Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Setiap habis pemilihan apapun jabatan yang ada di negeri ini, mungkin juga di negeri lain, ada sesuatu yang tersisa, yaitu efek lanjut akibat dari pemilihan. Dan, dalam tulisan ini hal tersebut diberi nama efek ekor naga. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang wajar, sebab setiap keputusan yang diambil akan memiliki konsekuensi, dan salah satu di antaranya adalah “ikut barisan atau keluar barisan”. Dalam pengertian ikut menjadi pemenang atau pihak yang kalah, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa jadi menjadi pecundang.
Efek ekor naga terutama akan terlihat seru manakala pemimpin yang dilahirkan dari proses pemilihan yang dipenuhi intrik-intrik tajam, dan pemimpin terpilih memiliki sifat kepribadian pendendam, baik tampak dinarasikan maupun tidak tampak. Akan tetapi, jika diperoleh pemimpin hasil pemilih yang memang memiliki jiwa kepemimpinan sejati, maka dia akan berusaha merangkul semua yang berbeda selama ini untuk dijadikan satu kekuatan pendukung program yang dimiliki. Walaupun keputusan ini sering dianggap tidak waras oleh para pendukung fanatik, tetap saja harus diakui bahwa langkah ini memiliki sisi kebaikan.
Ada satu penggalan pengalaman seorang kepala dinas dari satu instansi tertentu yang hampir terkena sabetan ekor naga karena dianggap selama ini tidak loyal dan berseberangan dengan pemenang pemilihan. Maka, yang bersangkutan secara terang-terangan dimuka umum diberitahu bahwa dia akan dipecat manakala sang pemenang telah dilantik. Seiring perjalanan waktu, saat evaluasi program seratus hari kepemimpinan, ternyata satu-satunya kepala dinas yang memiliki program dan kemajuan yang hebat dan tepat dari pemimpin terpilih, hanya dimiliki beliau. Ini pun disajikan dalam forum besar yang dihadiri oleh para pendukung pemenang yang tidak berbuat apa-apa. Walhasil, kepala dinas ini tidak pernah dipecat sampai masa periode kepemimpinan terpilih berakhir. Bahkan beberapa kali mendapat promosi jabatan karena kinerjanya baik, terakhir yang bersangkutan dipromosikan menjadi pejabat kepala daerah tingkat dua, dan tetap merangkap jabatan sebagai kepala dinas instansi tertentu.
Beda lagi di salah satu institusi ilmiah tertentu yang juga menganut sistem pilih-memilih kepemimpinan utamanya. Setelah pelantikan pemimpin terpilih melakukan penyusunan kabinet, semua pendukung diberi “kue” hasil perjuangan sesuai peran dan fungsi waktu berjuang. Ternyata ada di antara anggota kabinet yang menusuk teman seiring, menggunting dalam lipatan, dengan mengambil kebijakkan tanpa seizin pimpinan utama. Terpaksa di tengah perjalanan yang bersangkutan harus diistirahatkan; dengan alasan yang manis diucapkan, tetapi sakit dirasakan.
Semua itu pada level daerah, tentu pada level nasional akan lebih seru lagi soal geser-menggeser, gesek-menggesek, sikut-menyikut untuk mendapatkan posisi dan periuk nasi. Karena berspektrum luas, tidak jarang akan menimbulkan goncangan dalam pemilihan dan penetapan barisan. Bisa dibayangkan dari kursi menteri, dirjen, direktur, kepala unit, dan seterusnya; akan mengalami gonjang-ganjing dalam penetapannya.
Beda lagi yang menjadi “penggembira”, individu pada kelompok ini menjadi pencari selamat dan mencari sisa “nasi kenduri” dari hajatan yang sudah selesai. Ada yang menjauh menyilahkan pemimpin terpilih untuk berekplorasi, walaupun jumlah mereka ini sedikit sekali, da nada juga diantara mereka memiliki harapan dalam hati untuk mendapat hak-hak istimewa. Tetapi ada kelompok yang berharap mendapat tetesan hujan dari hasil sedikit keringat perjuangan, walaupun pada saat pertarungan pemilihan berlangsung hanya bertepuk ikut ramai, berbaris ikut panjang. Kelompok ini mulai memainkan jurus Cina Mabok agar dapat pembagian rejeki, apapun namanya.
Ada lagi yang berperilaku kepala menjadi besar, kaki menjadi kecil; sehingga merasa paling berjasa, dan bersikap yang tidak segaris adalah lawan. Selalu ingin sowan kepada pemimpin terpilih agar mendapat perhatian lebih. Namun jika ada keterplesetan pemimpin dalam bertindak atau berucap, mereka inilah yang akan lari paling depan untuk meninggalkan sang pemimpin terpilih sendirian.
Sebaliknya, yang berada pada posisi atau diposisikan sebagai rival, yang bersangkutan tidak diberi ruang, dan jika perlu tidak dikasih “hidup”. Semua tindakan, pemikiran, saran dari kelompok ini sekalipun mungkin baik, tetap dianggap sebagai penghalang, oleh sebab itu diupayakan untuk disingkirkan, atau biasa dengan bahasa halusnya dieliminasi dengan cara apa pun.
Kelompok terakhir ada pada posisi penikmat; kelompok ini hanya memandang dari jauh saja, dan terkadang sedikit berkomentar, atau tersenyum setengah hati, namun tidak jarang tertawa terbahak-bahak tatkala sendirian. Kelompok ini tidak peduli apa yang terjadi, yang penting baginya keluarga dan dirinya serta bisnisnya selamat sampai tujuan. Hiruk pikuk bukan urusannya, yang penting baginya ada pada zone nyaman; terserah saja orang lain. Saat ada pembagian rejeki, kelompok ini berteriak “atas nama hak”; mereka harus dapat, jika perlu paling besar, karena selama ini meras sebagai penyandang modal.
Efek ekor naga inilah yang mengakibatkan tsunami sosial melanda pada lembaga manapun, dan hal ini sudah menjadi semacam hukum sosial. Bahkan di lembaga atau negara yang mengatakan diri paling demokratis sekalipun, hal serupa ini tidak dapat terhindari. Manakala setelah terjadi pemilihan pucuk pimpinan tertentu, akan disertai peristiwa ini; adapun bungkusnya bisa bermacam-macam, salah satu diantaranya adalah “penyegaran”, pada hal sejatinya penyingkiran.
Sebentar lagi ekor naga di negeri ini akan bergerak, mari kita tunggu effeknya. Semoga dia membawa kemaslahatan bagi semua. Soal puas atau tidak, itulah dunia; mari kita syukuri yang ada dan terima dengan legowo apapun suratan Tuhan untuk kita. Walaupun ada catatan kecil diujung sana yang terbaca …“jangan selalu memaknai kemenangan sebagai suatu keberhasilan, bisa jadi itu ujian”… Hanya Naga Bonar dalam film-lah yang bisa mengocok perut karena tertawa. Sementara selebihnya membuat sakit perut karena larut. (SJ)
Jauh Berjalan Banyak Bertemu, Lama Hidup Banyak Dirasa
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa waktu lalu ada seorang sohib memberi komen terhadap tulisan yang dikirim seperti judul di atas. Tampaknya sekalipun beliau bergelar doktor dari perguruan tinggi papan atas di negeri ini; nilai dan rasa diri kedaerahan masih tebal, bahkan nilai-nilai local masih sangat melekat dalam bertutur sapa sebagai anak negeri, terutama dalam beretika dengan orang yang dituakan. Ketinggian pendidikan tidak membuat dirinya angkuh apalagi sombong, justru sangat hormat dan merendah.
Jika kita simak komen yang kelihatan sederhana itu menunjukkan memang betul dalam perjalanan hidup ini menurut hasil nukilan dari orang-orang tua dulu: kita akan berjumpa paling tidak beberapa tipe orang, diantaranya: Pertama, “Tidak semua orang pintar itu benar”. Kenyataannya dalam masyarakat kita sering jumpai tipe seperti ini, justru dengan kepintarannya melakukan ketidakbenaran. Seolah-olah karena kepintarannnya itu dia memahami persis ketidakbenaran sesuatu, sehingga dia melakukannya.
Kedua, “Tidak semua orang benar itu pintar”; dengan kata lain kebenaran itu bukan monopoli orang pintar. Bisa jadi seseorang tidak pandai tetapi bertindak benar, oleh sebab itu kita harus sadar diri bahwa kebenaran itu bukanlah sesuatu yang dapat diklaim atau dimonopoli oleh siapapun.
Ketiga, “Banyak orang pandai tetapi tidak benar”; ini memberi pertanda bahwa kumpulan orang pintarpun tidak menjamin akan adanya kebenaran. Oleh sebab itu mayoritas bukan berarti memiliki nilai mutlak; karena bisa jadi justru himpunan orang pintarlah yang berjamaah melakukan ketidakbenaran.
Keempat, “Banyak orang benar walaupun tidak pintar”; ini menunjukkan bahwa kepintaran tidak menjamin kebenaran, karena perilaku keduanya bisa berbeda arah. Kita lihat bagaimana para petugas kebersihan mereka melakukan pekerjaannya dengan benar, sekalipun mereka tidak pintar.
Kelima, “dari pada menjadi orang pintar tetapi tidak benar, lebih baik jadi orang benar walaupun tidak pintar”. Potret seperti ini sering kita jumpai pada masyarakat kebanyakan; mereka lebih menghargai orang benar sekalipun tidak pintar.
Keenam, “ada yang lebih bagus lagi yaitu jadi orang pintar yang selalu bertindak benar”. Sekalipun jumlah orang seperti ini sangat sedikit, namun betapa bernilainya pribadi seseorang jika bisa berperilaku seperti ini, dan setiap jaman kita akan jumpai mereka-mereka ini. Mereka penghias jaman yang selalu meninggalkan sejarah kebajikan bagi sesama.
Ketujuh, “membuat pintar orang benar itu lebih mudah dari pada menunjukkan kebenaran kepada orang pintar”. Ternyata orang benar itu lebih mudah untuk diajak agar menjadi pintar, dibandingkan dengan menunjukkan kebenaran pada orang pintar; sebab orang pintar selalu berasa diri benar, sehingga jika ditunjukkan akan kesalahannya kemudian ditunjukkan yang benar, mereka kebanyakan lebih sulit untuk menerima kenyataan.
Kedelapan, “membenarkan orang pintar yang berbuat salah itu memerlukan beningnya hati dan kesadaran yang tinggi, karena sangat sulit untuk memahamkannya”. Pada banyak kasus orang yang berbuat salah padahal dia pandai secara intektual, itu sangat sulit untuk memberikan penyadaran padanya akan kesalahan yang diperbuat. Justru yang ada, dirinya merasa berada pada posisi yang selalu benar.
Dari semua di atas ada pembelajaran yang dapat kita petik ialah kita diharuskan selalu optimis atau berprasangka baik kepada siapapun dan apapun kejadian di dunia ini. Bahkan kepada Tuhan-pun kita diharuskan berprasangka baik dalam setiap kondisi. Karena yang diberikan kepada mahluknya pasti yang terbaik, walau terkadang mahluknya tidak menyadari bahwa dia adalah hasil ciptaan Sang Maha Pencipta, yang sudah menyiapkan segalanya.
Dengan kata lain; seseorang yang telah menjalani perjalanan panjang akan memiliki banyak pengalaman dan melihat banyak hal, dan orang yang telah hidup lama akan memiliki banyak pengalaman dan merasakan banyak hal dalam hidupnya. Oleh sebab itu para ulama berpesan bahwa
“saat dirimu mempelajari ilmu syariat, maka engkau akan berperang dengan pikiranmu sendiri. Disaat dirimu mempelajari ilmu tarekat, maka dirimu akan selalu menganggap Jin dan Setan adalah musuhmu. Di saat dirimu mempelajari ilmu hakekat, maka engkau akan mulai mengerti bahwa musuh yang nyata itu adalah dirimu sendiri. Di saat dirimu mempelajari ilmu makrifat, maka engkau tidak lagi menemui semua itu”.
Tampaknya proses pengendapan dalam diri manusia itu sangat diperlukan karena jika ditelaah secara filosofis seseorang dalam laku agama harus sampai pada level cinta, yang makna hakikinya adalah mengamalkan ajaran agama dengan penuh kasih sayang serta kesadaran yang mendalam akan adanya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pada level paripurna inilah sebenarnya kita dituntut, walau pada derajat mana, biarkan Sang Maha Mengetahui menilainya.
Salam waras. (SJ)
Universitas Malahayati Bandar Lampung Gelar Yudisium dan Sumpah Profesi Fakultas Ilmu Kesehatan
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati Bandar Lampung menyelenggarakan acara Yudisium dan Sumpah Profesi Fakultas Ilmu Kesehatan di Gedung Malahayati Career Center, Jumat (3/5/2024).
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, dr., MM., saat memberikan sambutan dalam acara tersebut, menekankan pentingnya pembelajaran berkelanjutan dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Dr. Achmad Farich mengingatkan para lulusan bahwa ilmu yang diperoleh selama masa kuliah hanyalah awal dari perjalanan panjang.
“Tantangan ke depan akan lebih berat, terutama dengan dunia kerja yang semakin ketat bersaing. Selain itu, kalian juga akan menghadapi tantangan di masyarakat dan perkembangan teknologi yang semakin maju,” ujarnya.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Dr. Achmad Farich mengajak para lulusan untuk terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Ia juga menyarankan untuk terus membina hubungan dengan almamater serta menjalin komunikasi dengan para alumni dan senior, karena melalui hubungan tersebut, banyak ilmu praktis yang dapat diperoleh.
“Manfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk mempermudah dan mempercepat pekerjaan kalian. Pelajari dan kuasai teknologi untuk menunjang karier dan kontribusi kalian bagi masyarakat,” tambah Dr. Achmad Farich.
Acara yudisium ini meluluskan 68 mahasiswa dari berbagai program studi di Fakultas Ilmu Kesehatan, dengan rerata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.5.
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Dr. Lolita Sary, SKM., M.Kes., menjelaskan bahwa lulusan tersebut terdiri dari 15 mahasiswa laki-laki dan 53 mahasiswa perempuan. Program studi yang terlibat antara lain Profesi Ners, Profesi Bidan, Diploma III Kebidanan, Diploma III Analis Farmasi dan Makanan (ANAFARMA), Magister Kesehatan Masyarakat, Sarjana Keperawatan, Sarjana Farmasi, Sarjana Psikologi, dan Sarjana Kebidanan.
Dalam kesempatan yang sama, 17 lulusan dari 4 program studi di Fakultas Ilmu Kesehatan juga mengikuti sumpah profesi.
Dr. Lolita Sary berharap bahwa ilmu dan keterampilan yang diperoleh para lulusan akan berguna dalam berkarya secara profesional, bermanfaat, dan berintegritas, baik di dalam lingkup keluarga, masyarakat, maupun bangsa.
Acara ditutup dengan pemberian selamat kepada para lulusan dan salam dari rektor kepada para orang tua yang telah mempercayakan anak-anak mereka untuk belajar di Universitas Malahayati Bandar Lampung.
“Setelah selesai menempuh pendidikan, saya serahkan kembali kepada para orang tua,” ucap Dr. Achmad Farich.
Editor: Asyihin
Selamat Hari Pendidikan Nasional, “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”
Ditetapkannya tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional diambil dari tanggal lahir Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia.
Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional, 02 Mei 2024. “Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar”. (gil/humasmalahayatinews)
Dulu Bersama Kita, Sekarang Tinggal Cerita
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Beberapa hari lalu mendapat panggilan telpon dari sahabat lama yang jauh di sana di Bumi Sriwijaya, inti pembicaraan bertanya tentang apakah mendapat undangan pertemuan penting dari organisasi yang dibangun bersama dulu. Jawabannya adalah sampai menerima telpon itu belum ada undangan resmi yang melayang ke meja; entah nanti, besok atau lusa, atau kapan-kapan. Hal yang sama juga melalui media sosial dilakukan oleh seorang sahabat karib, yang berada di Kota Solo. Profesor ini malah menegaskan bahwa beliau mengira bahwa penulis otomaticaly sebagai pengundang, namun setelah diberi penjelasan beliau maklum.
Bersamaan dengan itu melalui media sosial genggam, ada kiriman dari juga seorang sahabat satu angkatan waktu kuliah di program sarjana awal tahun tujuhpuluhan; yang berisikan bagaimana tulisan terakhir dari mantan presiden negeri ini saat menghadapi hari-hari tuanya. Ternyata hakekat keduanya sama yaitu: semua berisi bagaimana banyak hal dahulu bersama kita, dan sekarang yang tinggal hanya cerita.
Konsep perspektif masa lampau mengacu pada cara seseorang melihat dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman masa lampau dari sudut pandang saat ini. Hal ini melibatkan refleksi, reinterpretasi, dan pemahaman ulang terhadap peristiwa-peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupan seseorang. Spektrum masa lampau menggambarkan keragaman pengalaman manusia dan kompleksitas kehidupan. Meskipun tidak mungkin untuk menghindari pengalaman negatif sepenuhnya, penting untuk diingat bahwa pengalaman-pengalaman tersebut dapat memberikan pelajaran berharga dan membentuk karakter seseorang. Dengan pemahaman yang tepat tentang spektrum masa lampau, seseorang dapat belajar dari pengalaman mereka dan berkembang sebagai individu yang lebih kuat dan lebih bijaksana.
Menjadi persoalan adalah apakah semua kita mampu menerima posisi saat ini; manakala dikepala kita masih terus merekam peristiwa masa lampau sebagai masa kini. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya mereka yang ada pada posisi saat ini tidak menyadari akan juga menjadi masa lampau pada waktunya. Memaksakan masa lampau untuk selalu hadir pada masa kini, itu adalah pekerjaan sia-sia karena akan melawan sang waktu, dan itu berarti menyalahi kodrat.
