Selamat Tinggal Bromo (Jejak Sunyi di Lautan Pasir)

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID Mesin Jeep offroad meraung pelan saat mulai bergerak meninggalkan lautan pasir. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung rendah. Empat orang diantara kami duduk berhadap hadapan di dalam kabin, penulis di depan mendampingi driver; tubuh sedikit terhentak mengikuti jalur turunan ekstrim menuju lembah.
“Cepat sekali rasanya,” ujar sang istri sambil merapatkan jaket. “Tadi berangkat masih gelap, sekarang sudah pulang.”
“Sindrom enggan berpisah,” canda salah satu dokter. “Resepnya cuma satu: kembali lagi.”

Tawa kecil mengisi ruang sempit itu.
“Saya masih terbayang savananya,” kata apoteker, menoleh ke luar. “kecoklatan dan tenang sekali.”
“Iya,” sahut dokter lainnya. “Di sana rasanya kita kecil sekali.”
“Bukan kecil,” jawab sang istri pelan. “Lebih tepatnya… sadar diri.” Jeep terguncang lebih keras saat melewati turunan. “Pegangan,” kataku spontan. Semua tertawa, tapi tangan tetap mencengkeram kursi.

“Lucu ya,” ujar seorang dokter, “sehari-hari kita menyuruh orang tenang. Tadi justru kita yang belajar tenang.”
“Gunung ini seperti ruang konsultasi besar,” kata penulis. “Bedanya, yang berbicara adalah keheningan.”
Hening sejenak. Hanya suara mesin dan angin.

“Kalau ditanya apa yang dibawa pulang?” tanya apoteker.
“Rasa cukup,” jawab sang istri.
“Kerendahan hati,” tambah dokter.
Penulis memandang jejak roda yang perlahan hilang tertiup angin. “Keheningan,” ucap penulis spontan. “Karena di sana kita benar-benar mendengar diri sendiri.”

Jeep terus melaju turun, meninggalkan Bromo di belakang; dan membawa kami kembali ke hotel tempat menginap.
Pendakian Bromo telah selesai. Langkah-langkah yang kemarin terasa berat kini berubah menjadi gema kenangan yang terus berulang di dalam ingatan. Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan, seperti butiran pasir yang tak mungkin dihitung satu per satu. Gunung itu berdiri sebagaimana adanya; diam, kokoh, dan tak pernah benar-benar peduli pada siapa yang datang dan pergi. Namun bagi kami, ia bukan sekadar bentang alam yang indah. Ia adalah ruang perenungan, tempat tubuh diuji dan jiwa diajak bercermin.

Lautan pasir Bromo membentang seperti samudra yang membeku. Tanpa ombak, tanpa air, namun menghadirkan rasa luas yang sama tak bertepinya. Angin berhembus membawa butiran pasir menari tipis di permukaan tanah. Di tempat itu, manusia tampak begitu kecil. Setiap orang hanyalah siluet yang bergerak perlahan di antara bentangan alam purba. Kesadaran itu tidak mengecilkan hati, justru menumbuhkan kerendahan. Ada keindahan dalam menyadari bahwa kita bukan pusat dari segalanya.

Ketika cahaya pertama muncul di ufuk timur, warna langit berubah pelan-pelan. Gelap yang semula pekat beralih menjadi jingga lembut, lalu keemasan yang hangat. Sinar matahari menyentuh hamparan pasir dan savana, memantulkan cahaya yang membuat semuanya tampak hidup. Rumput-rumput liar di savana bergoyang pelan diterpa angin pagi, membentuk gelombang kecoklatan yang memanjakan mata. Di sanalah rasa takjub tumbuh tanpa diminta. Alam berbicara dalam bahasa yang sederhana, namun mampu menyentuh relung terdalam jiwa.

Hamparan savana menghadirkan suasana berbeda. Jika lautan pasir terasa sunyi dan gersang, savana menawarkan kesejukan dan harapan. Warna coklat rumput yang mengering membentang luas seperti pengingat bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, bahkan di tanah yang keras sekalipun. Berjalan di antara padang rumput itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan. Tidak ada yang perlu dikejar, tidak ada yang perlu dibuktikan. Hanya ada langkah yang mengalir mengikuti kontur bumi.
Perjalanan ini bukan tentang mencapai titik tertinggi, melainkan tentang mengalami setiap detiknya. Di tengah bentangan alam yang luas, pikiran yang semula riuh perlahan menjadi tenang.

Beban-beban yang selama ini terasa berat mendadak mengecil, seolah terserap oleh angin gunung. Ada ruang untuk merenung, untuk mengingat kembali tujuan, dan untuk menyadari betapa berharganya setiap proses.
Lautan pasir mengajarkan keteguhan. Ia tampak kosong, namun menyimpan kekuatan dalam diamnya. Savana mengajarkan harapan. Ia tumbuh tanpa banyak suara, tetapi menghadirkan kehidupan yang nyata. Di antara keduanya, kami belajar tentang keseimbangan. Hidup tidak selalu hijau dan subur, kadang ia kering dan tandus. Namun keduanya adalah bagian dari perjalanan yang utuh.

Jejak kaki di pasir mudah terhapus angin. Begitu pula manusia dalam arus waktu. Kesadaran itu tidak membawa kesedihan, justru menghadirkan kelegaan. Jika segala sesuatu akan berlalu, maka yang terpenting adalah bagaimana menjalaninya dengan sepenuh hati. Bromo menjadi cermin yang memantulkan kembali pertanyaan-pertanyaan sederhana: apa arti perjalanan, apa arti kebersamaan, dan apa arti pulang.

Saat tiba waktunya meninggalkan kawasan itu, ada rasa enggan yang tak terucap. Setiap sudut seperti menyimpan cerita: dingin yang menggigit di awal perjalanan, tawa yang lepas tanpa beban, dan diam yang sarat makna di tengah luasnya savana. Namun perpisahan adalah bagian dari setiap perjalanan. Tak ada pendakian tanpa langkah kembali.

Selamat tinggal, Bromo, bukanlah ucapan akhir, melainkan jeda. Gunung itu akan tetap berdiri, lautan pasirnya tetap membentang, dan savananya tetap bergoyang diterpa angin. Ia akan terus menjadi tempat kontemplasi kehidupan, ruang di mana manusia belajar mendengarkan suara hatinya sendiri. Kenangan tentangnya akan tinggal dalam ingatan: tentang langit yang perlahan memerah, tentang hamparan pasir yang tak bertepi, dan tentang savana yang menenangkan.

Kami tinggalkan Bromo dengan sejuta kenangan. Dan di antara kenangan itu, tersimpan rasa syukur yang sederhana; atas sunyi yang menguatkan, atas luas yang menyadarkan, dan atas perjalanan yang memperkaya makna kehidupan.
Selamat Tinggal Bromo. (R-1)

Editor : Chandra Faza

BATAS YANG DIJAGA DOA DAN KEPERCAYAAN

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Kabut masih tebal ketika kami berhenti di pelataran masjid kecil itu. Sepatu-sepatu pendaki berjajar rapi, napas saling beradu dengan dingin. Lampu redup menerangi wajah-wajah lelah yang justru tampak tenang.

“Lucu ya,” salah satu dokter anggota kami memecah hening sambil menggosok tangannya, “tiap hari di Puskesmas kita kejar waktu, di sini waktu malah terasa berhenti.”

Dokter satunya tersenyum kecil. “Mungkin karena di gunung, kita nggak bisa sok mengatur segalanya. Alam yang pegang kendali.”

Apoteker yang sejak tadi diam menatap kabut mengangguk pelan. “Di bawah sana, kita bicara dosis, hitungan, dan kepastian. Di sini, yang kita bawa cuma niat dan doa.”

Penulis melirik istri yang tampak sangat bersemangat. Ia merapatkan jaket, matanya menyapu sekitar masjid kecil ini, seraya berucap lirih. “Seolah setelah ini, kita masuk dunia lain.”

“Dunia Bromo,” jawabku. “Dunia yang nggak bisa kita jelaskan dengan logika biasa.”

Dokter pertama tertawa pelan. “Iya, di sini gelar nggak ada artinya. Mau dokter, apoteker, dan apapun itu, semuanya sama-sama kecil.”

“Dan sama-sama butuh perlindungan,” sambung dokter kedua. “Entah kita menyebutnya dengan bahasa apa.”

Kami terdiam. Dari kejauhan, suara langkah pendaki lain semakin ramai. Kabut bergerak pelan, seakan memberi ruang. Lalu suara adzan Subuh terdengar, lembut namun tegas, menyentuh batas paling dalam dari diri kami.

Kami saling pandang, tanpa perlu kata-kata lagi. Di titik ini, sebelum doa dilantunkan bersama pendaki lain, kami bukan lagi profesi atau identitas. Kami hanyalah manusia, yaitu tamu yang sedang meminta izin, sebelum melangkah lebih jauh ke tubuh gunung yang menyimpan janji-janji lama.

Masih dalam gelap, sebelum matahari berani menyingkap wajahnya, langkah-langkah manusia berhenti di sebuah masjid kecil; yang terakhir sebelum pendakian benar-benar dimulai. Di titik inilah sholat Subuh ditegakkan. Suara doa mengalir pelan, menyatu dengan napas yang mengepul dan kabut yang menggantung rendah. Tepat berseberangan, masyarakat Tengger menjalani hidup dengan keyakinan yang berbeda, keyakinan yang telah berakar jauh sebelum istilah agama-agama besar dikenal. Tidak ada yang saling meniadakan. Justru di tempat inilah terasa jelas sebuah batas imajiner: peralihan dari dunia yang akrab menuju dunia Bromo yang sarat makna.

Tanah Tengger menyimpan kisah lama tentang Raden Joko Seger dan Roro Anteng, sebuah kisah yang tidak sekadar legenda, melainkan fondasi kosmologis bagi masyarakat setempat. Dari nama merekalah kata “Tengger” dipercaya lahir: teguh dan tenteram. Kisah mereka bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kesetiaan pada janji, keberanian berkorban, dan hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Dalam kepercayaan lokal, Bromo bukan gunung biasa, melainkan ruang sakral tempat janji itu terus bergema.

Maka, ketika sholat Subuh ditegakkan di batas ini, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga peristiwa simbolik. Di satu sisi, manusia menghadap Tuhan dengan cara yang diyakininya. Di sisi lain, gunung berdiri sebagai pengingat bahwa sebelum semua sistem keyakinan diberi nama, manusia sudah lebih dulu bernegosiasi dengan alam; meminta, b erjanji, dan menepati. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng mengajarkan bahwa doa tidak selalu berakhir pada kebahagiaan tanpa harga. Ada konsekuensi, ada persembahan, ada kehilangan yang harus diterima demi keseimbangan semesta.

Bagi masyarakat Tengger, hidup adalah menjaga harmoni. Upacara-upacara adat, sesaji, dan larangan-larangan bukan sekadar tradisi kosong, melainkan cara membaca alam. Gunung diperlakukan sebagai makhluk hidup, bukan objek wisata. Bromo adalah saksi atas janji lama yang tak boleh dilupakan. Karena itulah, sebelum manusia modern melangkah lebih jauh, berhenti di masjid terakhir ini terasa seperti jeda yang diwajibkan; entah disadari atau tidak.

Batas imajiner ini seolah menjadi pintu gerbang. Di belakangnya, dunia nyata dengan segala rutinitas, ambisi, dan kebisingannya. Di depannya, dunia Bromo; dunia simbolik tempat manusia diingatkan bahwa ia hanyalah bagian kecil dari tatanan besar. Kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng hidup di ruang antara ini, sebagai pengingat bahwa hubungan manusia dengan yang Ilahi dan dengan alam tidak pernah terpisah sepenuhnya. Keduanya saling bersinggungan, seperti dua sisi kabut yang sama.

Sholat Subuh di titik ini juga menjadi bentuk penyelarasan batin. Dalam kepercayaan lokal, sebelum mendaki, manusia harus bersih; tidak hanya tubuh, tetapi juga niat. Gunung tidak menerima langkah yang sombong. Ia hanya membuka diri bagi mereka yang datang dengan rendah hati. Dalam legenda Tengger, keteguhan dan kesabaran menjadi kunci. Dalam doa Subuh, nilai yang sama dilafalkan dengan bahasa yang berbeda. Di sinilah perbedaan keyakinan bertemu pada esensi yang serupa.

Ketika adzan memudar dan langit mulai berwarna abu-abu, pendakian pun dimulai. Setiap langkah seolah menapaki jejak lama; jejak janji, pengorbanan, dan kepercayaan yang diwariskan lintas generasi. Bromo tidak meminta untuk disembah, tetapi untuk dihormati. Ia tidak menuntut ketundukan, tetapi kesadaran. Seperti kisah Raden Joko Seger dan Roro Anteng, gunung ini mengajarkan bahwa hidup adalah tentang menepati janji pada yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Di ambang ini, manusia belajar bahwa perbedaan bukanlah jurang. Masjid dan kepercayaan Tengger berdiri saling berhadapan bukan sebagai lawan, melainkan sebagai penanda bahwa jalan menuju makna bisa beragam. Namun ketika kabut menutup pandangan dan langkah diarahkan ke atas, semua kembali pada satu kesadaran purba: manusia hanyalah tamu. Dan Bromo, dengan segala kisah dan kesunyiannya, adalah tuan rumah yang tak pernah lupa pada janji-janji lama.

Salam waras dari “Bromo”.

Editor : Chandra Faza

Pelajaran Pagi Di Atas Dunia

Oleh: Sudjarwo,

Guru Besar Universitas Malahayati

PORTALLNEWS.ID – Pagi dini hari, beberapa hari lalu, kami rombongan kecil yang terdiri dari penulis dan istri, dua orang dokter, serta seorang apoteker; naik menuju Puncak Gunung Bromo menggunakan kendaraan offroad. Setelah sampai di pelataran terakhir kami turun dan mulai menapaki kaki menuju puncak. Percakapan kami kalau diringkas demikian;

“Dingin sekali,” ucap istri sambil merapatkan jaket, napasnya membentuk asap tipis di udara gelap. “Tapi aneh ya, rasanya justru menenangkan.”
Penulis tersenyum, menyesuaikan langkah di jalur berpasir basah yang menanjak. “Mungkin karena kita jarang memberi tubuh kesempatan untuk benar-benar merasakan alam apa adanya. Biasanya dingin langsung dilawan AC.”
Salah satu dokter rombongan kami tertawa pelan berkata. “Benar Prof. Di ruang praktik, kita sibuk mengukur suhu tubuh orang lain, tapi lupa mendengarkan tubuh sendiri. Di sini, termometer alamnya jujur.”

“Dan tidak bisa ditawar,” sambung dokter yang satunya, sambil mengencangkan penutup kepala. “Kalau dingin ya dingin. Tidak ada resep untuk menurunkan suhu Bromo.” Sambil tertawa ceria sebagai ciri khasnya. Apoteker yang berjalan di belakang kami menimpali, “Kalau ada, pasti sudah laku keras. Tapi mungkin justru karena tidak ada obatnya, kita dipaksa menerima.”

Langkah kami teratur, diselingi bunyi kerikil yang terinjak. Gelap masih berkuasa, namun di kejauhan langit mulai bergradasi, hitamnya perlahan melunak.
“Setiap hari kita bicara soal kesembuhan,” kata penulis pelan, karena takut memecah suasana. “Tapi jarang bertanya, apa sebenarnya yang menyembuhkan kita.”
Istri penulis menoleh. “Mungkin pagi ini jawabannya. Atau setidaknya, pengingatnya.”

Dokter pertama mengangguk. “Sebagai dokter, kita terbiasa merasa harus tahu. Di gunung begini, rasanya lebih jujur untuk mengaku kecil.”
“Dan lelah,” tambah apoteker sambil tersenyum. “Tapi lelah yang menyenangkan. Tidak ada target, tidak ada antrean pasien, hanya langkah demi langkah.”
Angin berembus lebih kencang. Kami berhenti sejenak, memandang ke arah timur. Garis cahaya tipis mulai muncul, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengubah suasana.

“Sebentar lagi matahari muncul,” ujar istri penulis lirih. “Entah kenapa, setiap melihat terbit, rasanya seperti diberi kesempatan ulang.”
Penulis mengangguk. “Seperti dunia di-reset, tanpa harus menghapus apa pun.”
“Kita mungkin menyembuhkan orang dengan ilmu,” kata dokter kedua, “tapi pagi seperti ini mengingatkan bahwa ada penyembuhan yang datang tanpa resep.”

Kami kembali melangkah, lebih pelan, seolah tak ingin tergesa sampai. Di antara dingin, sunyi, dan cahaya yang mulai lahir, percakapan pun mereda. Bukan karena kehabisan kata, melainkan karena masing-masing mulai menyadari: ada hal-hal yang lebih tepat direnungkan dalam diam, sambil membiarkan Bromo berbicara dengan caranya sendiri
Saat memandang siluet pagi dari puncak Bromo, ada perasaan kecil yang tiba-tiba tumbuh di dada, seolah diri ini hanyalah sebutir debu yang ikut menumpang hidup di hamparan semesta.

Gelap perlahan mundur, digantikan cahaya yang tidak datang dengan tergesa-gesa. Ia menyusup pelan, menyentuh garis cakrawala, lalu memantul pada kabut yang menggantung di antara lembah dan gunung. Dalam keheningan itu, dunia seperti sedang menarik napas panjang, bersiap menyambut hari dengan segala kemungkinan yang dikandungnya.

Angin pagi berembus dingin, menusuk kulit, namun justru membuat kesadaran terasa lebih jernih. Setiap hembusannya seakan membawa pesan tentang kebesaran Ilahi yang tidak perlu diumumkan dengan suara keras. Ia hadir dalam diam, dalam keteraturan yang nyaris tidak pernah meleset. Matahari selalu tahu kapan harus terbit, dari arah yang sama, dengan ritme yang setia. Tidak pernah ia terlambat, tidak pernah pula ingkar. Dari puncak ini, keteraturan itu tampak begitu nyata, seolah alam sedang memperlihatkan kitab terbukanya bagi siapa saja yang mau membaca dengan hati yang tenang.

Ketika cahaya mulai menyapu lautan pasir, warna-warna yang semula kelabu berubah menjadi keemasan. Bayangan gunung memanjang, membentuk siluet yang agung dan misterius. Di momen itu, terasa betapa kecilnya ambisi dan kegelisahan yang sering dibawa dari kehidupan sehari-hari. Segala kekhawatiran tentang masa depan, penyesalan tentang masa lalu, perlahan melemah di hadapan panorama yang begitu luas. Di sini, waktu seperti kehilangan sifatnya yang menekan; ia mengalir saja, tanpa tuntutan, tanpa paksaan.

Setiap matahari terbit seolah membawa janji yang sama: bahwa rezeki akan kembali ditaburkan kepada seluruh makhluk di muka dunia ini. Bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dalam rupa udara yang bisa dihirup, cahaya yang menghangatkan, dan kesempatan baru untuk memperbaiki diri. Dari puncak Bromo, janji itu terasa begitu inklusif. Tidak ada yang dikecualikan. Gunung, pasir, tumbuhan kecil yang bertahan di celah-celah tanah, bahkan manusia dengan segala keterbatasannya, semua mendapat bagian dari kemurahan yang sama.

Keheningan pagi memaksa diri untuk bercermin. Sejauh mana rasa syukur benar-benar hidup dalam keseharian? Ataukah ia hanya menjadi kata yang diucapkan ketika segalanya berjalan sesuai harapan? Alam tidak pernah meminta pujian, namun ia terus memberi. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang ketulusan. Memberi tanpa perhitungan, hadir tanpa tuntutan untuk dipahami sepenuhnya. Dari ketinggian ini, muncul kesadaran bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi dengan kebisingan untuk terasa bermakna.

Kabut yang perlahan terangkat mengungkapkan detail demi detail permukaan bumi. Garis-garis pasir, lekuk lembah, dan kontur pegunungan menjadi semakin jelas. Begitu pula dengan pikiran, yang perlahan menemukan kejernihannya sendiri. Ada rasa pasrah yang bukan berarti menyerah, melainkan percaya bahwa ada tatanan yang lebih besar dari sekadar rencana manusia. Bahwa di balik setiap peristiwa, ada hikmah yang mungkin baru akan dipahami setelah waktu berlalu.

Di hadapan kebesaran ini, kesombongan terasa tidak pada tempatnya. Segala pencapaian manusia tampak rapuh jika dibandingkan dengan usia gunung dan siklus alam yang telah berlangsung jauh sebelum keberadaan kita. Namun justru di sanalah letak penghiburannya. Menjadi kecil bukanlah sebuah kutukan, melainkan pembebasan. Tidak semua hal harus dikendalikan, tidak semua jalan harus diketahui ujungnya sejak awal.
Saat matahari akhirnya menampakkan dirinya sepenuhnya, hangat mulai menggantikan dingin. Kehidupan kembali bergerak, meski dari kejauhan. Momen kontemplatif ini pun perlahan akan usai, digantikan oleh rutinitas dan hiruk pikuk dunia. Namun bekasnya tertinggal, seperti cahaya yang masih melekat di mata.

Dari puncak Bromo, pagi mengajarkan bahwa kebesaran Ilahi tidak selalu hadir dalam keajaiban yang spektakuler, melainkan dalam kesetiaan sebuah terbit, dalam rezeki yang terus mengalir, dan dalam kesempatan harian untuk menjadi manusia yang lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur.
Salam Waras dari Puncak Bromo (R-1)

Editor : Chandra Faza

TUHAN YANG SAMA, HATI YANG BERBEDA

Guru Besar Malahayati

Di sebuah pesantren yang tenang di pinggir desa, selepas salat Maghrib, para santri duduk melingkar di serambi masjid dengan kitab-kitab terbuka di pangkuan. Angin malam berembus pelan. Lampu-lampu temaram menggantung di langit-langit, menciptakan suasana hangat dan khusyuk. Di tengah lingkaran itu, seorang kiai sepuh bersorban putih tampak bersiap menutup pengajian malam. Namun seorang santri yang sejak tadi terlihat gelisah mengangkat tangan, meminta izin untuk bertanya tentang sebuah kutipan dari Jalaluddin Rumi yang siang tadi dia baca.

“Yai, saya membaca sebuah kutipan dari Djalaludin Rumi yang membuat saya gelisah,” ujar santri itu pelan.

Kiai tersenyum, mempersilakan. “Kutipan apa, Nak?”

Santri itu menarik napas, lalu mengucapkan dengan suara bergetar, “Rumi berkata: ‘Tuhan yang kau sembah di bulan Ramadan adalah Tuhan yang kau jauhi di bulan-bulan yang lain.’”

Suasana mendadak hening. Beberapa santri saling berpandangan.

“Kenapa kalimat itu membuatmu gelisah?” tanya Kiai lembut.

“Karena saya merasa seperti sedang ditegur, Yai,” jawabnya jujur. “Di bulan Ramadan saya rajin ke masjid, rajin membaca Al-Qur’an, mudah bersedekah. Tapi setelahnya, semua perlahan berkurang. Seolah-olah semangat itu hanya milik bulan Ramadan saja.”

Kiai mengangguk pelan. “Itulah cara para sufi menyentuh hati. Mereka tidak menunjuk orang lain, tetapi membuat kita menunjuk diri sendiri.”

“Apakah berarti ibadah saya belum sungguh-sungguh, Yai?”

“Bukan begitu,” jawab Kiai. “Ramadan adalah latihan. Tapi latihan akan sia-sia jika tidak dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan yang kita sembah tidak pernah berubah oleh waktu. Kitalah yang sering berubah oleh suasana.”

Santri itu menunduk, merenung dalam-dalam, sementara angin malam kembali berembus pelan di serambi pesantren.

Ada ironi yang sering berulang setiap tahun dalam kehidupan beragama: ketika bulan Ramadan tiba, masjid-masjid penuh, doa-doa dipanjatkan dengan khusyuk, sedekah mengalir deras, dan ayat-ayat suci dilantunkan dengan suara yang bergetar oleh harap. Namun ketika bulan itu berlalu, perlahan-lahan semangat itu surut. Saf salat kembali renggang, mushaf kembali berdebu di rak, dan kesadaran spiritual memudar digantikan oleh kesibukan duniawi.

Fenomena ini bukan sekadar soal konsistensi ibadah, melainkan cerminan dari bagaimana manusia memaknai hubungan dengan Tuhannya. Ramadan sering dipahami sebagai bulan “kesempatan”, bulan diskon pahala, bulan pengampunan besar-besaran. Pemahaman ini tentu tidak salah. Namun ketika motivasi beribadah hanya bertumpu pada momentum dan suasana, maka kedekatan yang terbangun menjadi musiman. Ia bergantung pada atmosfer, bukan pada kesadaran mendalam.

Di bulan Ramadan, manusia lebih mudah tersentuh. Lapar dan dahaga melembutkan hati. Rutinitas yang berubah menciptakan ruang refleksi. Malam-malam yang diisi dengan doa membuat seseorang merasa dekat, bahkan intim, dengan Penciptanya. Dalam keheningan sahur dan kekhusyukan tarawih, muncul perasaan bahwa Tuhan begitu dekat, begitu hadir, begitu nyata. Namun pertanyaannya: apakah Tuhan benar-benar menjadi lebih dekat di bulan itu, ataukah hati kitalah yang akhirnya membuka diri?

Ironi terbesar terjadi ketika ibadah menjadi sekadar ritual tahunan. Seseorang mungkin mampu mengkhatamkan kitab suci dalam sebulan, tetapi setelah itu jarang sekali membacanya kembali. Seseorang mungkin rajin bersedekah selama tiga puluh hari, tetapi kembali perhitungan ketika bulan berganti. Seseorang mungkin menahan amarah dan menjaga lisan selama berpuasa, tetapi setelahnya kembali mudah menyakiti dengan kata-kata. Jika demikian, Ramadan hanya menjadi ruang latihan yang tidak pernah diterapkan dalam kehidupan nyata.

Padahal, esensi puasa bukanlah menahan lapar, melainkan melatih kesadaran. Kesadaran bahwa manusia lemah, bergantung, dan fana. Kesadaran bahwa ada kekuatan yang mengatur segala sesuatu di luar kendalinya. Ketika kesadaran ini tumbuh, ia seharusnya tidak hilang hanya karena kalender berubah. Tuhan yang Maha Mendengar tidak hanya hadir di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir, melainkan di setiap detik kehidupan. Mengapa manusia memperlakukan-Nya seolah-olah Ia hanya “aktif” pada musim tertentu?. Disinilah manusia seolah men-Tuhan-kan waktu.

Padahal, jika hubungan itu dibangun atas dasar cinta, ia tidak mengenal musim. Cinta tidak menunggu waktu khusus untuk hadir. Ia konsisten, meski intensitasnya bisa naik turun. Orang yang mencintai akan mencari, bukan menunggu dicari. Ia akan merasa hampa ketika jauh, bukan merasa lega karena bebas dari kewajiban. Jika Ramadan berhasil menumbuhkan rasa manis dalam ibadah, seharusnya rasa itu menimbulkan kerinduan untuk terus merasakannya, bukan justru dilupakan.

Ramadan seharusnya menjadi sekolah ruhani. Setelah lulus dari sekolah itu, seseorang tidak kembali menjadi buta huruf spiritual. Ia membawa bekal untuk menghadapi sebelas bulan berikutnya. Ia mungkin tidak lagi berpuasa wajib, tetapi ia tetap menjaga lisannya. Ia mungkin tidak lagi tarawih setiap malam, tetapi ia tetap menyediakan waktu sepertiga malam untuk berdoa. Ia mungkin tidak lagi berbuka bersama setiap hari, tetapi ia tetap ringan tangan membantu sesama.

Pada akhirnya, Tuhan tidak berubah antara Ramadan dan bulan lainnya. Yang berubah adalah kesadaran manusia. Maka refleksi terbesar setelah Ramadan bukanlah seberapa banyak ibadah yang telah dilakukan, melainkan seberapa dalam perubahan yang tertanam. Apakah Tuhan masih menjadi pusat perhatian ketika suasana sudah biasa? Apakah doa tetap terucap ketika tidak ada dorongan kolektif? Apakah kejujuran tetap dijaga ketika tidak ada pengingat harian tentang pahala berlipat ganda?. Jika jawabannya ya, maka Ramadan telah berhasil. Namun jika tidak, mungkin selama ini yang kita dekati hanyalah suasana, bukan Tuhan itu sendiri.

Salam Ramadan

KETIKA REZEKI MENEMUKAN PEMILIKNYA

 

Guru Besar Universitas Malahayati

Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika Marno dan Santo duduk di atas tumpukan batako. Debu masih melekat di sepatu mereka, dan suara palu dari kejauhan jadi irama yang akrab.

“San, kadang aku mikir,” kata Marno sambil menyesap kopi dari gelas plastik, “hidup kita ini aneh ya. Tiap hari kerja di tempat berbeda, tapi nasib rasanya muter-muter di situ saja.”

Santo tersenyum tipis. “Iya, tapi siapa tahu muternya lagi nyari jalannya. Rezeki itu kan nggak kelihatan bentuknya.”

Marno menghela napas. “Aku kerja keras, San. Dari pagi sampai sore. Tapi kadang cukup, kadang pas-pasan. Rasanya kayak nebak-nebak.”

“Justru itu,” jawab Santo pelan. “Kita nggak pernah tahu rezeki kita di mana. Tapi aku percaya, rezeki tahu kita di mana. Kalau nggak hari ini, ya besok. Kalau bukan uang, mungkin sehat. Atau pulang masih bisa ketawa sama keluarga.”

Marno terdiam sebentar, lalu tertawa kecil. “Kamu ini kalau ngomong suka bikin mikir. Tapi ada benarnya juga. Kemarin istriku senyum pas aku pulang, capekku langsung ilang.”

Santo ikut tertawa. “Nah itu. Jangan lupa bahagia, No. Tiap hari beda cerita. Hari ini panas, besok mungkin hujan, tapi kita tetap jalan.”

Marno mengangguk, memandang bangunan setengah jadi di depan mereka. “Iya ya, San. Selama kita masih bisa kerja, masih bisa senyum, berarti rezeki belum kehabisan alamat.”

Santo berdiri, meraih helmnya. “Ayo kerja lagi. Siapa tahu hari ini ceritanya baik.”

Manusia sering berjalan dengan peta di tangan, menebak-nebak ke mana langkah akan membawa hasil. Namun kenyataannya, peta itu sering kali meleset. Ada hari ketika usaha terasa sia-sia, dan ada hari ketika kebaikan datang tanpa diminta. Dari situlah muncul kesadaran bahwa manusia tidak pernah benar-benar tahu di mana rezekinya berada. Ia bisa tersembunyi di tikungan yang tak terpikirkan, atau datang melalui pintu yang selama ini dianggap tertutup.

Rezeki tidak selalu berwujud angka, harta, atau benda yang bisa disimpan. Ia hadir sebagai kesempatan, kesehatan, ketenangan, dan pertemuan yang mengubah arah hidup. Banyak orang baru menyadari nilai rezeki setelah ia pergi, atau ketika sesuatu yang sederhana tiba-tiba menjadi sangat berarti. Dalam diam, rezeki seolah tahu ke mana ia harus pulang, menemukan pemiliknya pada waktu yang paling tepat, meski sering kali tidak sesuai rencana manusia.

Di tengah ketidakpastian itu, senyum menjadi bentuk perlawanan yang lembut. Senyum bukan tanda bahwa hidup selalu mudah, melainkan bukti bahwa seseorang memilih untuk berdamai denga  n keadaan. Saat hari terasa berat, senyum membantu napas tetap panjang dan pikiran tetap jernih. Ia mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang belum didapat, tetapi juga tentang apa yang masih bisa disyukuri hari ini.

Kebahagiaan sering disalahartikan sebagai tujuan akhir, padahal ia lebih tepat disebut sebagai cara berjalan. Orang yang menunda bahagia sampai semua keinginannya terpenuhi akan sering merasa lelah dan kosong. Sebaliknya, mereka yang menemukan bahagia dalam proses, sekecil apa pun, akan memiliki tenaga untuk terus melangkah. Kebahagiaan tidak menunggu hari sempurna; ia tumbuh dari penerimaan dan harapan yang dijaga.

Setiap hari membawa cerita yang berbeda, dan perbedaan itulah yang membuat hidup  bergerak. Ada hari yang penuh tawa, ada hari yang sunyi, dan ada hari yang mengajarkan kesabaran. Tidak semua cerita harus dipahami saat itu juga. Beberapa baru menemukan maknanya bertahun-tahun kemudian, ketika seseorang menoleh ke belakang dan menyadari bahwa setiap kejadian memiliki perannya sendiri.

Dalam perjalanan itu, manusia belajar bahwa mengontrol segalanya adalah ilusi. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, menjaga niat tetap lurus, dan membuka hati terhadap kemungkinan. Ketika usaha bertemu dengan waktu yang tepat, rezeki pun datang dengan caranya sendiri. Kadang ia mengetuk pelan, kadang ia datang tiba-tiba, dan kadang ia menyamar sebagai tantangan.

Tantangan sering kali menjadi pintu masuk rezeki yang tidak disangka. Dari kegagalan, lahir ketangguhan. Dari kehilangan, tumbuh kepekaan. Dari penantian, muncul kedewasaan. Jika manusia hanya mengukur hidup dari hasil instan, banyak rezeki batin akan terlewatkan. Padahal, bekal itulah yang membuat seseorang mampu menerima dan menjaga rezeki yang lebih besar ketika tiba.

Pada akhirnya, hidup adalah tentang berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang dititipkan akan sampai. Tugas manusia bukan mengejar dengan cemas, melainkan menjemput dengan kesiapan. Jangan lupa tersenyum dan berbahagia, karena setiap hari membawa ceritanya sendiri. Selama langkah dijaga dan hati tetap terbuka, rezeki akan selalu menemukan jalannya datang.

Salam Waras

Editor : Chandra Faza

Setelah Seragam Dilipat

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah teras rumah tua yang menghadap taman, dua pria sepuh pensiunan jenderal duduk berhadapan. Seragam telah lama tergantung rapi di lemari, digantikan kemeja sederhana dan secangkir kopi yang mulai mendingin.
Salah seorang mantan jenderal yang lebih senior membuka percakapan; “Sunyi juga ya, Mil,” ujar Jendral Komar sambil menatap daun-daun yang gugur perlahan. “Dulu, satu langkah kita diikuti puluhan orang. Sekarang, suara burung lebih sering menyapa.”
Jendral Kamil, sebagai yang lebih junior menjawab sambil tersenyum tipis. “Sunyi, tapi jujur. Dulu ramainya bukan karena kita, tapi karena jabatan.”

Komar mengangguk pelan. “Aku masih ingat, saat pertama kali masuk ruangan rapat, semua berdiri. Sekarang, masuk ke kantor lama saja, prajurit jaganya sempat bertanya aku mau ke siapa.”
Kamil tertawa pendek, lalu terdiam dan sejurus kemudian berkata: “Itu bukan hinaan, jenderal. Itu pengingat. Bahwa dunia menghormati kursi, bukan orang yang duduk di atasnya.”
Komar menghela napas, dan berguman, “Masalahnya, saat kita duduk di kursi itu, mereka memuji seolah kita tak tergantikan. Begitu turun, seakan jasa kita ikut turun.”
“Kau kecewa, jenderal?” tanya jenderal Kamil lirih.
“Bukan. Lebih ke… heran,” jawab jenderal Komar, seraya menghirup kopinya yang sudah mulai dingin, seraya berkata; “Bagaimana pujian bisa secepat itu berubah jadi lupa.”

Jenderal Kamil tidak kalah seru, beliau menukas: “Aku belajar satu hal setelah pensiun. Penghormatan sejati bukan yang diucapkan keras-keras, tapi yang tetap ada meski kita tak lagi punya kuasa.”
Jenderal Komar menoleh sambil berguman. “Dan kalau itu tak ada?”.
“Berarti kita harus berdamai,” jawab Jenderal Kamil tenang, seraya menambahkan. “Bahwa yang kita lakukan dulu cukup untuk diri kita sendiri, bukan untuk ingatan dunia.”

Angin berhembus pelan. Dua jenderal pensiunan itu terdiam, bukan karena kehabisan kata, tetapi karena akhirnya mengerti: tidak semua jasa ditakdirkan untuk dikenang, dan tidak semua akhir harus dirayakan. Datang disambut, pergi dihina. Berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Begitulah dunia. Kalimat ini terasa pahit, tetapi jujur menggambarkan irama kehidupan manusia yang kerap berulang dari zaman ke zaman.

Dunia sering kali bersikap ramah di awal, penuh senyum dan harapan, namun berubah dingin ketika kepentingan telah terpenuhi. Manusia dipuja saat dibutuhkan, lalu dilupakan bahkan direndahkan ketika perannya dianggap selesai. Fenomena ini bukan sekadar cerita personal, melainkan cermin watak sosial yang masih terus hidup hingga hari ini.

Pada awal kehadiran seseorang, dunia cenderung membuka pintu dengan tangan terbuka. Sambutan hangat, sanjungan, dan pujian mengalir deras. Kehadiran dianggap membawa manfaat, solusi, atau keuntungan. Nilai seseorang diukur dari apa yang bisa ia berikan. Selama kontribusi itu nyata dan menguntungkan, ia ditempatkan di posisi terhormat. Namun, sambutan tersebut sering kali tidak lahir dari ketulusan, melainkan dari harapan akan hasil. Ketika harapan itu terpenuhi, pujian pun menjadi mata uang sosial yang murah dan mudah dibagikan.

Masalah muncul ketika waktu berjalan dan keadaan berubah. Dunia yang dulu memuji mulai menuntut lebih, tanpa melihat batas kemampuan manusia. Kesalahan kecil diperbesar, kelelahan dianggap kelemahan, dan penurunan peran dipersepsikan sebagai ketidakbergunaan. Saat seseorang tak lagi mampu memberi seperti sebelumnya, nada dunia pun berubah. Sambutan hangat berganti sikap acuh, bahkan hinaan. Seolah-olah jasa yang pernah diberikan tak pernah ada, lenyap ditelan ingatan kolektif yang selektif.

Ironisnya, manusia sering kali ikut melanggengkan pola ini. Kita terbiasa mengingat seseorang dari kegunaannya saat ini, bukan dari perjalanan dan pengorbanan yang pernah ia lalui. Penghargaan menjadi bersyarat: ada selama manfaat terasa, hilang ketika manfaat menguap. Dalam logika seperti ini, nilai manusia direduksi menjadi fungsi. Ketika fungsi dianggap rusak atau usang, manusia diperlakukan layaknya barang yang bisa dibuang.

Rasa sakit terbesar bukanlah saat tidak lagi dipuji, melainkan saat jasa masa lalu dihapus begitu saja. Pengabdian yang dulu diagungkan berubah menjadi catatan yang dianggap tidak relevan. Inilah luka yang sunyi, karena sering kali tak terlihat dan tak diakui. Banyak orang memilih diam, menelan kekecewaan, dan melanjutkan hidup dengan sisa harga diri yang masih mereka genggam. Dunia mungkin tak peduli, tetapi luka itu nyata.
Namun, di balik getirnya kenyataan tersebut, ada pelajaran yang bisa dipetik. Dunia yang mudah memuji dan menghina mengajarkan bahwa menggantungkan harga diri pada penilaian luar adalah fondasi yang rapuh. Pujian bersifat sementara, hinaan pun demikian. Keduanya datang dan pergi mengikuti kepentingan. Jika makna diri hanya dibangun dari keduanya, maka hidup akan terus terombang-ambing tanpa pijakan yang kokoh.

Kesadaran ini mendorong manusia untuk mencari nilai yang lebih dalam dan personal. Berbuat baik bukan lagi demi tepuk tangan, melainkan karena keyakinan. Bekerja dan berjasa bukan semata agar diingat, tetapi karena itu bagian dari integritas diri. Ketika penghargaan datang, ia disyukuri. Ketika hinaan muncul, ia disikapi dengan jarak emosional. Bukan karena kebal rasa, tetapi karena memahami bahwa dunia tidak selalu adil dalam menilai.
Pada akhirnya, dunia memang seperti itu: datang disambut, pergi dihina; berjasa dipuji, dianggap tak berguna dibuang. Mengharapkan dunia berubah sepenuhnya mungkin terlalu utopis. Namun, manusia selalu memiliki pilihan untuk tidak sepenuhnya larut dalam pola tersebut. Kita bisa memilih untuk lebih adil dalam menilai sesama, lebih setia mengingat jasa, dan lebih manusiawi dalam memperlakukan mereka yang pernah berkontribusi.

Di tengah dunia yang mudah lupa dan cepat menghakimi, menjaga nurani adalah bentuk perlawanan paling sunyi namun bermakna. Sebab ketika dunia gagal menghargai, setidaknya kita tidak gagal menghargai diri sendiri dan orang lain. Dan mungkin, dari sikap kecil itulah, dunia yang kejam perlahan belajar untuk menjadi sedikit lebih manusiawi.
Salam Waras (Rj)

Editor : Chandra Faza

Anomali Sosial Negeri Ketoprak

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Satu adegan kesenian ketoprak sedang berlangsung di satu panggung negeri ini. Sebelum adegan dimulai dua tokoh Kirun dan Kiran membaca naskah sambil diskusi di balik layar:

“Ran, aku ini kadang bingung, apa aku salah baca naskah atau memang ceritanya sudah terbalik,” kata Kirun.

“Kenapa lagi, Run? Jangan bilang ada lakon yang lebih aneh dari kemarin”.

“Ada. Ini soal penjambret yang mati karena menabrak tembok waktu kabur. Eh… yang dijambret malah diminta ganti rugi, ” kata Kirun.

“Hah? Jadi tembok dan dompetnya korban jadi saksi, tapi yang disalahkan malah yang dirugikan?” tanya Kiran.

”Iya. Logikanya jungkir balik. Orang jatuh karena lari dari melakukan kejahatan, tapi orang lain yang jadi korbannya harus menanggung akibatnya”.

“Kalau begitu, Run, maling jatuh ke got juga bisa minta santunan ke dinas pekerjaan umum,” Kiran tak bisa menahan tawa.

Kirun memegang perut karena  tak kuasa menahan tawa.

“Hehehe. Jangan-jangan nanti ada tulisan ‘Hati-hati, berbuat jahat bisa ditanggung bersama’”.

“Lucu tapi ngeri. Kalau pelaku kejahatan saja bisa diposisikan sebagai korban, batas benar dan salah jadi kabur,”kata Kirun,  “makanya ketoprak zaman dulu jelas. Yang jahat ya jahat, yang salah ya salah”.

“Sekarang peran ditukar. Penjahat pakai baju korban, korban disuruh mengerti, ” kata Kiran.

Akhirnya orang takut membela diri. Takut nanti malah disalahkan! ”

“Lebih aman pasrah, ya Run?”

“Iya, tapi negeri tanpa keberanian cuma jadi panggung sandiwara kosong!” entak Kirun.

“Dalangnya entah ke mana,” tukas Kiran,”pemainnya kebingungan, penontonnya cuma geleng-geleng. ”

“Kalau begini terus, ketoprak tidak lagi lucu,” kata Kirun.

“Tapi tetap kita tertawa Run… tertawa pahit, sambil bertanya dalam hati, apakah keadilan masih ikut main, atau sudah pulang duluan”.

Ketoprak, sebagai kesenian yang lahir dan tumbuh di wilayah bekas Kerajaan Mataram, sejak awal adalah panggung cerita tentang manusia: tentang kuasa, laku, dan akal sehat.

Ia memadukan humor, tragedi, dan petuah dalam satu tarikan napas. Namun di negeri yang kini terasa seperti panggung ketoprak yang salah kelola, cerita-cerita itu seolah keluar dari naskah, meloncat ke jalanan, ruang kelas, dan kantor-kantor, lalu berubah menjadi anomali sosial yang mengusik nalar.

Bayangkan sebuah adegan: seorang guru berdiri di depan kelas, menasihati murid-muridnya agar menjaga sikap, menghormati sesama, dan bertanggung jawab. Dalam logika pendidikan, itu adalah tindakan wajar, bahkan mulia. Namun di panggung ketoprak versi baru, adegan itu dipelintir.

Nasihat berubah menjadi tuduhan, teguran menjadi ancaman. Orang tua datang bukan untuk berdialog, melainkan melapor, seolah-olah kata-kata yang dimaksudkan membangun karakter telah menjelma kejahatan.

Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh justru menjadi ruang genting, tempat setiap kalimat ditimbang bukan dengan akal sehat, melainkan dengan rasa tersinggung. Dan, berujung orang tua lapor polisi untuk mempidanakan guru. Lucunya, itu dituruti oleh pihak yang harusnya mengayomi.

Adegan lain lebih absurd. Seorang penjambret terjatuh dan meninggal dunia setelah menabrak tembok saat melarikan diri. Dalam nalar hukum dan moral, peristiwa itu adalah konsekuensi tragis dari tindakan kriminal. Namun ketoprak anomali menulis ulang ceritanya: pihak yang dirugikan justru diminta bertanggung jawab, seolah-olah korban harus menebus nasib pelaku. Ketika aparat yang seharusnya menjaga rasa keadilan malah memberi ruang pada logika terbalik, publik dipaksa menelan ironi pahit. Keadilan tidak lagi berdiri di tengah, melainkan condong mengikuti sorak-sorai kekuasaan dan simpati yang salah alamat. Untung di negeri ini ada anggota dewan perwakilan yang masih waras, guna menyelamatkan muka negeri. Sekalipun ada yang mengatasnamakan “pihak yang dirugikan dengan logikanya”, masih tidak kehilangan muka untuk membela diri di ruang hampa.

Belum selesai penonton mencerna adegan itu, tirai terbuka pada kisah lain. Seorang pencuri motor gagal membawa hasil curiannya karena pemilik kendaraan mengamankan bagian penting mesin. Alih-alih lari atau menyerah, pelaku justru membakar motor tersebut. Api menyala bukan hanya pada rangka besi, tetapi juga pada nalar kolektif kita. Tindakan merusak menjadi ekspresi kemarahan yang dibiarkan, bahkan kerap dimaklumi. Dalam ketoprak ini, kegagalan berbuat jahat dibalas dengan kejahatan yang lebih besar, dan masyarakat hanya bisa menonton dengan dada sesak.

Rangkaian peristiwa itu bukan sekadar kumpulan kasus, melainkan gejala. Gejala dari masyarakat yang kehilangan kompas nilai. Ketika rasa benar dan salah menjadi cair, ketika tanggung jawab pribadi dikaburkan oleh perlindungan semu, dan ketika hukum diperlakukan seperti properti panggung yang bisa dipindah-pindah sesuai adegan, maka yang tersisa hanyalah kebisingan. Semua orang berteriak, tetapi sedikit yang benar-benar mendengar.

Satir penamaan “negeri ketoprak” bukanlah ejekan pada keseniannya, melainkan cermin bagi kita. Ketoprak sejati selalu punya pakem: ada tokoh bijak, ada penguasa lalim, ada rakyat jelata, dan ada pesan moral yang dititipkan di akhir cerita. Dalam anomali sosial yang kita saksikan hari ini, pakem itu diacak. Tokoh bijak dibungkam, penguasa abai, dan pesan moral tercecer di antara sensasi dan amarah. Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi.

Ketika kejadian-kejadian ganjil itu diterima sebagai keseharian, ketika publik lebih sibuk berdebat di permukaan daripada membenahi akar masalah, maka remuk yang dirasakan bukan lagi retakan kecil. Ia menjadi keruntuhan pelan-pelan, nyaris tak terdengar, tetapi pasti. Kita tertawa getir, membuat lelucon, dan menyebutnya satir, padahal yang sedang kita hadapi adalah krisis empati dan akal sehat. Di titik itu, pertanyaannya sederhana namun mendesak: apakah kita masih penonton yang kritis, atau sudah menjadi figuran yang pasrah dalam ketoprak anomali sosial?

Jawabannya ada dalam hati kita masing-masing. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

SAKIT ITU ANUGERAH

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Perawat itu masuk dengan langkah pelan, membawa nampan obat dan segelas air hangat. Ruangan perawatan itu terasa sunyi, hanya suara detak jam yang terdengar samar. “Bagaimana rasanya pagi ini Pak?” tanya perawat muda yang tampan itu dengan suara lembut sambil tersenyum kepada pasien tua yang terbaring lemah. Pasien menarik napas perlahan. “Masih sakit. Kadang rasanya melelahkan harus bangun dengan kondisi seperti ini.”

Perawat mengangguk, seolah memahami sepenuhnya. “Wajar Pak merasa begitu. Tubuh sedang berjuang, dan perjuangan memang tidak selalu nyaman.” Pasien menatap langit-langit kamar. “Aku sering bertanya-tanya, kenapa harus sakit? Rasanya hidup kok jadi berhenti.” “Boleh saya jujur Pak?” ujar perawat sambil berdiri membetulkan botol infus. “Tentu.” Jawab pasien renta itu. Perawat menukas: “Banyak orang yang baru benar-benar mendengar dirinya sendiri justru saat sakit. Saat tidak bisa ke mana-mana, tidak bisa berpura-pura kuat.”

Pasien tua terdiam sejenak. “Aneh… sejak di sini, aku jadi lebih sering mengingat hal-hal kecil. Nafas, waktu, orang-orang yang peduli.” Perawat tersenyum tipis. “Itu bukan hal kecil. Itu kesadaran. Kadang sakit datang bukan untuk melemahkan, tapi untuk mengingatkan.” “Mengingatkan tentang apa?” tanya balik pasien pelan. Perawat menjawab sambil membenahi letak obat di meja pasien, “Bahwa kita manusia ini terbatas, oleh karena itu  butuh bantuan. Dan, tidak harus selalu kuat.” Pasien menoleh, matanya tampak lebih tenang. “Jadi menurutmu, sakit ini bukan sepenuhnya buruk?”. Perawat menyerahkan obat dengan hati-hati. “Tidak selalu. Ada pelajaran yang hanya bisa datang lewat jalan seperti ini.”

Pasien tua itu mengangguk pelan, sambil berguman. “Mungkin… di balik rasa sakit ini, ada sesuatu yang sedang disiapkan.” Perawat tampan itu sambil pamit undur diri untuk keluar sambil berkata. “Dan tugas kita adalah menjalaninya dengan sabar. Selebihnya, biarkan waktu dan Yang Maha Kuasa yang bekerja.” Pasien tua itu penasaran dan berkata sedikit berteriak; “kuliahmu di mana dulu”. Perawat itu menyilangkan tangannya di dada sambil  tersenyum ihlas dan sedikit membungkukan badan, kemudian menutup pintu.

Sakit sering dipahami sebagai sesuatu yang harus dihindari, disangkal, bahkan ditakuti. Ia hadir membawa rasa tidak nyaman, keterbatasan, dan terkadang keputusasaan. Namun di balik segala perih yang menyertainya, sakit dapat dimaknai sebagai rezeki yang indah dari Yang Maha Kuasa. Sebuah anugerah yang tidak selalu dibungkus dengan kegembiraan, tetapi menyimpan pelajaran mendalam tentang makna hidup, kesadaran diri, dan hubungan manusia dengan Penciptanya.

Dalam keadaan sehat, manusia kerap merasa mampu mengendalikan segalanya. Waktu terasa panjang, tenaga seolah tak terbatas, dan rencana masa depan disusun dengan keyakinan penuh. Namun sakit datang sebagai jeda yang memaksa. Ia menghentikan langkah yang terlalu cepat dan menundukkan kepala yang mungkin terlalu tinggi. Dalam keterbatasan itulah manusia belajar bahwa dirinya rapuh, bergantung, dan tidak sepenuhnya berkuasa atas tubuh serta hidupnya sendiri. Kesadaran ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk meluruskan kembali arah batin yang mungkin mulai jauh dari rasa syukur.

Sakit juga mengajarkan keheningan. Ketika aktivitas berkurang dan tubuh meminta istirahat, ruang refleksi terbuka lebar. Pikiran yang biasanya sibuk mengejar hal-hal duniawi perlahan bergeser pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam: tentang tujuan hidup, tentang makna keberadaan, dan tentang hal-hal yang benar-benar penting. Dalam sunyi itu, banyak hal yang sebelumnya terabaikan menjadi terlihat jelas. Perhatian terhadap hal kecil, seperti napas yang teratur atau detak jantung yang stabil, berubah menjadi nikmat yang tak ternilai.

Sebagai rezeki, sakit menghadirkan bentuk pemberian yang tidak kasat mata. Ia melatih kesabaran, keikhlasan, dan penerimaan. Tidak semua hal bisa diubah sesuai kehendak, dan tidak semua doa dijawab dengan cara yang diharapkan. Namun di situlah letak keindahannya. Proses menerima kenyataan, berjuang tanpa kepastian, dan tetap berharap di tengah ketidaknyamanan adalah latihan spiritual yang sangat berharga. Ia menumbuhkan kedewasaan batin yang sering kali tidak bisa diperoleh melalui kenyamanan.

Selain itu, sakit membuka pintu empati. Ketika seseorang merasakan sendiri betapa rentannya kondisi tubuh, pandangan terhadap penderitaan orang lain pun berubah. Rasa iba yang dulu mungkin hanya sebatas simpati kini tumbuh menjadi pengertian yang lebih dalam. Ada kesadaran bahwa setiap orang memikul beban yang tidak selalu terlihat. Dengan demikian, sakit berperan sebagai guru yang mengajarkan kelembutan hati dan kepedulian sosial.

Rezeki tidak selalu berbentuk materi atau kebahagiaan instan. Terkadang ia hadir sebagai ujian yang membentuk karakter. Sakit mengajarkan untuk menghargai kesehatan, sesuatu yang sering dianggap biasa sebelum ia hilang. Setelah melewati masa sulit, hal-hal sederhana seperti berjalan tanpa nyeri, tidur nyenyak, atau tersenyum tanpa beban terasa seperti hadiah besar. Rasa syukur pun tumbuh bukan karena memiliki segalanya, melainkan karena menyadari nilai dari hal-hal mendasar.

Hubungan dengan Yang Maha Kuasa juga mengalami pendalaman melalui sakit. Dalam kondisi lemah, doa menjadi lebih jujur dan harapan menjadi lebih tulus. Tidak lagi dipenuhi tuntutan, melainkan kepasrahan. Ada keintiman spiritual yang lahir dari pengakuan bahwa manusia membutuhkan pertolongan di luar dirinya. Dalam momen-momen seperti itu, iman tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan.

Pada akhirnya, sakit bukan untuk diratapi, tetapi untuk dimaknai. Ia bukan tanda hukuman, melainkan cara halus untuk mengingatkan, membersihkan, dan membentuk. Jika dilihat dengan kacamata keimanan dan kesadaran, sakit menjadi rezeki yang indah; indah bukan karena rasanya, tetapi karena dampak yang ditinggalkannya. Ia mengajarkan cahaya melalui luka, kekuatan melalui kelemahan, dan harapan melalui keterbatasan. Dalam perjalanan hidup, mungkin sakit adalah salah satu cara paling jujur untuk belajar menjadi manusia seutuhnya. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

“Sakit” Surat Rahasia dari Langit

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Beberapa hari ini penulis mendapat ganjaran dari Sang Maha Pencipta untuk menikmati sakit; Alhamdullilah dengan ganjaran itu dapat memunculkan inspirasi dialog seperti ini:
Tubuh yang sedang tidak baik-baik saja berguman: “Aku lelah. Setiap gerak terasa berat, setiap tarikan napas seperti mengangkat beban yang tak terlihat. Aku menjerit lewat nyeri, berharap kau mau mendengar”. Jiwa menjawab dengan terbata-bata: “Aku mendengarmu, tapi selama ini aku terlalu sibuk. Aku memaksamu terus berjalan, seolah kau tak pernah punya batas.
Tubuh sedikit mendengus menjawab: “Aku bukan baja. Aku diciptakan untuk dijaga, bukan dipaksa. Saat kau abaikan istirahat, saat kau simpan amarah dan cemas terlalu lama, aku ikut menanggungnya dalam diam.
Jiwa terperanjat, dan berkata:”Aku mengira kuat itu berarti tak boleh berhenti. Aku lupa bahwa tenang juga bagian dari hidup”. Tubuh sedikit kesal dan menukas:”Makanya aku jatuh sakit. Bukan untuk menyusahkanmu, tapi agar kau berhenti sejenak. Agar kau menoleh ke dalam, bertanya apa yang selama ini kau lupakan”.
Jiwa mengiba:”Apakah ini teguran?”. Tubuh menjawab tajam: “Bisa jadi. Atau mungkin cara membersihkan debu yang menempel terlalu lama. Rasa sakit hanyalah bahasa yang kupunya untuk menyampaikan pesan padamu dan semesta”.
Jiwa menjawab memelas: “Aku takut. Sakit membuatku sadar bahwa akhir bisa begitu dekat”. Tubuh menyergah: “Tak perlu takut. Kesadaran bukan ancaman, melainkan undangan. Undangan untuk berdamai, memaafkan, dan melepaskan beban yang tak perlu dibawa pulang”. Jiwa menjawab lembut: “Lalu apa yang harus kulakukan sekarang wahai tubuh?” Tubuh menjawab lirih: “Dengarkan aku. Rawat aku dengan sabar, dan rawat dirimu dengan ikhlas. Jika aku lemah, jangan marah. Jika aku nyeri, jangan mengeluh berlebihan. Jadikan ini waktu untuk mendekat pada Yang Maha Menghidupkan”.
Jiwa menjawab dengan santun: “Baik kalau begitu. Jika kau adalah amanah, aku akan belajar menjagamu. Dan jika sakit adalah pesan, aku akan mencoba membacanya dengan hati yang lebih lapang”.

Sakit datang tanpa aba-aba, seolah menjadi tamu yang tak diundang, namun sulit untuk diusir. Dalam keheningan itulah pikiran mulai bekerja lebih jauh dari biasanya, mencoba mencari makna di balik rasa yang mengganggu raga. Dalam keyakinan, sakit bukan sekadar gangguan fisik. Ia bisa menjadi karunia yang tersembunyi. Bisa jadi ia adalah teguran lembut dari Allah, sebuah cara halus untuk menghentikan langkah yang terlalu cepat, atau arah yang terlalu jauh menyimpang. Ketika tubuh dipaksa berhenti, jiwa diberi ruang untuk bertanya: sudah sejauh apa hidup dijalani dengan kesadaran? Sudah seberapa sering lupa untuk bersyukur, lalai untuk berdoa, atau menunda kebaikan dengan alasan dunia yang tak pernah selesai?.
Namun sakit juga bisa dimaknai sebagai proses pencucian diri. Rasa nyeri, lemah, dan ketidakberdayaan menghadirkan kesadaran bahwa manusia sejatinya rapuh. Tidak ada kekuatan mutlak, tidak ada kendali penuh atas tubuh sendiri. Dalam kondisi seperti ini, kesombongan perlahan luruh. Doa-doa yang mungkin dulu diucapkan dengan ringan, kini terasa lebih jujur dan mendesak. Air mata menjadi lebih mudah jatuh, bukan karena lemah, tetapi karena sadar betapa kecilnya diri ini di hadapan Yang Maha Kuasa.

Ada pula pikiran yang melangkah lebih jauh, bahwa sakit adalah cara untuk bersiap menghadapi kematian. Bukan dengan ketakutan, melainkan dengan perenungan. Sakit mengajarkan bahwa hidup tidak selamanya tentang rencana jangka panjang, ambisi besar, atau keinginan yang terus ditumpuk. Ia mengingatkan bahwa hidup bisa berhenti kapan saja, dan yang dibawa bukanlah harta, jabatan, atau pujian, melainkan amal dan keikhlasan. Dalam rasa sakit, kematian tidak lagi terasa jauh atau abstrak, melainkan sesuatu yang nyata dan pantas untuk dipersiapkan.
Di sisi lain, ada pula kemungkinan bahwa sakit adalah karma dari apa yang pernah dilakukan, baik secara sadar maupun tidak. Pola hidup yang diabaikan, emosi yang dipendam, atau sikap yang menyakiti diri sendiri dan atau orang lain, perlahan menuntut tanggung jawabnya. Namun memaknai sakit sebagai karma bukan berarti terjebak dalam penyesalan tanpa akhir. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi pintu untuk berdamai dengan masa lalu, menerima konsekuensi dengan lapang dada, dan berkomitmen untuk hidup dengan lebih bijak ke depannya.

Menariknya, semua kemungkinan makna itu tidak harus dipilih salah satu. Sakit bisa menjadi teguran, pencucian, persiapan, dan pembelajaran sekaligus. Ia tidak datang untuk menghukum semata, melainkan untuk mengembalikan manusia pada kesadaran paling dasar: bahwa hidup adalah titipan, dan tubuh adalah amanah. Ketika amanah itu terguncang, ada pesan yang ingin disampaikan, ada pelajaran yang ingin ditanamkan.

Dalam sakit, waktu terasa melambat. Hal-hal kecil menjadi lebih berarti: napas yang lega, tidur yang nyenyak, atau sekadar bangun tanpa rasa nyeri. Dari sana tumbuh rasa syukur yang lebih jujur, bukan karena segalanya baik-baik saja, tetapi karena masih diberi kesempatan untuk merasakan, belajar, dan memperbaiki diri. Sakit mengajarkan bahwa sehat adalah nikmat yang sering dilupakan, dan sabar adalah kekuatan yang sering diremehkan.
Pada akhirnya, sakit adalah bahasa Tuhan yang tidak selalu bisa diterjemahkan dengan logika. Ia lebih sering dipahami dengan hati yang tenang dan jiwa yang mau mendengar. Entah ia datang sebagai teguran, pencucian diri, persiapan menuju akhir, atau konsekuensi dari perjalanan hidup, sakit tetap membawa peluang yang sama: untuk lebih dekat, lebih sadar, dan lebih jujur pada diri sendiri. Dan mungkin, di situlah letak rahmatNYA yang paling halus. Kesembuhan dan kematian adalah dua sisi mata uang yang sama, sama-sama anugerah, sama-sama keberuntungan; tinggal dari sisi mana kita menikmati. Bisa jadi anugerah yang tidak menguntungkan, atau bisa juga mungkin keuntungan yang sejatinya bukan anugerah. Namun bagi mereka yang selalu bersyukur memandang keduanya adalah pintu untuk menuju pulang dengan kegembiraan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Di Balik HGU SGC, Ada Tangan Kapalan yang Selalu Diabaikan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

KABUT mulai terangkat, tapi suasana justru makin terasa berat. Paimin mengaduk sisa kopi hitam di gelas kaleng, sementara Paino menyeringai tipis melihat spanduk “ASET NEGARA” yang dipasang di gerbang pabrik.

Paimin: “Lihat itu, No. Spanduknya baru, tulisannya gede. Aset negara katanya. Kita ini apa? Bonus penderitaan?”.

Paino: “Haha… mungkin kita ini aset yang lupa dicatat. Soalnya aset yang satu ini kerjanya cuma makan nasi sama garam, nggak pakai proposal.

Paimin tertawa hambar. “Dulu kalau pabrik butuh lembur, kita dipanggil patriot. Sekarang giliran ditutup, kita jadi angka kecil di catatan kaki.”

Paino: “Iya. Katanya gula nasional harus kuat, harus berdaulat. Tapi buruhnya disuruh puasa kedaulatan. Berdaulat menahan lapar.”

Paimin menatap tangannya yang kapalan. “Tanganku ini sudah hapal batang tebu, No. Tapi mungkin negara mikirnya tangan kayak gini bisa langsung berubah jadi tangan ahli strategi.”

Paino: “Atau disuruh jadi wirausaha. Modalnya apa? Pengalaman nunggu gajian telat?”

Mereka terdiam sebentar, lalu Paino terkekeh. “Lucunya, Min, kita disuruh sabar. Katanya perubahan butuh pengorbanan. Tapi kok yang selalu dikorbankan orang yang sama.”

Paimin: “Sabar itu kayak tebu, No. Diperas terus, manisnya diambil, ampasnya dibuang.”

Paino mengangguk pelan. “Kalau nanti pabrik ini jadi gedung baru, aku pengin datang cuma buat lihat. Biar bisa bilang ke anakku: ‘Dulu bapak ikut bikin tempat ini berdiri, walau akhirnya bapak disuruh berdiri di luar.’”

Paimin tersenyum pahit. “Ya sudahlah, No. Kita ini buruh tebang. Kalau bukan tebu yang tumbang, ya harapan kita.”

Angin berdesir. Tebu bergoyang. Dan satire hidup mereka tetap berdiri, tanpa perlu panggung.

Pencabutan hak guna usaha atas puluhan ribu hektare lahan perkebunan tebu serta fasilitas pabrik gula yang selama puluhan tahun menjadi sumber penghidupan masyarakat di Lampung merupakan sebuah tipping point dalam relasi antara negara, korporasi, dan warga pekerja.

Keputusan mengembalikan lahan tersebut ke pengelolaan negara melalui institusi pertahanan bukan semata persoalan administratif agraria atau hukum semata; ia juga membuka pertanyaan mendasar soal bagaimana nilai-nilai kemanusiaan diintegrasikan dalam kebijakan redistribusi aset negara.

Dari perspektif humanisme kontemporer; yang menempatkan martabat dan kesejahteraan manusia sebagai pusat telaah, keputusan ini harus dibaca tidak hanya melalui lensa legalitas kepemilikan lahan, tetapi juga dampaknya terhadap puluhan ribu pekerja dan komunitas lokal yang bergantung pada operasi perusahaan gula itu untuk penghidupan.

Sebuah perusahaan besar tidak hanya berarti sebidang tanah dan mesin; ia mengandung kehidupan sosial-ekonomi yang terjalin melalui pekerjaan, keterampilan, industri lokal, sampai jaringan pasokan dan konsumsi.

Ketika hak guna usaha dicabut, terlebih dalam skala sangat luas, ancaman terhadap mata pencaharian pekerja bukan sekadar potensi: ia menjadi realitas yang harus dijawab secara serius.

Humanisme kontemporer menuntut kita melihat warga pekerja bukan sebagai angka statistik atau biaya produksi yang bisa dihilangkan dari neraca, tetapi sebagai individu yang memiliki hak atas rencana hidup yang aman, stabil, dan bermartabat.

Ketika ketidakpastian menggantung,“masih bisa bekerja atau tidak?” menjadi pertanyaan harian bagi banyak pekerja; ketidakpastian itu sendiri menjadi sumber trauma psikologis, tekanan sosial, dan kemungkinan pemburukan kondisi kesehatan mental serta fisik keluarga mereka.

Dalam konteks yang lebih luas, kerja memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar menghasilkan uang. Pekerjaan memberikan struktur bagi kehidupan, rasa harga diri dan kontribusi sosial. Kehilangan akses terhadap pekerjaan yang stabil berarti kehilangan akses terhadap makna sosial dan rasa keterhubungan komunitas.

Ketika masyarakat daerah menggantungkan ekonomi lokal pada industri utama seperti pabrik gula, keputusan untuk mencabut operasional itu tanpa strategi transisi yang adil berpotensi memperbesar jurang ketimpangan dan mengikis jaringan sosial yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Humanisme kontemporer juga menekankan perlunya kebertanggungjawaban negara dalam transisi sosial-ekonomi.

Negara sebagai pemegang kedaulatan tertinggi memiliki kewajiban moral, selain legal; untuk memastikan bahwa perubahan kebijakan yang berdampak luas tidak menambah beban pada kelompok paling rentan.

Artinya, pencabutan HGU dan ambil alih lahan negara semestinya tidak berhenti pada sekadar pengembalian aset negara, tetapi juga harus diikuti dengan langkah konkret yang menjamin bahwa pekerja dan keluarga mereka tidak menjadi korban dari proses redistribusi itu sendiri.

Ini termasuk pemberdayaan ekonomi, program pelatihan ulang keterampilan, kompensasi yang adil, jaminan sosial sementara, serta akses ke peluang kerja lain, termasuk dalam proyek baru yang mungkin dijalankan di bawah manajemen negara.

Selain itu, dalam kajian humanisme, penting untuk mempertimbangkan aspirasi kolektif masyarakat lokal, yang bisa saja berbeda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Pemerintah dan para pembuat kebijakan perlu membuka ruang dialog yang memadai dengan komunitas pekerja, serikat pekerja, dan warga desa sekitar lahan; tidak hanya pada level teknis hukum tetapi juga pada level keseharian hidup mereka.

Tanpa dialog inklusif, kebijakan apa pun berisiko dipersepsikan sebagai paksaan top-down yang mengabaikan realitas kehidupan warga, sehingga memperlemah legitimasi sosial kebijakan itu sendiri.

Di sisi lain, dari sudut pandang etika ekonomi, redistribusi lahan yang bertujuan memperbaiki kesalahan penerbitan HGU harus dirancang dengan prinsip keadilan distributif.

Jika lahan itu memang secara hukum milik negara, dan penguasaan sebelumnya merupakan sebuah kekeliruan atau pelanggaran, maka negara berhak mengambil langkah korektif. Namun, koreksi ini harus dilakukan sambil menjaga keberlangsungan mata pencaharian mereka yang terdampak.

Ide humanisme kontemporer berfungsi sebagai pengingat bahwa keadilan tidak cukup hanya ditegakkan dalam tataran hukum, tetapi juga dalam tataran kehidupan nyata warga yang bergantung pada struktur ekonomi yang sedang dipermasalahkan.

Singkatnya, dalam kaca mata humanisme kontemporer, nasib pekerja dan komunitas lokal harus menjadi pusat evaluasi kebijakan, bukan sekadar legalitas lahan atau efisiensi administratif.

Transformasi ini menuntut sebuah pendekatan yang menghormati martabat manusia, menyediakan jaminan sosial dan peluang masa depan, serta membangun dialog yang tulus antara negara dan masyarakat yang terkena dampak.

Tanpa itu, keputusan besar di lapangan bisa berubah dari gula yang memaniskan kehidupan menjadi empedu yang pahit dinikmati oleh mereka yang paling rentan, dan ironisnya ini yang paling bawah dan paling banyak. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR