Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Menyimak diksi yang keluar dari mulut seorang mantan Menteri Luar Negeri negeri ini, yang kebetulan seorang wanita, saat ditanya reporter dalam satu acara mengenai apa lagi yang akan dilakukan setelah tidak menjadi menteri. Beliau menjawab “Cukup”. Dan, diksi ini mengandung makna yang sangat dalam bagi mereka penggemar pengkaji filsafat, terutama filsafat manusia. jika kita kaji secara mendalam diksi cukup, bukan sekedar mewakili keberhentian dari suatu perjalanan. Namun, diksi ini memiliki maknawi yang sangat mendalam. Berbekal literature digital dan konvensional, maka kajian ini dapat kita dedah sebagai berikut.
Manusia adalah makhluk yang memiliki hasrat tak terbatas di dalam dunia yang terbatas. Hasrat untuk memiliki, mengetahui, menguasai, dan bahkan menaklukkan, merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk berkesadaran. Di tengah derasnya arus konsumsi, materialisme, dan kemajuan teknologi, manusia sering terperangkap dalam ilusi bahwa kebahagiaan terletak pada akumulasi: semakin banyak, semakin baik. Namun, di balik semangat untuk memiliki lebih, muncul pertanyaan mendalam dari ranah filsafat manusia: kapankah kita akan berkata “cukup”.
Ungkapan “katakan cukup” bukan hanya seruan moral atau sosial, tetapi menyentuh akar terdalam eksistensi manusia. Ia menantang ego, kehendak, dan bahkan konsep makna hidup itu sendiri. Dalam filsafat manusia, tema ini menyentuh batas-batas eksistensial yang menghubungkan antara kebebasan, tanggung jawab, dan kesadaran diri.
Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Friedrich Nietzsche menekankan bahwa manusia adalah makhluk kehendak. Sartre menyatakan bahwa “eksistensi mendahului esensi”, artinya manusia membentuk dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan yang diambil. Namun, di balik kebebasan memilih itu, tersimpan paradox, yaitu: semakin banyak pilihan, semakin sulit manusia berkata cukup.
Pada masyarakat modern, pilihan hidup tampak tak terbatas; dari makanan, pekerjaan, hingga identitas sosial. Akibatnya, manusia mudah terjebak dalam kebingungan eksistensial. Ketika kehendak tidak dibatasi oleh kesadaran akan “cukup”, manusia jatuh dalam absurditas, sebagaimana digambarkan oleh Albert Camus dalam “The Myth of Sisyphus”. Manusia menjadi seperti Sisyphus: terus mendorong batu ke atas gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali. Oleh sebab itu, berkata “cukup” adalah tindakan sadar untuk membatasi kehendak. Ia bukan bentuk kekalahan, melainkan kemenangan atas hasrat yang menguasai. Dengan berkata cukup, manusia merebut kembali kendali atas dirinya dan memasuki wilayah kebijaksanaan.
Sedangkan dalam filsafat moral, pertanyaan tentang “cukup” menyentuh pada keadilan dan tanggung jawab sosial. Ketika seseorang memiliki lebih dari yang dibutuhkan, sementara yang lain kekurangan, maka akumulasi menjadi bentuk ketidakadilan. Filsuf seperti Emmanuel Levinas menekankan pentingnya wajah orang lain sebagai panggilan etis bagi kita. Kehadiran yang lain menuntut kita untuk membatasi diri, untuk berkata cukup. Oleh sebab itu dalam konteks ini, “cukup” menjadi wujud kepekaan etis terhadap dunia. Ia menolak kerakusan dan mendorong distribusi yang adil. Dalam dunia yang dilanda krisis ekologis dan kesenjangan sosial yang akut, “cukup” adalah seruan revolusioner. Ia bukan sekadar ajakan untuk hidup sederhana, tetapi panggilan untuk bertindak secara bertanggung jawab.
Filsuf Epictetus dan Seneca bahkan lebih tegas berkata bahwa: kebahagiaan sejati lahir dari penguasaan diri. Mereka percaya bahwa orang yang mampu berkata cukup adalah orang yang paling merdeka. Kekayaan tidak menjamin kebebasan; pengendalian hasratlah yang membawa ketenangan batin. Dengan demikian, “cukup” bukan kekurangan, tetapi kekuatan batin yang luhur.
Manusia, meskipun memiliki kehendak dan akal budi, tetaplah makhluk yang terbatas. Ia tidak abadi, tidak mahakuasa, dan tidak serba tahu. Namun, modernitas sering membangun narasi bahwa manusia bisa melampaui batas-batas ini: hidup lebih lama, lebih pintar, lebih cepat, lebih kaya. Transhumanisme bahkan bercita-cita menghapus kematian. Tetapi di balik semua ini, muncul pertanyaan eksistensial: apakah hidup tanpa batas itu benar-benar hidup manusiawi. Pertanyaan besar ini belum terjawabkan sampai tulisan ini diluncurkan.
Martin Heidegger dalam Being and Time berbicara tentang konsep “menjadi menu menuju kematian.” Artinya, kesadaran akan kematian memberi makna pada hidup. Justru karena hidup terbatas, maka ia berarti. Maka berkata cukup adalah bentuk penerimaan akan kefanaan. Itu bukan sikap pasif, tetapi keberanian untuk mengakui batas dan hidup secara otentik dalam bingkai batas itu. Oleh sebab itu “Cukup” dalam konteks ini adalah pengakuan akan kemanusiaan kita. Kita tidak bisa memiliki segalanya, tidak bisa menjadi segalanya. Dan itu tidak masalah. Karena makna hidup tidak terletak pada banyaknya hal yang kita capai, tetapi pada cara kita hidup dan mencintai di tengah keterbatasan itu. “Cukup” adalah jembatan menuju kontemplasi. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu dikejar. Ada kebahagiaan dalam diam, dalam keberadaan itu sendiri. Ketika manusia mampu berkata cukup, ia tidak hanya menguasai dunia, tetapi juga menguasai dirinya.
Pada budaya kontemporer yang dibentuk oleh logika pasar dan konsumsi. Dari iklan, media sosial, hingga budaya kerja, semuanya mendorong manusia untuk merasa kurang, untuk terus membeli, bekerja, dan berprestasi. Dalam kondisi ini, “cukup” dianggap sebagai tindakan subversif. Ketika seseorang berkata cukup terhadap jam kerja yang tidak manusiawi, ia sedang memperjuangkan martabat. Ketika seseorang berkata cukup terhadap gaya hidup konsumtif, ia sedang menyatakan nilai-nilai alternatif. Dalam masyarakat yang terus meneriakkan “lebih, lebih, lebih”, berkata cukup adalah bentuk perlawanan budaya.
Filsafat manusia mengajarkan bahwa kita tidak hidup sebagai individu terpisah, tetapi sebagai bagian dari komunitas. Oleh karena itu, pilihan untuk berkata cukup juga berdampak sosial. Ia bisa menjadi gerakan bersama untuk menata ulang nilai-nilai hidup kita: dari kompetisi ke kolaborasi, dari keserakahan ke kepedulian.
Banyak diantara kita mengira bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk memilih tanpa batas. Namun, kebebasan sejati bukanlah terletak pada jumlah pilihan, tetapi pada kemampuan untuk mengatakan tidak. Dalam hal ini, berkata cukup adalah bentuk tertinggi dari kebebasan. Manusia yang mampu berkata cukup adalah manusia yang bebas dari ketergantungan, dari ilusi, dari dorongan eksternal. Ia telah sampai pada titik di mana makna hidup tidak lagi ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh siapa ia menjadi. Di sinilah letak kedewasaan eksistensial.
Dalam dunia yang bergerak cepat seperti saat ini, di mana keserakahan dirayakan dan kesederhanaan diabaikan, berkata cukup adalah tindakan radikal. Ia adalah bentuk kejujuran terdalam terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap dunia. Ia bukan pengingkaran terhadap potensi manusia, tetapi pengakuan bahwa potensi itu mesti dijalankan dalam batas-batas yang manusiawi. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling manusiawi bukanlah “apa lagi yang bisa saya dapatkan”, tetapi “apa yang benar-benar penting untuk saya jaga” Dan di sanalah, di tengah kesadaran itu, kita mungkin akan menemukan bahwa hidup ini, dengan segala keterbatasannya, sudah cukup. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Sambut Mahasiswa dan Dosen Universitas Cyberjaya Malaysia dalam Program Student Mobility EPCA 2025
BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati kembali menunjukkan komitmennya sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif menjalin kolaborasi internasional dengan menerima kedatangan mahasiswa dan dosen pendamping dari Universitas Cyberjaya Malaysia (UoC) dalam program Student Mobility Program: Elective Posting & Clinical Attachment (EPCA 2025).
Acara penyambutan resmi dilaksanakan pada Senin, 21 Juli 2025 di Gedung Rektorat Universitas Malahayati, dengan suasana penuh kehangatan dan semangat kolaborasi. Sebanyak tujuh orang mahasiswi dari UoC bersama seorang dosen pendamping diterima langsung oleh jajaran pimpinan universitas, antara lain: Wakil Rektor I, Prof. Dessy, S.Kep., Ns., M.Kes, Wakil Rektor IV, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Toni Prasetia, dr., Sp.PD., FINASM, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kedokteran, Ketua Program Studi Profesi Dokter, Ketua Program Studi Sarjana Kedokteran, Kepala LPPM Universitas Malahayati, Kepala Bagian Kerja Sama, Kepala Bagian Humas & Protokoler, Ketua Panitia KKL-PPM
Program yang akan berlangsung selama tiga minggu, dari 21 Juli hingga 10 Agustus 2025 ini terbagi ke dalam dua fase utama. Selama dua minggu pertama, para peserta akan mengikuti kegiatan akademik dan praktik klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan RS Bintang Amin. Kemudian, pada minggu ketiga, para mahasiswa akan terlibat dalam kegiatan pengabdian masyarakat (community service) di desa binaan Universitas Malahayati di Kabupaten Tanggamus, bersamaan dengan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan dan Pengabdian kepada Masyarakat (KKL-PPM) oleh mahasiswa Universitas Malahayati.
Dalam penjelasannya, Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. Toni Prasetia, dr., Sp.PD., FINASM menyampaikan bahwa program ini dirancang sebagai bentuk nyata dari upaya internasionalisasi pendidikan yang bertujuan tidak hanya untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa, tetapi juga untuk membentuk pribadi yang tangguh dan berdaya saing global.
“Mahasiswa akan merasakan sistem pendidikan dan layanan kesehatan yang berbeda, berinteraksi dengan budaya dan masyarakat lokal, serta meningkatkan kemampuan komunikasi lintas budaya. Ini akan membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang adaptif, mandiri, dan terbuka terhadap perbedaan,” ungkap Dr. Toni.
Beliau juga menekankan bahwa melalui program seperti ini, mahasiswa memiliki peluang untuk membangun jaringan global yang dapat menunjang karier mereka di masa depan. Pengalaman lintas negara seperti ini merupakan nilai tambah penting dalam pasar kerja internasional yang semakin kompetitif.
“Student mobility ini adalah investasi jangka panjang untuk mencetak lulusan yang unggul, berwawasan global, dan mampu menjadi agen perubahan dalam pembangunan kesehatan baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Program EPCA 2025 diharapkan menjadi tonggak penting bagi penguatan kerja sama antara Universitas Malahayati dan Universitas Cyberjaya Malaysia. Ke depan, kedua institusi berencana memperluas cakupan kolaborasi dalam bidang penelitian, pengembangan kurikulum, serta pertukaran dosen dan mahasiswa.
Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi internasional, Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati terus membuka diri menjadi bagian dari jaringan pendidikan global yang progresif, inklusif, dan berdampak nyata. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Tidak Makan Ikannya tapi Dapat Baunya
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Akhir-akhir ini banyak kita jumpai “ketoprak humor kehidupan”; yang menampilkan ketidakadilan sekaligus ketimpangan. Mereka yang tidak berbuat jahat, namun karena dinilai menghalangi hasrat kemauan pemegang kuasa dalam mencapai kehendak, maka bisa jadi perbuatan itu di-jahat-kan. Dan, tentu dicarikan aturan atau pasal hukum yang bisa menghukum. Ada lagi yang lebih seru; mereka yang sekolah serius, dengan biaya mahal, waktu panjang. Namunkarena penyelenggaranya tidak sejalan dengan tongkat yang dipegang deregen sosialnya, maka ujian bisa di tunda atau malah tidak diakui, bahkan tidak dilaksanakan. Maka, bersiaplah uang habis besi binasa, umur bertambah, masa depan tidak jelas.
Masih panjang lagi peristiwa-peristiwa kehidupan akhir-akhir ini jika kita perpanjang daftarnya. Banyak kejadian yang mereka tidak memakan ikannya tetapi terkena bau amisnya. Bisa jadi palu godam dijatuhkan hanya karena ketidaksukaan. Lebih parah lagi, keputusan bersalahnya karena tidak menutup hidung saat bau amis itu berembus. Tulisan ini mencoba menelisik dari sisi-sisi kehidupan yang berserak di sekitar kita.
Ungkapan “Tidak makan ikannya tetapi kena baunya”, meskipun sederhana memiliki daya ledak filosofis dan politis yang luar biasa. Ia menggambarkan realitas sosial yang kerap kali kita alami: kita tidak mengambil bagian dalam sebuah keputusan, tidak menikmati hasil dari suatu kebijakan, bahkan tidak terlibat dalam perbuatannya, tetapi tetap harus menanggung akibatnya. Dalam bahasa filsafat, ini menyentuh pada tema ketidakadilan struktural, distribusi beban sosial yang timpang, dan penghilangan tanggung jawab elite terhadap penderitaan publik.
Mari kita berpikir sejenak mengapa dalam banyak aspek kehidupan di negeri ini, orang-orang yang tidak pernah makan “ikannya” justru paling sering dipaksa mencium “baunya”. Inilah wajah keseharian rakyat kecil: menanggung konsekuensi dari keputusan yang mereka tidak buat.
Kebijakan publik kerap dirancang dari perspektif mereka yang sudah berada di atas. Mereka yang duduk di kursi empuk parlemen atau kementerian lupa bahwa mayoritas warga tidak punya privilege yang sama. Maka lahirlah kebijakan yang tidak adil, dan rakyat kecil yang tidak makan ikan itulah yang tetap harus menanggung amisnya.
Filsuf Prancis, Emmanuel Levinas, berbicara tentang konsep wajah dalam filsafat etika. Bagi Levinas, etika dimulai saat kita melihat wajah orang lain; karena di sana kita menemukan tanggung jawab yang tak bisa ditolak. Tetapi dalam masyarakat modern kita, wajah-wajah penderitaan seringkali tak terlihat. Mereka tenggelam dalam statistik. Mereka direduksi menjadi “data kemiskinan”, “angka pengangguran”, “kategori penerima bansos”. Dan ketika wajah dihapus, maka tanggung jawab pun ikut menguap.
Inilah mengapa banyak elite politik bisa dengan ringan menyalahkan rakyat karena “kurang bersyukur”, “tidak produktif”, atau “tidak melek teknologi”, padahal merekalah yang menciptakan kondisi struktural yang memiskinkan rakyat tersebut.
Salah satu dampak dari ketidakadilan yang terus-menerus adalah sinisme. Ketika rakyat terus mencium amis, tanpa pernah mendapat keadilan, mereka mulai kehilangan kepercayaan: pada hukum, pada pemerintah, bahkan pada sesama. Tapi sinisme ini tidak boleh dibiarkan menjadi apatisme. Ia harus diubah menjadi kesadaran kritis. Dalam pemikiran Paulo Freire, pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang membuat manusia menyadari ketimpangan dan menuntunnya untuk bertindak. Artinya, kita harus belajar membaca realitas, menggugat sistem, dan menyusun solidaritas. Mengeluh itu wajar. Tapi berhenti pada keluhan adalah kegagalan. Kita butuh perubahan struktural, bukan hanya reformasi kosmetik.
Sebuah pertanyaan penting yang jarang diajukan adalah: siapa yang selalu makan ikan, tapi tidak pernah mencium baunya? Jawabannya: mereka yang berkuasa. Mereka yang membuat keputusan tapi tidak menanggung risikonya. Mereka yang duduk di balik meja rapat, membagi proyek, menetapkan harga, memotong anggaran, dan memberi sanksi, akan tetapi tetap nyaman dalam pelindung sosialnya. Mereka punya pengacara, koneksi, dan akses media. Bahkan, jika salah mereka bisa menyulap narasi. Ini bukan sekadar persoalan individu. Ini persoalan sistem dan struktur. Ketika kekuasaan tidak disertai dengan tanggung jawab moral, maka yang terjadi adalah penyalahgunaan. Dan rakyatlah yang sekali lagi mencium amisnya.
Dalam konteks ini, mencium amis menjadi bentuk kesaksian. Kita mungkin tidak punya kuasa untuk mengubah segalanya. Tapi kita punya hak untuk bersuara, untuk menolak menjadi korban diam, dan untuk berdiri bersama mereka yang selama ini dipaksa menanggung beban sendirian.
Opini ini bukan seruan revolusi. Ini hanya ajakan sederhana: mari kita mulai melihat bau amis itu bukan sekadar nasib, tapi sebagai akibat dari sesuatu yang seyogyanya bisa kita ubah. Dan perubahan itu dimulai saat kita menolak untuk terus mencium bau yang bukan milik kita; dan mulai meminta pertanggungjawaban dari mereka yang sesungguhnya makan ikannya. Memang tampaknya itu sulit, namun tidak ada kesulitan yang tidak ada jalan keluarnya. Salam waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Membantah Tidak Bisa, Membuktikan Tidak Bisa (Antara Kekosongan Argumen dan Ketidakpastian Kebenaran)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pagi itu cuaca sangat cerah, dan dari lantai lima gedung rektorat memandang ke segala arah tampak menghijau. Saat mau masuk ruang kerja, ternyata di kursi tunggu tamu sudah ada mahasiswa pasca yang menanti untuk konsultasi tugas akhir. Kami berbincang beberapa hal, terutama yang berkaitan dengan pembuktian statistik. Ternyata mahasiswa tadi merasa mendapat kesulitan dalam memaknai statistika sebagai alat bantu penelitian. Sampai pada titik tertentu yang bersangkutan berucap “Prof…saya ada pada posisi membantah tidak bisa, tetapi membuktikan juga tidak bisa”. Setelah diberi penjelasan panjang lebar yang bersangkutan memahami, dan mohon diri untuk melanjutkan menulis hasil penelitiannya.
Setelah yang bersangkutan undur diri ternyata ungkapan “membantah tidak bisa, membuktikan juga tidak bisa”; terlintas pada benak ini untuk ditelusuri lebih jauh dari konsep filsafat. Berbekal penelusuran digital ternyata ditemukan informasi bahwa ungkapan ini muncul sebagai refleksi mendalam atas kondisi manusia yang tidak selalu dapat menjangkau kepastian logis atau kebenaran mutlak dalam hidupnya.
Ungkapan ini mengandung persoalan filsafat yang serius: bagaimana manusia menghadapi realitas ketika argumentasi rasional gagal memberikan jawaban, dan pembuktian empiris tak mampu menyentuh inti persoalan. Sehingga sekelas menteri yang lulusan perguruan tinggi ternama di dunia, harus menerima kenyataan bahwa ketidaksalahan itulah menjadi salahnya. Akibatnya harus menanggung beban yang seharusnya bukan bebannya.
Manusia dalam filsafat tidak hanya dipahami sebagai entitas biologis, tetapi sebagai makhluk sadar yang hidup dengan kesadaran akan keberadaannya. Ia bertanya, merenung, dan berusaha menemukan makna dari segala yang ia alami. Namun kemampuan ini bukannya tanpa batas. Kesadaran manusia bersifat reflektif dan problematis, dan justru karena itu, ia sadar bahwa ada begitu banyak hal dalam hidup ini yang tak bisa dijelaskan secara pasti. Karena itu para filusuf sepakat bahwa hanya ketidakpastian itulah sebenarnya yang pasti.
Filsuf eksistensial seperti Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein, yakni “ada-di-dunia” yang tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga menafsirkan eksistensinya. Dasein tidak hidup dalam kepastian, tetapi dalam “kejatuhan” ke dalam dunia yang ambigu, tidak utuh, dan kerap membingungkan. Dalam situasi ini, manusia kerap dihadapkan pada berbagai pertanyaan yang tidak dapat dibuktikan secara rasional, tetapi juga tak bisa dibantah secara tuntas. Apakah hidup ini punya tujuan? Apakah cinta sejati itu nyata? Ini adalah contoh pertanyaan eksistensial yang menggambarkan batas antara apa yang bisa dibuktikan dan yang tidak.
Di era modern dan pascamodern, krisis kebenaran menjadi tema penting dalam filsafat manusia. Dalam konteks ini, pernyataan “membantah tidak bisa, membuktikan juga tidak bisa” mencerminkan kondisi epistemologis di mana manusia tidak memiliki dasar yang cukup kuat untuk menerima atau menolak suatu klaim. Kebenaran menjadi relatif terhadap sudut pandang dan pengalaman.
Michel Foucault bahkan menyatakan bahwa “kebenaran” sering kali adalah produk konstruksi kekuasaan; ia bukan sesuatu yang murni, tetapi dibentuk oleh relasi sosial dan politik. Pola seperti ini diera digital seperti saat ini, menunjukkan kebenarannya. Hal ini membuat manusia hidup dalam ketidakpastian epistemik; situasi dimana berbagai klaim hidup berdampingan tanpa satu pun bisa membuktikan keunggulannya secara absolut. Dalam konteks filsafat manusia, ini menggambarkan dilema eksistensial: manusia mencari kebenaran, tetapi ia harus menerima bahwa kebenaran itu sendiri bisa jadi tidak pernah dapat dicapai secara penuh.
Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap berhadapan dengan argumen-argumen yang tidak bisa dipecahkan secara logis. Dalam perdebatan, kita sering mendapati bahwa satu pihak mempertahankan keyakinannya tanpa bisa membuktikannya, sementara pihak lain tidak mampu membantahnya karena tidak ada dasar rasional yang cukup kuat untuk menyangkalnya.
Emmanuel Levinas, dalam pemikirannya tentang “yang lain”, menegaskan bahwa pengalaman manusia tidak selalu rasional. Pertemuan dengan sesama atau dengan peristiwa keilahian, sering kali tidak bisa dijelaskan, namun tetap meninggalkan jejak mendalam. Dalam pengalaman semacam ini, misteri menggantikan argumen, dan diam menjadi bahasa yang paling jujur. Levinas mengajak manusia untuk tidak menundukkan semua hal ke dalam kategori logika, karena ada aspek-aspek kehidupan yang tak terjangkau oleh rasio; namun tetap nyata dalam pengalaman eksistensial.
Albert Camus, dalam esainya “The Myth of Sisyphus”, menyatakan bahwa hidup itu absurd: manusia terus-menerus mencari makna dalam dunia yang tidak memberikan jawaban. Dalam absurditas ini, Camus melihat dilema utama manusia: apakah ia akan menyerah dan menjadi nihilistik, ataukah ia akan melawan absurditas dengan terus hidup dan menciptakan makna sendiri?. Dalam konteks “membantah tidak bisa, membuktikan juga tidak bisa”, absurditas tercermin dengan jelas. Manusia terus bertanya, tetapi jawaban-jawaban yang datang tak pernah memuaskan secara absolut. Maka pilihan yang tersisa adalah keberanian eksistensial: hidup meski tanpa jaminan, percaya meski tanpa bukti, mencintai meski tak bisa dibuktikan cinta itu benar.
Camus menyarankan untuk “membayangkan Sisyphus bahagia”; yakni membayangkan manusia yang menerima keterbatasannya, namun tetap setia menjalani hidup dengan keberanian dan integritas. Dalam filsafat manusia, ini disebut otentisitas eksistensial: ketika seseorang menjalani hidupnya secara jujur dan sadar, walau tahu bahwa banyak hal tak bisa dipastikan atau dipahami sepenuhnya.
Ketidakmampuan untuk membuktikan atau membantah juga memiliki dampak pada bagaimana manusia hidup secara etis dan spiritual. Dalam filsafat manusia, etika tidak hanya berdasar pada aturan eksternal, tetapi juga pada tanggung jawab eksistensial. Jean-Paul Sartre menyatakan bahwa manusia bebas, dan karena itu bertanggung jawab atas semua pilihannya. Namun dalam dunia yang tidak bisa menjanjikan kebenaran mutlak, etika menjadi pilihan yang muncul dari kedalaman kesadaran, bukan dari bukti logis.
Seseorang mungkin tidak bisa membuktikan bahwa berbuat baik adalah benar secara universal, tetapi ia tetap memilih berbuat baik karena menyadari tanggung jawabnya sebagai manusia yang hidup bersama sesama. Begitu pula dalam spiritualitas. Banyak keyakinan spiritual yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, namun juga tak bisa dibantah secara meyakinkan. Dalam hal ini, iman menjadi bentuk keberanian eksistensial: bukan ketakutan buta, tetapi keputusan sadar untuk mempercayai sesuatu yang tak bisa dibuktikan, namun tetap bermakna. Dalam teologi eksistensial, seperti yang dikemukakan oleh Paul Tillich, iman adalah “keberanian untuk menerima kenyataan bahwa kita tidak tahu.”
Ungkapan “membantah tidak bisa, membuktikan juga tidak bisa” bukanlah bentuk skeptisisme pasif, melainkan cermin dari realitas eksistensial manusia. Ia mengungkap bahwa hidup manusia bukan semata-mata ruang logika dan rasionalitas, tetapi juga ruang misteri, pengalaman, dan makna yang tidak selalu dapat dijelaskan. Oleh sebab itu situasi ini mengajak kita untuk berdamai dengan keterbatasan kita.
Manusia adalah makhluk yang berdiri di tepi jurang ketidakpastian, namun memilih untuk menyeberang dengan harapan, bukan dengan kepastian. Dalam ruang antara “tidak bisa membantah” dan “tidak bisa membuktikan” itulah, manusia menemukan ruang untuk beriman, mencintai, berharap, dan bertindak dengan keberanian. Agama mengajarkan menghadapi situasi seperti ini hanya dengan konsep tawakal. Dan, disinilah letak kemanusiaan yang paling mendalam sebagai manusia. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Universitas Malahayati Sambut Hangat Mahasiswa Universitas Cyberjaya Malaysia dalam Program Student Mobility EPCA 2025
Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dessy, S.Kep., Ns., M.Kes., menyampaikan rasa bangga dan antusiasme atas kedatangan para mahasiswa dari Malaysia. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya nyata Universitas Malahayati dalam mendukung kolaborasi global di bidang pendidikan dan kesehatan.
Rangkaian program EPCA 2025 mencakup kegiatan elective posting dan clinical attachment di RS Bintang Amin serta pengabdian kepada masyarakat (community service) di desa binaan Universitas Malahayati yang berada di Kabupaten Tanggamus. Program ini memberikan kesempatan berharga bagi para mahasiswa untuk merasakan langsung praktik kedokteran di Indonesia sekaligus berinteraksi dengan masyarakat lokal.
“Atas nama Universitas Cyberjaya, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rektor dan seluruh jajaran Universitas Malahayati serta RS Bintang Amin atas sambutan yang luar biasa. Program ini sangat bermakna, tidak hanya dalam aspek akademik dan klinis, tetapi juga dalam menjalin persahabatan antarbangsa,” ungkapnya.
Mdm. Mathura juga menambahkan bahwa pihaknya berharap kunjungan ini akan dibalas oleh delegasi dari Universitas Malahayati ke kampus mereka di Malaysia sebagai bagian dari pertukaran yang berkesinambungan. “Kami menantikan peluang baru untuk memperkuat kerja sama ini di masa mendatang,” tambahnya.
Kegiatan ini tidak hanya memperluas cakrawala akademik mahasiswa, tetapi juga memperkuat reputasi Universitas Malahayati sebagai institusi pendidikan tinggi yang aktif dan terbuka terhadap kolaborasi internasional. Kehadiran mahasiswa dari Universitas Cyberjaya menjadi wujud nyata dari semangat global partnership dalam pendidikan kedokteran yang semakin kuat.
Dengan penuh semangat, Universitas Malahayati menyatakan kesiapan untuk terus mendukung dan mengembangkan berbagai program internasional serupa di masa depan. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Mahasiswa Farmasi Universitas Malahayati Raih Bronze Medal di Kejuaraan Internasional Karate di Malaysia
Dini tampil memukau di Kategori Female Individual Kata Senior, mengungguli sejumlah pesaing dari berbagai negara Asia yang turut berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Kejuaraan yang rutin digelar setiap tahun ini merupakan salah satu turnamen karate internasional yang prestisius, menjadi wadah bagi para atlet muda untuk unjuk gigi di level dunia.
Dini Maharani mengungkapkan rasa syukur dan bangganya.“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa membawa pulang medali untuk Indonesia dan tentu saja untuk Universitas Malahayati. Perjuangan ini tidak mudah, tetapi kerja keras dan doa akhirnya membuahkan hasil,” ujarnya dengan penuh semangat.
Tak hanya itu, Dini juga menyampaikan motivasi bagi rekan-rekan mahasiswa yang sedang menempuh studi dan juga memiliki passion di bidang non-akademik.
“Jangan pernah ragu untuk mengejar dua hal sekaligus—prestasi akademik dan minat bakat di luar kampus. Keduanya bisa berjalan berdampingan asal kita mau disiplin dan konsisten. Kegagalan adalah bagian dari proses, tapi jangan biarkan itu menghentikan langkahmu,” tuturnya memberi semangat.
Keikutsertaan Dini Maharani dalam ajang internasional ini tidak hanya membawa nama Universitas Malahayati, tetapi juga mengharumkan nama Indonesia di pentas olahraga dunia. Dengan semangat dan tekad kuat, Dini telah menjadi inspirasi bahwa mahasiswa bisa berkontribusi dalam mengangkat citra bangsa melalui prestasi nyata.
Universitas Malahayati mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dini Maharani atas pencapaiannya. Semoga keberhasilan ini menjadi pemicu lahirnya lebih banyak lagi prestasi dari mahasiswa Universitas Malahayati di masa mendatang, baik di tingkat nasional maupun internasional. Maju terus mahasiswa Malahayati! Prestasimu adalah kebanggaan kami! (gil)
Editor: Gilang Agusman
Prodi Akuntansi Universitas Malahayati Kunjungi PT Anindya Mitra Internasional Yogyakarta, Gali Pengalaman Nyata Akuntansi Biaya di Dunia Industri
Para dosen pendamping dalam kegiatan ini adalah: Muhammad Lutfi, S.E., M.Si (Ketua Prodi Akuntansi), Apip Alansori, S.E., M.Ak., CAPM, Hardini Ariningrum, S.E., M.Ak., CFRS, Eka Sariningsih, S.E., M.S.Ak, Kusnadi, S.E., M.Si, Iing Lukman, Ph.D.
Kunjungan tersebut disambut hangat oleh jajaran manajemen PT Anindya Mitra Internasional, sebuah perusahaan yang dikenal luas di bidang jasa inspeksi, verifikasi, dan sertifikasi, khususnya pada sektor migas, energi, manufaktur, pertambangan, serta industri lainnya. Lokasi perusahaan yang beralamat di Jl. Gedongkuning No. 4, Wonocatur, Banguntapan, Kabupaten Bantul, DIY menjadi tempat berlangsungnya kegiatan yang sarat akan pengetahuan ini.
Materi disampaikan dengan pendekatan praktis yang membuka cakrawala mahasiswa tentang bagaimana teori akuntansi biaya diterjemahkan ke dalam praktik nyata di dunia industri. Mahasiswa tampak antusias mengikuti sesi ini, yang dilanjutkan dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab. Tidak sedikit dari mereka yang mengajukan pertanyaan kritis terkait prosedur pelaporan, efisiensi biaya, hingga tantangan audit dalam perusahaan jasa seperti PT Anindya Mitra Internasional.
1. Memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai pelaporan akuntansi biaya di industri nyata.
2. Meningkatkan pemahaman aplikatif terhadap teori akuntansi yang dipelajari di kampus.
3. Mendorong kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja yang dinamis dan penuh tantangan.
4. Membangun jejaring kerja sama antara kampus dengan dunia industri.
5. Mendorong interaksi aktif antara akademisi dan praktisi untuk membangun perspektif yang komprehensif tentang praktik akuntansi di lapangan.
Sebagai perusahaan nasional yang telah berdiri lebih dari dua dekade, PT Anindya Mitra Internasional memiliki reputasi kuat dalam menyediakan layanan pengujian mutu, kuantitas, hingga pelaporan teknis. Perusahaan ini berkomitmen pada integritas, profesionalisme, dan penerapan standar internasional dalam setiap layanannya, menjadikannya mitra terpercaya bagi berbagai perusahaan industri di Indonesia.
Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa Universitas Malahayati terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, tidak hanya melalui teori, namun juga melalui sentuhan langsung dengan praktik profesional di lapangan. Mahasiswa pun kembali ke kampus dengan membawa wawasan baru, semangat belajar yang lebih tinggi, serta kesiapan yang lebih matang untuk berkiprah di dunia profesional. (gil)
Editor: Gilang Agusman
Sungai Itu Berrnama Musi
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Tulisan ini dibuat saat menghadiri satu reuni lembaga pendidikan tempat penulis empat puluh lima tahun lalu mengabdi. Undangan dihadiri oleh murid-murid saat itu yang sekarang sudah pensiun seperti gurunya. Mereka gegap gempita mengundang dan menyambut gurunya yang sudah renta dan banyak yang sudah tiada. Acara diadakan ditepian Sungai Musi, sungai terbesar yang membelah Kota empek-empek ini. Beberapa puluh tahun lalu tepian sungainya kumuh, tempat berjualan pisang dan sebagainya, yang datang dari daerah-daerah penyanggah. Namun, kini daerah itu menjadi wilayah yang memiliki daya tarik wisata luar biasa. Oleh pemerintah kota daerah ini disulap sedemikian rupa menjadi indah, apalagi dimalam hari. Hanya sayangnya penamaannya menghilangkan unsur local, justru yang ditonjolkan nama asing. Mungkin maksud sipemberi nama agar menjadi “Go Internasional”. Itu sah-sah saja, apalagi semenjak Bandar Udara dikembalikan status Internasional, maka diharapkan turis manca negara akan datang ke sana. Sambil menikmati acara dan syahdunya malam, terbersit dalam pikiran betapa indahnya jika keindahan ini juga dinikmati oleh kalbu filsafat. Untuk itu penulis mencoba menembusnya dari sana.
Sungai Musi yang mengalir tenang membelah kota ini, membawa sejarah, budaya, kehidupan, dan kenangan masyarakat yang menggantungkan hidup padanya. Namun sungai bukan hanya aliran air yang memenuhi fungsi biologis atau ekologis. Dari sudut pandang filsafat manusia, sungai adalah simbol eksistensi, arus waktu, dan cermin relasi manusia dengan alam dan dirinya sendiri.
Filsafat eksistensialisme, memandang manusia sebagai makhluk yang “dilempar” ke dunia tanpa pilihan, lalu ditantang untuk memberi makna pada hidupnya melalui tindakan dan kesadarannya. Begitu pula dengan Sungai Musi. Ia ada, mengalir tanpa permisi, menjadi bagian tak terelakkan dari eksistensi masyarakat Palembang. Keberadaannya bukan hasil pilihan manusia, tetapi suatu fakta yang harus dihadapi dan dijalani. Sungai Musi adalah “ada” dalam bentuk paling nyata: tak terelakkan, memberi kehidupan, sekaligus bisa menjadi sumber malapetaka bila manusia tak menghargai keberadaannya. Sungai Musi bukan hanya “ada” dalam pengertian fisik. Ia juga hadir dalam kesadaran manusia. Ia menjadi tempat beraktivitas, tempat mencari nafkah, tempat menyatu dengan alam, bahkan menjadi bagian dari identitas kultural. Dalam hal ini, Sungai Musi adalah titik temu antara eksistensi alam dan eksistensi manusia. Ia menjadi medan pencarian makna.
Ketika manusia memandang Sungai Musi dan merenungi keberadaannya, sesungguhnya ia sedang memandang dirinya sendiri. Mengapa kita ada, Untuk apa kita hidup, Ke mana kita akan mengalir seperti sungai itu. Pertanyaan-pertanyaan eksistensial itu mengalir bersama arus Musi, membawa manusia untuk merefleksikan hakikat keberadaannya di dunia ini.
Seorang fenomenolog mengajarkan pentingnya “kembali kepada benda itu sendiri”; maknanya, kita harus menyadari pengalaman-pengalaman kita sebagaimana adanya, tanpa prasangka atau bias. Dalam konteks ini, bagaimana kita menatap Sungai Musi? Apakah kita hanya melihatnya sebagai objek fisik yang mengalir dari hulu ke hilir, ataukah kita merasakannya sebagai bagian dari pengalaman hidup yang penuh makna.
Bagi nelayan yang menggantungkan hidup dari sungai, Musi bukan sekadar aliran air. Ia adalah mitra hidup, ruang kerja, tempat harapan dan kecemasan bertemu. Bagi anak-anak yang bermain di tepian sungai, Musi adalah taman bermain, dunia petualangan. Bagi para tetua yang memandang dari jendela rumah panggung, sungai adalah memori, tempat kenangan masa muda mengendap di dasar airnya.
Fenomenologi mengajak kita untuk menghargai dimensi subyektif dari pengalaman manusia dengan Sungai Musi. Ia bukan hanya fenomena alam, tetapi juga fenomena kesadaran. Dalam dirinya, terkandung aroma pagi yang lembab, suara percikan air dayung, sorot mata nelayan yang mengintip rejeki, serta nyanyian biduk-biduk yang melaju pelan.
Setiap pengalaman dengan Sungai Musi adalah pengalaman eksistensial yang utuh, yang tak bisa direduksi menjadi data ilmiah semata. Ia adalah pengalaman tubuh, rasa, dan jiwa. Ia menyentuh kita bukan hanya lewat pandangan mata, tetapi melalui pengalaman yang dihidupi. Sungai Musi terus mengalir. Tidak pernah diam. Dalam filsafat Herakleitos, sang filsuf Yunani Kuno, sungai adalah simbol dari ketidaktetapan. “Kita tidak bisa masuk ke sungai yang sama dua kali,” katanya, karena air yang mengalir akan selalu berbeda.
Sungai Musi pun demikian. Air yang kita lihat pagi ini bukan lagi air yang sama saat senja. Di dalam arusnya, Musi menyimpan kesadaran tentang waktu yang memberi penanda bahwa segala sesuatu mengalir, berubah, dan tak kekal. Kesadaran ini penting dalam filsafat manusia, terutama dalam menyadari keterbatasan hidup. Bahwa manusia, seperti sungai, mengalir dari kelahiran menuju kematian. Bahwa setiap hari yang kita lewati adalah satu gerakan dalam arus waktu yang tak bisa diulang. Bahwa kesementaraan hidup adalah hakikat, bukan kelemahan.
Namun, dalam arus itu pula terdapat harapan. Karena seperti sungai yang terus mengalir dan memberi kehidupan, manusia pun bisa terus bergerak, mencipta makna baru, dan menyuburkan kehidupan di sepanjang alirannya. Dengan memahami Sungai Musi sebagai simbol waktu, kita diajak untuk tidak lengah; bahwa hidup adalah perjalanan yang mesti dijalani dengan kesadaran penuh.
Bagi orang Palembang, Musi bukan hanya sungai semata, karena dia juga adalah identitas. Dalam dialek lokal, dalam makanan khas, dalam rumah-rumah panggung di tepinya, Musi hadir sebagai roh kehidupan. Jembatan Ampera yang membelahnya bukan hanya infrastruktur, tetapi simbol persatuan dua sisi kota yang berbeda, layaknya relasi manusia yang harus dipersatukan oleh nilai-nilai.
Dalam sejarah, Musi adalah nadi Kerajaan Sriwijaya, pusat perdagangan maritim, tempat bertemunya budaya, bahasa, dan agama. Menafsirkan Sungai Musi adalah menafsirkan akar peradaban nusantara yang terbuka dan kosmopolit.
Sungai Musi. Ia mengalir tanpa banyak bicara, tetapi menyimpan sejuta kisah dan makna. Dari sudut pandang filsafat manusia, Musi adalah guru yang tidak pernah berhenti mengajarkan tentang eksistensi, waktu, makna, etika, dan spiritualitas. Di tengah dunia yang makin tergesa, Musi mengajak kita untuk berhenti sejenak di tepinya, merenung, dan bertanya: apakah kita masih menjadi manusia yang mampu menyatu dengan alam? Ataukah kita telah tercerabut dari akar eksistensi kita?, mari kita jawab dengan jujur dan tidak harus bertanya pada rumput yang bergoyang. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Menambal Langit Menguras Lautan
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Pada saat melakukan perjalanan singkat ke pusat Kerajaan Sriwijaya, melalui jalan bebas hambatan, dari kejauhan tampak spektrum langit yang melengkung membentuk cakrawala. Cuaca pagi yang cerah dan indah itu, tampak di atas sana ada awan berarak. Dan, para petani membaca tanda langit seperti itu musim kemarau sudah tiba. Namun kenyataannya setiap sore hujan turun, terkadang sangat deras. Orang Jawa bilang kondisi seperti ini disebut “salah mongso” atau terjemahan bebasnya salah masa. Semua ini terjadi diyakini akibat ulah manusia, karena ingin “Menambal langit, menguras lautan”.
Tampak sekilas dua pekerjaan itu mustahil dilakukan dalam arti harfiah. Namun jika memaknainya dari konsep pandang filsafat manusia, hal itu jadi berbeda maknanya.
Di zaman modern ini, manusia seperti sedang sibuk menambal langit dan menguras lautan. Maksudnya kita ingin memperbaiki segala hal yang menurut kita rusak, termasuk mengendalikan cuaca, mengatur atmosfer, memantau langit dengan satelit; sekaligus terus mengambil hasil laut, menggali kekayaan alam, dan mencemari samudra. Dua tindakan ini bukan sekadar soal teknologi dan ekologi. Bagi kita sebagai umat Islam, ini mencerminkan kondisi ruhani manusia yang sedang sakit: tidak sabar, los kontrol, dan kehilangan arah.
Hari ini kita hidup di dunia yang begitu “sibuk”. Kita sibuk menambal langit; dengan proyek geo-engineering, satelit, sistem pemantauan iklim global, seolah langit tak lagi suci, tapi rusak dan harus diperbaiki. Di waktu yang sama, kita menguras lautan dengan cara memanen kekayaan samudra tanpa batas, mengebor dasar laut, dan membuang limbah ke perairan yang dulu kita muliakan.
Bagi para filsuf Muslim modern, ini bukan sekadar masalah ekologi. Ini adalah cermin dari krisis peradaban dari manusia yang sudah melupakan tempatnya dalam tatanan kosmik. Dunia yang rusak adalah akibat dari kerusakan makna, dari manusia yang tak lagi melihat alam sebagai ayat atau tanda dari Tuhan, akan tetapi sekadar objek eksploitasi.
Menurut Seyyed Hossein Nasr, filsuf Islam kontemporer asal Iran, kerusakan ekologi modern adalah krisis sakralitas. Kita sudah tidak lagi melihat alam sebagai sesuatu yang suci. Alam yang tadinya memiliki makna spiritual telah direduksi menjadi objek sains dan ekonomi. Langit yang dahulu mengingatkan manusia pada keagungan Tuhan kini dianggap sebagai ruang kosong yang bisa ditambal sesuka hati. Lautan yang dahulu disucikan karena menjadi asal kehidupan, kini diperlakukan seperti lubang tak berdasar yang bisa dikuras.
Dalam kosmologi tradisional Islam, segala sesuatu memiliki maqam (tingkatan) dan hakikat (realitas batiniah). Manusia adalah khalifah, bukan pemilik absolut bumi. Ketika manusia menyalahgunakan perannya, ia merusak tatanan kosmik yang telah diciptakan Allah secara sempurna.
Menambal langit dan menguras lautan adalah bentuk dari “fitnah ilmu tanpa adab”. Ilmu pengetahuan dikembangkan tanpa panduan maknawi. Hasilnya adalah eksploitasi atas ciptaan Tuhan demi kepentingan manusia semata. Filsuf Islam klasik seperti Mulla Sadra bahkan menekankan bahwa wujud itu bergradasi (tashkik al-wujud). Artinya, langit dan laut bukan benda mati, tapi bagian dari struktur wujud yang hidup dan memiliki kesadaran tersendiri dalam tingkatnya. Dalam pandangan ini, ketika manusia menyakiti langit dan laut, ia sejatinya menyakiti bagian dari jiwanya sendiri, karena seluruh alam adalah cermin dari manusia sebagai mikrokosmos.
Salah satu ciri manusia modern adalah kesombongan epistemologis. Kita yakin semua hal bisa dikendalikan dan diukur. Langit bisa ditambal dengan sains. Lautan bisa dikuras dengan teknologi. Tetapi kita lupa bahwa ada batas-batas spiritual dan etis yang tak bisa ditembus hanya dengan rasionalitas. Pemikiran filsafat Islam kontemporer mengajak kita untuk mengembalikan kesadaran sakral. Artinya, kita tidak hanya bertanya: “Apa yang bisa kita eksploitasi dari langit dan laut” tetapi juga, “Apa makna langit dan laut dalam hidup kita sebagai makhluk Tuhan”
“Menambal langit” dan “menguras lautan” adalah metafora tentang krisis arah hidup manusia modern. Kita mencoba menutupi apa yang sebenarnya harus kita renungi. Kita menguras karena kita kehilangan rasa cukup. Filsafat Islam kontemporer menawarkan solusi dengan cara mengembalikan makna hidup kepada Tuhan. Hanya dengan itu, langit bisa kembali terbuka sebagai tanda keagungan, dan laut bisa tetap dalam sebagai tempat kehidupan. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh al-Akbar Ibn Arabi: “Alam ini adalah Al-Qur’an terbuka. Barangsiapa tidak membacanya dengan hatinya, maka ia akan merusaknya dengan tangannya.” Oleh sebab itu manusia harus kembali belajar membaca langit dan laut, bukan hanya dengan data, akan tetapi juga dengan hikmah. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Katakan “Cukup”
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung
–
Menyimak diksi yang keluar dari mulut seorang mantan Menteri Luar Negeri negeri ini, yang kebetulan seorang wanita, saat ditanya reporter dalam satu acara mengenai apa lagi yang akan dilakukan setelah tidak menjadi menteri. Beliau menjawab “Cukup”. Dan, diksi ini mengandung makna yang sangat dalam bagi mereka penggemar pengkaji filsafat, terutama filsafat manusia. jika kita kaji secara mendalam diksi cukup, bukan sekedar mewakili keberhentian dari suatu perjalanan. Namun, diksi ini memiliki maknawi yang sangat mendalam. Berbekal literature digital dan konvensional, maka kajian ini dapat kita dedah sebagai berikut.
Manusia adalah makhluk yang memiliki hasrat tak terbatas di dalam dunia yang terbatas. Hasrat untuk memiliki, mengetahui, menguasai, dan bahkan menaklukkan, merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk berkesadaran. Di tengah derasnya arus konsumsi, materialisme, dan kemajuan teknologi, manusia sering terperangkap dalam ilusi bahwa kebahagiaan terletak pada akumulasi: semakin banyak, semakin baik. Namun, di balik semangat untuk memiliki lebih, muncul pertanyaan mendalam dari ranah filsafat manusia: kapankah kita akan berkata “cukup”.
Ungkapan “katakan cukup” bukan hanya seruan moral atau sosial, tetapi menyentuh akar terdalam eksistensi manusia. Ia menantang ego, kehendak, dan bahkan konsep makna hidup itu sendiri. Dalam filsafat manusia, tema ini menyentuh batas-batas eksistensial yang menghubungkan antara kebebasan, tanggung jawab, dan kesadaran diri.
Filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Friedrich Nietzsche menekankan bahwa manusia adalah makhluk kehendak. Sartre menyatakan bahwa “eksistensi mendahului esensi”, artinya manusia membentuk dirinya sendiri melalui pilihan-pilihan yang diambil. Namun, di balik kebebasan memilih itu, tersimpan paradox, yaitu: semakin banyak pilihan, semakin sulit manusia berkata cukup.
Pada masyarakat modern, pilihan hidup tampak tak terbatas; dari makanan, pekerjaan, hingga identitas sosial. Akibatnya, manusia mudah terjebak dalam kebingungan eksistensial. Ketika kehendak tidak dibatasi oleh kesadaran akan “cukup”, manusia jatuh dalam absurditas, sebagaimana digambarkan oleh Albert Camus dalam “The Myth of Sisyphus”. Manusia menjadi seperti Sisyphus: terus mendorong batu ke atas gunung, hanya untuk melihatnya jatuh kembali. Oleh sebab itu, berkata “cukup” adalah tindakan sadar untuk membatasi kehendak. Ia bukan bentuk kekalahan, melainkan kemenangan atas hasrat yang menguasai. Dengan berkata cukup, manusia merebut kembali kendali atas dirinya dan memasuki wilayah kebijaksanaan.
Sedangkan dalam filsafat moral, pertanyaan tentang “cukup” menyentuh pada keadilan dan tanggung jawab sosial. Ketika seseorang memiliki lebih dari yang dibutuhkan, sementara yang lain kekurangan, maka akumulasi menjadi bentuk ketidakadilan. Filsuf seperti Emmanuel Levinas menekankan pentingnya wajah orang lain sebagai panggilan etis bagi kita. Kehadiran yang lain menuntut kita untuk membatasi diri, untuk berkata cukup. Oleh sebab itu dalam konteks ini, “cukup” menjadi wujud kepekaan etis terhadap dunia. Ia menolak kerakusan dan mendorong distribusi yang adil. Dalam dunia yang dilanda krisis ekologis dan kesenjangan sosial yang akut, “cukup” adalah seruan revolusioner. Ia bukan sekadar ajakan untuk hidup sederhana, tetapi panggilan untuk bertindak secara bertanggung jawab.
Filsuf Epictetus dan Seneca bahkan lebih tegas berkata bahwa: kebahagiaan sejati lahir dari penguasaan diri. Mereka percaya bahwa orang yang mampu berkata cukup adalah orang yang paling merdeka. Kekayaan tidak menjamin kebebasan; pengendalian hasratlah yang membawa ketenangan batin. Dengan demikian, “cukup” bukan kekurangan, tetapi kekuatan batin yang luhur.
Manusia, meskipun memiliki kehendak dan akal budi, tetaplah makhluk yang terbatas. Ia tidak abadi, tidak mahakuasa, dan tidak serba tahu. Namun, modernitas sering membangun narasi bahwa manusia bisa melampaui batas-batas ini: hidup lebih lama, lebih pintar, lebih cepat, lebih kaya. Transhumanisme bahkan bercita-cita menghapus kematian. Tetapi di balik semua ini, muncul pertanyaan eksistensial: apakah hidup tanpa batas itu benar-benar hidup manusiawi. Pertanyaan besar ini belum terjawabkan sampai tulisan ini diluncurkan.
Martin Heidegger dalam Being and Time berbicara tentang konsep “menjadi menu menuju kematian.” Artinya, kesadaran akan kematian memberi makna pada hidup. Justru karena hidup terbatas, maka ia berarti. Maka berkata cukup adalah bentuk penerimaan akan kefanaan. Itu bukan sikap pasif, tetapi keberanian untuk mengakui batas dan hidup secara otentik dalam bingkai batas itu. Oleh sebab itu “Cukup” dalam konteks ini adalah pengakuan akan kemanusiaan kita. Kita tidak bisa memiliki segalanya, tidak bisa menjadi segalanya. Dan itu tidak masalah. Karena makna hidup tidak terletak pada banyaknya hal yang kita capai, tetapi pada cara kita hidup dan mencintai di tengah keterbatasan itu. “Cukup” adalah jembatan menuju kontemplasi. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu dikejar. Ada kebahagiaan dalam diam, dalam keberadaan itu sendiri. Ketika manusia mampu berkata cukup, ia tidak hanya menguasai dunia, tetapi juga menguasai dirinya.
Pada budaya kontemporer yang dibentuk oleh logika pasar dan konsumsi. Dari iklan, media sosial, hingga budaya kerja, semuanya mendorong manusia untuk merasa kurang, untuk terus membeli, bekerja, dan berprestasi. Dalam kondisi ini, “cukup” dianggap sebagai tindakan subversif. Ketika seseorang berkata cukup terhadap jam kerja yang tidak manusiawi, ia sedang memperjuangkan martabat. Ketika seseorang berkata cukup terhadap gaya hidup konsumtif, ia sedang menyatakan nilai-nilai alternatif. Dalam masyarakat yang terus meneriakkan “lebih, lebih, lebih”, berkata cukup adalah bentuk perlawanan budaya.
Filsafat manusia mengajarkan bahwa kita tidak hidup sebagai individu terpisah, tetapi sebagai bagian dari komunitas. Oleh karena itu, pilihan untuk berkata cukup juga berdampak sosial. Ia bisa menjadi gerakan bersama untuk menata ulang nilai-nilai hidup kita: dari kompetisi ke kolaborasi, dari keserakahan ke kepedulian.
Banyak diantara kita mengira bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk memilih tanpa batas. Namun, kebebasan sejati bukanlah terletak pada jumlah pilihan, tetapi pada kemampuan untuk mengatakan tidak. Dalam hal ini, berkata cukup adalah bentuk tertinggi dari kebebasan. Manusia yang mampu berkata cukup adalah manusia yang bebas dari ketergantungan, dari ilusi, dari dorongan eksternal. Ia telah sampai pada titik di mana makna hidup tidak lagi ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh siapa ia menjadi. Di sinilah letak kedewasaan eksistensial.
Dalam dunia yang bergerak cepat seperti saat ini, di mana keserakahan dirayakan dan kesederhanaan diabaikan, berkata cukup adalah tindakan radikal. Ia adalah bentuk kejujuran terdalam terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, dan terhadap dunia. Ia bukan pengingkaran terhadap potensi manusia, tetapi pengakuan bahwa potensi itu mesti dijalankan dalam batas-batas yang manusiawi. Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang paling manusiawi bukanlah “apa lagi yang bisa saya dapatkan”, tetapi “apa yang benar-benar penting untuk saya jaga” Dan di sanalah, di tengah kesadaran itu, kita mungkin akan menemukan bahwa hidup ini, dengan segala keterbatasannya, sudah cukup. Salam Waras (SJ)
Editor: Gilang Agusman
Qori Ramadani Suryani Raih Juara 1 Pencak Silat POMPROV Lampung 2025, Siap Melaju ke POMNAS
Kejuaraan bergengsi antar mahasiswa se-Provinsi Lampung ini menjadi ajang pembuktian kemampuan dan ketangguhan Qori di atas gelanggang. Dengan teknik yang matang dan semangat juang yang tinggi, ia berhasil mengalahkan para pesaingnya dan berdiri di podium tertinggi.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan dan kemenangan ini. Terima kasih kepada keluarga, para dosen, teman-teman, sahabat, dan terutama pelatih saya yang selalu mendukung dan membimbing dengan penuh kesabaran. Kemenangan ini bukan hanya milik saya, tetapi milik kita semua,” ungkap Qori penuh haru.
Tak berhenti di sini, kemenangan ini juga mengantarkan Qori untuk melaju ke ajang yang lebih tinggi, yaitu Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) yang akan datang. Sebuah kesempatan emas yang akan ia manfaatkan dengan maksimal.
“Saya akan berlatih lebih giat dan terus berdoa tanpa henti agar bisa memberikan hasil terbaik di POMNAS nanti. Ini adalah awal dari perjuangan yang lebih besar,” tambahnya penuh semangat.
Qori juga membagikan pesan inspiratif untuk semua mahasiswa dan pejuang olahraga:
“Untuk kalian yang sedang berjuang, jangan pernah menyerah. Untuk kalian yang belum berhasil, percayalah itu bukan akhir. Dan untuk kalian yang sudah menjadi juara, tetaplah rendah hati dan terus berlatih. Jangan mudah puas. Lawan rasa takutmu dan lanjutkan perjuanganmu.”
Capaian Qori ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga mampu bersinar di kancah olahraga. Prestasi ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kampus dan menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berkembang dan berprestasi.
Selamat kepada Qori Ramadani Suryani atas pencapaian luar biasa ini. Semoga sukses dan kemenangan senantiasa menyertai di setiap langkah ke depan! (gil)
Editor: Gilang Agusman