Kesempurnaan Yang Tidak Mencari Sempurna

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Sore itu, langit pesantren berwarna jingga. Suara santri mengaji samar terdengar dari kejauhan. Di serambi asrama, dua santri duduk bersila setelah shalat Ashar.

“Aku iri,” ucap salah satu dari mereka, yang sering dipanggil Udin, pelan. “Dia selalu terlihat sempurna. Hafalannya kuat, ucapannya rapi, dan semua orang memujinya.” Temannya yang bernami Sarmin, menoleh, tersenyum tipis. “Kau yakin kesempurnaan itu selalu membawa tenang?”. “Apa maksudmu?” sergah Udin sedikit galak.

“Kau lihat dia dari luar. Tapi kau tak tahu lelahnya menjaga citra. Aku pernah melihatnya menangis di mushala tengah malam,” jawabnya Sarmin lirih. Santri Udin terdiam. “Tapi aku merasa tak pernah cukup. Hafalanku sering salah, aku mudah ragu.”

“Justru itu yang membuatmu terus belajar,” sahut Sarmin. “Kiai pernah bilang, ilmu tidak tumbuh dari kesempurnaan, tapi dari kesungguhan menerima kekurangan.” Angin berembus lembut, menggoyangkan dedaunan. “Jadi kau bilang, kekurangan itu bukan aib?” tegas Udin.

“Bukan. Ia guru paling jujur,” jawabnya Sarmin mantap. “Di pesantren ini, kita diajarkan untuk merapikan hati, bukan sekadar memperindah tampilan.” Santri Udin menunduk, memandangi lantai serambi. “Mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri.” Sarmin tersenyum. “Kesempurnaan bukan soal tak pernah salah, tapi mau bangkit setiap kali jatuh.”

Suara adzan Maghrib menggema. Keduanya berdiri.

“Terima kasih,” ucap Udin pelan.

“Kita belajar bersama,” jawab Sarmin.

Mereka melangkah menuju masjid, membawa hati yang lebih ringan, perlahan belajar menerima diri, di antara tembok pesantren yang sunyi namun penuh makna

Sering kali manusia terjebak pada anggapan bahwa keindahan adalah tujuan akhir, dan kesempurnaan adalah syarat mutlak kebahagiaan. Mata kita terbiasa mencari yang paling memukau, telinga ingin mendengar yang paling merdu, dan hati kerap mendambakan  keadaan tanpa cela. Namun, perjalanan hidup perlahan mengajarkan bahwa yang terindah tidak selalu menjadi yang terbaik. Ada hal-hal yang tampak sempurna di permukaan, tetapi hampa di dalamnya. Sebaliknya, ada pula yang sederhana, bahkan penuh kekurangan, namun justru menghadirkan ketenangan dan makna yang mendalam.

Keindahan sering bersifat sementara. Ia memikat, tetapi mudah memudar. Apa yang hari ini dipuja, esok bisa menjadi biasa. Dalam keindahan yang hanya berdiri di atas penampilan, manusia kerap lupa menggali kedalaman. Ketika sesuatu dinilai hanya dari luarnya, kekecewaan menjadi bayangan yang tak terhindarkan. Harapan yang terlalu tinggi terhadap kesempurnaan menjadikan manusia rapuh, karena realitas jarang berjalan seiring dengan bayangan ideal yang dibangun di kepala.

Kesempurnaan pun kerap disalahartikan sebagai ketiadaan kekurangan. Padahal, hidup tidak pernah menawarkan ruang kosong dari cela. Setiap langkah membawa risiko, setiap pilihan menyimpan konsekuensi. Ketika seseorang memaksakan hidupnya agar terlihat sempurna, ia sesungguhnya sedang menolak sisi paling manusiawi dari dirinya sendiri. Dari penolakan itulah lahir kegelisahan, rasa tidak cukup, dan ketakutan akan kegagalan. Kesempurnaan yang dibangun di atas penyangkalan justru menjauhkan manusia dari kebahagiaan yang tulus.

Kebahagiaan bukanlah hasil dari hidup yang tanpa luka, melainkan dari kemampuan berdamai dengan luka tersebut. Ada kelegaan yang lahir ketika seseorang berhenti melawan kenyataan dan mulai menerimanya. Penerimaan bukan berarti menyerah, melainkan keberanian untuk melihat diri apa adanya. Di sanalah kekurangan tidak lagi menjadi beban, tetapi ruang untuk bertumbuh. Kekurangan mengajarkan kerendahan hati, mengasah empati, dan menumbuhkan rasa syukur atas hal-hal kecil yang sering terlewatkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering terlihat bagaimana standar kesempurnaan dibentuk oleh perbandingan. Manusia membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain, seolah kebahagiaan adalah perlombaan yang harus dimenangkan. Padahal, setiap orang berjalan di jalurnya masing-masing, dengan beban dan cerita yang berbeda. Apa yang tampak sempurna dari kejauhan bisa jadi menyimpan perjuangan yang tidak terlihat. Ketika perbandingan dihentikan, manusia mulai menyadari bahwa hidupnya sendiri memiliki nilai yang tidak kalah berharga.

Menerima kekurangan sebagai kelebihan bukanlah proses yang instan. Ia menuntut kejujuran pada diri sendiri dan kesabaran dalam menjalani perubahan. Ada saat-saat ketika rasa kecewa muncul, ketika harapan tidak terpenuhi, dan ketika kenyataan terasa pahit. Namun justru di titik-titik itulah makna hidup diperdalam. Kekurangan mengajarkan manusia untuk beradaptasi, menemukan cara baru, dan menghargai usaha, bukan hanya hasil akhir.

Dalam penerimaan, seseorang belajar melihat keindahan dari sudut yang berbeda. Keindahan tidak lagi diukur dari kesempurnaan bentuk, melainkan dari ketulusan proses. Hidup menjadi lebih ringan ketika tidak lagi dibebani tuntutan untuk selalu ideal. Ada kebebasan dalam mengakui bahwa tidak apa-apa untuk tidak sempurna. Dari kebebasan itu tumbuh rasa damai, karena kebahagiaan tidak lagi bergantung pada standar yang rapuh.

Kesempurnaan sejati bukanlah tentang menjadi tanpa cela, melainkan tentang utuh sebagai manusia. Utuh berarti mampu merangkul kelebihan dan kekurangan dalam satu kesadaran yang sama. Ketika seseorang mampu menerima dirinya dengan segala keterbatasan, ia tidak hanya menemukan ketenangan batin, tetapi juga membuka ruang untuk mencintai dan memahami orang lain dengan lebih dalam. Dari sanalah hubungan menjadi lebih jujur, dan kehidupan terasa lebih bermakna.

Pada akhirnya, yang terindah memang tidak selalu yang terbaik, dan yang sempurna tidak selalu menjanjikan kebahagiaan. Kebahagiaan tumbuh dari penerimaan, dari keberanian untuk melihat kekurangan bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Ketika manusia mampu mengubah cara pandangnya, menjadikan kekurangan sebagai kelebihan, di situlah kesempurnaan menemukan maknanya yang paling manusiawi. Orang dulu berpesan “jalani dengan tenang, nikmati dengan senang apa yang Tuhan Takar tidak akan pernah tertukar”. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR