KADO UNTUKMU MALAHAYATI-KU “Dedikasi dan Keikhlasan”
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Universitas Malahayati akan merayakan Dies Natalis ke-32, sebuah tonggak penting dalam perjalanan panjang institusi pendidikan tinggi yang telah menjadi rumah bagi ribuan mahasiswa untuk belajar, berinovasi, dan berkembang. Pada momen istimewa ini, jargon “Dedikasi dan Keikhlasan” diangkat sebagai refleksi mendalam tentang bagaimana manusia modern dapat menyeimbangkan antara produktivitas profesional, kepuasan pribadi, dan kontribusi bagi masyarakat. Jargon ini bukan sekadar slogan, tetapi filosofi yang relevan bagi mahasiswa, dosen, alumni, dan seluruh civitas akademika, sekaligus pesan inspiratif bagi masyarakat luas.
Di era globalisasi dan digitalisasi yang serba cepat, bekerja tidak lagi hanya sekadar aktivitas mencari nafkah. Pekerjaan kini menjadi bagian dari identitas diri, sarana aktualisasi potensi, dan medium untuk memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Bekerja dengan dedikasi berarti menempatkan integritas, empati, dan kepedulian sebagai fondasi dalam setiap langkah profesional. Individu yang bekerja dengan dedikasi tidak hanya fokus pada target semata, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkan; baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Bekerja dengan dedikasi berarti bekerja dengan hati, artinya setiap tugas yang dilakukan memiliki makna yang lebih dalam, tidak sekadar rutinitas semata.
Dalam konteks kontemporer, bekerja dengan hati juga berarti mampu menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan sentuhan humanis. Misalnya, di dunia pendidikan, seorang dosen tidak hanya menyampaikan materi melalui kuliah daring atau modul digital, tetapi juga menciptakan pengalaman belajar yang membentuk karakter, empati, dan keterampilan kritis mahasiswa. Di dunia industri, profesional memanfaatkan data, algoritma, dan teknologi artificial intelligence untuk meningkatkan efisiensi kerja, namun tetap memprioritaskan kolaborasi dan komunikasi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, bekerja dengan hati bukan berarti menolak modernisasi, melainkan mengintegrasikannya dengan kesadaran etis dan sosial.
Dalam konteks Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati, jargon ini memiliki resonansi yang sangat kuat. Universitas bukan hanya tempat menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga menanamkan nilai integritas, empati, dan inovasi. Selama lebih dari tiga dekade, Malahayati telah membuktikan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati akan menghasilkan alumni yang tidak hanya sukses profesional, tetapi juga memiliki kesadaran sosial tinggi. Alumni yang bekerja dengan hati mampu membangun karier yang bermakna sekaligus meraih penghasilan sepenuh hati, yaitu harmoni antara kepuasan personal, keberlanjutan profesional, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dedikasi dan keikhlasan juga menuntut kedisiplinan, keberanian mengambil risiko, dan kreativitas. Dunia kerja modern semakin kompleks: otomatisasi, persaingan global, dan ekspektasi masyarakat menuntut kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi. Dengan hati, individu mampu menjaga kompas moral dan motivasi intrinsik. Dengan keikhlasan, individu merasa dihargai dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Keduanya membentuk siklus produktivitas yang sehat dan berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan individu, tetapi juga organisasi dan masyarakat luas.
Lebih jauh lagi, filosofi dedikasi dan keikhlasan mengajarkan kita tentang kepuasan sejati. Banyak orang mengira bahwa kesuksesan diukur dari jumlah materi atau status sosial semata. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa individu yang bekerja dengan hati merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan lebih puas dalam hidupnya, meskipun penghasilannya mungkin tidak selalu besar. Sebaliknya, individu yang hanya mengejar uang tanpa hati seringkali menghadapi stres, kebosanan, dan kehilangan arah. Filosofi ini mengingatkan bahwa keseimbangan antara nilai moral, kepuasan personal, dan imbalan yang berkah adalah kunci hidup modern yang harmonis.
Akhirnya, “Dedikasi dan Keikhlasan” bukan hanya aspirasi profesional, tetapi filosofi hidup kontemporer yang relevan bagi siapa saja. Dalam menghadapi kompleksitas dunia modern, kesuksesan sejati lahir dari keseimbangan antara kontribusi bermakna, kepuasan pribadi, dan penghargaan yang adil. Universitas Malahayati, melalui perjalanan 32 tahun, telah menunjukkan bahwa integrasi antara dedikasi dan keihlasan memungkinkan lahirnya generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masa depan bangsa.
Dengan bekerja ikhlas, setiap individu menemukan makna dalam beraktivitas sehari-hari. Dengan dedikasi, setiap individu merasakan nilai dari usahanya. Ketika keduanya bersatu, terciptalah kehidupan profesional yang seimbang, harmonis, dan penuh makna; suatu pencapaian yang layak dirayakan di momen istimewa Dies Natalis ke-32 Universitas Malahayati. Jargon ini relevan bagi civitas akademika, yang menghadapi tantangan modernisasi, digitalisasi, dan kompleksitas kehidupan profesional.
Universitas Malahayati telah menunjukkan bahwa pendidikan yang menekankan kerja dengan hati bukan hanya menghasilkan lulusan cerdas, tetapi juga manusia utuh yang siap menghadapi dunia dengan integritas, inovasi, dan empati.
SELAMAT ……DIES NATALIS KE 32…..MAJU..DAN..JAYA..MALAHAYATI-KU. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR


