Pak Ujang dan Warung Nasi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Tepi jalan utama menuju pantai di kota ini, berdiri sebuah warung nasi yang sudah lama ada; bahkan dalam hitungan generasi warung itu sudah dikelola oleh generasi ketiga. Sedikit dialog antara pemilik dan pelanggan; seperti ini,
“Pak, masih buka?” suara seorang pelanggan terdengar di sela deru kendaraan yang melintas cepat, setelah waktu ashar berlalu. “Masih,” jawab Pak Ujang sambil menggeser kursi plastik. Beliau adalah generasi kedua dari warung ini yang sudah usia lanjut, namun masih gesit menunggui anak dan cucu mengelola warung nasi peninggalan mertuanya.

“Silakan duduk. Mau makan apa?” sergah Pak Ujang. “Yang sederhana saja, Pak. Nasi sama sayur. Kalau ada tempe, satu.” Jawab pelanggan. Pak Ujang mengangguk, menyendok nasi dengan tangan yang sedikit bergetar. “Di kota begini, yang sederhana malah sering paling dicari.” Celetukan Pak Ujang. Pelanggan itu tersenyum. “Iya, Pak. Dari tadi muter-muter, yang mahal semua. Di sini rasanya beda, lebih tenang.”
“Tenang itu bukan tempatnya,” kata Pak Ujang pelan. “Orangnya yang harus belajar pelan.” Ia meletakkan piring di meja. Asap nasi mengepul, bercampur bau knalpot. “Silakan. Dimakan selagi hangat.” Pelanggan itu menatap piringnya sesaat. “Pak, warung ini sudah lama ya?” “Lama,” jawab Pak Ujang. “Lebih lama dari gedung-gedung itu.” Ia menunjuk samar ke arah jalan. “Dulu jalannya belum seramai ini.”
“Bapak tiap hari di sini?”sambung pelanggan. “Hampir,” jawab Pak Ujang. “Kalau badan masih mau diajak bangun pagi.” Pelanggan itu ragu sejenak, lalu bertanya, “Pak, kalau ada orang nggak punya uang apakah masih dilayani?”. Pak Ujang tersenyum tipis. “Kalau lapar, ya makan. Urusan uang belakangan.” “Bapak nggak takut kekurangan?” sambung pelanggan penasaran. Pak Ujang menggeleng. “Takut itu kalau nggak bisa bantu apa-apa.

Pelanggan itu terdiam, lalu berkata lirih, “Sekarang jarang orang mikir begitu.” Pak Ujang menatap jalanan yang padat. “Kota ini bikin orang lupa. Tapi kalau semua lupa, warung begini buat apa ada?”. Pelanggan itu mengangguk pelan, melanjutkan makan, sementara Pak Ujang kembali ke dandang, menjaga nasi tetap hangat di tengah kota yang tak pernah benar-benar berhenti
Pak Ujang tidak banyak bicara. Sapanya singkat, geraknya hemat tenaga, seolah ia tahu tubuhnya tak lagi bisa diajak berkompromi. Usia dan sakit-sakitan membuat langkahnya melambat, tetapi kebiasaan lama menuntunnya tetap hadir. Warung nasi itu bukan sekadar tempat bekerja; ia adalah bagian dari hidup yang telah ia jalani puluhan tahun. Warung itu dulu milik mertuanya, kemudian menjadi penopang keluarga, dan kini telah melewati tiga generasi. Anak dan cucunya mengelola sebagian besar pekerjaan, namun kehadiran Pak Ujang tetap menjadi poros yang tak tergantikan.

Di kota yang serba cepat, warung itu bergerak dengan ritme sendiri. Pelanggan datang dari berbagai arah: pekerja harian, sopir, pedagang kecil, dan mereka yang tak lagi ditanya tujuannya. Percakapan singkat sering terjadi, seperti pagi itu, tentang perut yang lelah, tentang jalanan yang ribut sejak subuh. Pak Ujang mendengarkan lebih banyak daripada berbicara. Baginya, warung bukan hanya tempat makan, tetapi ruang kecil untuk saling mengakui keberadaan.
Satu prinsip yang tak pernah berubah sejak warung itu berdiri adalah memberi makan orang yang tidak mampu. Tidak ada papan pengumuman, tidak ada pernyataan resmi. Prinsip itu hidup dalam gerakan tangan yang tetap menyendok nasi meski dompet pelanggan tak dibuka. Di tengah kota yang mengukur segalanya dengan transaksi, tindakan ini tampak sederhana, bahkan naif. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Warung itu bertahan bukan karena strategi besar, melainkan karena keyakinan lama bahwa rezeki tidak selalu datang dari perhitungan, dan tidak akan tertukar.

Dalam konteks kontemporer, warung Pak Ujang mencerminkan wajah lain kota besar: ekonomi informal yang menopang banyak kehidupan tetapi jarang disorot. Ia menjadi jaring pengaman bagi keluarga besar yang hidup bersama anak, menantu, cucu; dalam satu atap dan satu usaha. Di sana, kerja bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga soal kesinambungan. Anak dan cucu belajar bukan dari buku manajemen, melainkan dari pagi yang panjang, dari pelanggan yang datang dan pergi, dan dari keputusan-keputusan kecil tentang memberi atau menahan.

Pak Ujang sendiri kini lebih sering duduk daripada berdiri. Penyakit membuatnya mudah lelah, dan sebagian pekerjaannya telah digantikan oleh anaknya. Termasuk perannya sebagai marbot masjid di dekat warung. Masjid itu dibangun bersama tetangga, dari gotong royong yang kini terasa semakin asing di tengah kota. Dulu, membersihkan masjid dan menyiapkan keperluan ibadah adalah bagian dari rutinitasnya, sama pentingnya dengan membuka warung.
Namun Pak Ujang tidak mengeluh. Ia memahami bahwa hidup adalah tentang bergeser, bukan berhenti. Seperti warung yang kini dikelola generasi berikutnya, perannya pun berubah. Ia menjadi penjaga nilai, bukan lagi penggerak utama. Dalam diam, ia memastikan bahwa prinsip memberi tetap hidup, bahwa warung tidak hanya mengejar untung, dan bahwa manusia tetap didahulukan dari angka.

Melankolia kisah ini lahir dari kesadaran akan waktu. Kota terus tumbuh, trotoar semakin sempit, dan kemungkinan penggusuran selalu membayangi warung pinggir jalan. Anak dan cucu Pak Ujang hidup di persimpangan antara mempertahankan warisan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman. Namun selama panci masih dipanaskan dan nasi masih dibagi, warung itu tetap menjadi ruang perlawanan kecil terhadap logika kota yang dingin.

Selamat perjuang Pak Ujang, pahlawan kemanusiaan yang tidak memerlukan penghargaan. Berjalan dengan keyakinan, hidup harus diselesaikan, bukan untuk dikeluhkan. Berbagi itu pasti, karena rejeki bukan urusan nanti, itu milih Illahi. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR