Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pada 15 Juli 2024 lalu semua sekolah di seantero negeri ini mulai kembali dengan kegiatannya. Di sana banyak tawa ria, tingkah lucu anak-anak bangsa dalam menjalani kehidupan baru di sekolah. Mereka bergembira ria, berwajah ceria. Semua mereka lakoni dengan penuh semangat. Saking semangatnya sampai emak-emak yang mengantarkan generasi penerus bangsa ini rela berdiri di pinggir pagar atau pintu gerbang sekolah berjam-jam. Mereka juga ikut larut akan kegembiraan putra-putrinya. Serasa baru kemarin si kecil digendong-gendong, hari ini mereka harus “dilepaskan” ke pantai harapan masa depan dengan penuh hikmat.
Di pojok sana, ada beberapa orang “pahlawan tanpa tanda jasa” berlinang air mata menatap anak-anak bangsa. Mereka haru sedih karena harus berpisah dengan semua yang ada. Mereka terdepak dari muka kelas akibat datangnya tenaga baru yang berbaju P3K.
Baru saja mereka menerima Surat Keputusan “Pemecatan” dan mereka harus menerima nasib sebagai guru honor yang sudah tidak diperlukan lagi. Bertahun-tahun mereka menanti dengan penuh harap menunggu datangnya asa, sekalipun menerima upah tidak seberapa, mereka berjuang penuh dedikasi. Namun, harapan itu kini musnah akibat dari satu kebijakan yang “membunuh” harapan mereka.
Langkah gontai dengan linangan air mata. Mereka melepaskan baju seragam kebesaran yang mereka beli sendiri. Dengan mata nanar entah harus ke mana meniti nasib mengais rezeki. Sementara kemampuan hanya bisa mengajar, kemampuan lain entah apa yang bisa mereka perbuat karena mereka sendiri tidak tahu.
Program P3K yang semula diplesetkan dengan istilah “pertolongan pertama pada kecelakaan”, benar-benar membuat celaka bagi sebagian orang yang telah berjuang tanpa pamrih dengan upah seadanya. Sekarang betul-betul sudah tidak ada apa-apanya. Ibarat peribahasa “habis manis sepah dibuang” yang selama ini menjadi materi pembelajaran di muka kelas, sekarang justru menimpa diri mereka.
Mereka tidak lebih dari ban serep pada kendaraan, setelah pemiliknya bisa membeli ban baru, maka ban serep harus diganti, dan dibuang ketempat sampah. Terbayang dimuka sana gelapnya kehidupan ini, yang semula dilalui dengan routinitas dan semangat tinggi, sekarang terhempas bagai ombak memecah pantai.
Mata nanar menatap masa depan yang entah apa yang akan terjadi untuk diri dan keluarganya. Terbayang si kecil yang harus membeli susu tiap minggu, abangnya harus sekolah Taman Kanak-Kanak, dan anak tertua baru masuk Sekolah Dasar. Bumi terasa bergoyang, alam menjadi gelap. Entah apa yang harus dibuat untuk menyelamatkan mereka semua.
Tidak jauh dari sana ada ibu muda yang terdiam membisu. Hanya air mata yang mengalir deras di pipinya. Awal tahun lalu baru saja melangsungkan pernikahan dan sekarang sedang hamil mud. Terpaan tiba-tiba melanda, ekonomi yang belum tersusun karena suamipun juga guru honor; mereka berdua harus menerima pemecatan di tempat sekolah yang berbeda. Langit serasa runtuh harus ke mana nasib mengadu. Gelombang raksasa kehidupan melanda mereka sebagai pasangan muda. Ongkos untuk pulang pun hari itu tidak punya. Untuk makan siang hari ini pun belum terbayang. Hanya bisa berharap dari kasih Tuhan kepada diri mereka. Semoga ada malaikat penolong segera didatangkan. Tetapi entah kapan dan di mana.
Korban kebijakan yang tidak bijak ini seolah melanggengkan teori kapitalisme dalam pendidikan. Sumberdaya manusia tidak lebih sebagai mesin yang bisa diganti kapan saja sesuai selera dan kemauan global. Hak-hak dasar yang tercermin dalam “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”; hanya tinggal di uang hampa saat anak kelas lima harus menghafalnya dimuka kelas.
Organisasi profesi guru sudah lama mengingatkan agar pemerintah memprioritaskan mengangkat mereka dengan status yang lebih baik. Para ahli sudah menyuarakan di ruang-ruang seminar dan pertemuan, para cerdik pandai sudah mengingatkan lewat tulisan dari yang halus sampai yang kasar. Namun, semua hanya dianggap angin lalu.
Bisa dibayangkan terhuyung-huyungnya rumah tangga mereka, karena topangan selama ini ada walau tidak seberapa. Ternyata hari ini dan entah sampai kapan, mereka harus memulai hidup lagi dari nol. Ibarat orang tenggelam yang hanya bisa menggapai apa saja agar dirinya bisa hidup. Rumah tangga mereka terjerembab luluh lantak karena saka guru ekonomi mereka dirobohkan.
Tak ada lagi tawa, tak ada lagi gembira. Semua musnah bagai ditelan bumi. Tak satu pun petinggi negeri ini peduli dengan nasibnya. Jika ditanyakan, mereka hanya bisa angkat bahu dan membuka kedua telapak tangan pertanda tak berdaya. Saat kampanye mereka berharap kepada honorer, dengan alasan tidak ada aturan yang dilanggar. Begitu kemenangan didapat, lupa sudah akan janji, semua mereka mantan honorer harus mencari sendiri demi sesuap nasi. Menembus badai kehidupan menjalani horornya keadaan yang sering tidak bersahabat dengan mereka. Apakah ini akibat dari mengangkat menteri pendidikan yang tidak paham akan profesinya, entahlah itu bukan urusan mereka. Satu kata yang mereka harapkan ada jawaban adalah “bagaimana nasib mereka”.
Sekadar berandai-andai, bagaimana kalau pemerintah daerah membangun sekolah swasta milik Pemda dari TK sampai SLTA? Gurunya bisa diambil semua mantan honorer ini. Pengelolaannya menggunakan pola BUMD. Untuk jangka pendek memang masih memerlukan investasi. Namun, untuk jangka panjang sekolah ini diharapkan menjadi semacam sekolah unggulan milik Pemda yang jika ada margin keuntungan kelak di kemudian hari menjadi milik pendapatan asli daerah (PAD). Uang yang dihamburkan untuk kegiatan sosial yang tidak terukur dan tidak jelas kemanfaatannya, akan lebih baik jika dijadikan investasi peningkatan sumberdaya manusia, dengan memprioritaskan siswanya adalah anak-anak pegawai pemerintah daerah.
Bisa juga mendistribusikan mereka ke sekolah swasta yang membutuhkan. Sisanya bisa dipekerjakan pada Dinas Pendidikan setempat sambil menunggu waktu untuk peluang yang akan datang. Caranya, mereka dibuatkan pusat data sesuai keahlian. Kemudian diperbantukan kepada unit yang ada. Semua ini untuk menghargai mereka sebagai warga bangsa yang telah berjasa di dunia pendidikan. Penghargaan itu diberikan tidak harus menunggu matinya yang diberi, tetapi justru saat mereka masih hidup itu manfaatnya akan lebih besar.
Selanjutnya, organisasi profesi guru terbesar seperti PGRI dan lainnya harus terus berjuang menyuarakan nasib mereka. Jangan kasih kendor agar pemerintah tidak salah dalam mengambil kebijakan. Sebab, selama ini kebijakan sering tidak dikaji terlebih dahulu dampaknya sampai di bawah. Yang ada hanya ingin cepat selesai masalahnya. Padahal, kebijakan yang diambil “menyelesaikan masalah dengan membuat masalah”.
Tentu pola seperti ini jika tidak ada pihak untuk selalu cawe-cawe dikhawatirkan akan terus berulang. Sebagai contoh kebijakan sekolah gratis dengan memaksakan kapasitas daya tampung dan sistem zonasi yang kurang melibatkan sekolah swasta. Karena tidak dikaji dengan benar, justru banyak mematikan sekolah milik PGRI dan swasta lainnya. Satu sisi sekolah negeri dipaksa siswanya berdesak-desakan, sementara sekolah swasta mati secara perlahan.
Tampaknya kita mulai menjadi orang asing di negeri sendiri, karena dari ideologi, kebijakan, bahkan kebijaksanaan semua sudah tergerus dari negeri ini. Sampai-sampai ruang kelas dianggap demplot tanaman. Baik guru maupun siswa bisa dicabut kapan saja dengan cara apa saja. Mereka yang menolak akan ditinggalkan di pinggir jalan untuk selanjutnya menikmati kematiannya.
Sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab, entah sudah pergi ke mana. Guru honor tidak perlu dikasihani, tetapi mereka perlu dicarikan solusi. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Gelar Workshop Tata Kelola Jurnal Ilmiah Terakreditasi
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati bekerja sama dengan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemenristekdikti menggelar Workshop Peningkatan Tata Kelola Jurnal Ilmiah Terakreditasi 2024 di Hotel Radisson Bandar Lampung, Kamis, 27 Juli 2024. Kegiatan ini diikuti oleh 50 dosen dari berbagai perguruan tinggi di Lampung yang telah lulus seleksi.
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, dr., MM, dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini jumlah jurnal ilmiah sangat banyak, namun kurangnya pengetahuan menyebabkan banyak dosen salah dalam mengunggah jurnal mereka.
“Dalam mengelola jurnal, kita tidak hanya berbicara tentang kuantitas, tetapi juga bagaimana jurnal tersebut dapat terakreditasi Sinta,” ungkapnya.
