Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Bentangan kisah tentang Abu Nawas tak pernah habis-habisnya, semakin dibaca semakin ditemukan rujukan baru untuk ditelusuri. Apalagi dengan kemudahan teknologi seperti sekarang, kita dapat berselancar di dunia maya untuk membaca banyak hal dari banyak sumber; termasuk tentang Abu Nawas.
Kali ini ditemukan bagaimana dialog Abu Nawas dengan seorang ahli matematika. Salah satu penjelasan yang bersumber dari referensi digital adalah sebagai berikut: Suatu hari, seorang ahli matematika terkenal datang ke negeri tempat Abu Nawas tinggal. Sang ahli mendengar tentang kecerdasan Abu Nawas dan memutuskan untuk menguji kecerdasannya dengan teka-teki angka.
Dialog tersebut jika dideskrepsikan sebagai berikut:
Ahli Matematika: “Abu Nawas, aku dengar kau sangat cerdik. Bagaimana jika kita bermain dengan angka? Aku akan memberimu teka-teki sederhana.”
Abu Nawas: sambil tersenyum santai menjawab: “Ah, aku hanya seorang pecinta angka seadanya, Tuan. Tapi, silakan coba teka-tekimu.”
Ahli Matematika melanjutkan: “Baiklah. Jika ada sepuluh burung di atas pohon, lalu seorang pemburu menembak satu burung, berapa burung yang tersisa di pohon?”.
Abu Nawas sambil tertawa kecil menjawab: “Tuan, jika seorang pemburu menembak satu burung, tentu saja tidak ada burung yang tersisa di pohonitu sebab yang lain pasti terbang ketakutan!”
Ahli Matematika mendengar jawaban itu terkekeh sambil berkata: “Jawaban yang logis! Baiklah, aku punya teka-teki lain. Jika kau memiliki tiga apel dan membagi dua apel kepada dua orang, berapa yang tersisa untukmu?”.
Abu Nawas dengan amat segera menjawab: “Oh, itu mudah. Aku tetap punya tiga apel.”
Ahli Matematika sedikit bingung dan berteriak: “Bagaimana mungkin? Kau baru saja memberikan dua apel kepada dua orang!”.
Abu Nawas dengan percaya diri menjelaskan: “Tentu saja. Aku hanya membaginya dalam mimpi, Tuan. Di dunia nyata, apelnya tetap ada padaku!”
Ahli Matematika tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Kau benar-benar suka bermain-main dengan jawaban, Abu Nawas. Tapi mari kita serius. Aku ingin tahu bagaimana kau menjawab ini: jika x = y dan aku menambahkan z pada kedua sisi, apakah persamaan masih benar?”.
Abu Nawas berpikir sejenak kemudian menukas: “Tentu saja masih benar, Tuan. Jika aku punya dua kantong kosong dan menambahkan batu ke masing-masing kantong, keduanya tetap seimbang.”
Ahli Matematika terkagum-kagum dan berguman: “Luar biasa! logikamu tajam, Abu Nawas. Baiklah, pertanyaan terakhir. Apa angka terbesar yang pernah ada?”.
Abu Nawas menjawab dengan tersenyum lebar: “Angka terbesar, Tuan, adalah angka yang belum pernah terpikirkan olehmu, karena setiap kali kau menemukan angka besar, aku bisa selalu menambahkan satu lagi.”
Ahli Matematika benar-benar dibuat kagum, dan beliau memuji: “Kau benar-benar pandai. Aku datang untuk mengujimu, tetapi ternyata aku yang belajar darimu.”
Abu Nawas menyergah dengan kata sambil merendah: “Ah, Tuan, aku hanya seorang pengembara pikiran. Kadang angka membuatku tertawa, kadang membuatku bingung. Tapi hari ini, aku senang karena membuat seorang ahli matematika tersenyum.”
Dialog ini menunjukkan kecerdasan dan humor khas Abu Nawas, bahkan ketika berbicara dengan seorang ahli matematika sekalipun. Sederhana, tetapi selalu penuh kejutan; maka, tidak salah jika orang bijak mengatakan bahwa ada sesuatu di dunia ini jika dibagikan tidak akan berkurang sedikitpun, malah bisa jadi bertambah, apakah itu ? jawabannya adalah “rasa bahagia”.
