Sinergi KKL-PPM Unmal dan Pemkot Metro, Dorong Program Berdampak dan Solutif

 

Metro ( malahayati.ac.id ) – Tim KKL-PPM Universitas Malahayati (Unmal) menghadiri undangan resmi Pemerintah Kota Metro dalam rangka sinergi dan koordinasi pelaksanaan program KKL-PPM, Kamis (30/4/2026) pukul 13.00 WIB, bertempat di Kantor Walikota Metro.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Metro, Helmy Zain, A.TD., M.T., serta dihadiri oleh sejumlah camat, kepala dinas, dan perwakilan Kepolisian serta Satpol PP.

Dalam sambutan pembuka, Ketua KKL-PPM Unmal, Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ns., M.Kep., menyampaikan bahwa pelaksanaan KKL Unmal akan berlangsung pada 13 Juli hingga 20 Agustus 2026. Ia menegaskan pentingnya arahan dan bimbingan dari pemerintah daerah agar mahasiswa dan dosen pembimbing lapangan dapat menjalankan program secara optimal di Kota Metro.

Sementara itu, Ketua LPPM Unmal, Prof. Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa program KKL tahun ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga mengarah pada pendekatan problem solving sebagai solusi atas berbagai permasalahan di masyarakat.

Hal senada disampaikan oleh Koordinator Program KKL-PPM Unmal, Dr. Febrianty, S.E., M.Si., yang mengungkapkan bahwa tema KKL tahun ini adalah “GREGET PPM BERDAMPAK: Gerak Revolusioner Keilmuan dan Generasi Tangguh untuk Transformasi Masyarakat yang Berkelanjutan.” Melalui tema tersebut, mahasiswa didorong untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam memecahkan persoalan nyata di perkotaan secara sistematis, serta menghadirkan program yang solutif dan aplikatif.

Dalam sesi diskusi, Koordinator Humas dan Perizinan KKL-PPM Unmal, Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H., mengajukan pertanyaan terkait akses transportasi saat proses pelepasan dan penarikan mahasiswa di seluruh kecamatan, serta memastikan ketersediaan tempat tinggal yang aman dan kondusif bagi peserta.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Dr. Agus Muhammad Septiana, S.I.P., M.H., turut memberikan sejumlah arahan strategis. Ia menyoroti pentingnya metode edukasi yang efektif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pengelolaan sampah guna mencegah banjir. Selain itu, ia juga mendorong optimalisasi program digital marketing untuk mendukung pengembangan UMKM di Kota Metro agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Tak kalah penting, ia menekankan perlunya pendekatan pendidikan karakter, khususnya dalam merespons fenomena perilaku menyimpang di kalangan remaja.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Wakil KKL-PPM Unmal, Arif Setia Jaya, S.T., M.Si., menyampaikan bahwa seluruh program yang dirancang tidak akan terlepas dari arah kebijakan RPJMD Kota Metro. Dengan demikian, program KKL-PPM diharapkan mampu bersinergi dan berkontribusi langsung terhadap pembangunan daerah. Sejalan dengan itu, Bu Dr. Devi Kurniasari, M.Kes., selaku Koordinator Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) menyarankan agar dalam persiapan sebelum KKL – PPM Unmal dilakasanakan akan lebih baik kita semua bisa memetakan permasalahan di tiap kecamatan kota Metor agar apapun program-program yang dicanangkan mahasiswa dengan bimbingan dosennya dapat sesuai harapan dan tujuan kota Metro.

Pada sesi penutup, Helmy Zain menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi berkelanjutan antar seluruh pihak. Ia berharap program KKL-PPM Unmal dapat berjalan dengan metode yang efektif, aplikatif, serta memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat Kota Metro.

Kegiatan ini menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah, demi menghadirkan program pengabdian masyarakat yang tidak hanya berjalan, tetapi juga meninggalkan jejak perubahan yang nyata.

Penulis:
Satria Wijaya, S.Pd., M.Pd.
Aditia Arief Firmanto, S.H., M.H.

Editor:
Chandra fz

Dialektika Kekuasaan di Nusantara (Perspektif Filsafat Sosial)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Sejarah Nusantara memperlihatkan bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang tetap dan final, melainkan selalu berada dalam proses menjadi. Ia dibentuk, dipertahankan, ditantang, dan diubah melalui relasi sosial yang dinamis. Dari masa Kerajaan Sriwijaya hingga Kerajaan Majapahit, dan berlanjut pada Indonesia modern pasca Reformasi 1998, tampak bahwa konflik internal bukan sekadar penyimpangan, melainkan bagian inheren dari struktur kekuasaan itu sendiri. Dalam kerangka filsafat sosial, fenomena ini dapat dipahami melalui pendekatan dialektika, yang melihat sejarah sebagai hasil dari pertentangan yang terus-menerus antara kekuatan-kekuatan sosial yang ada.

Pendekatan dialektika, terutama dalam tradisi idealisme dan materialisme historis, memandang bahwa setiap tatanan sosial mengandung kontradiksi internal. Kontradiksi ini bukan kelemahan semata, melainkan justru sumber perubahan. Dalam konteks Nusantara, kekuasaan selalu dibangun di atas keseimbangan antara pusat dan daerah, antara elite dan kelompok pendukung, serta antara legitimasi simbolik dan kekuatan material. Ketika keseimbangan ini terganggu, konflik muncul sebagai bentuk ekspresi dari ketegangan tersebut.

Pada masa Sriwijaya, kekuasaan berakar pada dominasi atas jalur perdagangan dan jaringan maritim. Dalam perspektif materialisme historis, basis ekonomi ini menjadi fondasi utama struktur sosial dan politik. Kontrol atas pelabuhan dan arus perdagangan menciptakan relasi ketergantungan yang menghubungkan pusat dengan wilayah-wilayah lain. Namun, struktur ini juga mengandung kontradiksi: semakin luas jaringan yang dikuasai, semakin besar pula potensi fragmentasi. Dalam kerangka strukturalisme, dapat dikatakan bahwa sistem ini tidak memiliki integrasi internal yang cukup kuat, karena lebih mengandalkan hubungan eksternal daripada kohesi internal. Ketika jalur perdagangan berubah atau loyalitas lokal melemah, struktur kekuasaan pun mulai retak.

Di sisi lain, pendekatan legitimasi dalam sosiologi klasik menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya bergantung pada faktor ekonomi, tetapi juga pada penerimaan sosial. Dalam konteks Sriwijaya, legitimasi dibangun melalui simbolisme religius dan hubungan diplomatik. Namun, legitimasi semacam ini bersifat rapuh jika tidak didukung oleh stabilitas internal. Ketika terjadi ketegangan di antara elite atau perubahan dalam jaringan eksternal, legitimasi tersebut dapat dengan cepat terkikis. Di sinilah dialektika terlihat jelas: struktur yang awalnya menopang kekuasaan justru menjadi sumber kerentanannya.

Majapahit menghadirkan bentuk dialektika yang berbeda, dengan struktur kekuasaan yang lebih teritorial dan hierarkis. Integrasi wilayah yang luas menciptakan kebutuhan akan kontrol politik yang lebih kuat. Dalam perspektif fungsionalisme, sistem ini berusaha menciptakan keseimbangan melalui pembagian peran dan hierarki yang jelas. Namun, seperti yang sering terjadi dalam sistem yang kompleks, diferensiasi ini juga membuka ruang bagi konflik internal. Perebutan pengaruh di antara elite menjadi semakin intens, terutama ketika tidak ada mekanisme suksesi yang stabil.

Konflik internal seperti Perang Paregreg menunjukkan bagaimana kontradiksi dalam struktur kekuasaan dapat meledak menjadi krisis terbuka. Dalam perspektif teori konflik, hal ini mencerminkan perebutan sumber daya dan legitimasi di antara kelompok elite. Ketika konsensus tidak lagi dapat dipertahankan, kekuasaan bergeser dari bentuk hegemonik menuju dominasi yang lebih koersif. Dalam kerangka teori hegemoni, stabilitas hanya dapat dipertahankan jika ada kesepakatan nilai dan kepentingan di antara kelompok yang berkuasa. Ketika kesepakatan itu runtuh, konflik menjadi tak terhindarkan dan sering kali berujung pada disintegrasi.

Indonesia modern, khususnya setelah Reformasi 1998, memperlihatkan bentuk dialektika yang lebih kompleks. Dalam kerangka demokrasi, konflik tidak lagi ditekan secara langsung, melainkan diinstitusionalisasikan melalui mekanisme politik. Pendekatan pluralisme melihat kondisi ini sebagai bentuk kompetisi sehat antar kepentingan, di mana berbagai kelompok memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam proses politik. Namun, dari sudut pandang teori konflik, kompetisi ini tetap mencerminkan perebutan kekuasaan dan sumber daya, hanya saja dalam bentuk yang lebih terkelola.

Desentralisasi yang terjadi pasca-Reformasi juga memperlihatkan dialektika antara pusat dan daerah. Dalam perspektif struktural, ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menyeimbangkan kekuasaan agar tidak terlalu terpusat. Namun, seperti pada masa Sriwijaya, distribusi kekuasaan ini juga menciptakan potensi fragmentasi. Elite lokal memperoleh ruang yang lebih besar, yang dalam beberapa kasus dapat menimbulkan ketegangan dengan pemerintah pusat. Di sini, terlihat bahwa pola historis kembali berulang, meskipun dalam konteks institusi yang berbeda.

Dalam kerangka filsafat sosial kontemporer, fenomena ini juga dapat dibaca melalui pendekatan konstruktivisme sosial, yang menekankan bahwa kekuasaan dibentuk melalui interaksi dan makna yang dinegosiasikan. Konflik bukan hanya soal perebutan sumber daya, tetapi juga soal perebutan definisi legitimasi dan kebenaran. Dalam konteks Indonesia modern, hal ini terlihat dalam polarisasi politik dan perdebatan publik, yang mencerminkan pertarungan narasi di antara berbagai kelompok.

Namun, penting untuk dipahami bahwa dialektika tidak selalu menghasilkan kemajuan yang linear. Dalam banyak kasus, konflik justru membawa kemunduran atau ketidakstabilan. Sejarah Sriwijaya dan Majapahit menunjukkan bahwa ketika kontradiksi internal tidak dapat dikelola, hasilnya adalah fragmentasi dan melemahnya struktur kekuasaan. Dalam konteks Indonesia modern, risiko ini tetap ada, meskipun dalam bentuk yang lebih subtil. Disfungsi institusi, polarisasi sosial, dan lemahnya kepercayaan publik dapat menjadi indikasi bahwa dialektika yang berlangsung tidak menghasilkan sintesis yang stabil.

Dengan demikian, melihat sejarah Nusantara melalui perspektif filsafat sosial memungkinkan kita memahami bahwa konflik internal adalah bagian tak terpisahkan dari dinamika kekuasaan. Dari Sriwijaya hingga Indonesia modern, pola yang sama terus berulang: kekuasaan dibangun di atas keseimbangan yang rapuh, yang selalu berpotensi terganggu oleh kontradiksi internal. Dialektika antara stabilitas dan konflik, antara legitimasi dan dominasi, menjadi motor yang menggerakkan perubahan sejarah.

Kesadaran akan pola ini memberikan pelajaran penting bahwa stabilitas bukanlah kondisi yang dapat dicapai secara permanen, melainkan harus terus diupayakan melalui pengelolaan konflik yang bijak. Dalam kerangka filsafat sosial, hal ini menegaskan bahwa kekuasaan bukan hanya soal siapa yang memerintah, tetapi juga bagaimana relasi sosial diatur dan dinegosiasikan. Dengan memahami dialektika ini, Indonesia modern memiliki peluang untuk tidak sekadar mengulangi pola masa lalu, tetapi juga membentuk sintesis baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pertanyaannya adalah, sadarkah para penyelenggara negara ini akan dinamika sosial seperti diuraikan di atas ?.

Salam Waras

Bohong, Kamu Tukang Bohong, Adagium Bernuansa Filsafat

Penulis Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati

Beberapa waktu lalu, kota ini dihebohkan dengan sikap pejabat publik yang mempertontonkan perilaku tidak terpuji pada acara bernuasa semi-akademik di suatu pergurun tinggi. Banyak teman, jurnalis dan akademisi, yang merasa risih dengan ucapan vulgar publik berkali-kali di depan publik: bohong!

Jadi teringat lagu Bohong ciptaan Deddy Dhukun yang populer pada tahun 1998. Liriknya: La la la/Bohong kamu tukang bohong/Bohong ku tak percaya … Tapi, kali ini, kita bukan ingin meresensi kembali lagu lawas tersebut, tapi ingin mencari tahu lebih jauh lewat pisau filsafat bermuncratannya kata bohong di panggung ilmiah, ditonton publik, di perguruan tinggi.

Dengan menyimak dokumen, berdiskusi, sampai akhirnya menemukan artikel humanis pada satu media online. Namun, hal itu tidak memberhentikan kegelisahan penulis; maka diskusi lanjut dilakukan secara daring bersama beberapa “punggawa jurnalis”.

Di tengah asyiknya diskusi itu, melintas tulisan singkat Herman Batin Mangku (HBM) yang dengan “metode tipis-tipis”nya menampilkan tulisan rangkuman singkat tapi menohok. Dari situ terpantik rasanya dawai filsafat ingin berkelana dengan kata “bohong”.

Dan, terimakasih pada Sudarmono (SDM) yang ikut berpacu dalam menelisik bohong.

“Bohong, kamu tukang bohong” terdengar sederhana, bahkan kekanak-kanakan. Ia sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terlontar secara spontan saat seseorang merasa ditipu atau tidak percaya pada lawan bicaranya.

Namun, jika ditarik lebih dalam, ungkapan ini menyimpan lapisan makna yang menarik untuk ditelaah secara filosofis, terutama dalam konteks Indonesia kekinian yang sarat dengan dinamika informasi, relasi sosial, dan krisis kepercayaan.

Pada tingkat paling dasar, tuduhan “bohong” adalah bentuk penolakan terhadap klaim kebenaran. Ia menandai adanya jarak antara apa yang dikatakan dan apa yang diyakini sebagai realitas. Dalam filsafat, persoalan kebenaran selalu menjadi medan perdebatan: apakah kebenaran bersifat objektif, subjektif, atau konstruktif?

Ungkapan ini, meski tampak remeh, mencerminkan konflik epistemologis; yakni pertentangan tentang apa yang dianggap benar oleh dua pihak yang berinteraksi. Dalam masyarakat Indonesia saat ini, fenomena tersebut semakin kompleks. Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara orang memperoleh, menyebarkan, dan memverifikasi kebenaran.

Media sosial menjadi ruang di mana klaim kebenaran berseliweran tanpa batas, sering kali tanpa proses penyaringan yang memadai. Dalam situasi seperti ini, ungkapan “bohong kamu tukang bohong” tidak lagi sekadar reaksi emosional, tetapi juga simbol dari kegelisahan kolektif terhadap banjir informasi yang sulit dipercaya.

Lebih jauh, ungkapan tersebut juga mencerminkan krisis kepercayaan yang meluas. Kepercayaan adalah fondasi penting dalam kehidupan sosial; tanpanya, hubungan antarmanusia menjadi rapuh.

Ketika seseorang dengan mudah melabeli orang lain sebagai pembohong, hal itu menunjukkan adanya erosi kepercayaan yang mungkin disebabkan oleh pengalaman-pengalaman sebelumnya; baik pengalaman personal maupun paparan terhadap narasi publik yang penuh manipulasi.

Dalam konteks ini, tuduhan bohong menjadi mekanisme pertahanan diri terhadap kemungkinan ditipu atau disesatkan.

Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah penting: relativitas persepsi. Apa yang dianggap bohong oleh satu pihak belum tentu dianggap demikian oleh pihak lain.

Perbedaan latar belakang, nilai, dan kepentingan dapat memengaruhi cara seseorang menilai suatu pernyataan.

Dalam masyarakat yang plural seperti Indonesia, perbedaan ini menjadi semakin nyata. Ungkapan “bohong kamu tukang bohong” dengan demikian juga dapat dibaca sebagai cerminan dari benturan perspektif yang tidak selalu mudah didamaikan.

Di sisi lain, ungkapan ini mengandung unsur performatif. Ketika seseorang mengatakannya, ia tidak hanya menyatakan ketidakpercayaan, tetapi juga berusaha mendeligitimasi lawan bicara di hadapan orang lain.

Dalam ruang publik digital, hal ini sering terlihat dalam bentuk komentar, unggahan, atau perdebatan yang viral.

Tuduhan bohong dapat dengan cepat menyebar dan membentuk opini publik, terlepas dari apakah tuduhan tersebut benar atau tidak. Dalam konteks ini, bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan etis: sejauh mana seseorang berhak menuduh orang lain berbohong? Apakah tuduhan tersebut didasarkan pada bukti yang memadai, atau sekadar pada prasangka dan emosi?

Dalam masyarakat yang sehat, kebenaran idealnya dicari melalui dialog rasional dan verifikasi fakta, bukan melalui tuduhan sepihak. Namun, realitas sering kali jauh dari ideal tersebut. Kecepatan informasi dan tekanan sosial membuat orang cenderung bereaksi sebelum berpikir panjang.

Menariknya, ungkapan “bohong kamu tukang bohong” juga dapat dibalik sebagai refleksi diri. Dalam situasi tertentu, seseorang mungkin menuduh orang lain berbohong untuk menutupi ketidaknyamanan terhadap kebenaran yang sebenarnya.

Dengan kata lain, tuduhan bohong bisa menjadi bentuk penyangkalan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan kebenaran tidak hanya berada di luar diri, tetapi juga di dalam diri; pada keberanian untuk menerima fakta yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan.

Dalam perspektif yang lebih luas, ungkapan ini mengajak kita untuk merenungkan hubungan antara bahasa, kebenaran, dan kekuasaan. Siapa yang berhak menentukan apa yang benar? Bagaimana kebenaran diproduksi dan disebarkan? Dan bagaimana individu dapat mempertahankan integritas di tengah arus informasi yang sering kali membingungkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi semakin relevan di era ketika batas antara fakta dan opini semakin kabur. Pada akhirnya, “bohong kamu tukang bohong” bukan sekadar kalimat sederhana, melainkan cermin dari kondisi sosial dan intelektual masyarakat.

Ia mengungkapkan ketegangan antara kepercayaan dan kecurigaan, antara kebenaran dan manipulasi, serta antara individu dan kolektivitas. Dalam konteks Indonesia kekinian, ungkapan ini mengingatkan kita akan pentingnya membangun budaya literasi, dialog, dan kejujuran.

Jika tidak, tuduhan bohong akan terus berulang tanpa penyelesaian, menciptakan lingkaran ketidakpercayaan yang sulit diputus. Sebaliknya, dengan kesadaran kritis dan komitmen terhadap kebenaran, masyarakat dapat bergerak menuju ruang publik yang lebih sehat, di mana perbedaan pendapat tidak selalu berujung pada delegitimasi, melainkan menjadi kesempatan untuk memahami satu sama lain secara lebih mendalam.

Terimakasih HBM dengan metode tipis-tipisnya telah mengunkap realita yang semula samar menjadi “benderang”.
Salam Waras.

Universitas Malahayati Gelar Orientasi dan Penguatan Kinerja bagi Dosen Baru serta Dosen Belum Serdos

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Universitas Malahayati menyelenggarakan kegiatan Orientasi dan Penguatan Kinerja yang ditujukan khusus bagi dosen baru dan dosen yang belum memiliki Sertifikasi Dosen (Serdos). Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh dosen baru di Unmal memahami akan tugas utamanya sebagai dosen, yaitu melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan baik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 29 April 2026, bertempat di Ruang rapat Gedung Rektorat.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas dan fakultas guna memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan karier para dosen, antara lain: Wakil Rektor I: Prof. Dr. Dessy Hermawan, Ns., M.Kes, Wakil Rektor II: Drs. Nirwanto, M.Kes, Dekan Fakultas Kedokteran (FK): Dr. Tessa Sjahriani, dr., M.Kes, Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM): Dr. Rahyono, S.Sos., MM, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK): Dr. Lolita Sary, SKM., M.Kes, Dekan Fakultas Hukum (FH): Aditia Arief Firmanto, SH., MH. Selain jajaran pimpinan tersebut, acara ini juga diikuti oleh seluruh dosen baru yang belum memiliki Jenjang Akademik serta dosen yang sedang dalam persiapan untuk memperoleh Sertifikasi Dosen (Serdos).

 

 

Kegiatan orientasi dosen baru ini dibuka oleh Wakil Rektor II, Bapak Drs. Nirwanto, M.Kes dan dilanjutkan dengan arahan teknis dari Prof. Dr. Dessy Hermawan, Ns., M.Kes, yang menekankan bahwa orientasi ini adalah bagian dari peta jalan universitas dalam menjamin mutu Pendidikan serta menjamin peningkatan jenjang karier dosen. Selain aspek kualitas Tri Dharma PT, Prof. Dessy juga memberikan penekanan khusus pada aspek kedisiplinan dan kehadiran dosen dalam menjalankan tugas-tugas sebagai seorang dosen tetap. Beliau juga memaparkan hak serta kewajiban dosen tetap sesuai dengan Undang Undang serta peraturan yang ada di Universitas Malahayati.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap dosen memiliki kompetensi yang selaras dengan standar nasional. Penguatan kinerja ini merupakan upaya kami mendorong dosen agar segera meraih jenjang akademik dan sertifikasi, sebagai bukti profesionalisme seorang dosen. Namun, selain mutu, kedisiplinan terhadap kehadiran dan komitmen waktu juga menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan akademik yang kondusif & produktif,” tegas Prof. Dessy.

Pihak rektorat berharap melalui koordinasi yang melibatkan para Dekan dan Wakil Rektor ini, proses penguatan kinerja dan kedisiplinan dosen di Universitas Malahayati dapat berjalan lebih efektif dan terintegrasi. Diharapkan motivasi terkait dengan kinerja ini dapat terus digaungkan tidak hanya pada saat orientasi ini, namun terus hingga di level Fakultas dan Prodi, sehingga semua dosen akan terus termotivasi untuk meningkatan kinerja dan jenjang kariernya.

Sedangkan dari sisi peserta (dosen baru), mereka menyambut baik kegiatan orientasi yang dilakukan oleh pihak Rektorat. “kami jadi lebih paham akan hak dan kewajiban sebagai dosen tetap di Unmal, dan kami juga makin termotivasi untuk memperoleh jabatan akademik serta mengurus sertifikasi dosen” ujar salah satu dosen baru yang mengikuti kegiatan ini.

Editor : Chandra fz

SEMENTARA, NAMUN TIDAK SETARA

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Hari itu penat sekali karena melayani mahasiswa pascasarjana yang konsultasi bahan penelitian thesisnya. Menjadi kebiasaan untuk berangin-angin sebentar di teras gedung lantai lima. Saat memandang ke bawah; tampak sejumlah fenomena sosial yang menarik. Di sana ada petugas kebersihan yang sedang sibuk bekerja tanpa kenal lelah, tidak jauh ada petugas keamanan yang dengan sigap mengawasi dan mengatur tatakelola kendaraan. Tidak jauh dari sana terparkir kendaraan baru, dan keluar dari dalam kendaraan seorang pria tampan berpakaian necis. Terbayang bagaimana mereka-mereka itu mempersepsikan kehidupan dunia ini.

Hidup sering disebut singkat, sebuah perjalanan yang hanya sekejap jika dibandingkan dengan keabadian. Dalam banyak ceramah agama dinyatakan bahwa, manusia diingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan, tempat menanam sebelum menuai di akhir saat pulang nanti. Waktu digambarkan seperti bayangan yang terus mengecil, mengingatkan bahwa setiap detik adalah kesempatan yang tidak akan kembali. Namun, di balik kesadaran filosofis itu, terdapat kenyataan lain yang tak kalah nyata: hidup tidak dirasa sama bagi setiap orang.

Bagi sebagian orang, hidup mengalir seperti sungai yang tenang. Mereka memiliki ruang untuk menikmati setiap fase, dari masa muda yang penuh eksplorasi hingga usia tua yang dipenuhi kenyamanan. Waktu terasa lapang, bukan karena jam berjalan lebih lambat, tetapi karena kebutuhan dasar telah terpenuhi tanpa harus diperjuangkan setiap hari. Dalam kondisi seperti ini, hidup yang singkat justru terasa cukup panjang untuk dinikmati. Mereka  memiliki kesempatan untuk merenung, memperbaiki diri, dan bahkan merencanakan makna hidup dengan lebih dalam.

Namun, bagi sebagian yang lain, hidup tidak berjalan demikian. Waktu terasa sempit, bahkan sesak. Hari-hari diisi dengan perjuangan yang berulang: mencari makan, membayar kebutuhan, bertahan dari ketidakpastian. Dalam situasi ini, hidup yang singkat tidak terasa sebagai peringatan untuk berbuat baik, melainkan sebagai tekanan yang terus menghimpit. Setiap detik bukan lagi peluang, melainkan beban. Bukan karena mereka tidak memahami makna hidup, tetapi karena keadaan memaksa mereka untuk lebih fokus pada bertahan daripada merenung.

Perbedaan ini menciptakan ironi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, manusia diingatkan bahwa dunia tidak kekal, sehingga tidak perlu terlalu terikat. Namun di sisi lain, realitas sosial menunjukkan bahwa keterikatan terhadap dunia justru menentukan kualitas hidup seseorang. Bagi mereka yang memiliki kekuasaan atas sumber daya, dunia menjadi tempat yang dapat diatur, bahkan dinikmati dengan leluasa. Sementara bagi yang kekurangan, dunia terasa seperti ruang sempit yang sulit untuk ditaklukkan.

Ketimpangan ini tidak hanya soal materi, tetapi juga soal pengalaman hidup. Orang yang berkecukupan memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang yang lebih luas. Mereka dapat memilih jalan hidup, bahkan mengubah arah jika diperlukan. Sebaliknya, mereka yang hidup dalam keterbatasan sering kali tidak memiliki pilihan. Hidup menjadi sesuatu yang harus dijalani, bukan sesuatu yang bisa dirancang. Dalam konteks ini, ungkapan bahwa hidup itu singkat menjadi memiliki makna yang berbeda. Bagi yang memiliki kelapangan, singkat berarti berharga. Bagi yang kekurangan, singkat bisa berarti tidak cukup. Tidak cukup untuk keluar dari lingkaran kesulitan, tidak cukup untuk merasakan kehidupan yang layak, bahkan tidak cukup untuk bermimpi tanpa rasa takut.

Namun, di tengah perbedaan ini, ada satu hal yang tetap sama: setiap manusia tetap merasakan waktu berjalan tanpa henti. Tidak ada yang benar-benar dapat menghentikannya, baik yang hidup dalam kelimpahan maupun yang hidup dalam kekurangan. Perbedaan hanya terletak pada bagaimana waktu itu diisi dan dirasakan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah makna hidup benar-benar dapat dipisahkan dari kondisi sosial? Apakah mungkin seseorang merenungkan kehidupan dengan tenang ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi? Atau sebaliknya, apakah kekayaan menjamin seseorang memahami makna hidup dengan lebih baik?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Banyak yang hidup dalam kekurangan tetap mampu menemukan makna, bahkan kebahagiaan, dalam hal-hal sederhana. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup dalam kelimpahan justru merasa hampa. Ini menunjukkan bahwa makna hidup tidak sepenuhnya ditentukan oleh keadaan, tetapi juga tidak sepenuhnya terlepas darinya.

Di sinilah letak kompleksitas kehidupan manusia. Hidup memang singkat, tetapi pengalaman hidup bisa sangat berbeda. Ada yang menjalani hidup seperti perjalanan yang penuh warna, ada pula yang menjalani hidup seperti perjuangan tanpa jeda. Keduanya sama-sama nyata, sama-sama valid, dan sama-sama membutuhkan pemahaman. Mungkin yang lebih penting bukanlah membandingkan siapa yang lebih beruntung atau lebih menderita, melainkan bagaimana menciptakan kehidupan yang lebih adil. Sebuah kehidupan di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk merasakan bahwa hidup, meskipun singkat, tetap layak untuk dijalani. Di mana tidak ada yang merasa bahwa waktu adalah musuh, melainkan sahabat yang memberi ruang untuk tumbuh.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya soal panjang atau pendeknya waktu, tetapi tentang kualitas pengalaman di dalamnya. Jika hidup memang singkat, maka seharusnya ia tidak menjadi beban bagi sebagian orang dan kenikmatan bagi sebagian yang lain. Singkatnya hidup seharusnya menjadi pengingat bersama, bukan hanya nasihat yang terasa jauh dari realitas. Karena pada akhirnya, setiap nafas memiliki nilai yang sama. Yang membedakan hanyalah bagaimana dunia memperlakukan mereka yang menghirupnya.

Salam Lantai Lima

RAPAT PIMPINAN UNIVERSITAS MALAHAYATI (UNMAL) BAHAS PEMENUHAN INSTRUMEN UNGGUL BAN-PT DAN LAM

Bandarlampung ( malahayati.ac.id ) — Universitas Malahayati menggelar Rapat Pimpinan dengan tema “Rencana Pemenuhan Instrumen Unggul BAN-PT dan LAM” sebagai bagian dari upaya strategis peningkatan mutu dan akreditasi institusi maupun program studi. kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 29 April 2026, bertempat di Ruang rapat lantai 5 rekotorat universitas malahayati.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, di antaranya Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes, Wakil Rektor II Nirwanto, M.Kes, Wakil Rektor III Dr. Eng. Rina Febrina, MT, Kepala LPPM Prof. Erna Listyaningsih, Ph.D, serta Kepala LPMI Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep. Turut hadir seluruh dekan dari Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Hukum (FH), serta wakil LPPM dan LPMI, Ketua BPMI di masing-masing fakultas, dan seluruh Ketua Program Studi di lingkungan Universitas Malahayati.

Rapat dipandu oleh Kepala LPMI, Dr. M. Arifki Zainaro, M.Kep, yang menekankan pentingnya sinergi seluruh unit dalam memenuhi indikator unggul yang ditetapkan oleh BAN-PT dan LAM.

Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, dalam arahannya menyampaikan bahwa pencapaian akreditasi unggul merupakan komitmen bersama yang membutuhkan integrasi kinerja di seluruh lini. Sementara itu, Wakil Rektor II Nirwanto, M.Kes menekankan pentingnya kesiapan data dukung, tata kelola yang efektif, serta optimalisasi peran unit kerja dalam mendukung pemenuhan instrumen akreditasi.

Pemaparan teknis disampaikan oleh Wakil Kepala LPMI, Prima Dian Furqoni, M.Kes, yang menguraikan langkah-langkah strategis, mekanisme pemenuhan indikator, serta timeline yang harus dipenuhi oleh masing-masing program studi dan unit terkait.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang melibatkan seluruh pimpinan rektorat, dekanat, dan program studi. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai masukan konstruktif terkait strategi percepatan pemenuhan instrumen unggul.

Melalui rapat ini, diharapkan seluruh unit di Universitas Malahayati dapat bergerak secara sinergis, integratif, dan aplikatif dalam mencapai target akreditasi unggul, sejalan dengan semangat

#Malahayati Siap Ikut

Editor : Chandra fz

HPU Universitas Malahayati Gandeng BEM FIK dan Antik’s Vision Optical Gelar Skrining Kesehatan Mata

BANDAR LAMPUNG – Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya sebagai kampus sehat melalui program Health Promoting University (HPU). Bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) dan Antik’s Vision Optical, universitas menggelar kegiatan Skrining Kesehatan Mata yang diperuntukkan bagi seluruh civitas akademik pada Selasa, 28 April 2026.

Kegiatan yang berfokus pada deteksi dini gangguan penglihatan ini ditinjau langsung oleh jajaran pimpinan universitas. Turut hadir Ibu Eli Zuana,MARS, Wakil Rektor II, Dr. Eng. Rina Febrina, S.T., M.T., dan Wakil Rektor IV, Suharman, M.Pd., M.Kes., serta jajaran dosen dan mahasiswa. Kehadiran mereka menegaskan dukungan pihak rektorat dan mahasiswa terhadap inisiatif kesehatan yang berdampak langsung pada kualitas hidup dosen dan mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, para pimpinan mengapresiasi kolaborasi antara HPU, BEM FIK, dan mitra penyedia layanan optik. Program ini dinilai sangat strategis mengingat tingginya aktivitas akademik yang menuntut kesehatan mata yang prima. Dengan adanya skrining ini, diharapkan setiap gangguan penglihatan dapat teridentifikasi lebih awal untuk mencegah permasalahan yang lebih kronis.

Antusiasme terlihat dari banyaknya dosen dan mahasiswa yang memadati lokasi pemeriksaan di Ruangan 1.24. Selain mendapatkan pemeriksaan mata secara gratis, para peserta juga diberikan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan mata di tengah rutinitas penggunaan perangkat digital yang tinggi.

Melalui sinergi antara program HPU dan organisasi mahasiswa, Universitas Malahayati berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan visi universitas untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga tangguh dalam aspek kesehatan fisik seluruh civitas akademiknya.

Jahat Hati

Oeh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

Dalam keseharian untuk wong Palembang, istilah “jahat hati” (sering diucapakan- jahat ati); bukan sekadar ungkapan biasa. Ia hidup dari pengalaman, dari cerita-cerita kecil yang berulang, dan dari rasa kecewa yang tidak pernah benar-benar hilang. Istilah ini merujuk pada seseorang yang tampak baik di luar: ramah, sopan, bahkan meyakinkan, tetapi menyimpan niat yang tidak lurus di dalam hati. Wajah boleh teduh, kata-kata boleh manis, namun tindakan sering kali berbicara sebaliknya. Inilah ironi yang pelan-pelan menjadi kebiasaan yang diterima dengan setengah pasrah.

Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam hubungan antarindividu, tetapi juga terasa dalam lingkup yang lebih luas, terutama ketika menyangkut orang-orang yang memiliki wewenang. Harapan masyarakat sebenarnya sederhana: mereka ingin diperlakukan dengan adil dan jujur. Namun, ketika yang dihadapi justru sikap yang berbeda antara tampilan dan kenyataan, maka kepercayaan pun mulai terkikis. Orang menjadi ragu, bahkan untuk hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa; sebagai ilustrasi kita simak dialog berikut:

Di sebuah warung kopi sederhana, percakapan seperti ini terdengar.
“Sekarang ni susah nian nak percaya samo wong, kelihatannyo bae, eh di belakang banyak cerito,” kata seorang pria sambil memutar gelas kopinya.
“Iyo, kadang yang paling rapi itulah yang paling biso nutup-nutupi,” sahut temannya pelan.
“Makonyo wong kito nyebutnyo ‘jahat hati’. Bukan dak baik di luar, tapi di dalamnyo itu lain.”

Percakapan itu mengalir santai, tetapi sarat makna. Ia mencerminkan keresahan yang dirasakan banyak orang. Bahwa apa yang terlihat tidak selalu sama dengan apa yang sebenarnya. Dalam situasi seperti ini, masyarakat menjadi lebih waspada, tetapi juga lebih lelah secara batin. Salah satu hal yang sering disorot adalah bagaimana seseorang bisa berada di posisi tertentu. Ketika proses awalnya tidak bersih, maka bayang-bayang ketidakjujuran itu akan terus mengikuti. Rekrutmen yang tidak transparan, adanya praktik yang tidak adil, atau jalur-jalur yang tidak semestinya, menjadi pintu masuk bagi lahirnya masalah yang lebih besar.

Dialog di atas berlanjut;
“Masalahnyo bukan di ujung bae, tapi dari awal masuknyo itu,” ujar seorang pria sambil menghela napas.
“Kalo dari awal sudah dak beres, yo susah nak ngarepke jadi lurus.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi mengandung kebenaran yang dalam. Seperti bangunan yang berdiri di atas pondasi yang miring, sistem yang dibangun dari ketidakjujuran akan sulit menghasilkan keadilan. Orang yang masuk dengan cara yang salah cenderung membawa pola yang sama dalam menjalankan tugasnya. Jabatan tidak lagi dianggap sebagai amanah, melainkan sebagai peluang.
Perilaku “jahat hati” ini sering kali tidak muncul secara terang-terangan. Ia hadir dalam bentuk yang halus, bahkan terkadang sulit dibuktikan. Proses yang dipersulit tanpa alasan jelas, pelayanan yang tidak maksimal, atau keputusan yang terasa berat sebelah; semua itu menjadi tanda-tanda kecil yang jika dikumpulkan, membentuk gambaran besar.

“Kito ni kadang cuma biso ngeraso bae, dak biso buktikenyo,” kata seorang pria.
“Tapi rasonyo itu dak pernah salah.”

Rasa yang dimaksud adalah intuisi sosial, sesuatu yang terbentuk dari pengalaman berulang. Ketika terlalu sering berhadapan dengan hal yang sama, masyarakat belajar mengenali pola, meskipun tidak selalu bisa menjelaskannya secara rinci. Yang menjadi persoalan, kondisi ini bisa menyebar. Lingkungan yang membiarkan praktik tidak jujur akan perlahan membentuk kebiasaan baru. Orang yang awalnya memiliki niat baik bisa berubah karena tekanan, atau karena merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk bertahan. Akhirnya, “jahat hati” tidak lagi menjadi sifat individu semata, tetapi menjadi bagian dari budaya yang sulit dihindari.

“Kadang bukan kareno nak jadi jahat, tapi kareno keadaan yang makso,” ujar salah satu dari mereka.
“Iyo, tapi kalo terus dibiarke, samo bae jadi kebiasaan.”

Di sinilah letak bahayanya. Ketika sesuatu yang salah mulai dianggap biasa, maka batas antara benar dan tidak benar menjadi kabur. Masyarakat pun semakin sulit berharap pada perubahan, karena yang terlihat adalah pola yang terus berulang.

Namun, di tengah semua itu, masih ada harapan. Tidak semua orang seperti yang digambarkan. Masih ada mereka yang bekerja dengan jujur, yang berusaha menjaga integritas meskipun berada dalam lingkungan yang tidak mudah. Mereka mungkin tidak banyak terlihat, tetapi keberadaan mereka penting.

“Masih ado yang lurus, cuma kadang kalah banyak,” kata seorang pria.
“Tapi kalo yang lurus tetap bertahan, pasti ado harapan.”

Harapan itu mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk menjaga agar kepercayaan tidak hilang sepenuhnya. Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam waktu singkat, tetapi bisa dimulai dari hal-hal mendasar. Salah satunya adalah memastikan bahwa proses rekrutmen dilakukan dengan bersih dan transparan. Selain itu, pengawasan yang konsisten juga penting agar setiap tindakan bisa dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, istilah “jahat hati” menjadi semacam pengingat kolektif. Bahwa penampilan tidak selalu mencerminkan isi hati. Bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun hanya dari kata-kata, tetapi dari tindakan yang nyata. Dan bahwa masyarakat berhak mendapatkan keadilan, tanpa harus merasa curiga setiap saat.

