Dosen Universitas Malahayati Luncurkan Program Pemberdayaan Masyarakat: Madu dan Temulawak Jadi Solusi Kesehatan Anak

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dosen Universitas Malahayati melakukan pengabdian masyarakat dengan memanfaatkan potensi luar biasa dari temulawak dan madu sebagai obat alami yang kaya manfaat. Salah satu masalah yang sering dihadapi orang tua adalah sulitnya memberikan temulawak dan madu kepada anak-anak, karena aroma dan rasa pahitnya yang kurang disukai. Menyadari tantangan ini, dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Bandarlampung tergerak untuk mencari solusi inovatif.

Dalam rangka Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Tim dosen Universitas Malahayati mengadakan sosialisasi dan pelatihan pembuatan cookies dan permen jelly (gummy) yang terbuat dari ekstrak temulawak dan madu. Kegiatan ini tidak hanya membantu orang tua, tetapi juga menciptakan alternatif menarik untuk meningkatkan nafsu makan anak, sambil tetap mempertahankan khasiat sehat dari kedua bahan alami tersebut. Sebanyak 30 peserta dilaksanakan di Panti Asuhan Yatim Piatu dan Du’afa Mahmudah Kemiling Bandarlampung. Jumat (27/9/2024).

Kegiatan ini juga merupakan salah satu Hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tahun 2024 Program ini didanai oleh DRTPM Kemdikbudristek dengan Nomor: 065/E5/PG.02.00/PM.BATCH.2/2024, Tanggal 01 Agustus 2024, serta melalui kontrak turunan antara LLDIKTI Wilayah II dengan Universitas Malahayati Nomor 959/LL2/AL.04/ PM/2024 tanggal 8 Agustus 2024.

Tim pengabdian masyarakat ini terdiri dari dua program studi yang berkolaborasi: Program Studi Ilmu Keperawatan dan Farmasi. Anggota tim meliputi Linawati Novikasari, S.Kep., Ns., M.Kes, dan Setiawati, M.Kep., Sp.Kep, dari Prodi Keperawatan, serta Nofita, M.Si., Apt dari Prodi Farmasi.Tim ini dibantu oleh dua mahasiswa keperawatan berbakat, Muhammad Rio Saputra dan Ferdika Agustiansyah.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Linawati menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih kemandirian mitra dengan menciptakan inovasi produk menarik: cookies dan permen jelly (gummy) berbahan dasar temulawak dan madu. Meskipun temulawak merupakan tanaman yang umum ditemukan, pemanfaatannya masih terbatas sebagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA). KH. Khabibul Muttaqin, SH., pengurus panti asuhan, menyambut antusias kegiatan ini. Ia mengungkapkan betapa bermanfaatnya program ini dalam melatih kreativitas dan menambah pengetahuan anak-anak di panti asuhan yatim piatu dan duafa Mahmudah. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan manfaat temulawak dan madu, tetapi juga memberikan pengalaman berharga bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan baru.

Dalam program ini, tim PKM juga memberikan bantuan berupa alat produksi seperti open, kompor gas, mixer, cetakan kue dll. Kami juga melaksanakan pelatihan langsung dengan melakukan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan diskusi untuk mendapatkan solusi yang tepat dan efektif. Tahap pelaksanaan kegiatan terdiri dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, hingga evaluasi. Dengan adalanya kegiatan ini mitra dapat membuat sebuah produk inovasi olahan dari temulawak dan madu berupa cookies dan gummy dan terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan menjadi 85%.

Ucapan terimakasih kepada Direktorat Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dan LPPM Universitas Malahayati serta Panti Asuhan Yati Piatu dan Du’afa Mahmudah Kemiling Bandarlampung. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Profil Rektor Universitas Malahayati Kedelapan Dr. Muhammad Kadafi

BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara, lahir di Aceh Besar pada 8 Oktober 1983 dari pasangan Rusli Bintang dan Rosniati Syeh pendiri yayasan Alih Teknologi.

Dr. Muhammad Kadafi menamatkan Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) 1 Banda Aceh pada 1995, kemudian menyelesaikan SMP Negeri 1 Banda Aceh, bahkan dirinya semasa kecil sempat menimba ilmu di pesantren Abulyatama dan Babun Najah. Kadafi pindah ke Bandar Lampung dan bersekolah di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Bandar Lampung. Ia meraih gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada 2006, sebagai lulusan terbaik.

Sejak 2007, Dr. Muhammad Kadafi mulai menjadi dosen di Universitas Malahayati. Ia terus melanjutkan studinya, kemudian memperoleh gelar Magister Hukum di Program Pascasarjana Universitas Lampung, Bandar Lampung, pada 2009. Pada 2015, Kadafi akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Diponegoro pada 27 Februari 2015.

Dirinya dipercaya menjadi rektor Universitas Malahayati sejak 2010. Pada masa kepemimpinannya, banyak perubahan positif yang Ia lakukan untuk Universitas Malahayati.Sebelum dirinya menjabat, baru satu program studi yang terakreditasi B dari 15 prodi yang ada saat itu. Dalam tempo tujuh tahun, Kadafi mengubah kondisi kampus hingga 12 program studi sudah terakreditasi B, terutama Fakultas Kedokteran.

Bahkan pada jenjang perguruan tinggi, Universitas Malahayati ikut terakreditas B, peringkat terbaik untuk PTS di wilayah Kopertis II, yang mencakup Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu serta Kepulauan Bangka Belitung.

Selain terus mengembangkan perguruan tinggi dalam bidang akademik, Muhammad Kadafi juga fokus di bidang CSR, di mana Dr. Muhammad Kadafi mewajibkan setiap karyawan menjadi orang tua asuh. Maka berkembanglah pembinaan anak yatim dari Universitas Malahayati lebih dari 9000 orang di 9 provinsi. Akhirnya pada 2019, Dr. Muhammad Kadafi di percaya masyarakat Lampung untuk duduk menjadi anggota DPR RI hingga sekarang.

Sebagai anggota DPR RI, Dr. Muhammad Kadafi yang pernah di komisi X, ia juga ikut memperjuangkan di bidang pendidikan terutama terkait program Indonesia pintar (KIP), selain Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan juga pernah duduk di Badan Anggaran DPR -RI dari periode 2019 hingga sekarang.

selama terpilih menjadi anggota DPR RI Dr. Muhammad Kadafi berjuang untuk konsen dengan program pendidikan dan memperjuangkan beasiswa PIP dan KIP untuk masyarakat Indonesia umumnya. Dr. Muhammad Kadafi terus mendorong masyarakat agar memahami pentingnya anak menempuh pendidikan yang layak dan sampai ke perguruan tinggi dan manfaatkan program PIP dan KIP. Programnya kedepan adalah Satu Rumah Satu Sarjana, PIP merata dan bermanfaat bagi masyarakat.

Saat ini Dr. Muhammad Kadafi kembali dipercaya masyarakat Lampung untuk melanjutkan perjuangnnya, Tepatnya pada 1 Oktober 2024 di Kompleks Parlemen, Jakarta, Dr. Muhammad Kadafi dilantik sebagai Anggota DPR RI Periode 2024 – 2029.

Pelantikan ini menandai periode kedua Dr. Muhammad Kadafi, sebagai Anggota DPR RI, setelah sebelumnya menjabat pada periode 2019-2024.

Keberhasilannya kembali terpilih merupakan bukti nyata kepercayaan yang diberikan masyarakat Lampung atas dedikasi dan perjuangan yang konsisten dalam menyuarakan aspirasi daerah.

Di waktu yang sama, Dr. Muhammad Kadafi kembali menjadi Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung Periode 2024-2028, Ini merupakan kedua kalinya Dr. Muhamad Kadafi memimpin dnan menjadi Rektor kedelapan Universitas Malahayati Bandar Lampung.

Kehadiran Dr. Muhammad Kadafi diharapkan membawa perubahan baru di dalam lingkungan Universitas Malahayati Bandar Lampung kearah yang lebih baik dan lebih maju. (*)

 

Editor: Asyihin

Menelusuri Sejarah Batik Sebagai Simbol Budaya yang Mendunia

BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Sahabat Unmal, pemerintah telah menetapkan 2 Oktober 2024 sebagai Hari Batik Nasional! Tapi tahukah kamu bagaimana sejarahnya sehingga 2 Oktober dipilih sebagai Hari Batik Nasional? Yuk, kita telusuri perjalanan batik sebagai warisan budaya Indonesia hingga diakui dunia oleh UNESCO.

Batik telah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 dan berkembang pesat di pulau Jawa, khususnya di wilayah Solo dan Yogyakarta. Pada masa itu, batik menjadi bagian dari budaya keraton dan dikenakan oleh bangsawan. Proses pembuatan batik menggunakan canting dan malam, menghasilkan beragam motif yang memiliki makna filosofis, seperti motif parang, mega mendung, sidomukti, dan lain-lain. Masing-masing motif menggambarkan nilai kehidupan, status sosial, hingga doa dan harapan.

Pada masa penjajahan Belanda, batik mulai dikenal oleh masyarakat Eropa dan memperoleh perhatian internasional. Motif-motif batik mengalami perkembangan, terutama setelah masyarakat Tionghoa dan Belanda juga mulai mengadopsi teknik membatik dan menciptakan motif-motif baru. Pada masa ini, batik menjadi simbol kebanggaan budaya lokal di tengah penjajahan.

Setelah Indonesia merdeka, batik tidak hanya sekadar kain, tetapi juga simbol identitas nasional. Batik menjadi bagian dari pakaian resmi dalam acara kenegaraan, bahkan digunakan oleh Presiden Soekarno dalam pertemuan-pertemuan penting. Batik mulai dianggap sebagai simbol persatuan dan identitas bangsa Indonesia.

Perjuangan untuk menjadikan batik sebagai warisan dunia dimulai ketika batik diusulkan oleh pemerintah Indonesia kepada UNESCO pada tahun 2008 untuk diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda. Pengajuan ini didukung oleh fakta bahwa batik memiliki nilai budaya yang tinggi, proses pembuatan yang kompleks, serta makna filosofis yang dalam di setiap motifnya.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO secara resmi mengakui batik sebagai Warisan Budaya Takbenda. Pengakuan ini diberikan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dalam sidang UNESCO yang dihadiri oleh perwakilan dari berbagai negara. Pengakuan ini menjadikan batik sebagai salah satu warisan budaya dunia, diakui karena nilai historis, keindahan, serta kontribusi terhadap peradaban manusia.

Sebagai bentuk penghormatan atas pengakuan internasional tersebut, pemerintah Indonesia, melalui Keputusan Presiden No. 33 Tahun 2009, menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Peringatan ini bertujuan untuk:

– Menghargai batik sebagai warisan budaya bangsa.

– Mendorong masyarakat Indonesia untuk terus melestarikan batik.

– Mempromosikan batik kepada dunia internasional sebagai simbol kebanggaan Indonesia.

Pada 2 Oktober setiap tahunnya, masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan, termasuk aparatur negara, sekolah, dan perusahaan, diimbau untuk mengenakan pakaian batik. Acara-acara khusus, seperti pameran batik, seminar, dan lokakarya, sering kali diselenggarakan untuk memperingati hari ini.

Setelah pengakuan dari UNESCO, batik semakin mendapat perhatian dunia. Batik Indonesia mulai digunakan di berbagai acara internasional, termasuk dalam dunia mode. Banyak desainer dalam dan luar negeri yang mengadaptasi batik dalam karya-karya mereka, memperkenalkan batik sebagai tren fesyen global.

Hari Batik Nasional menjadi simbol kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya di tengah arus globalisasi. Di samping nilai artistiknya, batik menyatukan Indonesia dalam satu identitas kebudayaan yang diterima secara global. Oleh karena itu, Hari Batik Nasional tidak hanya menjadi peringatan, tetapi juga bentuk upaya kolektif untuk menjaga warisan leluhur.

Hari Batik Nasional juga mengingatkan bahwa batik bukan sekadar kain, melainkan simbol yang mengandung sejarah panjang, filosofi, dan jati diri bangsa Indonesia di tingkat Mancanegara. (*)

Terjebak Situasi Tanpa Solusi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pagi menjelang siang di ruang kerja, kedatangan tamu seorang karyawan senior di lembaga tempat bertugas. Beliau adalah salah seorang yang suka mencermati situasi sekitar, termasuk menjadi pembaca setia semua artikel tulisan penulis yang terbit di media. Hari itu beliau menanyakan satu konsep budaya Jawa berkaitan dengan istilah “pulung” yang sering dikaitkan dengan kepemimpinan negara, raja atau apapun namanya. Tentu saja pertanyaan ini cukup berat mengingat situasi negeri ini sedang mempesiapkan prosesi pergantian kepemimpinan, serta maraknya akan dilaksanakan pemilihan kepala daerah; seolah-olah kita (baca: rakyat) dihadapkan dengan jebakan situasi tanpa solusi. Karena satu sisi, pimpinan paling atas sudah kehilangan pulung, kepemimpinan di bawah ramai-ramai mencari pulung.

Sebelum lebih jauh membahas tentang pulung; maka kita telusuri terlebih dahulu makna pulung kepemimpinan. Pulung kepemimpinan dalam budaya Jawa adalah konsep mistis yang berhubungan dengan kharisma dan legitimasi seseorang sebagai pemimpin. Pulung secara harfiah berarti berkah, pemberian, atau wahyu yang turun dari “langit”, dan sering kali dipandang sebagai tanda atau simbol ilahi yang menunjukkan bahwa seseorang telah terpilih untuk memimpin. Dalam budaya Jawa, konsep ini berperan penting dalam memahami bagaimana kekuasaan dan kepemimpinan diterima, dijalankan, dan diwariskan.

Pulung juga diyakini sebagai pemberian dari Tuhan atau kekuatan Ilahi. Orang yang menerima pulung dianggap sebagai pemimpin yang diakui oleh alam semesta dan kekuatan spiritual. Konsep ini sering kali muncul dalam cerita rakyat dan sejarah kerajaan Jawa, dimana seorang raja atau pemimpin besar dipilih berdasarkan pulung yang diterimanya.

Pulung ini bukan hanya simbol fisik, tetapi lebih merupakan wahyu atau tanda batin yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu atau melalui pertanda alam (seperti cahaya dari langit atau bintang jatuh dan atau lainnya).
Orang yang memiliki pulung dalam dirinya diyakini memiliki kharisma alami dan legitimasi spiritual untuk memimpin. Kepemimpinan yang dimiliki tidak hanya diakui oleh rakyatnya secara sosial, tetapi juga oleh kekuatan-kekuatan alam dan spiritual yang mendukungnya.

Kepemimpinan dalam budaya Jawa bukan hanya tentang kemampuan administratif atau politik, tetapi juga tentang kemampuan seseorang untuk membawa keseimbangan dan keharmonisan antara dunia material dan spiritual. Seorang pemimpin yang memiliki pulung diyakini bisa membawa kemakmuran, ketenangan, dan keselamatan bagi rakyatnya.

Dalam filsafat Jawa juga beranggapan, seorang pemimpin yang menerima pulung harus menunjukkan sikap bijaksana, adil, dan moral tinggi. Konsep ini mengandung harapan bahwa seorang pemimpin yang dipilih oleh kekuatan ilahi harus memimpin dengan sifat-sifat luhur seperti adil, arif, tepa selira (tenggang rasa), dan narimo ing pandum (ikhlas menerima takdir).

Kepemimpinan bukanlah kekuasaan yang dipaksakan, tetapi sesuatu yang alami dan diterima karena sikap dan tindakan yang benar. Jika seorang pemimpin melanggar nilai-nilai moral, diyakini bahwa pulung tersebut dapat hilang, dan ia kehilangan legitimasi untuk memimpin.

Pulung sering digambarkan sebagai cahaya atau sinar yang turun dari langit, yang mungkin hanya bisa dilihat oleh mereka yang memiliki penglihatan spiritual atau oleh orang-orang yang memiliki koneksi kuat dengan dunia “langit”. Ada berbagai cerita rakyat yang menggambarkan pulung sebagai “bola cahaya” yang turun ke seseorang, atau sebagai tanda-tanda tertentu di alam seperti fenomena alam, suara, atau mimpi yang dianggap sebagai pertanda Ilahi. Fenomena pulung juga seringkali dijelaskan dengan tanda-tanda alam yang tidak biasa, seperti munculnya bintang jatuh atau cahaya yang terlihat di atas tempat tertentu.

Dalam tradisi kerajaan dan kepemimpinan Jawa, konsep pulung menjadi salah satu dasar untuk menentukan apakah seseorang layak menjadi pemimpin. Dalam konteks ini, pemimpin tidak hanya dipilih berdasarkan garis keturunan, tetapi juga karena mereka dianggap menerima pulung dari kekuatan Ilahi. Hal ini menciptakan hubungan yang erat antara kekuasaan politik dan spiritualitas, dimana seorang pemimpin yang baik harus bisa menjaga harmoni antara dunia material dan dunia spiritual.

Pada kehidupan masyarakat Jawa, pulung masih diyakini sebagai elemen penting dalam memilih pemimpin, baik dalam skala kecil seperti desa hingga dalam skala besar seperti kerajaan atau negara. Pemimpin yang memiliki pulung dianggap mampu memimpin dengan lebih bijaksana, adil, dan membawa kesejahteraan bagi orang-orang di bawah kepemimpinannya.

Semua di atas menyisakan satu pemikiran bahwa kecenderungan kehilangan pulung atau berpindahnya pulung kepada orang lain; itu bukan wilayah manusia, tetapi lebih pada wilayah keilahian. Oleh karena itu sebagai rakyat kebanyakan tidak harus terjebak dalam situasi yang tanpa solusi; karena manakala kita memaksakan diri terhadap sesuatu, itu menunjukkan kita tidak mengakui kodrat yang sudah ditentukan. Oleh sebab itu mari kita bersama menyadari bahwa menjadi pemimpin itu tidak cukup berbekal jumlah suara yang dikumpulkan saat pemilihan saja, akan tetapi ada Yang Maha Berkehendak untuk menjadikan kita sesuatu di muka bumi ini. Tidak ada peristiwa yang kebetulan karena skenario itu ditulis sebelum kita lahir di alam ini. Soal bagaimana-pun caranya kita tidak akan mengetahui, karena ketentuan berikut cara itu satu paket dengan ketentuan takdir-Nya. Kita harus yakin bahwa pemimpin yang akan dilantik untuk memimpin negeri ini memang ada dalam garis kodrat yang sudah ditentukan, serta akan membawa kebermanfaatan bagi kita semua; tinggal dari sudut padang mana yang akan kita ambil. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Katalog buku Asi dan Motivasi

Buku : Asi dan Motivasi

Penulis :

  1. Aryanti Wardiyah.,Ns.M.Kep.Sp.Kep.,Mat
  2. Neneng Siti Latifah, SST., M.Kes
  3. Nova Nurwindasari.,Ns, M.Kep
  4. Miranti, Ns.,M.Kep

Sinopsis: Buku ini membahas tentang ASI dan Motivasi ASI. Penulisan buku ini merupakan ide dan gagasan atas pemenuhan penulis dalam melaksanakan tugas sebagai dosen dalam menerapkan Tri Dharma Perguruan Tinggi, dari penelitian, pengabdian Masyarakat, dan Pengajaran. Buku ini membahas tentang TREND DAN ISSUE MASALAH MENYUSUI, KONSEP ASI,PATOFISIOLOGI KELUARNYA ASI,MANFAAT ASI hingga TIPS-TIPS MENYUSUI YANG ASIK.

Inovasi Dosen Universitas Malahayati: Program Pendampingan UMKM Biqa Batik Tingkatkan Daya Saing dan Ciptakan Strategi Digital Marketing

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id) : Peningkatan omset UMKM kini semakin terdengar tantangannya, salah satunya melalui pemanfaatan Digital Marketing. Selain itu, peran pendampingan dari para pengajar juga menjadi kunci penting dalam membantu UMKM naik kelas. Dosen Universitas Malahayati, Dr. Febrianty, SE, M.Si., bersama tim Lestari Wuryanti, SE, MM, dan Rezania Agramanisti Azdy, S.Kom., M.Cs., telah memainkan peran penting dalam meningkatkan omset UMKM di wilayah Lampung , terutama melalui pemanfaatan Digital Marketing. Melalui Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dari DRTPM Kemdikbudristek, mereka menawarkan solusi komprehensif yang membantu UMKM naik kelas.

Program ini didanai oleh DRTPM Kemdikbudristek dengan Nomor: 065/E5/PG.02.00/PM.BATCH.2/2024, Tanggal 01 Agustus 2024, serta melalui kontrak turunan antara LLDIKTI Wilayah II dengan Universitas Malahayati Nomor 959/LL2/AL.04/ PM/2024 tanggal 8 Agustus 2024. Pendanaan ini memungkinkan terlaksananya berbagai pelatihan dan pendampingan yang berdampak positif pada UMKM mitra Biqa Batik Lampung.

“UMKM Biqa Batik kini lebih mudah menyajikan produk Batik Cap Motif Lampung melalui branding dan pemasaran digital,” ujar Dr. Febrianty, SE, M.Si. Program ini tidak hanya membantu memperkenalkan produk mitra secara lebih luas, tetapi juga meningkatkan daya saing melalui strategi pemasaran digital.

Dalam program ini, tim PKM juga memberikan bantuan berupa alat produksi seperti 2 buah gawangan kayu, 3 panci pelorodan, 1 bak celup knockdown yang sudah dimodifikasi secara khusus, dan 4 buah canting cap motif. “Kami juga melaksanakan pelatihan langsung selama 8 bulan terkait penggunaan aplikasi e-inventory dan e-katalog Biqa Batik, yang dapat diakses melalui website (biqabatiklampung.com). Pengembangan aplikasi ini memakan waktu 2 bulan,” tambah Febrianty.

Keberhasilan program ini ditandai dengan beberapa indikator, seperti peningkatan daya saing, penerapan teknologi tepat guna (TTG), serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam manajemen usaha dan strategi pemasaran. “Hasil kunjungan dan pendampingan menunjukkan adanya peningkatan omset sebesar 30%, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan manajemen usaha hingga 80%. Mitra kini telah menggunakan aplikasi e-inventory untuk pengelolaan persediaan dan e-katalog untuk memasarkan atau mempromosikan produk Batik Cap Motif Lampung,” jelas Febrianty.

Lebih lanjut, prosedur kerja PKM ini meliputi tahapan analisis situasi mitra, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, hingga evaluasi. “Peningkatan signifikan terjadi pada aspek manajemen usaha sebesar 90%, pemasaran 87%, dan penerapan IPTEK mencapai 85%,” tutupnya.

Dengan dukungan Program PKM Direktorat Akademik Pendidikan Tinggi Vokasi, UMKM Biqa Batik diharapkan dapat terus berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas, meningkatkan omset usaha, serta memperkuat branding melalui pemanfaatan teknologi digital. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Selamat kepada Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., dilantik sebagai Anggota DPR RI Periode 2024-2029

BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Civitas Akademika Universitas Malahayati Bandar Lampung mengucapkan selamat dan sukses kepada Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H. atas pelantikannya sebagai Anggota DPR RI Periode 2024 – 2029 dari Daerah Pemilihan Lampung I. Pelantikan tersebut dilaksanakan pada 1 Oktober 2024 di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Pelantikan ini menandai periode kedua Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H. sebagai Anggota DPR RI, setelah sebelumnya menjabat pada periode 2019-2024. Keberhasilannya kembali terpilih merupakan bukti nyata kepercayaan yang diberikan masyarakat Lampung atas dedikasi dan perjuangan yang konsisten dalam menyuarakan aspirasi daerah.

Dalam kesempatan ini, Civitas Akademika Universitas Malahayati berharap agar amanah yang kembali dipercayakan kepada Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H. dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Semoga keberadaannya di parlemen dapat terus membawa perubahan positif serta kemajuan bagi bangsa dan negara, khususnya bagi masyarakat Lampung. (*)

Membersihkan Jalan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Siang itu begitu terik dan baru bisa masuk kekampus setelah menghadiri upacara pelantikan organisasi profesi guru terbesar di negeri ini.  Tentu saja dengan bercucuran keringat harus mencapai lantai lima tempat berkantor.  Dalam perjalan mencapai ruang kerja melihat ke bawah nun jauh di sana tampak petugas kebersihan sedang membersihkan jalan. Mereka tidak peduli dengan teriknya matahari tampak raut wajah ihlas dalam melakoni kehidupannya dengan penuh kesungguhan.

Merenungkan kejadian itu melihat tukang pembersih jalan yang mengerjakan pekerjaannya dengan melangkah mundur, bukan maju. Ternyata jika dipahami secara mendalam peristiwa itu mengandung maksud bahwa semua didunia ini kejadiannya selalu merupakan “pembersihan jalan untuk dilalui oleh peristiwa lainnya”. Hal ini menbuat pertanyaan banyak orang karena berpersepsi peristiwa yang lalu itu sering di posisikan baik dan tidak baik. Jelas ini adalah jalan berfikir yang keliru; yang benar adalah peristiwa kemudian itu selalu menjadi pengkoreksi atau pelengkap, bisa jadi berkesinambungan dari peristiwa sebelumnya. Sama halnya tukang sapu yang selalu berjalan mundur karena beliau harus menyisihkan, menghimpun semua hal yang dianggap kotor atau diposisikan kotor.

Agar lebih paham, maka kita bisa menelisiknya dari ranah filsafat ; ungkapan “membersihkan jalan” dapat memiliki makna yang mendalam dan simbolis. Filsafat sering dianggap sebagai disiplin yang berupaya menggali dan mengklarifikasi konsep-konsep, asumsi, dan cara berpikir yang tersembunyi atau tidak disadari. Berikut adalah beberapa cara bagaimana makna “membersihkan jalan” bisa dipahami dalam filsafat:

Pertama, Membersihkan Jalan dari Prasangka dan Dogma: Salah satu fungsi utama filsafat adalah mempertanyakan asumsi dasar yang sering diterima begitu saja oleh masyarakat atau individu. “Membersihkan jalan” dalam konteks ini berarti menghilangkan prasangka, kepercayaan dogmatis, atau keyakinan tanpa dasar yang menghalangi jalan menuju pemikiran kritis dan independen. Seorang filsuf, seperti Descartes, dalam metode keraguannya, mencoba “membersihkan” segala asumsi yang tidak bisa dipastikan agar bisa menemukan dasar kebenaran yang lebih kuat.

Kedua, Menyederhanakan Kerumitan: Filsafat sering kali berurusan dengan masalah yang rumit dan kompleks. “Membersihkan jalan” bisa berarti memecah masalah yang rumit menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana dan bisa dipahami. Melalui proses analisis, filsafat membersihkan jalan menuju pemahaman yang lebih baik, tanpa tersesat dalam kerumitan yang tidak perlu.

Ketiga, Mengeliminasi Kontradiksi dan Kekacauan Konseptual: Dalam filsafat analitik, misalnya, “membersihkan jalan” bisa berarti menjernihkan konsep-konsep yang tidak jelas atau bertentangan. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa argumen-argumen dibangun di atas dasar yang logis dan konsisten. Filosof seperti Ludwig Wittgenstein berfokus pada membersihkan bahasa dan pemahaman dari kekacauan konseptual yang dapat menghalangi pemahaman tentang dunia.

Keempat, Persiapan Menuju Pemahaman yang Lebih Tinggi: “Membersihkan jalan” juga bisa dimaknai sebagai tindakan persiapan mental dan intelektual. Sebelum mencapai pencerahan atau pemahaman mendalam, seseorang harus melewati tahap di mana jalan yang menuju kebenaran dibersihkan dari gangguan, kebingungan, atau asumsi yang salah. Dalam tradisi filsafat Timur, seperti Zen, membersihkan pikiran dari pemikiran yang terikat ego adalah bagian penting dari perjalanan spiritual menuju pencerahan.

Kelima, Memfasilitasi Dialog Filosofis yang Terbuka: Filsafat juga melibatkan dialog yang jujur dan terbuka. “Membersihkan jalan” dalam konteks ini dapat berarti membangun ruang bagi percakapan yang tidak terhalang oleh kesalahpahaman, manipulasi, atau argumen yang tidak jujur. Filosof berusaha membersihkan komunikasi untuk memungkinkan pertukaran ide yang murni dan berbobot.

Dalam semua konteks ini, “membersihkan jalan” dalam filsafat pada dasarnya mengacu pada upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang mencegah seseorang mencapai pengetahuan yang lebih jelas, kebijaksanaan, atau pencerahan moral dan intelektual. Sementara dalam filsafat Islam yang dimaksud dengan “membersihkan jalan” dapat dipahami dalam konteks pencerahan intelektual dan spiritual yang memberikan panduan bagi seseorang untuk menjalani hidup sesuai dengan prinsip-prinsip etika dan kebenaran. Dalam filsafat Islam, “membersihkan jalan” bisa merujuk pada proses pemurnian hati, pikiran, dan perilaku melalui pengetahuan, logika, dan ajaran moral yang berdasarkan pada wahyu Ilahi dan pemikiran rasional.

Beberapa pemikir dalam tradisi filsafat Islam, seperti Al-Farabi, Ibn Sina (Avicenna), dan Al-Ghazali, menekankan pentingnya pengetahuan sebagai sarana untuk mencapai kebijaksanaan dan kebenaran. Pengetahuan ini berfungsi untuk “membersihkan” pikiran dari kesalahan atau pandangan yang salah, serta membimbing seseorang menuju kehidupan yang lebih etis dan harmonis dengan tujuan hidup yang lebih tinggi, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan.

Secara spiritual, “membersihkan jalan” juga bisa dikaitkan dengan konsep tasawuf (sufisme), di mana pembersihan hati dan jiwa dari hasrat duniawi adalah langkah penting menuju kedekatan dengan Tuhan. Dalam konteks ini, filsafat Islam berperan sebagai panduan intelektual dan spiritual dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain, filsafat Islam mengajarkan bahwa untuk mencapai kebahagiaan dan kebenaran sejati, seseorang perlu membersihkan jalannya—baik melalui peningkatan pemahaman rasional maupun melalui disiplin spiritual. Jadi, secara filosofis, “membersihkan jalan” bukan sekadar tindakan fisik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai ketekunan, kejelasan, tanggung jawab, dan kesadaran diri dalam menjalani kehidupan. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Titip Asa, Jangan Bus Harapan Jaya Lebih Pasti dari Harapan Pilkada

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Minggu lalu, saya “berpetualang” menjadi relawan untuk mengedukasi para orangtua siswa kelas sepuluh (SMA) tentang bagaimana mendampingi anak-anak remaja yang sedang tumbuh di perbatasan Lampung-Sumatera Selatan.

