BERDAMAI DENGAN SUNYI
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
(Sebuah Ruang Pulang)
Lampu ruang tamu menyala redup. Jam dinding berdetak lebih keras dari biasanya, seolah menegaskan jarak antara detik dan perasaan. Seorang bapak yang tidak lagi muda duduk di ujung Sofa, menatap ponsel yang layarnya gelap. Di seberangnya, seorang sahabat lama, laki-laki yang juga tidak muda lagi, datang berkunjung, menyeduh teh sendiri tanpa banyak bicara.
“Kau sendirian lagi malam ini?” tanya sang sahabat akhirnya, memecah keheningan. Ia mengangguk pelan. “Seperti biasa. Sudah terbiasa.” Sahabat tadi menyelah: “Terbiasa atau terpaksa?” suara itu hati-hati, yang berupaya untuk tidak ingin melukai.
Ia tersenyum, tapi senyum itu singkat dan rapuh. “Awalnya terasa berat. Sekarang rasanya… datar. Seperti ada bagian diriku yang mati rasa.” Sahabatnya menatap lebih dalam. “Kau tidak marah?”. “Dulu iya,” jawabnya lirih. “Marah, kecewa, bertanya-tanya apa yang kurang dariku. Tapi semakin sering sendiri, marah itu habis sendiri.”
Hening kembali mengisi ruangan. Di luar, suara kendaraan sesekali melintas, lalu hilang.
“Apa yang tersisa sekarang?” tanya sahabatnya. “Sunyi,” jawabnya jujur. “Sunyi yang awalnya menyakitkan, tapi lama-lama seperti teman. Ia tidak menjawab apa-apa, tapi menemaniku berpikir.”. Sahabatnya menyergah lagi; “Dan perasaanmu padanya?”. Ia menarik napas panjang. “Masih ada. Tapi kini lebih tenang. Aku belajar mencintai tanpa harus selalu ditemani.”
Sahabatnya mengangguk pelan. “Mungkin itu caramu bertahan.” Ia menatap jendela, gelap memantul di matanya. “Mungkin. Atau mungkin aku sedang belajar berdamai dengan kehilangan yang terus berulang.”
Jam dinding terus berdetak. Di rumah itu, sunyi tidak lagi berteriak, hanya duduk diam, menyaksikan seseorang yang perlahan memahami lukanya sendiri.
Sunyi sering disalahpahami sebagai kekosongan yang menakutkan. Ia dianggap hampa, dingin, dan memanggil kesepian yang menggerogoti. Padahal, sunyi adalah ruang yang jujur, tempat suara dunia mereda dan gema batin terdengar paling jelas. Dalam sunyi, manusia tidak lagi bersembunyi di balik hiruk-pikuk, tidak berlindung pada kebisingan yang memberi ilusi kebermaknaan. Sunyi membuka pintu ke sebuah perjumpaan yang paling sulit sekaligus paling perlu: perjumpaan dengan diri sendiri.
Dunia modern memuja kecepatan dan kebisingan. Kalender penuh, layar menyala tanpa jeda, notifikasi berdenting seolah menjadi denyut nadi kehidupan. Di tengah itu, sunyi terasa seperti gangguan yang harus dihindari. Namun semakin dihindari, semakin terasa haus yang tak terpuaskan. Ada kelelahan yang tak bisa disembuhkan oleh keramaian. Ada luka yang tak bisa ditutup oleh tawa. Pada titik itulah sunyi menawarkan sesuatu yang berbeda: kesempatan untuk berhenti, bernapas, dan mendengar.
Sunyi bukan lawan dari kebahagiaan. Ia adalah tanah tempat kebahagiaan yang lebih jujur bertumbuh. Dalam sunyi, pikiran yang berlarian mulai berjalan pelan. Emosi yang selama ini ditahan menemukan bahasa. Ketika tidak ada yang harus dipamerkan, tidak ada yang perlu dibuktikan, seseorang dapat mengakui ketakutan tanpa malu dan menerima keterbatasan tanpa menghakimi. Sunyi mengajarkan keberanian untuk tinggal, bukan lari.
Ada paradoks yang indah di sana. Sunyi memang menyingkapkan rasa sepi, tetapi sekaligus menumbuhkan rasa cukup. Ketika tidak ada suara dari luar yang memandu, intuisi mengambil alih. Hati belajar menjadi kompas. Dalam kesendirian yang dipeluk dengan sadar, muncul kejernihan: apa yang benar-benar penting dan apa yang sekadar bising. Nilai tidak lagi ditentukan oleh sorak, melainkan oleh ketenangan yang bertahan setelah sorak mereda.
Berdamai dengan sunyi bukan berarti menolak dunia. Ia justru memperkaya cara berhubungan dengan dunia. Orang yang akrab dengan sunyi tidak lagi menggantungkan makna hidup pada validasi. Ia hadir dalam keramaian tanpa larut, berelasi tanpa kehilangan diri. Ada keteguhan yang lahir dari kebiasaan mendengar diri sendiri. Dari sana, empati tumbuh lebih tulus, karena memahami diri membuat seseorang lebih peka memahami yang lain.
Sunyi juga menyimpan kekuatan penyembuhan. Ia memberi waktu bagi luka untuk bernapas. Dalam keheningan, ingatan yang terpecah bisa disusun ulang, makna yang retak bisa dijahit kembali. Proses ini tidak selalu nyaman. Terkadang sunyi menghadirkan air mata, penyesalan, atau pertanyaan yang lama dihindari. Namun justru melalui ketidaknyamanan itu, penyembuhan bekerja. Sunyi tidak memaksa jawaban cepat; ia memberi ruang agar jawaban matang.
Di dalam sunyi, kreativitas menemukan rumah. Tanpa tuntutan dan gangguan, imajinasi bergerak bebas. Gagasan lahir bukan sebagai reaksi, melainkan sebagai ekspresi. Ada kebijaksanaan yang tumbuh dari memperlambat ritme. Ketika waktu tidak dikejar, ia menjadi sahabat. Setiap detik memiliki bobot, setiap napas memiliki makna. Sunyi mengajarkan bahwa produktivitas bukan soal banyaknya hasil, melainkan kedalaman proses.
Berdamai dengan sunyi adalah latihan yang berulang. Ia tidak datang sebagai keadaan permanen, melainkan sebagai sikap batin. Ada hari-hari ketika sunyi terasa hangat, ada pula saat ia terasa tajam. Keduanya sama-sama guru. Dengan menerima perubahan itu, seseorang belajar lentur. Tidak lagi menuntut hidup selalu nyaman, tetapi percaya bahwa setiap keadaan membawa pelajaran.
Pada akhirnya, jiwa yang berdamai dengan sunyi menemukan rumah di dalam dirinya sendiri. Rumah yang tidak bergantung pada cuaca dunia. Dari rumah itu, seseorang melangkah dengan lebih ringan. Ia tahu ke mana harus kembali ketika lelah. Ia tahu kapan harus berbicara dan kapan cukup mendengar. Sunyi tidak lagi menakutkan; ia menjadi sahabat yang setia.
Di tengah dunia yang terus berisik, memilih sunyi adalah tindakan berani. Ia adalah pernyataan bahwa kedalaman lebih penting daripada gemerlap, bahwa keutuhan lebih berharga daripada pengakuan. Sunyi tidak menghilangkan manusia dari kehidupan; ia menempatkan manusia kembali pada inti kehidupan. Dan di sana, dalam keheningan yang jujur, jiwa menemukan damai yang tidak bergantung pada apa pun selain keberanian untuk hadir sepenuhnya. Berkontemplasi adalah mempersiapkan diri untuk menuju perjalanan abadi. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR


