Pertemuan Yang Tak Pernah Selesai

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Pesantren satu ini agak berbeda dari yang lain. Biasanya pesantren didirikan di lereng gunung, atau perbukitan yang agak jauh dari pemukiman, tetapi pesantren ini justru dibangun di tepi laut lepas, tempatnya ada di derah yang cukup tinggi, sehingga seakan-akan menjadi pagar laut. Pemandangannya sangat indah di senja hari, dan sangat menakjubkan di pagi hari. Sore itu selepas ashar ada percakapan kecil antara Kiai dengan seorang Santri, di beranda yang ditingkahi hembusan angin laut sepoi-sepoi, dan diselingi deburan ombak; ringkas percakapan itu sebagai berikut:

“Guru,” kata seorang santri muda tadi, ketika langit mulai merunduk dan laut di kejauhan tampak seperti halaman kitab yang belum selesai dibaca. “Mengapa cakrawala selalu terlihat seperti tempat pertemuan yang kita tak akan pernah bisa gapai?”
Sang kiai menatap ke arah horison yang memudar, seakan sedang membaca sesuatu yang tak tertulis. “Karena ada hal-hal tertentu, Nak, yang diciptakan bukan untuk digapai, tetapi untuk dihayati. Cakrawala itu seperti janji yang tidak pernah selesai diucapkan.”
“Akan tetapi mengapa ia terasa begitu dekat sekaligus jauh, Guru?” tanya sang santri, suaranya ragu, seakan takut mengganggu kesunyian yang turun perlahan bersama angin dari laut. Kiai tersenyum tipis. “Begitulah hidup. Kita sering berdiri di antara dua dunia: yang kita pahami dan yang tak pernah benar-benar kita mengerti. Langit dan laut tampak bersentuhan, padahal mereka tidak. Namun manusia merasa damai saat melihatnya, seolah ada kesepakatan diam antara ketakterhinggaan di atas dan kedalaman di bawah.”

Santri itu mengangguk pelan, namun matanya masih terpaku pada garis semu yang kini hampir hilang. “Jadi, apa yang sebenarnya kita cari di sana, Guru?”. “Kita mencari diri kita sendiri,” jawab sang Kiai lirih, “Di tempat yang hanya bisa kita kunjungi lewat perenungan.”
Santri menundukkan kepala dalam-dalam seraya berkata; “Guru, jika berkenan, saya ingin sekali mendengar tausiyah tentang ini semua dari Guru, maaf Guru atas kelancangan saya”. Kiai tersenyum tipis seraya berkata “Baiklah muridku”:

Garis cakrawala yang tampak tegas itu sesungguhnya hanyalah ilusi: perbatasan yang diciptakan oleh jarak, oleh persepsi, oleh keinginan kita untuk menamai segala yang bergerak dan berubah. Namun justru pada ilusi itulah sering tersimpan kebenaran yang paling melankolis; bahwa segala yang kita kira pasti, sesungguhnya rapuh; bahwa segala yang tampak menyatu, sebenarnya hanya saling mendekat tanpa pernah benar-benar bersentuhan.
Di tempat inilah manusia sering membiarkan pikirannya berkelana. Memandang laut berarti memandang kedalaman yang tidak memiliki pusat; memandang langit berarti memandang keluasan yang tidak memiliki batas. Ketika keduanya tampak saling menyapa, kita sebenarnya sedang menyaksikan dialog antara dua ketakterhinggaan. Dan di tengah dialog itu, manusia berdiri sebagai saksi yang rapuh, yang keberadaannya hanya sekejap dibandingkan dengan rentang waktu yang dilalui ombak.

Ada keheningan tertentu yang hanya dapat lahir di tepi laut saat senja. Keheningan yang bukan berarti tidak ada suara, melainkan suara yang membaur begitu halus hingga tidak dapat dipisahkan. Debur ombak yang teratur, angin yang membawa aroma asin, serta cahaya jingga yang perlahan memudar menjadi abu-abu; semuanya berubah menjadi komposisi yang menenangkan sekaligus mencemaskan. Seolah alam sedang berbicara, namun dalam bahasa yang terlalu tua untuk dapat dimengerti, terlalu luas untuk dapat ditangkap oleh kata-kata.

Dalam keheningan semacam itu, manusia sering merasa kecil. Bukan kecil dalam arti tidak penting, tetapi kecil seperti titik yang menyadari dirinya bukan pusat dari apa pun. Laut mengajarkan bahwa kedalaman tidak memerlukan penjelasan; langit mengajarkan bahwa keluasan tidak membutuhkan alasan untuk tetap terbuka. Dan manusia di antaranya belajar bahwa hidup tidak selalu menawarkan kepastian, melainkan kemungkinan-kemungkinan untuk hanyut, untuk tenggelam, untuk terbang, atau bahkan untuk tetap terdiam di batas antara keberanian dan ketakutan.

Cakrawala menjadi metafora bagi batas-batas batin yang terus bergerak. Seperti garis yang terlihat jelas tetapi tak pernah dapat digapai, banyak hal dalam hidup tetap berada di kejauhan meskipun kita menghabiskan seluruh energi untuk mendekatinya. Kita mengejar ketenangan, tetapi ia bergeser setiap kali kita merasa hampir menyentuhnya. Kita mencari makna, tetapi ia sering kali menampakkan diri justru ketika kita berhenti memaksanya hadir. Seperti langit dan laut yang tak pernah menyatu, manusia dan harapannya sering saling mendekat tanpa benar-benar bertemu.
Namun di sanalah letak keindahannya. Ketidakpastian melahirkan kerinduan; kerinduan melahirkan gerak; dan gerak adalah bukti bahwa kita masih hidup.

Ada kesedihan samar yang muncul dari kesadaran bahwa apa pun yang kita cintai pada akhirnya akan berubah. Tetapi justru karena itulah cinta dapat terasa begitu mendalam. Melihat langit berubah warna dan laut berubah suasana mengingatkan kita bahwa segala yang sementara memiliki tempat khusus di hati: bukan karena ia kekal, tetapi karena ia menghilang.

Ketika malam mulai turun, cakrawala menghilang, dan batas antara langit dan laut larut ke dalam kegelapan. Kita tidak lagi dapat membedakan mana yang di atas dan mana yang di bawah; mana yang melindungi dan mana yang menelan. Pada saat itu, manusia belajar bahwa kejelasan bukanlah satu-satunya bentuk kebenaran. Ada kebenaran yang justru hadir lewat ketidakjelasan kebenaran; bahwa hidup bukanlah peta yang sudah lengkap, melainkan perjalanan yang membiarkan kita tersesat untuk sesaat agar dapat menemukan arah yang lebih jujur.

Di tempat langit dan laut saling menyapa itulah manusia memahami dirinya: makhluk yang dibentuk oleh jarak, disatukan oleh kerinduan, dan dijaga oleh kesadaran bahwa segala yang paling berarti justru berasal dari hal-hal yang tidak dapat digenggam sepenuhnya. Dan dalam kesadaran itulah melankoli menemukan rumahnya; senyap, dalam, namun penuh cahaya yang perlahan menyelinap di antara gelombang. Dan, itulah sejatinya kehidupan, tidak ada yang abadi, yang ada hanya kesementaraan. “Semoga kau paham nak atas kefanaan ini, karena bisa jadi wajah semanis senja memberi luka sedalam samudra ” tutup Kiai dalam tauziahnya. Salam Waras (SJ)

Editor: Fadly KR

Nak Ngebangun Ngutang, Dak Senang Tendang

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

MEMBACA berita awal tahun 2026 pada media ini yang digawangi oleh Herman Batin Mangku (HBM) memunculkan banyak pertanyaan di kepala: Pemprov Lampung ingin ngutang Rp1 triliun buat bangun jalan dan Pemkot Bandarlampung lengserkan pejabat yang baru setahun definitif. What is it? Uji kito, ado apo Wak? 

Pertanyaan ini muncul di banyak benak masyarakat daerah ini. Menjelang tutup kantor di suatu lembaga resmi pemerintahan, dua pegawai begesah, yang ringkasannya sebagai berikut:

Ujang: “Eh, Din, kau denger dak kabar dari lantai atas kemaren?”

Udin: “Kabar apo lagi, Jang? Rasanyo tiap minggu ado bae yang bikin kening bekerut.”

Ujang: “Itu soal rencana proyek lanjutan. Katonyo danonyo dari utangan lagi.”

Udin: “Halah… utangan lagi, utangan lagi. Kito ni wong bawah cuma bisa ngitung sisa kertas di laci.”

Ujang: “Iyo nian. Di rapat kito disuruh setuju bae. Dak usah banyak tanyo.”

Udin: “Kalo ado yang nyinggung dikit soal risiko, langsung dipandang cak salah ngomong.”

Ujang: “Aku kemaren nyebut anggaran rutin makin cekak, langsung diajak pindah topik.”

Udin: “Itu tandonyo, Jang. Artinyo, ‘cukup tau bae, jangan mikir jauh’.”

Ujang: “Padahal kito ni yang tiap hari ngadep masyarakat. Kito tau betul keluhannyo.”

Udin: “Yo nia. Pelayanan dipercepat di kertas, tapi di lapangan serbo terbatas.”

Ujang: “Yang aku heran, baliho proyek besaaak nian, tapi ATK bae disuruh irit.”

Udin: “Hahaha, itulah seni bertahan. Yang penting kejingokan hebat.”

Ujang: “Tapi hutang itu dak ilang, Din. Siapo yang nanggung kagek?”

Udin: “Bukan dio lagi. Pengganti, rakyat, mungkin jugo anak cucu kito.”

Ujang: “Kadang aku ngeraso kito ni dak punyo suara.”

Udin: “Suara ado, tapi volumenyo dikecik ke.”

Ujang: “Sedih yo, Din. Negeri kito sebenernyo biso maju kalo mikirnyo panjang.”

Udin: “Iyo. Tapi selagi kito di sini, kito kerjo jujur bae. Biar hati tenang.”

Ujang:“Bener. Selebihnyo, waktu yang bakal jawab.”

Ungkapan nak mbangun ngutang, idak senang tendang kini makin sering terdengar saat obrolan warung kopi di pinggir sungai sampai ke ruang diskusi kampus. Kalimat ini bukan sekadar guyonan wong kito, tapi sudah jadi kritik sosial yang pedas nian.

Di zaman kini, banyak pemimpin di negeri ini yang pikirannya sempit, muter di situ-situ bae: bagaimana caronya mbangun cepat, tapi duitnyo idak dari keringat sendiri, melainkan dari utangan. Soal bayar belakangan, itu urusan wong lain, pengganti nanti.

Asal kini nampak megah, proyek berdiri, foto terpajang, urusan selesai. Model kepemimpinan cak ini sebenarnyo idak baru, tapi di kondisi kekinian, gejalonyo makin jelas. Di tengah ekonomi yang belum stabil, beban hidup masyarakat makin berat, pemimpin malah ringan tangan ngutang.

Alasannya klise: demi pembangunan, demi percepatan, demi kepentingan rakyat. Tapi rakyat jugo yang akhirnya nanggung akibatnyo. Utang itu bukan hilang, tapi diwariskan. Anak cucu wong kito nanti yang bakal nyicilnyo pelan-pelan, lewat pajak, lewat potongan, lewat pelayanan publik yang makin diketatkan.

Yang lebih miris, kalau ado pejabat atau pihak yang ngingetin soal risiko, soal kehati-hatian, malah dianggap pengganggu. Bukannya didengar, malah “ditendang”. Ditendang bukan selalu berarti fisik, tapi bisa dalam bentuk disingkirkan, dilabeli pembangkang, atau dibuat idak punyo ruang bersuara.

Budaya kritik jadi mati. Padahal dalam pemerintahan yang sehat, kritik itu vitamin, bukan racun. Tapi bagi pemimpin yang pikirannya sudah dikunci ambisi, kritik itu dianggap ancaman.

Di sudut pandang kekinian, kondisi ini bahayo nian. Dunia sekarang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Masyarakat sudah makin melek informasi. Media sosial jadi ruang terbuka, data bisa dicari, kebijakan bisa dipantau.

Tapi sayang, sebagian pemimpin masih pakai cara pikir lama: asal proyek jalan, asal laporan rapi, asal atasan senang. Rakyat dianggap penonton, bukan pemilik negeri.

Utang sebenarnyo idak haram. Dalam kondisi tertentu, utang bisa jadi alat bantu. Tapi masalahnyo, utang dijadikan jalan pintas, bukan pilihan terakhir. Idak ado upaya maksimal ngatur anggaran, ngurangin kebocoran, atau ningkatkan pendapatan daerah dengan cara kreatif.

Yang ado malah kebiasaan gali lubang tutup lubang. Tahun ini utang, tahun depan nambah lagi. Akhirnyo, ruang fiskal makin sempit, dan kebijakan publik jadi kaku.

Sikap “idak senang tendang” jugo nunjukkan mentalitas feodal yang belum lepas. Pemimpin merasa paling benar, paling tau, paling berkuasa. Padahal jabatan itu amanah, bukan singgasana. Dalam budaya wong Palembang, sejatinyo pemimpin itu “tue rumah”, yang tugasnyo ngemong, bukan ngusir tamu. Kalau ado yang ngingetin, harusnyo disambut, bukan ditolak.

Di zaman kini, tantangan pembangunan itu kompleks. Bukan cuma bangun gedung, jalan, atau jembatan. Tapi bangun kepercayaan, bangun kualitas hidup, bangun sistem yang adil. Semua itu idak bisa dicapai dengan utang doang, apolagi kalau utangnyo idak dikelola dengan jujur dan cerdas.

Pembangunan sejati itu mungkin idak selalu megah di mata, tapi terasa manfaatnyo di perut rakyat. Masyarakat jugo punyo peran. Jangan cuma ngeluh di belakang, tapi diam di depan. Kesadaran politik harus tumbuh. Pilihan hari ini menentukan beban esok hari.

Kalau terus milih pemimpin yang gemar ngutang dan anti kritik, jangan kaget kalau hidup makin sempit. Wong kito harus berani nuntut akal sehat, nuntut transparansi, nuntut keberanian berkata tidak pada kebijakan yang merugikan.

Ungkapan tadi akhirnya jadi cermin. “Nak mbangun ngutang, idak senang tendang” bukan sekadar sindiran, tapi peringatan. Kalau pola ini dibiarkan, negeri ini akan terus jalan di tempat, bahkan mundur. Sudah waktunyo cara pikir itu diubah.

Membangun jangan cuma mikir hari ini, tapi jugo mikir esok. Memimpin jangan cuma mau dipuji, tapi jugo siap dikritik. Kalau idak, sejarah akan mencatat, bukan sebagai pembangun, tapi sebagai pewaris masalah.

Editor: Fadly KR

SEBUAH DIALOG TENTANG CINTA DAN KEPULANGAN

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di dalam satu lingkaran jamaah tasauf, lampu-lampu temaram menyinari wajah-wajah yang tenang. Dzikir baru saja usai, menyisakan keheningan yang lembut. Dua orang sufi duduk berhadapan, sementara jamaah lain menyimak dalam diam.

“Saat dzikir tadi,” ujar salah seorang sufi perlahan, “aku merasakan seakan jarak antara hidup dan mati begitu tipis. Mengapa banyak orang tetap takut pada kematian?”. Sufi di hadapannya menarik napas dalam, seraya menjawab dengan suara lembut nyaris tak terdengar. “Karena mereka datang ke dunia ini dengan beban memiliki. Padahal hakekatnya tidak ada satupun yang benar-benar kita miliki.”

“Apakah karena itu sebabnya maka kematian terasa berat?” tanyanya lagi. “Benar,” jawabnya lembut. “Yang merasa berat adalah aku yang palsu. Jika hati telah terbiasa berserah, kematian justru terasa seperti salam pembuka.”

Semua jamaah menunduk, mendengarkan dengan khusyuk. “Panjenengan mengatakan salam,” lanjut sufi pertama. “Salam dari siapa kepada siapa?”. “Salam dari Yang Maha Dekat kepada hamba yang akhirnya sadar,” katanya. “Bukan nyawa yang dicabut, tetapi kesadaran yang dibangunkan.”

“Lalu apa fungsi hidup jika akhirnya kita kembali?” sergah pertanyaan lanjut. “Hidup adalah adab menunggu,” jawabnya. “Menata hati agar pantas bertemu. Dzikir, diam, dan khidmah hanyalah cara kita belajar mencintai tanpa menuntut.”

Sufi pertama tersenyum. “Maka kematian adalah pertemuan jamaah terakhir.”

“Ya,” balasnya pelan. “Pertemuan tanpa suara, tanpa tubuh, tanpa jarak. Hanya cinta yang saling mengenali.”

Keheningan kembali menyelimuti majelis. Dzikir pun dimulai lagi, kali ini dengan rasa rindu yang lebih jernih dan lebih dalam.

Pandangan tasawuf memandang kematian bukanlah peristiwa gelap yang memutuskan kehidupan, melainkan sebuah gerbang kesadaran yang membuka tabir hakikat. Ia tidak dipahami sebagai tercabutnya nyawa secara paksa, tetapi sebagai perjumpaan yang telah lama dinanti antara kekasih dan Yang Dikasihi. Selama hidup, manusia sering terikat pada bentuk-bentuk lahiriah: tubuh, harta, nama, dan waktu. Semua itu membangun ilusi keterpisahan, seakan-akan manusia berdiri sendiri dan jauh dari sumber keberadaannya. Tasawuf hadir untuk melunakkan ilusi tersebut, mengajak manusia menyadari bahwa hidup sejatinya adalah perjalanan pulang. “Di sini” kita hanya bermain.

Dalam perjalanan itu, cinta menjadi poros utama. Cinta bukan sekadar emosi, melainkan daya yang menggerakkan jiwa untuk mengenal asalnya. Setiap kerinduan, kegelisahan, dan pencarian makna yang muncul dalam batin manusia dapat dipahami sebagai getaran rindu kepada Yang Maha Ada. Hidup di dunia adalah kesempatan untuk memurnikan rindu itu, membersihkannya dari pamrih, ketakutan, dan keterikatan. Kematian, dalam sudut pandang ini, adalah saat ketika rindu yang terpelihara menemukan jawabannya. Bukan kehampaan yang menunggu, melainkan perjumpaan yang menenangkan.

Tasawuf memandang bahwa yang mati bukanlah hakikat manusia, melainkan tirai-tirai yang selama ini menutupinya. Tubuh hanyalah wadah sementara; ia datang dan pergi mengikuti hukum alam. Adapun ruh adalah amanah yang berasal dari sumber yang abadi. Ketika kematian tiba, yang terjadi bukanlah pemusnahan, tetapi pemulangan. Seperti setetes air yang kembali ke lautan, ia tidak lenyap, justru menemukan keluasan yang selama ini hanya diimpikan. Rasa takut terhadap kematian sering muncul karena manusia mengira dirinya adalah tubuh dan sejarahnya. Ketika identitas itu dilepas, yang tersisa adalah kesadaran murni yang telah lama dipanggil.

Dalam latihan batin tasawuf, manusia diajak untuk “mati sebelum mati”, yakni mematikan ego yang merasa memiliki dan menguasai. Ego inilah yang takut kehilangan, karena ia hidup dari klaim dan pembatasan. Selama ego berkuasa, kematian tampak seperti musuh. Namun ketika ego dilunakkan melalui keikhlasan, kesabaran, dan kehadiran hati, kematian berubah wajah menjadi sahabat. Ia tidak lagi datang sebagai perampas, tetapi sebagai penyingkap. Apa yang tersingkap adalah kedekatan yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan dunia.

Perjumpaan antara kekasih dan Yang Dikasihi tidak selalu menunggu akhir hayat. Dalam tasawuf, perjumpaan itu bisa dirasakan sebagai isyarat-isyarat halus dalam hidup: ketenangan yang tiba tanpa sebab, syukur yang meluap di tengah kekurangan, atau rasa cukup yang mengalahkan ambisi. Semua itu adalah kilasan perjumpaan, latihan kecil menuju pertemuan besar. Kematian kemudian dipahami sebagai puncak dari rangkaian perjumpaan tersebut, ketika jarak yang semu benar-benar sirna.

Dengan sudut pandang ini, kematian tidak mematikan harapan, justru menegaskannya. Hidup tidak diakhiri oleh kematian; hidup menemukan maknanya melalui kematian. Setiap napas menjadi berharga karena ia adalah langkah menuju kedekatan. Setiap amal menjadi bermakna karena ia adalah bahasa cinta. Bukan ketakutan yang memimpin langkah, melainkan kerinduan yang terdidik. Manusia yang memaknai hidup seperti ini tidak tergesa-gesa menolak dunia, tetapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Dunia dijalani sebagai ladang persiapan, bukan tujuan akhir.

Tasawuf mengajarkan bahwa Yang Dikasihi selalu lebih dekat daripada sang kekasih menyadari. Kematian hanyalah saat kesadaran itu mencapai kepenuhannya. Maka, berbicara tentang kematian bukanlah mengajak pada keputusasaan, melainkan pada keberanian untuk hidup dengan jujur dan penuh makna. Ketika cinta menjadi dasar hidup, kematian tidak lagi menakutkan. Ia menjadi undangan lembut untuk pulang, tempat segala rindu beristirahat, dan segala pencarian menemukan jawaban. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Kebahagiaan Sebagai Jejak Kemanusiaan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Senja turun perlahan di halaman posko relawan. Beberapa kardus bantuan masih tersisa. Rani duduk di tangga, mengelap keringat, sementara Bima menyeduh teh hangat dari termos.
“Capek?” tanya Bima sambil menyerahkan gelas.
“Lumayan,” jawab Rani sambil tersenyum. “Tapi entah kenapa rasanya ringan.”
Bima mengangguk. “Aku juga sering begitu. Badan lelah, tapi kepala tenang.”
Rani memandang anak-anak yang masih bermain di kejauhan. “Tadi aku lihat Ibu itu. Yang rumahnya roboh. Dia senyum waktu terima selimut.”
“Ya,” kata Bima pelan. “Senang sekali melihatnya. Padahal yang kita beri sederhana.”
“Kadang aku bertanya,” lanjut Rani, “kenapa hal kecil bisa berarti besar buat mereka.”
“Karena mereka merasa tidak sendirian,” jawab Bima. “Dan mungkin itu juga yang kita rasakan.”
Rani terdiam sejenak. “Aku dulu sering mikir, kapan ya aku bisa benar-benar bahagia.”
“Sekarang gimana?” tanya Bima.
Rani tersenyum, menatap gelas tehnya. “Sekarang aku jarang mikir begitu. Aku lebih sering mikir, besok bisa bantu apa lagi.”
Bima tertawa kecil. “Lucu ya. Kita datang ke sini niat membantu, tapi malah pulang membawa sesuatu.”
“Apa?” tanya Rani.
“Rasa cukup,” jawab Bima mantap. “Bukan karena hidup kita sempurna, tapi karena hari ini kita berguna.”
Angin berembus pelan. Suara tawa anak-anak terdengar lagi.
Rani berdiri. “Ayo bereskan sisa kardus itu.”
Bima ikut bangkit. “Ayo. Masih ada waktu sebelum gelap.”
Mereka berjalan bersama, tanpa banyak kata, tapi dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Gagasan bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa sering kita menanyai diri sendiri “apakah aku bahagia”, melainkan dari seberapa banyak orang yang telah kita bahagiakan, mengajak manusia keluar dari pusat egonya. Dalam pandangan filsafat manusia, kebahagiaan bukan sekadar keadaan batin yang privat, melainkan peristiwa relasional: ia lahir, tumbuh, dan bermakna di antara manusia. Manusia tidak hidup sebagai pulau yang terpisah; ia hadir dalam jejaring relasi yang saling memengaruhi. Karena itu, menimbang kebahagiaan dari dampak kebaikan yang kita tebarkan menjadi cara yang lebih jujur untuk memahami makna hidup.

Pertanyaan “apakah aku bahagia” sering terjebak dalam perhitungan subjektif yang rapuh. Ia bergantung pada suasana hati, pencapaian sesaat, atau perbandingan sosial. Ketika kebahagiaan dikejar sebagai tujuan langsung, ia mudah menguap. Filsafat manusia melihat bahwa hasrat yang berpusat pada diri sendiri cenderung tidak pernah selesai; selalu ada kekurangan baru yang menuntut pemenuhan. Dalam lingkaran ini, kebahagiaan menjadi objek yang dikejar, bukan buah yang tumbuh. Akibatnya, manusia menjadi letih oleh tuntutan untuk merasa cukup, padahal standar “cukup” terus bergeser.
Sebaliknya, ketika fokus berpindah pada pertanyaan “siapa yang telah kubahagiakan”, orientasi hidup berubah. Manusia menyadari dirinya sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas kehadirannya di dunia orang lain.

Tindakan kecil seperti; mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memberi waktu, menepati janji, atau menolong tanpa pamrih, menjadi begitu bermakna. Kebahagiaan muncul sebagai efek samping dari tindakan bermakna, bukan sebagai target yang dipaksa. Dalam perspektif ini, kebahagiaan bersifat emergen: ia hadir ketika makna hadir.
Relasi dengan sesama menyingkapkan dimensi etis dari kebahagiaan. Kebahagiaan tidak netral; ia terikat pada pilihan-pilihan yang menghormati martabat manusia lain. Ketika seseorang membahagiakan orang lain, ia mengakui nilai intrinsik sesama sebagai tujuan, bukan alat. Pengakuan ini membangun rasa keterhubungan yang mendalam. Manusia merasakan dirinya berguna, dibutuhkan, dan berarti. Rasa berarti inilah yang menjadi fondasi kebahagiaan yang tahan lama, karena ia tidak bergantung pada pujian atau hasil instan.

Lebih jauh, kebahagiaan yang lahir dari membahagiakan orang lain membentuk karakter. Ia melatih empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Empati membuka kemampuan memahami penderitaan dan harapan orang lain; kesabaran menahan dorongan ego; kerendahan hati mengingatkan bahwa kebaikan tidak selalu harus terlihat. Dalam pembentukan karakter ini, manusia tidak hanya “merasa bahagia”, tetapi “menjadi” pribadi yang lebih utuh. Filsafat manusia memandang keutuhan sebagai keselarasan antara niat, tindakan, dan relasi. Di sinilah kebahagiaan menemukan rumahnya.

Namun, membahagiakan orang lain bukan berarti mengabaikan diri sendiri. Ada keseimbangan yang perlu dijaga agar kebaikan tidak berubah menjadi pengorbanan yang merusak. Filsafat manusia menekankan tanggung jawab ganda: terhadap sesama dan terhadap diri. Merawat diri memungkinkan seseorang memberi dengan tulus, bukan dari kekosongan. Dengan demikian, membahagiakan orang lain dan merawat diri bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menguatkan.

Dalam kehidupan sosial yang sering mendorong kompetisi dan pencitraan, ukuran kebahagiaan yang berorientasi pada dampak kebaikan menawarkan jalan alternatif. Ia membebaskan manusia dari tirani perbandingan dan angka-angka yang menilai diri. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki atau dirasakan semata, tetapi dari jejak kemanusiaan yang ditinggalkan. Jejak ini mungkin tidak selalu terlihat, tetapi terasa dalam hubungan yang lebih hangat dan kepercayaan yang tumbuh.

Akhirnya, kebahagiaan sebagai hasil dari membahagiakan orang lain mengembalikan manusia pada makna hidup yang sederhana namun dalam. Hidup menjadi ruang untuk berkontribusi, bukan panggung untuk pembuktian diri. Ketika seseorang berhenti bertanya apakah ia bahagia dan mulai bertanya siapa yang telah ia bahagiakan, ia menemukan paradoks yang indah: kebahagiaan justru datang ketika ia tidak lagi mengejarnya, melainkan menghidupinya melalui kebaikan yang nyata. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

TAHUN BARU ITU PUNYA SIAPA ?

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di suatu perempatan jalan dua orang sedang berbicara; “Bang, hari sudah ganti tahun lagi,” kata pengamen itu sambil menggesek senar gitarnya pelan, suaranya kalah oleh bising kendaraan. Pengemis tua di sebelahnya tersenyum tipis seraya menjawab: “Iya, tapi perut kita tetap sama. Lapar tak kenal kalender.”

Pengamen berhenti bermain dan berkata. “Orang-orang bilang tahun baru itu awal yang baik. Abang percaya?”. “Percaya atau tidak, kaki ini tetap melangkah ke sini tiap pagi,” jawab si pengemis sekenanya, sambil mengangkat kaleng receh. “Kalau aku libur, siapa yang akan kasih makan?”

Pengamen tertawa kecil, pahit. “Tadi malam aku main di perempatan sana. Kembang api ramai sekali. Tapi tak satu pun pengunjunga singgah mendengar lagu ku.”

“Mereka sibuk merayakan hidupnya,” sahut pengemis. “Kita cuma latar belakang. Kayak bangunan tua di foto pesta.” Pengamen menunduk. “Kadang aku iri. Mereka hitung detik menuju tahun baru, aku hitung receh buat beli nasi kucing.”

“Jangan iri,” kata pengemis pelan. “Iri itu mewah. Kita cukup bertahan.”

“Abang tidak capek?” tanya pengamen. “Capek itu pasti,” jawabnya. “Tapi berhenti lebih menakutkan. Berhenti berarti tak ada cerita besok.”

Pengamen kembali memetik gitar. Nadanya sendu. “Kalau suatu hari keadaan berubah, abang mau apa?”. Pengemis menatap jalan. “Aku mau duduk tanpa harus minta. Minum kopi tanpa dihitung receh.” Pengamen tersenyum tipis. “Aku mau main lagu tanpa dikejar satpam.”

Mereka terdiam sejenak.

“Tahun baru itu punya siapa, Bang?” tanya pengamen. Pengemis menghela napas. “Mungkin punya mereka yang punya pilihan. Kita cuma punya hari ini.”. Lampu merah menyala. Mereka kembali pada peran masing-masing, menunggu belas kasih yang tak pernah dijanjikan

Tahun baru itu punya siapa? Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan sosial yang dalam. Setiap pergantian kalender dirayakan dengan kembang api, pesta, dan resolusi penuh harapan. Namun di balik sorak sorai itu, ada kenyataan yang berjalan tanpa jeda: orang-orang miskin tetap mengais di jalanan, pengemis masih mengulurkan tangan dengan tatapan lelah, dan mereka yang hidup di pinggiran moral maupun ekonomi terus bertarung demi sekadar seporsi nasi. Tahun baru datang sebagai simbol, tetapi tidak selalu sebagai perubahan.

Dalam lanskap kota-kota hari ini, kontras sosial semakin nyata. Di satu sisi, pusat perbelanjaan penuh diskon dan perayaan. Di sisi lain, trotoar tetap menjadi ruang hidup bagi mereka yang tidak punya pilihan lain. Pergantian tahun tidak otomatis mengubah struktur ketimpangan yang sudah lama mengakar. Kemiskinan bukan sekadar soal kurangnya uang, melainkan hasil dari sistem yang menormalisasi ketidakadilan. Ketika lapangan kerja menyempit, harga kebutuhan pokok naik, dan akses pendidikan tetap timpang, maka tahun baru hanya menjadi angka baru bagi mereka yang hidup dari hari ke hari.

Fenomena ini diperparah oleh cara masyarakat memaknai keberhasilan dan kegagalan. Narasi populer sering menempatkan kemiskinan sebagai akibat dari kurangnya usaha individu. Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa tidak semua orang memulai dari garis yang sama. Ada yang sejak lahir sudah berada dalam lingkaran keterbatasan, dengan pilihan yang sempit dan risiko yang besar. Dalam konteks ini, menyalahkan korban justru menjadi cara paling mudah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab kolektif.

Sementara itu, ruang-ruang kekuasaan kerap jauh dari denyut kehidupan rakyat kebanyakan. Ketika kekuasaan dijalankan tanpa empati, kebijakan publik kehilangan rohnya. Korupsi dan penyalahgunaan wewenang bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap harapan banyak orang. Setiap sumber daya yang diselewengkan berarti kesempatan yang hilang bagi mereka yang paling membutuhkan: layanan kesehatan yang lebih baik, pendidikan yang terjangkau, dan perlindungan sosial yang manusiawi. Dalam situasi seperti ini, tahun baru justru terasa ironis, dirayakan oleh mereka yang diuntungkan, tetapi menjadi beban bagi mereka yang terus dirugikan.

Di sisi lain, ada kelompok yang hidup di wilayah abu-abu moral karena tekanan ekonomi dan sosial. Pilihan hidup yang keras sering kali lahir dari keadaan yang keras pula. Menghakimi tanpa memahami konteks hanya memperpanjang jarak antara “kita” dan “mereka”. Pendekatan yang lebih manusiawi menuntut keberanian untuk melihat akar masalah: kemiskinan struktural, kekerasan, ketidaksetaraan gender, dan minimnya perlindungan sosial. Tanpa itu, solusi yang ditawarkan hanya akan bersifat sementara dan kosmetik.

Kajian kontemporer tentang kota dan kemiskinan menunjukkan bahwa ruang publik semakin eksklusif. Kota dibangun untuk konsumsi, bukan untuk keberlanjutan hidup semua warganya. Mereka yang tidak sesuai dengan citra “ideal” sering didorong ke pinggiran, baik itu secara fisik maupun simbolik. Tahun baru dalam konteks ini menjadi panggung besar yang menutupi retakan di bawahnya. Kita diajak merayakan optimisme, tetapi jarang diajak membongkar ketidakadilan yang membuat optimisme itu tidak merata.

Namun, pertanyaan “Tahun Baru Itu Punya Siapa?” tidak harus berakhir pada keputusasaan. Ia bisa menjadi undangan untuk refleksi dan tindakan. Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk meninjau ulang prioritas bersama: apakah pertumbuhan ekonomi benar-benar menyentuh yang paling rentan, apakah kebijakan publik dirancang dengan mendengar suara mereka yang terdampak, dan apakah solidaritas sosial masih menjadi nilai yang hidup, bukan sekadar slogan.

Perubahan memang tidak terjadi dalam semalam, dan tidak selalu terlihat spektakuler seperti kembang api. Ia sering lahir dari kerja sunyi: kebijakan yang adil, pengawasan yang konsisten, partisipasi warga, dan empati yang dipraktikkan dalam keseharian. Tahun baru akan benar-benar bermakna ketika ia tidak hanya dirayakan oleh sebagian orang, tetapi dirasakan sebagai harapan nyata oleh mereka yang selama ini tertinggal.

Pada akhirnya, tahun baru adalah cermin yang memantulkan siapa kita sebagai masyarakat. Jika cermin itu menunjukkan ketimpangan, ketidakpedulian, dan keserakahan, maka tugas kita bukan memecah cermin, melainkan memperbaiki wajah yang terpantul di dalamnya.

Selamat Tahun Baru Kawan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Cerita Yang Tidak Bisa Diceritakan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Santri itu duduk bersila di serambi pesantren, menatap halaman yang mulai lengang menjelang magrib. Ia memecah keheningan dengan suara pelan, seolah takut pertanyaannya akan mengusik ketenangan Kiainya. “Yai,” katanya, “kalau hidup ini disebut perjalanan, sebenarnya kita sedang berjalan ke mana?”

Kiai tersenyum tipis, menutup kitab yang sejak tadi dibacanya, sambil menghela nafas seraya berkata. “Pertanyaanmu sederhana, tapi jalannya panjang,” jawabnya. “Menurutmu sendiri, ke mana?”. Santri terdiam sejenak. “Saya merasa berjalan setiap hari. Belajar, menghafal, berbuat salah, lalu mencoba lagi. Tapi kadang saya tidak tahu apa arah semua itu. Rasanya seperti berjalan tanpa peta.”

Kiai mengangguk pelan. “Itu tanda kamu sadar sedang berjalan. Banyak orang melangkah tanpa pernah bertanya.” “Lalu,” lanjut santri, “apakah perjalanan ini punya akhir yang jelas?”. Kiai memandang langit yang mulai berubah warna. “Punya. Semua perjalanan manusia berakhir pada satu tempat yang sama.”

Santri menunduk. “Kematian?” …“Iya,” jawab kiai singkat tapi penuh makna. “Tapi jangan buru-buru menganggapnya sebagai penutup.”. Santri mengernyitkan keningnya dan berkata: “Bagaimana mungkin akhir bukan penutup?”

“Kematian adalah batas cerita,” kata kiai tenang, “bukan batas makna. Justru karena ada batas itulah setiap langkahmu sekarang menjadi berarti.”. Santri menarik napas dalam. “Kalau begitu, mengapa banyak bagian hidup terasa tidak bisa diceritakan, Yai?”. Kiai tersenyum lebih dalam seraya menukas. “Karena tidak semua perjalanan ditujukan untuk diceritakan. Ada yang hanya perlu dijalani. Diam-diam membentukmu, tanpa perlu kata.”

Santri terdiam. Di antara suara adzan yang mulai terdengar, ia merasa perjalanannya baru saja dimulai. Setiap perjalanan adalah cerita, tetapi tidak semua perjalanan bisa diceritakan. Dalam kehidupan manusia, gagasan ini menemukan bentuk paling mendalam ketika perjalanan dipahami sebagai gerak eksistensial menuju kematian. Sejak kelahiran, manusia tidak sekadar hadir di dunia, melainkan langsung ditempatkan dalam lintasan waktu yang bergerak satu arah. Hidup bukan keadaan statis, tetapi proses terus-menerus menuju suatu akhir yang pasti namun tak pernah sepenuhnya dipahami. Di sinilah perjalanan manusia memperoleh bobot filosofisnya: ia selalu bermakna, tetapi tidak pernah sepenuhnya dapat diungkapkan.

Dalam filsafat manusia, hidup dipahami sebagai proses menjadi. Manusia tidak pernah selesai; ia senantiasa berada “di antara”, bergerak dari apa yang telah terjadi menuju apa yang belum diketahui. Kesadaran akan kematian memberi arah pada proses ini. Tanpa batas akhir, perjalanan hidup akan kehilangan ketegangan dan urgensinya. Justru karena hidup terbatas, setiap pilihan menjadi signifikan. Setiap keputusan kecil ikut membentuk cerita tentang siapa seseorang sedang dan telah menjadi. Dengan demikian, setiap perjalanan manusia memang merupakan cerita, karena ia menyusun identitas melalui waktu.

Namun, perjalanan menuju kematian juga memperlihatkan keterbatasan manusia dalam membangun narasi tentang dirinya sendiri. Tidak semua pengalaman dapat diterjemahkan ke dalam bahasa. Ada kecemasan yang hadir tanpa bentuk, ada kesadaran akan kefanaan yang muncul sebagai rasa, bukan sebagai pikiran yang terumuskan. Ada pula penerimaan yang tumbuh perlahan, tanpa momen dramatis yang layak diceritakan. Di sinilah batas bahasa menjadi jelas. Cerita membutuhkan struktur, awal dan akhir, sebab dan akibat, sementara pengalaman batin sering kali bersifat kabur, tumpang tindih, dan tidak linear.

Perjalanan menuju kematian juga mengungkap hubungan manusia dengan waktu. Waktu tidak hanya dialami sebagai aliran peristiwa, tetapi sebagai keterbatasan. Setiap “sekarang” segera menjadi masa lalu, dan masa depan selalu berkurang. Kesadaran ini membuat manusia mampu mengambil jarak dari hidupnya sendiri, menilai kembali pilihan-pilihan yang telah diambil. Namun, penilaian ini tidak selalu menghasilkan cerita yang rapi. Banyak bagian hidup yang terasa gagal, terputus, atau tidak selaras dengan harapan awal. Bagian-bagian inilah yang sering tidak diceritakan, tetapi justru membentuk inti perjalanan batin seseorang.

Cerita tentang hidup cenderung disusun secara retrospektif. Manusia menoleh ke belakang dan mencoba merapikan pengalaman agar tampak masuk akal. Namun, perjalanan hidup yang sesungguhnya dijalani jarang serapi itu. Ia dipenuhi keraguan, pengulangan kesalahan, dan perubahan arah yang tidak direncanakan. Untuk dapat diceritakan, perjalanan harus disederhanakan. Akibatnya, banyak lapisan pengalaman hilang dalam proses penceritaan. Yang tersisa adalah versi hidup, bukan hidup itu sendiri.

Pada akhirnya, kematian adalah tujuan yang tidak dapat diceritakan dari dalam. Tidak ada subjek yang kembali untuk mengisahkan apa yang terjadi setelah akhir. Karena itu, seluruh makna perjalanan manusia terkonsentrasi pada kehidupan sebelum titik tersebut. Filsafat manusia memandang hal ini bukan sebagai kekurangan, melainkan sebagai panggilan untuk hidup secara sadar. Jika tidak semua perjalanan bisa diceritakan, maka tidak semua makna harus diungkapkan. Sebagian makna cukup dijalani, dirasakan, dan dihayati dalam keheningan.

Dengan demikian, perjalanan manusia menuju kematiannya adalah cerita yang terus berlangsung tanpa pernah sepenuhnya selesai. Ia ditulis melalui pilihan-pilihan kecil, melalui kesadaran akan batas, dan melalui diam yang tak terkatakan. Dalam keterbatasan waktu dan bahasa, manusia menemukan kedalaman keberadaannya. Perjalanan hidup memperoleh maknanya bukan karena dapat diceritakan secara utuh, melainkan karena ia sungguh-sungguh dijalani hingga akhir, dalam kesadaran bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari cerita yang tidak pernah sepenuhnya dapat diucapkan. Benar ungkapan lama yang mengatakan “manakala kita masih mampu menceritakan kematian maka sesungguhnya kita belum mati”. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Hanyut Dalam Lantunan Doa Subuh

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Subuh baru saja berlalu; ketika santri dan kiai itu duduk bersila di serambi. Udara dingin menyisakan sisa kantuk, tetapi juga menghadirkan ketenangan yang jarang ia temui di waktu lain. keheningan itu dipecahkan dengan pertanyaan santri kepada kiai;
Santri: “Kiai, mengapa doa subuh selalu terasa berbeda, meski lafaznya tak banyak berubah?”
Kiai: “Karena subuh datang saat manusia belum sibuk menjadi apa-apa. Di waktu itu, kamu masih menjadi dirimu sendiri”.

Santri terdiam. Ia menyadari betapa seringnya ia menjalani hari dengan topeng peran dan tuntutan. Sejurus kemudian Santri menyergah: “Namun saya sering merasa berat bangun. Kadang hadir, tapi hati tertinggal”.
Kiai menjawab: “Subuh tidak menuntut hati yang sempurna. Ia hanya meminta kejujuran. Datang apa adanya sudah cukup”.

Bagi santri, kalimat itu terasa melegakan. Ia terbiasa mengukur ibadah dari rasa, bukan dari kesediaan. Dan santri berkata:
Santri: “Di zaman sekarang, pikiran selalu berlari. Bahkan setelah doa, rencana sudah memenuhi kepala”.
Kiai menjawab sambil tersenyum tipis: “Maka subuh hadir untuk memberi arah. Bukan menghentikan pikiranmu, tapi mengingatkan ke mana ia seharusnya melangkah”.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, seolah menguatkan kata-kata yang baru saja diucapkan.
Santri: “Apakah hanyut dalam doa berarti menyerah pada keadaan?”
Kiai: “Bukan menyerah, tapi mempercayakan. Kamu tetap berjalan, hanya saja tidak sendirian”.
Santri: “ Bagaimana jika subuh terasa biasa saja?”
Kiai menimpali: “Biasa tidak berarti sia-sia. Konsistensi sering lebih bernilai daripada merasa diri istimewa”.

Santri mengangguk pelan. Ia mulai memahami bahwa subuh bukan soal pengalaman luar biasa, melainkan ruang untuk kembali menata diri sebelum dunia menuntut segalanya.
Hanyut dalam lantunan doa subuh adalah pengalaman yang kian langka di tengah dunia kontemporer yang bergerak cepat. Saat layar ponsel menyala lebih awal dari matahari, dan notifikasi berlomba merebut perhatian, subuh hadir sebagai jeda yang sunyi namun bermakna. Ia bukan sekadar penanda waktu ibadah, melainkan ruang batin tempat manusia bernegosiasi dengan dirinya sendiri; antara kebutuhan untuk bergerak dan kerinduan untuk diam, antara tuntutan produktivitas dan panggilan keheningan.

Dalam konteks masa kini, subuh sering dipersepsikan sebagai tantangan. Ritme hidup urban membuat waktu tidur tergerus, sehingga bangun di sepertiga akhir malam terasa berat. Namun justru di titik inilah nilai subuh menjadi kontras dan relevan. Lantunan doa subuh, yang pelan dan berulang, menawarkan pengalaman resistensi terhadap budaya serba cepat. Ia mengajak manusia menurunkan tempo, menata napas, dan memusatkan kesadaran pada sesuatu yang melampaui daftar tugas harian.

Keheningan subuh bukan kekosongan, melainkan kepadatan makna yang hanya bisa dirasakan ketika kebisingan diredam.
Hanyut dalam doa subuh juga mencerminkan kebutuhan kontemporer akan kesehatan mental. Banyak orang mencari mindfulness melalui aplikasi, kelas pembelajaran rohani, atau teknik pernapasan. Namun doa subuh telah lama memuat elemen serupa: fokus, kehadiran penuh, dan penerimaan. Saat kata-kata doa dilantunkan, pikiran yang semula berkelana perlahan terikat pada makna. Ada proses menenangkan diri yang organik, tanpa instruksi rumit. Subuh menjadi momen rekonsiliasi antara tubuh yang lelah dan jiwa yang ingin pulih.

Di era digital, spiritualitas sering kali dipertanyakan relevansinya. Namun pengalaman subuh justru menunjukkan adaptabilitas nilai-nilai lama. Banyak orang memaknai subuh bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai ritual personal. Lantunan doa menjadi bahasa intim antara manusia dan harapan-harapannya. Ia menyimpan doa untuk hari yang akan dijalani, kegelisahan yang belum terjawab, dan rasa syukur atas napas yang masih berlanjut.

Dalam kesederhanaannya, subuh mengajarkan bahwa makna tidak selalu lahir dari hal besar, melainkan dari konsistensi menghadirkan diri.
Hanyut juga berarti menyerahkan kontrol. Dunia kontemporer mengagungkan kendali: target, metrik, dan perencanaan. Subuh menawarkan kebalikan, yaitu kepercayaan. Saat doa mengalir, ada pengakuan akan keterbatasan manusia. Pengakuan ini bukan kelemahan, melainkan sumber kekuatan. Dengan mengakui batas, manusia belajar bersandar, dan dari sandaran itu lahir ketenangan. Dalam lanskap ketidakpastian global, sikap ini menjadi relevan dan menenangkan.
Pengalaman subuh tidak terlepas dari dimensi sosial. Di banyak tempat, lantunan doa subuh terdengar dari ruang-ruang yang saling berdekatan, menciptakan rasa kebersamaan tanpa perlu pertemuan fisik. Ini adalah solidaritas sunyi, di mana individu-individu terhubung oleh waktu dan niat yang sama.

Dalam masyarakat yang terfragmentasi oleh algoritma, subuh menyatukan melalui ritme alami. Ia mengingatkan bahwa ada waktu bersama yang tidak ditentukan oleh jadwal rapat atau kalender digital.
Namun, romantisasi subuh perlu diimbangi dengan kesadaran realistis. Tidak semua orang memiliki kondisi yang sama untuk menghayatinya. Pekerjaan malam, tanggung jawab keluarga, dan tekanan ekonomi bisa mengaburkan keheningan subuh. Di sinilah pendekatan kontemporer menuntut empati. Hanyut dalam lantunan doa subuh tidak harus seragam; ia bersifat elastis, menyesuaikan konteks. Esensinya terletak pada niat dan kehadiran, bukan pada bentuk yang kaku.

Pada akhirnya, hanyut dalam lantunan doa subuh adalah ajakan untuk kembali pada inti kemanusiaan: mendengar, merasakan, dan berharap. Di antara cahaya pertama yang menyentuh ufuk dan udara yang masih jernih, subuh menawarkan kesempatan memulai ulang. Ia tidak menjanjikan jawaban instan, tetapi memberikan keberanian untuk melangkah. Dalam dunia yang terus berubah, mungkin yang paling kita butuhkan adalah momen singkat untuk hanyut, bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menemukan arah. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

NANTI (sebagai jerat waktu)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di serambi pesantren yang mulai lengang setelah Isya, seorang kiai tua duduk bersila dengan tasbih di tangannya. Seorang santri muda mendekat, wajahnya tampak ragu, seolah membawa pertanyaan yang belum menemukan bentuknya, seraya berkata: … “Yai,” kata santri itu pelan, “kenapa rasanya berat sekali memulai ibadah, padahal saya tahu itu kewajiban?”

Kiai tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Tasbihnya terus bergerak, seakan memberi waktu pada pertanyaan itu untuk bernapas. “Beratnya di mana?” tanyanya balik. “Di hati,” jawab sang santri. “Setiap kali hendak beribadah, selalu ada suara yang berkata, nanti saja. Setelah ini. Setelah itu.”

Kiai berhenti menggerakkan tasbih. Pandangannya menembus halaman pesantren yang gelap. “Suara itu tidak pernah memerintahkanmu untuk meninggalkan ibadah,” katanya perlahan. “Ia hanya memintamu menunda.” Santri mengernyitkan keningnya sambil berkata. “Bukankah menunda itu masih lebih baik daripada meninggalkan?”

“Kelihatannya begitu,” jawab kiai. “Tapi penundaan adalah jalan paling halus untuk melupakan. Manusia sering takut pada larangan, tetapi mudah terbuai oleh janji waktu.”

Santri terdiam. “Jadi suara itu…?”

“Kau boleh menyebutnya apa saja,” potong kiai lembut. “Yang jelas, ia tahu manusia paling lemah ketika merasa masih punya waktu.”

Santri menunduk tersipu. “Lalu bagaimana cara melawannya, Yai?”

Kiai tersenyum lagi, kali ini lebih dalam. “Dengan hadir sepenuhnya sekarang. Ibadah tidak menunggu kesiapan sempurna. Justru ia yang membentuk kesiapan itu.”

Angin malam berembus pelan. Santri itu menarik napas panjang, seolah baru menyadari bahwa kata “nanti” selama ini telah mencuri begitu banyak “sekarang” dari hidupnya.

Pengalaman manusia mengingatkan, godaan jarang hadir sebagai ajakan terang-terangan untuk berbuat salah. Ia justru muncul dalam bentuk yang paling akrab, paling rasional, dan paling mudah diterima oleh kesadaran sehari-hari. Salah satu bentuknya adalah penundaan. Kata nanti terdengar ringan, bahkan penuh harapan, seolah ia menjanjikan kesempatan kedua yang lebih baik. Namun dalam kehidupan batin manusia, kata ini bekerja sebagai mekanisme penangguhan makna. Ia membuat manusia merasa aman tanpa harus benar-benar berubah, merasa baik tanpa harus bertindak sekarang.

Filsafat manusia kontemporer melihat manusia sebagai makhluk yang hidup dalam ketegangan antara kesadaran dan tindakan. Manusia mengetahui apa yang baik, memahami apa yang seharusnya dilakukan, tetapi sering gagal menjembatani pengetahuan itu dengan perbuatan. Di celah inilah “nanti” beroperasi. Ia menjadi ruang transisi yang tak pernah selesai, tempat niat disimpan tanpa pernah diwujudkan. Penundaan bukan sekadar kelemahan moral, melainkan struktur kesadaran yang menunda perjumpaan dengan tanggung jawab eksistensial.

Dalam konteks ibadah, penundaan memiliki dampak yang lebih dalam. Ibadah menuntut kehadiran total, pengakuan akan keterbatasan, dan kesiapan untuk berhadapan dengan diri sendiri. Bagi banyak manusia, tuntutan ini terasa berat. Maka “nanti” menjadi tameng halus untuk menghindari perjumpaan itu. Setan, dalam pengertian filosofis, dapat dipahami sebagai kecenderungan batin yang mendorong manusia menjauh dari kesadaran penuh. Ia tidak memaksa, tidak melarang, tetapi membujuk dengan kelonggaran waktu.

Penundaan juga berkaitan erat dengan cara manusia memahami waktu. Manusia modern cenderung memandang waktu sebagai sesuatu yang dapat dikelola dan dikendalikan. Ia membuat rencana, target, dan proyeksi masa depan seolah waktu selalu tersedia. Dalam cara pandang ini, ibadah ditempatkan sebagai aktivitas yang bisa disisipkan kapan saja. “Nanti” menjadi ekspresi kepercayaan berlebihan terhadap masa depan, seakan manusia berada di luar jangkauan kefanaan.

Filsafat manusia menegaskan bahwa keberadaan manusia tidak pernah netral. Setiap pilihan adalah sikap terhadap hidup itu sendiri. Menunda ibadah bukan berarti tidak memilih, melainkan memilih untuk tidak hadir. Pilihan ini sering tidak disadari karena dibungkus oleh alasan-alasan yang tampak wajar: lelah, sibuk, belum siap secara batin. Padahal, alasan-alasan tersebut adalah bentuk rasionalisasi yang melindungi manusia dari tuntutan perubahan diri.

Lebih jauh, penundaan menciptakan keterbelahan dalam diri manusia. Ada diri yang sadar akan nilai dan makna, dan ada diri yang menolak konsekuensi dari kesadaran itu. Keterbelahan ini melahirkan kegelisahan yang sering ditutupi dengan aktivitas lain. Ibadah, yang seharusnya menjadi ruang penyatuan diri, justru dihindari karena berpotensi membuka konflik batin yang selama ini disembunyikan. Dengan berkata “nanti”, manusia menunda rekonsiliasi dengan dirinya sendiri.

Budaya kontemporer memperkuat kecenderungan ini. Nilai manusia sering diukur dari produktivitas, efisiensi, dan pencapaian yang tampak. Dalam logika seperti ini, ibadah yang tidak menghasilkan keuntungan langsung dianggap kurang mendesak. “Nanti” menjadi justifikasi sosial untuk menomorduakan yang transenden. Setan tidak perlu menciptakan permusuhan terhadap agama; cukup dengan menanamkan keyakinan bahwa ibadah bisa ditunda tanpa kehilangan apa pun yang penting. Di sini jebakan “nanti” menuai hasil yang tak terhingga.

Filsafat manusia juga mengingatkan bahwa makna tidak pernah hadir dalam rencana, melainkan dalam keterlibatan konkret. Tidak ada makna yang bisa disimpan untuk masa depan tanpa tindakan di masa kini. Ibadah yang hanya diniatkan tetapi tidak dilakukan adalah makna yang dibekukan. Ia hidup dalam pikiran, tetapi mati dalam pengalaman. Setiap penundaan adalah kehilangan kesempatan untuk membentuk diri, karena diri dibentuk oleh apa yang dilakukan berulang kali, bukan oleh apa yang diinginkan.

Kesadaran akan kefanaan menjadi titik krusial dalam memahami bahaya penundaan. Kematian membongkar ilusi “nanti”. Ia mengingatkan bahwa waktu bukan milik manusia, dan masa depan tidak pernah dijamin. Dalam kesadaran ini, ibadah tidak lagi dipahami sebagai kewajiban tambahan, melainkan sebagai respons paling jujur terhadap kondisi manusia yang rapuh dan terbatas. Penundaan, dalam terang kefanaan, tampak sebagai bentuk pengingkaran terhadap kenyataan paling dasar dari keberadaan.

Melawan godaan “nanti” berarti mengambil kembali otoritas atas hidup yang sedang dijalani, bukan hidup yang dibayangkan. Perlawanan ini bukan soal kesempurnaan, tetapi soal keberanian untuk hadir sekarang, dengan segala keterbatasan dan ketidaksiapan. Ibadah yang dilakukan saat ini, meski tidak ideal, adalah tindakan eksistensial yang memutus rantai penundaan.

Pada akhirnya, “nanti” adalah ujian kebebasan manusia. Ia menawarkan kenyamanan semu dengan harga kehilangan makna. Ketika manusia terus menunda, ia tidak hanya menunda ibadah, tetapi menunda dirinya sendiri. Dalam keberanian untuk berkata “sekarang”, manusia memulihkan hubungan dengan waktu, dengan makna, dan dengan yang transenden. Di sanalah ibadah kembali menemukan daya transformasinya, dan manusia bergerak menuju keutuhan eksistensial yang selama ini tertunda. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

“Dua M”

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Dua orang sahabat sedang bertelpon ria begini:
Raka: “Bro, lagi sibuk ngapain?”
Bayu: “Scroll lowongan. Capek, Rak. Kirim CV mana-mana, jawabannya… Makasih, Mas… Dua M”.
Raka: “Hahaha… gue juga gitu. Sarjana IPK 4,0, tapi apply kerja kayak nggak ada bedanya sama yang cuma lulus pas-pasan”.
Bayu: “Kadang gue mikir, apa kita terlalu ‘sempurna’ sampai HR takut ngasih kerjaan?”
Raka: “Atau mereka cuma liat CV doang. Tapi tiap liat ‘Makasih, Mas’ itu… rasanya kayak ditolak sama dunia”.
Bayu: “Sedih tapi lucu, ya. Tapi gue nggak mau nyerah. Kita pasti nemu tempat yang ngehargain usaha kita”.
Raka: “Betul. Dua M itu bukan akhir. Mungkin cuma ‘pintu’ yang salah. Kita tinggal cari yang lain”.
Bayu: “Next CV gue bakal lebih ‘wow’, biar mereka nggak cuma bilang Makasih, Mas”
Raka: “Sip. IPK 4,0 itu bukan cuma angka”.
Bayu: “Deal! Dari dua M sekarang… besok-besok jadi dua J: Job dan Joy!…ha hahaaa”
Raka: “Hahaha, mantap, Bro!”..

Sarjana ber-IPK 4,0 saat tamat hanya dihargai dengan “Terima kasih, Mas.” Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan sopan, tetapi di baliknya tersimpan ironi zaman yang begitu keras. Ia adalah potret kontemporer tentang bagaimana pencapaian akademik yang diagungkan bertahun-tahun bisa berakhir tanpa nilai tawar yang nyata di hadapan realitas sosial dan ekonomi. Di tengah masyarakat yang memuja angka, sertifikat, dan gelar, penghargaan verbal justru menjadi simbol keterbatasan sistem dalam mengkonversi prestasi menjadi kesejahteraan.

Dua M dalam judul tulisan ini dapat dibaca sebagai dua mata uang yang kerap dipertukarkan secara timpang: “merit dan market”. Merit diwujudkan melalui IPK sempurna, ketekunan, disiplin, dan kepatuhan pada aturan akademik. Market, sebaliknya, menuntut kecepatan, fleksibilitas, jejaring, dan kemampuan beradaptasi yang sering kali tidak diajarkan secara eksplisit di ruang kuliah. Ketika kelulusan tiba, banyak lulusan menyadari bahwa nilai akademik yang nyaris sakral itu tidak otomatis diterjemahkan menjadi posisi tawar di pasar kerja. Yang tersisa adalah ucapan “terima kasih”; sebuah pengakuan moral tanpa konsekuensi material.

Ucapan “terima kasih, Mas” juga mencerminkan relasi kuasa yang timpang. Ia diucapkan oleh sistem kepada individu yang telah memberikan waktu, tenaga, dan harapan. Terima kasih menjadi penutup yang rapi, seolah semua kewajiban telah ditunaikan. Padahal, di baliknya ada pertanyaan besar tentang tanggung jawab sosial pendidikan tinggi. Apakah tugasnya berhenti pada kelulusan, atau berlanjut pada pendampingan transisi ke dunia kerja? Dalam banyak kasus, transisi itu diserahkan sepenuhnya kepada individu, sementara institusi beralih pada angkatan berikutnya. Dan, menerima sebanyak-banyaknya calon korban berikutnya; karena tanggungjawab hanya berbatas IPK.

Kontemporer berarti hidup di zaman algoritma, otomatisasi, dan narasi kesuksesan instan. Di media sosial, keberhasilan sering ditampilkan sebagai hasil keberanian mengambil risiko, membangun personal brand, dan menembus pasar global. Narasi ini secara halus menggeser makna kerja keras akademik menjadi sekadar salah satu opsi, bukan fondasi utama. Maka, ketika sarjana ber-IPK sempurna menghadapi penolakan berulang, rasa kecewa tidak hanya bersumber dari kegagalan ekonomi, tetapi juga dari disonansi naratif: janji lama tidak lagi selaras dengan realitas baru.
Namun, dua M tidak harus berakhir sebagai pertentangan abadi. Merit dan market dapat dipertautkan jika pendidikan berani merevisi orientasinya. Bukan dengan menurunkan standar akademik, melainkan dengan memperluas definisi prestasi. Proyek kolaboratif, magang bermakna, kewirausahaan sosial, dan literasi digital perlu ditempatkan sejajar dengan indeks prestasi. Dengan demikian, IPK tinggi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem kompetensi yang utuh.

Di sisi lain, individu juga dihadapkan pada keharusan untuk membaca zaman. Prestasi akademik adalah modal simbolik yang kuat, tetapi ia perlu diterjemahkan. Kemampuan berkomunikasi, membangun jejaring, dan memetakan peluang menjadi jembatan antara merit dan market. Kata “terima kasih” yang hari ini terasa hambar bisa menjadi jeda untuk menyusun ulang strategi, bukan penutup perjalanan.

Kontemporer mengajarkan bahwa karier bukan garis lurus, melainkan serangkaian literasi. Akhirnya, “terima kasih, Mas” seharusnya tidak menjadi epitaf (tulisan singkat yang tertera di batu nisan) bagi mimpi para sarjana. Ia mestinya menjadi pengingat bahwa penghargaan sejati tidak berhenti pada kata, melainkan pada kesempatan. Dua M, yaitu merit dan market; perlu dipertemukan agar pendidikan kembali menemukan maknanya: bukan sekadar meluluskan, tetapi memberdayakan. Dalam pertemuan itulah, angka 4,0 memperoleh arti yang melampaui transkrip, dan “terima kasih” berubah menjadi pintu, bukan dinding. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR

Belajar Berdamai dengan Kenyataan

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di serambi pesantren yang tenang, selepas salat Subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Angin pagi menggerakkan dedaunan, sementara sang Kiai menyesap teh hangat di hadapannya.

“Yai,” kata sang santri pelan, “mengapa hidup sering tidak berjalan seperti yang saya harapkan? Saya sudah berusaha, berdoa, dan merencanakan secara matang, tetapi hasilnya selalu berbeda.”

Sang kiai tersenyum tipis sambil menggeser duduknya. “Nak, apakah kau datang ke Pesantren ini dengan membawa semua keinginanmu sendiri?”

Santri itu terdiam sejenak. “Saya datang dengan harapan menjadi orang yang lebih baik,” jawabnya ragu.

“Dan apakah semua harapanmu itu terpenuhi dengan mudah?” tanya sang kiai lagi.

“Tidak, Yai. Banyak yang terasa berat. Terkadang saya ingin pulang, kadang saya bertanya-tanya apakah jalan ini benar.”

Sang kiai meletakkan cangkirnya. “Sejatinya di situlah pelajaran dimulai. Manusia sering mengira hidup adalah tempat menagih keinginan. Padahal hidup adalah ruang untuk menerima pelajaran. Tidak semua yang kau inginkan perlu terjadi agar kau bertumbuh.”

Santri menunduk. “Jadi, saya tidak boleh berharap?”

“Boleh,” jawab sang Kiai lembut. “Namun jangan menggantungkan hatimu sepenuhnya pada harapan. Harapan yang terlalu kuat bisa membuatmu menolak kenyataan. Padahal, kenyataan itulah yang sedang membentukmu; bahkan kaum sufi mengatakan kenyataan itu adalah utusan Allah untukmu”

“Lalu apa yang harus saya lakukan, Yai?” tanya santri.

“Terimalah apa yang telah terjadi dengan lapang dada,” kata sang kiai. “Bukan berarti berhenti berusaha, tetapi berhenti memusuhi hidup. Dari penerimaan, maka lahirlah ketenangan. Dari ketenanganlah, akan lahir kebijaksanaan.”

Santri itu mengangguk perlahan. Di antara keheningan pagi dan lantunan ayat yang samar terdengar dari kejauhan, ia mulai memahami bahwa tidak semua keinginan harus terwujud, tetapi setiap kejadian selalu membawa makna bagi mereka yang bersedia menerimanya.

Dalam kehidupan seperti saat ini; yang serba bergerak cepat, manusia sering hidup dengan daftar keinginan yang panjang. Keinginan itu disusun dari harapan sosial, tuntutan pribadi, dan gambaran ideal tentang masa depan yang terus diproduksi oleh lingkungan sekitar.

Sejak usia muda, seseorang diajarkan untuk merencanakan hidup secara rinci: apa yang harus dicapai, kapan harus berhasil, dan bagaimana kebahagiaan seharusnya terlihat. Namun, realitas tidak pernah sepenuhnya patuh pada rencana manusia. Di sinilah muncul ketegangan mendasar antara apa yang diinginkan dan apa yang sungguh terjadi.

Filsafat kontemporer melihat ketegangan ini bukan sebagai kesalahan hidup, melainkan sebagai kondisi dasar manusia. Hidup tidak pernah netral; ia selalu mengandung ketidakpastian.

Ketika seseorang menggantungkan makna hidup sepenuhnya pada terpenuhinya keinginan, maka hidup menjadi rapuh. Setiap kegagalan kecil dapat terasa seperti runtuhnya seluruh makna.

Harapan yang berlebihan justru sering melahirkan kekecewaan yang mendalam, bukan karena dunia kejam, tetapi karena manusia memaksakan dunia agar sesuai dengan kehendaknya.

Keinginan pada dasarnya bukanlah sesuatu yang salah. Ia memberi arah dan energi. Namun, masalah muncul ketika keinginan berubah menjadi tuntutan mutlak. Pada titik itu, manusia berhenti melihat kenyataan sebagaimana adanya. Ia hanya melihat kekurangan: apa yang belum tercapai, apa yang tidak sesuai rencana, dan apa yang seharusnya terjadi tetapi tidak terjadi.

Cara pandang ini membuat manusia terasing dari hidupnya sendiri. Ia hadir secara fisik, tetapi pikirannya selalu berada di masa depan yang diidealkan atau masa lalu yang disesali.

Menerima segala yang sudah terjadi bukan berarti menyerah atau menjadi pasif. Penerimaan dalam pengertian filosofis justru menuntut kesadaran yang aktif. Ia mengajak manusia untuk mengakui kenyataan tanpa penyangkalan, tanpa memperindah, dan tanpa mengutuk secara berlebihan.

Dengan penerimaan, seseorang berhenti berperang dengan kenyataan. Energi yang sebelumnya habis untuk menolak dan menyalahkan dapat dialihkan untuk memahami dan merespons secara lebih bijak.

Dalam dunia kontemporer, penerimaan menjadi sikap yang semakin relevan. Informasi yang berlimpah membuat manusia terus membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Media sosial, misalnya, menciptakan ilusi bahwa semua orang mencapai apa yang mereka inginkan. Akibatnya, kegagalan pribadi terasa semakin menyakitkan.

Dalam situasi ini, menerima apa yang telah terjadi menjadi bentuk perlawanan yang sunyi terhadap tekanan untuk selalu sempurna. Ia menegaskan bahwa nilai hidup tidak ditentukan oleh kesesuaian dengan standar eksternal, melainkan oleh kejujuran dalam menjalani pengalaman sendiri.

Menerima tidak sama dengan membenarkan semua hal yang terjadi. Ada peristiwa yang memang menyakitkan, tidak adil, dan sulit dipahami. Filsafat kontemporer tidak meminta manusia untuk memaknai penderitaan secara instan atau memaksakan optimisme kosong.

Yang ditekankan adalah keberanian untuk tetap hadir bersama pengalaman tersebut, tanpa melarikan diri ke dalam penyesalan atau harapan yang tidak realistis. Dari kehadiran inilah muncul kemungkinan makna yang lebih dalam, bukan makna yang dipaksakan, tetapi yang tumbuh perlahan.

Ketika seseorang berhenti mengharapkan semua terjadi sesuai keinginannya, ia mulai membuka ruang bagi kebebasan batin. Hidup tidak lagi dipandang sebagai proyek yang harus sempurna, melainkan sebagai proses yang terus berlangsung.

Dalam proses itu, kegagalan tidak selalu berarti akhir, dan keberhasilan tidak selalu berarti kepenuhan. Yang penting adalah bagaimana seseorang menanggapi setiap peristiwa dengan kesadaran dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, menerima segala yang sudah terjadi bukanlah sikap pesimis, melainkan bentuk kedewasaan eksistensial. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak berkuasa atas segalanya, tetapi tetap memiliki kebebasan untuk memilih sikap.

Di tengah dunia yang tidak selalu ramah dan tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan, penerimaan menjadi cara untuk tetap hidup secara utuh. Dengan berhenti menuntut hidup agar selalu sesuai keinginan, manusia justru menemukan ketenangan yang lebih jujur, dan dari sanalah kemungkinan kebijaksanaan akan muncul. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR