BATAS YANG DIJAGA DOA DAN KEPERCAYAAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Kabut masih tebal ketika kami berhenti di pelataran masjid kecil itu. Sepatu-sepatu pendaki berjajar rapi, napas saling beradu dengan dingin. Lampu redup menerangi wajah-wajah lelah yang justru tampak tenang.
“Lucu ya,” salah satu dokter anggota kami memecah hening sambil menggosok tangannya, “tiap hari di Puskesmas kita kejar waktu, di sini waktu malah terasa berhenti.”
Dokter satunya tersenyum kecil. “Mungkin karena di gunung, kita nggak bisa sok mengatur segalanya. Alam yang pegang kendali.”
Apoteker yang sejak tadi diam menatap kabut mengangguk pelan. “Di bawah sana, kita bicara dosis, hitungan, dan kepastian. Di sini, yang kita bawa cuma niat dan doa.”
Penulis melirik istri yang tampak sangat bersemangat. Ia merapatkan jaket, matanya menyapu sekitar masjid kecil ini, seraya berucap lirih. “Seolah setelah ini, kita masuk dunia lain.”
“Dunia Bromo,” jawabku. “Dunia yang nggak bisa kita jelaskan dengan logika biasa.”
Dokter pertama tertawa pelan. “Iya, di sini gelar nggak ada artinya. Mau dokter, apoteker, dan apapun itu, semuanya sama-sama kecil.”
“Dan sama-sama butuh perlindungan,” sambung dokter kedua. “Entah kita menyebutnya dengan bahasa apa.”
Kami terdiam. Dari kejauhan, suara langkah pendaki lain semakin ramai. Kabut bergerak pelan, seakan memberi ruang. Lalu suara adzan Subuh terdengar, lembut namun tegas, menyentuh batas paling dalam dari diri kami.
Kami saling pandang, tanpa perlu kata-kata lagi. Di titik ini, sebelum doa dilantunkan bersama pendaki lain, kami bukan lagi profesi atau identitas. Kami hanyalah manusia, yaitu tamu yang sedang meminta izin, sebelum melangkah lebih jauh ke tubuh gunung yang menyimpan janji-janji lama.
Masih dalam gelap, sebelum matahari berani menyingkap wajahnya, langkah-langkah manusia berhenti di sebuah masjid kecil; yang terakhir sebelum pendakian benar-benar dimulai. Di titik inilah sholat Subuh ditegakkan. Suara doa mengalir pelan, menyatu dengan napas yang mengepul dan kabut yang menggantung rendah. Tepat berseberangan, masyarakat Tengger menjalani hidup dengan keyakinan yang berbeda, keyakinan yang telah berakar jauh sebelum istilah agama-agama besar dikenal. Tidak ada yang saling meniadakan. Justru di tempat inilah terasa jelas sebuah batas imajiner: peralihan dari dunia yang akrab menuju dunia Bromo yang sarat makna.
Tanah Tengger menyimpan kisah lama tentang Raden Joko Seger dan Roro Anteng, sebuah kisah yang tidak sekadar legenda, melainkan fondasi kosmologis bagi masyarakat setempat. Dari nama merekalah kata “Tengger” dipercaya lahir: teguh dan tenteram. Kisah mereka bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesetiaan pada janji, keberanian berkorban, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Dalam kepercayaan lokal, Bromo bukan gunung biasa, melainkan ruang sakral tempat janji itu terus bergema.
Maka, ketika sholat Subuh ditegakkan di batas ini, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga peristiwa simbolik. Di satu sisi, manusia menghadap Tuhan dengan cara yang diyakininya. Di sisi lain, gunung berdiri sebagai pengingat bahwa sebelum semua sistem keyakinan diberi nama, manusia sudah lebih dulu bernegosiasi dengan alam; meminta, b erjanji, dan menepati. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng mengajarkan bahwa doa tidak selalu berakhir pada kebahagiaan tanpa harga. Ada konsekuensi, ada persembahan, ada kehilangan yang harus diterima demi keseimbangan semesta.
Bagi masyarakat Tengger, hidup adalah menjaga harmoni. Upacara-upacara adat, sesaji, dan larangan-larangan bukan sekadar tradisi kosong, melainkan cara membaca alam. Gunung diperlakukan sebagai makhluk hidup, bukan objek wisata. Bromo adalah saksi atas janji lama yang tak boleh dilupakan. Karena itulah, sebelum manusia modern melangkah lebih jauh, berhenti di masjid terakhir ini terasa seperti jeda yang diwajibkan; entah disadari atau tidak.
Batas imajiner ini seolah menjadi pintu gerbang. Di belakangnya, dunia nyata dengan segala rutinitas, ambisi, dan kebisingannya. Di depannya, dunia Bromo; dunia simbolik tempat manusia diingatkan bahwa ia hanyalah bagian kecil dari tatanan besar. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng hidup di ruang antara ini, sebagai pengingat bahwa hubungan manusia dengan yang Ilahi dan dengan alam tidak pernah terpisah sepenuhnya. Keduanya saling bersinggungan, seperti dua sisi kabut yang sama.
Sholat Subuh di titik ini juga menjadi bentuk penyelarasan batin. Dalam kepercayaan lokal, sebelum mendaki, manusia harus bersih; tidak hanya tubuh, tetapi juga niat. Gunung tidak menerima langkah yang sombong. Ia hanya membuka diri bagi mereka yang datang dengan rendah hati. Dalam legenda Tengger, keteguhan dan kesabaran menjadi kunci. Dalam doa Subuh, nilai yang sama dilafalkan dengan bahasa yang berbeda. Di sinilah perbedaan keyakinan bertemu pada esensi yang serupa.
Ketika adzan memudar dan langit mulai berwarna abu-abu, pendakian pun dimulai. Setiap langkah seolah menapaki jejak lama; jejak janji, pengorbanan, dan kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Bromo tidak meminta untuk disembah, tetapi untuk dihormati. Ia tidak menuntut ketundukan, tetapi kesadaran. Seperti kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng, gunung ini mengajarkan bahwa hidup adalah tentang menepati janji pada yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Di ambang ini, manusia belajar bahwa perbedaan bukanlah jurang. Masjid dan kepercayaan Tengger berdiri saling berhadapan bukan sebagai lawan, melainkan sebagai penanda bahwa jalan menuju makna bisa beragam. Namun ketika kabut menutup pandangan dan langkah diarahkan ke atas, semua kembali pada satu kesadaran purba: manusia hanyalah tamu. Dan Bromo, dengan segala kisah dan kesunyiannya, adalah tuan rumah yang tak pernah lupa pada janji-janji lama.
Salam waras dari “Bromo”.
Editor : Chandra Faza


