Kasus Campak di Lampung Melonjak Drastis, Akademisi Beberkan Penyebab dan Solusi

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) – Tingginya kasus suspek campak di Provinsi Lampung dalam kurun waktu tiga bulan pertama pada 2026 mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi.
Berdasarkan data resmi dari Dinas Kesehatan Provinsi Lampung hingga 30 Maret 2026, tercatat ada sekitar 591 kasus suspek campak. Dari total tersebut, di mana sebanyak 52 kasus di antaranya telah resmi terkonfirmasi positif oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Menanggapi situasi ini, akademisi sekaligus dosen epidemiologi Universitas Malahayati, Agung Aji Perdana, menilai bahwa lonjakan ini harus disikapi dengan serius karena peningkatannya mencapai lebih dari dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Agung mengungkap, terdapat dua faktor risiko utama yang menyebabkan penyakit menular ini merebak cepat di Lampung.
“Penyebab utama daripada campak ini adalah virus. Virus campak ini bisa menyebar kepada kelompok-kelompok masyarakat yang memang tidak diimunisasi campak,” ujar Agung dikonfirmasi, Selasa (31/3/2026).
Selain itu, ia menilai penyebab lainnya yakni karena rendahnya angka cakupan anak yang telah diimunisasi campak di Lampung.
“Data yang saya ketahui, bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap kita di Provinsi Lampung itu mencapai 81 persen tahun 2025, di mana targetnya itu seharusnya 95 persen,” jelasnya.
Gap atau jarak 14 persen itulah yang menyebabkan meningkatnya kasus campak di Provinsi Lampung karena kekebalan imun kelompok tidak terbentuk dengan baik.
“Kalau kita bedah di semua Kabupaten Kota, kemungkinan besar pasti ada wilayah yang cakupan imunisasinya bahkan berada di bawah 80 persen,” kata dia.
Selain masalah imunisasi, Agung menilai pola penularan virus ini di masyarakat juga menjadi pemicu utama lainnya.
“Yang kedua faktor risikonya itu adalah terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat atau PHBS,” kata dia.
Sama seperti Covid-19, ia menyebut campak ini menular melalui droplet atau percikan dari bersin dan batuk penderita suspek campak, penderita campak.
“Maka pencegahannya mirip dengan Covid, Pak. Kalau kita dulu mengenal 3M atau 5M itu, nah itulah salah satu upaya pencegahan dan juga sekaligus faktor risiko yang kedua setelah cakupan imunisasi,” imbuhnya.
Agung mengingatkan, meskipun virus campak secara umum bisa menginfeksi semua golongan umur, ada kelompok rentan dengan potensi bahaya luar biasa.
“Secara umum semua orang bisa tertular daripada virus campak, tapi yang paling rentan terkena daripada virus campak ini adalah bayi balita terutama yang tidak imunisasi, ibu hamil, dan juga para lansia kita,” bebernya.
Editor : Chandra Fz