“Yang penting kito jangan melok-melok jadi dak benar,” kata seorang pria sambil berdiri dari kursinya.
“Iyo, mulai dari diri dewek bae dulu. Pelan-pelan jugo biso berubah.”

Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kekuatan. Di tengah berbagai kekecewaan, masih ada pilihan untuk tetap jujur. Dan mungkin, dari situlah perubahan bisa benar-benar dimulai; dari hati yang tidak “jahat,” meskipun berada di dunia yang sering kali sebaliknya.
Salam Waras (R-2)

Audiensi Universitas Malahayati Bersama Walikota Metro Bahas Persiapan KKLPPM 2026

Metro, Lampung  ( malahayati.ac.id ) — Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan audiensi dengan Pemerintah Kota Metro dalam rangka persiapan pelaksanaan Kuliah Kerja Lapangan Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKLPPM) Tahun 2026.

Kegiatan audiensi ini diterima langsung oleh Walikota Metro dan berlangsung dalam suasana penuh sinergi serta komitmen untuk memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan pemerintah daerah dalam pembangunan masyarakat berbasis pemberdayaan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan Universitas Malahayati, yaitu:

– Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes
– Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Dr. Eng. Rina Febrina, ST., MT
– Wakil Rektor IV Bidang Kerjasama, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes
– Kepala LPPM, Prof. Erna Listyaningsih, SE., M.Si., Ph.D
– Wakil Kepala LPPM, Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ners., M.Kep
– Kepala LPMI, Dr. Arifki Zainaro, S.Kep., Ners., M.Kep
– Wakil Kepala LPMI, Prima Dian Furqoni, S.Kep., Ners., M.Kes

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Dessy Hermawan, M.Kes menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan hangat dari Pemerintah Kota Metro serta harapan besar terhadap terjalinnya kerja sama yang berkelanjutan dalam pelaksanaan KKLPPM 2026.

Selanjutnya, Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes memaparkan pentingnya sinergi kerja sama antara Universitas Malahayati dengan Pemerintah Kota Metro, khususnya dalam mendukung program pembangunan daerah melalui kontribusi akademik dan pengabdian kepada masyarakat.

Kepala LPPM, Prof. Erna Listyaningsih, SE., M.Si., Ph.D menjelaskan secara komprehensif mengenai konsep dan tujuan kegiatan KKLPPM sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat serta peningkatan kualitas hidup berbasis potensi lokal.

Sementara itu, Wakil Kepala LPPM, Eka Yudha Chrisanto, S.Kep., Ners., M.Kep memaparkan teknis pelaksanaan KKLPPM 2026, meliputi skema kegiatan, mekanisme penempatan mahasiswa, hingga indikator luaran yang diharapkan dari program tersebut.

Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam membangun kolaborasi yang lebih erat antara Universitas Malahayati dan Pemerintah Kota Metro, guna memastikan pelaksanaan KKLPPM 2026 berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Editor : Chandra Fz

Peringati Hari Kartini, FIK Universitas Malahayati Gelar Edukasi Safety Riding “Zen on Wheels” Bersama TDM Honda

BANDAR LAMPUNG ( malahayati.ac.id ) – Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Malahayati Bandar Lampung bekerja sama dengan PT Tunas Dwipa Matra (TDM) Honda menggelar kegiatan edukasi safety riding bertajuk “Zen on Wheels”. Acara yang berlangsung di Ruang 1.13 pada Kamis (23/04/2026) ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kartini sekaligus sebagai wujud pengabdian masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh jajaran pimpinan fakultas dan program studi, di antaranya Wakil Dekan FIK, Khoidar Amirus, S.KM., M.Kes.; Ka. Prodi Psikologi, Asri Mutiara Putri, S.Psi., M.Psi., Psikolog; serta Ka. Prodi Kebidanan, Devi Kurniasari, S.ST., M.Keb. Turut hadir pula sejumlah dosen dari berbagai program studi di lingkungan Universitas Malahayati untuk mendampingi sekitar 50 mahasiswi peserta edukasi.

Acara menghadirkan narasumber ahli, yaitu Icha (Instruktur Safety Riding TDM Honda Lampung), Ipda Putri (Kanit Kamsel Satlantas Polresta Bandar Lampung), dan Devin Aprilia (Guru Yoga), yang memberikan perspektif berkendara aman dari sisi teknis, aturan lalu lintas, hingga manajemen ketenangan (zen).

Dalam sambutannya, Wakil Dekan FIK Universitas Malahayati, Khoidar Amirus, S.KM., M.Kes., menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kolaborasi antara dunia akademisi dan industri otomotif dalam meningkatkan kesadaran keselamatan di jalan raya, khususnya bagi kaum perempuan.”Kegiatan ini merupakan momentum yang tepat dalam semangat Hari Kartini untuk memberdayakan perempuan, khususnya mahasiswi kami, agar lebih mandiri dan cerdas dalam berkendara. Keselamatan bukan sekadar aturan, tapi sebuah gaya hidup. Kami berharap melalui edukasi Zen on Wheels ini, para mahasiswi tidak hanya memahami aspek teknis safety riding, tetapi juga mampu menjaga ketenangan dan fokus saat berada di jalan raya,” ujar beliau.

Selain penyampaian materi, acara juga dimeriahkan dengan berbagai aktivitas menarik seperti sesi yoga singkat untuk melatih konsentrasi, games interaktif, pembagian door prize, hingga layanan servis murah bagi pengguna sepeda motor Honda di lingkungan kampus.

Melalui kegiatan ini, Universitas Malahayati terus berkomitmen untuk membekali mahasiswanya dengan pengetahuan praktis yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keselamatan masyarakat luas di jalan raya.

Editor : Chandra fz