Betul-betul berpetualang, isteri yang setia membantu mengemudikan kendaran menyelusuri jalan provinsi yang hancur lebur. Bayangkan, jalan 30 km harus ditempuh 1,5 jam dengan mobil tahun 2022.

Rasanya, tak pantas jalan provinsi itu disebut jalan, saya melihat dan merasakan lebih tepat jalan tersebut disebut sungai yang mengering. Jika berpapasan dengan truk, terpaksa minggir tak bisa bersamaan.

Perjuangan kami sampai di lokasi akhirnya terbayar dengan antusiasme orangtua siswa yang begitu tinggi. Mereka tidak beranjak sama sekali dari tempat pertemuan kurang lebih dua jam.

Selesai acara, kami meninggalkan lokasi melalui jalan lain yang menurut informasi tidak lebih baik dari jalan sebelumnya. Dasar jiwa aponturir, tak perlu berpikir, kami berdua memilih jalan alternatif dengan menyiapkan mental.

Benar saja jalan itu tidak lebih baik dari jalan kami datang. Bahkan, untuk beberapa lokasi, lebih parah lagi. Saat jeda selesai menunaikan Salat Jumat, kami berdua membuka dialog dengan warga yang topiknya jalan.

Berdasarkan informasi yang kami terima, dua periode kepemimpinan gubernur, jalan tersebut belum tersentuh pembangunan.

Sementara dana desa yang mereka miliki tidak dapat digunakan untuk perbaikan, akhirnya dengan gotong royong seadanya mereka menambal jalan yang amat parah.

Sepulang dari lokasi melalui piranti sosial melakukan pemetaan keadaan jalan dengan informannya mantan mahasiswa pasca yang sekarang tersebar di banyak daerah perbatasan.

Semua mereka menginformasikan hancurnya sarana jalan, bahkan ada diantara mereka untuk mencapai tempat tugas harus masuk dari provinsi tetangga. Pertanyaannya apa yang sudah dikerjakan wahai pemimpin negeri ini.

Saya ingatkan kepada calon kepala daerah janganlah dekati rakyat manakala Anda berhasrat saja. Jika selesai hajat, rakyatpun Anda babat. Perilaku seperti itu adalah zolim dalam ukuran moral dan etika.

Belajar dari Penjabar Gubernur Lampung Samsudin yang hanya memerintah seumur jagung, namun sudah banyak yang diukir oleh Beliau tanpa banyak janji, tetapi lebih mengedepankan bukti.

Siapapun Anda yang akan mendapatkan amanah memimpin daerah ini, titip pesan dengarkan suara batin dari kami rakyat jelata. Kami tak muluk-muluk tolong perhatikan jalan daerah kami, karena kamipun rakyat Anda dan akan memilih Anda.

Kami tidak perlu janji, akan tetapi bukti; jangan pula kami diintimidasi hanya karena Anda tidak sanggup memenuhi harapan kami. Bukan kami mengadili dari yang sudah terjadi, namun kami mengingatkan kembali tugas pemimpin negeri yang terpilih nanti.

Kami-pun paham PAD daerah ini tidak besar, berbeda dengan provinsi tetangga. Namun skala prioritas pada jalan agar terjadi mobilitas, yang akhirnya akan terjadi “efek menetes ke bawah” insya Allah akan terjadi.

Kami tidak ingin mengkuliahi, apalagi mengajari; karena kami sadar siapa diri. Namun jika harap-pun sudah tak boleh, buat apa lagi Anda berharap dihadapan kami.

Pemilukada harus ada, tetapi setelah ada jangan pula menjadi tiada.
Kami juga tidak meminta Anda untuk berjanji, tetapi kami berharap Anda mau memberi.

Jangan sampai terjadi anak muda bilang “menunggu datangnya Bus Harapan Jaya itu lebih pasti dari pada menanti harapan hampa dari Pilkada. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Pengumuman Penting UTS bagi Mahasiswa Angkatan 2018-2023!

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Halo Sahabat Unmal..Universitas Malahayati mengumumkan ketentuan pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) bagi mahasiswa angkatan 2018-2023. Mahasiswa diwajibkan untuk mempersiapkan diri dengan baik dan memastikan semua syarat administrasi telah terpenuhi. Yuk cek disini ketentuan dan pengumuman pengambilan kartu uts angkatan lama

Editor: Gilang Agusman