Negeri Palsu

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Menjelang Idhul Adha lalu ada seorang jurnalis profesional yang sangat mumpuni pada bidangnya, dan sangat jago buat menulis, beliau ngudoroso (bahasa Jawa yang makna bebasnya kegiatan ngobrol sama diri sendiri dalam hati); mengatakan bahwa banyak pihak yang tiba-tiba pandai menulis bagus, ternyata dibantu oleh program buatan yang sedang marak sekarang.

“Obrolan sanubari” sang jurnalis tadi ditanggapi banyak teman, termasuk penulis, bahwa hal seperti itu sedang mewabah di negeri palsu. Bahkan, kini kepalsuan justru dilakukan terang-terangan, seolah menjadi bagian normal dari kehidupan bersama. Yang dipalsukan bukan lagi sekadar tanda tangan atau dokumen kecil, melainkan hal-hal yang seharusnya menjadi fondasi moral sebuah bangsa: pendidikan, ekonomi rakyat, ibadah, bahkan ilmu pengetahuan.

Kepalsuan itu sebenarnya secara filosofis selalu lahir dari dua hal: yaitu keserakahan dan pembiaran. Keserakahan mendorong orang mencari keuntungan tanpa kerja keras, sementara pembiaran membuat kebohongan tumbuh tanpa rasa takut. Dalam keadaan seperti itu, kejujuran menjadi sesuatu yang dianggap bodoh. Orang yang bekerja sungguh-sungguh kalah cepat dibanding mereka yang memanipulasi keadaan.

Masyarakat perlahan belajar bahwa penampilan lebih penting daripada isi, simbol lebih dihargai daripada kualitas, dan citra lebih menentukan daripada integritas.

Ijazah palsu bukan hanya soal lembar kertas. Ia adalah pengkhianatan terhadap pendidikan itu sendiri. Pendidikan seharusnya menjadi jalan pembentukan karakter, disiplin, dan kemampuan berpikir. Namun ketika ijazah dapat dibeli atau direkayasa, maka ilmu kehilangan makna. Gelar tidak lagi mencerminkan kemampuan, melainkan sekadar akses terhadap kekuasaan dan pekerjaan.

Akibatnya, ruang publik dipenuhi orang-orang yang mungkin memiliki jabatan, tetapi miskin kompetensi. Mereka berbicara tentang masa depan tanpa pemahaman, mengambil keputusan tanpa kapasitas, dan memimpin tanpa keteladanan. Mereka yang paling dirugikan adalah yang belajar dengan jujur selama bertahun-tahun, sebab usaha mereka terasa tidak ada nilainya di tengah budaya manipulasi.

Di sektor ekonomi rakyat, kepalsuan juga menemukan bentuknya sendiri. Nama koperasi yang seharusnya menjadi simbol gotong royong dan kesejahteraan bersama justru dipakai untuk menipu masyarakat kecil. Bagaimana tidak, bangunan koperasi diletakkan pada tempat yang bukan tempatnya; di atas gunung, di lereng jurang, di tengah tambak, di tepi kuburan, dan masih banyak lagi keanehan.

Belum lagi rakyat yang dibiarkan berjuang sendiri, mencari modal sendiri, mencari pelanggan sendiri; begitu kelihatan sedikit bisa bernapas, datang petugas pajak untuk memalak mereka. UMKM yang seharusnya dibina malah dibinasakan.

Pada urusan ibadah kepalsuan tetap mendapat tempat. Dibeli dari anggaran negara, yang berarti itu uang rakyat, justru hewannya atas nama pejabat tertinggi negeri ini. Padahal kurban seharusnya menjadi simbol keikhlasan dan pengorbanan. Ketika ibadah dicemari penipuan, yang akan rusak adalah nilai spiritual masyarakat. Main cantiknya; ketika hari penyembelihan tiba, kawan terbang ke luar negeri atas nama tugas negara. Padahal di dalam negerinya sendiri tugas masih amat sangat berjibun.

Paling menyedihkan lagi adalah ketika kepalsuan merambah dunia akademik menyangkut riset dan ilmu pengetahuan. Ilmu seharusnya menjadi cahaya bagi kemajuan bangsa, tetapi kini ada penelitian yang dibuat dengan pola menipu, data yang dimanipulasi, dan publikasi dikejar hanya demi mendapatkan cuan. Angka-angka disusun bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk dimanipulasi. Bahkan jati diri penelitipun ikut dimanipulasi alias dipalsukan. Bagaimana mungkin sebuah negara bisa maju jika fondasi pengetahuannya dibangun di atas kebohongan ?. Secara filosofis jika hakekat ontologis sudah dipalsukan; maka tinggal menunggu saja kehancuran peradaban akademik suatu negara.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kepalsuan bukan lagi perilaku individu semata, melainkan sudah menjadi budaya yang merembes ke berbagai lini kehidupan. Kita hidup di zaman ketika banyak orang lebih sibuk terlihat hebat daripada benar-benar menjadi hebat. Media sosial memperparah keadaan dengan memberi panggung besar bagi pencitraan. Banyak orang rela memoles kehidupan agar tampak sukses, religius, pintar, dan peduli, meski kenyataannya kosong.

Masyarakat akhirnya terbiasa menilai sesuatu dari kemasan, bukan dari isi. Dalam situasi seperti itu, kebohongan menjadi mudah diterima karena orang lebih menyukai ilusi daripada kenyataan. Joged di atas panggung dua tahun lalu yang kita saksikan, ternyata hasilnya derai air mata yang kita tuai hari ini.

Kepercayaan adalah fondasi utama kehidupan berbangsa. Tanpa kepercayaan, pendidikan kehilangan wibawa, ekonomi kehilangan stabilitas, ibadah kehilangan makna, dan ilmu pengetahuan kehilangan kehormatan. Masyarakat yang saling curiga akan sulit bersatu membangun masa depan. Semua orang akan sibuk melindungi diri masing-masing karena tidak lagi yakin pada sistem maupun sesama warga.

Sebuah bangsa tidak menjadi besar karena banyaknya slogan yang diproduksi, melainkan karena keberanian mempertahankan kebenaran yang harus ditegakkan kapanpun juga. Negeri yang dipenuhi kepalsuan mungkin masih tampak megah dari luar, tetapi rapuh di dalam. Cepat atau lambat, kebohongan akan runtuh oleh beratnya sendiri. Pertanyaannya tersisa adalah: ketika semua topeng itu jatuh, apakah negeri ini masih memiliki cukup orang jujur untuk menyelamatkannya ?

Entahlah.

Ketika Kekuasaan Berhenti Mendengar

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Pagi menjelang siang terjadi diskusi kecil lewat piranti media sosial dengan seorang penulis, sekaligus penggiat demokrasi. Bermula dari remeh-temeh persoalan ringan, kemudian naik kelevel yang lebih “ngeri-ngeri sedap”; karena bicara masalah negara. Tampaknya ada sekelompok kepentingan yang mencoba “memancing diair keruh”; berharap friksi oposisi berubah menjadi pembenci kepada pemerintahan yang sah. Diskusi itu meluas menyangkut pimpinan negeri yang tidak mau mendengar kritik , dan sampai pada peluang adanya kudeta sunyi atau kudeta merayap yang dilakukan oleh kelompok yang punya kepentingan. Dari diskusi tadi memancing penulis untuk menelisik lebih jauh, tentu bersumber dari referensi yang ada, itupun sebatas dari sudut pandang filsafat manusia.

Sejarah politik menunjukkan bahwa keruntuhan kualitas pemerintahan jarang diawali oleh perebutan kekuasaan secara terbuka. Dalam banyak kasus, kemunduran justru berawal dari proses yang lebih halus, lebih sistematis, dan sering kali tidak disadari oleh para pelaku utamanya. Proses tersebut terjadi ketika kekuasaan secara perlahan kehilangan kemampuan untuk mendengar kritik, menerima koreksi, dan mengakomodasi pandangan yang berbeda. Pada titik inilah apa yang dapat disebut sebagai “kudeta sunyi” mulai berlangsung, yakni kudeta terhadap akal sehat dan mekanisme pengendalian kekuasaan itu sendiri.

Fenomena tersebut biasanya tidak ditandai oleh hadirnya oposisi yang kuat, melainkan oleh melemahnya keberanian di lingkungan internal kekuasaan. Ketika seorang pemimpin semakin yakin bahwa intuisi pribadinya lebih unggul dibandingkan nasihat para ahli, maka proses pengambilan keputusan akan bergeser dari pendekatan rasional menuju pendekatan personalistik. Dalam situasi demikian, kebijakan publik tidak lagi ditentukan oleh kualitas ar gumentasi, melainkan oleh kedekatan terhadap pusat kekuasaan.

Masalah utama dari kepercayaan diri yang berlebihan bukanlah optimisme, melainkan ilusi infalibilitas, yaitu keyakinan bahwa seseorang tidak mungkin salah. Dalam tradisi politik modern, tidak ada ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan keyakinan bahwa kekuasaan telah mencapai tingkat kebijaksanaan yang tidak lagi memerlukan kritik. Ketika hal tersebut terjadi, kritik tidak lagi dipandang sebagai instrumen koreksi, melainkan sebagai bentuk pembangkangan. Nasihat dianggap gangguan. Sementara pujian diterima sebagai konfirmasi bahwa seluruh kebijakan telah berjalan sesuai arah yang benar. Salah satu ciri kepemimpinan model ini ialah; jika mendapat masukan, apalagi kritik, belum selesai lawan bicara, sudah mencelah, dan memaksakan pembenarannya sendiri.

Akibatnya, ruang deliberasi mengalami penyempitan. Diskusi yang seharusnya menjadi arena pertukaran gagasan berubah menjadi mekanisme reproduksi persetujuan. Para pembantu kekuasaan tidak lagi berlomba menghadirkan solusi terbaik, melainkan berlomba menghadirkan kalimat yang paling menyenangkan untuk didengar. Dalam kondisi demikian, loyalitas memperoleh posisi yang lebih tinggi dibandingkan kompetensi, sedangkan kepatuhan lebih dihargai daripada kejujuran intelektual.

Ironisnya, situasi semacam ini sering dianggap sebagai bukti stabilitas politik. Tidak adanya perbedaan pendapat dipersepsikan sebagai kesatuan visi. Tidak adanya kritik dianggap sebagai keberhasilan kepemimpinan. Padahal dalam perspektif kelembagaan, hilangnya kritik justru merupakan indikator melemahnya kesehatan sistem politik. Sebuah pemerintahan yang sehat bukanlah pemerintahan yang bebas kritik, melainkan pemerintahan yang mampu mengelola kritik sebagai sumber perbaikan.

Dalam konteks tersebut, ancaman terbesar bagi sebuah negara bukanlah perlawanan dari luar, melainkan terbentuknya ruang gema kekuasaan. Ruang gema muncul ketika seorang pemimpin hanya mendengar informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri. Fakta-fakta yang tidak sejalan disaring sebelum mencapai pusat pengambilan keputusan. Laporan yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan direduksi. Data yang menunjukkan kegagalan disajikan dengan bahasa yang lebih lunak. Pada akhirnya, pemimpin tidak lagi berhadapan dengan realitas, melainkan dengan representasi realitas yang telah dimodifikasi oleh para penjaga akses kekuasaan.

Kondisi tersebut menciptakan paradoks yang menarik. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin sedikit informasi jujur yang diterimanya. Semakin tinggi posisi politiknya, semakin besar kemungkinan ia hidup dalam konstruksi kenyataan yang berbeda dari pengalaman masyarakat sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, kebijakan publik berisiko kehilangan relevansinya karena dirumuskan berdasarkan persepsi yang tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan kondisi objektif di lapangan.

Lebih jauh lagi, kepercayaan diri yang tidak disertai kesediaan untuk mendengar kritik berpotensi menghasilkan apa yang oleh ilmuwan politik disebut sebagai overconfidence trap. Pemimpin mulai menganggap keberhasilan masa lalu sebagai jaminan keberhasilan masa depan. Setiap peringatan dianggap berlebihan. Setiap kekhawatiran dipandang sebagai pesimisme. Setiap kritik dicurigai memiliki motif politik. Akhirnya banyak orang yang berbeda dimasukkan penjara tanpa mengetahui apa salahnya. Akibat lanjut kapasitas untuk melakukan evaluasi diri melemah secara signifikan.

Argumentasi filosofis mengatakan bahwa banyak pemimpin justru merasa paling kuat pada saat mereka sedang kehilangan instrumen koreksi. Mereka merasa memperoleh dukungan penuh ketika tidak ada lagi yang berani berbeda pendapat. Mereka menganggap situasi terkendali ketika seluruh laporan menunjukkan hasil positif. Mereka percaya sistem berjalan sempurna ketika tidak ada suara yang mengganggu kenyamanan kekuasaan. Padahal yang sedang terjadi mungkin sebaliknya: sistem telah kehilangan kemampuan untuk menyampaikan kabar buruk kepada puncak kekuasaan.

Di sinilah kudeta sunyi menemukan bentuknya yang paling nyata. Kudeta tersebut tidak dilakukan oleh oposisi, tidak pula oleh kelompok bersenjata. Kudeta itu berlangsung melalui normalisasi budaya kepatuhan yang berlebihan, pengabaian terhadap kritik, serta penguatan lingkungan politik yang hanya memproduksi persetujuan. Yang direbut bukanlah kursi kekuasaan, melainkan kemampuan kekuasaan untuk melihat dirinya sendiri secara jernih.

Oleh karena itu, ukuran kematangan seorang pemimpin tidak terletak pada seberapa banyak pujian yang diterimanya, melainkan pada seberapa besar kesediaannya mendengar pandangan yang tidak menyenangkan. Sebab sejarah berulang kali memperlihatkan bahwa kekuasaan jarang runtuh karena terlalu banyak kritik. Sebaliknya, kekuasaan sering kali tersandung karena terlalu lama mempercayai bahwa dirinya tidak memerlukan kritik sama sekali. Ketika keyakinan tersebut mengakar, maka yang berlangsung bukan lagi sekadar kesalahan politik, melainkan proses perlahan yang menyerupai kudeta terhadap nalar dalam jantung kekuasaan itu sendiri.

Secara filosofis kudeta seperti ini sangat berbahaya, lebih berbahaya dari kudeta apapun. Pada moment satu Juni sebagai hari lahirnya falsafah bangsa yang diberi nama Pancasila ini; mari kita sadar diri bahwa tidak ada satupun bangsa luar sana yang rela melihat bangsa ini damai. Mari kita bersatu padu dalam menyelamatkan negeri ini dari kehancuran; sekalipun kita secara entitas memiliki perbedaan. Salam Waras (R-2)

LORONG SUNYI DI HARI LIBUR

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Saat menjelang libur panjang Idhul Adha lalu, sementara menunggu jemputan, maklum sudah menjadi taman kakek-kakek, berbincang dengan seorang karyawan yang bertugas pada level bawah. Saat ditanya mau kemana libur panjang, mukanya tampak sekilas agak berubah, dan tidak lama menghela nafas dalam-dalam. Beliau berkata lirih mengatakan bahwa libur terlalu lama itu malapetaka baginya. Tentu jawaban ini mendorong untuk bertanya lebih dalam, dan ternyata semua itu berkaitan dengan berkurangnya pendapatan mereka.

Bagi banyak orang, libur panjang adalah berkah yang selalu ditunggu. Kalender yang dipenuhi tanggal merah terasa seperti pintu menuju kebahagiaan kecil setelah hari-hari panjang yang melelahkan. Jalanan dipenuhi kendaraan yang membawa keluarga pulang ke kampung halaman, pusat perbelanjaan dipenuhi wajah-wajah gembira, dan rumah-rumah kembali hidup oleh percakapan yang selama ini tertunda oleh kesibukan. Orang-orang merasa memiliki alasan untuk bernapas lebih pelan, tidur lebih lama, dan melupakan sejenak kerasnya tuntutan hidup. Libur panjang dianggap sebagai kesempatan untuk kembali menjadi manusia yang utuh setelah terlalu lama dipaksa menjadi mesin.

Namun kebahagiaan tidak pernah dibagi secara merata, disitulah letak adilnya Sang Maha Pencipta. Di balik suasana ramai dan penuh tawa itu, ada sedikit orang yang justru merasa terjebak dalam hari-hari yang terlalu sunyi. Libur panjang tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai tekanan yang bergerak perlahan di dalam kepala. Ketika aktivitas berhenti, pikiran mulai berjalan tanpa arah. Ketika pekerjaan menghilang sementara, ketakutan yang selama ini tertutup rutinitas mulai bermunculan satu demi satu.

Ada orang-orang yang menggantungkan hidup pada pekerjaan harian, pada upah yang datang dari langkah kaki dan tenaga yang dikeluarkan setiap hari. Bagi mereka, libur panjang bukan kesempatan untuk beristirahat, melainkan jeda yang menakutkan. Penghasilan berhenti, sementara kebutuhan tetap berjalan seperti biasa. Tagihan tidak ikut libur. Harga kebutuhan pokok tidak menjadi lebih murah hanya karena kalender menunjukkan hari merah. Hidup tetap meminta biaya, bahkan ketika kesempatan mencari uang sedang ditutup sementara sekalipun.

Di saat banyak orang menikmati makan bersama keluarga, sebagian lainnya duduk dalam diam sambil menghitung sisa uang yang makin menipis. Mereka membuka dompet berkali-kali seolah berharap jumlahnya berubah dengan sendirinya. Mereka memeriksa telepon bukan untuk membaca ucapan liburan, melainkan untuk memastikan apakah masih ada pekerjaan yang mungkin datang secara mendadak. Ada kecemasan yang sulit dijelaskan ketika seseorang sadar bahwa beberapa hari tanpa penghasilan dapat mengubah seluruh keadaan hidupnya.

Kesibukan sebenarnya sering menjadi cara paling sederhana untuk melarikan diri dari ketakutan. Saat tubuh sibuk bekerja, pikiran tidak memiliki cukup ruang untuk memikirkan banyak hal. Manusia merasa hidupnya masih bergerak karena setiap hari memiliki tujuan yang jelas. Namun ketika libur panjang datang dan semua mendadak berhenti, manusia dipaksa duduk bersama dirinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, banyak suara gelap mulai terdengar lebih jelas.

Bagi sebagian orang, malam saat libur panjang terasa jauh lebih berat dibanding hari biasa. Tidak ada kelelahan pekerjaan yang dapat memaksa tubuh segera tidur. Pikiran justru terus berjalan tanpa henti. Suara jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Lampu kamar terasa terlalu redup. Kesunyian seperti duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan setiap kecemasan yang muncul perlahan. Ada orang-orang yang terjaga sampai dini hari bukan karena menikmati waktu santai, melainkan karena terlalu takut menghadapi hari esok.

Ironisnya, dunia selalu menganggap libur panjang sebagai waktu yang membahagiakan. Orang yang terlihat murung ketika semua orang sedang bersenang-senang sering dianggap aneh. Padahal tidak semua manusia memiliki rumah yang hangat untuk pulang. Tidak semua orang memiliki keluarga yang mampu mengusir rasa sepi. Ada yang justru merasa semakin kosong ketika terlalu lama berada di rumah. Ada yang merasa hidupnya kehilangan arah ketika rutinitas berhenti mendadak.

Media sosial membuat keadaan terasa lebih menyakitkan. Foto-foto perjalanan, meja makan yang penuh, dan wajah-wajah bahagia muncul tanpa henti di layar medsos. Kebahagiaan orang lain bergerak begitu dekat, tetapi terasa sangat jauh untuk disentuh. Sebagian orang akhirnya hanya menatap layar sambil merasa hidupnya semakin tertinggal. Mereka tidak iri pada kebahagiaan itu, tetapi merasa asing karena tidak mampu merasakan hal yang sama.

Pada akhirnya, libur panjang hanya memperlihatkan keadaan manusia yang sebenarnya. Sebagian menemukan ketenangan dalam jeda, tetapi sebagian lain menemukan ketakutan yang selama ini berhasil disembunyikan oleh kesibukan. Hari-hari yang seharusnya membawa istirahat berubah menjadi lorong sunyi yang dipenuhi bayang keraguan, kecemasan, dan rasa takut akan hidup yang terus bergerak tanpa belas kasihan. Bagi sedikit orang, libur panjang bukan waktu untuk merayakan kebersamaan, melainkan saat ketika kesunyian terasa paling keras dan kehidupan tampak jauh lebih berat daripada hari-hari biasa. Benar kata para ulama terdahulu yang mengatakan bahwa bisa jadi sesuatu itu berkah bagi yang lain, tetapi malapetaka bagi lainnya.

Salam Waras dari lorong waktu

Mengkaji Partitur Orkestrasi Kepsek SMAN 14, 100 Persen Siswa Terima PTN

Penulis Prof. Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Ditengah keraguan akan mutu pendidikan di provinsi ini, kita dikejutkan oleh satu berita di media yang digawangi Herman Batin Mangku (HBM) ini, yaitu lolosnya seluruh siswa SMA Negeri 14 Kota Bandarlampung masuk ke Perguruan Tinggi Negeri di republik ini. Terbayang wajah kepala sekolahnya.

Beberapa tahun lalu, penulis diundang beliau dalam satu even pendidikan di sekolahnya. Kepala sekolah bertangan dingin ini sudah menangani entah berapa sekolah, dari yang paling melegenda sampai sekolah pinggiran.

Beliau dengan kepiawaiannya membangun orkestrasi di tempat bertugas. Dan, inilah capaian puncak beliau menjelang masa-masa purna bakti.

Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia, keberhasilan sebuah sekolah mengantarkan seluruh siswanya lolos ke PTN merupakan pencapaian yang luar biasa.

Prestasi seperti ini bukan sekadar angka statistik yang membanggakan, melainkan cerminan dari proses panjang yang dibangun melalui budaya sekolah yang sehat, kepemimpinan yang visioner, kerja keras para guru, dan karakter siswa yang kuat.

Kesuksesan tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Di balik capaian seratus persen siswa diterima di perguruan tinggi negeri, terdapat fondasi yang kokoh berupa sinergi antara sekolah, tenaga pendidik, peserta didik, dan lingkungan belajar yang mendukung.

Keberhasilan sebuah sekolah sering kali dimulai dari arah kepemimpinan yang jelas. Kepala sekolah memiliki peran penting sebagai penggerak utama budaya pendidikan.

Sosok pemimpin yang mampu membangun semangat, kedisiplinan, dan visi bersama akan menciptakan suasana sekolah yang hidup dan penuh optimisme.

Pemimpin pendidikan yang baik tidak hanya hadir sebagai administrator, tetapi juga menjadi inspirator bagi guru dan siswa.

Ia memahami bahwa keberhasilan akademik tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan siswa, melainkan membutuhkan sistem yang terorganisasi dan motivasi yang terus dijaga. Soal yang satu ini tidak banyak orang yang mampu melakonkannya.

Kepemimpinan yang baik tidak akan berjalan tanpa dukungan guru-guru yang andal. Guru merupakan ujung tombak pendidikan yang bersentuhan langsung dengan siswa setiap hari.

Peran mereka tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun kepercayaan diri, semangat juang, dan daya tahan mental peserta didik.

Guru yang hebat adalah mereka yang memahami bahwa setiap siswa memiliki kemampuan berbeda dan membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

Keandalan guru terlihat dari kesungguhan mereka mendampingi siswa menghadapi proses seleksi masuk perguruan tinggi yang semakin kompetitif.

Mereka rela meluangkan waktu tambahan di luar jam belajar, memberikan bimbingan intensif, mengadakan latihan soal, hingga menjadi tempat bertanya bagi siswa yang mengalami kesulitan.

Guru yang berdedikasi tidak pernah membiarkan siswa merasa sendiri dalam perjuangannya. Mereka hadir sebagai pembimbing sekaligus motivator yang terus mengingatkan bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil.

Selain itu, keberhasilan sekolah juga lahir dari budaya disiplin yang diterapkan secara konsisten. Disiplin bukan hanya soal aturan berpakaian atau ketepatan waktu, tetapi juga tentang komitmen menjalankan proses belajar dengan sungguh-sungguh.

Ketika seluruh warga sekolah memiliki semangat yang sama untuk maju, maka energi positif akan terbentuk dengan sendirinya. Lingkungan seperti inilah yang mampu mendorong siswa mencapai potensi terbaik mereka.

Kondisi ini tercipta tidak datang dari langit, tetapi diciptakan bersama antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan lain, dan komite sekolah.

Dengan kata lain, prestasi seratus persen masuk PTN juga menunjukkan bahwa pendidikan yang berhasil tidak semata-mata bergantung pada fasilitas mewah. Yang paling utama adalah kualitas manusia di dalamnya.

Sekolah yang memiliki pemimpin inspiratif, guru berdedikasi, dan siswa berkarakter kuat akan mampu melahirkan prestasi besar meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa keberhasilan pendidikan sejatinya dibangun melalui kerja sama, ketulusan, dan semangat untuk terus berkembang.

Pada akhirnya, keberhasilan seluruh siswa diterima di perguruan tinggi negeri merupakan bukti bahwa mimpi besar dapat diwujudkan ketika semua pihak berjalan bersama.

Kepemimpinan yang kuat memberi arah, guru yang andal memberi ilmu dan semangat, sementara siswa yang rendah hati menjaga proses belajar tetap hidup dan bermakna. Ketiganya menjadi kunci utama lahirnya prestasi yang membanggakan.

Lebih dari sekadar angka kelulusan, keberhasilan ini adalah cermin bahwa pendidikan yang dijalankan dengan hati, kerja keras, dan karakter yang baik akan selalu menghasilkan masa depan yang gemilang.

Semoga pimpinan tertinggi daerah ini dapat mengapresiasi kerja-kerja pendidikan seperti ini.

Salam Waras

Saat Rakyat Menjadi Kurban Abadi

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Gema takbir kembali memenuhi langit dan jalan-jalan dipadati manusia yang membawa harapan, doa, dan keyakinan bahwa pengorbanan adalah jalan menuju kemuliaan. Hewan-hewan kurban disembelih sebagai simbol keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama. Namun di balik suasana yang khidmat itu, ada pertanyaan yang diam-diam menggantung di kepala: mengapa rakyat seolah tidak pernah berhenti menjadi pihak yang paling sering diminta berkorban?

Entah sudah berapa kali perayaan datang dan pergi dalam bentuk apapun, dan entah sudah berapa banyak kurban disembelih; namun kehidupan sebagian masyarakat tetap berjalan di lorong yang sama. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, lapangan pekerjaan makin sulit diperebutkan, sementara penghasilan tidak bertambah secepat kebutuhan hidup. Banyak orang bekerja sejak matahari belum terbit hingga malam menjelang, tetapi tetap merasa hidupnya hanya cukup untuk bertahan sampai esok hari. Dalam keadaan seperti itu, kata “pengorbanan” terdengar tidak lagi sakral, melainkan seperti kewajiban abadi yang dibebankan kepada rakyat kecil.

Negara sering meminta masyarakat bersabar demi pembangunan, demi stabilitas, demi masa depan yang lebih baik, demi angka statistika yang harus terlihat rapi. Kesabaran itu memang penting, tetapi masalah muncul ketika kesabaran berubah menjadi alasan untuk membiarkan penderitaan berlangsung terlalu lama. Rakyat diminta memahami keadaan ekonomi, menerima kenaikan harga, memaklumi kebijakan yang membebani, dan tetap percaya bahwa semuanya dilakukan demi kepentingan bersama. Ironisnya, mereka yang paling banyak diminta memahami keadaan justru adalah mereka yang hidupnya paling rapuh.

Pergantian pemimpin sering menghadirkan harapan baru. Wajah-wajah baru muncul dengan janji perubahan, perbaikan, dan kesejahteraan. Kampanye dipenuhi kata-kata tentang keberpihakan kepada rakyat kecil. Namun setelah pesta demokrasi usai, kehidupan sehari-hari masyarakat sering kembali berjalan seperti sebelumnya. Pedagang kecil tetap kesulitan mendapatkan pembeli, buruh tetap dihantui ketidakpastian upah, petani tetap bergantung pada cuaca dan harga pasar yang tidak menentu.

Pergantian pemimpin kadang hanya terasa di layar televisi dan media sosial, tetapi belum tentu terasa di dapur rakyat. bahkan jika ada rakyat yang berteriak justru pemimpin tertinggi berteriak “kalau pintar kenapa tidak jadi presiden”. Ini menjadi ironi, semula mengemis, mengiba, menderaikan air mata dihadapan rakyat. Ternyata bak pepatah lama “bagai musang berbulu domba”.

Periuk nasi menjadi simbol paling jujur tentang keadaan masyarakat saat ini. Selama periuk itu masih mengepul, orang akan berusaha bertahan. Tetapi ketika harga beras naik, minyak mahal, dan biaya hidup terus menekan, menjaga agar periuk tidak terbalik saja sudah menjadi perjuangan besar. Banyak keluarga harus mengurangi kebutuhan, menunda keinginan, bahkan mengorbankan kesehatan dan pendidikan demi memastikan makanan tetap tersedia di meja makan. Dalam kondisi seperti itu, kemewahan bukan lagi soal kendaraan atau rumah besar, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar tanpa rasa cemas.

Menyedihkan lagi adalah ketika pengorbanan rakyat dianggap hal biasa. Kesulitan hidup perlahan dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Orang miskin dianggap harus bekerja lebih keras, seolah kemiskinan semata-mata akibat kurangnya usaha. Padahal banyak masyarakat telah bekerja tanpa henti dan tetap tidak mampu keluar dari lingkaran kesulitan. Ada sistem yang kadang tidak memberi ruang adil bagi semua orang untuk tumbuh bersama.

Di tengah situasi itu, masyarakat sebenarnya tidak menuntut hal muluk-muluk. Mereka tidak selalu meminta hidup mewah atau fasilitas berlebihan. Banyak orang hanya ingin harga kebutuhan pokok stabil, pekerjaan tersedia, pendidikan terjangkau, layanan kesehatan mudah diakses, dan masa depan anak-anak mereka tidak suram. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang tanpa dihantui ketakutan bahwa esok hari akan lebih berat daripada hari ini.

Sayangnya, perhatian terhadap rakyat sering muncul lebih kuat saat momentum politik mendekat. Setelah itu, suara-suara kecil kembali tenggelam di antara pidato dan angka-angka statistik yang terlihat indah di atas kertas. Pertumbuhan ekonomi diumumkan dengan bangga, tetapi sebagian masyarakat tetap merasa jauh dari kesejahteraan. Ada jarak antara data dan kenyataan. Di satu sisi, pembangunan tampak megah; di sisi lain, masih banyak orang yang harus menghitung uang receh untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Padahal sebuah negara seharusnya hadir untuk mengurangi beban rakyat, bukan sekadar meminta rakyat terus menanggung beban demi negara. Pengorbanan memang bagian dari kehidupan berbangsa, tetapi pengorbanan itu harus dibagi secara adil. Jangan sampai hanya masyarakat kecil yang terus diminta mengencangkan ikat pinggang, sementara sebagian pihak hidup dalam kenyamanan yang jauh dari rasa krisis. Ketidakadilan semacam inilah yang perlahan melahirkan kelelahan sosial dan hilangnya kepercayaan.

Meski demikian, rakyat sering menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Dalam keterbatasan, mereka tetap saling membantu. Tetangga berbagi makanan, keluarga saling menopang, dan masyarakat kecil menemukan cara untuk bertahan bersama. Solidaritas tumbuh justru ketika keadaan sulit. Ini menunjukkan bahwa kekuatan bangsa sebenarnya terletak pada rakyatnya yang tidak mudah menyerah.

Namun ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan mereka terus menderita. Kesabaran masyarakat ada batasnya. Negara membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kehidupan nyata rakyat, bukan sekadar narasi yang terdengar indah. Kesejahteraan tidak cukup dijanjikan; ia harus dirasakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Hari raya kurban sejatinya mengajarkan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Semangat itu seharusnya tidak berhenti pada ritual tahunan, melainkan menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara. Mereka yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab semestinya juga belajar berkorban demi kepentingan rakyat, bukan sebaliknya. Sebab jika rakyat terus-menerus menjadi pihak yang paling banyak diminta mengalah, maka kurban tidak lagi menjadi simbol kemuliaan, melainkan lambang panjangnya penderitaan yang belum juga menemukan akhir.
Selamat Idhul Adha. (R-2)

( malahayati.ac.id ) – Gema takbir kembali memenuhi langit dan jalan-jalan dipadati manusia yang membawa harapan, doa, dan keyakinan bahwa pengorbanan adalah jalan menuju kemuliaan. Hewan-hewan kurban disembelih sebagai simbol keikhlasan, kepedulian, dan semangat berbagi kepada sesama. Namun di balik suasana yang khidmat itu, ada pertanyaan yang diam-diam menggantung di kepala: mengapa rakyat seolah tidak pernah berhenti menjadi pihak yang paling sering diminta berkorban?

Entah sudah berapa kali perayaan datang dan pergi dalam bentuk apapun, dan entah sudah berapa banyak kurban disembelih; namun kehidupan sebagian masyarakat tetap berjalan di lorong yang sama. Harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, lapangan pekerjaan makin sulit diperebutkan, sementara penghasilan tidak bertambah secepat kebutuhan hidup. Banyak orang bekerja sejak matahari belum terbit hingga malam menjelang, tetapi tetap merasa hidupnya hanya cukup untuk bertahan sampai esok hari. Dalam keadaan seperti itu, kata “pengorbanan” terdengar tidak lagi sakral, melainkan seperti kewajiban abadi yang dibebankan kepada rakyat kecil.

Negara sering meminta masyarakat bersabar demi pembangunan, demi stabilitas, demi masa depan yang lebih baik, demi angka statistika yang harus terlihat rapi. Kesabaran itu memang penting, tetapi masalah muncul ketika kesabaran berubah menjadi alasan untuk membiarkan penderitaan berlangsung terlalu lama. Rakyat diminta memahami keadaan ekonomi, menerima kenaikan harga, memaklumi kebijakan yang membebani, dan tetap percaya bahwa semuanya dilakukan demi kepentingan bersama. Ironisnya, mereka yang paling banyak diminta memahami keadaan justru adalah mereka yang hidupnya paling rapuh.

Pergantian pemimpin sering menghadirkan harapan baru. Wajah-wajah baru muncul dengan janji perubahan, perbaikan, dan kesejahteraan. Kampanye dipenuhi kata-kata tentang keberpihakan kepada rakyat kecil. Namun setelah pesta demokrasi usai, kehidupan sehari-hari masyarakat sering kembali berjalan seperti sebelumnya. Pedagang kecil tetap kesulitan mendapatkan pembeli, buruh tetap dihantui ketidakpastian upah, petani tetap bergantung pada cuaca dan harga pasar yang tidak menentu.

Pergantian pemimpin kadang hanya terasa di layar televisi dan media sosial, tetapi belum tentu terasa di dapur rakyat. bahkan jika ada rakyat yang berteriak justru pemimpin tertinggi berteriak “kalau pintar kenapa tidak jadi presiden”. Ini menjadi ironi, semula mengemis, mengiba, menderaikan air mata dihadapan rakyat. Ternyata bak pepatah lama “bagai musang berbulu domba”.

Periuk nasi menjadi simbol paling jujur tentang keadaan masyarakat saat ini. Selama periuk itu masih mengepul, orang akan berusaha bertahan. Tetapi ketika harga beras naik, minyak mahal, dan biaya hidup terus menekan, menjaga agar periuk tidak terbalik saja sudah menjadi perjuangan besar. Banyak keluarga harus mengurangi kebutuhan, menunda keinginan, bahkan mengorbankan kesehatan dan pendidikan demi memastikan makanan tetap tersedia di meja makan. Dalam kondisi seperti itu, kemewahan bukan lagi soal kendaraan atau rumah besar, melainkan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar tanpa rasa cemas.

Menyedihkan lagi adalah ketika pengorbanan rakyat dianggap hal biasa. Kesulitan hidup perlahan dipandang sebagai sesuatu yang wajar. Orang miskin dianggap harus bekerja lebih keras, seolah kemiskinan semata-mata akibat kurangnya usaha. Padahal banyak masyarakat telah bekerja tanpa henti dan tetap tidak mampu keluar dari lingkaran kesulitan. Ada sistem yang kadang tidak memberi ruang adil bagi semua orang untuk tumbuh bersama.

Di tengah situasi itu, masyarakat sebenarnya tidak menuntut hal muluk-muluk. Mereka tidak selalu meminta hidup mewah atau fasilitas berlebihan. Banyak orang hanya ingin harga kebutuhan pokok stabil, pekerjaan tersedia, pendidikan terjangkau, layanan kesehatan mudah diakses, dan masa depan anak-anak mereka tidak suram. Mereka hanya ingin hidup dengan tenang tanpa dihantui ketakutan bahwa esok hari akan lebih berat daripada hari ini.

Sayangnya, perhatian terhadap rakyat sering muncul lebih kuat saat momentum politik mendekat. Setelah itu, suara-suara kecil kembali tenggelam di antara pidato dan angka-angka statistik yang terlihat indah di atas kertas. Pertumbuhan ekonomi diumumkan dengan bangga, tetapi sebagian masyarakat tetap merasa jauh dari kesejahteraan. Ada jarak antara data dan kenyataan. Di satu sisi, pembangunan tampak megah; di sisi lain, masih banyak orang yang harus menghitung uang receh untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Padahal sebuah negara seharusnya hadir untuk mengurangi beban rakyat, bukan sekadar meminta rakyat terus menanggung beban demi negara. Pengorbanan memang bagian dari kehidupan berbangsa, tetapi pengorbanan itu harus dibagi secara adil. Jangan sampai hanya masyarakat kecil yang terus diminta mengencangkan ikat pinggang, sementara sebagian pihak hidup dalam kenyamanan yang jauh dari rasa krisis. Ketidakadilan semacam inilah yang perlahan melahirkan kelelahan sosial dan hilangnya kepercayaan.

Meski demikian, rakyat sering menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Dalam keterbatasan, mereka tetap saling membantu. Tetangga berbagi makanan, keluarga saling menopang, dan masyarakat kecil menemukan cara untuk bertahan bersama. Solidaritas tumbuh justru ketika keadaan sulit. Ini menunjukkan bahwa kekuatan bangsa sebenarnya terletak pada rakyatnya yang tidak mudah menyerah.

Namun ketangguhan rakyat tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan mereka terus menderita. Kesabaran masyarakat ada batasnya. Negara membutuhkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada kehidupan nyata rakyat, bukan sekadar narasi yang terdengar indah. Kesejahteraan tidak cukup dijanjikan; ia harus dirasakan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Hari raya kurban sejatinya mengajarkan keikhlasan dan kepedulian terhadap sesama. Semangat itu seharusnya tidak berhenti pada ritual tahunan, melainkan menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan bernegara. Mereka yang memiliki kekuasaan dan tanggung jawab semestinya juga belajar berkorban demi kepentingan rakyat, bukan sebaliknya. Sebab jika rakyat terus-menerus menjadi pihak yang paling banyak diminta mengalah, maka kurban tidak lagi menjadi simbol kemuliaan, melainkan lambang panjangnya penderitaan yang belum juga menemukan akhir.
Selamat Idhul Adha. (R-2)

KETIKA LIDAH KEKUASAAN TERGELINCIR, LUKA SUNYI DIHATI PARA GURU

 

Guru Besar Universitas Malahayati

Pidato seorang pemimpin selalu memiliki daya yang lebih besar daripada sekadar rangkaian kata. Ia bukan hanya suara yang menggema dari podium, melainkan penanda arah harapan jutaan orang. Karena itu, setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang pemimpin sesungguhnya membawa konsekuensi moral, sosial, bahkan psikologis. Ketika sebuah ucapan meleset, terlebih menyangkut nasib rakyat kecil, luka yang ditinggalkan tidak berhenti pada kesalahan teknis semata. Ia dapat berubah menjadi rasa kecewa yang dalam, rasa dikhianati, bahkan hilangnya kepercayaan.

Belakangan ini publik dibuat gaduh oleh sebuah pidato singkat pimpinan tertinggi negeri ini, yang memunculkan harapan besar bagi para guru. Dalam pidato tersebut, sang pemimpin sempat menyampaikan bahwa kenaikan gaji hingga ratusan persen diberikan kepada guru. Kalimat itu langsung menyebar cepat, membakar semangat dan harapan jutaan tenaga pendidik yang selama ini hidup dalam keterbatasan. Namun beberapa saat kemudian, ucapan itu diralat. Ternyata yang dimaksud bukan guru, melainkan profesi lain dalam lembaga hukum negara.

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya salah ucap biasa. Hal yang manusiawi. Namun bagi para guru, kesalahan itu terasa jauh lebih menyakitkan. Sebab harapan yang terlanjur dibangunkan mendadak dijatuhkan kembali ke tanah kenyataan.

Guru di negeri ini sudah terlalu lama hidup dalam paradoks. Mereka disebut pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi sering diperlakukan tanpa penghargaan yang layak. Mereka diminta mencetak generasi unggul, tetapi banyak yang bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Di ruang kelas, mereka mengajarkan cita-cita besar kepada anak-anak bangsa, sementara di rumah mereka harus menghitung pengeluaran dengan cemas setiap akhir bulan.

Karena itulah janji kesejahteraan selalu terdengar sangat berarti bagi para guru. Dalam masa kampanye, publik mendengar berbagai komitmen tentang peningkatan kualitas pendidikan dan kesejahteraan tenaga pendidik. Salah satu yang paling membekas adalah janji tambahan penghasilan yang dianggap mampu memberi sedikit napas bagi kehidupan para guru. Janji itu hidup dalam ingatan kolektif karena lahir di tengah kondisi ekonomi yang semakin berat.

Maka ketika pidato itu terdengar menyebut kenaikan fantastis bagi guru, banyak hati yang seketika berbunga. Barangkali ada yang diam-diam mulai membayangkan bisa melunasi utang. Ada yang berharap dapat memperbaiki rumah. Ada pula yang membayangkan akhirnya mampu menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi tanpa rasa khawatir berlebihan. Namun harapan itu ternyata hanya berlangsung beberapa detik.

Kesalahan ucapan dari seorang pemimpin tidak pernah berdiri sendiri. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kekuasaan memandang penting atau tidaknya sebuah persoalan. Ketika isu kesejahteraan guru bisa terlontar secara keliru lalu diralat begitu saja, publik menangkap kesan bahwa nasib para pendidik belum benar-benar menjadi perhatian utama.

Lebih menyakitkan lagi, koreksi itu seolah menegaskan hierarki penghargaan dalam negeri ini. Bahwa ada profesi yang dianggap lebih mendesak untuk disejahterakan dibanding mereka yang setiap hari membangun fondasi moral dan intelektual bangsa. Padahal semua orang tahu, tidak ada hakim, pejabat, pengusaha, ilmuwan, ataupun pemimpin yang lahir tanpa sentuhan seorang guru. Dari tangan merekalah manusia belajar membaca, memahami dunia, dan mengenal nilai kehidupan. Guru adalah akar yang bekerja dalam diam. Mereka mungkin tidak selalu tampil di layar televisi atau mendapatkan sorotan megah, tetapi mereka memegang peranan paling mendasar dalam perjalanan sebuah bangsa.

Sayangnya, negeri ini sering kali hanya pandai memuliakan guru dalam slogan. Setiap Hari Pendidikan, pidato-pidato indah kembali dibacakan. Kata-kata seperti “ujung tombak bangsa” dan “penentu masa depan negara” kembali diulang. Namun setelah seremoni selesai, banyak guru tetap harus menjalani hidup yang jauh dari kata sejahtera.

Makin ironis lagi adalah cara komunikasi para elite yang kerap tidak hati-hati. Dalam era digital, satu kalimat dapat menyebar dalam hitungan detik dan membentuk persepsi publik secara masif. Karena itu seorang pemimpin seharusnya memahami bahwa berbicara di depan rakyat bukan sekadar soal spontanitas atau gaya komunikasi. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan setiap ucapan akurat, jelas, dan tidak melukai harapan masyarakat.

Pidato tanpa teks mungkin dianggap lebih natural dan menunjukkan kedekatan emosional. Namun jika tidak disertai ketelitian, spontanitas justru dapat berubah menjadi bumerang. Kesalahan kecil dari rakyat biasa mungkin hanya berdampak pada lingkaran terbatas. Tetapi kesalahan kecil dari seorang pemimpin bisa mengguncang jutaan hati sekaligus.

Peristiwa ini semestinya menjadi pelajaran penting bahwa empati harus hadir dalam setiap komunikasi kekuasaan. Rakyat bukan sekadar audiens yang bisa diberi janji lalu diminta memahami setiap kekeliruan. Mereka adalah manusia yang menggantungkan harapan pada kata-kata pemimpinnya.

Para guru mungkin tidak turun ke jalan dengan kemarahan besar. Mereka terbiasa memendam kecewa dalam diam. Namun diamnya guru sering kali jauh lebih menyedihkan daripada teriakan protes. Sebab di balik senyum mereka di depan murid-murid, ada rasa lelah yang terus dipikul sendirian.

Negeri yang besar bukan hanya ditentukan oleh megahnya infrastruktur atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Ia juga ditentukan oleh cara negara menghargai para pendidiknya. Ketika guru terus dikecewakan, sesungguhnya yang sedang dilukai bukan hanya profesi tertentu, melainkan masa depan bangsa itu sendiri. Dan luka akibat harapan yang dipatahkan sering kali lebih sulit sembuh dibanding kemiskinan itu sendiri.     Salam Waras

Pak Djarwo, Bagaimana Saya Bisa Lupa?

Oleh Udo Z Karzi

DI negeri ini, orang sering lupa. Lupa janji saat kampanye. Lupa utang setelah gajian. Lupa sejarah setelah jadi pejabat. Dan yang paling sering: lupa kepada guru setelah merasa pintar.

Karena itu, ketika membaca tulisan Juwendra Asdiansyah tentang Prof. Dr. Sudjarwo berjudul “Prof Sudjarwo: Yang Siap Dilupakan, Yang Mengukir Keabadian” (Wartalampung.id, 20 Mei 2026), saya justru berpikir: bagaimana mungkin saya bisa lupa kepada Pak Djarwo?

Lupa itu perlu syarat. Pertama, orang yang mau dilupakan memang tidak meninggalkan jejak. Kedua, kita memang tak pernah benar-benar bersentuhan dengannya. Ketiga, kita malas mengenang.

Nah, masalahnya, Pak Djarwo itu meninggalkan jejak di kepala saya. Dan jejak itu bukan sekadar tanda tangan di lembar absensi kuliah.

Ia adalah dosen saya di Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung. Mengajar Metode Penelitian Sosial (MPS) dan sosiologi perdesaan. Dua mata kuliah yang sebenarnya bisa sangat mengerikan bila diajarkan dengan wajah birokratis, suara datar, dan diktat lusuh hasil fotokopi generasi ketujuh.

Tapi, Pak Djarwo beda.

Ia mengajar seperti orang yang percaya bahwa ilmu pengetahuan bukan sekadar kumpulan teori untuk ujian semester, melainkan alat memahami manusia. Dan manusia itu makhluk yang rumit, absurd, lucu, kadang tolol, tapi menarik diteliti.

Saya masih ingat salah satu hal yang paling membekas dari mata kuliah MPS: pendekatan sejarah dalam penelitian sosial. Dari situ saya makin menyukai sejarah apa saja. Sejarah politik, sejarah kebudayaan, sejarah sastra, bahkan sejarah orang putus cinta.

Sebab, sejarah membuat kita paham mengapa sesuatu terjadi. Dan, lebih penting lagi: mengapa sesuatu terus berulang.

Masalahnya memang begitu. Manusia ini makhluk keras kepala. Sudah berkali-kali sejarah menunjukkan akibat keserakahan, penyalahgunaan kuasa, kebodohan kolektif, tapi tetap saja diulang dengan penuh percaya diri. Mungkin karena manusia merasa dirinya generasi paling canggih. Padahal cuma generasi terbaru dari spesies yang sama-sama suka mengulangi kesalahan.

Itu pelajaran penting dari Pak Djarwo. Bukan sekadar teori sosiologi. Tapi cara memandang kehidupan.

Dan yang paling saya suka: beliau melarang mahasiswa mencatat saat kuliah.

Ini revolusioner.

Di kampus-kampus kita, mahasiswa biasanya sibuk mencatat sampai lupa mendengar. Tangan bergerak cepat, otak parkir. Dosen ngomong apa, tidak penting. Yang penting catatan penuh supaya bisa difotokopi sebelum ujian.

Pak Djarwo justru meminta kami mendengarkan. Menyimak. Mencerna. Setelah itu baru materi boleh difotokopi.

Kalau rajin mengumpulkan materi kuliah, jadilah diktat. Tapi Pak Djarwo tidak menjadi “diktat-or” yang menjadikan mahasiswa sebagai pasar fotokopian wajib. Ini penting dicatat. Sebab di republik pendidikan kita, kadang ada dosen yang lebih semangat menjual diktat daripada memperbarui isi kuliah.

Ada dosen yang tiap tahun mengajar teori lama dengan semangat purbakala, tetapi diktatnya berganti cover terus supaya mahasiswa tak bisa pinjam kakak tingkat.

Ekonomi kreatif memang luar biasa.

Beruntung kami punya Pak Djarwo.

Dan keberuntungan berikutnya: beliau bukan hanya dosen yang mengajar. Beliau menulis.

Nah, di sinilah masalah besar dunia akademik kita sebenarnya.

Banyak dosen bisa bicara panjang lebar di seminar, tetapi ketika menulis, kalimatnya seperti truk pengangkut batu gagal nanjak: berat, berisik, lalu mundur perlahan. Ada tulisan akademik yang setelah dibaca tiga paragraf membuat pembaca merasa bersalah telah lahir ke dunia. Padahal menulis itu mestinya menyampaikan pikiran, bukan menyembunyikannya.

Karena itu saya sepakat dengan Juwendra: dosen yang benar-benar bisa menulis dengan baik memang tidak banyak.

Pak Djarwo termasuk yang langka itu.

Ketika saya menjadi jabrik (penanggung jawab rubrik) halaman Opini di Lampung Post, sayalah yang kerap memuat tulisan-tulisannya.

Eh, redaktur Opini Lampost itu silih berganti. Seingat saya nama-nama redaktur Opini di Lampost di antaranya: Fajrun Najah Ahmad, Heri Wardoyo, Uten Sutendy, Heri Mulyadi, Rahmat Sudirman, Hesma Eryani, Budi Hutasuhut, Sudarmono, sampai SW Teofani. Sebuah zaman ketika koran masih dibaca sambil ngopi, bukan sambil rebahan sambil mengutuk algoritma media sosial.

Dan saya ingat para penulis yang rutin mengirim opini. Pak Djarwo, tentu saja. Juga Syarief Makhya, Nanang Trenggono, sampai Ari Darmastuti yang menulis meski jarang. Maaf, Bu Ari. Hehee…

Yang menarik dari tulisan-tulisan Pak Djarwo ialah nadanya. Tenang. Santun. Tidak menggebu-gebu seperti status Facebook orang baru menemukan teori konspirasi.

Sebagai sosiolog, ia tidak memaki-maki masyarakat. Ia mengajak pembaca merenung. Tidak menggurui, tetapi mempersilakan orang berpikir. Di tengah dunia yang makin berisik, tulisan model begitu justru terasa mewah.

Sekarang kita hidup di zaman semua orang ingin menjadi komentator tercepat. Semua ingin viral. Semua merasa harus marah tiap hari. Bahkan orang belum selesai membaca berita sudah siap menghina di kolom komentar.

Pak Djarwo justru mengingatkan bahwa kecendekiaan tidak harus gaduh. Bahwa pikiran jernih sering lahir dari suara yang tenang.

Ini kata Pak Djarwo yang dikutip Juwendra: “Jarang yang mau membaca (tulisan saya) karena banyak orang begitu membaca istilah filsafat langsung ambil posisi minggir sebelum berjalan.”

Kalimat ini lucu sekaligus menyedihkan. Kita memang bangsa yang cepat minder terhadap istilah-istilah intelektual. Baru membaca kata “epistemologi”, orang langsung merasa dikejar setan akademik. Padahal filsafat itu sebenarnya cuma usaha manusia memahami hidup secara lebih serius.

Masalahnya, kita sudah terlalu lama dididik untuk takut berpikir rumit. Kita lebih suka slogan daripada perenungan. Lebih suka kutipan pendek daripada membaca buku utuh. Lebih suka video 30 detik daripada esai 1.000 kata.

Dan ironisnya, di tengah budaya instan itu, masih ada orang seperti Pak Djarwo yang tekun menulis dengan kesabaran seorang guru.

Maka bagaimana saya bisa lupa?

Apalagi buku Ngilo karya beliau masih tertata rapi di Lepau Buku saya. Buku kumpulan opini yang terbit tahun 2014 itu bukan sekadar kumpulan tulisan koran. Ia semacam rekaman batin seorang intelektual yang mengamati masyarakat dengan mata teduh.

Saya kadang berpikir, mungkin memang nasib banyak guru besar yang baik adalah perlahan-lahan disisihkan oleh zaman yang lebih menghargai sensasi daripada kebijaksanaan.

Tapi ada yang tak dipahami zaman: tulisan yang baik punya umur panjang. Ia bisa melampaui tepuk tangan seminar. Melampaui jabatan. Melampaui baliho akademik. Dan dalam hal itu, Pak Djarwo mungkin benar-benar sedang mengukir keabadian.

Sedangkan kita? Kita cuma sedang sibuk scrolling.

Prof. Sudjarwo, Puncak Ilmu Pengetahuan adalah Adab

kado Ulang Tahun ke-73 

PROFESOR Dr. Sudjarwo, M.S. memang telah memasuki usia kepala tujuh. Namun, soal semangat menulis dan ketajaman berpikir, banyak anak muda mungkin masih tertinggal jauh darinya.

Setiap ada persoalan sosial yang menjadi polemik, baik di daerah maupun nasional, pisau analisis sosiologisnya selalu hadir mengiris tajam. Menariknya, ketajaman itu tidak pernah terasa melukai.

Saya sering dibuat kagum. Baru saja saya berniat mengirim pesan WhatsApp untuk membahas isu yang sedang ramai, tulisannya sudah lebih dulu masuk ke redaksi Heloindonesia.com.

Kadang saya sampai berpikir, jangan-jangan beliau bukan manusia biasa, melainkan “AI” (artificial intellegence) sungguhan dalam dunia nyata, dunia literasi.

Meminjam penilaian penggiat literasi Gunawan Handoko, tulisan Guru Besar Universitas Malahayati itu setajam silet, tetapi tetap menjaga kesantunan. Kritik-kritiknya argumentatif, berbasis teori, tanpa harus menyebut nama atau jabatan pihak yang dikritik.

Bagi Prof. Sudjarwo, tampaknya bukan siapa orangnya yang penting dibedah, melainkan persoalannya. Ia bermain di wilayah konsep dan gagasan. Adab akademik selalu dikedepankan. Kritik disampaikan dengan pemikiran, bukan makian.

Penilaian itu rasanya tidak berlebihan. Lebih dari setengah abad hidup di dunia akademik telah menempa dirinya menjadi ilmuwan yang analitik sekaligus menjunjung tinggi etika.

Di Universitas Lampung (Unila), ia mendedikasikan diri selama 43 tahun sebelum melanjutkan pengabdiannya di Universitas Malahayati hingga hari ini.

Nilai-nilai itu sangat terasa saat beliau menyampaikan pidato valediktori atau pidato perpisahan sebagai guru besar dan aparatur sipil negara di Unila, di Aula K FKIP Unila pada 31 Mei 2023.Dalam pidatonya, beliau berkata:
Ilmuwan itu akan bermakna manakala lakunya menunjukkan akhlakul karimah, karena puncak ilmu itu pada adab yang didasari etika.”

Kalimat itu bukan sekadar nasihat. Prof. Sudjarwo menjalaninya dalam kehidupan sehari-hari. Seberat dan serumit apa pun polemik di masyarakat, ia mampu membedahnya dengan tajam tanpa membuat siapa pun merasa dipermalukan.

Energinya dalam menulis pun seperti tak pernah habis. Rasanya beliau justru gelisah jika terlalu lama menyimpan gagasan di kepala. Dari era media cetak tahun 1980-an hingga zaman media online hari ini, tulisan-tulisannya terus mengalir. Dari masa artikel masih dihargai honor lumayan hingga era “media bokek”, semangatnya tetap sama: menulis untuk mencerahkan.

Kadang saya membayangkan, Prof. Sudjarwo baru bisa menikmati secangkir teh dengan tenang setelah gagasannya terbit di media. Adrenalin menulisnya masih sanggup diadu dengan anak-anak muda.

Karya-karyanya pun tidak sedikit. Saat memasuki masa purnabakti dari Unila, beliau meluncurkan buku berjudul Legacy, yang memuat kisah perjalanan hidup sejak masa kecil, kumpulan opini di berbagai media, hingga testimoni dari sahabat, kolega, dan para jurnalis.

Selama aktif mengajar dan meneliti, Prof. Sudjarwo dikenal sangat produktif menulis buku, terutama di bidang metodologi penelitian, ilmu sosial, dan pendidikan. Ia juga pernah dipercaya bergabung dalam Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta tim ad hoc sertifikasi guru demi pengembangan mutu pendidikan Indonesia.

Bagi beliau, seorang akademisi dan guru besar adalah ilmuwan yang seharusnya berada di wilayah ontologi—wilayah persepsi yang bebas nilai. Sebab ketika seorang ilmuwan terlalu larut dalam wilayah epistemologi dan aksiologi, penilaian subjektif akan mudah masuk dan mengaburkan kejernihan berpikir.

Karena itu, menurut Prof. Sudjarwo, laku seorang begawan adalah berusaha tidak menyakiti orang lain sambil terus memperbaiki diri sendiri. Sebab manusia tidak pernah tahu kapan hari terakhirnya di bumi.

Dengan sederhana ia menjelaskan:
“Ontologi adalah ilmu, epistemologi adalah otak, dan aksiologi adalah hati. Melayani dengan hati, berpikir dengan otak, dan bertindak dengan ilmu, maka kita adalah profesor kehidupan.”

Seorang jurnalis senior pernah menilai Prof. Sudjarwo memiliki kemampuan menulis di atas rata-rata, dengan mata yang jeli dan rasa ingin tahu yang besar—seorang pencari makna di balik realitas.

Dan memang, warisan pemikiran yang telah beliau tinggalkan begitu banyak. Entah sudah berapa ratus doktor lahir dari bimbingannya. Entah berapa gunung skripsi, tesis, dan disertasi yang mendapatkan sentuhan tangan dinginnya. Semua itu menjadi amal ilmu yang akan terus mengalir.

Pembaca tulisan-tulisannya pun tidak terhitung jumlahnya. Banyak orang mendapatkan inspirasi, wawasan, bahkan cara pandang baru tentang kehidupan dari gagasan-gagasan yang beliau tulis.

Setelah menguasai berbagai jurus dan melihat luasnya dunia persilatan, seorang pendekar sejati justru menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu disombongkan. Puncak tertinggi dari sebuah perjalanan bukanlah keangkuhan, melainkan kesadaran diri dan kerendahan hati.

Terima kasih, Pak Sudjarwo, atas semua pemikiran yang telah mengalir kepada publik. Tulisan-tulisan itu bukan hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membuka cakrawala dan dimensi kehidupan banyak orang.

Hari ini, 20 Mei 2026, Prof. Sudjarwo genap berusia 73 tahun. Tak ada hadiah istimewa yang bisa saya berikan selain doa: semoga Profesor selalu sehat, panjang umur, tetap bernas dalam berpikir, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi berikutnya.

Selamat ulang tahun, Profesor idolaku.
Tabik puuun. ***

Prof. Dr. H. Sudjarwo, M.S. adalah guru besar tetap dalam bidang Ilmu Sosial/Pendidikan di Universitas Lampung (Unila) yang lahir di Lubuk Linggau pada 20 Mei 1953. Beliau telah memasuki masa purnabakti pada pertengahan tahun 2023 dan melanjutkan dedikasi ilmu pengetahuannya ke Universitas Malahayati.

Berikut adalah ringkasan profil dan riwayat perjalanan karier beliau:

Riwayat Pendidikan

S1 / Doktorandus: Universitas Sriwijaya (1980)
S2 / M.S.: Universitas Padjadjaran (1993)
S3 / Doktor: Universitas Padjadjaran (1997) [1, 2]

Riwayat Jabatan & Kariir

Guru Besar: FKIP Universitas Lampung (dikukuhkan sebagai profesor pada tahun 2006)

Direktur: Pascasarjana Universitas Lampung

Dekan: FKIP Universitas Lampung

Ketua Program Studi: Pascasarjana Magister Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Unila.

menjelang senja

Guru Besar Universitas Malahayati

Bandar Lampung ( malahayati.ac.id ) – Tanggal 20 Mei 2026 bukan sekadar angka dalam kalender. Ia hadir sebagai penanda perjalanan panjang yang kini mencapai usia tujuh puluh tahun lebih: sebuah usia yang sarat dengan pengalaman, pengujian, dan pemaknaan. Jika masa muda dahulu dipenuhi dengan ambisi dan keinginan untuk menaklukkan dunia, maka di usia ini, hidup terasa lebih seperti ruang hening untuk memahami dunia dan diri sendiri. Tidak lagi berlari, melainkan berhenti sejenak untuk melihat ke belakang, menimbang, dan kemudian menerima.

Perjalanan hidup yang telah dilalui bukanlah jalan yang rata. Ia penuh dengan onak dan duri, tikungan tajam, serta tanjakan yang melelahkan. Ada masa ketika langkah terasa ringan, seakan segala sesuatu berpihak. Namun, tidak sedikit pula saat di mana hidup terasa begitu berat, bahkan untuk sekadar melangkah satu langkah ke depan. Dalam rentang waktu yang panjang ini, saya menyadari bahwa penderitaan dan kebahagiaan bukanlah dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari satu kenyataan yang sama, yaitu: kehidupan itu sendiri.

Ketika menengok ke masa lalu, luka-luka yang dulu terasa begitu dalam kini tampak berbeda. Ia tidak lagi sekadar menyakitkan, tetapi juga mengandung pelajaran yang tak ternilai. Dari kegagalan, saya belajar tentang keterbatasan diri. Dari kehilangan, saya memahami arti kehadiran. Dari kesalahan, saya mengenal pentingnya kejujuran dan kerendahan hati. Hidup, pada akhirnya, adalah guru yang keras namun jujur; ia tidak pernah memberi tanpa sekaligus menguji.

Di usia ini, saya mulai melihat bahwa kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang harus dikejar tanpa henti. Ia bukan sesuatu yang bisa dimiliki secara permanen. Kebahagiaan datang seperti angin yang berhembus; kadang lembut, kadang tak terasa, dan sering kali pergi tanpa peringatan. Dulu, saya mungkin terlalu sibuk mencarinya di tempat-tempat yang jauh, dalam pencapaian besar atau pengakuan dari orang lain. Kini, saya justru menemukannya dalam hal-hal sederhana: keheningan pagi, tawa kecil bersama anak anak yang kini sudah dewasa, makan berdua di luar bersama istri, diskusi seru dengan para cucu; itu semua lebih dari sekadar rasa cukup.

Waktu, yang dahulu terasa begitu luas, kini terasa semakin terbatas. Hari-hari tidak lagi berlalu tanpa makna; setiap detik memiliki bobotnya sendiri. Kesadaran akan keterbatasan ini menghadirkan perspektif baru. Bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita mengisi waktu yang ada. Ada keinginan yang semakin kuat untuk tidak menyia-nyiakan sisa perjalanan ini, bukan dengan mengejar lebih banyak, tetapi dengan menjalani lebih dalam dan berbagi lebih banyak.

Kematian, yang dulu mungkin terasa sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, kini hadir sebagai kenyataan yang tak terelakkan. Ia bukan lagi bayangan gelap yang harus dihindari, melainkan bagian dari siklus kehidupan yang wajar. Dalam kesadaran ini, muncul suatu bentuk penerimaan yang perlahan menenangkan. Bahwa pada akhirnya, setiap perjalanan pasti memiliki titik akhir. Dan mungkin, yang terpenting bukanlah kapan hari akhir itu datang, melainkan bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menyambut kehadirannya.

Refleksi ini juga membawa saya kembali pada hubungan dengan sesama. Ada begitu banyak wajah yang pernah hadir dalam hidup; sebagian masih ada, namun kebanyakan dari mereka telah berpulang. Setiap pertemuan meninggalkan jejak, setiap perpisahan menyisakan cerita. Dalam perjalanan ini, tidak semua hubungan berjalan mulus. Ada kesalahpahaman, ada luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh. Namun, di usia ini, muncul kesadaran bahwa memaafkan bukanlah kelemahan, melainkan bentuk kebebasan. Melepaskan beban masa lalu justru membuat langkah menjadi lebih ringan.

Saya juga mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu diukur dengan pencapaian besar. Dunia sering kali menilai keberhasilan dari apa yang tampak: jabatan, kekayaan, atau pengakuan. Namun, dalam keheningan refleksi, saya menemukan bahwa makna hidup sering kali tersembunyi dalam hal-hal yang tidak terlihat. Menjadi pribadi yang jujur, yang berusaha berbuat baik kepada sesama mahluk, meskipun tidak selalu dihargai, menurut saya itu adalah bentuk keberhasilan yang sesungguhnya.

Usia tujuh puluh lebih ini membawa saya pada kesederhanaan yang lebih dalam. Keinginan untuk memiliki semakin berkurang, digantikan oleh keinginan untuk memahami. Hidup tidak lagi tentang mengumpulkan, tetapi tentang melepaskan. Melepaskan ambisi yang tidak lagi relevan, melepaskan beban yang tidak perlu, dan bahkan melepaskan ego yang selama ini tanpa sadar mengikat. Dalam proses inilah, saya menemukan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.

Menjelang senja kehidupan, ada dorongan untuk merapikan segala sesuatu. Bukan hanya hal-hal yang tampak, tetapi juga yang tersembunyi dalam hati. Ada keinginan untuk berdamai dengan masa lalu, untuk mengakui kesalahan tanpa harus tenggelam dalam penyesalan, dan untuk menerima diri apa adanya. Proses ini tidak selalu mudah, tetapi terasa perlu; seperti menyiapkan diri untuk perjalanan panjang yang akan datang.

Akhirnya, ulang tahun kali ini bukanlah sekadar peringatan bertambahnya usia. Ia adalah momen perenungan yang mendalam, sebuah titik di mana kehidupan dilihat dengan kejernihan yang mungkin tidak dimiliki di masa lalu. Dalam keheningan ini, saya menyadari bahwa hidup tidak pernah benar-benar sempurna, tetapi selalu memiliki makna bagi mereka yang mau melihatnya. Dan, ketika saat itu benar-benar tiba, ketika kehidupan mencapai ujungnya, saya berharap dapat menyambutnya dengan ketenangan. Bukan karena tidak ada ketakutan, tetapi karena telah belajar menerima. Bukan karena tidak ada penyesalan, tetapi karena telah berusaha menjalani hidup dengan sepenuh hati. Dalam kesadaran itu, senja tidak lagi terasa sebagai akhir yang menakutkan, melainkan sebagai bagian indah dari menuju perjalanan abadi. Jika diri larut dalam fana yang sunyi, Lenyaplah aku, tinggallah Dia Yang Abadi. Jika hijab tersingkap di ujung perjalanan, Hamba dan Tuhan menyatu dalam pengenalan. Salam Keabadian (R-1)

Rakyat, Dolar, dan Retorika

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Pidato seorang pemimpin seharusnya menjadi ruang penjernihan nalar publik, bukan panggung pelampiasan emosi yang mengaburkan persoalan. Ketika seorang pemimpin berbicara tanpa teks lalu menyatakan bahwa masyarakat desa tidak membutuhkan dolar, dan bahwa orang yang resah terhadap kenaikan nilai dolar hanyalah pihak yang ingin menjatuhkan pemerintah; maka yang muncul bukan sekadar kontroversi politik, melainkan persoalan serius tentang cara berpikir dalam memahami ekonomi dan demokrasi. Pernyataan semacam itu terdengar sederhana dan populis, tetapi sesungguhnya mengandung penyederhanaan yang berbahaya terhadap kenyataan ekonomi yang jauh lebih kompleks.

Pada teori ekonomi makro, hubungan masyarakat dengan dolar tidak pernah sesempit urusan bepergian ke luar negeri atau transaksi perdagangan internasional yang hanya dilakukan pengusaha besar. Nilai tukar dolar memengaruhi harga barang impor, bahan baku industri, pupuk, energi, alat kesehatan, hingga biaya logistik.

Ketika dolar naik dan mata uang domestik melemah, dampaknya menjalar ke hampir seluruh lapisan masyarakat, termasuk masyarakat desa yang sering dianggap jauh dari urusan ekonomi global. Petani membeli pupuk yang sebagian bahan bakunya bergantung pada impor. Nelayan membutuhkan solar dan suku cadang mesin yang harganya terpengaruh kurs. Pedagang kecil membeli barang yang distribusinya terhubung dengan biaya transportasi dan energi. Bahkan harga kebutuhan pokok dapat bergerak naik akibat tekanan nilai tukar.

Karena itu, mengatakan masyarakat desa tidak perlu memikirkan dolar menunjukkan cara pandang yang terlalu sempit terhadap sistem ekonomi modern. Dunia saat ini saling terhubung. Ekonomi desa tidak berdiri terpisah dari ekonomi nasional, apalagi ekonomi global.

Kenaikan dolar bukan hanya urusan elite kota atau investor pasar modal. Dampaknya bisa masuk hingga ke dapur rumah tangga sederhana melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari. Pemahaman dasar seperti ini justru telah menjadi pengantar umum dalam ekonomi makro yang dipelajari mahasiswa pada tahap awal pendidikan mereka.

Masalah menjadi lebih serius ketika keresahan publik terhadap naiknya dolar dianggap sebagai upaya menjatuhkan pemerintah. Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar ketidaktepatan analisis ekonomi, melainkan kekeliruan logika berpikir. Kritik terhadap keadaan ekonomi bukan otomatis bentuk kebencian terhadap negara atau permusuhan terhadap pemerintah.

Dalam masyarakat demokratis, kritik adalah bagian dari mekanisme pengawasan sosial. Warga berhak khawatir ketika harga naik, daya beli menurun, lapangan kerja menyempit, atau nilai mata uang melemah. Kekhawatiran itu lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, bukan selalu dari motif politik tersembunyi.

Sayangnya, pidato emosional sering membangun narasi hitam-putih: siapa yang mendukung dianggap patriotik, sedangkan yang mengkritik dianggap ingin merusak. Cara berpikir seperti ini merupakan kesesatan logika yang berbahaya karena memindahkan fokus dari substansi persoalan menuju penyerangan terhadap motif orang lain. Dalam logika argumentatif, hal semacam itu dikenal sebagai pengalihan isu dari isi kritik kepada karakter atau niat pengkritik. Padahal benar atau salahnya kritik seharusnya diuji melalui data, fakta, dan argumentasi, bukan melalui tuduhan bahwa pengkritik memiliki agenda politik tertentu.

Retorika emosional memang efektif membangkitkan tepuk tangan sesaat. Kalimat-kalimat sederhana yang memihak “rakyat kecil” terdengar menarik di telinga publik. Namun kepemimpinan tidak cukup dibangun dengan efek dramatik pidato yang disertai joged. Kepemimpinan membutuhkan kemampuan membaca realitas secara jernih, terutama dalam bidang ekonomi yang menyangkut kehidupan jutaan orang. Ketika persoalan ekonomi dijelaskan dengan cara terlalu simplistis, masyarakat justru kehilangan kesempatan memahami akar masalah yang sebenarnya.

Lebih berbahaya lagi jika pemimpin mulai membiasakan diri melihat kritik sebagai ancaman personal. Sikap seperti itu dapat melahirkan budaya anti-kritik di lingkungan kekuasaan. Para pendukung menjadi terbiasa menyerang setiap suara berbeda, sementara pejabat di sekitar pemimpin cenderung hanya menyampaikan laporan yang menyenangkan telinga. Akibatnya, pemerintah kehilangan kemampuan mendeteksi masalah sejak dini karena kritik dianggap musuh, bukan masukan.

Padahal sejarah menunjukkan banyak negara mengalami kemunduran bukan karena terlalu banyak kritik, melainkan karena kekuasaan menolak mendengar kritik. Ketika semua keresahan publik ditafsirkan sebagai upaya menjatuhkan pemerintah, ruang dialog menjadi sempit. Masyarakat dipaksa memilih antara loyalitas mutlak atau dicap sebagai lawan. Situasi seperti ini tidak sehat bagi demokrasi maupun bagi kualitas kebijakan publik.

Pemimpin yang matang seharusnya mampu membedakan antara serangan politik dan kritik rasional. Tidak semua orang yang mempertanyakan kebijakan ekonomi memiliki niat buruk. Banyak warga hanya ingin hidup lebih stabil, harga tidak melonjak, dan masa depan terasa lebih pasti. Bahkan, kritik keras sekalipun dapat menjadi cermin penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi diri. Dalam demokrasi, pemimpin bukan sosok yang harus selalu dipuji, melainkan pelayan publik yang wajib siap diuji oleh pendapat rakyatnya sendiri.

Karena itu, yang dibutuhkan masyarakat bukan pidato yang menyederhanakan masalah atau memancing emosi massa, melainkan penjelasan yang jujur dan berbasis pengetahuan. Pemimpin perlu menghadirkan ketenangan melalui argumentasi yang rasional, bukan dengan menuduh pihak yang resah sebagai musuh negara. Kemampuan berbicara tanpa teks mungkin dapat menunjukkan spontanitas, tetapi spontanitas tanpa kedalaman pemahaman dapat melahirkan pernyataan yang menyesatkan publik.

Pada akhirnya, kualitas sebuah kepemimpinan tidak diukur dari seberapa keras ia berbicara atau seberapa sering ia disoraki pendukungnya. Kualitas kepemimpinan diukur dari kemampuan memahami persoalan secara utuh, menerima kritik dengan kepala dingin, dan menjelaskan keadaan kepada rakyat dengan kejujuran intelektual. Sebab dalam negara demokratis, kritik bukan ancaman bagi pemerintah. Justru ketidakmampuan menerima kritiklah yang sering menjadi ancaman terbesar bagi kehancuran pemerintahan itu sendiri.