KETIKA REZEKI MENEMUKAN PEMILIKNYA
Guru Besar Universitas Malahayati
Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Marno dan Santo duduk di atas tumpukan batako. Debu masih melekat di sepatu mereka, dan suara palu dari kejauhan jadi irama yang akrab.
“San, kadang aku mikir,” kata Marno sambil menyesap kopi dari gelas plastik, “hidup kita ini aneh ya. Tiap hari kerja di tempat berbeda, tapi nasib rasanya muter-muter di situ saja.”
Santo tersenyum tipis. “Iya, tapi siapa tahu muternya lagi nyari jalannya. Rezeki itu kan nggak kelihatan bentuknya.”
Marno menghela napas. “Aku kerja keras, San. Dari pagi sampai sore. Tapi kadang cukup, kadang pas-pasan. Rasanya kayak nebak-nebak.”
“Justru itu,” jawab Santo pelan. “Kita nggak pernah tahu rezeki kita di mana. Tapi aku percaya, rezeki tahu kita di mana. Kalau nggak hari ini, ya besok. Kalau bukan uang, mungkin sehat. Atau pulang masih bisa ketawa sama keluarga.”
Marno terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “Kamu ini kalau ngomong suka bikin mikir. Tapi ada benarnya juga. Kemarin istriku senyum pas aku pulang, capekku langsung ilang.”
Santo ikut tertawa. “Nah itu. Jangan lupa bahagia, No. Tiap hari beda cerita. Hari ini panas, besok mungkin hujan, tapi kita tetap jalan.”
Marno mengangguk, memandang bangunan setengah jadi di depan mereka. “Iya ya, San. Selama kita masih bisa kerja, masih bisa senyum, berarti rezeki belum kehabisan alamat.”
Santo berdiri, meraih helmnya. “Ayo kerja lagi. Siapa tahu hari ini ceritanya baik.”
Manusia sering berjalan dengan peta di tangan, menebak-nebak ke mana langkah akan membawa hasil. Namun kenyataannya, peta itu sering kali meleset. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika kebaikan datang tanpa diminta. Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu di mana rezekinya berada. Ia bisa tersembunyi di tikungan yang tak terpikirkan, atau datang melalui pintu yang selama ini dianggap tertutup.
Rezeki tidak selalu berwujud angka, harta, atau benda yang bisa disimpan. Ia hadir sebagai kesempatan, kesehatan, ketenangan, dan pertemuan yang mengubah arah hidup. Banyak orang baru menyadari nilai rezeki setelah ia pergi, atau ketika sesuatu yang sederhana tiba-tiba menjadi sangat berarti. Dalam diam, rezeki seolah tahu ke mana ia harus pulang, menemukan pemiliknya pada waktu yang paling tepat, meski sering kali tidak sesuai rencana manusia.
Di tengah ketidakpastian itu, senyum menjadi bentuk perlawanan yang lembut. Senyum bukan tanda bahwa hidup selalu mudah, melainkan bukti bahwa seseorang memilih untuk berdamai denga n keadaan. Saat hari terasa berat, senyum membantu napas tetap panjang dan pikiran tetap jernih. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum didapat, tetapi juga tentang apa yang masih bisa disyukuri hari ini.
Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai tujuan akhir, padahal ia lebih tepat disebut sebagai cara berjalan. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan sering merasa lelah dan kosong. Sebaliknya, mereka yang menemukan bahagia dalam proses, sekecil apa pun, akan memiliki tenaga untuk terus melangkah. Kebahagiaan tidak menunggu hari sempurna; ia tumbuh dari penerimaan dan harapan yang dijaga.
Setiap hari membawa cerita yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat hidup bergerak. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang sunyi, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Tidak semua cerita harus dipahami saat itu juga. Beberapa baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap kejadian memiliki perannya sendiri.
Dalam perjalanan itu, manusia belajar bahwa mengontrol segalanya adalah ilusi. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga niat tetap lurus, dan membuka hati terhadap kemungkinan. Ketika usaha bertemu dengan waktu yang tepat, rezeki pun datang dengan caranya sendiri. Kadang ia mengetuk pelan, kadang ia datang tiba-tiba, dan kadang ia menyamar sebagai tantangan.
Tantangan sering kali menjadi pintu masuk rezeki yang tidak disangka. Dari kegagalan, lahir ketangguhan. Dari kehilangan, tumbuh kepekaan. Dari penantian, muncul kedewasaan. Jika manusia hanya mengukur hidup dari hasil instan, banyak rezeki batin akan terlewatkan. Padahal, bekal itulah yang membuat seseorang mampu menerima dan menjaga rezeki yang lebih besar ketika tiba.
Pada akhirnya, hidup adalah tentang berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang dititipkan akan sampai. Tugas manusia bukan mengejar dengan cemas, melainkan menjemput dengan kesiapan. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia, karena setiap hari membawa ceritanya sendiri. Selama langkah dijaga dan hati tetap terbuka, rezeki akan selalu menemukan jalannya datang.
Salam Waras
Editor : Chandra Faza

