Pak Djarwo, Bagaimana Saya Bisa Lupa?
Oleh Udo Z Karzi
DI negeri ini, orang sering lupa. Lupa janji saat kampanye. Lupa utang setelah gajian. Lupa sejarah setelah jadi pejabat. Dan yang paling sering: lupa kepada guru setelah merasa pintar.
Karena itu, ketika membaca tulisan Juwendra Asdiansyah tentang Prof. Dr. Sudjarwo berjudul “Prof Sudjarwo: Yang Siap Dilupakan, Yang Mengukir Keabadian” (Wartalampung.id, 20 Mei 2026), saya justru berpikir: bagaimana mungkin saya bisa lupa kepada Pak Djarwo?
Lupa itu perlu syarat. Pertama, orang yang mau dilupakan memang tidak meninggalkan jejak. Kedua, kita memang tak pernah benar-benar bersentuhan dengannya. Ketiga, kita malas mengenang.
Nah, masalahnya, Pak Djarwo itu meninggalkan jejak di kepala saya. Dan jejak itu bukan sekadar tanda tangan di lembar absensi kuliah.
Ia adalah dosen saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung. Mengajar Metode Penelitian Sosial (MPS) dan sosiologi perdesaan. Dua mata kuliah yang sebenarnya bisa sangat mengerikan bila diajarkan dengan wajah birokratis, suara datar, dan diktat lusuh hasil fotokopi generasi ketujuh.
Tapi, Pak Djarwo beda.
Ia mengajar seperti orang yang percaya bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori untuk ujian semester, melainkan alat memahami manusia. Dan manusia itu makhluk yang rumit, absurd, lucu, kadang tolol, tapi menarik diteliti.
Saya masih ingat salah satu hal yang paling membekas dari mata kuliah MPS: pendekatan sejarah dalam penelitian sosial. Dari situ saya makin menyukai sejarah apa saja. Sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah sastra, bahkan sejarah orang putus cinta.
Sebab, sejarah membuat kita paham mengapa sesuatu terjadi. Dan, lebih penting lagi: mengapa sesuatu terus berulang.
Masalahnya memang begitu. Manusia ini makhluk keras kepala. Sudah berkali-kali sejarah menunjukkan akibat keserakahan, penyalahgunaan kuasa, kebodohan kolektif, tapi tetap saja diulang dengan penuh percaya diri. Mungkin karena manusia merasa dirinya generasi paling canggih. Padahal cuma generasi terbaru dari spesies yang sama-sama suka mengulangi kesalahan.
Itu pelajaran penting dari Pak Djarwo. Bukan sekadar teori sosiologi. Tapi cara memandang kehidupan.
Dan yang paling saya suka: beliau melarang mahasiswa mencatat saat kuliah.
Ini revolusioner.
Di kampus-kampus kita, mahasiswa biasanya sibuk mencatat sampai lupa mendengar. Tangan bergerak cepat, otak parkir. Dosen ngomong apa, tidak penting. Yang penting catatan penuh supaya bisa difotokopi sebelum ujian.
Pak Djarwo justru meminta kami mendengarkan. Menyimak. Mencerna. Setelah itu baru materi boleh difotokopi.
Kalau rajin mengumpulkan materi kuliah, jadilah diktat. Tapi Pak Djarwo tidak menjadi “diktat-or” yang menjadikan mahasiswa sebagai pasar fotokopian wajib. Ini penting dicatat. Sebab di republik pendidikan kita, kadang ada dosen yang lebih semangat menjual diktat daripada memperbarui isi kuliah.
Ada dosen yang tiap tahun mengajar teori lama dengan semangat purbakala, tetapi diktatnya berganti cover terus supaya mahasiswa tak bisa pinjam kakak tingkat.
Ekonomi kreatif memang luar biasa.
Beruntung kami punya Pak Djarwo.
Dan keberuntungan berikutnya: beliau bukan hanya dosen yang mengajar. Beliau menulis.
Nah, di sinilah masalah besar dunia akademik kita sebenarnya.
Banyak dosen bisa bicara panjang lebar di seminar, tetapi ketika menulis, kalimatnya seperti truk pengangkut batu gagal nanjak: berat, berisik, lalu mundur perlahan. Ada tulisan akademik yang setelah dibaca tiga paragraf membuat pembaca merasa bersalah telah lahir ke dunia. Padahal menulis itu mestinya menyampaikan pikiran, bukan menyembunyikannya.
Karena itu saya sepakat dengan Juwendra: dosen yang benar-benar bisa menulis dengan baik memang tidak banyak.
Pak Djarwo termasuk yang langka itu.
Ketika saya menjadi jabrik (penanggung jawab rubrik) halaman Opini di Lampung Post, sayalah yang kerap memuat tulisan-tulisannya.
Eh, redaktur Opini Lampost itu silih berganti. Seingat saya nama-nama redaktur Opini di Lampost di antaranya: Fajrun Najah Ahmad, Heri Wardoyo, Uten Sutendy, Heri Mulyadi, Rahmat Sudirman, Hesma Eryani, Budi Hutasuhut, Sudarmono, sampai SW Teofani. Sebuah zaman ketika koran masih dibaca sambil ngopi, bukan sambil rebahan sambil mengutuk algoritma media sosial.
Dan saya ingat para penulis yang rutin mengirim opini. Pak Djarwo, tentu saja. Juga Syarief Makhya, Nanang Trenggono, sampai Ari Darmastuti yang menulis meski jarang. Maaf, Bu Ari. Hehee…
Yang menarik dari tulisan-tulisan Pak Djarwo ialah nadanya. Tenang. Santun. Tidak menggebu-gebu seperti status Facebook orang baru menemukan teori konspirasi.
Sebagai sosiolog, ia tidak memaki-maki masyarakat. Ia mengajak pembaca merenung. Tidak menggurui, tetapi mempersilakan orang berpikir. Di tengah dunia yang makin berisik, tulisan model begitu justru terasa mewah.
Sekarang kita hidup di zaman semua orang ingin menjadi komentator tercepat. Semua ingin viral. Semua merasa harus marah tiap hari. Bahkan orang belum selesai membaca berita sudah siap menghina di kolom komentar.
Pak Djarwo justru mengingatkan bahwa kecendekiaan tidak harus gaduh. Bahwa pikiran jernih sering lahir dari suara yang tenang.
Ini kata Pak Djarwo yang dikutip Juwendra: “Jarang yang mau membaca (tulisan saya) karena banyak orang begitu membaca istilah filsafat langsung ambil posisi minggir sebelum berjalan.”
Kalimat ini lucu sekaligus menyedihkan. Kita memang bangsa yang cepat minder terhadap istilah-istilah intelektual. Baru membaca kata “epistemologi”, orang langsung merasa dikejar setan akademik. Padahal filsafat itu sebenarnya cuma usaha manusia memahami hidup secara lebih serius.
Masalahnya, kita sudah terlalu lama dididik untuk takut berpikir rumit. Kita lebih suka slogan daripada perenungan. Lebih suka kutipan pendek daripada membaca buku utuh. Lebih suka video 30 detik daripada esai 1.000 kata.
Dan ironisnya, di tengah budaya instan itu, masih ada orang seperti Pak Djarwo yang tekun menulis dengan kesabaran seorang guru.
Maka bagaimana saya bisa lupa?
Apalagi buku Ngilo karya beliau masih tertata rapi di Lepau Buku saya. Buku kumpulan opini yang terbit tahun 2014 itu bukan sekadar kumpulan tulisan koran. Ia semacam rekaman batin seorang intelektual yang mengamati masyarakat dengan mata teduh.
Saya kadang berpikir, mungkin memang nasib banyak guru besar yang baik adalah perlahan-lahan disisihkan oleh zaman yang lebih menghargai sensasi daripada kebijaksanaan.
Tapi ada yang tak dipahami zaman: tulisan yang baik punya umur panjang. Ia bisa melampaui tepuk tangan seminar. Melampaui jabatan. Melampaui baliho akademik. Dan dalam hal itu, Pak Djarwo mungkin benar-benar sedang mengukir keabadian.
Sedangkan kita? Kita cuma sedang sibuk scrolling.


