Ketika Sepuluh Ditambah Enam

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Ketika seseorang menyatakan bahwa sepuluh ditambah enam sama dengan tujuh belas di hadapan publik, reaksi pertama yang muncul biasanya adalah keheranan. Kesalahan itu begitu sederhana sehingga bahkan seorang anak sekolah dasar pun dapat segera mengenali bahwa hasil yang benar adalah enam belas. Namun persoalan sesungguhnya bukan terletak pada salah hitung tersebut. Yang lebih menarik untuk diamati adalah bagaimana masyarakat meresponsnya. Apakah kesalahan itu langsung dikoreksi sebagai kekeliruan yang wajar dilakukan manusia, atau justru dicari berbagai alasan untuk membenarkannya? Dari sinilah kita dapat melihat kualitas logika dan budaya berpikir yang berkembang di tengah masyarakat.

Matematika merupakan bahasa paling dasar dari logika. Dalam matematika tidak ada ruang bagi tafsir yang bergantung pada kedudukan, jabatan, popularitas, atau kekuasaan seseorang. Enam ditambah sepuluh tetaplah enam belas, siapa pun yang mengucapkannya. Fakta tersebut tidak berubah karena tekanan politik, dukungan massa, ataupun penghormatan terhadap figur tertentu. Kebenaran matematis berdiri di atas landasan objektif yang tidak bergantung pada siapa pembicaranya. Karena itu, ketika kesalahan sederhana seperti ini terjadi, semestinya yang muncul adalah koreksi, bukan pembenaran.

Masalah muncul ketika sebagian orang mulai memindahkan ukuran kebenaran dari isi pernyataan kepada identitas orang yang mengucapkannya. Dalam ilmu logika, hal ini dikenal sebagai kesesatan otoritas. Sebuah pendapat dianggap benar bukan karena didukung fakta dan alasan yang kuat, melainkan karena berasal dari seseorang yang memiliki pengaruh besar. Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya karena perlahan-lahan menggeser posisi logika dari alat pencari kebenaran menjadi alat pembenaran terhadap apa pun yang diucapkan oleh pihak yang dianggap penting.

Fenomena tersebut tidak lahir dalam ruang kosong. Ia tumbuh dari budaya yang terlalu sering menempatkan penghormatan kepada individu di atas penghormatan kepada fakta. Dalam budaya semacam ini, kritik sering dianggap sebagai bentuk permusuhan, sementara koreksi dipandang sebagai tindakan tidak sopan. Akibatnya, kesalahan yang seharusnya dapat diperbaiki dengan mudah justru dipelihara melalui berbagai alasan yang dipaksakan. Orang lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran. Padahal, inti dari berpikir logis adalah kesediaan menerima fakta meskipun fakta tersebut tidak sesuai dengan harapan atau kepentingan kita.

Logika mengajarkan bahwa sebuah pernyataan harus dinilai berdasarkan bukti dan konsistensinya. Jika sebuah pernyataan bertentangan dengan fakta yang dapat diverifikasi, maka pernyataan itu harus ditolak atau diperbaiki. Prinsip ini berlaku untuk semua orang tanpa pengecualian. Ketika prinsip tersebut ditinggalkan, ruang publik akan dipenuhi oleh klaim-klaim yang tidak lagi diuji berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan siapa yang mengatakannya.

Dampak dari kebiasaan berpikir seperti ini jauh lebih luas daripada sekadar salah menghitung angka. Jika masyarakat terbiasa menerima kesalahan yang jelas terlihat, mereka akan semakin mudah menerima kesalahan yang lebih rumit dan sulit diperiksa. Kesalahan data, informasi yang menyesatkan, statistik yang dimanipulasi, hingga kebijakan yang tidak rasional dapat lolos tanpa pengawasan yang memadai. Pada akhirnya, kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta dan opini akan semakin melemah.

Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya persoalan dalam pendidikan berpikir kritis. Selama ini pendidikan sering lebih menekankan kemampuan menghafal daripada kemampuan bernalar. Banyak orang terbiasa menerima informasi dari otoritas tanpa membiasakan diri untuk menguji validitasnya. Akibatnya, ketika berhadapan dengan pernyataan yang jelas-jelas keliru, sebagian orang tidak segera mempertanyakan isinya. Mereka lebih dahulu mempertimbangkan siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakan. Kebiasaan inilah yang menjadi lahan subur bagi berbagai bentuk kesesatan berpikir.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa selalu berkaitan dengan keberanian masyarakatnya untuk mempertanyakan, menguji, dan mengoreksi. Ilmu pengetahuan berkembang karena tidak ada gagasan yang dianggap kebal dari kritik. Setiap teori harus siap diuji, setiap pendapat harus siap diperdebatkan, dan setiap kesalahan harus siap diperbaiki. Budaya seperti ini melahirkan masyarakat yang menghargai akal sehat serta menempatkan fakta sebagai dasar pengambilan keputusan.

Pada masyarakat yang sehat secara intelektual, mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, kemampuan menerima koreksi justru menunjukkan kedewasaan berpikir. Tidak ada manusia yang selalu benar. Kesalahan merupakan bagian alami dari kehidupan. Yang menjadi persoalan bukanlah kesalahannya, melainkan sikap ketika menghadapi kesalahan tersebut. Jika kesalahan diakui dan diperbaiki, maka proses pembelajaran terjadi. Namun jika kesalahan dibela mati-matian meskipun bertentangan dengan fakta yang jelas, maka yang lahir adalah kemunduran nalar.

Oleh sebab itu, peristiwa sederhana tentang hasil penjumlahan yang keliru sesungguhnya dapat dibaca sebagai simbol yang lebih besar. Ia menggambarkan pertarungan antara logika dan kultus terhadap figur, antara fakta dan loyalitas, antara akal sehat dan pembenaran. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi juga oleh kualitas cara berpikir masyarakatnya. Ketika fakta tetap dihormati meskipun terasa tidak nyaman, maka logika masih memiliki tempat. Namun ketika fakta mulai disesuaikan dengan kepentingan dan kekuasaan, saat itulah kesesatan berpikir perlahan berubah menjadi budaya. Dan ketika sebuah bangsa mulai menganggap kesalahan yang nyata sebagai sesuatu yang dapat dibenarkan, yang sedang bermasalah bukan lagi hitungannya, melainkan cara berpikir kolektifnya. Dan, ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan bangsa itu sendiri.
Salam Waras (R-1)