Jika kita dapat berbagi akan kebahagiaan kepada orang lain, dan orang tadi merasakan kebahagiaan itu, maka kebahagiaan kita tidak berkurang, justru makin bertambah. Filosofi ini mendorong kita untuk lebih peduli, memberi dengan tulus, dan menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang “memiliki” tetapi tentang “berbagi”. Pertanyaannya mampukah kita melaksanakannya ?. Jawabannya ada di hati kita masing-masing. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas Unmal Galakkan Edukasi “Cegah Nyamuk DBD” di Desa Waylayap
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL peminatan K3 dan Kesehatan Lingkungan (K3&Kesling) melaksanakan kegiatan edukasi bertema “Cegah Nyamuk DBD dengan Kepedulian dan Kebersihan” di Desa Waylayap, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung Minggu (12/1/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Penyakit Infeksi Berbasis Lingkungan yang diampu oleh Khoidar Amirus, SKM., M.Kes
Desa Waylayap dipilih sebagai lokasi edukasi karena tercatat pernah mengalami satu kasus DBD. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat memerlukan pengetahuan lebih dalam mengenai pencegahan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori dengan praktik di lapangan sekaligus berkontribusi langsung dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat.
Kerja bakti bersama warga desa untuk membersihkan lingkungan mengawali rangkaian kegiatan pengmas ini. Mahasiswa dan warga saling bahu-membahu mengidentifikasi dan mengeliminasi potensi sarang nyamuk, seperti genangan air di wadah terbuka. Langkah ini bertujuan untuk memutus rantai perkembangan nyamuk DBD.
Selanjutnya, mahasiswa memberikan sosialisasi kepada warga tentang pentingnya penerapan metode 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) serta langkah-langkah tambahan seperti penggunaan kelambu, pemberian abate, dan menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.
Kepala Desa Waylayap, M. Syaiful Akbar, memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa UNMAL. Dalam sambutannya, beliau mengharapkan kegiatan yang memberikan wawasan kepada masyarakat tentang langkah pencegahan DBD dapat terus dilakukan dikemudian hari.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Kami sebagai pemerintah desa sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan, supaya kami paham apa yang harus dilakukan demi terwujudnya masyarakat desa yang sehat, baik secara individu maupun kelompok,” ujar nya.
Melalui kegiatan ini diharapkan agar warga lebih proaktif dalam mengelola lingkungan sekitar mereka untuk memutus rantai perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, kebiasaan hidup bersih yang dipromosikan selama edukasi diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat. Dengan meningkatnya kesadaran ini, tidak hanya kesehatan individu yang terjaga, tetapi juga kesehatan komunitas secara keseluruhan dapat ditingkatkan.
Santri Pondok Pesantren Al Banin Dibekali Pengetahuan Pencegahan Scabies oleh Mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL.
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas Unmal Galakkan Edukasi “Cegah Nyamuk DBD” di Desa Waylayap
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL peminatan K3 dan Kesehatan Lingkungan (K3&Kesling) melaksanakan kegiatan edukasi bertema “Cegah Nyamuk DBD dengan Kepedulian dan Kebersihan” di Desa Waylayap, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung pada Minggu (12/01/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Penyakit Infeksi Berbasis Lingkungan yang diampu oleh Khoidar Amirus, SKM., M.Kes
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL Gelar Seminar “Cawa Santun Bicara Sanitasi untuk Negeri”.
Program Studi Kebidanan Universitas Malahayati Gelar Seminar dan Kuliah Pakar Tentang Acupressure untuk Optimalisasi Proses Persalinan
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber ahli dalam bidang kebidanan dan acupressure, yaitu dr. Apriyanto, Sp.Ak. yang membahas tentang penerapan acupressure dalam pelayanan kebidanan, Tri Imawati, SST.,Bdn yang mengulas tentang penggunaan pendekatan komplementer dalam kebidanan, serta Vida Wira Utami, SST.,Bdn.,M.Kes yang berbagi ilmu dan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam mendukung proses persalinan.
“Ke depan, kegiatan serupa akan terus diadakan untuk memperkaya pengalaman dan keahlian mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia kebidanan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman tentang acupressure sebagai teknik yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.
Lebih lanjut, Prof. Dessy berharap seminar ini menjadi titik awal yang dapat berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung. “Melalui ilmu yang didapat dari kegiatan ini, kami berharap dapat berperan aktif dalam mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Kami juga berharap Universitas Malahayati dapat terus berkontribusi dalam dunia kesehatan ibu dan bayi di wilayah Lampung dan sekitarnya,” tambahnya.
Acupressure, atau teknik tekanan pada titik-titik tertentu di tubuh, menjadi fokus utama dalam seminar ini karena dianggap sebagai metode yang efektif dan alami untuk merangsang proses persalinan serta memberikan kenyamanan bagi ibu yang sedang melahirkan. Teknik ini juga dapat membantu mengurangi rasa sakit dan stres selama proses persalinan, serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi.
Seminar ini juga menjadi bagian dari upaya Universitas Malahayati untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di bidang kebidanan. Dengan menghadirkan berbagai narasumber berkompeten dan topik-topik terkini, universitas ini berkomitmen untuk menyiapkan tenaga kebidanan yang tidak hanya terampil dalam praktik klinis, tetapi juga peka terhadap pendekatan-pendekatan alternatif yang dapat mendukung kesehatan ibu dan bayi.
Acara ini diharapkan menjadi pemicu untuk pengembangan lebih lanjut dalam pelayanan kebidanan, serta memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi tantangan dan perkembangan ilmu kebidanan di masa depan.
Dengan berakhirnya seminar dan kuliah pakar ini, Universitas Malahayati berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam praktik kebidanan sehari-hari dan terus berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung. Ke depan, program-program serupa akan terus diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen universitas untuk mendukung perkembangan ilmu kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Ucapkan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Kemdiktisaintek
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Rektor dan Sivitas Akademika Universitas Malahayati mengucapkan selamat dan sukses kepada pejabat-pejabat yang baru dilantik di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk kemajuan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Indonesia.
Pejabat yang baru dilantik meliputi:
Universitas Malahayati berharap bahwa kepemimpinan yang baru ini dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta pemerintah untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemakmuran bangsa. Dengan semangat kepemimpinan yang visioner, diharapkan sektor pendidikan tinggi Indonesia semakin berkembang, menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara.
Para pemimpin baru ini diharapkan dapat berperan aktif dalam merancang kebijakan yang mendukung penguatan ekosistem pendidikan tinggi serta mendorong riset dan pengembangan yang berbasis pada kebutuhan zaman. Semoga langkah-langkah positif yang diambil oleh para pejabat ini akan memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi dunia pendidikan dan teknologi di Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Don Quixote dan Kicir Angin
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Sekitar awal tahun 1960-an, penulis masih di Sekolah Rakyat (tahun 1966 berubah menjadi Sekolah Dasar), memiliki bapak guru yang mempunyai kebiasaan setiap setengah jam sebelum pelajaran berakhir pada jam terakhir diisi dengan “Bercerita”. Pesan-pesan moral, etika, adab selalu beliau selipkan dalam cerita yang beliau paparkan. Cerita yang dibawakan sangat beragam, dari yang sederhana seperti “Si Kancil” untuk di kelas rendah, dan pada waktu kelas enam beliau membawakan cerita Don Quixote dengan berbagai setting. Kami semua yang hanya berjumlah sembilan orang itu dengan seksama memperhatikan. Tidak jarang saat pulang jalan kaki yang sekitar satu kilometer menuju rumah, kami membicarakan cerita Pak Guru, dan yang paling terkenal adalah cerita Don Quixote dalam berbagai episode.
Setelah di Sekolah Lanjutan Atas dan paham akan bahasa asing barulah mengetahui siapa tokoh ini sebenarnya. Cerita Don Quixote adalah salah satu karya sastra paling terkenal dari dunia Barat, ditulis oleh Miguel de Cervantes pada awal abad ke-17. Kisah ini penuh humor, petualangan, dan sindiran, menggambarkan perjuangan idealisme melawan kenyataan yang keras. Salah satu episode yang terkenal adalah Don Quixote dan Kincir Angin yang cerita ini dulu menjadi bahan tertawaan kami. Ringkas cerita ditambah bahan dari referensi digital ditemukan penjelasan sebagai berikut:
Don Quixote dan pengikutnya, Sancho Panza, sedang melakukan perjalanan melintasi sebuah padang terbuka. Dalam perjalanan, mereka melihat beberapa kincir angin besar berdiri di kejauhan. Namun, karena pikirannya yang telah terpengaruh oleh bacaan tentang ksatria dan petualangan, Don Quixote tidak melihat kincir angin sebagai mesin penggiling biji-bijian yang sederhana. Ia menganggap kincir angin itu adalah raksasa jahat yang mengancam dunia. Dengan keberanian besar (namun tanpa dasar yang nyata), ia memutuskan untuk menyerang “musuh” tersebut.
Sancho Panza, yang lebih realistis, mencoba memperingatkan Don Quixote bahwa yang ia lihat hanyalah kincir angin biasa, bukan raksasa. Namun, Don Quixote keras kepala dan yakin bahwa Sancho terlalu takut untuk melihat kenyataan sebenarnya. “Engkau mungkin takut, Sancho, tetapi aku akan melawan para raksasa ini demi kehormatan Dulcinea!”
Maka pertarungan dengan Kincir Angin dimulai, Don Quixote mengarahkan kudanya, Rocinante, ke salah satu kincir angin, mengangkat tombaknya, dan berteriak penuh semangat. Ia menyerbu ke arah baling-baling kincir angin, yang saat itu sedang berputar karena tertiup angin. Ketika tombak Don Quixote mengenai baling-baling, kekuatan angin mendorong baling-baling itu, yang langsung menghantamnya dan melemparkannya ke tanah. Ia terjatuh dengan keras, tetapi semangatnya tidak surut.
Apa reaksi Don Quixote, ternyata alih-alih mengakui kesalahannya, Don Quixote menganggap kejadian itu adalah hasil sihir. Ia percaya bahwa seorang penyihir jahat telah mengubah raksasa menjadi kincir angin untuk menghancurkannya. Ia berkata kepada Sancho:
“Itulah tipu daya para penyihir jahat. Mereka mengubah raksasa menjadi kincir angin agar aku tidak bisa mengalahkan mereka.” Sancho, meskipun bingung dan prihatin melihat kelakuan tuannya, dia tetap setia menemani tuannya.
Kisah ini melambangkan idealisme Don Quixote yang berbenturan dengan kenyataan dunia. Kincir angin mewakili masalah biasa yang dihadapi dalam hidup, tetapi Don Quixote, dengan imajinasinya yang luar biasa, menganggapnya sebagai ancaman besar. Ia melawan musuh yang tidak nyata, menggambarkan upayanya untuk mempertahankan nilai-nilai ksatria dalam dunia yang sudah berubah.
Meskipun konyol, adegan ini juga menyentuh karena menunjukkan keberanian Don Quixote untuk menghadapi tantangan, bahkan ketika ia jelas salah. Perjuangannya menjadi metafora bagi manusia yang berani bermimpi, meskipun dunia sering kali tidak mendukung mimpi tersebut. Hanya sayangnya sekarang kita sudah tidak berani untuk bermimpi, karena syarat mimpi itu harus tidur terlebih dahulu; sementara banyak diantara kita sekarang tidak bias tidur nyenyak. Bagaimana bias tidur jika kita harus berfikir terus mencari jalan keluar dari himpitan hidup; setelah pajak dinaikkan, baru saja harga Gas Elpiji untuk masak sudah berubah harga, subsidi listrik hanya sampai dua bulan saja. Sementara penghasilan tetap masih seperti yang dulu, dengan kata lain pengeluaran lebih cepat lajunya dibandingkan pemasukkan.
Kalau Don Quixote berhadapan dengan kincir angin, sementara kita kepalanya harus berputar seperti kincir angin. Pejabat Negara mengatakan pajak hanya untuk barang mewah, tetapi saat belanja kebutuhan pokok sehari-hari di gerai yang ada disekitar kita, ternyata tercantum pajak 12 %. Terus siapa yang harus kita percaya ? Salam Waras. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Arizal Fikri, Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Malahayati, Raih Juara 3 Kejuaraan Panjat Tebing Provinsi Lampung 2024
Arizal Fikri, yang dikenal sebagai salah satu atlet muda berbakat di dunia panjat tebing, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian ini. “Ini adalah sebuah kebanggaan bagi saya karena dapat kembali meraih juara di tingkat provinsi, dan semoga bisa terus meningkatkan kemampuan untuk meraih prestasi di tingkat nasional,” ujar Arizal dengan penuh semangat.
Tak hanya berfokus pada pencapaian saat ini, Arizal juga memberi pesan motivasi bagi para atlet muda dan rekan-rekannya. “Jangan cepat puas dengan prestasi yang sudah didapatkan. Teruslah berusaha dan berlatih keras agar dapat mencapai yang terbaik, dan suatu saat bisa meraih posisi pertama,” tambahnya.
Kejuaraan ini menjadi bukti bahwa dedikasi dan kerja keras Arizal Fikri di dunia olahraga panjat tebing terus membuahkan hasil. Semoga prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Universitas Malahayati dan para atlet muda di Lampung untuk terus mengasah kemampuan dan meraih mimpi mereka.
Dengan semangat juang yang tinggi, Arizal Fikri tidak hanya mengharumkan nama Universitas Malahayati, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi perkembangan olahraga panjat tebing di Lampung. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Membagi Bahagia versi Abu Nawas
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Bentangan kisah tentang Abu Nawas tak pernah habis-habisnya, semakin dibaca semakin ditemukan rujukan baru untuk ditelusuri. Apalagi dengan kemudahan teknologi seperti sekarang, kita dapat berselancar di dunia maya untuk membaca banyak hal dari banyak sumber; termasuk tentang Abu Nawas.
Kali ini ditemukan bagaimana dialog Abu Nawas dengan seorang ahli matematika. Salah satu penjelasan yang bersumber dari referensi digital adalah sebagai berikut: Suatu hari, seorang ahli matematika terkenal datang ke negeri tempat Abu Nawas tinggal. Sang ahli mendengar tentang kecerdasan Abu Nawas dan memutuskan untuk menguji kecerdasannya dengan teka-teki angka.
Dialog tersebut jika dideskrepsikan sebagai berikut:
Ahli Matematika: “Abu Nawas, aku dengar kau sangat cerdik. Bagaimana jika kita bermain dengan angka? Aku akan memberimu teka-teki sederhana.”
Abu Nawas: sambil tersenyum santai menjawab: “Ah, aku hanya seorang pecinta angka seadanya, Tuan. Tapi, silakan coba teka-tekimu.”
Ahli Matematika melanjutkan: “Baiklah. Jika ada sepuluh burung di atas pohon, lalu seorang pemburu menembak satu burung, berapa burung yang tersisa di pohon?”.
Abu Nawas sambil tertawa kecil menjawab: “Tuan, jika seorang pemburu menembak satu burung, tentu saja tidak ada burung yang tersisa di pohonitu sebab yang lain pasti terbang ketakutan!”
Ahli Matematika mendengar jawaban itu terkekeh sambil berkata: “Jawaban yang logis! Baiklah, aku punya teka-teki lain. Jika kau memiliki tiga apel dan membagi dua apel kepada dua orang, berapa yang tersisa untukmu?”.
Abu Nawas dengan amat segera menjawab: “Oh, itu mudah. Aku tetap punya tiga apel.”
Ahli Matematika sedikit bingung dan berteriak: “Bagaimana mungkin? Kau baru saja memberikan dua apel kepada dua orang!”.
Abu Nawas dengan percaya diri menjelaskan: “Tentu saja. Aku hanya membaginya dalam mimpi, Tuan. Di dunia nyata, apelnya tetap ada padaku!”
Ahli Matematika tertawa terbahak-bahak dan berkata: “Kau benar-benar suka bermain-main dengan jawaban, Abu Nawas. Tapi mari kita serius. Aku ingin tahu bagaimana kau menjawab ini: jika x = y dan aku menambahkan z pada kedua sisi, apakah persamaan masih benar?”.
Abu Nawas berpikir sejenak kemudian menukas: “Tentu saja masih benar, Tuan. Jika aku punya dua kantong kosong dan menambahkan batu ke masing-masing kantong, keduanya tetap seimbang.”
Ahli Matematika terkagum-kagum dan berguman: “Luar biasa! logikamu tajam, Abu Nawas. Baiklah, pertanyaan terakhir. Apa angka terbesar yang pernah ada?”.
Abu Nawas menjawab dengan tersenyum lebar: “Angka terbesar, Tuan, adalah angka yang belum pernah terpikirkan olehmu, karena setiap kali kau menemukan angka besar, aku bisa selalu menambahkan satu lagi.”
Ahli Matematika benar-benar dibuat kagum, dan beliau memuji: “Kau benar-benar pandai. Aku datang untuk mengujimu, tetapi ternyata aku yang belajar darimu.”
Abu Nawas menyergah dengan kata sambil merendah: “Ah, Tuan, aku hanya seorang pengembara pikiran. Kadang angka membuatku tertawa, kadang membuatku bingung. Tapi hari ini, aku senang karena membuat seorang ahli matematika tersenyum.”
Dialog ini menunjukkan kecerdasan dan humor khas Abu Nawas, bahkan ketika berbicara dengan seorang ahli matematika sekalipun. Sederhana, tetapi selalu penuh kejutan; maka, tidak salah jika orang bijak mengatakan bahwa ada sesuatu di dunia ini jika dibagikan tidak akan berkurang sedikitpun, malah bisa jadi bertambah, apakah itu ? jawabannya adalah “rasa bahagia”.
Jika kita dapat berbagi akan kebahagiaan kepada orang lain, dan orang tadi merasakan kebahagiaan itu, maka kebahagiaan kita tidak berkurang, justru makin bertambah. Filosofi ini mendorong kita untuk lebih peduli, memberi dengan tulus, dan menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang “memiliki” tetapi tentang “berbagi”. Pertanyaannya mampukah kita melaksanakannya ?. Jawabannya ada di hati kita masing-masing. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas Unmal Gelar Penyuluhan Hipertensi untuk Lansia di Lampung Selatan