Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Satu episode cerita Ramayana versi pedalangan Jawa berjudul “Romo Tambak” bisa diaktualkan secara kontradiktif saat ini. Kisah ini sesungguhnya bersumbu kepada kekuatan cinta Rama kepada Sinta. Terkesan sepele, tetapi dalam perjalanan dan perjuangannya begitu sarat makna.
Judul pada tulisan ini sengaja dibuat konfrontatif karena ada peristiwa aktual yang mungkin saja terinspirasi dari dongeng Ramayana ini. Judulnya Pagar Laut. Saya yakin, awal kisah ini juga bersumbu dari cinta, lebih tepatnya cinta kepada dunia.
Romo Tambak mengangkat perjuangan Prabu Ramawijaya (Rama) bersama para sekutunya dari bangsa Wanara (kera), dalam membangun jalur menuju Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta. Di tangan para pujangga Jawa, cerita ini diperkaya dengan narasi dan tambahan tokoh dan nuansa kearifan lokal.
Alur kisah diawali dengan kabar baik yang datang dari Anoman kepada Rama. Kethek (kera) putih ini membawa berita bahwa Dewi Sinta, kekasih Rama berada di Taman Argasoka di Kerajaan Alengka. Kabar ini A-1, kata Anoman. Mendengar itu, rasa rindu Rama yang amat dalam kepada kekasih hatinya tak terbendung. Rama memutuskan untuk menjemput Dewi Sinta yang saat itu dalam penguasaan Rahwana. Ia mengatur siasat, menggalang dukungan, dan mempersiapkan penyerangan.
Pasukan sudah siap, perjalanan dimulai, dan satu dua rintangan diatasi. Namun, pada suatu titik, mereka dihadapkan pada kendala besar, yakni lautan luas yang memisahkan wilayah tempat Rama berada (biasanya digambarkan di kawasan India Selatan) dengan Pulau Alengka.
Rama bersemedi di tepi laut, memohon restu kepada Bethara Baruna (dewa penguasa lautan) agar memberikan jalan bagi pasukannya untuk menyeberang. Pada awalnya, Samodra Raja tidak memberikan tanggapan. Rama, dalam kemarahannya, berniat menembakkan panah pusaka untuk mengeringkan lautan. Ketegangan ini membuat Bethara Baruna akhirnya muncul dan memberikan saran kepada Rama agar membangun tambak (bendungan) dengan bantuan para monyet.
Dengan perintah Rama, para wanara mulai membangun tambak menggunakan batu-batu besar yang diambil dari gunung dan hutan. Dalam versi Jawa, proses ini dipenuhi dengan adegan heroik dan humor, karena para kera sering digambarkan memiliki karakter unik. Mereka dibagi tugas spesifik. Anoman menjadi pemimpin utama, ia mengatur pembagian tugas dengan sigap. Sugriwa dan Subali diberi mandat memimpin pasukan dengan kekuatan besar untuk membawa batu. Anggada, Jembawan, dan para wanara lainnya memiliki peran mempercepat pembangunan tambak.
Dalam beberapa versi pedalangan, Rahwana mencoba menggagalkan pembangunan tambak dengan mengirimkan pasukan raksasa atau menciptakan badai. Namun, para munyuk berhasil menghalau gangguan tersebut dengan bantuan Hanoman dan Rama yang melindungi pekerjaan mereka.
Setelah usaha keras, tambak akhirnya selesai dan jalur menuju Alengka terbuka.
Tambak ini sering disebut sebagai Romo Tambak. Romo bermakna ayah atau pemimpin, merujuk pada Rama sebagai pelindung dan pembimbing dalam perjuangan ini. Untuk kata “Romo” sampai hari ini melekat pada keluarga Jawa panggilan kepada ayah atau orang yang dituakan dan sangat dihormati.
Seperti potongan video, cerita Romo Tambak ini dipotong sampai di sini dulu. Sebab, pesan yang ingin disampaikan dalam konteks ini adalah makna moral tentang bagaimana sesuatu yang semula dianggap mustahil bisa terwujud dengan kerja keras dan kebersamaan. Dan nilai-nilai itu sangat melekat dalam budaya Jawa.
Nilai-nilai itu adalah, pertama, semangat gotong royong. Kesuksesan pembangunan tanggul tambak yang membelah laut menuju Alengka adalah simbol kerja sama yang sangat kuat. Para wanara yang bekerja tanpa pamrih mencerminkan nilai gotong royong yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.
Kedua, keimanan pada kekuatan Ilahi. Keajaiban batu yang mengapung karena nama Rama menggambarkan kekuatan doa dan keimanan. Nama Rama sebagai lambang kebaikan dan keadilan menjadi kekuatan spiritual yang mengatasi batas-batas fisik.
Ketiga, keseimbangan alam dan manusia. Hubungan antara manusia, alam, dan dewa (Samodra Raja) mencerminkan pandangan kosmologis Jawa yang menekankan harmoni.
Kita tinggalkan dulu cerita Romo Tambak yang memang berbasis dongeng. Namun, tampaknya ada yang mengadopsi dongeng ini ke dalam realita kita berbangsa. Bukan Romo Tambak, tetapi Tambak Laut atau lebih dikenal dengan sebutan pagar laut. Celakanya, kisah nyata ini memiliki makna yang kontradiksi dengan nilai yang disampaikan melalui kisah Ramayana.
Bisa dibayangkan ternyata “menambak Laut” yang semula ditafsir sebagai tindakan kepahlawanan, ternyata di alam nyata justru sebaliknya. Bahkan menjadi perusak ekosistem yang ada, dengan berkedok untuk kepentingan yang lebih besar.
Selama sepuluh tahun kita ternina bobok dengan tampilan yang sederhana seolah tanpa dosa, ternyata lautpun bisa dipagar sampai tiga puluh kilometer; bahkan itu tidak hanya di satu tempat. Di beberapa tempat di negeri ini laut sudah berpagar, dan tanpa ada protes dari manapun.
Lembaga Swadaya Masyarakat yang selama ini dikenal garang, ternyata bisa abai dengan pagar laut yang terus bertambah dan merebak di mana-mana.
Atas nama reklamasi, pengamanan wilayah, dan entah apalagi; semua bisa dilakukan; bahkan surat resmi dari negarapun ada. Setelah terbuka dan diambil tindakan; tidak satupun pejabat yang mau bertanggungjawab. Padahal mereka sudah terima “cuan” saat itu entah dengan atas nama “uang apa”. Dan, anehnya ada pejabat tinggi saat menjabat mengeluarkan surat izin resmi, begitu di tanya, jawabannya ringan bagai kapas “saya tidak tahu”. Seolah berlaku hukum sosial kalau tanggung jawab sifatnya ke bawah, kalau uang sifat ke atas.
Kita tinggal tunggu apakah “langit” di negeri ini sudah juga disertifikatkan, karena bisa jadi nantinya orang memiliki lahan tidak berikut langitnya. Atau menjual langitnya saja, tidak berikut lahan atau bangunan dibawahnya; karena negeri ini sudah mendekati menjadi “negeri dongeng”. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Hikayat Romo Tambak versus Tambak Laut
–
Satu episode cerita Ramayana versi pedalangan Jawa berjudul “Romo Tambak” bisa diaktualkan secara kontradiktif saat ini. Kisah ini sesungguhnya bersumbu kepada kekuatan cinta Rama kepada Sinta. Terkesan sepele, tetapi dalam perjalanan dan perjuangannya begitu sarat makna.
Judul pada tulisan ini sengaja dibuat konfrontatif karena ada peristiwa aktual yang mungkin saja terinspirasi dari dongeng Ramayana ini. Judulnya Pagar Laut. Saya yakin, awal kisah ini juga bersumbu dari cinta, lebih tepatnya cinta kepada dunia.
Romo Tambak mengangkat perjuangan Prabu Ramawijaya (Rama) bersama para sekutunya dari bangsa Wanara (kera), dalam membangun jalur menuju Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta. Di tangan para pujangga Jawa, cerita ini diperkaya dengan narasi dan tambahan tokoh dan nuansa kearifan lokal.
Alur kisah diawali dengan kabar baik yang datang dari Anoman kepada Rama. Kethek (kera) putih ini membawa berita bahwa Dewi Sinta, kekasih Rama berada di Taman Argasoka di Kerajaan Alengka. Kabar ini A-1, kata Anoman. Mendengar itu, rasa rindu Rama yang amat dalam kepada kekasih hatinya tak terbendung. Rama memutuskan untuk menjemput Dewi Sinta yang saat itu dalam penguasaan Rahwana. Ia mengatur siasat, menggalang dukungan, dan mempersiapkan penyerangan.
Pasukan sudah siap, perjalanan dimulai, dan satu dua rintangan diatasi. Namun, pada suatu titik, mereka dihadapkan pada kendala besar, yakni lautan luas yang memisahkan wilayah tempat Rama berada (biasanya digambarkan di kawasan India Selatan) dengan Pulau Alengka.
Rama bersemedi di tepi laut, memohon restu kepada Bethara Baruna (dewa penguasa lautan) agar memberikan jalan bagi pasukannya untuk menyeberang. Pada awalnya, Samodra Raja tidak memberikan tanggapan. Rama, dalam kemarahannya, berniat menembakkan panah pusaka untuk mengeringkan lautan. Ketegangan ini membuat Bethara Baruna akhirnya muncul dan memberikan saran kepada Rama agar membangun tambak (bendungan) dengan bantuan para monyet.
Dengan perintah Rama, para wanara mulai membangun tambak menggunakan batu-batu besar yang diambil dari gunung dan hutan. Dalam versi Jawa, proses ini dipenuhi dengan adegan heroik dan humor, karena para kera sering digambarkan memiliki karakter unik. Mereka dibagi tugas spesifik. Anoman menjadi pemimpin utama, ia mengatur pembagian tugas dengan sigap. Sugriwa dan Subali diberi mandat memimpin pasukan dengan kekuatan besar untuk membawa batu. Anggada, Jembawan, dan para wanara lainnya memiliki peran mempercepat pembangunan tambak.
Dalam beberapa versi pedalangan, Rahwana mencoba menggagalkan pembangunan tambak dengan mengirimkan pasukan raksasa atau menciptakan badai. Namun, para munyuk berhasil menghalau gangguan tersebut dengan bantuan Hanoman dan Rama yang melindungi pekerjaan mereka.
Setelah usaha keras, tambak akhirnya selesai dan jalur menuju Alengka terbuka.
Tambak ini sering disebut sebagai Romo Tambak. Romo bermakna ayah atau pemimpin, merujuk pada Rama sebagai pelindung dan pembimbing dalam perjuangan ini. Untuk kata “Romo” sampai hari ini melekat pada keluarga Jawa panggilan kepada ayah atau orang yang dituakan dan sangat dihormati.
Seperti potongan video, cerita Romo Tambak ini dipotong sampai di sini dulu. Sebab, pesan yang ingin disampaikan dalam konteks ini adalah makna moral tentang bagaimana sesuatu yang semula dianggap mustahil bisa terwujud dengan kerja keras dan kebersamaan. Dan nilai-nilai itu sangat melekat dalam budaya Jawa.
Nilai-nilai itu adalah, pertama, semangat gotong royong. Kesuksesan pembangunan tanggul tambak yang membelah laut menuju Alengka adalah simbol kerja sama yang sangat kuat. Para wanara yang bekerja tanpa pamrih mencerminkan nilai gotong royong yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.
Kedua, keimanan pada kekuatan Ilahi. Keajaiban batu yang mengapung karena nama Rama menggambarkan kekuatan doa dan keimanan. Nama Rama sebagai lambang kebaikan dan keadilan menjadi kekuatan spiritual yang mengatasi batas-batas fisik.
Ketiga, keseimbangan alam dan manusia. Hubungan antara manusia, alam, dan dewa (Samodra Raja) mencerminkan pandangan kosmologis Jawa yang menekankan harmoni.
Kita tinggalkan dulu cerita Romo Tambak yang memang berbasis dongeng. Namun, tampaknya ada yang mengadopsi dongeng ini ke dalam realita kita berbangsa. Bukan Romo Tambak, tetapi Tambak Laut atau lebih dikenal dengan sebutan pagar laut. Celakanya, kisah nyata ini memiliki makna yang kontradiksi dengan nilai yang disampaikan melalui kisah Ramayana.
Bisa dibayangkan ternyata “menambak Laut” yang semula ditafsir sebagai tindakan kepahlawanan, ternyata di alam nyata justru sebaliknya. Bahkan menjadi perusak ekosistem yang ada, dengan berkedok untuk kepentingan yang lebih besar.
Selama sepuluh tahun kita ternina bobok dengan tampilan yang sederhana seolah tanpa dosa, ternyata lautpun bisa dipagar sampai tiga puluh kilometer; bahkan itu tidak hanya di satu tempat. Di beberapa tempat di negeri ini laut sudah berpagar, dan tanpa ada protes dari manapun.
Lembaga Swadaya Masyarakat yang selama ini dikenal garang, ternyata bisa abai dengan pagar laut yang terus bertambah dan merebak di mana-mana.
Atas nama reklamasi, pengamanan wilayah, dan entah apalagi; semua bisa dilakukan; bahkan surat resmi dari negarapun ada. Setelah terbuka dan diambil tindakan; tidak satupun pejabat yang mau bertanggungjawab. Padahal mereka sudah terima “cuan” saat itu entah dengan atas nama “uang apa”. Dan, anehnya ada pejabat tinggi saat menjabat mengeluarkan surat izin resmi, begitu di tanya, jawabannya ringan bagai kapas “saya tidak tahu”. Seolah berlaku hukum sosial kalau tanggung jawab sifatnya ke bawah, kalau uang sifat ke atas.
Kita tinggal tunggu apakah “langit” di negeri ini sudah juga disertifikatkan, karena bisa jadi nantinya orang memiliki lahan tidak berikut langitnya. Atau menjual langitnya saja, tidak berikut lahan atau bangunan dibawahnya; karena negeri ini sudah mendekati menjadi “negeri dongeng”. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Kekuasaan yang Menguasai
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu ada seorang sohib mengomentari tulisan yang terbit di salah satu media dengan sangat filosofis dan mendasar. Menurutnya, sekarang telah terjadi pergeseran maknawi tentang kekuasaan. Kekuasaan yang semula secara ontologis bermakna amanah yang diemban untuk menyejahterakan yang memberi kuasa melalui proses penghimpunan dukungan berupa pemilihan, sekarang berubah bahwa kekuasaan yang diperoleh itu adalah “milik pribadi”. Karena milik pribadi, mau digunakan untuk apa, dengan cara apa, suka-suka yang berkuasa.
Komentar seperti itu sangat menohok, karena hanya mereka yang terus berfikir kritis methodologis yang mampu menganalisis pergeseran seperti itu.
Memang, kekuasaan tidak hanya bersifat fisik atau koersif. Kekuasaan juga ideologis, spiritual, dan struktural. Kekuasaan yang “menguasai” cenderung melibatkan permainan kompleks antara kendali, pengaruh, dan legitimasi. Berkelindannya ketiga hal tadi, itulah seni berkuasa.
Ketika kekuasaan dianggap sebagai milik pribadi, ia sering menimbulkan ketimpangan, korupsi, dan penyalahgunaan. Namun, filsafat kekuasaan modern menekankan pentingnya memandang kekuasaan sebagai tanggung jawab bersama yang bertujuan melayani kepentingan umum, bukan kepentingan individu semata.
Mengapa di negeri ini sering timbul “rasa diri” bahwa kekuasaan itu adalah “milik pribadi”? Ternyata salah satu di antaranya karena peninggalan pemikiran feodal. Kekuasaan dalam perspektif tradisional masih begitu melekat pada sebagian otak pejabat, sehingga berwujud dalam bentuk sistem monarki tradisional bentuk baru, dan oleh karenanya kekuasaan dianggap sebagai hak pribadi pemimpin atau penguasa. Kekuasaan diwariskan melalui garis keturunan, dan penguasa dianggap memiliki hak ilahi (divine right of kings).
Seiring itu juga muncul kekuasaan pribadi dalam wujud neo-feodalisme: Dalam feodalisme, kekuasaan pribadi ditentukan oleh hubungan hierarkis antara tuan tanah dan bawahannya. Kekuasaan atas wilayah dan rakyat menjadi “milik pribadi” tuan tanah. Sedangkan dalam neo-feodalisme kekuasaan pribadi akan sumber ekonomi rakyat menjadi kekuatan besar untuk “berbuat apa saja” agar syahwat untuk terus berkuasa terpenuhi.
Kekuasaan lahan berganti akan penguasaan pasar dan sumber produksi; sempurnalah jadinya harga ditentukan oleh pribadi yang dimanisfestasikan oleh koorporasinya.
Kekuasaan yang dipersonifikasi sebagai milik pribadi ini dimuluskan jalannya manakala kekuasaan untuk membuat aturanpun dikuasai dengan pola pikir koorporasi. Sehingga hari ini suaminya jadi pemimpin, besok bisa istrinya, dan lusa bisa jadi anaknya. Secara perundangan tidak ada yang dilanggar, hanya kepatutan saja seolah kurang tepat. Namun kepatutan sendiri adalah produk budaya, manakala budayanya sudah direkayasa agar sesuatu yang semula tidak patut, bisa saja diubah menjadi “patut”; maka semua akan tampak “mulus” tanpa cacat; maka sempurnalah kekuasaan yang menguasai sehingga bisa menjadikan kekuasaan adalah sama dan sebangun dengan milik pribadi.
Tampaknya kesalahan silogisme di atas saat ini sedang berlangsung dinegeri yang kita cintai ini. Sehingga analogi yang dikemukakan oleh sahabat pemberi ide ini yang mengatakan banyak diantara kita salah memaknai saat Syaidina Umar sedih melihat rakyatnya ada yang merebus batu agar anak-anaknya bisa melupakan kemiskinan dan tertidur; menjadi “biarkan mereka merebus batu sampai kapan pun yang penting saya bisa tidur”. Kalau syaidina Umar mendatangi sendiri rakyatnya tanpa pengawalan sehingga tidak perlu biaya; sementara sekarang jika pemimpinnya datang, lebih besar ongkos dia datang dibandingkan dengan yang dia sumbangkan.
Kehadiran pemerintah dimaknai berbeda dengan konsep dasarnya; namun karena itu menjadi semacam kelaziman, maka tampaknya semakin sempurna kesalahan silogisme dibangun. Bisa dibayangkan kehadiran pemimpin yang dirancang, ternyata settingannya harus memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Semua ini mengakibatkan “pemerintahan biaya tinggi” yang ujungnya hanya membangun pencitraan semata. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Memberatkan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Secara umum, konsep “memberatkan” dalam ilmu sosial sering kali digunakan untuk mengeksplorasi hubungan kekuasaan, ketimpangan, dan ketidakadilan yang menciptakan beban tambahan dalam kehidupan individu atau kelompok. Sementara itu dalam Sosiologi kita kenal konsep beban struktural, yaitu: ketidakadilan sistemik atau ketimpangan sosial-ekonomi yang dapat memberatkan kelompok rentan, seperti buruh, perempuan, atau kaum miskin.
Bencana alam yang berakibat menjadikannya bencana sosial karena dampak langsung ada pada yang disebut di atas. Oleh karena itu bencana alam bisa saja terjadi hanya sekejap, tetapi akibat yang ditimbulkan menjadi munculnya bencana sosial yang berlangsung bisa memakan waktu yang lama dan melelahkan. Oleh karena itu kehadiran pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan kebijakan serta sumberdaya adalah sesuatu keharusan; terutama untuk jangka panjang.
Hanya mendatangi, tidak untuk menindaklanjuti kunjungan kepada para korban bencana, adalah pekerjaan pencitraan belaka. Mereka tidak memerlukan ucapan “kasihan”, akan tetapi lebih kepada tindakan nyata; akan diberi apa, dan kelak akan bagaimana. Mereka lebih butuh kepastian akan nasib diri dan keluarganya pascabencana; yang semua ini pada umumnya jika ditanyakan kepada pejabat yang berwenang, akan menjawab kompak “sedang kami pikirkan”.
Lebih menyedihkan lagi jika “mereka ditinggal” oleh pemimpin yang dipilihnya, hanya karena alasan “jadwal tidak bisa diubah”. Kemustahilan seperti ini menjadikan masyarakat makin menjauh; sehingga bisa jadi mereka akan apatis serta tidak peduli lagi dengan apa yang mereka yakini selama ini baik. Bisa dibayangkan sampai waktu cukup lama yang hadir hanya bantuan, tidak muncul orang yang selama ini di gadang-gadang. Pada hal kehadiran fisik adalah pengobat luka relasi sosial yang bisa saja terjadi karena kelalaian selama ini.
Namun kelihatannya posisi rakyat tetap sebagai sub-ordinat yang memang menjadi obyek untuk “dikerjain”; oleh karena itu cara kooptasi yang dilakukan penguasa semakin sempurna manakala informasi dapat dikuasai atau paling tidak diminimalisir.
Posisi sub-ordinat ini semakin terasa manakala terkait dengan masalah ekonomi; bisa dibayangkan pengusaha besar yang tentu punya modal besar, bisa seenaknya menentukan harga produk hasil pertanian. Hal ini dikarenakan mereka memiliki alat produksi di luar negeri, yang nasilnya dapat untuk mengatur harga, dengan cara “memasukkan” barang milik perusahaan sendiri dengan berbaju “import”. Kondisi ini menjadi subur makmur karena pejabat yang menangani hal ini mendapat upeti.
Rakyat menjadi tersakiti, pejabat membela setengah hati; akhirnya mereka bertindak sendiri dengan terkadang terkesan “anarkhi”. Pada hal sebenarnya mereka menuntut haknya sebagai warga negara, dan meminta negara hadir ditengah mereka.
Pembenaran yang tidak benar terus terjadi; terakhir dengan pongah pengusaha menutup pabriknya untuk tidak menerima hasil pertanian dengan waktu yang tak terbatas. Tentu saja kemarahan rakyat memuncak sampai keubun-ubun mereka. Yang ada hanya dua pilihan, menyelamatkan keluarga atau perang melawan pengusaha.
Semua kita harus memahami bahwa beban berat masyarakat semakin hari semakin memberatkan dalam ukuran skala mereka. Harga yang berkaitan dengan hajat hidup semakin membumbung harganya, sementara harga hasil produk mereka dihargai rendah di pasar karena adanya sistem yang tidak memihak mereka. Untuk itu sudah waktunya untuk memperbaiki seluruh sitem distribusi ekonomi yang membela rakyat, salah satu diantaranya adalah “hadirnya negara” melalui instrument yang dibangun untuk menyelamatkan rakyat.
Tidak berarti selama ini tidak hadir, namun kehadiran yang terbungkus “pencitraan” dan “seolah-olah”; sudah bukan jamannya lagi. Tindakan nyata sangat diperlukan agar mengurangi beban sosial yang memberatkan rakyat kecil, atau paling tidak menguranginya. Sehingga capaian akan rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat, yang diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar melalui falsafah hidup bangsa, bukan sekedar bahan hafalan di sekolah. Namun betul-betul dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat negeri ini tanpa melihat siapa dan apa latar belakang mereka. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Selamat Memeperingati Hari Raya Imlek 2025
Hari Raya Imlek memiliki akar yang dalam dalam sejarah dan tradisi Tionghoa. Merujuk pada kalender lunar, perayaan ini didasarkan pada siklus alamiah bulan, yang berbeda dengan kalender Gregorian yang digunakan secara internasional. Imlek dirayakan selama 15 hari, dimulai pada hari pertama bulan baru dan berakhir dengan Festival Lentera.
Hari Raya Imlek tidak hanya merayakan pergantian tahun dalam budaya Tionghoa, tetapi juga menghormati tradisi kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan berbagai kegiatan, tradisi, dan simbolisme yang terkait, Imlek menjadi perayaan yang memperkaya budaya Tionghoa dan menyatukan komunitas dalam semangat sukacita dan harapan akan masa depan yang cerah. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Selamat Memperingati Isra Miraj 1446 Hijriah
Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH., dalam ucapan yang disampaikan melalui pesan resmi, mengajak seluruh keluarga besar Universitas Malahayati untuk mengambil hikmah dari perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, baik Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) maupun Mi’raj (kenaikan ke langit untuk menerima wahyu).
“Isra Mi’raj adalah momen penting dalam sejarah Islam yang penuh dengan makna. Peristiwa ini mengajarkan kita tentang keteguhan iman, pentingnya ibadah, dan kesabaran dalam menghadapi segala ujian. Kami berharap, semangat dan hikmah dari Isra Mi’raj dapat menginspirasi kita semua untuk terus memperbaiki diri, memperkuat ibadah, serta menjaga akhlak yang mulia dalam setiap langkah kehidupan,” ujar Dr. Muhammad Kadafi.
Rektor juga mengingatkan pentingnya menjaga kedamaian, toleransi, dan kebersamaan dalam kehidupan kampus, sebagai cerminan dari nilai-nilai yang diajarkan dalam peristiwa Isra Mi’raj. “Semoga peringatan Isra Mi’raj ini semakin mempererat ukhuwah Islamiyah dan membawa keberkahan bagi seluruh keluarga besar Universitas Malahayati. Mari kita jadikan momentum ini untuk meningkatkan kualitas spiritualitas dan menjadi insan yang lebih baik,” tambahnya.
Selain itu, Universitas Malahayati juga mengajak seluruh civitas akademika dan keluarga besar untuk terus menumbuhkan rasa syukur atas segala nikmat dan karunia yang diberikan, serta menjadikan shalat sebagai sarana utama dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Peringatan Isra Mi’raj ini diharapkan dapat memperkuat semangat religius di kampus, serta menjadi pengingat bagi seluruh civitas akademika untuk selalu bersyukur, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjaga integritas serta kebersamaan dalam menjalani kehidupan kampus dan masyarakat. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Program Studi Manajemen Universitas Malahayati Gelar Seminar Kebudayaan “Membangun Citra Melalui Bahasa, Budaya, dan Kemampuan Berbicara”
Seminar yang menarik ini bertujuan untuk membekali mahasiswa Program Studi Manajemen dengan keterampilan komunikasi yang efektif, wawasan budaya yang luas, dan strategi praktis dalam membangun citra positif di tengah globalisasi yang semakin pesat. HMM berhasil menghadirkan narasumber yang tidak hanya berkompeten tetapi juga inspiratif, yakni Muli Provinsi Lampung yang juga merupakan Duta Bahasa Provinsi Lampung, untuk membagikan ilmunya sebagai pemateri utama.
Salah satu highlight dalam seminar ini adalah pembahasan tentang bagaimana bahasa dan budaya memiliki peran vital dalam membentuk citra diri yang kuat. Menurut para narasumber, bahasa lebih dari sekadar alat komunikasi; bahasa adalah cerminan dari budaya dan identitas seseorang. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap bahasa dan budaya, kita tidak hanya dapat berkomunikasi dengan lebih baik, tetapi juga menjaga dan memperkenalkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia ke dunia internasional.
Tidak hanya bahasa, budaya lokal juga menjadi tema yang sangat ditekankan. Mahasiswa diajak untuk menyadari pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya memperkaya citra Indonesia di mata dunia. Para pembicara menekankan bahwa sebagai generasi muda, mahasiswa harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai budaya dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar tradisi.
Public Speaking: Kunci Sukses di Dunia Kerja
Sesi berikutnya yang tak kalah menarik adalah tentang kemampuan berbicara di depan umum. Para narasumber berbagi tips praktis tentang cara berbicara dengan percaya diri, mengatasi rasa gugup, dan cara membangun koneksi emosional dengan audiens. Mereka menjelaskan bahwa kemampuan berbicara yang baik bukan hanya meningkatkan performa pribadi, tetapi juga membuka peluang besar dalam dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Public speaking itu sangat penting untuk membangun relasi yang baik, apalagi di dunia profesional. Ini adalah keterampilan yang akan selalu dibutuhkan,” ujar Muli, yang mengungkapkan bahwa komunikasi yang efektif menjadi kunci untuk sukses di berbagai bidang.
Antusiasme Mahasiswa yang Menggembirakan
Antusiasme mahasiswa Program Studi Manajemen sangat terasa selama seminar ini. Mereka aktif berdiskusi dan berbagi pandangan tentang berbagai tantangan komunikasi di era digital. Andini, salah satu peserta, menyampaikan kesan positifnya, “Acara ini sangat relevan dengan kebutuhan kami sebagai mahasiswa manajemen. Kemampuan berbicara dan pemahaman budaya sangat penting dalam dunia kerja, terutama untuk membangun relasi dan reputasi.”
Rekomendasi dan Harapan untuk Mahasiswa
Di akhir seminar, para narasumber memberikan sejumlah rekomendasi berharga bagi mahasiswa yang ingin terus mengasah kemampuan komunikasi mereka. Salah satunya adalah dengan berlatih secara rutin dan memperluas wawasan tentang budaya, baik lokal maupun internasional. Ketua Program Studi Manajemen, Dr. Febrianty, S.E., M.Si, juga mengungkapkan harapannya agar seminar ini dapat memotivasi mahasiswa untuk menjadi individu yang unggul dan berkarakter.
“Bahasa, budaya, dan kemampuan berbicara adalah modal utama untuk membangun citra diri yang positif. Dengan bekal ini, mahasiswa Manajemen Universitas Malahayati diharapkan mampu menjadi pemimpin yang tidak hanya berkarakter tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.
Seminar yang penuh wawasan ini ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada peserta dan sesi foto bersama, menandai berakhirnya acara yang inspiratif ini. Program Studi Manajemen Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus menghadirkan kegiatan-kegiatan edukatif yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa, sekaligus mendukung pengembangan potensi generasi muda.
Melalui seminar ini, mahasiswa Universitas Malahayati diharapkan dapat meraih kesuksesan dengan menguasai keterampilan komunikasi, memahami pentingnya budaya, dan membangun citra diri yang positif di dunia profesional. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Para Pemimpin Tak Boleh Banyak Meriang Ketimbang Sehatnya
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Tubuh senja seperti saya ini ternyata sudah susah dikondisikan, pagi segar bugar siang jelang sore meriang, mriang dalam Bahasa Jawa, bidapan dalam Bahasa Sumatera Selatan; maring dalam Bahasa Lampung.
Ternyata, usia di atas kepala tujuh, masalah kesehatan sama dengan cuaca, tidak bisa diprediksi alias tidak menentu.
Akan tetapi semua itu alami, usia biologis beriring dengan turunnya daya tahan tubuh. Jadi wajar, jika lamon maring ne jak sihat ne (banyak sakitnya ketimbang sehatnya).
Berbeda dengan pemimpin, harus dibalik: lamon sihat ne jak maring ne. Jika tidak demikian, maka akan terjadi seperti saat ini, antarpimpinan jawabannya berbeda bahkan bertolak belakang.
Seorang pemimpin mengatakan ada pelanggaran, satunya menjawab belum ada laporan, lainnya mengatakan sudah ada ijin. Lebih parah lagi, pemimpin menjawab: saya tidak tahu, kok tanya saya.
Kita menjadi bingung, mereka dalam satu garis komando yang sama tetapi memiliki jawaban yang berbeda. Sebagai contoh kasus pagar laut, antarpejabat saling lempar bola panas seolah melempar tanggung jawab.
Kebiasaan seperti ini menjadi lebih parah lagi jika berlindung pada alasan “saya baru diangkat, jadi belum paham persoalan, nanti akan saya tanyakan pada staf”. Tampak sekali “kemaringan” pejabat model begini, karena menunjukkan tingkat adaptasinya rendah, kemampuan menemukenali persoalan juga parah.
Seolah pejabat seperti ini hanya mau menikmati fasilitas jabatannya, tetapi enggan akan beban kerja, dan tanggung jawab bidangnya.
Bentuk kemaringan yang lain dipertontonkan sebagai contoh adalah sangat terlambatnya informasi yang menjadi tugas dari pejabat berkaitan dengan bencana.
Kota yang kita tinggali ini baru saja ditimpa musibah dengan adanya banjir di hampir semua wilayah. Namun sampai tulisan ini dibuat, siaran resmi dari pemerintah wilayah mana saja yang terkena langsung, terdampak, dan apa yang akan mereka lakukan untuk rakyat dalam jangka panjang semua mak jelas.
Langkah konferhensif dan koordinatif yang ditunggu tidak pernah terwujud sehingga masing-masing jalan sendiri-sendiri. Akibatnya, tak satu langkah dengan program diperorah programnya sendiri tidak jelas.
Belum lagi masalah penguasaan lahan sampai laut oleh pemilik modal yang sempat bermain mata dengan pejabat. Jika tidak dimuat di media masa secara berseri. Bahkan cenderung jika tidak dimuat berseri semua seolah aman terkendali.
Padahal pagar laut sudah dibentang, pagar tinggi sudah dipasang. Begitu diinvestigasi jurnalis dan dimuat, semua meriang; mulai jurus “saling tunjuk” dilakukan demi penyelamatan.
Tampaknya musibah selalu membawa hikmah itu benar adanya; dengan cara-Nya Tuhan menunjukkan sesuatu kepada mahluk-Nya di dunia ini. Keteledoran yang ditutup-tutupi selama ini akhirnya terkuak bahkan seolah “ditelanjangi” oleh waktu.
Hanya saja, apakah semua pemangku kepentingan mau menyadari, atau tetap asyik berlindung pada “lebih baik maring dari pada sihat”.
Sepertinya harus ada evaluasi menyeluruh kepada sistem pemerintahan yang terbangun sepuluh tahun terakhir, sebab indikasi “pembusukan” dari dalam tampaknya terus terjadi.
Apakah ini penanda bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan cara yang tidak patut, akan berakibat hanyut; hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Mari dengan waktu yang ada ini, kita dang lamon ga cawa tapi lamon kerja se helau ini. Namun bukan berarti kita tidak boleh cawa sebab lamun mak cawa tian seago-ago.
Killu maaf lamun wat salah-salah, sebab salah sina pakaian manusia”. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Fakultas Hukum Universitas Malahayati Gelar Yudisium, Angkat Tema “From Nothing to Something”
Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes selaku Wakil Rektor 4 Universitas Malahayati menyampaikan ucapan selamat kepada para mahasiswa yang akan menerima pengakuan atas kerja keras, dedikasi, dan prestasi akademik mereka.
“Perjalanan ini adalah awal dari petualangan baru, saya mengingatkan bahwa gelar yang diterima hari ini bukanlah akhir dari perjalanan kalian,” katanya.
“Terima kasih kepada dosen Fakultas Hukum atas bimbingan pengetahuan dan dukungan selama masa studi. Saya berharap bahwa gelar sarjana hukum yang diterima akan membuka pintu kesuksesan dan memberikan para sarjana kesempatan untuk berkontribusi dalam membangun masyarakat melalui pengetahuan hukum,” ucapnya.
Drs. Suharman, terus mengingatkan para lulusan untuk terus belajar dan mengasah keterampilan agar tetap relevan dan kompetitif di dunia hukum. Di akhir sambutan, Wakil Rektor 4 mengajak para lulusan untuk menjaga etika di manapun berada, menjunjung tinggi nama baik almamater, dan utamakan hubungan baik dengan rekan-rekan sesama lulusan.
Dekan juga menyoroti kecerdasan intelektual dan emosional sebagai komponen penting keberhasilan. “Selain memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional juga sangat diperlukan. Di dunia kerja, interaksi dengan rekan kerja, teman, dan lingkungan sekitar memerlukan kecerdasan emosional yang baik,” tambahnya.
Acara ini juga dihadiri oleh Kaprodi Ilmu Hukum Rissa Afni Martinouva, SH., MH, serta para dosen Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malahayati Bandar Lampung. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Sedikit Sakit (Meriang)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Istilah “meriang” berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada kondisi tubuh yang tidak enak atau merasa sakit, biasanya ditandai dengan demam ringan, menggigil, atau badan terasa lemas. Kondisi ini seringkali dianggap sebagai tanda awal tubuh sedang melawan penyakit, seperti flu atau infeksi ringan. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perasaan tubuh yang kurang fit tanpa gejala berat. Dan, kondisi ini sering melanda penulis pada akhir-akhir ini; namun karena semangat untuk hidup dan keinginan selalu berguna untuk kepentingan orang banyak, maka kondisi itu sering terabaikan.
Untuk kali ini kita tidak membicarakan meriang dalam konteks personal, akan tetapi lebih kepada yang lebih luas yaitu sosial; dan dikhususkan lagi kepada para pemangku kepentingan. Karena akhir-akhir ini banyak diantara mereka terkena “meriang sosial” yaitu, situasi di mana seorang pejabat merasa tidak nyaman, tertekan, atau terganggu secara sosial akibat faktor-faktor tertentu di lingkungannya. Pejabat merasa “panas-dingin” karena sorotan media, kritik masyarakat, atau desakan dari berbagai pihak atas kebijakan atau tindakannya.
Bisa dibayangkan tekanan terhadap mereka saat ini sangat luar biasa: Pertama; mereka belum pasti masih dipakai pada periode kepemimpinan hasil pemilihan kepala daerah yang lalu. Bisa saja mereka akan terlempar miniml tergeser, oleh sebab itu saat seperti sekarang mau mengambil kebijakkan apapun, akan merasa takut, sekalipun secara perundangan sudah benar. Penyakit ragu seperti ini terutama bagi pejabat yang tidak memiliki kopetensi, hanya mengandalkan relasi, serta pemberi upeti; sehingga seolah layang-layang putus tali.
Kedua: bencana alam yang mengakibatkan kerusakan sarana dan prasarana yang ada, dan itu dibawah tanggungjawabnya. Ingin melakukan perbaikan, takut nanti persoalan pertanggungjawaban anggaran dikemudian hari jadi masalah; tidak melakukan juga bermasalah karena dianggap tidak becus. Akhirnya badan jadi meriang karena diam salah, berbuat juga takut salah. Kondisi serba salah ini membuat mereka “cari aman” dengan menghindar atau menghilang.
Ketiga: dengan sistem kementerian yang banyak dan departemen yang baru, mengakibatkan penyesuaian administrasi yang tidak mudah, dan cenderung melambat. Akibatnya sistem belum terbangun secara baik, dan berdampak pada budaya kerja yang belum terbentuk. Menjadi pemimpin dalam situasi seperti ini membuat banyak orang untuk bersikap sangat berhati-hati, karena jika salah melangkah di ujung sana sudah menunggu kejaksaan atau KPK.
Situasi di atas makin membuat “ketakutan” para pemangku kepentingan manakala pimpinan tertinggi hasil pemilihan yang belum dilantik saat ini tidak ada ditempat, karena sesuatu alasan yang tidak dapat diungkapkan. Akibatnya mereka bukan sibuk menyelesaikan pekerjaannya, tetapi memohon-mohon kepada media untuk tidak mengungkapkan hal ini kepada publik.
Ternyata meriang sosial itu lebih sulit obatnya dibandingkan dengan meriang badan, bagi para pejabat yang tidak memiliki maruwah. Bagi mereka yang memilik justru saat ini adalah tempat medan uji nyali bagaimana dia mengimplementasikan dirinya pada kehidupan nyata. Model pejabat seperti ini sangat yakin bahwa Tuhan adalah tempat bersandar untuk segalanya. Kelegowoan pejabat model inilah sebenarnya yang diharapkan dalam menghadapi persoalan; sebab mereka berprinsip “persoalan itu bukan untuk dihindari atau diabaikan, tetapi untuk diselesaikan”. Adapun konsekwensi dari pekerjaan itu sukses atau gagal, jika semua sudah sesuai dengan aturan, maka tinggal skenario Tuhan yang akan berjalan.
Namun sayang model yang terakhir tadi saat ini sudah menjadi sesuatu yang langka. Justru yang ada sekarang cenderung terjadi pembiaran akan semua persoalan yang ada. Jika sudah di viralkan oleh media sosial, baru mereka seolah sibuk. Sehingga jika ada pimpinan lembaga yang lurus dalam bekerja menjadi sesuatu yang aneh; dan tidak jarang yang begini sering dikerjain untuk dicari kesalahannya atau dibuatkan drama, agar yang bersangkutan terjebak menjadi “pemain”.
Ternyata meriang sosial itu sekarang sedang berjangkit dimana-mana, karena rakyat sudah semakin cerdas. Apakah ini bentuk seleksi alam yang di rancang Tuhan untuk mahluk ciptaanNYA; entahlah. Tetapi paling tidak ini merupakan peringatan bagi kita yang sadar akan keterbatasan manusia. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Pembenaran yang Tidak Benar
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Sebenarnya badan ini belum begitu sehat, namun pikiran dan diskusi batin tidak bisa dihindari manakala melihat perilaku para petinggi daerah ini dalam menghadapi persoalan-persoalan warga. Seolah-olah masalahnya akan selesai jika mereka datang dengan membawa sedikit bantuan untuk hari itu, dan paling untuk jangka pendek. Sementara pokok H yang menjadi biangnya tidak pernah tersentuh. Akhirnya pikiran ini berkelana ke alam filsafat untuk mencari tahu tempat “gantungan” berpikir guna menemukenali perilaku mereka. Bisa dibayangkan ucapan janji kampanye saat “mengemis” kepada rakyat untuk dipilih, setelah dipilih mereka seolah mengidap amnesia. Dari alur inilah maka tulisan ini diberi “tetenger” seperti di atas.
Berdasarkan penelusuran referensi digital ditemukan informasi bahwa filsafat pembenaran yang tidak benar merujuk pada upaya memberikan alasan atau argumen untuk sesuatu yang pada dasarnya salah atau keliru, baik dari segi fakta, logika, maupun moral. Dalam filsafat, konsep ini bisa dikaji dari beberapa perspektif.
Pertama, Rasionalisasi. Adalah proses menciptakan pembenaran logis untuk tindakan atau kepercayaan yang sebenarnya didasarkan pada motif atau alasan lain, sering kali tidak rasional. Orang yang merasionalisasi sering kali tidak menyadari bahwa pembenarannya tidak sahih. Contohnya, statemen ini: “saya korupsi karena atasan saya juga korupsi.”
Kedua, Ad Populum (Bandwagon Fallacy), yaitu, suatu kesalahan logika yang membenarkan sesuatu hanya karena banyak orang setuju dengannya. Dalam filsafat, ini dikenal sebagai fallacy. Contoh kalimatnya: “semua orang melakukannya, maka itu pasti benar; padahal bisa jadi itu adalah salah.”
Ketiga, Relativisme Moral yang Tidak Tepat. Dalam relativisme moral, pembenaran sering kali muncul berdasarkan budaya atau konteks individu. Namun, ini menjadi problematik jika digunakan untuk membenarkan tindakan yang melanggar nilai universal. Contoh: “Di budaya saya, korupsi adalah bagian dari tradisi, jadi tidak ada yang salah dengan itu.”
Keempat, Kesesatan Logika (Logical Fallacies). Banyak bentuk pembenaran yang salah timbul dari penggunaan kesesatan logika, seperti ini bentuknya berupa (1). Straw Man Argument : menggambarkan argumen lawan secara keliru untuk lebih mudah diserang. (2). Appeal to Emotion : menggunakan emosi, bukan fakta, untuk membenarkan sesuatu.
Kelima, Perspektif Nietzschean. Friedrich Nietzsche menyoroti bagaimana manusia sering menciptakan “kebenaran” untuk menutupi kenyataan yang tidak menyenangkan. Ia menyebut ini sebagai upaya untuk mempertahankan ilusi demi kenyamanan psikologis. Oleh sebab itu beliau mengatakan bahwa “Kebenaran adalah ilusi yang telah kita lupakan bahwa itu adalah ilusi.”
Keenam, Kritik dari Filsafat Postmodern. Postmodernisme, seperti yang disampaikan oleh Jean-François Lyotard, menolak klaim kebenaran universal dan menyoroti bagaimana narasi besar sering kali digunakan untuk membenarkan ketidakadilan atau kesalahan. Namun, kritik terhadap postmodernisme adalah bahwa relativisme ekstrem dapat membingungkan antara benar dan salah.
Atas dasar sejumlah aliran pemikiran filsafat di atas, maka kita akan menemukan dasar berpijak jika menjumpai pemimpin yang “lupa” akan janjinya saat kampanye dahulu. Mereka banyak tidak menyadari bahwa jejak digital mereka masih tersimpan di dunia maya, dan kapanpun bisa diunduh ulang. Namun dengan bersandar dari salah satu saja aliran filsafat di atas; maka seolah-olah mereka terbebas dari ucapannya dahulu.
Lebih sistemik lagi pembenarannya berkedok agama; dengan cara memberikan fasilitas khusus untuk melaksanakan kegiatan peribadatan. Padahal azaz kebermanfaatannya lebih pada personal, sementara kebutuhan umat yang lebih besar dan mendasar diabaikan. Perilaku seperti ini menjadikan pembenaran yang tidak benar menjadi semakin sempurna; sebab banyak pihak merasa sungkan untuk mempersoalkan, padahal dana itu bukan milik pribadi tetapi milik rakyat banyak dengan berlabel Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Keperuntukkannya harus berskala prioritas untuk kemaslahatan umat yang lebih besar kebermanfaatannya.
Kondisi ini dikamuflase lagi dengan bantuan sarana-prasarana (termasuk pendidikan), yang seyogyanya bersifat personal, dibuat massal. Akibatnya kualitas tidak memenuhi syarat, bahkan tidak layak; sehingga yang terjadi di lapangan ukuran hanya ada tiga kategori, dan perlengkapan prasarana bermutu rendah. Semua berakhir pada kehancuran material karena tidak layak guna; tetapi karena berlindung pada salah satu filsafat di atas; maka pembenaran yang tidak benar menjadi sempurna adanya. Dengan kata lain “pencuri berbaju dermawan”; karena begitu rapinya sistem dibangun dan “hukuman” diberlakukan kepada anak buah yang bersuara “miring”.
Upaya “akal-akalan” seperti ini sudah seharusnya dihentikan; mari kembali kepada khittah sebagai pemimpin umat, bukan golongan atau kelompok. Kepedulian untuk sesama, terutama mereka yang kurang beruntung, adalah skala prioritas negara untuk hadir dengan direpresentasikan oleh pemimpin guna mengentaskan mereka dari kepapaan. Jangan pula membantu yang kurang beruntung tetapi dengan cara membuntungkan pihak lain; karena perbuatan ini juga terkategori dholim. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman