LUPA SETELAH SELAMAT
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di sebuah serambi sederhana pada sore hari, seorang santri duduk bersila di hadapan kiainya. Angin berhembus pelan, membawa suasana tenang yang membuat percakapan terasa lebih dalam.
“Santri,” kata sang kiai dengan suara lembut, “pernahkah kamu memperhatikan bagaimana manusia bersikap ketika hidupnya sedang sulit?”
Santri itu berpikir sejenak, lalu menjawab, “Biasanya mereka menjadi lebih banyak berdoa, lebih rajin beribadah, dan lebih sering meminta pertolongan, termasuk pertolongan pada Tuhan.”
Kiai tersenyum tipis. “Benar. Saat hati terdesak oleh kesulitan, manusia menjadi sangat sadar bahwa dirinya lemah. Ia memohon dengan sungguh-sungguh, seolah seluruh harapannya digantungkan pada doa.”
Santri mengangguk pelan. “Namun saya juga sering melihat sesuatu yang aneh, Kiai.”
“Apa itu?” tanya sang kiai.
“Ketika keadaan sudah membaik, ketika rezeki menjadi lancar dan hidup terasa mudah, banyak orang justru mulai melupakan doa-doa yang dulu mereka panjatkan.”
Kiai menatap jauh ke halaman pesantren. “Itulah salah satu sifat manusia yang paling sering terjadi. Ketika sulit, mereka meminta bersama-sama dengan harapan yang besar. Namun ketika senang, mereka sering lupa segalanya.”
Santri tampak merenung. “Apakah itu berarti manusia memang mudah lupa, Kiai?”
“Ya,” jawab kiai perlahan. “Lupa bukan hanya tentang ingatan, tetapi juga tentang kesadaran. Kesenangan kadang membuat manusia merasa seolah-olah ia tidak lagi membutuhkan pertolongan.”
Santri menundukkan kepala. “Lalu bagaimana agar kita tidak menjadi seperti itu?”
Kiai kembali tersenyum. “Caranya sederhana, tetapi tidak mudah: jangan pernah melupakan masa sulitmu. Ingatlah bagaimana kamu berdoa saat itu. Jika ingatan itu kamu jaga, maka kebahagiaan tidak akan membuatmu lupa diri.”
Santri mengangguk pelan, menyadari bahwa pelajaran tentang hidup sering datang dari hal-hal yang terlihat sederhana.
Fenomena ini bukanlah sesuatu yang asing. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dan hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berada dalam kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi kegagalan, ia menjadi lebih rajin berdoa, lebih tekun merenung, dan lebih sering mengingat nilai-nilai kehidupan. Kesadaran tentang betapa rapuhnya manusia membuatnya ingin mendekat pada harapan dan kebaikan. Dalam momen seperti itu, hati terasa jujur dan tulus, karena tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain harapan dan doa.
Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, manusia sering kali merasa seolah-olah semua keberhasilan itu adalah hasil dari usahanya sendiri. Rasa syukur yang dahulu begitu hangat perlahan berubah menjadi rasa biasa. Doa yang dahulu dipanjatkan setiap malam mulai jarang diucapkan. Kesadaran tentang keterbatasan diri pun perlahan menghilang. Kehidupan yang nyaman membuat manusia merasa aman, bahkan terkadang merasa tidak lagi membutuhkan tempat untuk bersandar.
Sifat mudah lupa inilah yang sering menjadi bagian dari perjalanan manusia. Ingatan manusia ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh waktu, tetapi juga oleh keadaan. Penderitaan membuat manusia mengingat, sementara kesenangan sering membuat manusia lengah. Dalam keadaan sulit, manusia menyadari bahwa hidup tidak selalu berada dalam kendali. Tetapi ketika keadaan membaik, ia sering kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya mampu mengendalikan segalanya.
Padahal kehidupan memiliki cara yang unik untuk mengingatkan manusia. Kesulitan dan kebahagiaan datang silih berganti seperti dua sisi dari satu perjalanan yang sama. Tidak ada keadaan yang benar-benar permanen. Hari yang cerah dapat berubah menjadi mendung, dan masa yang berat dapat berubah menjadi ringan. Jika manusia menyadari hal ini dengan lebih dalam, ia mungkin akan belajar untuk tidak mudah lupa, baik ketika sedang berada dalam kesulitan maupun ketika sedang berada dalam kelapangan.
Menghargai kebahagiaan bukan berarti melupakan masa sulit yang pernah dilewati. Justru ingatan terhadap masa sulit seharusnya menjadi sumber kebijaksanaan. Kesulitan mengajarkan kesabaran, kerendahan hati, dan kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Ketika seseorang berhasil melewati masa-masa itu, seharusnya ia membawa pelajaran tersebut ke dalam masa bahagia yang ia rasakan.
Rasa syukur yang sejati sebenarnya tidak hanya muncul ketika seseorang menerima sesuatu yang ia inginkan. Rasa syukur yang sejati adalah kemampuan untuk tetap mengingat dan menghargai perjalanan hidup secara utuh. Ia tidak bergantung pada keadaan semata. Dalam keadaan sulit, rasa syukur muncul dalam bentuk harapan. Dalam keadaan bahagia, rasa syukur muncul dalam bentuk kesadaran bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu yang datang tanpa makna.
Masalahnya, manusia sering kali terlalu cepat beradaptasi dengan kenyamanan. Apa yang dahulu dianggap sebagai anugerah besar, lama-kelamaan menjadi hal yang dianggap biasa. Inilah yang membuat rasa syukur memudar tanpa disadari. Bukan karena manusia tidak ingin bersyukur, tetapi karena ia terbiasa dengan apa yang ia miliki. Kebiasaan membuat keajaiban terasa biasa, dan ketika sesuatu terasa biasa, manusia cenderung berhenti memikirkannya.
Di sinilah pentingnya kesadaran diri. Manusia perlu sesekali berhenti sejenak dan mengingat kembali perjalanan hidupnya. Mengingat hari-hari ketika harapan terasa jauh, ketika doa menjadi satu-satunya pegangan, dan ketika harapan kecil terasa sangat berharga. Ingatan seperti ini bukan untuk membuka kembali luka lama, tetapi untuk menjaga kerendahan hati.
Ketika seseorang mampu mengingat masa sulitnya dengan jujur, ia akan lebih mampu menghargai kebahagiaan yang ia miliki. Ia tidak akan mudah merasa sombong atau lupa diri, karena ia tahu bahwa kehidupan dapat berubah kapan saja. Kesadaran ini membuat kebahagiaan terasa lebih bermakna, bukan sekadar kenyamanan yang dinikmati tanpa pemahaman.
Pada akhirnya, kehidupan bukan hanya tentang keluar dari kesulitan dan mencapai kebahagiaan. Kehidupan juga tentang bagaimana manusia menjaga ingatan dan kesadarannya sepanjang perjalanan itu. Kesulitan seharusnya mengajarkan kerendahan hati, dan kebahagiaan seharusnya menguatkan rasa syukur.
Jika manusia mampu menjaga ingatan ini, maka kebahagiaan tidak akan membuatnya lupa, dan kesulitan tidak akan membuatnya putus asa. Ia akan berjalan dengan kesadaran bahwa setiap keadaan memiliki maknanya sendiri. Dengan demikian, doa yang pernah dipanjatkan saat sulit tidak akan hilang begitu saja ketika kebahagiaan datang, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bahwa segala sesuatu dalam kehidupan memiliki asal dan tujuan yang lebih dalam.
Salam Ramadan


