Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Selepas ashar yang hari-hari ini masih tampak siang. Namun sejatinya perlahan tapi pasti Matahari itu berjalan menuju ufuknya. Siang akan berganti senja, dan akan disusul malam; semua berjalan bagai cakra, dan itulah kehidupan. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Dalam arus deras kehidupan, manusia sering kali berada di persimpangan antara keinginan dan kenyataan. Antara yang diharapkan dan yang terjadi. Dalam setiap denyut nadi, ada kehendak untuk memiliki, untuk mempertahankan, untuk mengontrol arah hidup sesuai kehendak. Namun, semesta tak tunduk pada keinginan. Ia menari dalam irama yang tak dapat ditebak, menyodorkan kenyataan yang kerap tak sejalan dengan harapan. Maka, ketika manusia belajar membiarkan segalanya pergi dan berlalu, menerima yang tidak diinginkan, serta melepaskan yang sangat diinginkan, di situlah ia mulai memahami inti terdalam dari keberadaannya: bahwa hidup bukan tentang memiliki, tetapi tentang mengalami, memahami, dan pada akhirnya, melepaskan.
Manusia adalah makhluk yang didefinisikan oleh kesadarannya. Dalam kesadaran itu, tumbuh keinginan, rasa, harap, serta ketakutan. Keinginan untuk menggenggam kebahagiaan, ketakutan akan kehilangan, harapan akan masa depan, dan penolakan terhadap rasa sakit. Semua itu terjalin dalam jalinan kompleks yang membentuk perjalanan hidup manusia. Namun, kenyataan sering kali menunjukkan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Bahkan, dalam banyak hal, apa yang paling diinginkan justru menjadi sumber penderitaan karena manusia menolaknya untuk pergi, atau terlalu takut untuk menerimanya ketika datang tanpa diundang.
Di sinilah muncul paradoks eksistensial: semakin manusia berusaha menggenggam sesuatu, semakin besar kemungkinan ia kehilangan pegangan. Begitu pula dalam hidup, semakin keras manusia menggenggam keinginannya, semakin besar potensi penderitaan saat kenyataan tak berpihak. Maka, penerimaan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan keberanian untuk menyadari bahwa hidup tak dapat sepenuhnya dipetakan. Penerimaan adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan manusia dalam menghadapi misteri semesta.
Namun, menerima bukan berarti pasrah dalam ketidakberdayaan. Menerima adalah tindakan aktif dari kesadaran yang jernih. Ia menuntut kehadiran utuh dalam momen, keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya, dan kebijaksanaan untuk tidak mengubah apa yang tidak bisa diubah. Dalam penerimaan, manusia belajar bahwa tidak semua yang tidak diinginkan adalah keburukan, dan tidak semua yang diinginkan adalah kebaikan. Kadang, luka hadir bukan untuk menyiksa, tetapi untuk menyadarkan. Kadang, kehilangan bukan akhir, melainkan awal dari pertumbuhan. Dan kadang, apa yang datang secara tak terduga justru menjadi jalan bagi perluasan jiwa.
Demikian pula dalam melepaskan. Melepaskan bukan berarti menyerah atau tidak peduli. Melepaskan adalah tindakan kasih terhadap diri sendiri dan kehidupan. Ia menandakan kesediaan untuk tidak menahan apa yang sudah waktunya pergi. Dalam melepaskan, manusia belajar bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki selamanya. Bahkan, keindahan sejati sering kali hanya bisa dinikmati dalam ketidakkekalan. Manusia yang memahami hakikat ini tidak akan berpegang pada ilusi keabadian. Ia akan belajar mencintai tanpa menggenggam, menikmati tanpa ketergantungan, dan merelakan tanpa kebencian.
Dalam perjalanan batin seperti itu, manusia tidak lagi menilai hidup berdasarkan apa yang ia miliki, tetapi berdasarkan sejauh mana ia mampu hadir dalam setiap momen, meski pahit atau manis. Ia menyadari bahwa hidup bukan sesuatu untuk dicapai, melainkan misteri untuk dijalani. Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban. Tidak semua luka butuh penjelasan. Kadang, cukup dengan mengalami, dan membiarkan pengalaman itu membentuk kedalaman makna dalam diri. Dari sinilah lahir manusia yang utuh, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia mampu menerima ketidaksempurnaan itu sebagai bagian dari tarian kehidupan.
Tarian semesta bukanlah tarian yang dapat diprediksi. Ia tidak bergerak menurut kehendak individu, melainkan menurut irama yang lebih luas, lebih besar dari pemahaman rasional. Maka, manusia yang ingin selaras dengannya tidak boleh kaku. Ia harus lentur, bersedia mengubah langkah ketika musik berubah, dan tidak memaksakan koreografi yang sudah usang pada irama baru yang sedang dimainkan. Ini bukan bentuk ketidakjelasan arah, melainkan bentuk tertinggi dari adaptasi dan kebijaksanaan. Menari dalam semesta berarti bersedia bergerak dalam ketidakpastian, menyelaraskan diri tanpa kehilangan jati diri.
Ironisnya, justru ketika manusia tidak lagi berusaha mengontrol segala hal, ia mulai merasakan kedamaian. Ketika ia berhenti mengejar, ia mulai menemukan. Ketika ia bersedia kehilangan, ia mulai mendapatkan. Ini bukan logika transaksional, tetapi logika eksistensial, yaitu sebuah pemahaman bahwa makna tertinggi bukan terletak pada hasil, tetapi pada proses, bukan pada pencapaian, tetapi pada kehadiran. Di sinilah manusia mulai menari, bukan karena ia menguasai panggung, tetapi karena ia meresapi setiap gerakannya, seberapapun kacau atau indahnya.
Dengan demikian, manusia tidak lagi menjadi korban dari hidupnya, melainkan pelaku yang aktif dalam setiap babak kehidupan. Ia tidak dikendalikan oleh keinginannya, juga tidak dikalahkan oleh ketakutannya. Ia menjadi sosok yang matang, yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga berani kehilangan. Yang tidak hanya mengejar, tetapi juga merelakan. Yang tidak hanya berharap, tetapi juga menerima kenyataan ketika harapan itu tak terwujud.
Pada akhirnya, hidup adalah tarian panjang yang penuh dengan perpisahan dan pertemuan, kehilangan dan penemuan, harapan dan kehampaan. Tidak ada satu langkah pun yang sia-sia jika dijalani dengan kesadaran. Tidak ada satu momen pun yang tidak bermakna jika diterima dengan hati yang terbuka. Dalam setiap gerak, dalam setiap detik, semesta mengundang manusia untuk ikut menari, bukan sebagai penguasa panggung, tetapi sebagai bagian dari harmoni agung yang tak bisa dipahami sepenuhnya, hanya bisa dialami dengan sepenuh hati.
Jadi, biarkan semua pergi dan berlalu. Terimalah yang tidak kita inginkan. Lepaskanlah yang kita ingin. Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita cukup kuat untuk menari bersama semesta. Dalam gerak itulah, kita menemukan makna terdalam sebagai manusia, bukan dalam apa yang kita genggam, tetapi dalam apa yang kita relakan. Bukan dalam apa yang kita miliki, tetapi dalam bagaimana kita hadir. Dan di situlah, kita tidak hanya hidup, tapi benar-benar menjadi hidup. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Tertawa Saat Bersedih, Menangis Saat Gembira
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Diskusi bersama mahasiswa pascasarjana memang menarik, dan mengasyikkan; ini terbukti saat diselah-selah bimbingan tugas akhir, diantara mereka ada yang nyeletuk “mengapa kita harus menangis saat bersedih, dan mengapa harus tertawa saat gembira”. Tentu saja pernyataan ini bukan sekedar pernyataan biasa, apalagi pertanyaan humor; akan tetapi pertanyaan yang mengandung unsur pertanyaan filsafat yang sesungguhnya. Tulisan ini mencoba mengungkapnya dari kacamata filsafat kontemporer yang akhir-akhir ini mendapat banyak perhatian dari para penggiat filsafat.
Kehidupan manusia adalah rangkaian pengalaman afeksi yang tidak dapat dipisahkan dari kontradiksi dan ambiguitas. Kita biasa diajarkan bahwa ekspresi emosi haruslah sesuai dengan keadaan: tertawa saat bahagia, menangis saat sedih. Namun, perintah sosial ini seringkali menghilangkan kompleksitas dan kedalaman pengalaman batin. “Tertawalah saat bersedih, dan menangislah saat bergembira” bukanlah sekadar kebalikannya, tetapi sebuah undangan untuk memasuki dimensi afeksi yang lebih luas, di mana emosi tidak lagi dikurung oleh norma dan kepatutan. Di sinilah kita dapat memahami bahwa ekspresi emosi bukan sekadar cerminan keadaan, tetapi juga tindakan pembebasan dan afirmasi eksistensial.
Tertawa saat bersedih mungkin tampak sebagai reaksi yang aneh, sebuah ironi yang menyakitkan. Namun, tertawa dalam kesedihan adalah manifestasi dari sebuah perlawanan terhadap keputusasaan. Tawa yang muncul di saat kita tengah menghadapi kesedihan yang mendalam bukan penyangkalan, melainkan sebuah cara untuk mengatasi dan memberi jarak terhadap penderitaan. Ia memecah kesunyian yang membebani, menembus kebekuan emosi, dan membuka ruang bagi kebebasan batin. Ketika tawa muncul di tengah gelombang kesedihan, ia mengisyaratkan bahwa manusia tidak sepenuhnya menjadi korban dari nasib atau keadaan. Ada kapasitas untuk menegaskan keberadaan, untuk tetap hadir dengan kekuatan yang tak terduga. Tertawa di saat bersedih adalah bahasa tubuh yang mengungkapkan bahwa meskipun dunia menawarkan kesakitan, kita masih dapat memilih sikap dan cara meresponnya.
Lebih jauh lagi, tawa di saat sedih menunjukkan ambiguitas dalam diri manusia: keberadaan emosi yang tidak bisa dikotak-kotakkan menjadi hitam dan putih, bahagia dan sedih, benar dan salah. Ia memperlihatkan bahwa kesedihan dan kegembiraan tidak harus beroperasi secara eksklusif, melainkan dapat saling melengkapi dan menambah kedalaman pengalaman batin manusia. Dalam tawa yang lahir dari kesedihan, terdapat penghormatan terhadap kompleksitas hidup dan ketidaksempurnaannya. Ini juga merupakan pengingat bahwa realitas tidak selalu konsisten dan dapat dimengerti secara linier. Justru di antara ketidakteraturan itulah manusia menemukan kreativitas dan kebebasan.
Sebaliknya, menangis saat bergembira juga menyimpan makna yang dalam dan paradoksal. Tangisan yang muncul dalam momen kegembiraan adalah simbol dari kepekaan dan intensitas pengalaman. Kegembiraan yang terlalu besar sering kali membebani tubuh dan jiwa sehingga mewujud dalam air mata sebagai pelepasan ketegangan yang mendalam. Tangisan ini bukan kelemahan atau ketidakseimbangan, melainkan bentuk integrasi afektif yang utuh, di mana sukacita dan kesedihan melebur menjadi satu. Ia mengajarkan bahwa emosi manusia bersifat holistik dan saling terkait. Air mata bahagia membuka ruang bagi rasa syukur, kelegaan, dan keterhubungan yang lebih dalam dengan diri sendiri dan Tuhan.
Menangis dalam kebahagiaan mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang mencapai tujuan atau keberhasilan yang tampak luar, tetapi juga tentang merasakan kehadiran penuh dari momen itu sendiri. Air mata di tengah kegembiraan menjadi saksi bahwa manusia mampu menerima segala kompleksitas dan kerentanan eksistensialnya. Dalam tangisan bahagia, terdapat penerimaan atas kefanaan, ketidakpastian, dan ketidaksempurnaan yang melekat pada kehidupan. Ini adalah ekspresi kesadaran penuh bahwa sukacita yang sejati selalu membawa fragmen kesedihan, dan begitu pula sebaliknya.
Mempraktikkan tertawa saat bersedih dan menangis saat bergembira adalah tindakan pemberontakan terhadap pembatasan tersebut. Ia mengajak manusia untuk menerima seluruh spektrum afeksi tanpa prasangka, menghargai ambiguitas dan kompleksitas yang melekat dalam tiap momen hidup. Ini adalah bentuk keberanian untuk membiarkan diri terbuka, rentan, dan jujur dalam menghadapi realitas yang tidak pasti. Kebebasan afektif yang demikian membuka pintu bagi hubungan sosial yang lebih tulus dan bermakna, karena ia mengundang empati dan pengakuan atas keunikan pengalaman setiap individu.
Pada akhirnya, ungkapan “Tertawalah saat bersedih, dan menangislah saat bergembira” mengajarkan kita bahwa hidup adalah pengalaman yang tidak bisa dipisahkan dari ambiguitas dan kontradiksi. Emosi manusia adalah jaringan kompleks yang menuntut kita untuk menerima dan merangkul ketidaksesuaian yang ada di dalamnya. Melalui paradoks ini, kita menemukan ruang kebebasan untuk menjadi utuh, jujur, dan otentik, dan menghormati setiap fragmen perasaan tanpa memaksakan konsistensi palsu yang mengasingkan. Dengan keberanian untuk menertawakan kesedihan dan menangisi kebahagiaan, kita mengukuhkan kemanusiaan kita dalam segala ketidaksempurnaannya. Kita belajar bahwa tawa dan tangis bukan hanya ekspresi reaktif, tetapi tindakan afirmasi terhadap hidup yang penuh warna dan keajaiban. Sebuah tindakan yang, pada akhirnya, mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kebebasan sejati bukanlah pembebasan dari emosi, melainkan pembebasan dalam dan melalui emosi itu sendiri. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Siapkan Pelaksanaan MONEV Periode 1 Tahun Akademik 2025/2026
Ketua LPMI Universitas Malahayati, Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep, menyampaikan bahwa MONEV merupakan bagian penting dalam siklus penjaminan mutu akademik, untuk memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai dengan standar dan pedoman yang telah ditetapkan Universitas.
“Melalui MONEV, kita ingin memastikan bahwa Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sudah sesuai template Universitas, dosen melaksanakan pembelajaran tepat waktu, serta bukti kehadiran dapat terdokumentasi dengan baik melalui sistem IT yang sudah disiapkan,” ungkapnta.
Untuk kelancaran pelaksanaan, LPMI telah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Dekan, BPMI, dan Ketua Program Studi agar mengingatkan dosen-dosen di lingkungan masing-masing. Seluruh dosen diminta melengkapi RPS dan mengunggahnya ke dalam sistem bukti kehadiran yang telah dikembangkan Tim IT Universitas Malahayati.
Dengan adanya persiapan yang matang, diharapkan MONEV Periode 1 ini dapat berjalan efektif serta memberikan gambaran menyeluruh terkait keterlaksanaan perkuliahan di semester berjalan. Hasil MONEV nantinya akan menjadi dasar bagi Universitas dalam menyusun strategi peningkatan mutu pembelajaran ke depan. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Dirgahayu ke 80 Tentara Nasional Indonesia (TNI) “TNI Prima, TNI Rakyat, Indonesia Maju”
Pembentukan TKR adalah respon atas kebutuhan kekuatan pertahanan resmi untuk menjaga kemerdekaan dari ancaman militer Belanda. Sebelum menjadi TNI seperti sekarang, organisasi ini mengalami beberapa perubahan. TKR awalnya berasal dari Badan Keamanan Rakyat (BKR), kemudian disusun ulang menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) agar memiliki struktur yang lebih teratur dan sesuai dengan dasar militer internasional
Upaya pemerintah untuk menyatukan berbagai kekuatan bersenjata terus dilakukan. Hingga pada 3 Juni 1947, Tentara Nasional Indonesia (TNI) pun disahkan. TNI merupakan gabungan antara TRI dan badan-badan perjuangan rakyat. TNI kemudian menjadi bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada tahun 1962 bersama dengan kepolisian, sebelum akhirnya dipisahkan kembali sesuai Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004. Adapun penetapan tanggal 5 Oktober sebagai hari lahir TNI didasarkan pada pembentukan TKR yang menjadi cikal bakal organisasi militer Indonesia.
Dirgahayu ke 80 Tentara Nasional Indonesia (TNI)! Semoga TNI senantiasa menjadi garda terdepan dalam menjaga kedaulatan, persatuan, dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan semangat TNI PRIMA – TNI Rakyat, Indonesia Maju, mari bersama kita lanjutkan pengabdian untuk bangsa dan negara. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Selamat Hari Batik Nasional 2025, Kita Bangga Punya Batik!
Berdasarkan laman Kemendikbud, sejarah Hari Batik Nasional bermula ketika pengakuan batik sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO di tahun 2009. Hal itu terjadi dalam sidang ke-4 Komite Antar Pemerintah tentang Warisan Tak Benda di Abu Dhabi tepat 2 Oktober 2009. Saat itu, batik diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda Manusia atau Representative List of The Intangible Cultural Heritage of Humanity. Bersama dengan beberapa budaya lainnya seperti wayang, keris, noken, dan tari saman.
Melihat ke belakang, batik diperkenalkan kepada dunia internasional oleh Presiden Soekarno ketika Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Batik Indonesia didaftarkan untuk mendapatkan status Intangible Cultural Heritage (ICH) melalui UNESCO pada 4 September 2008 di Jakarta. Pengajuan batik untuk Warisan Kemanusiaan Budaya Lisan dan Nonbendawi UNESCO diterima secara resmi pada 9 Januari 2009. Kemudian resmi dikukuhkan sebagai bagian dari Warisan Tak Benda dalam sidang keempat Komite Antar Pemerintah yang diselenggarakan oleh UNESCO di Abu Dhabi pata 2 Oktober 2009.
Tanggal tersebut ditetapkan menjadi Hari Batik Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009 yang dikeluarkan pada 17 November 2009. Lewat surat itu, Kementerian Dalam Negeri menerbitkan surat edaran untuk mengimbau seluruh pegawai pemerintah di tingkat provinsi tingkat pusat maupun daerah mengenakan batik setiap Hari Batik Nasional.
Selamat Hari Batik Nasional, 02 Oktober 2025. “Batik adalah warisan budaya bangsa yang mengandung nilai seni, filosofi, serta identitas Indonesia. Mari kita lestarikan, cintai, dan banggakan batik sebagai jati diri bangsa di kancah dunia. Dengan semangat Hari Batik Nasional, kita jadikan batik bukan hanya sekadar pakaian, melainkan simbol persatuan, kreativitas, dan kebanggaan Indonesia.” (gil)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Charles Sturt University Australia Kunjungi Perpustakaan Universitas Malahayati, Kagumi Digitalisasi dan Layanan Modern
Kunjungan yang berlangsung beberapa pekan lalu ini menunjukkan bahwa UPT Perpustakaan Universitas Malahayati layak dijadikan destinasi pembelajaran, baik bagi masyarakat domestik maupun mancanegara. Keunikan perpustakaan serta sistem digitalisasi yang telah diimplementasikan meskipun masih dalam tahap pengembangan, mendapat apresiasi dari rombongan CSU.
“Kami melihat Perpustakaan Universitas Malahayati sudah mengarah ke standar internasional. Digitalisasi yang dikembangkan memberikan peluang besar bagi mahasiswa untuk belajar dengan lebih efektif,” ungkap salah satu pengajar CSU.
“Perpustakaan adalah jantung universitas. Kami berkomitmen menghadirkan layanan terbaik, memperkaya koleksi, dan mengoptimalkan teknologi informasi agar sesuai dengan tuntutan zaman. Kunjungan dari Charles Sturt University menjadi bukti nyata bahwa transformasi yang kami lakukan mendapat apresiasi, bahkan hingga ke tingkat internasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Nowo menambahkan bahwa perpustakaan Universitas Malahayati tidak hanya fokus pada digitalisasi, tetapi juga pada peningkatan layanan berbasis literasi informasi, agar mahasiswa mampu memanfaatkan sumber daya dengan cerdas, kritis, dan produktif.
Kunjungan ini juga membuka peluang kolaborasi akademik dan pertukaran ilmu pengetahuan antara Universitas Malahayati dan Charles Sturt University. Kehadiran tamu mancanegara tersebut menjadi bagian dari upaya Universitas Malahayati untuk menghadirkan atmosfer akademik yang inklusif, modern, dan berdaya saing global.
Dengan semangat transformasi dan inovasi, UPT Perpustakaan Universitas Malahayati diharapkan dapat menjadi role model bagi pengembangan perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Optimalisasi Sampah Organik Jadi Sabun Disinfektan Ramah Lingkungan, Dosen dan Mahasiswa Universitas Malahayati Gelar Pengabdian Masyarakat di Kelurahan Pesawahan
Program ini terselenggara atas dukungan DPPM Kemdikbudristek Tahun 2025 melalui Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan Nomor Kontrak 334/C3/DT.05.00/PM-BATCH III/2025 tertanggal 10 September 2025.
Tim pengabdian masyarakat berasal dari kolaborasi tiga prodi Hadirkan Inovasi “ECORIND”yakni Farmasi, Teknik Lingkungan, dan Ekonomi. Mereka terdiri dari: apt. Ade Maria Ulfa., M.Kes (Prodi Farmasi), Natalina, S.T., M.T (Prodi Teknik Lingkungan), Prof. Erna Listyaningsih, SE., M.Si., Ph.D (Prodi Ekonomi). Tim ini juga dibantu dua mahasiswa, Galih Bimantara dan Muhammad Putra Pratama.
Melalui sosialisasi, pelatihan, hingga pendampingan teknologi tepat guna, para ibu PKK Kelurahan Pesawahan dibekali keterampilan dalam pemilahan sampah organik rumah tangga (khususnya kulit buah), proses fermentasi ekoenzim, hingga pembuatan produk inovatif berupa sabun disinfektan pembersih lantai “ECORIND” (ECO = Ekoenzim Ramah Lingkungan, RIND = Kulit Buah).
“Pemanfaatan kulit buah sebagai bahan dasar ekoenzim akan menghasilkan sabun disinfektan ramah lingkungan yang ekonomis dan bahkan bernilai jual,” ujarnya.
Lurah Pesawahan, Musa Shaleh., S.I.Kom, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. Menurutnya, Kelurahan Pesawahan memiliki 117 kepala keluarga, dengan 80% di antaranya termasuk keluarga miskin. Data tahun 2024 mencatat bahwa wilayah ini menghasilkan sampah sebanyak 227 kg per hari, dengan 60% berasal dari sampah rumah tangga.
“Selama ini sampah rumah tangga belum dimanfaatkan secara maksimal. Kehadiran program pengabdian masyarakat ini tentu sangat membantu warga, khususnya ibu-ibu PKK, untuk mengolah sampah organik menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ungkapnya.
Dengan adanya inovasi ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh peluang ekonomi baru dari pemanfaatan limbah organik rumah tangga. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Memaknai Hari Kesaktian Pancasila 2025, Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya
Tahun ini, peringatan Hari Kesaktian Pancasila mengusung tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”. Tema ini menjadi pengingat bahwa di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya, Pancasila hadir sebagai dasar negara sekaligus jembatan pemersatu bangsa.
Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi refleksi atas pengorbanan para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Dengan penuh keberanian, mereka mempertahankan tegaknya ideologi Pancasila dari rongrongan ideologi yang ingin menggantinya. Pengorbanan tersebut menjadi teladan abadi tentang arti kesetiaan, keberanian, dan cinta tanah air.
Peringatan ini bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk menanamkan kembali nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Nilai gotong royong, persatuan, toleransi, keadilan, serta semangat musyawarah harus terus dihidupkan di tengah masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Mari jadikan Hari Kesaktian Pancasila sebagai ajakan bersama untuk menjaga persatuan bangsa, memperkokoh nasionalisme, dan menumbuhkan semangat cinta tanah air. Semoga dengan berpegang teguh pada Pancasila, Indonesia mampu melangkah lebih maju, kuat, dan bermartabat menuju Indonesia Raya yang sejahtera dan berkeadilan.
Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila 2025!
Pancasila adalah perekat bangsa, pondasi kokoh menuju Indonesia yang jaya. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Fakultas Hukum Universitas Malahayati Lepas 19 Mahasiswa untuk Magang Berdampak 2025, Siap Asah Kompetensi Hukum di Dunia Profesi
Para mahasiswa akan ditempatkan di sejumlah instansi strategis yang menjadi mitra Fakultas Hukum Universitas Malahayati, di antaranya: Lapas Kelas I Bandar Lampung, Badan Narkotika Nasional (BNN) Lampung, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Kepolisian Daerah Lampung, Kejaksaan Tinggi Lampung, Kantor Notaris dan PPAT Rendy Renaldy, S.H., M.Kn, Kantor Hukum Curia Magna Indonesia, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandar Lampung.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan didampingi oleh mentor dari masing-masing instansi serta dosen pembimbing lapangan yang akan mengawal, mengevaluasi, dan memastikan kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan. Dosen pembimbing lapangan pada Magang Berdampak 2025 yaitu: Erlina, S.P., M.H., Dwi Arassy Aprillia, S.H., M.H., dan Dr. Adhitia Risky Prabowo, S.H., M.H.
Dekan Fakultas Hukum Universitas Malahayati, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., menegaskan bahwa program magang ini bukan sekedar agenda akademik, tetapi juga bagian dari pembentukan karakter dan profesionalisme mahasisa.
“Kami berharap mahasiswa dapat mengasah kemampuan baik softskill maupun hardskill didunia kerja nyata, sekaligus memperoleh tambahan wawasan serta bahan penelitian untuk tugas akhir atau skripsi. Dengan demikian, lulusan Fakultas Hukum Universitas Malahayati mampu bersain dan berkontribusi nyata di bidang hukum,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Ilmu Hukum, Dr. Rissa Afni Martinouva, S.H., M.H., juga menyampaikan bahwa kegiatan magang berdampak 2025 merupakan implementasi dari visi program studi.
“Program ini diharapkan dapat memberikan bekal dunia kerja sesuai dengan peminatan mahasiswa, baik pidana, perdata, maupun tata negara. Hal ini selaras dengan visi prodi untuk menghasilkan lulusan yang unggul di bidang Ilmu Hukum Bisnis dan Kewirausahaan berbasis teknologi digital yang beretika religius pada tahun 2026,” jelasnya.
Selain bermanfaat bagi mahasiswa, kerjasama ini juga memberi nilai tambah bagi instansi mitra yang mendapatkan dukungan sumber daya manusia dari kalangan akademisi hukum. Dengan begitu, program magang ini menjadi sinergi yang menguntungkan baik bagi mahasiswa, institusi pendidikan, maupun lembaga mitra. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Menari dalam Takdir
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Selepas ashar yang hari-hari ini masih tampak siang. Namun sejatinya perlahan tapi pasti Matahari itu berjalan menuju ufuknya. Siang akan berganti senja, dan akan disusul malam; semua berjalan bagai cakra, dan itulah kehidupan. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan. Dalam arus deras kehidupan, manusia sering kali berada di persimpangan antara keinginan dan kenyataan. Antara yang diharapkan dan yang terjadi. Dalam setiap denyut nadi, ada kehendak untuk memiliki, untuk mempertahankan, untuk mengontrol arah hidup sesuai kehendak. Namun, semesta tak tunduk pada keinginan. Ia menari dalam irama yang tak dapat ditebak, menyodorkan kenyataan yang kerap tak sejalan dengan harapan. Maka, ketika manusia belajar membiarkan segalanya pergi dan berlalu, menerima yang tidak diinginkan, serta melepaskan yang sangat diinginkan, di situlah ia mulai memahami inti terdalam dari keberadaannya: bahwa hidup bukan tentang memiliki, tetapi tentang mengalami, memahami, dan pada akhirnya, melepaskan.
Manusia adalah makhluk yang didefinisikan oleh kesadarannya. Dalam kesadaran itu, tumbuh keinginan, rasa, harap, serta ketakutan. Keinginan untuk menggenggam kebahagiaan, ketakutan akan kehilangan, harapan akan masa depan, dan penolakan terhadap rasa sakit. Semua itu terjalin dalam jalinan kompleks yang membentuk perjalanan hidup manusia. Namun, kenyataan sering kali menunjukkan bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan. Bahkan, dalam banyak hal, apa yang paling diinginkan justru menjadi sumber penderitaan karena manusia menolaknya untuk pergi, atau terlalu takut untuk menerimanya ketika datang tanpa diundang.
Di sinilah muncul paradoks eksistensial: semakin manusia berusaha menggenggam sesuatu, semakin besar kemungkinan ia kehilangan pegangan. Begitu pula dalam hidup, semakin keras manusia menggenggam keinginannya, semakin besar potensi penderitaan saat kenyataan tak berpihak. Maka, penerimaan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan keberanian untuk menyadari bahwa hidup tak dapat sepenuhnya dipetakan. Penerimaan adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan manusia dalam menghadapi misteri semesta.
Namun, menerima bukan berarti pasrah dalam ketidakberdayaan. Menerima adalah tindakan aktif dari kesadaran yang jernih. Ia menuntut kehadiran utuh dalam momen, keberanian untuk melihat kenyataan apa adanya, dan kebijaksanaan untuk tidak mengubah apa yang tidak bisa diubah. Dalam penerimaan, manusia belajar bahwa tidak semua yang tidak diinginkan adalah keburukan, dan tidak semua yang diinginkan adalah kebaikan. Kadang, luka hadir bukan untuk menyiksa, tetapi untuk menyadarkan. Kadang, kehilangan bukan akhir, melainkan awal dari pertumbuhan. Dan kadang, apa yang datang secara tak terduga justru menjadi jalan bagi perluasan jiwa.
Demikian pula dalam melepaskan. Melepaskan bukan berarti menyerah atau tidak peduli. Melepaskan adalah tindakan kasih terhadap diri sendiri dan kehidupan. Ia menandakan kesediaan untuk tidak menahan apa yang sudah waktunya pergi. Dalam melepaskan, manusia belajar bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki selamanya. Bahkan, keindahan sejati sering kali hanya bisa dinikmati dalam ketidakkekalan. Manusia yang memahami hakikat ini tidak akan berpegang pada ilusi keabadian. Ia akan belajar mencintai tanpa menggenggam, menikmati tanpa ketergantungan, dan merelakan tanpa kebencian.
Dalam perjalanan batin seperti itu, manusia tidak lagi menilai hidup berdasarkan apa yang ia miliki, tetapi berdasarkan sejauh mana ia mampu hadir dalam setiap momen, meski pahit atau manis. Ia menyadari bahwa hidup bukan sesuatu untuk dicapai, melainkan misteri untuk dijalani. Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban. Tidak semua luka butuh penjelasan. Kadang, cukup dengan mengalami, dan membiarkan pengalaman itu membentuk kedalaman makna dalam diri. Dari sinilah lahir manusia yang utuh, bukan karena ia sempurna, tetapi karena ia mampu menerima ketidaksempurnaan itu sebagai bagian dari tarian kehidupan.
Tarian semesta bukanlah tarian yang dapat diprediksi. Ia tidak bergerak menurut kehendak individu, melainkan menurut irama yang lebih luas, lebih besar dari pemahaman rasional. Maka, manusia yang ingin selaras dengannya tidak boleh kaku. Ia harus lentur, bersedia mengubah langkah ketika musik berubah, dan tidak memaksakan koreografi yang sudah usang pada irama baru yang sedang dimainkan. Ini bukan bentuk ketidakjelasan arah, melainkan bentuk tertinggi dari adaptasi dan kebijaksanaan. Menari dalam semesta berarti bersedia bergerak dalam ketidakpastian, menyelaraskan diri tanpa kehilangan jati diri.
Ironisnya, justru ketika manusia tidak lagi berusaha mengontrol segala hal, ia mulai merasakan kedamaian. Ketika ia berhenti mengejar, ia mulai menemukan. Ketika ia bersedia kehilangan, ia mulai mendapatkan. Ini bukan logika transaksional, tetapi logika eksistensial, yaitu sebuah pemahaman bahwa makna tertinggi bukan terletak pada hasil, tetapi pada proses, bukan pada pencapaian, tetapi pada kehadiran. Di sinilah manusia mulai menari, bukan karena ia menguasai panggung, tetapi karena ia meresapi setiap gerakannya, seberapapun kacau atau indahnya.
Dengan demikian, manusia tidak lagi menjadi korban dari hidupnya, melainkan pelaku yang aktif dalam setiap babak kehidupan. Ia tidak dikendalikan oleh keinginannya, juga tidak dikalahkan oleh ketakutannya. Ia menjadi sosok yang matang, yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga berani kehilangan. Yang tidak hanya mengejar, tetapi juga merelakan. Yang tidak hanya berharap, tetapi juga menerima kenyataan ketika harapan itu tak terwujud.
Pada akhirnya, hidup adalah tarian panjang yang penuh dengan perpisahan dan pertemuan, kehilangan dan penemuan, harapan dan kehampaan. Tidak ada satu langkah pun yang sia-sia jika dijalani dengan kesadaran. Tidak ada satu momen pun yang tidak bermakna jika diterima dengan hati yang terbuka. Dalam setiap gerak, dalam setiap detik, semesta mengundang manusia untuk ikut menari, bukan sebagai penguasa panggung, tetapi sebagai bagian dari harmoni agung yang tak bisa dipahami sepenuhnya, hanya bisa dialami dengan sepenuh hati.
Jadi, biarkan semua pergi dan berlalu. Terimalah yang tidak kita inginkan. Lepaskanlah yang kita ingin. Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita cukup kuat untuk menari bersama semesta. Dalam gerak itulah, kita menemukan makna terdalam sebagai manusia, bukan dalam apa yang kita genggam, tetapi dalam apa yang kita relakan. Bukan dalam apa yang kita miliki, tetapi dalam bagaimana kita hadir. Dan di situlah, kita tidak hanya hidup, tapi benar-benar menjadi hidup. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Kulit Pisang Disulap Jadi Camilan Sehat, Dosen Universitas Malahayati Bersama UMKM Si Bintang Buah Hadirkan Inovasi “KUPIDOR”
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Inovasi pangan kembali lahir dari kreativitas lokal. UMKM Keripik Pisang Si Bintang Buah bersama tim dosen pengabdian masyarakat Universitas Malahayati sukses mengubah limbah kulit pisang menjadi produk camilan sehat bernama KUPIDOR (Kulit Pisang dan Daun Kelor).
Program ini merupakan bagian dari kegiatan “Optimalisasi Limbah Kulit Pisang Kombinasi Daun Kelor” yang didukung oleh Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) DPPM Kemdikbudristek Tahun 2025, Nomor Kontrak 334/C3/DT.05.00/PM-BATCH III/2025 tertanggal 10 September 2025. Melalui kegiatan ini, tim memberikan sosialisasi, pelatihan, hingga pendampingan teknologi tepat guna kepada para pelaku UMKM pangan.
Selama ini kulit pisang sering dianggap tidak bernilai dan hanya berakhir sebagai limbah. Namun, melalui inovasi KUPIDOR, kulit pisang justru diolah menjadi bahan pangan bergizi tinggi ketika dipadukan dengan daun kelor yang kaya nutrisi. Hasil olahan ini dikembangkan menjadi dua produk unggulan: Stik KUPIDOR yang gurih dan renyah, serta Cookies KUPIDOR dengan cita rasa manis sehat yang disukai semua kalangan.
“Dengan adanya KUPIDOR, kami ingin masyarakat memandang kulit pisang bukan sekadar sampah, tetapi sebagai sumber daya bernilai tinggi. Inovasi ini bukan hanya menawarkan camilan sehat, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis pangan fungsional lokal,” ungkap Diah Astika Winahyu, S.Si., M.Si, selaku ketua tim pengabdian.
Acara yang berlangsung di UMKM Si Bintang Buah ini diikuti oleh para pelaku UMKM pangan beserta anggotanya. Peserta dibekali berbagai keterampilan, mulai dari: Teknik pengolahan kulit pisang agar aman dikonsumsi, Formulasi Stik dan Cookies KUPIDOR yang sehat, renyah, dan bernilai jual, Strategi manajemen usaha dan pemasaran melalui media sosial serta kemasan menarik.
Selain praktik langsung, peserta juga mendapatkan pendampingan untuk memaksimalkan potensi bisnis inovatif berbasis pangan lokal.
Kegiatan ditutup dengan sesi tasting produk dan diskusi terbuka mengenai peluang pengembangan usaha. Antusiasme peserta sangat tinggi, menunjukkan bahwa inovasi pangan berbasis limbah kulit pisang dan daun kelor ini berpotensi besar dalam mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, serta pengurangan limbah lingkungan.
Dengan cita rasa khas, bergizi, dan ramah lingkungan, produk KUPIDOR diharapkan mampu menjadi ikon camilan sehat dari UMKM Si Bintang Buah serta bersaing di pasar lokal hingga nasional. (gil)
Editor: Gilang Agusman