DIALOG IMAGINER SEBELUM KEPULANGAN

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Ruangan itu hening, seolah waktu menahan napasnya sendiri. Cahaya redup menggantung di langit-langit, dan detak yang tersisa berdentang pelan seperti lonceng jauh di lembah tak terlihat. Di antara bayang dan napas yang menipis, hadir sebuah percakapan yang tak terdengar oleh telinga dunia; percakapan antara yang datang untuk menjemput dan yang bersiap untuk pulang.

“Aku tahu kau ada,” bisik manusia itu dalam batinnya, tanpa suara, tanpa gerak bibir. “Sejak beberapa hari lalu, udara terasa berbeda. Ada dingin yang tak berasal dari angin.”

“Aku selalu ada,” jawab malaikat pencabut nyawa, lembut tanpa mengguncang. “Bukan untuk menakutkan, melainkan untuk menuntun. Setiap yang bernapas telah dijanjikan akan dipertemukan denganku.”

“Apakah ini saatnya?” tanya manusia itu. Ada gemetar di antara pasrah dan ragu.

“Waktu bukan milikmu, dan bukan pula milikku,” sahut sang malaikat. “Ia adalah titipan yang kini kembali kepada Pemiliknya. Saatnya telah sampai sebagaimana tertulis, tidak lebih cepat, tidak pula terlambat.”

Manusia itu terdiam. Ingatan berkelindan seperti lembaran-lembaran yang tersibak angin. Wajah-wajah yang dicintai, tawa yang pernah mengisi ruang makan, tangis yang pecah di sudut malam, doa-doa yang kadang khusyuk, kadang tergesa. “Aku belum selesai,” gumamnya. “Masih ada yang ingin kupeluk lebih lama. Masih ada maaf yang belum sempat kuucapkan.”

“Tak ada manusia yang merasa benar-benar selesai,” jawab malaikat itu. “Kehidupan di dunia adalah persinggahan. Ia tak dirancang untuk lengkap, melainkan untuk menguji dan membentuk. Yang kau sebut belum selesai, sering kali adalah kerinduan untuk menunda perpisahan.”

“Tapi aku takut,” suara itu kini lebih jujur. “Takut pada gelap. Takut pada pengadilan atas segala yang telah kulakukan. Ada hari-hari ketika aku lalai. Ada kata-kata yang menyakiti. Ada kesempatan berbuat baik yang kulewatkan. Ada dosa yang kulakukan”

Keheningan mengembang, namun bukan keheningan yang kosong. “Takut adalah tanda bahwa hatimu masih hidup,” kata malaikat itu. “Namun ingatlah, rahmat lebih luas daripada kesalahan. Pintu ampunan tak tertutup selama napas masih ada. Bahkan kini, di detik-detik terakhirmu, penyesalan yang tulus memiliki cahaya.”

Manusia itu merasakan sesuatu meluruh dari dadanya; bukan sakit, melainkan beban. “Apakah semua akan diperlihatkan?” tanyanya lirih.

“Semua yang kau tanam akan kau lihat tumbuhnya,” jawab Sang Penjemput. “Kebaikan sekecil apa pun tak akan hilang, sebagaimana keburukan sekecil apa pun tak akan tersembunyi. Tetapi keadilan tak pernah berdiri tanpa kasih.”

“Aku sering mengira hidup ini panjang,” lanjut manusia itu. “Aku menunda-nunda perubahan. Kukira esok selalu tersedia untuk ku.”

“Begitulah manusia belajar tentang waktu,” balas malaikat. “Ia terasa luas saat dijalani, namun tampak singkat ketika dikenang. Banyak yang baru memahami arti satu hari ketika hari-harinya hampir habis.”

Ada desir halus, seperti tirai yang bergeser. Tubuh di tempat tidur itu semakin lemah, tetapi kesadarannya justru terasa terang. “Apakah perpisahan ini menyakitkan?” pertanyaan itu meluncur seperti anak kecil yang takut pada malam.

“Bagi yang hatinya terpaut hanya pada dunia, perpisahan terasa seperti direnggut,” ujar malaikat dengan tenang. “Namun bagi yang memandang dunia sebagai ladang, ia adalah musim panen. Rasa yang kau alami akan sepadan dengan apa yang memenuhi hatimu.”

Manusia itu mencoba menimbang hatinya sendiri. Ada cinta pada keluarga, ada bangga pada pencapaian, ada sesal atas kesalahan, dan ada rindu pada kedamaian yang lebih dalam dari sekadar istirahat. “Jika aku diberi satu kesempatan lagi,” katanya, “aku ingin lebih banyak bersyukur dan lebih sedikit mengeluh. Lebih cepat meminta maaf dan lebih ringan memberi.”

“Setiap jiwa memiliki kesempatan saat waktunya berjalan,” jawab malaikat. “Kini kesempatanmu berubah bentuk. Bukan lagi untuk menambah amal, melainkan untuk menyerahkan hasilnya.”

“Apakah mereka akan baik-baik saja?” tanya manusia itu, memikirkan yang akan ditinggalkan.

“Setiap jiwa memiliki jalannya sendiri,” sahut sang malaikat. “Sebagaimana kau dijaga sepanjang hidupmu, mereka pun dalam penjagaan yang sama. Kepergianmu adalah bagian dari kisah mereka, sebagaimana kepergian orang-orang sebelum ini pernah membentuk dirimu.”

Napas itu semakin tipis, seperti benang yang hampir putus. Namun di ambang itu, ada kejernihan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. “Aku siap,” ucap manusia itu akhirnya. Bukan tanpa sedih, tetapi tanpa penolakan.

“Berserahlah,” bisik malaikat pencabut nyawa. “Lepaskan sebagaimana daun melepaskan dirinya dari dahan saat musimnya tiba. Engkau tak sedang menuju ketiadaan, melainkan berpindah dari satu ruang ke ruang yang lain.”

Detik terakhir tiba bukan dengan dentuman, melainkan dengan kelembutan yang tak terlukiskan. Di dunia, mungkin hanya terdengar helaan napas panjang yang terhenti. Namun di balik tabir, sebuah perjalanan dimulai.

Percakapan itu usai, tetapi maknanya tinggal bagi siapa pun yang masih bernapas. Bahwa kematian bukan sekadar akhir yang menakutkan, melainkan cermin yang memantulkan cara kita menjalani hidup. Di ambang sunyi yang terakhir, manusia tak lagi membawa harta atau gelar, hanya jejak amal dan keadaan hati. Dan di sana, di antara takut dan harap, setiap jiwa akhirnya belajar bahwa hidup adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk ditunda-tunda. الْمَوْت ذَائِقَةُ نَفْسٍ كُلُّ (Kullu nafsin żā’iqatul-maut).

Salam Ramadan