Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada masa ketika hidup berjalan dengan ritme yang terasa pasti, seperti detak jam yang tak pernah terlambat. Pagi buta menjadi awal perjuangan, banyak pedagang membuka toko sebelum matahari terbit, menyambut pembeli yang datang dengan harapan sederhana: memenuhi kebutuhan, bertahan hidup, dan membawa pulang sedikit keuntungan. Senja menjadi penutup hari, ketika tubuh lelah namun hati masih menyimpan keyakinan bahwa esok akan kembali memberi kesempatan. Namun kini, ritme itu seakan terbalik. Siang menjadi waktu berangkat, siang pula menjadi waktu pulang. Pasar yang dulu hidup kini terasa seperti kuburan; sunyi, lengang, dan kehilangan denyutnya.
Perubahan ini bukan sekadar pergeseran jadwal, melainkan perubahan cara hidup yang terasa memaksa. Banyak pedagang yang dulu bergantung pada keramaian pagi; kini harus menerima kenyataan bahwa pembeli tidak lagi datang seperti dulu. Bahkan saat lapak sudah dibuka, waktu berjalan lambat tanpa transaksi berarti. Dagangan yang tersusun rapi sering kali hanya menjadi pajangan, bukan sumber penghidupan. Dalam situasi seperti ini, waktu terasa berjalan sia-sia, sementara kebutuhan hidup terus menunggu untuk dipenuhi tanpa kompromi.
Kelesuan ekonomi yang terjadi saat ini bukan sekadar istilah yang terdengar di berita atau perbincangan formal. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dengan dampak yang nyata dan terasa. Penurunan daya beli masyarakat membuat banyak orang memilih untuk menahan pengeluaran, membeli seperlunya, bahkan menunda kebutuhan yang sebenarnya penting. Akibatnya, perputaran uang di pasar menjadi tersendat. Pedagang kehilangan pembeli, sementara pembeli sendiri diliputi ketidakpastian.
Pasar tradisional selama ini bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang interaksi sosial yang hidup. Tawa, tawar-menawar, dan percakapan ringan menjadi bagian dari keseharian yang kini perlahan menghilang. Ketika pasar menjadi sepi, yang hilang bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga dinamika sosial yang selama ini menghidupkan suasana. Kesunyian itu terasa lebih dalam karena membawa serta rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Hidup yang terasa terbalik ini juga membawa dampak pada cara orang memandang masa depan. Jika dulu kerja keras identik dengan hasil yang sepadan, kini hubungan itu tidak lagi terasa jelas. Banyak yang sudah berusaha maksimal, namun hasil yang didapat jauh dari cukup. Hal ini menimbulkan rasa lelah yang bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ketika usaha tidak membuahkan hasil, semangat perlahan terkikis oleh kenyataan yang berulang.
Pada kondisi seperti ini, pertanyaan tentang kepada siapa harus mengeluh menjadi semakin relevan. Keluhan adalah bentuk kejujuran atas apa yang dirasakan, tetapi sering kali tidak menemukan tempat untuk didengar. Di tengah sistem yang terasa jauh dan situasi yang sulit dipahami, keluhan hanya berputar di antara sesama yang sama-sama merasakan beban. Tidak ada jawaban pasti, tidak ada kepastian solusi, hanya ada harapan yang terus dicoba untuk dipertahankan.
Banyak faktor yang memengaruhi kondisi ini, mulai dari perubahan pola konsumsi hingga tekanan ekonomi yang lebih luas. Namun bagi masyarakat kecil, memahami penyebab tidak serta-merta mengurangi beban. Yang dirasakan tetap sama: dagangan tidak laku, pemasukan menurun, dan kebutuhan hidup tetap berjalan. Kompleksitas masalah tidak menghapus kesederhanaan penderitaan yang dirasakan setiap hari.
Di tengah kesulitan ini, kemampuan untuk beradaptasi menjadi hal yang penting, meski tidak mudah dilakukan. Ada yang mencoba menjual dengan cara baru, mencari pelanggan melalui teknologi, atau mengubah jenis dagangan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun tidak semua memiliki akses, pengetahuan, atau modal untuk melakukan perubahan tersebut. Akibatnya, banyak yang tetap bertahan dengan cara lama sambil berharap keadaan akan membaik dengan sendirinya.
Ketidakpastian menjadi beban yang paling berat untuk ditanggung. Tidak ada jaminan bahwa esok akan lebih baik, tidak ada kepastian bahwa usaha hari ini akan membawa hasil. Hidup berjalan dalam bayang-bayang kekhawatiran, di mana setiap keputusan terasa penuh risiko. Bahkan untuk hal sederhana seperti menentukan jumlah barang yang harus dibeli untuk dijual kembali menjadi pertimbangan yang sulit.