Ia berharap dengan adanya pelatihan ini, para dosen akan lebih memahami tata kelola jurnal dan dapat mengunggah jurnal pada platform yang tepat.
Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat yang diwakili oleh tim jurnal dan publikasi, Rizki Prasetya, S.Kom, menambahkan bahwa jumlah usulan jurnal pada tahun ini sangat banyak.
“Pada periode kedua nanti, akan ada 2000 jurnal yang akan kami umumkan untuk akreditasi, baik yang naik maupun turun statusnya,” ujarnya.
Rizki juga mengingatkan bahwa pedoman baru sedang digodok karena semakin banyaknya jurnal yang harus dinilai, sehingga penilaian akan mulai diperketat.
“Saya berharap para dosen tetap menjaga etika publikasi pada jurnal, terutama terkait pencatutan nama penulis dan review,” tambahnya.
Ia berharap agar jurnal dari para dosen yang hadir dalam workshop ini dapat menjadi jurnal terbaik di Indonesia dan menerima banyak manfaat terkait kegiatan tata kelola jurnal ini. (*)
Editor: Asyihin
34 Lulusan Sarjana Kedokteran Universitas Malahayati Ikuti Yudisium
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Sebanyak 34 lulusan sarjana dokter Universitas Malahayati mengikuti yudisium Fakultas Kedokteran yang diadakan di gedung rektorat pada Kamis, 25 Juli 2024. Acara ini dihadiri oleh para lulusan, dosen, dan keluarga yang turut memberikan dukungan.
Wakil Dekan Kedokteran, Neno Fitriyani H, dr., M.Kes., dalam sambutannya menyampaikan bahwa meraih gelar sarjana kedokteran membutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah. “Ada yang melalui proses dengan lancar, namun tidak sedikit yang harus jatuh bangun,” ujarnya.
Neno juga menekankan bahwa setelah meraih gelar sarjana, para lulusan akan mengemban tanggung jawab yang besar. “Selain menyandang gelar dokter, artinya kalian sudah lebih dewasa dan siap menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Sebagai co-assisten, kalian akan berhadapan langsung dengan pasien, keluarga pasien, perawat, farmasi, dan laboratorium,” tambahnya.
Ia juga menitipkan pesan kepada para lulusan untuk selalu menjaga nama baik Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. “Jagalah sikap dan perilaku kalian,” pesannya.
Sementara itu, Wakil Rektor 4, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes., menjelaskan bahwa co-assisten adalah proses belajar lapangan untuk mempersiapkan diri menghadapi uji kompetensi. “Uji kompetensi ini bukan untuk mempersulit kalian, tapi sebagai sarana untuk mengukur apakah kalian layak menyandang profesi dokter,” jelas Suharman.
Setelah menyelesaikan masa co-assisten, para lulusan akan mengikuti uji kompetensi. Jika lulus, mereka akan melanjutkan ke tahapan sumpah dokter. Setelah itu, para dokter muda akan mengikuti program internship dari pemerintah selama satu tahun sebagai langkah awal dalam mengabdikan diri kepada masyarakat.(*)
Editor: Asyihin
Universitas Malahayati dan Kemenristekdikti Gelar Pendampingan Penulisan Artikel Ilmiah
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati bekerjasama dengan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemenristekdikti menggelar pendampingan penulisan artikel ilmiah nasional dan internasional tahun 2024 di Hotel Radison Bandar Lampung, Kamis, 27 Juli 2024.
Kegiatan ini diikuti 60 dosen dari berbagai perguruan tinggi di Lampung yang telah lulus seleksi.
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, dr., MM dalam sambutannya mengatakan bahwa penulisan ini menjadi hal yang sangat penting dan wajib bagi dosen maupun perguruan tinggi.
“Mudah-mudahan acara ini dapat memberikan kemudahan dalam penulisan artikel dan ke depan dapat merangsang para dosen untuk terus menulis artikel ilmiah bahkan hingga membuat buku, dan hasil dari kegiatan ini dapat peserta tularkan dan share ke dosen yang tidak ikut kegiatan ini,” ujar Dr. Achmad Farich.
Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat yang diwakili oleh tim jurnal dan publikasi Rizki Prasetya, S.Kom dalam sambutannya berharap semua ilmu yang disampaikan oleh narasumber tidak ada yang terlewat.
“Selamat kepada para peserta yang telah terseleksi untuk hadir mengikuti kegiatan ini. Di sini akan diarahkan bagaimana cara menulis artikel yang baik hingga memilih publikasi jurnal yang baik dan tepat,” kata Rizki Prasetya.
Rizki Prasetya juga mendorong para dosen untuk aktif mengupdate Sinta scorenya serta profil sintanya sehingga tidak tertinggal saat ada perubahan.
Kegiatan ini didampingi oleh narsumber diantaranya, Prof. Amirul Mukminin, S.Pd., M.Sc.Ed., PhD., Prof. Dr. Ir. Dian Fiantis, M.Sc., Prof. Ir. Siti Nurmaini, PhD., Prof. Suminar Setiati Achmadi., Prof. Jaka Sriyana, S.E., M.Si. Ph.D., dan Prof. Dr. Buhani, S.Pd., M.Si. (*)
Editor : Asyihin
Habzsha Ribi Suwandi, Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Borong Prestasi
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Selamat kepada Habzsha Ribi Suwandi (23140041) Mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Malahayati yang berhasil mendapatkan; Juara Sejarah Peraih Medali Perak pada Kompetisi Akademik Nasional Hari Pancasila, Juara Kimia Peraih Medali Perak pada Kompetisi Olimpiade Sains Integratif Indonesia, Juara Biologi Peraih Medali Perak pada Kompetisi Olimpiade Sains Integratif Indonesia, Juara Sejarah Peraih Medali Emas pada Kompetisi Olimpiade Sains Integratif Indonesia, Juara Bahasa Indonesia Peraih Medali Perak pada Kompetisi Olimpiade Sains Integratif Indonesia.
Kompetisi Akademik Nasional Hari Pancasila diselenggarakan oleh @olimpiadesiswa.id, pada 21-23 Juni 2024. Sedangkan Kompetisi Olimpiade Sains Integratif Indonesia (OSII 2024) diselenggarakan oleh @kompetisisiswa.id, 24-27 Juni 2024.
Olimpiade Sains Integratif Indonesia (OSII 2024) diselenggarakan oleh @kompetisisiswa.id adalah kompetisi yang menekankan integrasi antara berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti matematika, fisika, kimia, biologi, dan informatika. Tujuannya adalah untuk menguji dan meningkatkan pemahaman serta kemampuan siswa dalam berbagai disiplin ilmu tersebut.
Katalog Buku Hukum Perikatan Perjanjian
Judul Buku : Hukum Perikatan Perjanjian
ISBN: Proses
Penulis : Rissa Afni Martinouva
Muhammad Kadafi
Dahlan
Aditia Perdana Solihin
Suhendra Pratama Putra
Sinopsis:
Tujuan dari penulisan buku ini diharapkan mahasiswa dan masyarakat lebih cerdas dalam melaksanakan perikatan dan perjanjian. Pelaksanaan perikatan perjanjian harus memperhatikan proposionalitas dan keseimbangan bagi para pihak yang terlibat. Kitab Undang – Undang Hukum Perdata akan menjadi dasar utama terhadap penyusunan perjanjian biasa dan perancangan dan analisis kontrak bisnis. Pembaca dapat mudah memahami syarat sah perjanjian, prestasi, wanprestasi, perbuatan melawan hukum, overmacht, hapusnya perikatan, hapusnya perjanjian. Pemahaman juga diberikan agar dapat menjadi profesional hukum yang baik yang menggunakan keilmuan baik dan menyelesaikan sengketa hukum melalui beberapa pilihan yaitu litigasi, non litigasi dan alternatif penyelesaian sengketa melalui administrative dispute resolution pada hukum perdata.
Karakter Kepemimpinan Pandawa Lima
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pagi itu pergi ke kampus agak sedikit kesiangan karena menjelang pagi turun hujan, sehingga harus berbenah rumah sebelum yakin betul kondisi dan situasi layak ditinggal. Kebiasaan pagi untuk mencapai ruangan harus menggunakan sarana lift, sehingga usia yang sudah tidak muda lagi ini sangat terbantu; sesaat keluar pintu; media sosial berdenting pertanda ada pesan masuk. Setelah di cek ternyata benar, pesan dari seorang sahabat di tepi kota sana mengatakan bahwa kenapa teori kepemimpinan yang sering dibahas dan dijadikan rujukan di Indonesia ini selalu kepemimpinan di negara luar sana, sementara negeri ini banyak sekali tipe kepemimpinan lokal yang juga bagus; kenapa janturan dalang pada wayang kulit atau wayang orang tentang kepemimpinan hanya berhenti di ruang hampa, tidak ada upaya untuk menulisnya.
Tentu sebagai seorang ilmuwan tantangan itu sangat menggelitik untuk melihat, mempelajari, memahami, mengendapkan, terakhir mengemukakan.
Atas dasar latarbelakang itulah maka tulisan ini mencoba mencuil sedikit kue dari Epos Mahabarata tentang kepemimpinan Pandawa Lima.
Berdasarkan penelusuran digital diperoleh informasi sebagai berikut: Pendowo Limo (juga ditulis Pandawa Lima) merupakan istilah dalam budaya Jawa yang merujuk pada lima tokoh utama dalam cerita pewayangan Mahabharata, yaitu lima Pandawa. Mereka adalah Yudhishthira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Setiap tokoh memiliki karakter dan keahlian yang berbeda-beda, yang mencerminkan berbagai aspek kepemimpinan.
