REZEKI AYAM TIDAK AKAN DI SAMBAR ELANG
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
–
Saat meluncurkan artikel yang terbit kebeberapa teman dekat; salah seorang diantaranya memberikan komen seperti judul di atas. Beliau adalah seorang Doktor yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Penulis berperan menjadi penguji utama saat beliau mengambil gelar tertinggi di dunia akademik, membaca pemikirannya, memang beliau orang cerdas dan visioner. Komen beliau menjadi “bara api” untuk menulisnya dalam seting keseharian. Adapun tulisannya sebagai berikut:
Senja turun perlahan di halaman pesantren. Suara adzan magrib baru saja usai, menyisakan hening yang akrab. Seorang santri duduk bersila di serambi, wajahnya tampak gelisah. Kiai keluar membawa tasbih, lalu berhenti sejenak menghampiri santri, dan berucap “Kenapa tampak berat pikiranmu, Nak?” tanya kiai lembut.
Santri itu menunduk. “Saya sering merasa tertinggal, Yai. Teman-teman saya banyak yang sudah pandai, sudah dikenal, bahkan ada yang sukses di luar. Saya di sini merasa biasa saja.” Kiai tersenyum tipis seraya bertanya. “Kau pernah lihat ayam di halaman pesantren?” Jawab santri “Sering, Yai.” Kiai meneruskan, “Apakah ayam itu iri pada elang yang terbang tinggi?”
Santri terdiam, lalu menggeleng. “Ayam hanya sibuk mencari makan di tanah.” Jawabnya. “Nah,” kata kiai pelan, “rezeki ayam tidak akan disambar elang. Ayam punya jalannya sendiri. Elang pun demikian.” “Tapi bukankah elang lebih kuat?” sahut santri.
“Lebih kuat tidak selalu lebih tenang,” jawab kiai. “Elang harus terbang jauh, menantang angin, berburu dengan risiko. Ayam mungkin sederhana, tapi ia cukup dengan apa yang ada di sekitarnya.” Santri menghela napas. “Jadi saya tidak perlu menjadi seperti mereka?”. “Kau perlu menjadi dirimu sendiri,” ujar kiai. “Ilmu tidak diukur dari cepat atau lambat, tapi dari manfaat dan keberkahan. Jangan sibuk melihat piring orang lain sampai lupa nasi di hadapanmu.”
Angin berembus membawa aroma kayu bakar dari dapur. Santri mengangguk perlahan. “Teruslah belajar,” lanjut kiai, “berjalanlah sesuai langkahmu. Jika rezekimu ayam, ia akan datang. Tak perlu takut disambar, selama kau jujur dan sabar menjalaninya.”
Wajah santri tampak lebih tenang. Ia mencium tangan kiai, sementara langit pesantren perlahan berubah gelap, menyimpan pelajaran yang tak tertulis di kitab mana pun
Ungkapan “rezeki ayam tidak akan disambar elang” hidup lama dalam kebijaksanaan lisan masyarakat Nusantara. Ia menyiratkan keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki bagian rezekinya masing-masing, dan tidak semua yang terlihat kuat atau tinggi posisinya berhak mengambil apa yang bukan peruntukannya. Dalam konteks kontemporer, peribahasa ini tetap relevan, bahkan menemukan makna baru di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang bergerak cepat serta sering kali memicu kecemasan kolektif tentang persaingan, ketimpangan, dan rasa tidak aman akan masa depan.
Secara kontemporer, makna rezeki tidak lagi semata-mata soal materi. Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan mental, relasi sosial yang sehat, kesempatan belajar, serta rasa aman. Banyak orang yang secara ekonomi tampak “elang” justru rapuh secara emosional, terjebak dalam tekanan performa dan validasi publik. Sebaliknya, mereka yang menjalani hidup sederhana, diibaratkan sebagai ayam, sering kali memiliki ketenangan, kejelasan tujuan, dan rasa cukup. Dalam hal ini, rezeki tidak disambar; ia dijalani dan diterima melalui ritme hidup yang selaras.
Ungkapan tersebut juga dapat dibaca sebagai kritik halus terhadap ketamakan struktural. Dalam sistem ekonomi modern, sering kali yang besar semakin besar, sementara yang kecil terpinggirkan. Jika elang terus menyambar rezeki ayam, keseimbangan ekosistem sosial runtuh. Ketimpangan melebar, kepercayaan publik menurun, dan konflik horizontal mudah tersulut. Dari sudut pandang ini, peribahasa tersebut mengandung pesan etis: ada batas moral dalam mengejar keuntungan. Tidak semua peluang layak diambil, terutama jika merugikan yang lebih rentan.
Pada tingkat personal, ungkapan ini mengajak individu untuk tidak terjebak dalam perbandingan sosial yang melelahkan. Algoritma digital sering menampilkan potongan kehidupan orang lain yang tampak lebih sukses, lebih cepat, dan lebih gemilang. Tanpa kesadaran, seseorang bisa terdorong untuk merebut apa yang bukan kebutuhannya, mengorbankan nilai, atau melampaui batas dirinya sendiri. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar membantu menjaga fokus pada proses pribadi, bukan pada bayangan keberhasilan orang lain.
Selain itu, peribahasa ini juga mengandung dimensi spiritual yang tetap hidup dalam masyarakat modern, meski diekspresikan dengan bahasa yang lebih rasional. Ia menegaskan adanya keteraturan dalam kehidupan, bahwa usaha dan hasil tidak selalu linear tetapi tetap bermakna. Kepercayaan ini bukan ajakan untuk pasif, melainkan dorongan untuk berusaha tanpa panik dan tanpa merusak. Ayam tetap harus mencari makan, tetapi ia tidak perlu terbang setinggi elang untuk bertahan hidup.
Pada akhirnya, ungkapan ini mengajarkan kebijaksanaan tentang proporsi, batas, dan rasa cukup. Di tengah dunia yang mendorong ekspansi tanpa henti, ia mengingatkan nilai kesederhanaan dan keadilan. Rezeki bukan medan perburuan tanpa aturan, melainkan bagian dari tatanan hidup yang menuntut kesadaran etis. Selama ayam dan elang menjalani perannya masing-masing, keseimbangan dapat terjaga, dan kehidupan berlangsung dengan lebih manusiawi. Salam Waras (SJ)
Editor : Fadly KR