Namun di balik semua itu, masih ada daya tahan yang menjadi kekuatan utama. Manusia memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kondisi yang tidak ideal. Meski hasil yang didapat tidak seberapa, masih ada upaya untuk terus berjalan. Ini bukan tentang optimisme yang berlebihan, tetapi tentang kebutuhan untuk tetap hidup. Dalam keterbatasan, bertahan menjadi bentuk keberanian yang sering kali tidak terlihat.
Kondisi ini juga mengingatkan bahwa ekonomi bukan hanya tentang angka dan kebijakan, tetapi tentang kehidupan nyata. Setiap penurunan transaksi, setiap toko yang sepi, adalah cerita tentang individu yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada keluarga yang bergantung pada hasil jualan harian, ada anak-anak yang menunggu biaya sekolah, dan ada harapan sederhana yang terus dijaga meski dalam keadaan sulit.
Hidup yang terasa terbalik ini memang bukan hal yang mudah untuk dijalani. Namun perubahan selalu menjadi bagian dari kehidupan, meski datang dalam bentuk yang tidak diharapkan. Yang bisa dilakukan adalah terus berusaha menyesuaikan diri, menjaga harapan, dan tidak sepenuhnya menyerah pada keadaan. Setiap langkah kecil tetap memiliki arti, meski hasilnya belum terlihat.
Pasar yang sepi hari ini tidak harus menjadi gambaran masa depan yang permanen. Seperti halnya kehidupan, selalu ada kemungkinan untuk berubah. Masa sulit mungkin terasa panjang, tetapi tidak selamanya akan bertahan. Hingga saat itu tiba, yang tersisa adalah ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, tetap membawa nilai dan harapan. Salam Waras
Universitas Malahayati resmi mengumumkan pelaksanaan libur nasional dan cuti bersama dalam rangka memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus Tahun 2026
Kebijakan ini mengacu pada Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2026.
Dalam pengumuman tersebut disampaikan bahwa hari Kamis, 14 Mei 2026 ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional memperingati Kenaikan Yesus Kristus. Sementara itu, hari Jumat, 15 Mei 2026 ditetapkan sebagai Cuti Bersama Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Universitas Malahayati juga menyampaikan bahwa seluruh kegiatan akademik serta pelayanan administrasi akan kembali aktif pada Senin, 18 Mei 2026.
Pihak universitas berharap seluruh dosen, karyawan, dan civitas akademika dapat memanfaatkan waktu libur dan cuti bersama dengan baik serta kembali menjalankan aktivitas perkuliahan dan pelayanan secara optimal setelah masa libur berakhir.
Pengumuman ini ditandatangani oleh Kepala Biro Administrasi Umum atas nama Wakil Rektor II, Ahmad Sidiq, ST., MT.
Editor : Chandra fz
Luka di Sepiring Nasi
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Pada sebuah desa yang tenang di salah satu kabupaten provinsi ini, terjadi sebuah peristiwa yang tampaknya sederhana namun menyimpan pertanyaan besar tentang kemanusiaan. Sebuah keluarga yang selama ini mengritik program makan bergizi gratis dengan harapan agar pelaksanaannya menjadi lebih baik, justru harus menerima kenyataan pahit: dua anak mereka kehilangan hak atas makanan di sekolah karena orang tuanya dianggap terlalu banyak cakap. Dalam peristiwa kecil ini, sesungguhnya tersimpan tragedi besar tentang relasi antara negara, manusia, moralitas, dan kekuasaan.
Filsafat manusia selalu memandang bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis yang membutuhkan makan untuk bertahan hidup. Manusia adalah makhluk yang memiliki martabat, kesadaran, akal budi, dan kebebasan berpikir. Karena itu, kritik bukanlah ancaman terhadap kehidupan bersama, melainkan bagian dari kodrat manusia yang berpikir dan merasa bertanggung jawab atas lingkungan sosialnya.
Ketika seseorang mengkritik kebijakan publik dengan niat memperbaiki, ia sedang menjalankan tanggung jawab moralnya sebagai manusia yang sadar bahwa kekuasaan dapat keliru, pejabat bisa salah. Kritik lahir dari kepedulian, bukan kebencian. Ia adalah bentuk cinta yang tidak mau membiarkan sesuatu berjalan menuju kerusakan.
Pada kehidupan yang sehat, kritik seharusnya diterima sebagai cermin. Tidak semua kritik memang benar, tetapi hak untuk menyampaikan pandangan adalah fondasi penting dalam kehidupan manusia yang bermartabat. Kekuasaan yang dewasa akan menjawab kritik dengan perbaikan atau dialog, bukan dengan hukuman tersembunyi. Sebab ketika kritik dibalas dengan intimidasi, yang sesungguhnya tampak bukan kekuatan, melainkan ketakutan kekuasaan terhadap suara rakyatnya sendiri.
Persoalan menjadi jauh lebih tragis ketika hukuman sosial tidak menimpa pengkritik secara langsung, melainkan anak-anak yang tidak memiliki hubungan dengan perdebatan politik orang dewasa. Di titik inilah akal sehat kehilangan pijakannya. Anak dijadikan medium pembalasan, seolah-olah hak untuk makan dapat dicabut demi menjaga kewibawaan pihak tertentu. Padahal, dalam pandangan etika kemanusiaan, anak adalah pribadi yang harus dilindungi dari konflik kepentingan orang dewasa. Anak tidak boleh memikul beban politik yang bahkan belum mampu mereka pahami.
Mengorbankan anak demi membungkam kritik adalah bentuk kemerosotan moral yang sangat dalam. Di sana terdapat kegagalan melihat manusia sebagai tujuan, bukan alat. Filsafat moral mengajarkan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai sarana untuk mencapai kepentingan tertentu. Ketika seorang anak kehilangan hak atas makanan hanya karena pandangan orang tuanya, maka anak itu telah diperlakukan bukan sebagai pribadi yang utuh, melainkan sebagai alat tekanan sosial. Ini bukan sekadar persoalan administratif, melainkan persoalan hati nurani.
Filsafat politik sejak lama mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki kecenderungan untuk lupa pada batas moralnya sendiri. Karena itu masyarakat membutuhkan ruang untuk berbicara dan mengoreksi. Kritik sesungguhnya bukan tanda kebencian terhadap negara, melainkan tanda bahwa rakyat masih peduli. Orang yang benar-benar tidak peduli justru akan memilih diam dan membiarkan semuanya berjalan tanpa arah. Maka ketika suara kritik dibalas dengan penghukuman, negara sedang mengirim pesan berbahaya bahwa kepatuhan lebih dihargai daripada kejujuran.
Filsafat moral juga mengajarkan bahwa keadilan harus bersifat universal. Hak seorang anak untuk memperoleh makanan tidak boleh bergantung pada sikap politik keluarganya. Jika hak itu bisa dicabut hanya karena perbedaan pendapat, maka yang hilang bukan sekadar jatah makan, melainkan prinsip dasar tentang kesetaraan manusia. Negara kemudian tidak lagi berdiri di atas hukum dan moral, tetapi di atas suka dan tidak suka. Inilah awal dari lahirnya ketakutan sosial, ketika masyarakat mulai berpikir bahwa diam lebih aman daripada jujur.
Paling menyedihkan dari peristiwa semacam ini bukan hanya rasa lapar yang mungkin muncul, melainkan luka batin yang tertanam dalam diri anak. Anak-anak belajar tentang dunia bukan melalui buku filsafat, melainkan melalui pengalaman konkret sehari-hari.
Mereka belajar tentang keadilan dari cara orang dewasa memperlakukan mereka. Ketika mereka melihat bahwa orang tuanya dihukum karena berbicara, mereka akan menyerap pesan bahwa kejujuran bisa berbahaya. Ketika mereka melihat makanan dapat dicabut karena kritik, mereka akan belajar bahwa kekuasaan lebih penting daripada keadilan.
Luka seperti ini tidak selalu terlihat. Ia tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi menetap dalam ingatan. Anak mungkin akan tumbuh dengan rasa takut untuk berbicara. Mereka bisa kehilangan rasa percaya terhadap institusi yang seharusnya melindungi mereka. Dari sinilah lahir generasi yang terbiasa berpura-pura setuju demi keamanan hidupnya sendiri. Padahal masyarakat yang sehat justru membutuhkan warga yang berani berpikir dan menyampaikan pendapat secara terbuka.
Ada ironi yang sangat tajam dalam peristiwa ini. Program makan bergizi gratis sejatinya lahir dari gagasan kemanusiaan: bahwa anak-anak harus tumbuh sehat tanpa dibatasi kondisi ekonomi keluarga. Tetapi ketika program itu dijadikan alat untuk membedakan siapa yang layak menerima berdasarkan sikap politik keluarganya, maka tujuan mulianya berubah menjadi paradoks. Bantuan yang seharusnya membangun solidaritas malah melahirkan rasa takut.
Kebaikan kehilangan nilai moralnya ketika disertai ancaman tersembunyi. Sesuatu tidak lagi dapat disebut bantuan kemanusiaan apabila ia menuntut kepatuhan sebagai syarat diam-diam.
Dalam sejarah manusia, kekuasaan yang menolak kritik selalu percaya bahwa stabilitas dapat dijaga melalui pembungkaman. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa ketakutan tidak pernah melahirkan masyarakat yang sehat. Ketakutan hanya menciptakan diam yang rapuh. Orang mungkin berhenti berbicara, tetapi luka sosial terus tumbuh di dalam hati. Dan ketika anak-anak mulai merasa negaranya tidak adil kepada mereka, sesungguhnya negara sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting daripada citra politik: ia kehilangan kepercayaan generasi masa depan.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah negara bukan hanya terletak pada banyaknya program yang dibagikan, melainkan pada cara negara memperlakukan manusia yang berbeda pendapat. Sebab kemanusiaan diuji bukan ketika kita berhadapan dengan orang yang memuji, tetapi ketika kita menghadapi orang yang mengkritik.
Jika kritik dibalas dengan penghukuman terhadap anak-anak, maka yang sedang terluka bukan hanya satu keluarga, melainkan nurani bersama. Dan ketika nurani mulai kalah oleh rasa takut, peradaban sesungguhnya sedang bergerak mundur. Semoga masih ada kewarasan di negeri ini.
Kolaborasi Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Kedokteran dalam Gerakan Lingkungan Bersih dan Hidup Sehat di Desa Pujorahayu, Kec. Negeri Katon Kab. Pesawaran
PESAWARAN ( malahayati.ac.id ) – Pada tanggal 9 Mei 2026, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan melalui Departemen Pengabdian Masyarakat berkolaborasi dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Pujorahayu. Kegiatan yang mengusung tema “Gerakan Kolaboratif Menuju Lingkungan Bersih dan Hidup Sehat” ini merupakan bentuk nyata kepedulian mahasiswa terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat serta kebersihan lingkungan desa. Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 50 warga yang turut berpartisipasi aktif dalam seluruh rangkaian acara.
Kegiatan diawali dengan sosialisasi edukatif kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga sanitasi lingkungan, pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga, serta berbagai risiko penyakit yang dapat timbul akibat lingkungan yang tidak bersih dan kurang terawat. Melalui penyuluhan ini, mahasiswa Teknik Lingkungan dan Kedokteran berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kegiatan kolaboratif ini, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan ilmu pengetahuan di lapangan, tetapi juga membangun kepedulian sosial dan lingkungan bersama masyarakat. Sinergi antara mahasiswa Teknik Lingkungan dan Kedokteran menjadi langkah positif dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi dan pola hidup sehat. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan secara berkelanjutan agar manfaatnya semakin dirasakan oleh masyarakat,” ujar Mohkram Ari Arbi selaku dosen pendamping kegiatan.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat setempat. Pemeriksaan kesehatan meliputi pengecekan berat badan, tekanan darah (tensi), dan kadar gula darah. Antusiasme warga terlihat sangat tinggi selama kegiatan berlangsung karena masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatan mereka secara langsung sekaligus memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga pola hidup sehat.
Sebagai penutup, mahasiswa bersama masyarakat melaksanakan kegiatan clean up di area sekitar drainase desa. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengatasi permasalahan lingkungan yang sering menyebabkan banjir saat hujan deras. Berdasarkan keterangan warga, saluran drainase di wilayah tersebut kerap tersumbat akibat penumpukan sampah dan sedimentasi sehingga air meluap ke permukiman warga. Melalui aksi bersih lingkungan ini, diharapkan masyarakat semakin peduli terhadap kebersihan drainase dan lingkungan sekitar guna menciptakan kawasan yang lebih sehat, nyaman, dan bebas dari risiko banjir.
Editor : Chandra fz
PASIR DAN KUASA
Guru Besar Universitas Malahayati
Di banyak daerah yang sedang bertumbuh, pasir bukan lagi sekadar material alam. Ia telah berubah menjadi komoditas yang diperebutkan, dipindahkan, diperjualbelikan, lalu dijadikan alat untuk menggerakkan roda ekonomi. Di balik deru mesin pengeruk dan lalu lalang truk pengangkut, terdapat suara lain yang kerap tenggelam: suara lingkungan yang rusak, masyarakat yang kehilangan ruang hidup, dan hukum yang perlahan kehilangan wibawa di hadapan kekuatan modal serta jaringan kekuasaan. Fenomena maraknya penggalian pasir di Kabupaten Lampung Tengah memperlihatkan kenyataan pahit tentang bagaimana alam sering kali diposisikan hanya sebagai objek eksploitasi, bukan sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga keberlanjutannya.
Aktivitas penggalian pasir yang terus meluas membawa dampak yang nyata bagi lingkungan sekitar. Sungai dikeruk tanpa kendali, tebing mengalami abrasi, jalan desa rusak akibat kendaraan bermuatan berat, dan debu beterbangan memasuki rumah-rumah warga setiap hari. Dalam jangka pendek, kerusakan itu mungkin dianggap biasa atau bahkan dianggap sebagai konsekuensi pembangunan. Namun dalam jangka panjang, dampaknya jauh lebih serius. Struktur tanah menjadi rapuh, daerah resapan air berkurang, dan potensi bencana ekologis meningkat. Alam membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk memulihkan dirinya, sementara kerakusan manusia bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan bumi menyembuhkan luka.
Membuat keadaan semakin rumit adalah adanya dugaan bahwa praktik-praktik tersebut berdiri di bawah perlindungan orang-orang kuat. Ketika kekuatan ekonomi bertemu dengan pengaruh politik atau jaringan kekuasaan tertentu, hukum sering kehilangan ketegasannya. Masyarakat yang mencoba mempertahankan lingkungan hidup justru berada pada posisi yang lemah. Mereka dianggap penghambat investasi, pengacau usaha, atau pihak yang tidak memahami kebutuhan ekonomi daerah. Tidak jarang muncul tekanan sosial maupun intimidasi secara halus agar masyarakat memilih diam. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan alam, melainkan juga persoalan relasi kuasa.
Di tengah kondisi demikian, masyarakat sebenarnya sedang menghadapi dilema besar. Di satu sisi, aktivitas tambang sering dijanjikan sebagai sumber lapangan pekerjaan dan penggerak ekonomi lokal. Sebagian warga memang memperoleh penghasilan dari aktivitas tersebut, baik sebagai pekerja maupun melalui usaha kecil yang ikut bergerak di sekitarnya. Namun di sisi lain, masyarakat juga menyaksikan sendiri dampak kerusakan yang ditinggalkan. Ketika sungai menjadi keruh, ketika hasil pertanian menurun, ketika jalan-jalan desa hancur akibat truk pengangkut pasir, dan ketika sumber air mulai tercemar, masyarakat perlahan sadar bahwa keuntungan ekonomi yang dijanjikan tidak selalu sebanding dengan kerugian ekologis yang harus ditanggung bersama.
Ironisnya, saat masyarakat mencoba meminta kejelasan kepada pemerintah, yang muncul justru saling lempar tanggung jawab. Pemerintah kabupaten menyebut kewenangan berada di tingkat provinsi, sementara pihak provinsi berdalih bahwa pengawasan di lapangan membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah. Akibatnya, persoalan terus berputar tanpa penyelesaian nyata. Dalam ruang abu-abu seperti inilah aktivitas yang merusak lingkungan dapat bertahan dan berkembang. Ketika birokrasi sibuk mencari batas kewenangan, kerusakan alam terus berlangsung tanpa jeda.
Fenomena ini memperlihatkan adanya persoalan mendasar dalam tata kelola sumber daya alam. Negara seharusnya hadir sebagai pelindung kepentingan publik, bukan sekadar penonton yang membiarkan ruang hidup masyarakat dikorbankan oleh kepentingan tertentu. Hukum dibuat bukan hanya untuk mengatur administrasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan secara adil dan berkelanjutan. Ketika hukum dapat dinegosiasikan oleh kekuatan modal dan pengaruh tertentu, maka yang lahir bukan lagi keadilan, melainkan ketimpangan. Masyarakat kecil akhirnya merasa bahwa aturan hanya berlaku bagi mereka yang lemah, sementara mereka yang memiliki kekuatan dapat dengan mudah mencari celah untuk menghindarinya.
Kerusakan lingkungan juga tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu membawa dampak sosial yang luas dan perlahan menggerus kehidupan masyarakat dari dalam. Konflik horizontal antarwarga dapat muncul karena perbedaan kepentingan. Sebagian masyarakat mendukung tambang karena alasan ekonomi, sementara sebagian lain menolak karena mempertahankan lingkungan hidup. Perpecahan semacam ini membuat solidaritas sosial yang sebelumnya kuat menjadi rapuh. Hubungan antar tetangga dapat renggang hanya karena perbedaan pandangan mengenai keberadaan tambang pasir. Alam yang rusak pada akhirnya juga merusak hubungan antar manusia.
Lebih dari itu, masyarakat lokal sejatinya memiliki pengetahuan dan kebijaksanaan yang diwariskan turun-temurun tentang cara menjaga keseimbangan alam. Sungai bukan hanya sumber material, melainkan sumber kehidupan. Tanah bukan hanya objek ekonomi, melainkan ruang tempat generasi tumbuh dan bertahan hidup. Dalam budaya masyarakat pedesaan, alam memiliki nilai moral yang tidak dapat diukur dengan uang semata. Ketika eksploitasi dilakukan tanpa batas, manusia sebenarnya sedang memutus hubungan moralnya dengan alam. Keserakahan membuat manusia lupa bahwa bumi bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan untuk anak cucu.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, keberanian masyarakat untuk bersuara menjadi sangat penting. Kritik terhadap kerusakan lingkungan tidak boleh dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bersama. Pemerintah juga harus berhenti menjadikan persoalan kewenangan sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab moral. Sebab bagi masyarakat yang terdampak, yang mereka butuhkan bukan perdebatan administratif, melainkan tindakan nyata untuk melindungi lingkungan hidup mereka. Ketegasan hukum harus hadir tanpa memandang siapa yang berada di belakang sebuah usaha.
Pada akhirnya, persoalan penggalian pasir bukan hanya tentang tambang ilegal atau kerusakan sungai. Ia adalah cermin tentang bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana hukum diuji, dan bagaimana negara sering kali gagal berdiri di pihak rakyat kecil ketika berhadapan dengan kepentingan besar. Alam selalu memberi tanda ketika ia mulai kehilangan keseimbangannya. Persoalannya bukan apakah kerusakan itu akan datang, melainkan apakah manusia mau menyadari sebelum semuanya terlambat. Jika eksploitasi terus dibiarkan tanpa kendali, maka yang akan diwariskan bukan kesejahteraan, melainkan krisis lingkungan yang harus ditanggung oleh generasi mendatang.
Salam Waras
Mahasiswi Universitas Malahayati Raih Prestasi Nasional di Ajang Lomba Kesenian Nasional 2026
Mahasiswi Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malahayati, Erna Wulansari berhasil mengharumkan nama kampus dengan meraih prestasi pada ajang Lomba Kesenian Nasional yang diselenggarakan di Jakarta pada 21 Februari 2026.
Dalam ajang tingkat nasional tersebut, Erna berhasil meraih:
Juara 3 Lomba Menyanyi Mahasiswa Tingkat Nasional
Juara 2 Lomba Tulis Cerpen Tingkat Nasional
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga mampu bersaing dan berprestasi di bidang seni dan literasi tingkat nasional.
Keberhasilan Erna Wulansari mendapat apresiasi dari civitas akademika Universitas Malahayati. Prestasi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan bakat, kreativitas, dan potensi diri di berbagai bidang.
Dengan semangat berkarya dan berprestasi, Universitas Malahayati terus mendorong mahasiswanya untuk aktif mengikuti kompetisi baik di tingkat regional maupun nasional sebagai bentuk pengembangan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Editor : Chandra fz
Universitas Malahayati Buka Lowongan Rekrutmen Dosen Tetap Magister Akuntansi
BANDAR LAMPUNG – Universitas Malahayati Bandar Lampung resmi membuka kesempatan berkarier bagi para profesional dan akademisi untuk bergabung sebagai Dosen Tetap pada Program Studi Magister Akuntansi. Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen universitas dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi dan penguatan jajaran tenaga pengajar ahli.
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis, terdapat beberapa kualifikasi utama yang harus dipenuhi oleh calon pelamar, di antaranya:
Pendidikan Terakhir: Minimal Doktor (S3) di bidang Akuntansi atau Ekonomi dengan konsentrasi Akuntansi/Keuangan.
Linieritas Keilmuan: Memiliki latar belakang pendidikan yang linier dengan Program Studi Magister Akuntansi.
Status Kepegawaian: Bersedia menjadi dosen tetap dan tidak terikat status sebagai dosen tetap di perguruan tinggi lain.
Prosedur Pendaftaran Bagi pelamar yang memenuhi kriteria, berkas lamaran dapat ditujukan langsung kepada Rektor Universitas Malahayati Cq. Kepala Kepegawaian. Pengiriman dokumen dilakukan secara digital melalui alamat email resmi: hrd@malahayati.ac.id.
Pihak universitas menetapkan batas akhir pendaftaran hingga tanggal 30 Juni 2026. Universitas Malahayati mengundang para pakar akuntansi untuk berkontribusi dalam mencetak lulusan magister yang kompeten dan berdaya saing di masa depan.
Informasi lebih lanjut mengenai profil institusi dapat diakses melalui laman resmi di malahayati.ac.id atau melalui kanal media sosial resmi Humas Universitas Malahayati.
#RekrutmenDosen #LowonganDosen #UniversitasMalahayati #MagisterAkuntansi #KarirAkademisi #BandarLampung #PendidikanTinggi
Mahasiswa Universitas Malahayati Torehkan Prestasi Gemilang di Ajang Kesenian Nasional
BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Kabar membanggakan kembali datang dari dunia kemahasiswaan Universitas Malahayati. Salah satu mahasiswa berbakat, M. Alim Pamungkas (NPM 24610056), berhasil menorehkan prestasi luar biasa dengan memborong tiga gelar juara sekaligus dalam ajang kejuaraan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Lomba Kesenian Nasional pada 1 Maret 2026.
Dalam kompetisi ketat yang diikuti oleh berbagai peserta dari seluruh Indonesia tersebut, M. Alim Pamungkas menunjukkan dominasinya di bidang seni melalui raihan prestasi sebagai berikut:
Juara 2 Lomba Unjuk Bakat
Juara 3 Lomba Menyanyi
Juara 3 Lomba Cipta Puisi
Dedikasi dan Kreativitas Tanpa Batas
Pencapaian ini menjadi bukti nyata atas dedikasi dan kerja keras Alim dalam mengasah potensi non-akademiknya. Kemampuannya dalam mengolah vokal, merangkai bait-bait puisi yang bermakna, hingga menampilkan pertunjukan bakat yang memukau juri, membawa nama Universitas Malahayati semakin bersinar di kancah nasional.
