Universitas Malahayati Gelar Wisuda Periode ke-39 Tahun 2025 Lepas 894 Lulusan

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia unggul melalui penyelenggaraan Prosesi Wisuda Periode ke-39 Tahun 2025. Kegiatan akademik tersebut dilaksanakan hari ini, Sabtu (13/12/2025), bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati, dan berlangsung dengan penuh khidmat.

Wisuda ini menjadi momentum penting bagi Universitas Malahayati dalam melepas para lulusan yang telah menyelesaikan proses pendidikan tinggi pada berbagai jenjang dan program studi. Selain sebagai penanda keberhasilan akademik mahasiswa, prosesi wisuda juga mencerminkan peran institusi pendidikan tinggi dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang siap berkontribusi di tengah masyarakat.

Prosesi wisuda yang dilaksanakan dalam dua sesi, pagi dan siang, diikuti oleh ratusan wisudawan dan wisudawati dari berbagai fakultas. Acara tersebut turut dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, orang tua dan keluarga wisudawan, serta sejumlah tamu undangan dari unsur pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H, menegaskan bahwa wisuda bukan sekadar acara seremonial, melainkan menjadi titik balik penting dalam kehidupan para lulusan untuk memasuki babak baru yang lebih menantang.

Dr. H. Muhammad Kadafi menyampaikan bahwa ijazah yang diterima para wisudawan dan wisudawati merupakan hasil dari proses panjang yang tidak hanya mencerminkan kecerdasan akademik, tetapi juga ketekunan, kesabaran, doa, serta dukungan orang tua dan keluarga. Oleh karena itu, pencapaian tersebut harus dimaknai sebagai amanah yang mengandung tanggung jawab moral, bukan sekadar kebanggaan pribadi.

Rektor Universitas Malahayati juga menekankan bahwa di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, kemajuan teknologi, dan kompetisi global yang semakin terbuka, bangsa Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan beriman. Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud hanya oleh orang-orang pintar, melainkan oleh generasi yang memiliki nilai moral dan akhlak yang kuat.

Lebih lanjut, Rektor menegaskan komitmen Universitas Malahayati untuk tidak hanya meluluskan sarjana, tetapi juga membentuk manusia seutuhnya, yakni lulusan yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kokoh dalam akhlak, serta tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia berharap para lulusan dapat menjadi pribadi yang jujur, disiplin, dan peduli di mana pun mereka mengabdikan diri.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Malahayati, Prof. Dr. Dessy Hermawan, S.Kep., Ns., M.Kes, dalam laporannya menyampaikan bahwa jumlah wisudawan dan wisudawati pada periode ini mencapai 894 peserta yang berasal dari lima fakultas di lingkungan Universitas Malahayati.

Rincian lulusan tersebut terdiri atas Fakultas Kedokteran sebanyak 116 wisudawan dan wisudawati Program Studi Sarjana Kedokteran. Fakultas Ilmu Kesehatan menjadi penyumbang lulusan terbanyak dengan berbagai jenjang pendidikan, antara lain Magister Kesehatan Masyarakat 58 orang, Profesi Bidan 136 orang, Profesi Ners 35 orang, Sarjana Kesehatan Masyarakat 36 orang, Sarjana Psikologi 21 orang, Sarjana Farmasi 85 orang, DIII Analisis Farmasi dan Makanan 47 orang, Sarjana Keperawatan 70 orang, DIII Kebidanan 14 orang, serta Sarjana Kebidanan 126 orang.

Dari Fakultas Teknik, Universitas Malahayati mewisuda lulusan Sarjana Teknik Sipil 15 orang, Teknik Lingkungan 25 orang, Teknik Industri 8 orang, dan Teknik Mesin 8 orang. Sementara itu, Fakultas Ekonomi dan Manajemen meluluskan 2 orang Magister Akuntansi, 31 orang Sarjana Akuntansi, dan 37 orang Sarjana Manajemen. Adapun Fakultas Hukum meluluskan 24 wisudawan dan wisudawati Program Studi Sarjana Ilmu Hukum.

Prof. Dessy Hermawan juga menyampaikan bahwa wisudawan termuda pada periode ini berusia 20 tahun atas nama Intan Fadilah dari Program Studi DIII Kebidanan, sedangkan wisudawan tertua berusia 68 tahun atas nama R. Eni Haryanti dari Program Studi Profesi Kebidanan. Dengan bertambahnya lulusan pada hari ini, Universitas Malahayati secara keseluruhan telah meluluskan 18.679 alumni yang kini telah tersebar dan terserap di berbagai instansi pemerintahan maupun swasta.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Malahayati Nomor: 3000.10.401.12.25, turut diumumkan para wisudawan dan wisudawati berprestasi dengan predikat cumlaude tingkat program studi, baik pada sesi pagi maupun sesi siang.

Sementara itu, Staf Ahli Wali Kota Bandar Lampung, Drs. Sukarma Wijaya, menekankan pentingnya pendidikan tinggi sebagai fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati Universitas Malahayati serta berharap para lulusan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung pembangunan Kota Bandar Lampung.

Selain itu, sambutan juga disampaikan oleh Kepala LLDIKTI Wilayah II yang diwakili oleh Win Honaini, S.H., M.Si. Ia mengapresiasi Universitas Malahayati yang telah berhasil melahirkan banyak guru besar dan profesor serta terus menunjukkan perkembangan positif dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi. Ia menegaskan bahwa LLDIKTI Wilayah II akan terus menjalin koordinasi dan sinergi dengan Universitas Malahayati dalam penguatan kelembagaan dan peningkatan kualitas tridarma perguruan tinggi.

Prosesi wisuda ini turut dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, di antaranya Kepala LLDIKTI Wilayah II yang diwakili Win Honaini, S.H., M.Si; Rektor Universitas Abulyatama Ir. R. Agung Efriyo Hadi, M.Sc., Ph.D; Wakil Rektor IV Universitas Teknokrat Indonesia Lampung Dr. Sampurna Dadi Riskiono, S.Kom., M.Eng; Direktur RSUD Dr. H. Abdul Moeloek yang diwakili dr. Edy Ramdani, M.H; Direktur RS Bintang Amin dr. Rachmawati, M.PH; Ketua KADIN Provinsi Lampung yang diwakili Romi Junanto Utama, S.E., M.Sos; Ketua Dewan Pertimbangan KADIN Provinsi Lampung H. Ardiansyah, S.H; Pimpinan Tribun Lampung Domi; serta Sekretaris Yayasan Alih Teknologi Eli Zuana, MARS.

Prosesi wisuda kemudian dilanjutkan dengan pengukuhan para lulusan oleh Rektor Universitas Malahayati untuk Periode ke-39 Tahun 2025, sebagai penanda resmi kelulusan dan kesiapan para alumni untuk mengabdikan diri di tengah masyarakat.

Wisuda ini menjadi bukti nyata komitmen Universitas Malahayati dalam mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap berkontribusi bagi masyarakat dan pembangunan daerah. (fkr)

Editor: Fadly KR

Bersyukur Tanpa Henti, Bersabar Tanpa Tepi

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Seorang teman lama, adik kelas pada waktu ngangsu kawruh di Bumi Sriwijaya yang sekarang menjadi saudagar sekaligus ulama di jantung Lumbung Pangan Sumatera Selatan, rajin berkirim tulis, terutama berkaitan dengan persoalan langit. Bahasanya enak, sederhana khas santri, dan mudah dicerna. Kali ini beliau berkirim warta tentang bagaimana perlunya bersyukur dan bersabar yang semua tak memiliki tepi. Tentu tulisannya berdasarkan perintah-perintah langit yang menjadi ciri khas beliau. Tulisan ini mencoba melengkapi pemikiran itu; akan tetapi dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari kacamata Filsafat Kontemporer.

Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh dengan ketidakpastian, perubahan teknologi yang masif, serta krisis identitas dan makna yang seringkali menyelimuti kehidupan manusia modern, pertanyaan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup kembali mencuat dengan relevansi yang tinggi. Tema “Bersyukur Tanpa Henti, Bersabar Tanpa Tepi” seakan menjadi seruan eksistensial yang memanggil individu untuk menyelami kembali makna dasar keberadaan mereka di dunia ini. Dari kacamata filsafat kontemporer, tema ini dapat dibaca sebagai usaha manusia untuk tetap menjaga keutuhan eksistensialnya di tengah gelombang realitas yang tidak menentu.

Pada kerangka berpikir kontemporer, manusia tidak lagi dipandang semata sebagai makhluk rasional yang terikat pada struktur mutlak atau nilai-nilai absolut. Sebaliknya, manusia adalah subjek yang terus-menerus membentuk dan didefinisikan ulang melalui pengalaman, relasi sosial, dan konteks budaya dimana dia berada. Dalam konteks ini, bersyukur dan bersabar bukan hanya bentuk ekspresi moral atau keagamaan semata, melainkan juga sikap eksistensial yang mencerminkan kesadaran akan keterbatasan diri serta pengakuan terhadap kompleksitas dunia.
Bersyukur tanpa henti, dalam pemahaman kontemporer, bukan sekadar pengucapan terima kasih kepada Tuhan, melainkan suatu bentuk perlawanan terhadap kecenderungan nihilistik yang kerap hadir dalam masyarakat modern; sehingga capaian-capaian statistik sering menjadi ukuran.

Dunia saat ini sangat terobsesi dengan produktivitas, pencapaian, dan perbandingan. Rasa cukup seolah menjadi barang langka. Dalam atmosfer semacam ini, syukur menjadi tindakan radikal; sebuah penegasan bahwa hidup ini, meskipun tidak sempurna, tetap layak dijalani dan dihargai. Bersyukur berarti menerima realitas sebagaimana adanya, bukan dengan pasrah yang fatalistik, melainkan dengan keterbukaan akan kemungkinan makna yang bisa ditemukan bahkan dalam hal-hal paling biasa.

Syukur adalah pernyataan bahwa keberadaan itu sendiri adalah anugerah. Dalam dunia yang sering kali memaksa manusia untuk merasa kurang, untuk terus mengejar lebih banyak lagi, sikap bersyukur menjadi semacam pemberontakan sunyi terhadap narasi kekurangan. Dengan bersyukur, manusia membebaskan dirinya dari ilusi bahwa nilai dirinya hanya tergantung pada apa yang ia miliki atau capai. Ia kembali pada kesadaran bahwa eksistensinya sendiri sudah mengandung nilai yang tak terhingga.

Namun, syukur yang sejati tidak bisa dipisahkan dari kesabaran. Bersabar tanpa tepi bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan justru menunjukan kekuatan batin untuk terus bertahan, berproses, dan melangkah walaupun jalan hidup sering kali tidak sesuai harapan. Kesabaran dalam kerangka kontemporer adalah bentuk keberanian untuk tinggal bersama ketidakpastian tanpa tergesa-gesa mencari jawaban yang instan. Ini adalah cara manusia menjaga dirinya tetap utuh di tengah krisis dan perubahan.

Ketika syukur dan sabar dipadukan, keduanya membentuk semacam siklus dialektika eksistensial. Syukur memberi makna pada apa yang sudah dan sedang dimiliki, sementara sabar memberi ruang bagi apa yang belum dan mungkin tak akan pernah tercapai. Keduanya saling menopang: syukur mencegah kesabaran berubah menjadi keputusasaan, sedangkan kesabaran menjaga syukur tetap hidup meski dalam kondisi yang sulit. Dalam pandangan filsafat kontemporer, yang sangat menekankan pada ketidaktentuan dan keterbukaan, kedua nilai ini justru menjadi fondasi untuk hidup yang autentik.

Manusia kontemporer sering kali merasa terasing; dari orang lain, dari lingkungan, bahkan dari dirinya sendiri. Dalam keterasingan ini, syukur dan sabar bisa menjadi jembatan yang menyambungkan kembali manusia dengan dunia dan dengan dirinya. Syukur menghubungkan manusia dengan momen kini, mengajak dia hadir secara penuh dalam kehidupan yang sedang berlangsung, sedangkan sabar membuka jalan menuju masa depan tanpa ketergesaan, tanpa keputusasaan.

Dari sudut pandang ini, tema “Bersyukur Tanpa Henti, Bersabar Tanpa Tepi” bukanlah sebuah slogan pasif atau pelarian dari realitas. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk memasuki dimensi terdalam dari keberadaan manusia, di mana makna hidup tidak lagi dicari di luar, tetapi ditemukan di dalam diri kita sendiri. Dalam dunia yang serba relatif, bersyukur dan bersabar menjadi poros utama yang bisa menuntun manusia untuk tetap utuh dan bermartabat.

Kehidupan hari ini tidak pernah memberikan jaminan, dan masa depan tidak pernah bisa diprediksi dengan pasti. Namun, dengan bersyukur dan bersabar, manusia tidak lagi terombang-ambing oleh angin zaman. Ia memiliki akar yang tertanam dalam makna, bukan dalam pencapaian. Ia hidup tidak untuk menguasai dunia, tapi untuk hadir secara otentik di dalamnya.

Pada akhirnya, bersyukur tanpa henti dan bersabar tanpa tepi adalah pilihan sadar untuk hidup dengan utuh, untuk merangkul hidup dengan segala paradoks dan ketidaksempurnaannya. Ini adalah panggilan bagi manusia modern untuk keluar dari alienasi yang diciptakan oleh sistem nilai yang menyesatkan, dan kembali pada kedalaman eksistensial yang otentik. Dalam syukur, kita menemukan keindahan dari hal-hal kecil yang selama ini sering luput. Dalam sabar, kita membangun kekuatan untuk tetap berjalan dan tegar, walau perlahan, menuju hidup yang lebih bermakna. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Selamat Ulang Tahun Rektor Universitas Malahayati, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Kami sivitas akademika Universitas Malahayati mengucapkan Selamat ulang tahun kepada Bapak Rektor, Dr. H. Muhammad Kadafi, S.H., M.H. Semoga panjang umur, diberikan kesehatan, kekuatan, selalu dalam lindungan Allah SWT, dan semakin sukses serta bijaksana dalam memimpin Universitas Malahayati untuk terus bertransformasi menjadi yang terbaik! (gil)

Editor: Gilang Agusman

Dosen Universitas Malahayati, Dwi Marlina Syukri, Ph.D, Pukau Thailand dengan Inovasi Benang Bedah Berlapis Biogenic Silver Nanoparticle

THAILAND (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Malahayati. Dosen sekaligus peneliti unggulan, Dwi Marlina Syukri, Ph.D, menjadi sorotan dalam kuliah umum internasional di Walailak University, Nakhonsrithammarat, Thailand, setelah memaparkan hasil riset inovatifnya terkait pengembangan benang bedah dengan lapisan Biogenic Silver Nanoparticle. Senin (22/9/2025).

Kuliah umum tersebut menarik perhatian luas dari mahasiswa, dosen, serta praktisi kesehatan yang hadir. Dalam paparannya, Dwi Marlina menjelaskan bahwa benang bedah inovatif ini dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi nanopartikel perak yang bersifat antimikroba alami, sehingga mampu mengurangi resiko infeksi pascaoperasi secara signifikan.

“Penggunaan biogenic silver nanoparticle tidak hanya memberikan perlindungan dari mikroorganisme penyebab infeksi, tetapi juga ramah lingkungan dan mudah diaplikasikan dalam berbagai prosedur pembedahan,” ungkap Dwi Marlina dalam presentasinya.

Lebih lanjut, Dwi Marlina menuturkan bahwa riset ini berangkat dari kebutuhan klinis akan bahan medis yang lebih aman dan efisien, sekaligus mendukung perkembangan biomaterial modern yang bekelanjutan. Kombinasi antara ilmu bioteknologi dan prinsip geen chemistry menjadi landasan utama inovasi ini.

Keberhasilan penelitian ini semakin istimewa karena telah mendapat pengakuan internasional melalui perlindungan kekayaan intelektual (paten) di Thailand, dengan nomor 2003001900 (Thai Petty Patent). Pengakuan ini membuktikan bahwa hasil karya anak bangsa mampu bersain dan diakui secara global dalam bidang riset dan inovasi kesehatan.

 

Antusiasme peserta kuliah umum pun begitu terasa. Mereka menilai bahwa riset yang dilakukan oleh Dwi Marlina Syukri, Ph.D tidak hanya memberikan kontribusi nyata bagi dunia akademik, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan industri alat kesehatan berbasis bioteknologi di Indonesia dan Asia Tenggara.

Rektor Universitas Malahayati turut memberikan apresiasi atas pencapaian tersebut, menegaskan bahwa kehadiran dosen-dosen berprestasi di panggung internasional menjadi bukti komitmen universitas dalam mencetak peneliti unggul dan berdaya saing global.

Melalui kegiatan ini, diharapkan akan lahir lebih banyak peneliti muda yang terinspirasi untuk berinovasi dan menghasilkan riset aplikatif yang membawa manfaat luas bagi masyarakat. Dwi Marlina menutup kuliahnya dengan pesan inspiratif:

“Inovasi bukan hanya tentang menemukan hal baru, tetapi tentang bagaimana ilmu yang kita kembangkan dapat memberi dampak nyata bagi kehidupan manusia.”

Kehadiran Dwi Marlina Syukri, Ph.D di Thailand tak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga mencerminkan semangat kolaborasi lintas negara dalam menguatkan peran Indonesia di kancah riset global. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Optimalisasi Sampah Organik Jadi Sabun Disinfektan Ramah Lingkungan, Dosen dan Mahasiswa Universitas Malahayati Gelar Pengabdian Masyarakat di Kelurahan Pesawahan

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati kembali hadir di tengah masyarakat dengan program inovatif yang tak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga berdampak ekonomi. Bertempat di Kelurahan Pesawahan, Kecamatan Teluk Betung Selatan, mereka menggelar kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Optimalisasi Sampah Organik Berbasis Ekoenzim Sebagai Sabun Disinfektan Pembersih Lantai Ramah Lingkungan”. Senin (29/9/2025).

Program ini terselenggara atas dukungan DPPM Kemdikbudristek Tahun 2025 melalui Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan Nomor Kontrak 334/C3/DT.05.00/PM-BATCH III/2025 tertanggal 10 September 2025.

Tim pengabdian masyarakat berasal dari kolaborasi tiga prodi Hadirkan Inovasi “ECORIND”yakni Farmasi, Teknik Lingkungan, dan Ekonomi. Mereka terdiri dari: apt. Ade Maria Ulfa., M.Kes (Prodi Farmasi), Natalina, S.T., M.T (Prodi Teknik Lingkungan), Prof. Erna Listyaningsih, SE., M.Si., Ph.D (Prodi Ekonomi). Tim ini juga dibantu dua mahasiswa, Galih Bimantara dan Muhammad Putra Pratama.

Melalui sosialisasi, pelatihan, hingga pendampingan teknologi tepat guna, para ibu PKK Kelurahan Pesawahan dibekali keterampilan dalam pemilahan sampah organik rumah tangga (khususnya kulit buah), proses fermentasi ekoenzim, hingga pembuatan produk inovatif berupa sabun disinfektan pembersih lantai “ECORIND” (ECO = Ekoenzim Ramah Lingkungan, RIND = Kulit Buah).

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Ade Maria Ulfa menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengurangi timbulan sampah di Kelurahan Pesawahan. Dengan pengolahan sampah organik menjadi ekoenzim, masyarakat tidak hanya berkontribusi pada lingkungan, tetapi juga dapat mencegah timbulnya penyakit berbasis lingkungan seperti diare, disentri, dan malaria.

“Pemanfaatan kulit buah sebagai bahan dasar ekoenzim akan menghasilkan sabun disinfektan ramah lingkungan yang ekonomis dan bahkan bernilai jual,” ujarnya.

Lurah Pesawahan, Musa Shaleh., S.I.Kom, menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. Menurutnya, Kelurahan Pesawahan memiliki 117 kepala keluarga, dengan 80% di antaranya termasuk keluarga miskin. Data tahun 2024 mencatat bahwa wilayah ini menghasilkan sampah sebanyak 227 kg per hari, dengan 60% berasal dari sampah rumah tangga.

“Selama ini sampah rumah tangga belum dimanfaatkan secara maksimal. Kehadiran program pengabdian masyarakat ini tentu sangat membantu warga, khususnya ibu-ibu PKK, untuk mengolah sampah organik menjadi produk bermanfaat dan bernilai ekonomi,” ungkapnya.

Kegiatan ditutup dengan uji coba produk sabun disinfektan ECORIND, demonstrasi cara pemakaian yang tepat, serta diskusi terbuka mengenai strategi pemasaran, termasuk melalui platform digital agar produk dapat dikenal lebih luas.

Dengan adanya inovasi ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga memperoleh peluang ekonomi baru dari pemanfaatan limbah organik rumah tangga. (gil)

Editor: Gilang Agusman

BEM FK Universitas Malahayati Laksanakan Pengabdian Masyarakat di Desa Bunut, Gelar Penyuluhan, Pemeriksaan Gratis, hingga Donor Darah

PESAWARAN (malahayati.ac.id): Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati bekerjasama dengan Ikatan Alumni (IKA) FK Universitas Malahayati melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Klinik Bunut Raya Medistra, Desa Bunut, Kecamatan Way Ratai, Kabupaten Pesawaran.

Program ini menghadirkan berbagai layanan kesehatan bagi masyarakat, mulai dari penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan laboratorium gratis (gula darah, asam urat, dan kolesterol), skrining katarak, hingga donor darah. Kegiatan disambut antusias oleh warga, terbukti dengan kehadiran lebih dari 110 peserta yang berasal dari Desa Bunut dan Desa Wates, Kecamatan Way Ratai, Padang Cermin.

Ketua BEM FK Unmal, M. Irham, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu program kerja BEM FK Unmal periode 2024–2025. “Kami ingin menunjukkan kepedulian nyata mahasiswa kedokteran terhadap kondisi kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Desa Bunut dan Wates. Semoga keberadaan kami bisa memberikan manfaat dan membantu masyarakat menjaga kesehatan,” ujarnya.

Hadir dalam kesempatan tersebut antara lain Camat Way Ratai, Kepala Desa Bunut, Ketua IKA FK Unmal dr. Dian A., AIFO, Wakil Dekan Non Akademik FK Unmal Dr. dr. Hidayat, SpPK., Subsp. P.I (K), jajaran dokter, serta pengurus BEM FK Universitas Malahayati.

Camat Way Ratai dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap agar kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak wilayah. “Masih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan seperti ini. Kami berharap Universitas Malahayati bisa terus hadir di tengah masyarakat, khususnya di Kecamatan Way Ratai,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua IKA FK Unmal, dr. Dian A., AIFO, yang juga pemilik Klinik Bunut Raya Medistra, menyampaikan rasa bangga dan antusiasnya. Ia menilai kegiatan ini bukan hanya bentuk pengabdian, tetapi juga kontribusi nyata dalam mempererat hubungan antara alumni, mahasiswa, dan masyarakat. “Kami ingin kegiatan ini membawa nama baik Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati dan menunjukkan bahwa alumni memiliki kepedulian tinggi terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di Lampung,” ucapnya.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bukti nyata sinergi antara mahasiswa, alumni, dan civitas akademika Universitas Malahayati dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Semangat gotong royong, kepedulian, dan dedikasi para mahasiswa kedokteran diharapkan dapat terus menjadi inspirasi untuk melahirkan program-program bermanfaat lainnya di masa mendatang. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Dosen dan Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati Edukasi Pasien dalam Peringatan World Patient Safety Day 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam rangka memperingati World Patient Safety Day atau Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2025, dosen dan mahasiswa Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati menggelar kegiatan edukasi kesehatan di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin, Bandar Lampung.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, 20–24 September 2025, ini menyasar pasien ibu hamil dan balita di ruang kandungan, ruang anak, poli anak, dan poli kandungan. Sebanyak 51 responden turut serta dalam kegiatan yang dikemas dalam bentuk penyuluhan interaktif.

Fokus edukasi meliputi informasi penting mengenai pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat serta tata cara penggunaan obat yang benar. Topik ini dipilih untuk meningkatkan pemahaman pasien dalam menjaga kesehatan diri dan keluarga, sekaligus mendorong penerapan prinsip keselamatan pasien sesuai tema kampanye global World Patient Safety Day 2025.

Nova Muhani, SST., MKM, selaku Kaprodi S1 Kesehatan Masyarakat, menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam program ini bukan hanya sebatas kegiatan pengabdian masyarakat, tetapi juga menjadi ajang untuk mengasah kompetensi mereka di bidang promosi kesehatan.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap pasien lebih memahami pentingnya keselamatan pasien, khususnya dalam hal gizi serta pemberian obat yang sesuai. Edukasi seperti ini penting agar pengetahuan bisa benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kegiatan ini juga mendapat apresiasi positif dari pasien maupun tenaga kesehatan di RS Pertamina Bintang Amin. Mereka menilai bahwa informasi yang diberikan sangat membantu dalam meningkatkan kesadaran akan keselamatan pasien, terutama terkait pola makan balita dan keamanan penggunaan obat.

Sebagai tindak lanjut, Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati berencana memperluas kegiatan serupa di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Upaya ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam mendukung kampanye global keselamatan pasien serta memperkuat peran akademisi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Universitas Malahayati Buka Rekrutmen Dosen Tetap, Kesempatan Emas bagi Profesional

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali membuka peluang berkarier bagi para profesional di bidang kesehatan untuk bergabung sebagai Dosen Tetap. Kesempatan ini ditujukan bagi tenaga ahli yang memiliki dedikasi tinggi dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat guna mencetak generasi unggul serta berdaya saing global.

Adapun formasi yang dibuka meliputi: Dokter Spesialis Anak, Dokter Spesialis Urologi, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Dokter Magister Biomedik (Anatomi), Dokter Magister Biomedik (Fisiologi), Dokter Magister Biomedik (Histologi), Dokter Magister Biomedik (Parasitologi Klinis), Dokter Magister Biomedik (Biokimia)

Calon dosen tetap diharapkan memiliki kualifikasi minimal pendidikan S3, dengan syarat umum sebagai berikut:
• Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00
• Memiliki STR aktif
• Bertanggung jawab, mampu bekerja sama dalam tim, serta memiliki integritas tinggi
• Sehat jasmani dan rohani
• Tidak berstatus sebagai PNS atau bekerja di instansi lain
• Belum memiliki NIDN/NUPTK
• Bersedia melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat)

Bagi para kandidat yang memenuhi kualifikasi, lamaran ditujukan kepada:

Rektor Universitas Malahayati
Cq. Kepala Kepegawaian
Email: hrd@malahayati.ac.id

Universitas Malahayati mengajak para tenaga profesional untuk bergabung dalam lingkungan akademik yang dinamis, inovatif, dan berkomitmen pada peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia.

Bergabunglah bersama Universitas Malahayati untuk menjadi bagian dari tenaga pendidik profesional yang berperan aktif mencetak lulusan unggul, berdaya saing global, serta berkontribusi nyata bagi masyarakat. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Dosen Universitas Malahayati Adhitya Rizky Prabowo Resmi Sandang Gelar Doktor

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Kabar membanggakan kembali datang dari Universitas Malahayati. Salah satu dosen terbaik Fakultas Hukum, Dr. Adhitya Rizky Prabowo, S.H., M.H., resmi meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka program doktor ilmu hukum di Universitas Lampung, Rabu (17/9/2025).

Dalam sidang terbuka yang berlangsung khidmat tersebut, Dr. Adhitya Rizky Prabowo memaparkan hasil penelitiannya dengan judul “Keabsahan Formil Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan dan Akta Pemberian Hak Tanggungan dalam Menjamin Keadilan Hukum”. Penelitian ini menyoroti aspek penting keabsahan hukum dalam praktik pemberian hak tanggungan, yang berperan besar dalam menjamin kepastian dan keadilan hukum, khususnya di bidang perjanjian utang-piutang dan kredit perbankan.

Sidang promosi doktor ini dipimpin oleh para guru besar dan pakar hukum dari Universitas Lampung dengan susunan dewan penguji sebagai berikut:
1. Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A. – Ketua Penguji
2. Prof. Dr. Muhammad Akib, S.H., M.Hum. – Sekretaris Penguji
3. Dr. Rani Sri Agustina, S.H., M.H. – Penguji Eksternal
4. Dr. M. Fakih, S.H., M.S. – Penguji Internal
5. Prof. Dr. FX. Sumarja, S.H., M.Hum. – Penguji Internal
6. Dr. Ahmad Zazili, S.H., M.H. – Penguji Internal
7. Prof. Dr. I Gede A.B. Wiranata, S.H., M.H. – Promotor
8. Dr. Sunaryo, S.H., M.Hum. – Ko-Promotor

Melalui paparannya, Dr. Adhitya menegaskan bahwa aspek formil dalam surat kuasa membebankan hak tanggungan serta akta pemberian hak tanggungan seringkali menjadi titik krusial dalam praktik hukum di Indonesia. Disertasinya memberikan kontribusi penting untuk memperkuat fondasi keadilan hukum, baik bagi kreditur maupun debitur.

Dengan keberhasilan ini, Universitas Malahayati semakin meneguhkan posisinya sebagai kampus yang konsisten melahirkan akademisi dan peneliti berkualitas. Fakultas Hukum pun menambah daftar panjang dosen bergelar doktor yang diharapkan dapat memperkuat kualitas pendidikan dan penelitian di bidang hukum.

Atas capaian ini, keluarga besar Universitas Malahayati menyampaikan ucapan selamat dan kebanggaan. “Semoga ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat besar, tidak hanya bagi pengembangan ilmu hukum, tetapi juga dalam praktik hukum untuk masyarakat luas,” demikian harapan yang disampaikan civitas akademika.

Keberhasilan Dr. Adhitya Rizky Prabowo menjadi inspirasi bagi dosen dan mahasiswa untuk terus berprestasi serta berkontribusi dalam dunia akademik maupun profesional. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Ubah Limbah Jadi Berkah, Dosen Universitas Malahayati Transformasikan Cangkang Kerang Hijau Jadi Pupuk dan Pakan di Pulau Pasaran

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Potensi pesisir Lampung tak hanya terletak pada hasil lautnya yang melimpah, tetapi juga pada limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan. Di Pulau Pasaran, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur, masyarakat kini mendapat harapan baru melalui inovasi pengolahan limbah cangkang kerang hijau menjadi pupuk dan pakan ternak, yang mampu membangkitkan nilai tambah ekonomi warga setempat.

Program ini hadir berkat inisiatif tim dosen Universitas Malahayati yang memberikan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, hingga penerapan teknologi tepat guna melalui Hibah Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) DPPM Kemdikbudristek Tahun 2025 dengan Nomor Kontrak 205/C3/DT.05.00/PM II/2025 tertanggal 23 Juli 2025.

Kerang hijau (Perna viridis) banyak ditemukan di perairan dangkal seperti batu karang, pelabuhan, dan struktur pantai. Di berbagai daerah, termasuk Teluk Jakarta, Pantai Utara Pulau Jawa, Sumatera bagian timur, Kalimantan, hingga Sulawesi pesisir, keberadaan kerang hijau melimpah.

Namun, di Pulau Pasaran, limbah cangkang kerang hijau yang menumpuk sering kali hanya dijadikan timbunan tanah di sekitar rumah warga. Selain merusak estetika lingkungan, limbah ini belum memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat.

Melihat kondisi tersebut, tim dosen Universitas Malahayati yang dipimpin Euis Mufahamah, S.E., M.Ak bersama Anita, S.E., M.E dan Adi Prastyo, S.T., M.T menggagas pelatihan teknis pengolahan limbah cangkang kerang hijau menjadi produk bernilai guna.

Tak hanya sebatas produksi, program ini juga mengajarkan digitalisasi pemasaran melalui e-katalog Likerau, serta menghadirkan alat produksi modern yang dapat membantu masyarakat mengolah limbah secara lebih efektif. Mitra PKM dalam kegiatan ini adalah kelompok Pengrajin Kerambah Kerang Hijau Pulau Pasaran.

“Dengan adanya program ini, kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan limbah cangkang kerang hijau yang sebelumnya hanya menumpuk menjadi produk bermanfaat, baik untuk pupuk maupun pakan. Selain ramah lingkungan, tentu ini juga bisa menjadi peluang usaha baru,” jelas Euis Mufahamah.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada DPPM Kemdikbudristek yang telah memberikan dukungan pendanaan penuh untuk program PKM tahun anggaran 2025.

Program ini menjadi langkah nyata dalam mewujudkan asta cita pembangunan desa pesisir, dengan mengedepankan kemandirian ekonomi masyarakat. Nelayan Pulau Pasaran yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil laut kini didorong agar mampu menangkap peluang baru dari pengolahan limbah yang ada di sekitar mereka.

Dengan dukungan teknologi produksi modern dan strategi pemasaran yang terintegrasi, inovasi ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat pesisir yang tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. (gil)

Editor: Gilang Agusman