Masa kini yang kelak ditinggal, dan pada akhirnya menjadi masa lampau; himpunan dari masa lapau inilah yang kemudian dikenal dengan peradaban. Walaupun hal ini tidak banyak disadari oleh pelaku sosial, bahwa inilah sebenarnya salah satu diantara hukum sosial itu. Menariknya lagi kesadaran akan semua itu datangnya selalu terlambat, sehingga sekelas orang genius-pun bisa kecewa dan menyesal saat usia telah beranjak senja.
Oleh karena itu nasehat orang bijak mengatakan saat kita melakonkan suatu peran, lakonkanlah dengan benar, agar pembenaran itu sempurna manakala kelak kita tinggalkan lakon itu, untuk menuju lakon berikutnya. Dan, jangan lupa ihlaskan semua yang sudah terjadi, yakini itu adalah tulisan Tuhan untuk kita. Perlu pemahaman tingkat tinggi memang, namun itulah dunia; kita tidak akan bisa mengulang kembali sesuatu yang sudah menjadi kenangan. Tinggal kenangan yang seperti apa, itu tergantung bagaimana kita mengukir peristiwanya sebelum menjadi kenangan.
Kita tidak harus menyesali suatu peristiwa yang sudah terjadi, karena bisa jadi di sana ada ketetapan Tuhan yang menyertai. Dunia bukan maunya kita, akan tetapi maunya Sang Pencipta. Apa yang tidak kita suka, jangan-jangan itu yang terbaik untuk kita; dan, yang kita suka jangan-jangan itu justru merugikan kita.
Dinamika dunia adalah ada hari ini, ada esok, dan ada lusa. Apapun kita jika ada pada wilayah hari ini, bersiaplah akan menjadi kemaren, dan, jika ada di wilayah lusa bersiaplah akan menjadi saat ini. Hasil keputusan itu final sifatnya, sekalipun kita tidak menyukainya, karena semua itu menunjukkan ketidakabadian.
Apapun peristiwanya, dan dimanapun tempatnya; segala sesuatu akan ada akhirnya. Akhir dari yang paling akhir itu adalah cerita dari peristiwa. Oleh sebab itu tidak salah jika orang bijak mengatakan: cerita itu akan indah bagi pelakunya, namun akan lebih indah lagi manakala dinikmati setelah dia berada pada masa lalu.
Pepatah lama mengatakan “kadangkala jawaban atas doa kita tidak selalu tentang apa yang kita dapat, tetapi justru apa yang hilang dari kehidupan kita”. Para sosiolog mengajarkan kita untuk menerima perubahan sebagai bagian dari kehidupan. Ini membantu kita untuk lebih fleksibel dalam menghadapi perubahan dan tantangan.
Seiring bertambahnya usia tidaklah salah jika ajaran agama menuntun kita untuk berlaku bijak terhadap apapun perubahan yang terjadi di lingkungan kita, termasuk juga perubahan yang ada pada diri kita. Menjadi tua itu adalah harus, menuju kematian itu adalah pasti; tinggal bagaimana kita menghadapinya. Jika kita menghadapi perubahan itu dengan tenang dan berserah diri untuk tawakal kepada Sang Pencipta, maka kebahagiaan yang akan kita temui. Walaupun terkadang harapan hanyalah mimpi, dan kenyataan adalah bayangan, namun yakinlah tiada samudra tanpa pesisir, tiada derita tanpa akhir.
Salam Waras (SJ)
Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung Hadiri Halal Bil Halal Gubernur Lampung
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dr. Achmad Farich, dr., MM., turut hadir dalam acara Halal Bil Halal yang diselenggarakan oleh Gubernur Lampung di Lapangan KORPRI Kantor Gubernur Lampung, Senin (29/4/2024).
Kegiatan Halal Bil Halal tersebut menghadirkan penceramah Ustadz H. Asep Kholis Nurjamil, SHI, MHI.
Dalam acara tersebut, Rektor Universitas Malahayati bergabung dengan sejumlah Forkopimda Provinsi Lampung, Bupati/Wali Kota/Pj Bupati se-Provinsi Lampung, Sekretaris Daerah se-Provinsi Lampung, Kepala Perangkat Daerah se-Provinsi Lampung, Ketua TP. PKK dan Ketua Dharma Wanita se-Provinsi Lampung, serta tokoh agama, masyarakat, dan media.
“Acara ini menjadi momentum untuk mempererat tali persaudaraan dan memperkokoh nilai-nilai keagamaan serta kebersamaan dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucap rektor. (**)
Efek Ekor Naga
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Setiap habis pemilihan apapun jabatan yang ada di negeri ini, mungkin juga di negeri lain, ada sesuatu yang tersisa, yaitu efek lanjut akibat dari pemilihan. Dan, dalam tulisan ini hal tersebut diberi nama efek ekor naga. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang wajar, sebab setiap keputusan yang diambil akan memiliki konsekuensi, dan salah satu di antaranya adalah “ikut barisan atau keluar barisan”. Dalam pengertian ikut menjadi pemenang atau pihak yang kalah, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa jadi menjadi pecundang.
Efek ekor naga terutama akan terlihat seru manakala pemimpin yang dilahirkan dari proses pemilihan yang dipenuhi intrik-intrik tajam, dan pemimpin terpilih memiliki sifat kepribadian pendendam, baik tampak dinarasikan maupun tidak tampak. Akan tetapi, jika diperoleh pemimpin hasil pemilih yang memang memiliki jiwa kepemimpinan sejati, maka dia akan berusaha merangkul semua yang berbeda selama ini untuk dijadikan satu kekuatan pendukung program yang dimiliki. Walaupun keputusan ini sering dianggap tidak waras oleh para pendukung fanatik, tetap saja harus diakui bahwa langkah ini memiliki sisi kebaikan.
Ada satu penggalan pengalaman seorang kepala dinas dari satu instansi tertentu yang hampir terkena sabetan ekor naga karena dianggap selama ini tidak loyal dan berseberangan dengan pemenang pemilihan. Maka, yang bersangkutan secara terang-terangan dimuka umum diberitahu bahwa dia akan dipecat manakala sang pemenang telah dilantik. Seiring perjalanan waktu, saat evaluasi program seratus hari kepemimpinan, ternyata satu-satunya kepala dinas yang memiliki program dan kemajuan yang hebat dan tepat dari pemimpin terpilih, hanya dimiliki beliau. Ini pun disajikan dalam forum besar yang dihadiri oleh para pendukung pemenang yang tidak berbuat apa-apa. Walhasil, kepala dinas ini tidak pernah dipecat sampai masa periode kepemimpinan terpilih berakhir. Bahkan beberapa kali mendapat promosi jabatan karena kinerjanya baik, terakhir yang bersangkutan dipromosikan menjadi pejabat kepala daerah tingkat dua, dan tetap merangkap jabatan sebagai kepala dinas instansi tertentu.
Beda lagi di salah satu institusi ilmiah tertentu yang juga menganut sistem pilih-memilih kepemimpinan utamanya. Setelah pelantikan pemimpin terpilih melakukan penyusunan kabinet, semua pendukung diberi “kue” hasil perjuangan sesuai peran dan fungsi waktu berjuang. Ternyata ada di antara anggota kabinet yang menusuk teman seiring, menggunting dalam lipatan, dengan mengambil kebijakkan tanpa seizin pimpinan utama. Terpaksa di tengah perjalanan yang bersangkutan harus diistirahatkan; dengan alasan yang manis diucapkan, tetapi sakit dirasakan.
Semua itu pada level daerah, tentu pada level nasional akan lebih seru lagi soal geser-menggeser, gesek-menggesek, sikut-menyikut untuk mendapatkan posisi dan periuk nasi. Karena berspektrum luas, tidak jarang akan menimbulkan goncangan dalam pemilihan dan penetapan barisan. Bisa dibayangkan dari kursi menteri, dirjen, direktur, kepala unit, dan seterusnya; akan mengalami gonjang-ganjing dalam penetapannya.
Beda lagi yang menjadi “penggembira”, individu pada kelompok ini menjadi pencari selamat dan mencari sisa “nasi kenduri” dari hajatan yang sudah selesai. Ada yang menjauh menyilahkan pemimpin terpilih untuk berekplorasi, walaupun jumlah mereka ini sedikit sekali, da nada juga diantara mereka memiliki harapan dalam hati untuk mendapat hak-hak istimewa. Tetapi ada kelompok yang berharap mendapat tetesan hujan dari hasil sedikit keringat perjuangan, walaupun pada saat pertarungan pemilihan berlangsung hanya bertepuk ikut ramai, berbaris ikut panjang. Kelompok ini mulai memainkan jurus Cina Mabok agar dapat pembagian rejeki, apapun namanya.
Ada lagi yang berperilaku kepala menjadi besar, kaki menjadi kecil; sehingga merasa paling berjasa, dan bersikap yang tidak segaris adalah lawan. Selalu ingin sowan kepada pemimpin terpilih agar mendapat perhatian lebih. Namun jika ada keterplesetan pemimpin dalam bertindak atau berucap, mereka inilah yang akan lari paling depan untuk meninggalkan sang pemimpin terpilih sendirian.
Sebaliknya, yang berada pada posisi atau diposisikan sebagai rival, yang bersangkutan tidak diberi ruang, dan jika perlu tidak dikasih “hidup”. Semua tindakan, pemikiran, saran dari kelompok ini sekalipun mungkin baik, tetap dianggap sebagai penghalang, oleh sebab itu diupayakan untuk disingkirkan, atau biasa dengan bahasa halusnya dieliminasi dengan cara apa pun.
Kelompok terakhir ada pada posisi penikmat; kelompok ini hanya memandang dari jauh saja, dan terkadang sedikit berkomentar, atau tersenyum setengah hati, namun tidak jarang tertawa terbahak-bahak tatkala sendirian. Kelompok ini tidak peduli apa yang terjadi, yang penting baginya keluarga dan dirinya serta bisnisnya selamat sampai tujuan. Hiruk pikuk bukan urusannya, yang penting baginya ada pada zone nyaman; terserah saja orang lain. Saat ada pembagian rejeki, kelompok ini berteriak “atas nama hak”; mereka harus dapat, jika perlu paling besar, karena selama ini meras sebagai penyandang modal.
Efek ekor naga inilah yang mengakibatkan tsunami sosial melanda pada lembaga manapun, dan hal ini sudah menjadi semacam hukum sosial. Bahkan di lembaga atau negara yang mengatakan diri paling demokratis sekalipun, hal serupa ini tidak dapat terhindari. Manakala setelah terjadi pemilihan pucuk pimpinan tertentu, akan disertai peristiwa ini; adapun bungkusnya bisa bermacam-macam, salah satu diantaranya adalah “penyegaran”, pada hal sejatinya penyingkiran.
Sebentar lagi ekor naga di negeri ini akan bergerak, mari kita tunggu effeknya. Semoga dia membawa kemaslahatan bagi semua. Soal puas atau tidak, itulah dunia; mari kita syukuri yang ada dan terima dengan legowo apapun suratan Tuhan untuk kita. Walaupun ada catatan kecil diujung sana yang terbaca …“jangan selalu memaknai kemenangan sebagai suatu keberhasilan, bisa jadi itu ujian”… Hanya Naga Bonar dalam film-lah yang bisa mengocok perut karena tertawa. Sementara selebihnya membuat sakit perut karena larut. (SJ)
Raih Beasiswa KIP Universitas Malahayati Bandarlampung Tahun 2024
Hallo Adik-adik semuaa…Ini dia informasi yang udah kalian tunggu-tunggu. Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Malahayati Bandarlampung JALUR BEASISWA KIP KULIAH tahun 2024 SUDAH DIBUKA..!
Informasinya selengkapnya bisa dilihat disini KIP Kuliah Universitas Malahayati
Raih masa depan dan cita-cita kamu dengan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Ayo bergabung di Universitas Malahayati, Kampus terkeren di Lampung Melalui Jalur Beasiswa KIP Kuliah 2024.
Informasi Lengkap BEASISWA KIP KULIAH 2024
Bapak Ricko Gunawan, M. Kes (0852-7990-0901)
——————————————————
SEMUA BISA KULIAH… !! (gil/humasmalahayatinews)
Alumni Prodi Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Cut Mutiawati Jadi Tenaga Ahli Proyek Komenko Marves
SUMATERA UTARA (malahayati.ac.id): Cut Mutiawati S.T., M. Ling., merupakan salah satu alumni Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Bandar Lampung yang lulus pada 2019 serta aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan saat masih di kampus.
Kini, ia menunjukkan dedikasi yang luar biasa dalam bidangnya sebagai Tenaga Ahli Manajemen Konstruksi, khususnya dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), di Proyek Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Komenko Marves) Pembangunan Taman Sains Teknologi Herbal dan Holtikultura (TSTH2) Tahap 2, yang berlokasi di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Indonesia.
Klik di sini : Pendaftaran Online Mahasiswa Baru
Keberhasilan Cut dalam karirnya tidak terlepas dari keterlibatannya dalam organisasi selama masa perkuliahan di Universitas Malahayati. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan organisasi, menjadikannya terlatih dalam kepemimpinan, kerjasama tim, serta keterampilan sosialisasi dan komunikasi yang sangat penting dalam dunia kerja.
Pendidikan akademisinya yang berkualitas juga memberikan landasan yang kokoh bagi Cut dalam menjalani karir profesionalnya. “Dukung dosen dan akademisi Universitas Malahayati, membuat saya mampu menggabungkan pengetahuan yang didapat di kampus dengan pengalaman lapangan yang diperoleh melalui kegiatan ekstrakurikuler, termasuk yang berskala internasional,” ucapnya.
Cut Mutiawati S.T., M.Ling., adalah sebagian bukti nyata bagaimana Universitas Malahayati melahirkun lulusan unggul yang siap berkarir di duania kerja, serta kesuksesan alumni adalah bukti Universitas Malahayati mempersiapkan mahasiswanya dalam menggapai karir di bidang yang sesuai dengan keahliannya.
Klik di sini : Pendaftaran Online Mahasiswa Baru
Yuk, persiapkan diri kamu untuk bergabung bersama Universitas Malahayati di Program Studi Teknik Lingkungan. Caranya mudah, kamu bisa klik link Pendaftaran Mahasiswa Baru atau datang langsung ke kampus Universitas Malahayati Bandar Lampung. (*)
Editor: Asyihin
Alfan Juli Andri, Ketua HMTI Universitas Malahayati 2015, Kini Berkarir di PT TASPEN Jakarta
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Alfan Juli Andri, lulusan Teknik Industri Universitas Malahayati tahun 2017, kini telah menemukan jejaknya di dunia kerja sebagai Career Development Staf di PT TASPEN (Persero) Jakarta.
Dalam perjalanannya, Alfan telah meraih sukses dan mengukir prestasi setelah melalui masa-masa kuliah yang penuh dengan pengalaman berharga.
Selama menimba ilmu di Universitas Malahayati, Alfan mengungkapkan bahwa ia diberikan insight-insight keilmuan yang sangat bermanfaat di dunia kerja.
Klik di sini : Pendaftaran Online Mahasiswa Baru
“Semoga Teknik Industri Universitas Malahayati akan semakin tumbuh dan mampu bersaing di tengah era VUCA saat ini. Khususnya, ilmu dalam bidang teknik dan manajemen industri, termasuk persoalan manajemen secara umum dan sumber daya manusia, telah membekali sayau ntuk menghadapi tantangan di lapangan kerja,” kata Alfan.
Alfan juga mengungkapkan rasa syukurnya dapat berkuliah di Universitas Malahayati, di mana ia aktif terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) periode 2015-2016.
Pengalaman tersebut, menurut Alfan, sangat berharga dan membentuk jiwa kepemimpinannya yang membawanya ke titik saat ini.
“Terima kasih kepada Universitas Malahayati atas dukungan dan kesempatan yang diberikan selama masa studi saya,” ucapnya.
Alfan Juli Andri membuktikan bahwa lulusan Universitas Malahayati mampu berkembang menjadi profesional unggul dan memberikan kontribusi positif di berbagai bidang industri.
Klik di sini : Pendaftaran Online Mahasiswa Baru
Program Studi Teknik Industri Universitas Malahayati Bandar Lampung membuka penerimaan mahasiswa baru (PMB) untuk tahun akademik 2024/2025. Generasi Z yang memiliki minat dalam bidang teknik industri diundang untuk bergabung dengan prodi ini.
Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui link resmi Pendaftaran Mahasiswa Baru Universitas Malahayati Bandar Lampung atau dengan datang langsung ke kampus. (*)
Editor: Asyihin
Dwi Marlina Syukri, Dosen FK Univeristas Malahayati, Ungkap Inovasi Benang Bedah di UIN SMH Banten dan PT Triton Manufactures
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung, Dwi Marlina Syukri, S.si, MBSc, Phd., menjadi narasumber pada acara Studium Generale Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Kamis (25/4/2024).
Tema acara tersebut, ‘Peluang, Tantangan, dan Pemanfaatan Bahan Alam untuk Kandidat Obat’.
Marlina memperkenalkan produk penelitiannya tentang benang bedah yang dilapisi dengan silver nanoparticles yang disintesis dengan ekstrak daun Eucalyptus.
“Produk benang bedah yang dilapisi dengan silver nanoparticles merupakan inovasi terbaru dalam bidang ini,” ungkap Dwi Marlina.
Sebelumnya, pada bulan Februari 2024, Marlina juga diundang PT. Triton Manufactures, perusahaan benang bedah pertama di Indonesia, karena ketertarikan mereka pada produk penelitiannya.
“Beberapa waktu lalu di Februari, saya juga diundang oleh PT. Triton karena mereka tertarik dengan produk saya ini,” tambahnya.
Institutional Relation Director, Mario Apriliansyah mewakili drg. Wawan Owner PT.Triton Manufactures menyampaikan terimakasih atas kesempatan untuk berbagi pengetahuan yang bermanfaat.
“Triton sangat percaya bahwa ‘innovation’ adalah cara kita menjadi aset bangsa yang berkarya,” ucapnya.
Mario Apriliansyah menambahkan bahwa menurutnya, jarang sekali mereka menemukan penelitian alat kesehatan di Indonesia dengan ragam uji yang sangat komprehensif seperti yang telah dilakukan oleh Marlina. (*)
Editor: Asyihin