(1). Yudhishthira: Karakter: Bijaksana, adil, dan penuh tanggung jawab. Kepemimpinan: Mewakili sifat seorang pemimpin yang adil dan bijaksana, mampu memimpin dengan hati nurani dan integritas.
(2). Bhima: Karakter: Kuat, berani, dan loyal. Kepemimpinan: Mewakili kekuatan dan keberanian, serta kesetiaan kepada kelompok dan tujuan.
(3). Arjuna: Karakter: Terampil, cerdas, dan fokus. Kepemimpinan: Mewakili kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan untuk fokus pada tujuan, serta mengambil keputusan strategis.
(4). Nakula: Karakter: Tampan, sehat, dan penuh kasih. Kepemimpinan: Mewakili keseimbangan, kesehatan, dan kepedulian terhadap kesejahteraan kelompok.
(5). Sadewa: Karakter: Cerdas, tenang, dan bijaksana. Kepemimpinan: Mewakili ketenangan dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kecerdasan dalam menghadapi masalah.
Jika kita lanjutkan bagaimana tipe kepemimpinan pandawa lima ini adalah sebagai berikut:
Yudistira: Tipe Kepemimpinan: Bijaksana dan adil. Karakteristik: Yudistira dikenal sebagai pemimpin yang adil, bijaksana, dan penuh integritas. Dia selalu berusaha untuk bertindak berdasarkan prinsip dharma (kebenaran dan keadilan). Kelebihan: Memiliki kemampuan untuk membuat keputusan yang bijaksana, diakui sebagai pemimpin yang sah dan dihormati. Kelemahan: Kadang-kadang terlalu idealis dan dapat ragu-ragu dalam situasi yang membutuhkan keputusan cepat.
Bima: Tipe Kepemimpinan: Kuat dan tegas. Karakteristik: Bima dikenal karena kekuatan fisiknya dan keberaniannya. Dia selalu siap melindungi keluarganya dan melawan ketidakadilan. Kelebihan: Pemimpin yang tegas dan tidak ragu-ragu dalam bertindak, sangat loyal dan berani. Kelemahan: Kadang-kadang cenderung impulsif dan bisa terlalu agresif.
Arjuna: Tipe Kepemimpinan: Strategis dan karismatik. Karakteristik: Arjuna adalah seorang pejuang hebat dan pemanah ulung. Dia memiliki keahlian strategis yang sangat baik dan kemampuan untuk memotivasi orang lain. Kelebihan: Ahli dalam merencanakan dan melaksanakan strategi, mampu menginspirasi dan memimpin dengan karisma. Kelemahan: Terkadang terlalu percaya diri dan bisa terpengaruh oleh emosi.
Nakula: Tipe Kepemimpinan: Cerdas dan analitis. Karakteristik: Nakula dikenal karena kecerdasannya dan kemampuannya dalam menganalisis situasi. Dia adalah pemimpin yang berhati-hati dan penuh perhitungan. Kelebihan: Pemimpin yang cerdas dan mampu membuat keputusan berdasarkan analisis yang mendalam, sangat perhatian terhadap detail. Kelemahan: Bisa terlalu berhati-hati dan lambat dalam mengambil keputusan.
Sadewa: Tipe Kepemimpinan: Penuh pengetahuan dan konselor. Karakteristik: Sadewa adalah orang yang penuh dengan pengetahuan dan sering berperan sebagai konselor bagi saudara-saudaranya. Dia memiliki kemampuan untuk memberikan nasihat yang baik dan bijaksana. Kelebihan: Penuh pengetahuan dan mampu memberikan nasihat yang bijak, pemimpin yang mendukung dan membantu. Kelemahan: Terkadang lebih nyaman di balik layar dan kurang dalam inisiatif kepemimpinan yang langsung.
Setiap Pandawa menunjukkan gaya kepemimpinan yang berbeda, dan keberhasilan mereka seringkali berasal dari kerja sama dan kombinasi dari kekuatan masing-masing. Kepemimpinan Pendawa Lima mengajarkan bahwa pemimpin yang efektif harus menggabungkan berbagai sifat dan kemampuan untuk mencapai keberhasilan dan kesejahteraan kelompok yang dipimpin. Kombinasi dari kebijaksanaan, kekuatan, kecerdasan, keseimbangan, dan ketenangan adalah kunci untuk menjadi pemimpin yang baik.
Satu hal yang menjadi catatan dari semua hal di atas adalah: tidak ada seorang pemimpin yang sempurna, paripurna atau lengkap. Tetap saja yang namanya manusia memiliki kelemahan dan kekurangan. Oleh sebab itu sangat dianjurkan untuk “saling mengingatkan untuk menuju kebaikan”; dengan kata lain kritik membangun diantaranya mengingatkan akan kelemahan diri, adalah sesuatu yang dibutuhkan, bukan dimusihi apalagi di “musnahkan”. Tuhan menciptakan ketidaksamaan itu antaralain agar kita untuk selalu saling menyempurnakan, salah satu caranya adalah dengan saling mengingatkan. Saling meneguhkan dalam perbedaan adalah cara Tuhan saling melengkapkan diantara kita.
Epos Mahabarata itu ternyata juga berisi tentang kepemimpinan dan keteladanan; tetapi sayang semua itu kini tinggal di jagad pakeliran wayang. Sangat jarang para ahli tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang itu, sebab merasa lebih hebat jika bisa menggunakan milik orang asing. Mempelajari teori asing dalam dunia ilmu pengetahuan boleh-boleh saja karena ilmu pengetahuan itu bersifat universal, bahkan sangat dianjurkan; namun jangan lupa bahwa kita juga sebenarnya memiliki sendiri teori yang tidak kalah canggih. Dengan kata lain jangan sampai punya orang kita kuasai, punya sendiri dibuang. Orang bijak mengatakan “jangan sampai mengharap Elang yang terbang tinggi di awan, Punai ditangan dilepaskan”. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Tiga Mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Malahayati, Raih Medali Emas dan Perak Ajang Kompetisi Akademik Nasional Hari Pancasila
Kompetisi Akademik Nasional Hari Pancasila adalah sebuah acara kompetisi yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Nasional Pancasila, yang jatuh pada tanggal 1 Juni setiap tahunnya. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda Indonesia, serta sebagai wadah untuk menumbuhkan semangat kompetisi dan prestasi di bidang akademik.
Lomba bahasa Kompetisi Akademik Nasional Hari Pancasila @olimpiadesiswa.id, ini tidak hanya sebagai ajang untuk menunjukkan kemampuan bahasa, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter dan pengembangan potensi peserta dalam mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan masyarakat. Lomba ini diselenggarakan secara online dan individu, diikuti banyak peserta secara nasional.
Ade Rizka Prihatin, peraih medali emas ini mengungkapkan bahwa ini pertama kalinya ia bisa mempersembahkan medali emas ini. “Saya sangat termotivasi dan terinspirasi oleh semangat kompetisi ini,” ungkapnya.
Ia berharap kedepannya ia dapat meraih juara lainnya. “Kedepannya saya akan mengikuti kompetisi lainnya dan menginginkan untuk kembali menjadi juara,” tegasnya.
Disisi lain, Syahla Fryliantika menceritakan kesannya mengikuti dan memenangkan lomba dengan raihan medali perak ini menjadi motivasi penuh untuknya. “Saya berharap kemenangan ini menjadi harapan dan motivasi bagi saya untuk meraih prestasi yang lebih besar pada lomba selanjutnya,” serunya.
Hal yang sama juga diungkapkan Vannesa Ayang Fernanda yang juga mendapatkan medali perak. “Alhamdulilah sangat bersyukur dapat memberikan prestasi dan membawa nama baik Universitas Malahayati di tingkat nasipnal pada jenjang perguruan tingg,” ucapnya.
Vannesa berharap untuk dirinya dan teman-teman mahasiswa lain agar terus rutin mengikuti lomba-lomba yang ada di tingkat nasional, agar kita bersama dapat menorehkan prestasi serta mengharumkan nama Universitas Malahayati. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Rektor Universitas Malahayati Buka Loka Karya Pembelajaran Berbasis Outcome
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, dr., MM, membuka kegiatan Loka Karya Pembelajaran Berbasis Outcome dan Berorientasi Komunitas Program Kompetisi Kampus Merdeka di Ruang Pertemuan Gedung Rektorat, Selasa, 23 Juli 2024.
Kegiatan diselenggarakan Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Bandar Lampung. Hadir sebagai narasumber Prof. Dr. Een Yayah Haenilah, M.Pd dan Monica Eviandaru Madyaningrum, PhD.
Dalam sambutannya, Rektor Achmad Farich menekankan pentingnya pembelajaran berbasis outcome (OBE) di era digital ini untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja. “Saat ini, perkembangan dunia menuntut kompetensi mahasiswa tidak hanya terpaku pada kemampuan utama atau konvensional, tetapi juga harus memiliki keahlian lainnya. Lulusan yang tidak siap akan tergilas oleh persaingan dunia kerja,” ujarnya.
Rektor Achmad Farich juga menyoroti perlunya fleksibilitas dalam proses belajar mengajar agar lulusan dapat beradaptasi dengan kebutuhan dunia kerja yang dinamis. “Jika kebutuhan kerjanya adalah influencer, maka mahasiswa juga harus menguasai bidang ini. Banyak soft skill yang belum dikuasai sedangkan hard skill yang dimiliki tidak dapat diaplikasikan di sebagian bidang kerja,” tambahnya.
Kegiatan ini diikuti oleh para dekan, kepala program studi, dan dosen di lingkungan Universitas Malahayati Bandar Lampung. Rektor berharap, materi yang disampaikan oleh para narasumber dapat menjadi pencerahan bagi para peserta.
Pembelajaran Berbasis Outcome adalah sistem pendidikan yang menitikberatkan pada pencapaian hasil akhir, di mana fokusnya tidak hanya pada materi yang harus diselesaikan, tetapi juga pada keterampilan yang relevan untuk menghadapi dunia kerja. (*)
Editor: Asyihin
Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Raih Akreditasi “Baik Sekali”
Klik di sini : Pendaftaran Online Mahasiswa Baru
Yuk, persiapkan diri kamu untuk bergabung bersama di Program Studi S1 Farmasi Universitas Malahayati. Caranya mudah, kamu bisa klik link Pendaftaran Mahasiswa Baru atau datang langsung ke kampus Universitas Malahayati Bandarlampung.
Editor: Gilang Agusman
Horor Guru Honor
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pada 15 Juli 2024 lalu semua sekolah di seantero negeri ini mulai kembali dengan kegiatannya. Di sana banyak tawa ria, tingkah lucu anak-anak bangsa dalam menjalani kehidupan baru di sekolah. Mereka bergembira ria, berwajah ceria. Semua mereka lakoni dengan penuh semangat. Saking semangatnya sampai emak-emak yang mengantarkan generasi penerus bangsa ini rela berdiri di pinggir pagar atau pintu gerbang sekolah berjam-jam. Mereka juga ikut larut akan kegembiraan putra-putrinya. Serasa baru kemarin si kecil digendong-gendong, hari ini mereka harus “dilepaskan” ke pantai harapan masa depan dengan penuh hikmat.
Di pojok sana, ada beberapa orang “pahlawan tanpa tanda jasa” berlinang air mata menatap anak-anak bangsa. Mereka haru sedih karena harus berpisah dengan semua yang ada. Mereka terdepak dari muka kelas akibat datangnya tenaga baru yang berbaju P3K.
Baru saja mereka menerima Surat Keputusan “Pemecatan” dan mereka harus menerima nasib sebagai guru honor yang sudah tidak diperlukan lagi. Bertahun-tahun mereka menanti dengan penuh harap menunggu datangnya asa, sekalipun menerima upah tidak seberapa, mereka berjuang penuh dedikasi. Namun, harapan itu kini musnah akibat dari satu kebijakan yang “membunuh” harapan mereka.
Langkah gontai dengan linangan air mata. Mereka melepaskan baju seragam kebesaran yang mereka beli sendiri. Dengan mata nanar entah harus ke mana meniti nasib mengais rezeki. Sementara kemampuan hanya bisa mengajar, kemampuan lain entah apa yang bisa mereka perbuat karena mereka sendiri tidak tahu.
Program P3K yang semula diplesetkan dengan istilah “pertolongan pertama pada kecelakaan”, benar-benar membuat celaka bagi sebagian orang yang telah berjuang tanpa pamrih dengan upah seadanya. Sekarang betul-betul sudah tidak ada apa-apanya. Ibarat peribahasa “habis manis sepah dibuang” yang selama ini menjadi materi pembelajaran di muka kelas, sekarang justru menimpa diri mereka.
Mereka tidak lebih dari ban serep pada kendaraan, setelah pemiliknya bisa membeli ban baru, maka ban serep harus diganti, dan dibuang ketempat sampah. Terbayang dimuka sana gelapnya kehidupan ini, yang semula dilalui dengan routinitas dan semangat tinggi, sekarang terhempas bagai ombak memecah pantai.
Mata nanar menatap masa depan yang entah apa yang akan terjadi untuk diri dan keluarganya. Terbayang si kecil yang harus membeli susu tiap minggu, abangnya harus sekolah Taman Kanak-Kanak, dan anak tertua baru masuk Sekolah Dasar. Bumi terasa bergoyang, alam menjadi gelap. Entah apa yang harus dibuat untuk menyelamatkan mereka semua.
Tidak jauh dari sana ada ibu muda yang terdiam membisu. Hanya air mata yang mengalir deras di pipinya. Awal tahun lalu baru saja melangsungkan pernikahan dan sekarang sedang hamil mud. Terpaan tiba-tiba melanda, ekonomi yang belum tersusun karena suamipun juga guru honor; mereka berdua harus menerima pemecatan di tempat sekolah yang berbeda. Langit serasa runtuh harus ke mana nasib mengadu. Gelombang raksasa kehidupan melanda mereka sebagai pasangan muda. Ongkos untuk pulang pun hari itu tidak punya. Untuk makan siang hari ini pun belum terbayang. Hanya bisa berharap dari kasih Tuhan kepada diri mereka. Semoga ada malaikat penolong segera didatangkan. Tetapi entah kapan dan di mana.
Korban kebijakan yang tidak bijak ini seolah melanggengkan teori kapitalisme dalam pendidikan. Sumberdaya manusia tidak lebih sebagai mesin yang bisa diganti kapan saja sesuai selera dan kemauan global. Hak-hak dasar yang tercermin dalam “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”; hanya tinggal di uang hampa saat anak kelas lima harus menghafalnya dimuka kelas.
Organisasi profesi guru sudah lama mengingatkan agar pemerintah memprioritaskan mengangkat mereka dengan status yang lebih baik. Para ahli sudah menyuarakan di ruang-ruang seminar dan pertemuan, para cerdik pandai sudah mengingatkan lewat tulisan dari yang halus sampai yang kasar. Namun, semua hanya dianggap angin lalu.
Bisa dibayangkan terhuyung-huyungnya rumah tangga mereka, karena topangan selama ini ada walau tidak seberapa. Ternyata hari ini dan entah sampai kapan, mereka harus memulai hidup lagi dari nol. Ibarat orang tenggelam yang hanya bisa menggapai apa saja agar dirinya bisa hidup. Rumah tangga mereka terjerembab luluh lantak karena saka guru ekonomi mereka dirobohkan.
Tak ada lagi tawa, tak ada lagi gembira. Semua musnah bagai ditelan bumi. Tak satu pun petinggi negeri ini peduli dengan nasibnya. Jika ditanyakan, mereka hanya bisa angkat bahu dan membuka kedua telapak tangan pertanda tak berdaya. Saat kampanye mereka berharap kepada honorer, dengan alasan tidak ada aturan yang dilanggar. Begitu kemenangan didapat, lupa sudah akan janji, semua mereka mantan honorer harus mencari sendiri demi sesuap nasi. Menembus badai kehidupan menjalani horornya keadaan yang sering tidak bersahabat dengan mereka. Apakah ini akibat dari mengangkat menteri pendidikan yang tidak paham akan profesinya, entahlah itu bukan urusan mereka. Satu kata yang mereka harapkan ada jawaban adalah “bagaimana nasib mereka”.
Sekadar berandai-andai, bagaimana kalau pemerintah daerah membangun sekolah swasta milik Pemda dari TK sampai SLTA? Gurunya bisa diambil semua mantan honorer ini. Pengelolaannya menggunakan pola BUMD. Untuk jangka pendek memang masih memerlukan investasi. Namun, untuk jangka panjang sekolah ini diharapkan menjadi semacam sekolah unggulan milik Pemda yang jika ada margin keuntungan kelak di kemudian hari menjadi milik pendapatan asli daerah (PAD). Uang yang dihamburkan untuk kegiatan sosial yang tidak terukur dan tidak jelas kemanfaatannya, akan lebih baik jika dijadikan investasi peningkatan sumberdaya manusia, dengan memprioritaskan siswanya adalah anak-anak pegawai pemerintah daerah.
Bisa juga mendistribusikan mereka ke sekolah swasta yang membutuhkan. Sisanya bisa dipekerjakan pada Dinas Pendidikan setempat sambil menunggu waktu untuk peluang yang akan datang. Caranya, mereka dibuatkan pusat data sesuai keahlian. Kemudian diperbantukan kepada unit yang ada. Semua ini untuk menghargai mereka sebagai warga bangsa yang telah berjasa di dunia pendidikan. Penghargaan itu diberikan tidak harus menunggu matinya yang diberi, tetapi justru saat mereka masih hidup itu manfaatnya akan lebih besar.
Selanjutnya, organisasi profesi guru terbesar seperti PGRI dan lainnya harus terus berjuang menyuarakan nasib mereka. Jangan kasih kendor agar pemerintah tidak salah dalam mengambil kebijakan. Sebab, selama ini kebijakan sering tidak dikaji terlebih dahulu dampaknya sampai di bawah. Yang ada hanya ingin cepat selesai masalahnya. Padahal, kebijakan yang diambil “menyelesaikan masalah dengan membuat masalah”.
Tentu pola seperti ini jika tidak ada pihak untuk selalu cawe-cawe dikhawatirkan akan terus berulang. Sebagai contoh kebijakan sekolah gratis dengan memaksakan kapasitas daya tampung dan sistem zonasi yang kurang melibatkan sekolah swasta. Karena tidak dikaji dengan benar, justru banyak mematikan sekolah milik PGRI dan swasta lainnya. Satu sisi sekolah negeri dipaksa siswanya berdesak-desakan, sementara sekolah swasta mati secara perlahan.
Tampaknya kita mulai menjadi orang asing di negeri sendiri, karena dari ideologi, kebijakan, bahkan kebijaksanaan semua sudah tergerus dari negeri ini. Sampai-sampai ruang kelas dianggap demplot tanaman. Baik guru maupun siswa bisa dicabut kapan saja dengan cara apa saja. Mereka yang menolak akan ditinggalkan di pinggir jalan untuk selanjutnya menikmati kematiannya.
Sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang adil dan beradab, entah sudah pergi ke mana. Guru honor tidak perlu dikasihani, tetapi mereka perlu dicarikan solusi. (SJ)
Editor: Gilang Agusman