Rektorat Universitas Malahayati menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas prestasi multitalenta ini. Keberhasilan Alim diharapkan dapat menjadi katalisator dan inspirasi bagi mahasiswa lainnya untuk tidak ragu mengeksplorasi minat dan bakat mereka di luar ruang kuliah.
Mendukung Generasi Kreatif
Prestasi ini juga selaras dengan komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung setiap langkah mahasiswa untuk berprestasi di berbagai bidang. Dengan semangat kreativitas yang tinggi, diharapkan para mahasiswa mampu menjadi pribadi yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi positif bagi kemajuan seni dan budaya di Indonesia.
Selamat kepada M. Alim Pamungkas atas pencapaian yang membanggakan ini. Semoga terus berkarya dan meraih prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang.
#PrestasiMahasiswa #UniversitasMalahayati #LombaKesenianNasional #GenerasiUnggul #MalahayatiBangga #SeniBudayaIndonesia
ANTARA SEPI DAN BERTAHAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Ada masa ketika hidup berjalan dengan ritme yang terasa pasti, seperti detak jam yang tak pernah terlambat. Pagi buta menjadi awal perjuangan, banyak pedagang membuka toko sebelum matahari terbit, menyambut pembeli yang datang dengan harapan sederhana: memenuhi kebutuhan, bertahan hidup, dan membawa pulang sedikit keuntungan. Senja menjadi penutup hari, ketika tubuh lelah namun hati masih menyimpan keyakinan bahwa esok akan kembali memberi kesempatan. Namun kini, ritme itu seakan terbalik. Siang menjadi waktu berangkat, siang pula menjadi waktu pulang. Pasar yang dulu hidup kini terasa seperti kuburan; sunyi, lengang, dan kehilangan denyutnya.
Perubahan ini bukan sekadar pergeseran jadwal, melainkan perubahan cara hidup yang terasa memaksa. Banyak pedagang yang dulu bergantung pada keramaian pagi; kini harus menerima kenyataan bahwa pembeli tidak lagi datang seperti dulu. Bahkan saat lapak sudah dibuka, waktu berjalan lambat tanpa transaksi berarti. Dagangan yang tersusun rapi sering kali hanya menjadi pajangan, bukan sumber penghidupan. Dalam situasi seperti ini, waktu terasa berjalan sia-sia, sementara kebutuhan hidup terus menunggu untuk dipenuhi tanpa kompromi.
Kelesuan ekonomi yang terjadi saat ini bukan sekadar istilah yang terdengar di berita atau perbincangan formal. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari dengan dampak yang nyata dan terasa. Penurunan daya beli masyarakat membuat banyak orang memilih untuk menahan pengeluaran, membeli seperlunya, bahkan menunda kebutuhan yang sebenarnya penting. Akibatnya, perputaran uang di pasar menjadi tersendat. Pedagang kehilangan pembeli, sementara pembeli sendiri diliputi ketidakpastian.
Pasar tradisional selama ini bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang interaksi sosial yang hidup. Tawa, tawar-menawar, dan percakapan ringan menjadi bagian dari keseharian yang kini perlahan menghilang. Ketika pasar menjadi sepi, yang hilang bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga dinamika sosial yang selama ini menghidupkan suasana. Kesunyian itu terasa lebih dalam karena membawa serta rasa kehilangan yang sulit dijelaskan.
Hidup yang terasa terbalik ini juga membawa dampak pada cara orang memandang masa depan. Jika dulu kerja keras identik dengan hasil yang sepadan, kini hubungan itu tidak lagi terasa jelas. Banyak yang sudah berusaha maksimal, namun hasil yang didapat jauh dari cukup. Hal ini menimbulkan rasa lelah yang bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ketika usaha tidak membuahkan hasil, semangat perlahan terkikis oleh kenyataan yang berulang.
Pada kondisi seperti ini, pertanyaan tentang kepada siapa harus mengeluh menjadi semakin relevan. Keluhan adalah bentuk kejujuran atas apa yang dirasakan, tetapi sering kali tidak menemukan tempat untuk didengar. Di tengah sistem yang terasa jauh dan situasi yang sulit dipahami, keluhan hanya berputar di antara sesama yang sama-sama merasakan beban. Tidak ada jawaban pasti, tidak ada kepastian solusi, hanya ada harapan yang terus dicoba untuk dipertahankan.
Banyak faktor yang memengaruhi kondisi ini, mulai dari perubahan pola konsumsi hingga tekanan ekonomi yang lebih luas. Namun bagi masyarakat kecil, memahami penyebab tidak serta-merta mengurangi beban. Yang dirasakan tetap sama: dagangan tidak laku, pemasukan menurun, dan kebutuhan hidup tetap berjalan. Kompleksitas masalah tidak menghapus kesederhanaan penderitaan yang dirasakan setiap hari.
Di tengah kesulitan ini, kemampuan untuk beradaptasi menjadi hal yang penting, meski tidak mudah dilakukan. Ada yang mencoba menjual dengan cara baru, mencari pelanggan melalui teknologi, atau mengubah jenis dagangan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Namun tidak semua memiliki akses, pengetahuan, atau modal untuk melakukan perubahan tersebut. Akibatnya, banyak yang tetap bertahan dengan cara lama sambil berharap keadaan akan membaik dengan sendirinya.
Ketidakpastian menjadi beban yang paling berat untuk ditanggung. Tidak ada jaminan bahwa esok akan lebih baik, tidak ada kepastian bahwa usaha hari ini akan membawa hasil. Hidup berjalan dalam bayang-bayang kekhawatiran, di mana setiap keputusan terasa penuh risiko. Bahkan untuk hal sederhana seperti menentukan jumlah barang yang harus dibeli untuk dijual kembali menjadi pertimbangan yang sulit.
Namun di balik semua itu, masih ada daya tahan yang menjadi kekuatan utama. Manusia memiliki kemampuan untuk bertahan dalam kondisi yang tidak ideal. Meski hasil yang didapat tidak seberapa, masih ada upaya untuk terus berjalan. Ini bukan tentang optimisme yang berlebihan, tetapi tentang kebutuhan untuk tetap hidup. Dalam keterbatasan, bertahan menjadi bentuk keberanian yang sering kali tidak terlihat.
Kondisi ini juga mengingatkan bahwa ekonomi bukan hanya tentang angka dan kebijakan, tetapi tentang kehidupan nyata. Setiap penurunan transaksi, setiap toko yang sepi, adalah cerita tentang individu yang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada keluarga yang bergantung pada hasil jualan harian, ada anak-anak yang menunggu biaya sekolah, dan ada harapan sederhana yang terus dijaga meski dalam keadaan sulit.
Hidup yang terasa terbalik ini memang bukan hal yang mudah untuk dijalani. Namun perubahan selalu menjadi bagian dari kehidupan, meski datang dalam bentuk yang tidak diharapkan. Yang bisa dilakukan adalah terus berusaha menyesuaikan diri, menjaga harapan, dan tidak sepenuhnya menyerah pada keadaan. Setiap langkah kecil tetap memiliki arti, meski hasilnya belum terlihat.
Pasar yang sepi hari ini tidak harus menjadi gambaran masa depan yang permanen. Seperti halnya kehidupan, selalu ada kemungkinan untuk berubah. Masa sulit mungkin terasa panjang, tetapi tidak selamanya akan bertahan. Hingga saat itu tiba, yang tersisa adalah ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap usaha, sekecil apa pun, tetap membawa nilai dan harapan. Salam Waras
Mahasiswa KKL-PPM Universitas Malahayati Gandeng Warga Banjar Sari Wujudkan Taman Gizi Untuk Perbaikan Gizi Anak
Tanggamus ( malahayati.ac.id )
— Desa Banjar Sari, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, tengah menggeliat dengan program inovatif pembuatan taman gizi.
Digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan – Pemberdayaan Perkembangan Pada Masyarakat (KKL-PPM) Kelompok 28 Universitas Malahayati, kelompok PKK desa dan warga Desa Banjar Sari menggiatkan program taman gizi.
Taman gizi ini meruakan kebun kecil yang ditanami berbagai sayuran dan tanaman buah yang kaya nutrisi, seperti cabe, laos, terung, kencur, kunyit, lengkuas, kemangi, daun bawang, kangkung.
Kelak, tamanan ini akan menjadi sumber bahan baku segar dan bergizi untuk pembuatan makanan pendamping ASI (MPASI) bagi balita. Taman gizi ini penting sebagai upaya jangka panjang untuk memastikan ketersediaan makanan bergizi yang mudah diakses masyarakat.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa juga mengedukasi anggota PKK tentang teknik menanam yang sederhana dan ramah lingkungan serta memelihara tanaman agar hasil panennya maksimal.
Anggota PKK yang selama ini aktif dalam pemberdayaan keluarga menerima pelatihan langsung dan meneruskan informasi ini ke anggota keluarganya agar budaya makan makanan sehat semakin meluas.
Selain itu, taman gizi juga menjadi tempat belajar sekaligus praktik untuk mengolah hasil panen menjadi MPASI bergizi, seperti puding buah naga dan sayur-sayuran lainnya. Diharapkan orang tua akan lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak sehingga tidak harus bergantung pada bahan makanan dari luar desa.
Kerja sama kolaboratif antara mahasiswa, PKK, dan masyarakat membuktikan pentingnya sinergi antar berbagai elemen untuk mengatasi permasalahan gizi dan stunting.
Program pembuatan taman gizi ini tidak hanya meningkatkan keterampilan bercocok tanam masyarakat tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya gizi seimbang untuk tumbuh kembang anak.
Hasrat, Kuasa, dan Lupa