Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
TERILHAMI tulisan Herman Batin Mangku (HBM) beberapa waktu lalu di media ini, saya teringat masa lalu, nunjauh di tengah Pulau Sumatera. Pada era 1960-an, di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, ada group Orkes Melayu (OM) “Bintang Harapan”.
Group ini memiliki peralatan terlengkap pada jamannya. Selain alat musik, ada dinamo pembangkit listrik, sehingga bisa berorkes ria hingga pelosok desa. Di era itu, group OM merebak seperti OM Kelana Ria, Sinar Kemala, Pancaran Muda, dan OM Purnama.
Mereka berperan penting dalam mempopulerkan musik melayu dengan nuansa India yang kemudian menjadi cikal bakal musik dangdut.
“Bintang Harapan” adalah sebuah frasa dalam bahasa Indonesia yang dapat diartikan sebagai “bintang yang memberi harapan.” Secara harfiah, bintang adalah benda langit yang bersinar, simbol cahaya atau petunjuk malam hari.
Dalam konteks figuratif, bintang sering melambangkan sesuatu yang gemilang, terkenal, atau memiliki potensi besar. Harapan: merujuk pada sesuatu yang diinginkan atau diimpikan, atau perasaan optimisme mengenai masa depan.
Secara keseluruhan, “Bintang Harapan” bisa diartikan sebagai simbol atau tanda yang membawa harapan, impian, atau masa depan yang lebih baik. Dalam konteks musik atau seni, ini bisa merujuk pada grup atau individu menjadi inspirasi bagi orang lain.
Sedangkan dalam makna yang lebih luas kata “harapan” menjadi semacam simbol cita-cita masa depan yang lebih baik.
Sama halnya dengan dilantiknya kepala daerah hasil Pemilu Kada yang lalu, termasuk Wali Kota Bandarlampung. Tentu, para pemilih berharap kepala daerah terpilih menunaikan janji kampanyenya.
Untuk petahana atau incumbent, kesempatan menyelesaikan sisa pekerjaan masa lalu yang belum tuntas.
Dari catatan saya, untuk Kota Bandarlampung, pekerjaan yang mendesak bagaimana membebaskan banjir yang masih menghantui warga kota saat hujan dari pusat kota sampai pinggiran kota.
BANJIR
Banjir adalah persoalan serius sejak wali kota terdahulu yang juga “teman tidur” Wali Kota Bandarlampung sekarang.
HUTAN KOTA
Persoalan hutan kota yang makin kemari makin tidak jelas penyelesaiannya. Hal ini bisa menjadi bom waktu bagi wali kota karena harus dengan tegas memberikan jalan keluar yang bijak kepada pengembang dan pelestarian lingkungan.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah mengapa wilayah itu menjadi wilayah pribadi, apakah pihak kota tidak bisa memberi kompensasi?
Belajar dari persoalan penimbunan tangkapan air di wilayah Rajabasa yang sampai hari ini menjadi persoalan dan tidak selesai, wali kota sebaiknya mengambil langkah tegas sekalipun pahit.
SAMPAH
Prioritas utama adalah selamatkan alam demi keberlangsungan kota, dan kesejahteraan warga. Persoalan belum selesai, datang persoalan baru, yaitu TPA.
Kalau mau bijak dan menerima masukan kajian wilayah ini sudah pernah dilakukan pada tahun 2013 oleh doktor Ahli Lingkungan Unila. Beliau melakukan penelitian untuk disertasi tentang jalan keluar dari persoalan limbah sampah di Bandarlampung.
Beliau sampai pensiun tetapi hasil kajiannya yang sudah dikirimkan ke Kota Bandarlampung entah kemana rimbanya.
Harusnya, wali kota tidak menutup mata dengan lembaga indipenden yang ada di daerahnya dalam menghadapi persoalan apapun.
Karena mereka bisa dengan jeli dan memberikan masukan yang berarti, tentu terlebih dahulu dilakukan kajian. Minta perguruan tinggi yang ada untuk duduk bersama dengan pihak kota guna menemukenali persoalan dan mencari jalan keluar.
Jangan hanya setelah anugerah honoriscausa semua selesai, justru itu pintu masuk untuk kerjasama lebih lanjut. Jangan sampai harapan masyarakat tinggal menjadi harapan; jangan pula diubah menjadi harapan hampa, apalagi harapan palsu.
Kepastian yang ada baru menunggu Bus Harapan Jaya untuk membawa kita menuju tujuan. Selamat berkarya untuk melayani warga agar kota ini lebih baik lagi. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Harapan Warga Kota Bandarlampung
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
TERILHAMI tulisan Herman Batin Mangku (HBM) beberapa waktu lalu di media ini, saya teringat masa lalu, nunjauh di tengah Pulau Sumatera. Pada era 1960-an, di Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan, ada group Orkes Melayu (OM) “Bintang Harapan”.
Group ini memiliki peralatan terlengkap pada jamannya. Selain alat musik, ada dinamo pembangkit listrik, sehingga bisa berorkes ria hingga pelosok desa. Di era itu, group OM merebak seperti OM Kelana Ria, Sinar Kemala, Pancaran Muda, dan OM Purnama.
Mereka berperan penting dalam mempopulerkan musik melayu dengan nuansa India yang kemudian menjadi cikal bakal musik dangdut.
“Bintang Harapan” adalah sebuah frasa dalam bahasa Indonesia yang dapat diartikan sebagai “bintang yang memberi harapan.” Secara harfiah, bintang adalah benda langit yang bersinar, simbol cahaya atau petunjuk malam hari.
Dalam konteks figuratif, bintang sering melambangkan sesuatu yang gemilang, terkenal, atau memiliki potensi besar. Harapan: merujuk pada sesuatu yang diinginkan atau diimpikan, atau perasaan optimisme mengenai masa depan.
Secara keseluruhan, “Bintang Harapan” bisa diartikan sebagai simbol atau tanda yang membawa harapan, impian, atau masa depan yang lebih baik. Dalam konteks musik atau seni, ini bisa merujuk pada grup atau individu menjadi inspirasi bagi orang lain.
Sedangkan dalam makna yang lebih luas kata “harapan” menjadi semacam simbol cita-cita masa depan yang lebih baik.
Sama halnya dengan dilantiknya kepala daerah hasil Pemilu Kada yang lalu, termasuk Wali Kota Bandarlampung. Tentu, para pemilih berharap kepala daerah terpilih menunaikan janji kampanyenya.
Untuk petahana atau incumbent, kesempatan menyelesaikan sisa pekerjaan masa lalu yang belum tuntas.
Dari catatan saya, untuk Kota Bandarlampung, pekerjaan yang mendesak bagaimana membebaskan banjir yang masih menghantui warga kota saat hujan dari pusat kota sampai pinggiran kota.
BANJIR
Banjir adalah persoalan serius sejak wali kota terdahulu yang juga “teman tidur” Wali Kota Bandarlampung sekarang.
HUTAN KOTA
Persoalan hutan kota yang makin kemari makin tidak jelas penyelesaiannya. Hal ini bisa menjadi bom waktu bagi wali kota karena harus dengan tegas memberikan jalan keluar yang bijak kepada pengembang dan pelestarian lingkungan.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah mengapa wilayah itu menjadi wilayah pribadi, apakah pihak kota tidak bisa memberi kompensasi?
Belajar dari persoalan penimbunan tangkapan air di wilayah Rajabasa yang sampai hari ini menjadi persoalan dan tidak selesai, wali kota sebaiknya mengambil langkah tegas sekalipun pahit.
SAMPAH
Prioritas utama adalah selamatkan alam demi keberlangsungan kota, dan kesejahteraan warga. Persoalan belum selesai, datang persoalan baru, yaitu TPA.
Kalau mau bijak dan menerima masukan kajian wilayah ini sudah pernah dilakukan pada tahun 2013 oleh doktor Ahli Lingkungan Unila. Beliau melakukan penelitian untuk disertasi tentang jalan keluar dari persoalan limbah sampah di Bandarlampung.
Beliau sampai pensiun tetapi hasil kajiannya yang sudah dikirimkan ke Kota Bandarlampung entah kemana rimbanya.
Harusnya, wali kota tidak menutup mata dengan lembaga indipenden yang ada di daerahnya dalam menghadapi persoalan apapun.
Karena mereka bisa dengan jeli dan memberikan masukan yang berarti, tentu terlebih dahulu dilakukan kajian. Minta perguruan tinggi yang ada untuk duduk bersama dengan pihak kota guna menemukenali persoalan dan mencari jalan keluar.
Jangan hanya setelah anugerah honoriscausa semua selesai, justru itu pintu masuk untuk kerjasama lebih lanjut. Jangan sampai harapan masyarakat tinggal menjadi harapan; jangan pula diubah menjadi harapan hampa, apalagi harapan palsu.
Kepastian yang ada baru menunggu Bus Harapan Jaya untuk membawa kita menuju tujuan. Selamat berkarya untuk melayani warga agar kota ini lebih baik lagi. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Prodi S1 Kesmas UNMAL Gelar Pemetaan Wilayah Kerja Puskesmas dengan QGIS
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas Unmal Galakkan Edukasi “Cegah Nyamuk DBD” di Desa Waylayap
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL peminatan K3 dan Kesehatan Lingkungan (K3&Kesling) melaksanakan kegiatan edukasi bertema “Cegah Nyamuk DBD dengan Kepedulian dan Kebersihan” di Desa Waylayap, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung Minggu (12/1/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Penyakit Infeksi Berbasis Lingkungan yang diampu oleh Khoidar Amirus, SKM., M.Kes
Desa Waylayap dipilih sebagai lokasi edukasi karena tercatat pernah mengalami satu kasus DBD. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat memerlukan pengetahuan lebih dalam mengenai pencegahan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan teori dengan praktik di lapangan sekaligus berkontribusi langsung dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat.
Kerja bakti bersama warga desa untuk membersihkan lingkungan mengawali rangkaian kegiatan pengmas ini. Mahasiswa dan warga saling bahu-membahu mengidentifikasi dan mengeliminasi potensi sarang nyamuk, seperti genangan air di wadah terbuka. Langkah ini bertujuan untuk memutus rantai perkembangan nyamuk DBD.
Selanjutnya, mahasiswa memberikan sosialisasi kepada warga tentang pentingnya penerapan metode 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) serta langkah-langkah tambahan seperti penggunaan kelambu, pemberian abate, dan menjaga kebersihan lingkungan secara konsisten.
Kepala Desa Waylayap, M. Syaiful Akbar, memberikan apresiasi terhadap inisiatif mahasiswa UNMAL. Dalam sambutannya, beliau mengharapkan kegiatan yang memberikan wawasan kepada masyarakat tentang langkah pencegahan DBD dapat terus dilakukan dikemudian hari.
“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Kami sebagai pemerintah desa sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan, supaya kami paham apa yang harus dilakukan demi terwujudnya masyarakat desa yang sehat, baik secara individu maupun kelompok,” ujar nya.
Melalui kegiatan ini diharapkan agar warga lebih proaktif dalam mengelola lingkungan sekitar mereka untuk memutus rantai perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, kebiasaan hidup bersih yang dipromosikan selama edukasi diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat. Dengan meningkatnya kesadaran ini, tidak hanya kesehatan individu yang terjaga, tetapi juga kesehatan komunitas secara keseluruhan dapat ditingkatkan.
Santri Pondok Pesantren Al Banin Dibekali Pengetahuan Pencegahan Scabies oleh Mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL.
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas Unmal Galakkan Edukasi “Cegah Nyamuk DBD” di Desa Waylayap
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL peminatan K3 dan Kesehatan Lingkungan (K3&Kesling) melaksanakan kegiatan edukasi bertema “Cegah Nyamuk DBD dengan Kepedulian dan Kebersihan” di Desa Waylayap, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung pada Minggu (12/01/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas akhir mata kuliah Penyakit Infeksi Berbasis Lingkungan yang diampu oleh Khoidar Amirus, SKM., M.Kes
Mahasiswa Prodi S1 Kesmas UNMAL Gelar Seminar “Cawa Santun Bicara Sanitasi untuk Negeri”.
Program Studi Kebidanan Universitas Malahayati Gelar Seminar dan Kuliah Pakar Tentang Acupressure untuk Optimalisasi Proses Persalinan
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber ahli dalam bidang kebidanan dan acupressure, yaitu dr. Apriyanto, Sp.Ak. yang membahas tentang penerapan acupressure dalam pelayanan kebidanan, Tri Imawati, SST.,Bdn yang mengulas tentang penggunaan pendekatan komplementer dalam kebidanan, serta Vida Wira Utami, SST.,Bdn.,M.Kes yang berbagi ilmu dan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam mendukung proses persalinan.
“Ke depan, kegiatan serupa akan terus diadakan untuk memperkaya pengalaman dan keahlian mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia kebidanan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman tentang acupressure sebagai teknik yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.
Lebih lanjut, Prof. Dessy berharap seminar ini menjadi titik awal yang dapat berkontribusi terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung. “Melalui ilmu yang didapat dari kegiatan ini, kami berharap dapat berperan aktif dalam mendukung upaya pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Kami juga berharap Universitas Malahayati dapat terus berkontribusi dalam dunia kesehatan ibu dan bayi di wilayah Lampung dan sekitarnya,” tambahnya.
Acupressure, atau teknik tekanan pada titik-titik tertentu di tubuh, menjadi fokus utama dalam seminar ini karena dianggap sebagai metode yang efektif dan alami untuk merangsang proses persalinan serta memberikan kenyamanan bagi ibu yang sedang melahirkan. Teknik ini juga dapat membantu mengurangi rasa sakit dan stres selama proses persalinan, serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi.
Seminar ini juga menjadi bagian dari upaya Universitas Malahayati untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan di bidang kebidanan. Dengan menghadirkan berbagai narasumber berkompeten dan topik-topik terkini, universitas ini berkomitmen untuk menyiapkan tenaga kebidanan yang tidak hanya terampil dalam praktik klinis, tetapi juga peka terhadap pendekatan-pendekatan alternatif yang dapat mendukung kesehatan ibu dan bayi.
Acara ini diharapkan menjadi pemicu untuk pengembangan lebih lanjut dalam pelayanan kebidanan, serta memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi tantangan dan perkembangan ilmu kebidanan di masa depan.
Dengan berakhirnya seminar dan kuliah pakar ini, Universitas Malahayati berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam praktik kebidanan sehari-hari dan terus berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung. Ke depan, program-program serupa akan terus diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen universitas untuk mendukung perkembangan ilmu kesehatan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Ucapkan Selamat dan Sukses atas Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya Kemdiktisaintek
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Rektor dan Sivitas Akademika Universitas Malahayati mengucapkan selamat dan sukses kepada pejabat-pejabat yang baru dilantik di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum penting untuk kemajuan pendidikan tinggi, sains, dan teknologi di Indonesia.
Pejabat yang baru dilantik meliputi:
Universitas Malahayati berharap bahwa kepemimpinan yang baru ini dapat memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga riset, serta pemerintah untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemakmuran bangsa. Dengan semangat kepemimpinan yang visioner, diharapkan sektor pendidikan tinggi Indonesia semakin berkembang, menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan negara.
Para pemimpin baru ini diharapkan dapat berperan aktif dalam merancang kebijakan yang mendukung penguatan ekosistem pendidikan tinggi serta mendorong riset dan pengembangan yang berbasis pada kebutuhan zaman. Semoga langkah-langkah positif yang diambil oleh para pejabat ini akan memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi dunia pendidikan dan teknologi di Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Don Quixote dan Kicir Angin
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Sekitar awal tahun 1960-an, penulis masih di Sekolah Rakyat (tahun 1966 berubah menjadi Sekolah Dasar), memiliki bapak guru yang mempunyai kebiasaan setiap setengah jam sebelum pelajaran berakhir pada jam terakhir diisi dengan “Bercerita”. Pesan-pesan moral, etika, adab selalu beliau selipkan dalam cerita yang beliau paparkan. Cerita yang dibawakan sangat beragam, dari yang sederhana seperti “Si Kancil” untuk di kelas rendah, dan pada waktu kelas enam beliau membawakan cerita Don Quixote dengan berbagai setting. Kami semua yang hanya berjumlah sembilan orang itu dengan seksama memperhatikan. Tidak jarang saat pulang jalan kaki yang sekitar satu kilometer menuju rumah, kami membicarakan cerita Pak Guru, dan yang paling terkenal adalah cerita Don Quixote dalam berbagai episode.
Setelah di Sekolah Lanjutan Atas dan paham akan bahasa asing barulah mengetahui siapa tokoh ini sebenarnya. Cerita Don Quixote adalah salah satu karya sastra paling terkenal dari dunia Barat, ditulis oleh Miguel de Cervantes pada awal abad ke-17. Kisah ini penuh humor, petualangan, dan sindiran, menggambarkan perjuangan idealisme melawan kenyataan yang keras. Salah satu episode yang terkenal adalah Don Quixote dan Kincir Angin yang cerita ini dulu menjadi bahan tertawaan kami. Ringkas cerita ditambah bahan dari referensi digital ditemukan penjelasan sebagai berikut:
Don Quixote dan pengikutnya, Sancho Panza, sedang melakukan perjalanan melintasi sebuah padang terbuka. Dalam perjalanan, mereka melihat beberapa kincir angin besar berdiri di kejauhan. Namun, karena pikirannya yang telah terpengaruh oleh bacaan tentang ksatria dan petualangan, Don Quixote tidak melihat kincir angin sebagai mesin penggiling biji-bijian yang sederhana. Ia menganggap kincir angin itu adalah raksasa jahat yang mengancam dunia. Dengan keberanian besar (namun tanpa dasar yang nyata), ia memutuskan untuk menyerang “musuh” tersebut.
Sancho Panza, yang lebih realistis, mencoba memperingatkan Don Quixote bahwa yang ia lihat hanyalah kincir angin biasa, bukan raksasa. Namun, Don Quixote keras kepala dan yakin bahwa Sancho terlalu takut untuk melihat kenyataan sebenarnya. “Engkau mungkin takut, Sancho, tetapi aku akan melawan para raksasa ini demi kehormatan Dulcinea!”
Maka pertarungan dengan Kincir Angin dimulai, Don Quixote mengarahkan kudanya, Rocinante, ke salah satu kincir angin, mengangkat tombaknya, dan berteriak penuh semangat. Ia menyerbu ke arah baling-baling kincir angin, yang saat itu sedang berputar karena tertiup angin. Ketika tombak Don Quixote mengenai baling-baling, kekuatan angin mendorong baling-baling itu, yang langsung menghantamnya dan melemparkannya ke tanah. Ia terjatuh dengan keras, tetapi semangatnya tidak surut.
Apa reaksi Don Quixote, ternyata alih-alih mengakui kesalahannya, Don Quixote menganggap kejadian itu adalah hasil sihir. Ia percaya bahwa seorang penyihir jahat telah mengubah raksasa menjadi kincir angin untuk menghancurkannya. Ia berkata kepada Sancho:
“Itulah tipu daya para penyihir jahat. Mereka mengubah raksasa menjadi kincir angin agar aku tidak bisa mengalahkan mereka.” Sancho, meskipun bingung dan prihatin melihat kelakuan tuannya, dia tetap setia menemani tuannya.
Kisah ini melambangkan idealisme Don Quixote yang berbenturan dengan kenyataan dunia. Kincir angin mewakili masalah biasa yang dihadapi dalam hidup, tetapi Don Quixote, dengan imajinasinya yang luar biasa, menganggapnya sebagai ancaman besar. Ia melawan musuh yang tidak nyata, menggambarkan upayanya untuk mempertahankan nilai-nilai ksatria dalam dunia yang sudah berubah.
Meskipun konyol, adegan ini juga menyentuh karena menunjukkan keberanian Don Quixote untuk menghadapi tantangan, bahkan ketika ia jelas salah. Perjuangannya menjadi metafora bagi manusia yang berani bermimpi, meskipun dunia sering kali tidak mendukung mimpi tersebut. Hanya sayangnya sekarang kita sudah tidak berani untuk bermimpi, karena syarat mimpi itu harus tidur terlebih dahulu; sementara banyak diantara kita sekarang tidak bias tidur nyenyak. Bagaimana bias tidur jika kita harus berfikir terus mencari jalan keluar dari himpitan hidup; setelah pajak dinaikkan, baru saja harga Gas Elpiji untuk masak sudah berubah harga, subsidi listrik hanya sampai dua bulan saja. Sementara penghasilan tetap masih seperti yang dulu, dengan kata lain pengeluaran lebih cepat lajunya dibandingkan pemasukkan.
Kalau Don Quixote berhadapan dengan kincir angin, sementara kita kepalanya harus berputar seperti kincir angin. Pejabat Negara mengatakan pajak hanya untuk barang mewah, tetapi saat belanja kebutuhan pokok sehari-hari di gerai yang ada disekitar kita, ternyata tercantum pajak 12 %. Terus siapa yang harus kita percaya ? Salam Waras. (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Arizal Fikri, Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Malahayati, Raih Juara 3 Kejuaraan Panjat Tebing Provinsi Lampung 2024
Arizal Fikri, yang dikenal sebagai salah satu atlet muda berbakat di dunia panjat tebing, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas pencapaian ini. “Ini adalah sebuah kebanggaan bagi saya karena dapat kembali meraih juara di tingkat provinsi, dan semoga bisa terus meningkatkan kemampuan untuk meraih prestasi di tingkat nasional,” ujar Arizal dengan penuh semangat.
Tak hanya berfokus pada pencapaian saat ini, Arizal juga memberi pesan motivasi bagi para atlet muda dan rekan-rekannya. “Jangan cepat puas dengan prestasi yang sudah didapatkan. Teruslah berusaha dan berlatih keras agar dapat mencapai yang terbaik, dan suatu saat bisa meraih posisi pertama,” tambahnya.
Kejuaraan ini menjadi bukti bahwa dedikasi dan kerja keras Arizal Fikri di dunia olahraga panjat tebing terus membuahkan hasil. Semoga prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa Universitas Malahayati dan para atlet muda di Lampung untuk terus mengasah kemampuan dan meraih mimpi mereka.
Dengan semangat juang yang tinggi, Arizal Fikri tidak hanya mengharumkan nama Universitas Malahayati, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi perkembangan olahraga panjat tebing di Lampung. (gil)
Editor: Gilang Agusman