TUHAN YANG SAMA, HATI YANG BERBEDA
Guru Besar Malahayati
Di sebuah pesantren yang tenang di pinggir desa, selepas salat Maghrib, para santri duduk melingkar di serambi masjid dengan kitab-kitab terbuka di pangkuan. Angin malam berembus pelan. Lampu-lampu temaram menggantung di langit-langit, menciptakan suasana hangat dan khusyuk. Di tengah lingkaran itu, seorang kiai sepuh bersorban putih tampak bersiap menutup pengajian malam. Namun seorang santri yang sejak tadi terlihat gelisah mengangkat tangan, meminta izin untuk bertanya tentang sebuah kutipan dari Jalaluddin Rumi yang siang tadi dia baca.
“Yai, saya membaca sebuah kutipan dari Djalaludin Rumi yang membuat saya gelisah,” ujar santri itu pelan.
Kiai tersenyum, mempersilakan. “Kutipan apa, Nak?”
Santri itu menarik napas, lalu mengucapkan dengan suara bergetar, “Rumi berkata: ‘Tuhan yang kau sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang kau jauhi di bulan-bulan yang lain.’”
Suasana mendadak hening. Beberapa santri saling berpandangan.
“Kenapa kalimat itu membuatmu gelisah?” tanya Kiai lembut.
“Karena saya merasa seperti sedang ditegur, Yai,” jawabnya jujur. “Di bulan Ramadan saya rajin ke masjid, rajin membaca Al-Qur’an, mudah bersedekah. Tapi setelahnya, semua perlahan berkurang. Seolah-olah semangat itu hanya milik bulan Ramadan saja.”
Kiai mengangguk pelan. “Itulah cara para sufi menyentuh hati. Mereka tidak menunjuk orang lain, tetapi membuat kita menunjuk diri sendiri.”
“Apakah berarti ibadah saya belum sungguh-sungguh, Yai?”
“Bukan begitu,” jawab Kiai. “Ramadan adalah latihan. Tapi latihan akan sia-sia jika tidak dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan yang kita sembah tidak pernah berubah oleh waktu. Kitalah yang sering berubah oleh suasana.”
Santri itu menunduk, merenung dalam-dalam, sementara angin malam kembali berembus pelan di serambi pesantren.
Ada ironi yang sering berulang setiap tahun dalam kehidupan beragama: ketika bulan Ramadan tiba, masjid-masjid penuh, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, sedekah mengalir deras, dan ayat-ayat suci dilantunkan dengan suara yang bergetar oleh harap. Namun ketika bulan itu berlalu, perlahan-lahan semangat itu surut. Saf salat kembali renggang, mushaf kembali berdebu di rak, dan kesadaran spiritual memudar digantikan oleh kesibukan duniawi.
Fenomena ini bukan sekadar soal konsistensi ibadah, melainkan cerminan dari bagaimana manusia memaknai hubungan dengan Tuhannya. Ramadan sering dipahami sebagai bulan “kesempatan”, bulan diskon pahala, bulan pengampunan besar-besaran. Pemahaman ini tentu tidak salah. Namun ketika motivasi beribadah hanya bertumpu pada momentum dan suasana, maka kedekatan yang terbangun menjadi musiman. Ia bergantung pada atmosfer, bukan pada kesadaran mendalam.
Di bulan Ramadan, manusia lebih mudah tersentuh. Lapar dan dahaga melembutkan hati. Rutinitas yang berubah menciptakan ruang refleksi. Malam-malam yang diisi dengan doa membuat seseorang merasa dekat, bahkan intim, dengan Penciptanya. Dalam keheningan sahur dan kekhusyukan tarawih, muncul perasaan bahwa Tuhan begitu dekat, begitu hadir, begitu nyata. Namun pertanyaannya: apakah Tuhan benar-benar menjadi lebih dekat di bulan itu, ataukah hati kitalah yang akhirnya membuka diri?
Ironi terbesar terjadi ketika ibadah menjadi sekadar ritual tahunan. Seseorang mungkin mampu mengkhatamkan kitab suci dalam sebulan, tetapi setelah itu jarang sekali membacanya kembali. Seseorang mungkin rajin bersedekah selama tiga puluh hari, tetapi kembali perhitungan ketika bulan berganti. Seseorang mungkin menahan amarah dan menjaga lisan selama berpuasa, tetapi setelahnya kembali mudah menyakiti dengan kata-kata. Jika demikian, Ramadan hanya menjadi ruang latihan yang tidak pernah diterapkan dalam kehidupan nyata.
Padahal, esensi puasa bukanlah menahan lapar, melainkan melatih kesadaran. Kesadaran bahwa manusia lemah, bergantung, dan fana. Kesadaran bahwa ada kekuatan yang mengatur segala sesuatu di luar kendalinya. Ketika kesadaran ini tumbuh, ia seharusnya tidak hilang hanya karena kalender berubah. Tuhan yang Maha Mendengar tidak hanya hadir di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, melainkan di setiap detik kehidupan. Mengapa manusia memperlakukan-Nya seolah-olah Ia hanya “aktif” pada musim tertentu?. Disinilah manusia seolah men-Tuhan-kan waktu.
Padahal, jika hubungan itu dibangun atas dasar cinta, ia tidak mengenal musim. Cinta tidak menunggu waktu khusus untuk hadir. Ia konsisten, meski intensitasnya bisa naik turun. Orang yang mencintai akan mencari, bukan menunggu dicari. Ia akan merasa hampa ketika jauh, bukan merasa lega karena bebas dari kewajiban. Jika Ramadan berhasil menumbuhkan rasa manis dalam ibadah, seharusnya rasa itu menimbulkan kerinduan untuk terus merasakannya, bukan justru dilupakan.
Ramadan seharusnya menjadi sekolah ruhani. Setelah lulus dari sekolah itu, seseorang tidak kembali menjadi buta huruf spiritual. Ia membawa bekal untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya. Ia mungkin tidak lagi berpuasa wajib, tetapi ia tetap menjaga lisannya. Ia mungkin tidak lagi tarawih setiap malam, tetapi ia tetap menyediakan waktu sepertiga malam untuk berdoa. Ia mungkin tidak lagi berbuka bersama setiap hari, tetapi ia tetap ringan tangan membantu sesama.
Pada akhirnya, Tuhan tidak berubah antara Ramadan dan bulan lainnya. Yang berubah adalah kesadaran manusia. Maka refleksi terbesar setelah Ramadan bukanlah seberapa banyak ibadah yang telah dilakukan, melainkan seberapa dalam perubahan yang tertanam. Apakah Tuhan masih menjadi pusat perhatian ketika suasana sudah biasa? Apakah doa tetap terucap ketika tidak ada dorongan kolektif? Apakah kejujuran tetap dijaga ketika tidak ada pengingat harian tentang pahala berlipat ganda?. Jika jawabannya ya, maka Ramadan telah berhasil. Namun jika tidak, mungkin selama ini yang kita dekati hanyalah suasana, bukan Tuhan itu sendiri.
Salam Ramadan



