Aporia di Persimpangan Jalan

Oleh: Sudjarwo

Aporia adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti jalan buntu, kebuntuan berpikir, atau keadaan ketika seseorang tidak lagi memiliki kepastian mengenai suatu persoalan. Dalam tradisi filsafat, aporia bukan sekadar kebingungan biasa, melainkan kondisi intelektual ketika berbagai argumen yang tampak masuk akal saling berhadapan sehingga seseorang sulit menentukan mana yang benar. Keadaan ini sering muncul ketika keyakinan lama tidak lagi memadai untuk menjelaskan kenyataan baru, sementara pandangan baru juga belum sepenuhnya memberikan jawaban yang meyakinkan.

Istilah aporia dikenal luas melalui dialog-dialog Socrates yang ditulis oleh Plato. Dalam banyak dialog tersebut, Socrates mengajukan pertanyaan demi pertanyaan kepada lawan bicaranya hingga mereka menyadari bahwa pengetahuan yang selama ini dianggap pasti ternyata memiliki banyak kelemahan. Pada titik itulah muncul aporia, yaitu kesadaran bahwa seseorang sebenarnya belum memahami persoalan secara utuh.

Bagi Socrates, keadaan ini bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru aporia merupakan langkah awal menuju pencarian kebenaran yang lebih mendalam. Orang yang merasa sudah tahu segala sesuatu akan berhenti belajar, sedangkan orang yang mengalami aporia terdorong untuk terus berpikir dan mencari jawaban; oleh karena itu dia terus belajar. Dan, inilah roh belajar sepanjang hayat itu.

Sepanjang sejarah pemikiran manusia, aporia sering muncul pada masa-masa perubahan besar. Ketika masyarakat memasuki era baru, nilai-nilai lama biasanya mulai dipertanyakan. Pada masa Renaissance misalnya, masyarakat Eropa mengalami kebingungan antara mempertahankan otoritas tradisional dan menerima pengetahuan baru yang lahir dari ilmu pengetahuan. Demikian pula pada masa Revolusi Industri, manusia menghadapi pertanyaan-pertanyaan baru mengenai hubungan antara teknologi, pekerjaan, dan kemanusiaan. Dalam konteks seperti itu, aporia menjadi gejala yang wajar karena masyarakat sedang berusaha memahami perubahan yang berlangsung begitu cepat.

Jika melihat kondisi Indonesia masa kini, tampaknya aporia memang menjadi pengalaman yang dirasakan banyak orang. Perkembangan teknologi digital, arus informasi yang sangat deras, perubahan ekonomi, dinamika politik, serta pergeseran nilai sosial menciptakan situasi yang sering kali membingungkan. Di satu sisi, masyarakat memiliki akses informasi yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, banjir informasi juga membuat orang kesulitan membedakan fakta, opini, propaganda, dan disinformasi. Akibatnya, banyak individu merasa memiliki pengetahuan yang lebih banyak, tetapi pada saat yang sama justru semakin sulit memperoleh kepastian.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat dihadapkan pada berbagai narasi yang saling bertentangan. Dalam isu politik, misalnya, satu kelompok mengklaim memiliki data dan fakta yang benar, sementara kelompok lain menyampaikan klaim yang berbeda dengan keyakinan yang sama kuatnya.

Dalam isu ekonomi, sebagian pihak optimistis terhadap masa depan Indonesia, sementara sebagian lainnya melihat berbagai tantangan yang mengkhawatirkan. Dalam bidang sosial dan budaya, masyarakat juga sering berada di antara keinginan mempertahankan tradisi dan tuntutan untuk beradaptasi dengan modernitas global. Kondisi seperti ini menciptakan ruang aporia yang luas dalam kehidupan publik.

Aporia juga tampak dalam kehidupan generasi muda Indonesia. Mereka tumbuh dalam dunia yang menawarkan begitu banyak pilihan pendidikan, pekerjaan, gaya hidup, dan identitas sosial. Kebebasan memilih memang merupakan kemajuan, tetapi terlalu banyak pilihan sering kali melahirkan kebingungan baru.

Banyak anak muda bertanya mengenai arah hidup, makna kesuksesan, dan tujuan masa depan. Mereka menyaksikan keberhasilan yang ditampilkan media sosial, namun pada saat yang sama menghadapi realitas ekonomi yang tidak selalu mudah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering membawa mereka ke dalam kondisi aporia, yaitu ketidakpastian mengenai jalan yang harus ditempuh.

Indonesia saat ini membutuhkan kemampuan untuk mengelola aporia secara produktif. Pendidikan harus mendorong lahirnya warga yang mampu berpikir kritis, berdialog, dan menghargai perbedaan pandangan. Media perlu menghadirkan informasi yang akurat dan berimbang. Para pemimpin juga perlu menunjukkan keteladanan dalam menyampaikan argumentasi yang rasional, bukan sekadar retorika yang memecah belah. Dengan cara itu, aporia tidak menjadi jalan buntu, melainkan jembatan menuju pemahaman yang lebih matang.

Harus diakui bahwa aporia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap zaman memiliki kebingungannya sendiri, dan setiap masyarakat harus menemukan cara untuk menghadapinya. Indonesia masa kini sedang berada di tengah perubahan besar yang memunculkan banyak pertanyaan baru.

Karena itu, aporia yang kita rasakan bukanlah tanda bahwa masyarakat kehilangan arah sepenuhnya. Sebaliknya, ia dapat menjadi pertanda bahwa kita sedang berusaha memahami dunia yang berubah dengan cepat. Tantangannya adalah menjadikan kebingungan intelektual tersebut sebagai titik awal pencarian kebijaksanaan, bukan sebagai alasan untuk berhenti berpikir. Dalam arti itulah, aporia sesungguhnya bukan akhir dari pengetahuan, melainkan pintu masuk menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang diri kita, masyarakat kita, dan masa depan bangsa kita.

*Guru Besar Universitas Malahayati