajar dari alam, merenungi hidup, atau menyimak hikmah dari segala sesuatu tanpa harus dijelaskan secara eksplisit. Oleh karena itu “pohon tidak berbicara, tapi ia mengajarkan keteguhan.”
Keempat. Intuisi dan Kebijaksanaan Batin
Kadang, kita tahu sesuatu bukan karena kita membacanya dalam buku, tapi karena intuisi dan pengalaman batin. Itu adalah bentuk “membaca tanpa kata” – sejenis pemahaman yang datang dari kesadaran terdalam. Kalau dihubungkan dengan konteks budaya Jawa atau filosofi Nusantara, ini bisa sejalan dengan konsep seperti rasa, hening, atau ilmu tanpa tutur. Ada kebijaksanaan yang hanya bisa dipahami dalam keheningan dan perasaan halus. Oleh karena itu tidak salah dalam tataran tertinggi dari aras pendidikan itu adalah pendidikan kontemplatif.
Filosofi pendidikan kontemplatif dalam konteks “membaca tanpa kata” merupakan ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk logika dan kata-kata, lalu masuk ke ruang hening tempat makna sejati berbicara dalam diam. Filosofi ini punya akar dalam banyak tradisi spiritual dan budaya, secara lebih runtut dpat dijelaskan:
1. Pengetahuan Sejati Tidak Selalu Berbentuk Kata
“Kata hanya bungkus, makna tinggal dalam rasa.” Filosofi ini berpijak pada gagasan bahwa ada pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dihayati. Pendidikan kontemplatif mengajak kita untuk mengalami langsung kebenaran melalui pengamatan batin, keheningan, dan intuisi, bukan sekadar membaca atau mendengar penjelasan.
2. Diam Adalah Gerbang Pemahaman
“Hening bukan hampa, tapi penuh jawaban.” Dalam keheningan, pikiran tak lagi bercabang, dan hati menjadi lebih peka. Melalui diam, menyimak, dan hadir sepenuhnya, seseorang bisa menangkap pesan-pesan halus dari dunia, manusia lain, atau semesta. Oleh sebab itu pendidikan kontemplatif menempatkan hening sebagai metode, bukan sekadar suasana. Ini adalah cara belajar yang tidak terburu-buru mengejar jawaban, tapi menunggu hingga makna menyatakan dirinya sendiri.
3. Kesadaran Adalah Guru Sejati
“Pendidikan kontemplatif tidak memberi ilmu, tapi membangkitkan kesadaran.” Filosofi ini tidak menekankan pada pemindahan pengetahuan, melainkan pada penyalaan cahaya batin. Guru bukan pusat segala tahu, tapi pendamping laku. Murid tidak pasif menerima, tapi aktif menyimak dunia dengan mata batin.
4. Membaca Rasa, Isyarat, dan Tanda
“Tidak semua yang penting terucap; tidak semua yang benar tertulis.” Membaca tanpa kata berarti belajar menangkap makna dari isyarat, rasa, atau peristiwa. Ini adalah pendidikan tentang membaca kehidupan sebagai teks yang tak tertulis. Sebagai contoh menangkap maksud di balik diamnya seseorang, atau memahami pesan dalam alam yang berubah.
5. Pendidikan Sebagai Jalan Spiritual, Bukan Sekadar Proses Akademik
“Belajar adalah ibadah batin menuju pulang ke dalam.” Pendidikan kontemplatif menyatukan pikiran, rasa, dan jiwa. Ia bukan sekadar mendidik agar “tahu” atau “cerdas”, tetapi agar bijak dan sadar. Pendidikan ini membawa kita lebih dekat ke jati diri dan ketenangan dalam memahami hidup.
Oleh sebab itu, prinsip kunci Filosofi Pendidikan Kontemplatif adalah: “Rasa lebih utama daripada logika – Diam lebih penuh daripada kata – pengalaman lebih dalam daripada teori – Kehadiran lebih penting daripada hafalan – Transformasi batin lebih utama daripada nilai angka”. Pertanyaan tersisa apakah lembaga pendidikan kita, terutama pada jenjang doktoral sudah mencapai tingkat ini. Jawabannya ada pada relung hati kita masing-masing, terutama para doktor dan calon doktor yang sedang bergiat. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Membaca Tanpa Kata
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Hampir disetiap senja daerah ini selalu mendapatkan limpahan rahmat berupa hujan, walaupun terkadang rintik, namun tidak jarang juga deras, sehingga berakibat banjir dibeberapa ruas jalan masuk komplek. Seperti biasa senja itu hujan juga datang, ternyata benar yang dikatakan ajaran agama “hujan adalah rahmat”; karena pada saat itu kita dapat dengan bebas membaca tanpa harus berucap, melihat kemudian meresapi fenomena alam yang ada. Sedang asyik mengikuti jalannya pikiran yang menelisik fenomena alam yang sedang terjadi dengan memandang titik air hujan, tiba-tiba ada pesan masuk dari sahabat karib seorang jurnalis senior; maka diskusi virtual berlangsung; dan jadilah judul di atas mewakili suasana kebatinan kami berdua saat itu.
Makna filosofis dari “membaca tanpa kata” bisa ditafsirkan dalam beberapa lapisan makna yang dalam dan reflektif. Frasa ini mengandung nuansa kontemplatif yang membuka ruang tafsir lebih luas dari sekadar aktivitas membaca secara literal. Berdasarkan literatur digital ditemukan informasi beberapa makna filosofis yang bisa dimunculkan:
Pertama. Membaca dengan Hati, Bukan Hanya Mata
Artinya, kita menangkap makna, pesan, atau suasana dari sesuatu tanpa harus ada kata-kata tertulis atau terucap. Misalnya, membaca ekspresi wajah seseorang, suasana alam, atau getaran perasaan—itu semua adalah “teks” yang tak tertulis tapi bisa “dibaca” oleh jiwa yang peka. Oleh karena itu dalam konsep filsafat manusia ada diksi yang terkenal bertulis “kadang, diam lebih lantang daripada kata.” Jadi tidak salah jika banyak ulama menganjurkan untuk banyak diam mengingat Allah dari pada bicara tidak berguna.
Kedua. Pemahaman Mendalam Melampaui Bahasa
Bahasa kata itu terbatas. Tapi realitas, pengalaman, dan makna hidup seringkali tak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan kata-kata. Oleh karena itu “membaca tanpa kata” adalah menyentuh makna dengan kesadaran langsung, tanpa harus melalui perantara simbol bahasa. Oleh karena itu filsuf terkenal pada zamannya berkata “dimana pencerahan datang bukan dari logika verbal, tapi dari keheningan batin”. Dalam istilah Jawa posisi ini sering disebut dengan “mesu budi”.
Ketiga. Belajar dari Alam dan Kehidupan
Alam semesta, kejadian sehari-hari, bahkan keheningan, semuanya menyampaikan pelajaran. “membaca tanpa kata” di sini bisa berarti belajar dari alam, merenungi hidup, atau menyimak hikmah dari segala sesuatu tanpa harus dijelaskan secara eksplisit. Oleh karena itu “pohon tidak berbicara, tapi ia mengajarkan keteguhan.”
Keempat. Intuisi dan Kebijaksanaan Batin
Kadang, kita tahu sesuatu bukan karena kita membacanya dalam buku, tapi karena intuisi dan pengalaman batin. Itu adalah bentuk “membaca tanpa kata” – sejenis pemahaman yang datang dari kesadaran terdalam. Kalau dihubungkan dengan konteks budaya Jawa atau filosofi Nusantara, ini bisa sejalan dengan konsep seperti rasa, hening, atau ilmu tanpa tutur. Ada kebijaksanaan yang hanya bisa dipahami dalam keheningan dan perasaan halus. Oleh karena itu tidak salah dalam tataran tertinggi dari aras pendidikan itu adalah pendidikan kontemplatif.
Filosofi pendidikan kontemplatif dalam konteks “membaca tanpa kata” merupakan ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk logika dan kata-kata, lalu masuk ke ruang hening tempat makna sejati berbicara dalam diam. Filosofi ini punya akar dalam banyak tradisi spiritual dan budaya, secara lebih runtut dpat dijelaskan:
1. Pengetahuan Sejati Tidak Selalu Berbentuk Kata
“Kata hanya bungkus, makna tinggal dalam rasa.” Filosofi ini berpijak pada gagasan bahwa ada pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dihayati. Pendidikan kontemplatif mengajak kita untuk mengalami langsung kebenaran melalui pengamatan batin, keheningan, dan intuisi, bukan sekadar membaca atau mendengar penjelasan.
2. Diam Adalah Gerbang Pemahaman
“Hening bukan hampa, tapi penuh jawaban.” Dalam keheningan, pikiran tak lagi bercabang, dan hati menjadi lebih peka. Melalui diam, menyimak, dan hadir sepenuhnya, seseorang bisa menangkap pesan-pesan halus dari dunia, manusia lain, atau semesta. Oleh sebab itu pendidikan kontemplatif menempatkan hening sebagai metode, bukan sekadar suasana. Ini adalah cara belajar yang tidak terburu-buru mengejar jawaban, tapi menunggu hingga makna menyatakan dirinya sendiri.
3. Kesadaran Adalah Guru Sejati
“Pendidikan kontemplatif tidak memberi ilmu, tapi membangkitkan kesadaran.” Filosofi ini tidak menekankan pada pemindahan pengetahuan, melainkan pada penyalaan cahaya batin. Guru bukan pusat segala tahu, tapi pendamping laku. Murid tidak pasif menerima, tapi aktif menyimak dunia dengan mata batin.
4. Membaca Rasa, Isyarat, dan Tanda
“Tidak semua yang penting terucap; tidak semua yang benar tertulis.” Membaca tanpa kata berarti belajar menangkap makna dari isyarat, rasa, atau peristiwa. Ini adalah pendidikan tentang membaca kehidupan sebagai teks yang tak tertulis. Sebagai contoh menangkap maksud di balik diamnya seseorang, atau memahami pesan dalam alam yang berubah.
5. Pendidikan Sebagai Jalan Spiritual, Bukan Sekadar Proses Akademik
“Belajar adalah ibadah batin menuju pulang ke dalam.” Pendidikan kontemplatif menyatukan pikiran, rasa, dan jiwa. Ia bukan sekadar mendidik agar “tahu” atau “cerdas”, tetapi agar bijak dan sadar. Pendidikan ini membawa kita lebih dekat ke jati diri dan ketenangan dalam memahami hidup.
Oleh sebab itu, prinsip kunci Filosofi Pendidikan Kontemplatif adalah: “Rasa lebih utama daripada logika – Diam lebih penuh daripada kata – pengalaman lebih dalam daripada teori – Kehadiran lebih penting daripada hafalan – Transformasi batin lebih utama daripada nilai angka”. Pertanyaan tersisa apakah lembaga pendidikan kita, terutama pada jenjang doktoral sudah mencapai tingkat ini. Jawabannya ada pada relung hati kita masing-masing, terutama para doktor dan calon doktor yang sedang bergiat. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Prodi dan HIMA Keperawatan Universitas Malahayati Gelar Kuliah Pakar: Kupas Strategi Komunikasi Efektif dalam Keperawatan di Era Digital
Acara ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta civitas akademika Universitas Malahayati. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kaprodi S1 Keperawatan dan Profesi Ners, Aryanti Wardiyah, Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya penguasaan strategi komunikasi yang humanis dan adaptif di tengah tantangan era digital.
“Komunikasi efektif menjadi kunci utama dalam pelayanan keperawatan. Tidak hanya komunikasi secara klinis, tetapi juga bagaimana perawat mampu membangun hubungan baik dengan pasien dan keluarganya melalui pendekatan public relations yang tepat,” ujar Aryanti.
Sesi kuliah pakar menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya. Narasumber pertama, Razie Razak, M.I.Kom., CIQaR., CIQnR. dari Telkom University, memaparkan tentang konsep dan peran Public Relations dalam dunia keperawatan. Ia menekankan bahwa PR bukan hanya milik dunia bisnis atau pemerintahan, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan modern.
“Public Relations dalam keperawatan adalah upaya membangun citra positif layanan, memperkuat kepercayaan publik, dan menciptakan keterhubungan emosional antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Semua itu dimulai dari komunikasi yang tulus dan strategis,” terang Razie.
“Perawat adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Maka kemampuan public speaking, personal branding, serta komunikasi digital menjadi kebutuhan yang tak bisa diabaikan,” ungkap Prima.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga membuka wawasan mahasiswa untuk lebih siap menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif dan serba digital. Mahasiswa diajak untuk melihat profesi keperawatan dari sudut pandang yang lebih luas: sebagai profesi pelayanan sekaligus representasi institusi kesehatan di mata publik.
Dengan semangat kolaborasi dan pembelajaran lintas disiplin, Kuliah Pakar ini diharapkan dapat menumbuhkan generasi perawat yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga cakap dalam berkomunikasi dan membangun hubungan yang hangat dengan pasien dan keluarga mereka. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Lakukan Rotasi Jabatan Struktur Organisasi Jajaran Rektorat
Acara ini juga dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, termasuk Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT, Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, serta para kepala bagian seperti Humas dan Protokol serta Kepegawaian.
Berikut adalah nama-nama pejabat yang dilantik dalam rotasi jabatan kali ini: Dewi Yuliasari, S.SiT., Bdn., M.Kes menggantikan Ledy Octaviani Iqmi, SST., Bdn., M.Kes sebagai Sekretaris Prodi DIII Kebidanan. Dr. Usastiawati Cik Ayu S I, S.Kep., Ns. menggantikan Khoidar Amirus, SKM., M.Kes sebagai Sekretaris Prodi S2 Kesehatan Masyarakat. Fijri Rahmawati, SST., M.Keb menggantikan Vida Wira Utami, SST., M.Kes sebagai Ketua Prodi S1 Kebidanan.Khoidar Amirus, S.KM., M.Kes kini menjabat sebagai Wakil Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan, menggantikan Djunizar Djamaluddin, S.Kep., Ns., M.S. Nurul Isnaini, SST., M.Kes menggantikan Vida Wira Utami, SST., M.Kes sebagai Ketua Prodi Profesi Bidan.
Dengan dilantiknya para pejabat baru ini, Universitas Malahayati berharap akan terjadi akselerasi dalam pencapaian visi dan misi institusi, serta pelayanan pendidikan yang semakin berkualitas. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Membakar Suratnya Sendiri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa waktu lalu saat turun dari kegiatan ritual subuh di mushala, berbincang dengan sesama jamaah dengan topik “ikhlas”. Tentu saja karena beragam pengetahuan dan kedalaman masing-masing pemahaman yang berbeda; maka pendefinisian tentang ikhlas ini beragam. Saat sampai di rumah, lanjut untuk menelusuri makna ikhlas yang sesungguhnya itu seperti apa. Hasil penelusuran digital ditemukan uraian yang sangat menarik jika dilihat dari konsep filsafat.
Imam Al-Ghazali merumuskan tentang ikhlas dengan suatu simbol — “seperti orang yang membakar suratnya sendiri setelah mengirimkannya, agar tak ada yang tahu selain Sang Maha Mengetahui dan tujuan surat itu dilayangkan” — adalah simbolis dan penuh makna batin. Bisa dibayangkan seseorang menulis surat untuk seseorang yang dicintainya. Setelah dikirimkan, kemudian salinan surat itu dibakar, agar tak ada yang tahu isi surat itu — hanya si pengirim dan si penerima.
Jika konteks ini disimbolkan kepada kita saat berdo’a maka, surat itu adalah amal perbuatan atau do’a, dan si penerima adalah Tuhan. Maka, membakar surat sama dengan menghapus jejak niat untuk dipuji, diingat, atau dihargai oleh siapa pun, selain Tuhan. Jika kita maknai secara filosofis, berarti kita sedang menutup ruang ego. Maknanya, jika kita menyimpan salinan surat (amal), bisa jadi kita ingin membanggakannya di masa depan — entah pada orang lain, atau pada diri sendiri. Oleh karena itu Imam Ghazali mengajarkan: “lepaskan semua itu. Jangan mengklaim kebaikanmu”.
Hal ini juga menunjukkan bahwa kita dapat melampaui kesadaran sosial; maksudnya dunia sosial penuh dengan pujian, validasi, suka/tidak suka — tapi ikhlas itu berlaku di ruang batin, sunyi dari keramaian. Dengan kata lain saat kita “membakar surat”, berarti kita menutup pintu dari keinginan dinilai oleh siapa pun kecuali “Dia”.
Hal ini juga menunjukkan totalitas ketulusan; maksudnya Ikhlas itu bukan setengah-setengah. Membakar surat berarti juga kita tidak menyisakan bukti, tidak ingin diakui — bahkan oleh diri kita sendiri. Oleh sebab itu pada posisi ini kita harus hati hati, bisa jadi dimana kita beranggapan bahkan berucap bahwa “aku telah ikhlas”; itupun bisa jadi jebakan ego, sekaligus sesungguhnya menunjukkan ketidakihlasan.
Lebih jauh para sufi mengatakan bahwa ikhlas itu makna spiritualnya: mengandung laku fana (lenyapnya aku) — bahwa dalam amal sejati, “aku tak penting, yang penting adalah Dia”. Oleh karena itu ada ungkapan sufi yang terkenal mengatakan :”Ya Allah, aku berbuat bukan karena aku mulia, tapi karena Engkau pantas menerima segalanya.”
Oleh sebab itu jika kita refleksikan dengan sejumlah pertanyaan: apakah kita benar-benar rela berbuat baik tanpa disadari siapa pun termasuk diri kita?. Bisakah kita tetap berbuat baik walau tak pernah ada yang tahu, mengingat, atau membalas?. Tentu jawabannya sangat subyektif dan sangat personal.
Salah satu nukilan tentang ini adalah satu pernyataan sufi dari Abu Yazid al-Bistami yang mengatakan “orang yang masih melihat dirinya ikhlas, sejatinya belum ikhlas.” Yang maknanya: selama masih merasa bahwa “akulah yang ikhlas”, itu berarti masih ada aku di sana. Ikhlas sejati adalah saat kau beramal dan bahkan lupa bahwa dirinya telah beramal. Dengan kata lain amal yang ikhlas adalah amal yang tak diketahui siapa pun, bahkan oleh diri sendiri.
Oleh karenanya, dalam jalan sufi, seseorang tidak mengejar ikhlas, karena jika kita mengejarnya, berarti kita masih mengejar sesuatu. Sementara yang kita kejar adalah mahabbah (cinta) kepada Allah. Dari cinta yang tulus, muncullah amal yang ikhlas — tanpa dipaksa, tanpa dibuat-buat. Oleh karenanya Rābiʿah al-ʿAdawiyyah berkata “Aku menyembah-Mu bukan karena takut neraka, dan bukan juga karena ingin surga, tapi karena aku mencintai-Mu.”
Ikhlas adalah keadaan batin yang hanya bisa diraih lewat cinta, kehancuran ego, dan kesadaran bahwa tiada daya selain dari-Nya. Oleh karena itu “amalmu bukan milikmu. Bila kau anggap itu milikmu, maka kau telah mengotorinya.” Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Terjebak Pada Pilihan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Selepas hari lebaran Idhul Fitri banyak kerabat kembali ke asal dengan menggunakan sejumlah moda angkutan. Ada pengalaman menarik dari mereka adalah terjebak pada pilihan; yaitu mereka berasumsi bahwa pada saat hari lebaran kendaraan masih jarang dan lalu lintas lancar. Mereka memutuskan untuk berangkat kembali ke rumah dua jam setelah usai sholat Id agar tidak terjebak kemacetan. Ternyata keluarga yang berfikir demikian bukan hanya dirinya; banyak keluarga lain yang berasumsi sama. Akhirnya mereka terjebak pada kemacetan panjang yang memakan waktu lebih lama dari yang mereka duga.
Ternyata asumsi seperti ini tidak hanya saat berkendaraan; banyak jalan kehidupan yang dihadapkan pada pilihan, dan pilihan itu seolah jebakan yang tidak dapat dihindari. Berdasarkan penelusuran digital makna simbolis ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Makna dari “terjebak pada pilihan” bisa dilihat dari beberapa sudut pandang, tapi secara umum, frasa ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa tidak benar-benar bebas dalam memilih, meskipun tampaknya ada opsi yang tersedia. Ada semacam tekanan, kebingungan, atau ketidakpastian yang membuat pilihan itu terasa seperti jebakan, bukan kebebasan.
Beberapa makna diantaranya: Pertama, Kebingungan dan keraguan. Seseorang bisa merasa terjebak karena tidak tahu mana yang terbaik. Semua pilihan punya risiko, dan rasa takut salah membuatnya tidak bisa melangkah. Kedua, Pilihan yang terbatas atau sama-sama buruk. Kadang, semua opsi yang tersedia tidak ideal, sehingga memilih salah satu terasa seperti mengorbankan sesuatu. Maka, walaupun “memilih”, sebenarnya tidak ada pilihan yang benar-benar diinginkan. Ketiga, Tekanan dari luar. Bisa jadi seseorang merasa harus memilih karena tuntutan sosial, keluarga, pasangan, atau pekerjaan. Jadi, meskipun tampaknya ia yang memilih, sebenarnya ia hanya mengikuti arus. Keempat, Konflik batin. Hati ingin satu hal, tapi logika atau realita mendorong ke arah lain; maka, apapun yang dipilih terasa salah atau berat.
Ternyata terjebak pada pilihan jika dilihat dari sudut pandang filsafat tidak sesederhana frasenya. Hal itu dapat diuraikan bahwa: Filosofi dari “terjebak pada pilihan” bisa dikaitkan dengan beberapa aliran atau pemikiran dalam filsafat, terutama yang berkaitan dengan kebebasan, kehendak, dan eksistensi. Ini beberapa pendekatan filosofis yang bisa memberi makna lebih dalam:
1. Eksistensialisme – Jean-Paul Sartre, Kierkegaard, Simone de Beauvoir.
Eksistensialis percaya bahwa manusia bebas memilih, tapi kebebasan itu bukan hal ringan. Justru karena terlalu bebas, manusia sering merasa cemas, takut, dan bahkan “terjebak” dalam pilihan-pilihannya sendiri.
“Man is condemned to be free.” – Sartre.
Maknanya: Kita harus memilih, tapi tiap pilihan membentuk makna hidup kita, dan itu tanggung jawab besar. Saat kita bingung, itu bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena semua pilihan menuntut kita untuk menjadi sesuatu.
2. Determinisme vs. Kebebasan
Dari sisi determinisme, ada gagasan bahwa kita tidak sepenuhnya bebas karena semua pilihan kita dipengaruhi oleh faktor luar—kondisi sosial, budaya, sejarah pribadi. Maka, terjebak pada pilihan bisa berarti sadar bahwa kita sedang “dipaksa” memilih dalam batas-batas yang sudah ditentukan.
3. Stoikisme – Seneca, Epictetus, Marcus Aurelius
Stoik percaya bahwa yang bisa kita kendalikan hanya batin dan respons kita. Kalau kita merasa terjebak pada pilihan, itu karena kita mengikat diri pada hal-hal di luar kendali. Filosofinya adalah melepaskan keterikatan dan menerima apa yang terjadi dengan kebijaksanaan.
4. Taoisme – Laozi
Dalam Taoisme, ada ide bahwa terlalu banyak berpikir dan memilih bisa membuat kita kehilangan “aliran alami” kehidupan. Wu wei—tidak memaksa, membiarkan segala sesuatu mengalir—adalah kunci. Saat kita merasa terjebak, mungkin karena kita melawan arus yang seharusnya kita ikuti.
Jika kita ringkaskan kesimpulan Filosofisnya ialah, “Terjebak pada pilihan” adalah momen eksistensial. Ia menyingkap kerapuhan kita sebagai manusia yang ingin kebebasan tapi takut akan konsekuensinya. Ia menguji apakah kita sungguh hidup dengan sadar, atau hanya bereaksi pada tekanan luar.
Banyak peristiwa di dunia ini menggiring manusia terjebak pada pilihan, dan pilihan itu tidak bisa diulang atau dihindari. Akibatnya kita sering menerima akibat dari sesuatu sebab yang tidak kita kehendaki. Dengan kata lain kita berada pada posisi harus memilih dari suatu pilihan yang sejatinya semua tidak kita pilih; akibatnya kita berada pada lingkar pilihan yang tidak mengenakkan. Memang dalam alam demokrasi ada pilihan untuk tidak memilih juga suatu pilihan; akan tetapi itu jika yang dipilih tidak memiliki ikatan dalam bentuk apapun. Berbeda jika pilihan yang harus dipilih itu diajukan oleh mereka yang memiliki ikatan yang bentuknya bisa beragam. Tentu saja keadaan ini akan memposisikan yang memilih masuk ke dalam kondisi terjebak pada pilihan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Kerja Sama Riset Genetik Forensik Antara Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan BRIN Teken Perjanjian Kolaborasi Penelitian
Penandatanganan perjanjian ini adalah wujud nyata dari kunjungan Tim Pusat Riset Biomedis BRIN yang dipimpin oleh Prof. Dr. Sunarno pada April 2024. Kunjungan tersebut bertujuan untuk menjajaki peluang kolaborasi riset antara Pusat Riset Biomedis BRIN dan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Fokus utama dari kolaborasi ini adalah pengembangan riset dalam bidang genetik forensik molekuler, yang nantinya akan digunakan untuk membantu identifikasi individu berdasarkan profil DNA, terutama dalam konteks bencana masal yang sering terjadi di Provinsi Lampung.
Selain itu, Provinsi Lampung sering menghadapi potensi bencana alam, yang dapat menghasilkan jenazah dalam kondisi yang sangat bervariasi, mulai dari yang utuh, sebagian utuh, hingga yang telah membusuk, terbakar, atau terkubur. Oleh karena itu, penelitian ini akan sangat berguna dalam mengidentifikasi individu yang tidak dikenal, khususnya dalam situasi bencana masal.
Dari pihak Pusat Riset Biomedis BRIN, Dr. Abdul Hadi Furqoni, S.Kep., M.Si, yang turut terlibat dalam koordinasi teknis penelitian, juga menambahkan, “Penelitian ini akan menjadi milestone penting dalam riset forensik di Indonesia, khususnya dalam menangani identifikasi korban bencana di wilayah yang sangat beragam secara genetik seperti Lampung.”
Kolaborasi antara Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan Pusat Riset Biomedis BRIN ini bukan hanya membuka peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan di bidang genetik, tetapi juga diharapkan dapat memberikan solusi praktis dalam menghadapi tantangan identifikasi jenazah pasca-bencana. Penelitian ini juga berpotensi untuk menghasilkan database profil DNA personal yang dapat digunakan untuk keperluan identifikasi di masa mendatang, baik dalam konteks hukum maupun sosial.
Ke depan, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan instrumen identifikasi DNA yang khusus ditujukan untuk masyarakat Suku Lampung. Hal ini tentu akan memberikan kontribusi besar terhadap keamanan dan kemajuan riset forensik di Indonesia.
Dengan adanya kerja sama ini, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan BRIN membuka babak baru dalam riset biomedis dan forensik di Indonesia. Diharapkan, kolaborasi ini akan membawa manfaat yang lebih luas, tidak hanya bagi masyarakat Lampung, tetapi juga bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan dalam menghadapi berbagai tantangan bencana dan identifikasi personal. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Rektor Universitas Malahayati Gelar Halal Bihalal Bersama Pimpinan Organisasi Kemahasiswaan dan Alumni, Satukan Langkah Menuju Kampus Unggul
Hadir dalam kegiatan ini Wakil Rektor I Prof. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes., Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT., serta Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes. Acara tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menyelaraskan visi dalam membangun Universitas Malahayati yang lebih maju dan unggul.
“Halal bihalal adalah momen sakral yang menyatukan kita dalam semangat kebersamaan. Kita tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan hati yang bersih, untuk kembali merajut komunikasi, memperbaiki hubungan, dan memperkuat kepercayaan antar semua elemen di kampus ini,” ujar Rektor Kadafi.
Ia menegaskan bahwa Universitas Malahayati saat ini terus bergerak meningkatkan mutu pendidikan, kualitas riset, dan pelayanan publik. Tidak hanya itu, ia juga mengungkapkan target besar universitas ke depan, yaitu meraih status sebagai kampus unggul secara nasional dan mampu bersaing di tingkat global.
“Kami memiliki komitmen kuat untuk menjadikan Universitas Malahayati sebagai kampus unggulan. Untuk itu, dibutuhkan sinergi yang solid antara mahasiswa, alumni, dan seluruh sivitas akademika. Roda organisasi kemahasiswaan harus terus berjalan dengan baik. Mahasiswa harus menjadi agen perubahan, sedangkan alumni harus tetap menjadi inspirasi dan mitra strategis dalam pembangunan kampus,” tambahnya.
“Halal bihalal bukan hanya tentang silaturahmi, tapi juga tentang membangun kembali semangat kolektif. Mahasiswa dan alumni adalah dua pilar penting dalam ekosistem kampus. Mahasiswa menjadi motor penggerak organisasi, sementara alumni adalah wajah nyata keberhasilan universitas di masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya organisasi kemahasiswaan sebagai ruang tumbuh yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial. Kepada alumni, ia menyampaikan apresiasi atas segala bentuk dukungan, serta berharap kolaborasi antara universitas dan alumni dapat terus ditingkatkan dalam bentuk nyata — mulai dari mentoring, jejaring kerja, hingga pengembangan program bersama.“Mari kita perkuat sinergi ini, bukan hanya dalam seremoni, tapi dalam aksi nyata. Kampus ini adalah rumah kita bersama,” pungkasnya.
Kegiatan halal bihalal ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka, kerja sama yang lebih erat, dan semangat baru dalam menyongsong masa depan Universitas Malahayati yang unggul, maju, dan membanggakan. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Viral, antara Ilusi dan Prestasi
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Akhir-akhir ini jagad dunia maya berkembang begitu pesat, baik isi maupun ragamnya. Teknologi informasi tampaknya sedang tumbuh dan berkembang begitu pesat, karena memudahkan suatu peristiwa menyebar luas tanpa tenggang waktu yang cukup lama. Lima belas tahun yang lalu hal seperti ini baru merupakan mimpi bahkan ilusi; walaupun sudah diberi peringatan dini, banyak pihak tidak percaya bahkan abai akan dekade ini.
Begitu pesat perkembangan teknologi, sehingga dapat dimanfaatkan oleh siapapun, dengan maksud apapun, sehingga menjadikan apa saja menjadi terbuka untuk diketahui oleh siapa saja. Sekat-sekat sosial, jarak, waktu; sudah bukan menjadi hambatan; justru menjadi momentum untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sehingga dari kepala daerah sampai orang biasa, atau bukan siapa-siapa dapat membuat dan kemudian mengunggahnya untuk dapat diviralkan.
Saat ini sedang menjadi “hias layar” Gubernur, Bupati, Pemuka Agama, ahli mekanik, pemerhati, pendidik , menampilkan acara singkatnya dengan harapan apa yang diinginkan cepat menyebar luas di tengah masyarakat melalui dunia maya. Atas nama “mengedukasi masyarakat” mereka mengejar rating sekaligus mendapatkan imbalan dari penyelenggara media. Oleh sebab itu ada diantara mereka mendapatkan penghasilan yang cukup besar dari kegiatan seperti ini.
Lebih jauh kita menelisik tentang ini; bersumber dari berbagai pustaka digital ditemukan informasi secara filosofis sebenarnya makna dari Ungkapan “prestasi apa ilusi” mengandung pertanyaan mendalam tentang makna dan nilai dari apa yang kita sebut sebagai prestasi. Berikut beberapa interpretasi dan makna yang bisa ditarik:
1. Pertanyaan tentang Makna Sejati Prestasi
Ungkapan ini mengajak kita untuk merenungkan apakah pencapaian yang kita raih atau yang dinilai oleh masyarakat benar-benar mencerminkan keberhasilan yang hakiki. Dengan kata lain, apakah apa yang kita anggap sebagai “prestasi” hanyalah suatu konstruksi atau gambaran ilusi, yang pada akhirnya tidak memiliki substansi atau arti mendalam dalam kehidupan?
2. Kritik Terhadap Standar Sosial
Di era modern, standar keberhasilan sering kali diukur dari pencapaian materiil, pengakuan sosial, atau reputasi. Ungkapan ini bisa dilihat sebagai kritik terhadap kecenderungan tersebut, yaitu bahwa:
Nilai Prestasi Relatif: Apa yang dianggap sebagai prestasi bisa berbeda-beda tergantung pada norma sosial dan budaya yang berlaku.
Superfisialitas: Penghargaan dan pencapaian yang terlihat cemerlang di permukaan belum tentu mencerminkan kualitas, dedikasi, atau kebahagiaan sejati seseorang.
3. Refleksi atas Realitas dan Harapan
Ungkapan ini juga mengandung dimensi reflektif, mengajak setiap individu untuk: Pertama, mengevaluasi Tujuan Hidup: Apakah pencapaian yang dikejar hanya untuk memenuhi ekspektasi eksternal atau memang sejalan dengan nilai dan keinginan pribadi?. Kedua, menerima Ketidaksempurnaan: Di balik sorotan gemerlap prestasi, ada realitas kehidupan yang kadang tak seindah penampilannya. Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak semua pencapaian bersifat permanen atau benar-benar “nyata.”
4. Mengajak pada Pemikiran Kritis
Dengan mengajukan pertanyaan “prestasi apa ilusi”, kita didorong untuk: Pertama, mempertanyakan Sistem Penilaian: Bagaimana kita mengukur kesuksesan? Apakah melalui pencapaian yang tampak atau melalui proses dan pertumbuhan pribadi?. Kedua, mengutamakan Makna Personal: Mungkin pencapaian yang sejati adalah yang memberi kepuasan batin dan memberikan dampak positif, bukan semata-mata pengakuan dari pihak luar.
Secara keseluruhan, ungkapan “prestasi apa ilusi” merupakan undangan untuk menilai ulang arti sebenarnya dari kesuksesan dan pencapaian. Ini menantang kita untuk berpikir apakah pencapaian yang kita kejar hanyalah bayangan yang dibentuk oleh harapan dan norma sosial, ataukah merupakan realitas yang bermakna dalam konteks kehidupan dan nilai-nilai pribadi. Ungkapan ini membuka ruang untuk diskusi mengenai bagaimana kita mendefinisikan keberhasilan dan apakah kita sebaiknya mencari kepuasan dari dalam diri daripada terpaku pada standar yang dibentuk oleh masyarakat.
Tak terbayangkan sebelumnya bahwa setiap momen peristiwa saat ini dapat seketika diunggahsiarkan kepada khalayak maya; sehingga apapun kejadiannya bisa dengan cepat merambatsebar keseluruh penjuru. Namun sayangnya banyak diantara kita tidak sadar bahwa apapun peristiwanya akan membuat penilaian berbelah tiga; pertama yang mendukung, kedua netral, ketiga antipati. Diksi yang dipilihpun tidak jarang membuat terperangah pembacanya, karena sering dengan pilihan yang fulgar; bahkan seolah tak bernorma. Tetapi itulah kenyataan dunia maya, manakala kita tidak siap menghadapinya, lebih baik cukup membaca dan melihatnya. Pengambilan jarak aman seperti inipun bukan berarti kita terbebas dari emosi. Oleh sebab itu pendewasaan berfikir harus terus kita lakukan agar tidak terjebak kepada kesesatan berfikir; sehingga kita masih waras untuk membedakan mana prestasi dan mana yang hanya ilusi. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Datang dan Pergi
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Mendapat kiriman berita duka dari seorang sahabat yang ibunda tercintanya meninggal dunia, atau dalam budaya Jawa dikenal dengan “lelayu”; tentu secara otomatis meluncur doa untuk almarhum semoga surga tempatnya, diampuni segala dosanya, dan dilipatgandakan ganjaran amal sholehnya. Peristiwa itu membangkitkan kenangan mendalam kepada almarhum dan almarhumah kedua orang tua dahulu yang pergi menghadap Sang Khalik beriringan, dengan selisih waktu tiga hari pada tahun 2006 dalam usia 106 Tahun dan 98 tahun.
Ternyata semua itu menunjukkan bukti bahwa dunia ini bagai “bandara besar” yang menampung penumpang datang dan pergi/berangkat. Ada yang harus menunggu lama karena pesawat yang harus ditumpangi belum tiba; namun ada juga yang baru tiba langsung naik pesawat berangkat ke tujuannya. Adapun jeda waktu masing-masing penumpang itu berbeda-beda; juga pesawat yang dinaiki dengan maskapai penerbangan yang tidak sama pula. Ada yang datang dan berangkat dengan “maskapai” yang sama; namun ada juga datang dan pergi dengan maskapai yang berbeda.
Berdasarkan penelusuran literatur digital diksi “datang dan pergi, dunia bagai bandara” dalam filsafat adalah pernyataan yang sangat bermakna dan bisa ditafsirkan secara mendalam. Diantara makna dari kalimat ini ialah:
1. Filsafat sebagai sesuatu yang dinamis
Kalimat ini menggambarkan bahwa filsafat tidak pernah diam—ia datang dengan pertanyaan, pergi dengan jawaban (atau sebaliknya), lalu datang lagi dengan pertanyaan baru. Seperti di bandara, di mana orang-orang datang dan pergi, demikian pula ide-ide filsafat: tak pernah menetap selamanya, selalu berganti, selalu dinamis. Oleh karena itu jika mereka yang sudah ada pada wilayah filsafat, tidak pernah berhenti memikirkan hakekat sesuatu, setiap peristiwa dan kejadian apapun namanya.
2. Dunia sebagai tempat perlintasan
Mengibaratkan dunia sebagai bandara menunjukkan bahwa hidup ini sementara, tempat singgah saja. Dalam konteks ini, filsafat hadir untuk memberi makna dalam “transit kehidupan” ini. Tapi sebagaimana di bandara, filsafat pun tidak permanen; ia bisa datang saat kita sedang mencari arah, lalu menghilang saat kita merasa “sudah sampai”.
3. Keterasingan dan pencarian makna
Bandara juga bisa diartikan sebagai tempat di mana orang asing berkumpul—tidak ada yang benar-benar tinggal di sana. Ini bisa mencerminkan rasa keterasingan manusia di dunia, dan filsafat adalah “penumpang” yang datang menemani dalam waktu tertentu, memberi refleksi atau kejelasan, lalu pergi lagi.
4. Kritik terhadap konsumerisme ide
Kalimat itu juga bisa dibaca secara lebih sinis: bahwa kini filsafat diperlakukan seperti komoditas yang “datang dan pergi”, bukan lagi sebagai jalan hidup, tapi sebagai tren, seperti orang lalu-lalang di bandara—cepat, instan, dan seringkali tanpa kedalaman.
Oleh karena itu tidak heran jika di bandara besar ini “penumpang” nya bertingkah macam-macam; ada yang duduk manis dengan segala perenungannya, ada yang asyik dengan dirinya sendiri, ada yang mengejar barang-barang branded dalam etalase, ada yang bersendagurau, dan masih banyak lagi. Oleh karenanya ada penumpang yang begitu menikmati seolah tidak akan “pergi” dari sana, ada yang ingin sekali cepat berangkat karena sudah lelah ataupun jenuh, ada juga yang biasa-biasa saja; namun tidak sedikit yang tidak tahu harus berbuat apa.
Semua akan menaiki pesawatnya masing-masing setelah ada “panggilan” akan keberangkatannya. Dan, panggilan itu tidak dapat ditunda sejenakpun, karena jadwal yang ada bersifat permanen sekaligus imanen. Tidak ada seorangpun pengantar yang bisa masuk ke dalam “pesawat”; semua persoalan harus diselesaikan sendiri.
Demikian halnya yang dibawa; ada penumpang yang membawa begitu banyak bawaan, namun tidak sedikit yang hanya berlenggang karena merasa diri yakin dengan “kartu sakti” yang ada di sakunya. Merasa “amalnya” sudah cukup sebagai bekal untuk menuju tujuan; namun ada juga yang was-was apakah “kartu”nya bisa menyelesaikan segala persoalan, penumpang yang model begini hanya pasrah akan takdirnya. Dan, masing-masing penumpang akan sibuk dengan dirinya sendiri, sekalipun itu suami istri, kakak adik, saudara. Seolah ada sekat diri pada masing-masing dalam melanjutkan “perjalanan abadi” itu.
Tidaklah salah peringatan dini yang ditulis oleh para winasis terdahulu “jangan terlalu pusing memikirkan dunia, sampai sampai membuat tidak sadar kalau sebenarnya kita sedang antri untuk meninggalkannya”. Kalau sudah begini pertanyaan tersisa “masihkah kita harus berebut dengan isi dunia, yang jelas-jelas akan kita tinggalkan jika waktunya tiba”. Masihkah kita terus mengejar fatamorgana dunia hingga lupa akan darah daging kita yang semua nanti akan dimintai pertanggungjawabannya. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
“Sumeleh”
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu ada seorang “piyantun ngayojokarto hadiningrat” yang sudah cukup lama kenal dan tinggal di daerah ini; pada kesempatan itu beliau mengirimkan satu vidio yang berisi bagaimana sikap hidup “sumeleh” dalam budaya Jawa. Tentu saja media itu sering diputar untuk merenungkan apa esensi pesan yang disampaikan; terutama yang berkaitan dengan pengenalan pandangan hidup sekaligus pandangan batin akan ciptaan Yang Maha Kuasa.
Menarik untuk dicermati apa itu sumeleh dalam pemahaman filsafat manusia. Berdasarkan penelusuran digital ditemukan penjelasan esensial sebagai berikut: dalam filsafat manusia (Jawa), “sumeleh” adalah konsep penting yang menggambarkan sikap pasrah dengan penuh kesadaran dan ketulusan kepada kehendak Tuhan (Gusti Allah), tanpa kehilangan semangat hidup atau tanggung jawab pribadi.
Secara etimologis dan filosofis, sumeleh berasal dari kata dasar seleh yang berarti “meletakkan” atau “menyerahkan”. Maka sumeleh dapat dimaknai sebagai meletakkan diri dalam kepasrahan total kepada kehendak Ilahi, namun tetap berusaha dengan ikhlas dan tidak terikat hasil.
Dengan demikian, esensi dari sumeleh adalah: pasrah aktif – bukan menyerah tanpa usaha, tapi berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Oleh sebab itu dalam pandangan filsafat Jawa, konsep tawakal lekat dengan kesadaran rasa (rasa sejati). Salah satu cirinya adalah mewujudkan inner peace (ketenangan batin) – orang yang sumeleh tidak mudah galau, tidak larut dalam kekhawatiran, karena percaya semua sudah dalam kendali Tuhan. Oleh karenanya diperlukan sikap rendah hati – mengakui keterbatasan diri di hadapan yang Maha Kuasa.
Konsep sumeleh dalam filsafat Jawa memang tidak berdiri sendiri—ia erat kaitannya dengan prinsip-prinsip lain seperti nerima, legawa, dan eling lan waspada. Semuanya saling mendukung dan membentuk satu kesatuan nilai hidup yang dalam.
Hubungan sumeleh dengan nerima, legawa, serta eling lan waspada adalah: nerima (nrimo ing pandum) – menerima dengan ikhlas apa yang diberikan oleh Tuhan. Nerima adalah pondasi dari sumeleh. Orang yang nerima tidak protes terhadap nasib atau takdir, tetapi menerimanya sebagai bagian dari kehendak Ilahi. Tetapi bukan berarti pasif—ia tetap berusaha, hanya saja hatinya tidak ngoyo dan tidak serakah. Hubungannya dengan sumeleh adalah: orang tidak bisa sumeleh kalau belum bisa nerima. Sumeleh lahir dari hati yang nerima.
Sementara legawa (ikhlas lahir batin) – melepaskan dengan lapang dada. Legawa adalah kemampuan untuk tidak terikat, termasuk terhadap hasil, orang lain, bahkan ego sendiri. Oleh karena itu dalam hidup, kita harus siap menerima kehilangan, kegagalan, atau perlakuan tidak adil tanpa dendam. Hubungannya dengan sumeleh: sumeleh butuh legawa agar tidak terbebani oleh kekecewaan atau penyesalan. Dengan legawa, kita bisa menyerahkan segala sesuatu dengan ringan.
Sedangkan eling lan waspada – selalu ingat pada Tuhan dan waspada terhadap godaan duniawi. Penjelasannya eling berarti sadar—bahwa hidup ini fana, bahwa kita hidup dalam skenario Tuhan. Waspada artinya hati-hati, waspada terhadap hawa nafsu, ambisi berlebih, dan ego.
Hubungannya dengan sumeleh: agar bisa sumeleh, seseorang harus punya kesadaran spiritual (eling) dan tidak lengah dalam hidup (waspada). Tanpa ini, sumeleh bisa jadi sekadar alasan untuk malas atau pasrah buta.
Sumeleh = Nerima + Legawa + Eling + Waspada. Keempatnya adalah laku batin yang menuntun seseorang menuju ketenangan jiwa, kebijaksanaan, dan harmoni dengan alam dan Tuhan. Namun bukan berarti sumeleh adalah hasil jumlah dari keempat unsur; tetapi lebih kepada terintegrasinya antarunsur keempat hal tadi diberi nama sumeleh.
Oleh karena itu, sangat salah dalam pandangan filsafat jika konsep di atas dipahamkan sebagai “klenik”, dan itu menunjukkan kedangkalan sekaligus kesesatan berfikir.
Pertanyaannya adalah bagaimana membumikan sumeleh itu dalam laku sehari-hari. Hal itu tidak dapat dilakukan dengan mendadak atau seketika; akan tetapi lebih kepada proses mengendapnya rasa berserah kepada yang Maha Kuasa saat manembah melalui syariat yang diajarkan agama secara sempurna dan sungguh-sungguh. Di sini posisi shalat kita itu dalam pandangan filsafat adalah tiang agama, dan manakala shalatnya khusuk, maka sejatinya kita sudah sumeleh kepada kodratnya Alloh Sang Maha Pencipta. Tentu pendapat ini masih sangat debateble jika dikaji dari berbagai disiplin ilmu, dan itu sah-sah saja, akan tetapi dengan catatan “tidak perlu merasa benar sendiri”. Karena kebenaran pada wilayah filsafat berbeda dengan wilayahnya ilmu pengetahuan. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman