Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu, ada peristiwa yang sedikit “aneh” di satu kabupaten kita. Seorang wakil kepala daerah adu urat dengan seorang pedagang yang hendak ditertibkan agar tak menggelar lapak di tempat parkir.
Tentu saja, adu urat itu jadi makanan empuk para jurnalis untuk mengeksplornya menjadi santapan gurih buat berita bahkan opini medianya.
Tidak ketinggalan Herman Batin Mangku (HBM), dia juga ikut nimbrung menulis dengan gaya satir-nya, mengomentari sekaligus menelaah peristiwa ini.
Akibat membaca tulisannya, otak saya bekerja keras buat urun rembuk juga dari sudut lain. Akhirnya, memori otak menemukan kembali file joke daerah yang kerap jadi bahan buat bersendagurau jika ada anggota keluarga yang tidak maju-maju pendidikannya: Sekulah mak haga, ngaji mak haga, api haga mu?
Terjemahan bebasnya, sekolah tidak mau, ngaji tidak mau lalu apa mau mu? Tentu saja, anekdot itu berbeda-beda dalam dialek antardaerah. Namun, tidak dibahas soal dialek daerah tersebut di sini.
Kita bisa bayangkan, bagaimana kalau ini terjadi kepada pemimpin yang sudah bersusah payah ingin mewujudkan daerahnya baik, rapi dan asri dipandang tapi ada pedagang yang masih “ngeyel”.
Anekdot itu bisa diplesetkan jadi: Mbersih ko mak haga, diatur mak haga, pindah mak haga, api haga mu?
Tentu saja pemimpin seperti ini tidak seketika muncul dari muka bumi. Hanya pemimpin yang memiliki nyali dan tidak merasa berhutang budi atau berniat maju lagi.
Soal ada yang tidak suka dengan caranya itu biasa bahkan ada istilah daerah yang sering kami pakai “tungguk haga na” terjemahan bebasnya kesampaian maunya.
Beberapa wilayah atau beberapa persoalan di wilayah ini pendekatan model itu tampaknya diperlukan. Seperti yang juga di singgung oleh HBM pada tulisannya, salah satu sebabnya adalah karakter dari personal yang ada memang beragam.
Akibat dari amalgamasi bahkan asimilasi dan juga personifikasi, tidak salah jika seseorang terlepas dari budaya etnisnya, menjadi berperilaku seperti etnis lain yang dipersonifikasinya.
Oleh karena itu tidak salah jika ada adagium “perilakunya melebihi contohnya”. Pemimpin tegas, berani dan beradab sangat diperlukan dalam menghadapi kemajemukan kemauan dari yang dipimpinnya.
Soal ada yang suka dan tidak itu sudah menjadi hukum sosial; dan perlu diingat kita tidak akan bisa memuaskan semua orang, dan pemimpin bukan alat pemuas. Sejauh etika dan adab tetap dikedepankan, tidak perlu surut akan niat yang sudah dipancangkan.
Membetulkan yang salah, meluruskan yang bengkok, melancarkan yang mampet; adalah bagian dari tugas pemimpin. Tinggal beranikah pemimpin menghadapi ketidakpopuleran, itu yang sering menjadi penghalang.
Oleh karena itu, pemimpin menjadi harapan banyak orang, tetapi banyak orang belum tentu paham akan harapan pemimpin.
Walaupun sejatinya pemimpin yang yang dipimpin sudah terikat dalam satu sistem saling memerlukan; tidak salah jika dalam adagium daerah ada istilah “mak niku sapa lagi” yang terjemahan bebasnya kalau tidak kamu siapa lagi.
Filosofi ini menyiratkan beberapa hal:
Pertama, Tanggung jawab pribadi: Bahwa setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab terhadap perubahan atau kebaikan bersama—bukan hanya menunggu orang lain bertindak.
Kedua, Keberanian dan inisiatif: Seorang pemimpin sejati muncul bukan karena ditunjuk, tetapi karena ia berani melangkah ketika dibutuhkan.
Ketiga, Kepercayaan diri: Mengajak untuk percaya bahwa dia mampu membawa perubahan, meskipun mungkin merasa belum siap atau layak.
Keempat, Keteladanan: Pemimpin yang memegang prinsip ini menunjukkan bahwa tindakan nyata lebih kuat daripada hanya menyampaikan ide atau kritik.
Kelima, Kesadaran kolektif: Mendorong semangat kebersamaan, di mana perubahan dimulai dari diri sendiri sebelum mengandalkan pihak lain.
Semoga HBM tidak berhenti untuk menyuarakan terus gaung local wisdom dalam gegapgempitanya digitalisasi.
Banyak nilai-nilai luhur di tengah serakan budaya lokal yang ada; tinggal kita masih maukah menjaga marwah sebagai orang daerah yang berwawasan nasional berfikir global. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Prodi Manajemen Universitas Malahayati Siap Jaga Stabilitas Nasional Lewat Implementasi OBE di Mata Kuliah Pengantar Ekonomi Makro
Program Studi (Prodi) Manajemen menjadi salah satu pelopor implementasi OBE yang konsisten, terutama dalam dua semester terakhir, Ganjil dan Genap 2024/2025. Mengawali semester Genap ini, Prodi Manajemen mengadakan kuliah umum melalui mata kuliah Pengantar Ekonomi Makro, mengusung tema “Peran Kebijakan Fiskal dalam Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional” pada Jumat, 25 April 2025 di Gedung MCC Bawah, Universitas Malahayati. Kegiatan ini dipimpin oleh Ayu Nursari, S.E., M.E., dan diikuti oleh 11 dosen serta 220 mahasiswa angkatan 2024.
Menghadirkan Mifti Anisa Wulansari, S.T.P., M.E., yang menjabat sebagai Sekretaris BAPPELITBANGDA Kabupaten Mesuji, kuliah umum tersebut membahas beragam aspek penting, mulai dari pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), kebijakan perpajakan, hingga strategi belanja negara untuk menjaga keseimbangan makroekonomi, menanggulangi inflasi, mengurangi tingkat pengangguran, serta mencegah atau merespons potensi krisis ekonomi.
Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi, terutama saat membahas tantangan perekonomian nasional dan global yang kian kompleks di awal 2025, di tengah eskalasi perang dagang dunia. Pembahasan mengenai kemampuan Indonesia dalam mengantisipasi berbagai dampak global serta pentingnya efisiensi belanja negara menjadi pusat perhatian diskusi.
“Mahasiswa dan dosen harus menjadi agent of change yang mampu memberikan masukan terhadap penyempurnaan kebijakan publik melalui penelitian, program pengabdian masyarakat, dan literasi ekonomi di berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.
Lebih jauh, kerja sama riset dan pengabdian kepada masyarakat menjadi kunci agar kebijakan ekonomi yang dihasilkan benar-benar berbasis data lapangan dan kebutuhan riil masyarakat. Literasi ekonomi kepada publik juga menjadi tugas penting universitas dalam membantu masyarakat memahami kebijakan makro dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Melalui penerapan OBE dalam perkuliahan, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat penerapannya dalam situasi nyata, seperti kebijakan fiskal dan dinamika ekonomi global. Kesadaran kritis mahasiswa terhadap isu-isu ekonomi dan sosial semakin terasah, mendorong mereka untuk berkontribusi aktif dalam pembangunan ekonomi dan sosial nasional. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Kemudahan atau Kemalasan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu bersama dengan seorang Doktor yang dulu pernah menjadi mahasiswa bimbingan, berdiskusi tentang kemajuan teknologi “pelacak data” yang begitu pesat perkembangannya. Sampai-sampai kami berdua merasa miris sekali melihat situasi perkembangan teknologi ini. Bisa dibayangkan jika seorang mahasiswa menguasai sejumlah perangkat yang berbasis Artificial Intelligence (AI); semua tugas termasuk tugas akhir bisa dikerjakan dalam waktu sesingkat-singkatnya tanpa melalui proses pemahaman dan pengendapan. Sementara jika ada dosen yang gagap teknologi, maka dia akan dijadikan bulan-bulanan mahasiswanya. Tampaknya generasi sekarang diberikan banyak kemudahan, namun kemudahan itu bisa jadi memupuk kemalasan.
Sebelum lebih jauh bahasan ini diteruskan, sebaiknya kita mengenal dulu filosofinya. Dari berbagai sumber ditemukan informasi bahwa filsafat dari Artificial Intelligence (AI) di dunia perguruan tinggi merupakan topik yang luas dan menarik, karena melibatkan banyak aspek—etika, epistemologi, ontologi, dan tujuan pendidikan itu sendiri. Berikut beberapa pendekatan filosofis yang bisa dipakai untuk memahami peran dan dampak AI di lingkungan akademik:
1. Dari sudut Filsafat Etika: Moralitas Penggunaan AI
Pertanyaan utama: Apakah penggunaan AI dalam pendidikan itu etis? Plagiarisme dan keaslian karya: Apakah menggunakan AI untuk membuat esai atau skripsi mengurangi nilai kejujuran akademik?.: Apakah AI memperkuat ketimpangan atau diskriminasi dalam seleksi mahasiswa, penilaian, atau penelitian?. Apakah data mahasiswa dan dosen aman dari pelanggaran etika dan penyalahgunaan?.
Semua ini memerlukan diskusi akademik yang tidak mudah untuk diurai. Tentu pertanyaan-pertanyaan menjadikan perenungan yang dalam bagi mereka yang sangat menjunjung tinggi etika moral akademik.
2. Dari sudut Epistemologi: Cara AI Mengubah Pengetahuan
Pertanyaan utama: Apa makna pengetahuan jika mesin bisa “menghasilkan” jawaban?.AI menantang definisi tradisional “pengetahuan sebagai hasil berpikir manusia”. Tentu perubahan sudut pandang ini akan menggoyahkan sendi-sendi akademik yang selama ini cenderung mapan dan baku.
Berikutnya apakah AI hanya mereplikasi pengetahuan, atau bisa menciptakan bentuk pengetahuan baru?. Tentu akibatnya akan dilanjutkan dengan pertanyaan : Apa peran dosen dan mahasiswa jika AI bisa “mengajar”?. Sulihganti peran seperti ini tampaknya akan melanda dunia akademik secara masif; karena bimbingan dosen tinggal legalitas formal, sementara pelaksanaan pembimbingan diambil peran oleh AI. Demikian halnya dengan perpustakaan, tidak lagi harus berkunjung secara fisik mendatangi gedung, akan tetapi cukup berselancar di perpustakaan digital yang sudah berserak di mana-mana pada dunia maya.
3. Dari sudut Ontologi: Hakikat Kecerdasan dan Pembelajaran
Pertanyaan utama: Apakah kecerdasan buatan benar-benar “cerdas”?. Dalam konteks perguruan tinggi: Apakah AI bisa memiliki pemahaman holistik seperti manusia?. Dan, apakah AI dapat mengembangkan makna dan nilai dari sebuah ilmu?. Semua ini menggantung di dunia filsafat yang sekarang seolah mendapatkan tantangan baru, terutama filsafat ilmu dan etika. Diskusi-diskusi akademik pada beberapa dekade ini dikalangan penggiat filsafat tampaknya semakin seru dan menarik, terutama pada tataran “memanusiakan manusia melalui ilmu, mengilmukan manusia melalui etika ilmu” dan masih banyak lagi yang berkembang. Semua ini akibat ilmu pengetahuan sudah sampai melahirkan AI, sementara AI sendiri bebas nilai.
4. Dari sudut Filsafat Pendidikan: Tujuan Pendidikan Tinggi
Pertanyaan utama: Apakah tujuan pendidikan hanya untuk memperoleh informasi, atau juga untuk membentuk karakter, nalar, dan nilai?. AI dapat mempercepat akses informasi, tetapi: Bagaimana dengan pembentukan manusia seutuhnya (karakter, empati, kebijaksanaan)?. Oleh karena itu Dosen bukan hanya sumber pengetahuan, tapi juga pembimbing etika dan pemikiran kritis, dan peran ini untuk sementara sulit digantikan oleh AI.
5. Dari sudut Teknologi sebagai Cermin Peradaban
Dalam pandangan Heidegger atau Postman, teknologi bukan netral. AI membentuk cara berpikir, belajar, dan hidup kita. Jika kampus terlalu tergantung pada AI, apakah kita sedang mengarahkan pendidikan ke arah yang lebih mekanistik dan pragmatis, bukan yang humanistik?. Tampaknya falsafah hidup dalam bernegara ikut memberi kontribusi kearah mana semua itu akan tertuju. Apakah kepragmatisan akan menggerus humanis, atau humanis yang akan memberi warna kepada kepragmatisan. Tentu jawabannya tidak sesederhana sebagaimana halnya membalikkan telapak tangan. Perlu diskusi panjang dan dilakukan secara serius, serta berkelanjutan.
Pertanyaan terakhir sudah siapkah perguruan tinggi sebagai banteng moral etika akademik menyongsong datangnya perubahan ini. Regulasi apa yang harus dipersiapkan sehingga proses pembelajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat; mendapatkan dampak positif akan kehadiran AI; sekaligus menanggulangi dampak negative yang diakibatkan oleh kehadirannya. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Api Haga Mu
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu, ada peristiwa yang sedikit “aneh” di satu kabupaten kita. Seorang wakil kepala daerah adu urat dengan seorang pedagang yang hendak ditertibkan agar tak menggelar lapak di tempat parkir.
Tentu saja, adu urat itu jadi makanan empuk para jurnalis untuk mengeksplornya menjadi santapan gurih buat berita bahkan opini medianya.
Tidak ketinggalan Herman Batin Mangku (HBM), dia juga ikut nimbrung menulis dengan gaya satir-nya, mengomentari sekaligus menelaah peristiwa ini.
Akibat membaca tulisannya, otak saya bekerja keras buat urun rembuk juga dari sudut lain. Akhirnya, memori otak menemukan kembali file joke daerah yang kerap jadi bahan buat bersendagurau jika ada anggota keluarga yang tidak maju-maju pendidikannya: Sekulah mak haga, ngaji mak haga, api haga mu?
Terjemahan bebasnya, sekolah tidak mau, ngaji tidak mau lalu apa mau mu? Tentu saja, anekdot itu berbeda-beda dalam dialek antardaerah. Namun, tidak dibahas soal dialek daerah tersebut di sini.
Kita bisa bayangkan, bagaimana kalau ini terjadi kepada pemimpin yang sudah bersusah payah ingin mewujudkan daerahnya baik, rapi dan asri dipandang tapi ada pedagang yang masih “ngeyel”.
Anekdot itu bisa diplesetkan jadi: Mbersih ko mak haga, diatur mak haga, pindah mak haga, api haga mu?
Tentu saja pemimpin seperti ini tidak seketika muncul dari muka bumi. Hanya pemimpin yang memiliki nyali dan tidak merasa berhutang budi atau berniat maju lagi.
Soal ada yang tidak suka dengan caranya itu biasa bahkan ada istilah daerah yang sering kami pakai “tungguk haga na” terjemahan bebasnya kesampaian maunya.
Beberapa wilayah atau beberapa persoalan di wilayah ini pendekatan model itu tampaknya diperlukan. Seperti yang juga di singgung oleh HBM pada tulisannya, salah satu sebabnya adalah karakter dari personal yang ada memang beragam.
Akibat dari amalgamasi bahkan asimilasi dan juga personifikasi, tidak salah jika seseorang terlepas dari budaya etnisnya, menjadi berperilaku seperti etnis lain yang dipersonifikasinya.
Oleh karena itu tidak salah jika ada adagium “perilakunya melebihi contohnya”. Pemimpin tegas, berani dan beradab sangat diperlukan dalam menghadapi kemajemukan kemauan dari yang dipimpinnya.
Soal ada yang suka dan tidak itu sudah menjadi hukum sosial; dan perlu diingat kita tidak akan bisa memuaskan semua orang, dan pemimpin bukan alat pemuas. Sejauh etika dan adab tetap dikedepankan, tidak perlu surut akan niat yang sudah dipancangkan.
Membetulkan yang salah, meluruskan yang bengkok, melancarkan yang mampet; adalah bagian dari tugas pemimpin. Tinggal beranikah pemimpin menghadapi ketidakpopuleran, itu yang sering menjadi penghalang.
Oleh karena itu, pemimpin menjadi harapan banyak orang, tetapi banyak orang belum tentu paham akan harapan pemimpin.
Walaupun sejatinya pemimpin yang yang dipimpin sudah terikat dalam satu sistem saling memerlukan; tidak salah jika dalam adagium daerah ada istilah “mak niku sapa lagi” yang terjemahan bebasnya kalau tidak kamu siapa lagi.
Filosofi ini menyiratkan beberapa hal:
Pertama, Tanggung jawab pribadi: Bahwa setiap individu memiliki peran dan tanggung jawab terhadap perubahan atau kebaikan bersama—bukan hanya menunggu orang lain bertindak.
Kedua, Keberanian dan inisiatif: Seorang pemimpin sejati muncul bukan karena ditunjuk, tetapi karena ia berani melangkah ketika dibutuhkan.
Ketiga, Kepercayaan diri: Mengajak untuk percaya bahwa dia mampu membawa perubahan, meskipun mungkin merasa belum siap atau layak.
Keempat, Keteladanan: Pemimpin yang memegang prinsip ini menunjukkan bahwa tindakan nyata lebih kuat daripada hanya menyampaikan ide atau kritik.
Kelima, Kesadaran kolektif: Mendorong semangat kebersamaan, di mana perubahan dimulai dari diri sendiri sebelum mengandalkan pihak lain.
Semoga HBM tidak berhenti untuk menyuarakan terus gaung local wisdom dalam gegapgempitanya digitalisasi.
Banyak nilai-nilai luhur di tengah serakan budaya lokal yang ada; tinggal kita masih maukah menjaga marwah sebagai orang daerah yang berwawasan nasional berfikir global. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Universitas Malahayati Raih Prestasi di Kejuaraan Internasional Karate Gadjah Mada Open 2025
Kejuaraan karate internasional yang digelar di GOR Pancasila Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta pada 21-23 Februari 2025 ini mempertemukan para atlet terbaik dari berbagai negara dan daerah. Dalam kompetisi yang penuh persaingan ketat ini, Dini berhasil meraih Juara 3 untuk dua kategori sekaligus: Kata Perorangan Senior Putri dan Kumite -55Kg Senior Putri.
Capaian ini tentu bukan hal yang mudah. Butuh disiplin tinggi, semangat juang, dan latihan keras untuk bisa berdiri di podium kejuaraan internasional.
Penuh Syukur dan Bangga, Ini Kata Dini Maharani “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa meraih juara di kejuaraan internasional ini. Ini adalah pengalaman yang luar biasa dan sangat berharga bagi saya, baik sebagai atlet maupun sebagai mahasiswa. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pelatih, keluarga, teman-teman, dan tentunya Universitas Malahayati yang selalu mendukung saya”.
Lebih lanjut, Dini juga menyampaikan pesan dan kesannya, kejuaraan ini memberikan banyak pelajaran bagi saya, terutama tentang pentingnya ketekunan dan mental juara.
“Saya berharap pencapaian ini bisa memotivasi teman-teman mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi di bidang masing-masing. Jangan pernah takut untuk bermimpi besar dan berusaha maksimal. Karena usaha tidak pernah mengkhianati hasil,” ujar Dini dengan penuh semangat.
Pencapaian Dini Maharani menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa Universitas Malahayati mampu bersaing dan berprestasi di tingkat internasional. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika dan memperkuat semangat dalam mencetak generasi muda yang unggul, sehat, dan berdaya saing global. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Qori Ramadani Mahasiswi Universitas Malahayati, Raih Juara 1 Pencak Silat Lampung Begawi 2025
Qori tampil memukau di atas gelanggang, menunjukkan kombinasi teknik, kekuatan, dan mental juara yang membawanya ke podium tertinggi.
Qori mengungkapkan bahwa setiap pencapaian selalu diiringi dengan perjuangan yang tidak mudah.
“Sebenarnya tidak ada proses yang mudah, tetapi jika dijalani dengan senang hati dan ikhlas, proses itu terasa nikmat,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba hal-hal baru.
“Terkadang hal yang paling kita takuti justru adalah hal yang akan membuat kita tumbuh menjadi versi terbaik dari diri kita. Kegagalan bukanlah akhir, tetapi bagian dari proses menuju keberhasilan,” tambahnya.
Qori menyampaikan rasa bangga dan haru bisa berdiri di podium tertinggi, terlebih karena perjuangannya tidak dilakukan sendirian.
“Saya ditemani ayah, bunda, adik, teteh, teman-teman terdekat, dan tentu saja pelatih yang selalu mendampingi, mendoakan, dan memeluk saya dalam suka dan duka. Kemenangan kali ini mengajarkan saya banyak hal,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Keberhasilan Qori tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama keluarga, almamater Universitas Malahayati, serta dunia pencak silat Lampung. Ia berharap bisa terus berkembang dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik di masa depan.
Selamat untuk Qori! Semoga prestasi ini menjadi awal dari perjalanan gemilang berikutnya. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Pemberkasan Akhirat
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Setelah usai subuh berjamaah dilanjutkan membaca yang merupakan pekerjaan rutinitas diusia senja, baik kitab maupun buku. Namun subuh itu pikiran terusik dengan salah satu bab buku yang menjelaskan konsep Ibnu Sina dalam memandang kehidupan, terutama masalah pemberkasan akhirat. Kalau kita bicara “pemberkasan akhirat” dalam konteks filsafat Ibnu Sina (Avicenna), kita sebenarnya masuk ke ranah metafisika jiwa, intelek aktif, dan kebahagiaan abadi. Walaupun Ibnu Sina tidak secara eksplisit pakai istilah “pemberkasan akhirat”, ide dasarnya tersirat kuat dalam pemikirannya tentang jiwa, tindakan, dan akhir kehidupan manusia. Sebagai bahan referensi bahwa Ibnu Sina, yang dikenal di dunia Barat sebagai Avicenna, lahir pada bulan Juni 980 M di desa Afshana, dekat Bukhara, yang kini terletak di Uzbekistan. Ia meninggal pada tanggal 22 Juni 1037 M di Hamadan, Persia (sekarang Iran), pada usia 57 tahun akibat penyakit perut. Jika dihitung dari tahun 2025, maka sudah 988 tahun lalu beliau wafat.
Berdasarkan literatur digital dan diramu dalam satu ringkasan, maka diperoleh informasi padat tentang pemberkasan akhirat sebagai berikut:
1. Jiwa adalah Substansi Spiritual yang Abadi
Bagi Ibnu Sina, jiwa manusia (an-nafs) adalah substansi immaterial yang tidak mati. Jiwa berasal dari dunia intelek dan akan kembali ke sana setelah berpisah dari jasad. Jiwa yang sempurna akan “naik” ke alam intelek dan mengalami kebahagiaan abadi (surga), sedangkan jiwa yang penuh dengan keburukan akan terputus dari cahaya intelek dan mengalami kesengsaraan abadi (neraka). Di sinilah muncul konsep “pemberkasan”: apa yang dibawa jiwa setelah kematian adalah hasil dari semua akumulasi amal dan pengetahuan di dunia.
2. Intelek Aktif (al-‘Aql al-Fa‘al) sebagai “Pencatat” Hakiki
Dalam teori intelek Ibnu Sina, ada 10 intelek, dan intelek ke-10 (intelek aktif) adalah yang berinteraksi dengan manusia. Intelek aktif inilah yang: memberi bentuk pada materi, mentransformasikan pengetahuan, mengabadikan amal dan intelek jiwa manusia. Jadi dari sisi ini, “pemberkasan” bisa dipahami sebagai proses penyatuan jiwa dengan intelek aktif berdasarkan kualitas jiwa itu sendiri.
3. Kebajikan sebagai Bekal Kekekalan
Bagi Ibnu Sina, kebahagiaan sejati (as-sa‘adah) adalah kesempurnaan jiwa melalui: pengetahuan tentang Tuhan dan realitas, amal kebajikan dan penyucian diri. Jiwa yang banyak melakukan keburukan akan tidak mampu mengenali kebenaran, dan akibatnya tersiksa oleh jauhnya dari sumber cahaya intelek (Allah). Ini bisa dibaca sebagai filsafat pertanggungjawaban moral dan spiritual, yaitu pemberkasan nilai-nilai dalam jiwa itu sendiri.
Jadi, “pemberkasan akhirat” menurut Ibnu Sina bukan catatan fisik, tapi jejak metafisik dalam struktur jiwa. Amal-amal kita, menurut Ibnu Sina, membentuk kualitas eksistensial jiwa. Amal saleh dan pengetahuan membuat jiwa “tercerahkan” dan siap bersatu dengan intelek aktif — inilah bentuk surga filsafat. Sebaliknya, jiwa yang rusak akan terpisah dan menderita — bentuk neraka metafisik.
Pergulatan Ibnu Sina terhadap filsafat manusia memberikan pemahaman kepada kita bagaimana semua perilaku kita dari tarikan nafas pertama saat kita hidup, sampai hembusan nafat terakhir kita saat kematian; harus dipertanggungjawabkan sedetail-detailnya, tidak ada satupun yang terlewatkan. Pemberkasan akhirat bernama Sijjīn untuk catatan amal orang durhaka, dan Illiyyīn untuk catatan amal orang saleh. Adapun petugas pencatatnya adalah: Raqib – duduk di sebelah kanan, mencatat amal baik, dan Atid – duduk di sebelah kiri, mencatat amal buruk.
Bila kita mau merenung sejenak ternyata kehidupan itu sangat singkat, dan harus bergegas menghimpun bekal berupa amal sholeh, untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Oleh sebab itu Jalludin Rumi berkata bahwa, akhirat adalah kepulangan, bukan sekadar penghakiman. Ia menekankan: Jiwa berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu akhirat adalah perjalanan cinta. Konsekwensinya pemberkasan amal bukan hanya soal hitungan pahala, tetapi pantulan dari sejauh mana seseorang mengenal dan mencintai Tuhan. Pada kutipan lain Rumi mengajarkan bahwa akhirat bukanlah tempat terpisah dari kehidupan dunia, melainkan merupakan kelanjutan dari perjalanan jiwa menuju Tuhan. Melalui cinta, pengetahuan, dan transformasi batin, jiwa dapat mencapai keabadian bersama Tuhan.
Kalau kita mau menyadari sebentar saja tentang hal di atas, rasanya kita tidak mau melewatkan sedikitpun waktu yang kita miliki untuk selalu berbuat amal sholeh. Karena ternyata kita lebih lama tinggal diakhirat dibandingkan di bumi ini; pertanyaan tersisa sudah cukupkah bekal kita untuk tinggal di akhirat kelak ?. jawabannya ada di hati nurani kita masing-masing. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Hari Bumi (Earth Day) “Our Power, Our Planet” 2025
Hari Bumi 1970 menjadi titik balik dalam sejarah gerakan lingkungan hidup global, yang akhirnya memotivasi banyak negara untuk mengesahkan undang-undang perlindungan lingkungan dan membentuk lembaga-lembaga yang bertugas mengawasi kelestarian alam.
Kini, Hari Bumi diperingati di lebih dari 190 negara, dengan tema setiap tahunnya yang berfokus pada isu-isu penting seperti perubahan iklim, pengurangan polusi, pelestarian hutan, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Dilansir situs earthday, peringatan Hari Bumi Internasional 2025 mengusung tema “Our Power, Our Planet”. Tema ini menyerukan kepada semua orang untuk bersatu dalam energi terbarukan agar dapat ditingkatkan hingga tiga kali lipat pada tahun 2030.
Hari Bumi 2025 menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa kekuatan kolektif kita bisa membawa perubahan besar bagi planet ini. Mulai lah dari langkah kecil yang bisa kamu lakukan hari ini! (gil)
Mengejar Harap
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Siang menjelang sore menjenguk seorang staf senior di lembaga ini di salah satu rumah sakit. Bersangkutan ditengarai mengidap penyakit yang disebabkan oleh nyamuk; dan hal seperti itu saat ini tampaknya sedang menggejala di kota ini. Ditemani seorang kepala unit yang tampan dan menjadi salah satu unsur pimpinan di rumah sakit itu, kami berdua bergegas ke ruangan pasien di lantai tiga.
Sohib yang sakit itu berkarakter pendiam, tetapi tidak kehilangan sikap cerianya; beliau memohon doa kepada kami berdua. Tentu dengan sangat senang hati kami berdua mendoakan beliau agar cepat sembuh; sekalipun sembuh dan sakit itu hanya dipisahkan oleh pembatas yang sangat tipis, tetapi Tuhan memang memerintahkan untuk menjenguk dan mendoakan orang sakit, bahkan itu merupakan tuntunan keilahian.
Saat kami berdua undur diri untuk kembali, dan agar tidak mengganggu pasien yang sedang menggunakan alat angkut otomatis; kami putuskan menggunakan tangga manual. Saat itulah terbersit dalam angan bagaimana berharganya sehat dan betapa menderitanya jika sakit; namun keduanya sebagai pasangan, kita tidak bisa menolaknya jika datang dan tidak bisa menahannya jika pergi. Ternyata semua kita mengejar harap agar selalu sehat terus sepanjang masa, tetapi tidak pernah bersiap jika sakit itu datang.
Kesadaran pemimpin pada waktu itu membuat suatu sistem asuransi kesehatan bersama secara nasional. Hal itu tentu sangat membantu bagi kita yang ada pada posisi rentan secara ekonomi. Namun sayangnya niat baik dan mulia itu dikotori oleh mereka-mereka yang serakah; sehingga dana milyaran rupiah dikorupsi atas nama kepentingan pribadi. Dari peristiwa itu membuat luka pada hati masyarakat; akibatnya banyak diantara kita mengejar harap untuk selalu sehat, sekalipun sangat menyadari sakit itu pada waktunya akan datang.
Makna filosofi dari “mengejar harap” dapat ditafsirkan dengan mendalam sebagai suatu bentuk perjalanan batin dan laku hidup untuk meraih sesuatu yang belum pasti, namun diyakini memberikan makna dan tujuan. Berikut adalah beberapa sudut pandang filosofisnya:
“Harap” atau harapan bisa dimaknai sebagai cahaya kecil di ujung lorong kehidupan. Mengejarnya adalah upaya manusia untuk terus berjalan meski dalam gelap, percaya bahwa di ujung sana ada sesuatu yang lebih baik. Konsekuensinya kita harus selalu optimisme dan memiliki keteguhan hati dalam menghadapi ketidakpastian, dan hidup tak berhenti pada kesulitan saat ini.
Mengejar Harap sama halnya dengan merawat asa, maksudnya mengejar harap bukan sekadar usaha aktif, tetapi juga proses batin untuk merawat asa agar tetap menyala. Harapan itu rapuh, namun jika dirawat, bisa jadi kekuatan besar; oleh karena itu dia merupakan perjuangan spiritual dan emosional; sekaligus dalam benyak diperlukan kesabaran, ketekunan, dan keyakinan.
Pada filsafat eksistensial, harapan bisa menjadi simbol dari sesuatu yang tak terjangkau sepenuhnya—sebuah ideal. Mengejarnya bukan berarti selalu harus sampai, tapi proses mengejar itulah yang membentuk eksistensi. Oleh karena itu nilai hidup bukan di hasil akhir, tapi dalam prosesnya; dan harapan selalu memberi arah, bukan jaminan.
Secara antropologis dan teologis, manusia didefinisikan sebagai makhluk yang terus mengharap—karena menyadari keterbatasan dirinya. Harapan itu yang membedakan manusia dari sekadar makhluk biologis. Oleh karenanya harapan adalah bagian dari kodrat manusia. Sedangkan mengejarnya adalah merupakan bentuk keberanian untuk terus hidup.
Tidak salah jika orang bijak mengatakan “teman sejatimu itu adalah yang datang tanpa diminta saat kau dalam kesulitan, dan diam-diam dia pergi saat kau dalam kegembiraan”. Sayangnya karena ego sering menutupi kita, sehingga seolah semua itu hasil dari kita sendiri dalam berjuang menghadapi gelombang. Padahal kalau kita mau jujur tidak ada satupun kesuksesan yang kita raih di dunia ini murni hasil kita sendiri; pasti di sana ada orang lain yang ikut berperan dalam mencapainya. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Lupa atau Dilupakan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa dekade lalu di negeri ini ada peristiwa yang mengguncang dunia yaitu meninggalnya Munir Said Thalib — atau lebih akrab dikenal sebagai Munir — yang adalah salah seorang tokoh dalam sejarah perjuangan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Namun, ironisnya, jejak itu seperti memudar dalam ingatan publik: antara dilupakan, atau sengaja dibuat terlupa.
Pada 7 September 2004, Munir meninggal dunia dalam penerbangan dari Jakarta ke Amsterdam. Hasil otopsi menemukan bahwa ia diracun dengan arsenik dalam dosis mematikan. Tragedi ini sontak menjadi simbol gelapnya bahaya yang dihadapi para pembela HAM di Indonesia. Sejumlah orang telah disidangkan, termasuk Pollycarpus, pilot Garuda Indonesia, yang kemudian divonis bersalah. Namun, sampai hari ini, siapa aktor intelektual di balik pembunuhan Munir belum benar-benar terungkap secara tuntas. Laporan TPF (Tim Pencari Fakta) kasus Munir bahkan sempat hilang dari dokumen resmi negara, sebelum akhirnya ditemukan kembali setelah tekanan publik.
Perjuangan dilanjutkan oleh istrinya bernama Suciwati dengan melakukan aksi Kemisan, yaitu berdiri mematung di depan Istana negara dengan berbaju hitam dan berpayung hitam tanda berkabung; serta mendirikan ”Omah Munir” di Batu, Malang — sebuah rumah kecil yang menjadi museum perlawanan. Di sana, anak-anak muda bisa melihat jejak Munir, mendengar kisah perjuangannya, dan merasakan semangat keberanian yang ia wariskan.
Pertanyaan tersisa: apakah semua peristiwa yang tidak mengenakkan harus kita lupakan. Tentu jawabannya sangat subyektif dan personal, karena bisa”ia” dan bisa “tidak” dengan sejuta argument. Pertanyaan yang dalam dan penuh makna. Jawaban singkatnya: tidak selalu harus dilupakan, tapi mungkin perlu di-letakkan dengan cara yang sehat. Kadang peristiwa yang tidak mengenakkan justru membawa pelajaran penting.
Melupakannya bisa membuat kita mengulang kesalahan yang sama. Tapi terlalu terus mengingatnya pun bisa membebani batin dan menghambat kita untuk maju.
Jadi mungkin bukan soal “melupakan”, tapi lebih ke “menerima” dan “melepaskan”. Mengingatnya tanpa menyiksa diri, belajar darinya, dan tidak membiarkannya mengendalikan hari ini. Oleh karena itu “lupa” dan “dilupakan” adalah topik yang kaya dan sering dibahas dalam wilayah filsafat, terutama dalam filsafat pikiran, eksistensialisme, dan etika.
Beberapa pendekatan filosofis yang menarik terkait ini hasil dari penelusuran digital ditemukan informasi sbb:
1. Filsafat Pikiran & Memori
Dalam filsafat pikiran, “lupa” dibahas sebagai bagian dari mekanisme kesadaran dan identitas. John Locke, misalnya, menganggap memori sebagai inti dari identitas personal. Kalau kita lupa sesuatu, apakah itu berarti kita bukan lagi orang yang sama?. Lalu muncul pertanyaan lanjutan: jika melupakan bagian dari siapa kita, apakah itu mengubah hakikat kita sebagai pribadi?, tentu pemikiran filsafat begini tidak cukup tempat untuk membahasanya di sini.
2. Eksistensialisme
Tokoh seperti Nietzsche dan Heidegger juga mengangkat soal ingatan dan lupa: Nietzsche pernah menulis tentang “kekuatan untuk melupakan” sebagai sesuatu yang penting agar kita tidak terus dihantui masa lalu dan bisa menjalani hidup secara lebih bebas. Heidegger bicara tentang “kejatuhan” manusia ke dalam rutinitas yang membuat kita lupa eksistensi kita yang sejati.
3. Etika & Politik
Konsep “melupakan” juga sering muncul dalam konteks etika: Apakah kita boleh melupakan kejahatan masa lalu demi perdamaian (misalnya dalam kasus pasca-konflik)?. Atau, apakah melupakan adalah bentuk ketidakadilan, karena mengabaikan penderitaan korban?
Paul Ricœur, filsuf Prancis, menulis banyak soal memori, lupa, dan pengampunan. Ia membedakan antara “lupa pasif” (karena waktu) dan “lupa aktif” (karena kita memilih untuk melupakan). Yang terakhir ini punya konsekuensi moral.
Jadi ya, lupa dan dilupakan bukan sekadar pengalaman psikologis atau emosional. Ia bisa menjadi pertanyaan filosofis yang menggali identitas, makna, bahkan moralitas yang begitu dalam dan substansial. Oleh karena itu, ada orang bijak yang mengingatkan kepada kita semua dengan berkata “Jangan pernah gunakan kata-kata kasar ketika engkau marah, terutama ketika itu adalah orang terdekatmu; karena kemarahan itu akan berlalu, tetapi kata-kata itu akan terpahat membekas di hati orang yang kau tuju”.
Menjadi persoalan sekarang melupakan dan dilupakan itu didisain untuk terjadi; sehingga orang “terpaksa” melupakan dan dilupakan. Sebagai misal banyak peristiwa di negeri ini yang dikondisikan untuk itu, dengan cara membuat issue baru untuk menutup (melupakan) peristiwa yang ada. Masih ingat pegawai pajak yang terseret kasus anaknya, bahan bakar oplosan pada anak perusahaan minyak ternama, takaran minyak goreng yang tidak memenuhi standar, pagar laut, dan masih ada beberapa lagi. Semua dibikin “terpinggirkan” dari memori kolektif, sehingga penyelesaiannya dibuat tidak jelas. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Jalani, Nikmati, Syukuri
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Saat memandang temaramnya senja diufuk barat, menanti munculnya senjakala; dalam konsep jawa waktu seperti ini disebut “wayah surup” dan akan muncul warna semburat merah dilangit dan itu disebut “candikolo”. Pada jaman dahulu mewajibkan para pengembala untuk memasukkan semua ternak masuk kekandang, anak-anak sudah harus masuk rumah karena dipercaya banyaknya penyakit yang berterbangan. Namun bagi mereka yang sedang “laku batin” saat seperti ini adalah waktu mawas diri akan kebesaran Illahi. Merefleksi diri dengan menjalani kehidupan, menikmati apapun prosesnya, dan mensyukuri apapun hasilnya.
“Jalani, Nikmati, dan Syukuri” adalah tiga dimensi pandangan hidup yang sederhana tapi dalam maknanya. Ini bisa dipahami sebagai cara menghadapi kehidupan dengan sikap yang penuh penerimaan, kesadaran, dan rasa syukur. Filusuf sekelas Al Ghazali dan Djalaludin Rumi membahas ketiganya dengan sangat dalam dan berisi. Rumi pernah menulis demikian: ”Jalani: seperti sungai yang tak menolak batu, Nikmati: seperti mawar yang tetap mekar walau berduri, Syukuri: seperti bintang yang diam-diam memuji malamnya”. Sementara Al-Ghazali menulis “”Orang yang bersyukur bukan hanya berkata ‘alhamdulillah’, tetapi mereka yang menjadikan nikmat sebagai jalan menuju Allah.” Jika kita telusuri melaalui papan digital yang ada, maka ditemukan kajian mendalam secara filosofis dari ketiganya. Mari kita jelajahi satu-persatu:
1. JALANI: Hidup dan Takdir
Al-Ghazali; Menekankan ikhtiar (usaha) sebagai bentuk tanggung jawab manusia. Setelah itu, baru tawakkal dan ridha. Pandangannya logis dan seimbang: manusia punya peran dalam menentukan hidup. Seolah berkata: “Jalani dengan sadar dan tanggung jawab.”
Rumi: Menekankan pasrah total dan “menari” bersama irama takdir. Mengalir seperti sungai dalam kehendak Tuhan. Dan, beliau lebih mistik dan puitis dalam bersurat: “Jangan lawan hidup, biarkan Tuhan yang menuntunmu.”Seolah berkata: “Jalani dengan cinta dan biarkan Tuhan menari melalui dirimu.”
2. NIKMATI: Makna Kebahagiaan
Al-Ghazali; Nikmati hidup secara zuhud: tidak melekat pada dunia, tapi tetap menikmati yang halal. Kenikmatan hakiki adalah dalam penyucian jiwa (tazkiyah) dan dekat dengan Allah. Seolah berkata: “Nikmati yang perlu, sisanya tinggalkan.”
Sedangkan Rumi bermetafor: Nikmati hidup sebagai bentuk ekstasi cinta Ilahi. Semua keindahan dunia adalah pantulan Tuhan. Kenikmatan adalah ketika hati larut dalam kerinduan kepada Sang Kekasih (Tuhan). Seolah berkata: “Nikmati segalanya, karena semuanya adalah tanda dari-Nya.”
3. SYUKURI: Rasa Terima Kasih
Al-Ghazali: Syukur adalah ilmu, hati, dan amal. Bukan cuma merasa, tapi harus nyata dalam tindakan. Syukur harus diiringi dengan pengendalian diri agar tidak kufur nikmat. Dan, seolah berkata: “Syukur itu tanggung jawab.”
Rumi: Syukur adalah tarian jiwa, ekstasi batin yang merayakan kasih Tuhan. Syukur bisa datang bahkan dari penderitaan, karena sakit pun adalah cara Tuhan mendekat. Seolah berkata: “Syukur itu mabuk cinta.”
Titik Temu Keduanya adalah: Sama-sama menekankan hati yang bersih dan tujuan hidup menuju Tuhan. Sama-sama melihat dunia sebagai tempat ujian, bukan tempat tujuan akhir. Bedanya adalah: Ghazali menjaga batas, Rumi melampaui batas—secara metaforis, tentu saja.
Lalu apa yang dapat kita petik sebagai pembelajaran dari keduanya; terlepas dari kelemahan dan keunggulan masing-masing; kita menemukan benang merah bahwa Ghazali seperti guru bijak yang membimbing dengan aturan dan kebijaksanaan. Sedangkan Rumi seperti penyair gila cinta yang menarik kita ke dalam tarian semesta.
Persoalannya sekarang bahwa budaya yang tumbuh dan berkembang saat ini tidak memberikan ruang yang cukup untuk menyemaikan bibit filsafat dalam kerangka fikir rohani pada generasi yang ada. Lembaga pendidikan yang diandalkan untuk tempat bersemainya paradigma berfikir atas dasar filsafat, ternyata tidak ditemukan. Akhirnya produk yang ada hasilkan hanya “para tukang” yang siap mencari kerja, tetapi tanpa paradigma. Sehingga saat mereka tidak menemukan “materi” yang disublimasikan sebagai rejeki, maka pilihan yang ada hanya korupsi.
Falsafah negeri yang telah digali oleh para pendahulu negeri dari akar budaya bangsa, kini hanya ada dialmari museum sebagai penanda bahwa “pernah ada pendidikan masif tentang filsafat negeri” pada masa lalu. Pendidikan masal disertai tekanan memang tidak perlu, karena harus melalui proses penyadaran diri yang berkelanjutan. Namun ironisnya dua-duanya sekarang tidak ditemukan, justru yang ada pembiaran dan sebagai penghias bibir saat pidato untuk bernostalgia dengan masa lalu. Akibatnya banyak pihak bagai biduk hilang kemudi, saat berlayar semua mau dilanggar. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman