Ngemperi Jagat

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Pada saat membaca kiriman balik dari sahabat yang membaca artikel yang penulis kirim; senyum mengembang sendiri. Beliau memberi komentar halus, tetapi menohok mengenai situasi kondisi saat ini dengan bahasa Jawa “Mereka-mereka sepertinya mau ngemperi jagat, Prof”.  Sontak terpikir untuk menelusuri istilah lama yang sarat makna itu melalui referensi digital dan konvensional.

Secara harfiah, “jagat” berarti alam semesta atau dunia. “diemperi” berasal dari kata emper, semacam atap kecil yang biasanya ada di depan atau samping rumah. Namun dalam konteks ungkapan ini, “diemperi” menggambarkan sesuatu yang diberi atap atau naungan, tetapi tanpa tiang atau penopang. Artinya: dunia ini seakan memiliki struktur atau perlindungan, tetapi fondasinya tak terlihat atau bahkan tak ada.

Bila kita tarik makna itu ke dalam ranah eksistensial, ungkapan ini dapat dibaca sebagai sebuah gugatan atas keberadaan manusia di dunia yang tampak teratur, tetapi tidak memiliki dasar yang pasti atau terlihat. Kita hidup dalam jagat yang seperti “tertata”, ada langit dan bumi, ada hukum-hukum alam, ada budaya, agama, moral, teknologi. Namun, siapa yang menopang semua itu? Inilah persoalan mendasar yang menjadi jantung pemikiran filsafat manusia: kegelisahan tentang eksistensi.

Salah satu krisis besar manusia modern adalah ilusi keteraturan. Kita hidup di dunia yang secara fisik dan sosial tampak terstruktur: ada hukum negara, ada sistem ekonomi, ada aturan moral, bahkan ada agama dan kepercayaan. Namun, semakin manusia mengedepankan pengetahuan ilmiah dan rasionalitas modern, semakin terasa bahwa semua struktur itu tampaknya menggantung di udara. Tidak ada yang sungguh-sungguh “menopang” secara mutlak.

“Jagat kok diemperi” dalam konteks ini adalah ekspresi dari keheranan akan dunia yang seolah-olah punya bentuk, punya batas, punya langit dan bumi, tapi tak diketahui siapa atau apa yang menjadi tiangnya. Apakah nilai-nilai moral yang kita anut benar-benar berasal dari sesuatu yang mutlak? Atau apakah ia hanya konstruksi sosial yang “nempel” di emper dunia ini, sementara dinding dan tiangnya tidak pernah ada?

Dunia modern, dengan seluruh kemajuan teknologi dan logika, seolah memberikan “atap”—perlindungan dari ketidaktahuan dan rasa takut. Namun, atap itu rapuh karena tidak lagi ditopang oleh fondasi metafisik atau moral yang kokoh.

Nietzsche menulis tentang nihilisme, yaitu kondisi di mana manusia tidak lagi memiliki orientasi nilai yang absolut. Kita menjadi bingung tentang apa yang baik dan buruk, apa yang benar dan salah. Dalam kondisi ini, “Jagat kok diemperi” menjadi ungkapan ironi: kita telah membangun peradaban, hukum, sains, bahkan demokrasi, tetapi semuanya berdiri tanpa tiang nilai yang absolut. Kita menjadi seperti orang yang tinggal di bawah atap, tapi lupa bahwa atap itu tidak memiliki tiang, dan suatu saat bisa runtuh kapan saja. Oleh sebab itu bisa jadi orang yang tidak berbuat jahat diputuskan jahat oleh kejahatan yang dianut oleh para penjahat.

“Jagat kok diemperi” menjadi simbol dari dunia yang kosong secara ontologis, tapi padat secara sosial. Kita hidup dalam masyarakat yang memberi kita “keamanan” melalui struktur, tetapi secara ontologis dan metafisik, kita tetap menggantung di jurang ketiadaan. Dunia tidak menjawab pertanyaan “mengapa kita ada?” Hanya menyediakan ruang kosong yang harus diisi sendiri oleh manusia.

Meski banyak pemikir Barat modern cenderung menuju sekularisme atau bahkan ateisme, dalam banyak tradisi filsafat dan teologi Timur dan klasik, “penyangga dunia” tidak selalu harus terlihat. Ia justru sering disadari melalui keheningan batin dan kesadaran spiritual. Kembali kepada ungkapan “Jagat kok diemperi”, dalam kerangka spiritualitas, maknanya bisa dibalik: dunia tampak tidak berpenopang karena Tuhan sebagai penopang justru tidak terlihat, bukan karena tidak ada. Maka manusia harus memiliki iman, bukan dalam arti buta, tetapi sebagai kesadaran akan keterbatasan rasionalitas manusia dalam memahami struktur semesta.

Jika jagat memang diemperi, maka tugas manusia bukan mengeluh atau menyangkal, melainkan mendirikan tiang sendiri: melalui etika, cinta kasih, keberanian, kejujuran, dan kesetiaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Dalam konteks ini, esensi manusia bukan menunggu penopang eksternal, tapi menjadi penopang bagi sesamanya dan dunia. Oleh sebab itu “Jagat kok diemperi” adalah bentuk gugatan, keheranan, dan ajakan untuk berpikir. Ia menyentuh pertanyaan terdalam dalam hidup manusia: siapa yang menopang semua ini? Dan apa makna dari keteraturan semu yang kita hidupi?

Tulisan ini tidak memberikan jawaban pasti, sebagaimana filsafat tidak pernah selesai. Tapi setidaknya, ungkapan sederhana dari budaya Jawa ini telah membawa kita pada refleksi mendalam tentang siapa kita, mengapa kita di sini, dan bagaimana kita seharusnya hidup di dunia yang menggantung ini. Dan, kemana kita akan berlabuh terakhir. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Bendera, Cinta, dan Luka

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan “seruan” sebagian orang untuk tidak dulu mengibarkan bendera lambang negara, tetapi menggantikannya dengan bendera tertentu yang melambangkan kekecewaan. Hal itu sah-sah saja di negara yang demokratis; namun juga sah-sah saja untuk bersikap tidak membersamai seruan itu, dengan alasan tertentu pula.

Tulisan ini tidak ingin memperkeruh suasana atau juga tidak nimbrung begitu saja; namun mencoba berbicara dari sisi lain.

Bendera adalah sebuah simbol. Ia tidak sekadar kain berwarna yang dikibarkan di tiang-tiang tinggi, melainkan lambang dari identitas, harapan, dan perjuangan. Dalam setiap helai bendera terkandung narasi panjang tentang sejarah, darah, air mata, dan mimpi sebuah bangsa. Namun di balik kibaran bendera yang megah, sering tersembunyi kisah manusia yang penuh cinta dan luka.

Bendera bukanlah benda mati. Seperti yang dijelaskan oleh filsuf semiotika Charles Sanders Peirce dan Roland Barthes, sebuah simbol mengandung makna yang jauh melampaui wujud fisiknya. Bendera adalah tanda yang menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar: identitas sebuah bangsa, sejarah panjang perjuangan, serta harapan masa depan.

Dalam konteks bangsa Indonesia, bendera Merah Putih bukan hanya warna, tapi sebuah narasi: merah melambangkan keberanian dan semangat juang, putih melambangkan kemurnian dan niat suci.

Dengan mengibarkan bendera, seseorang secara kolektif mengekspresikan rasa bangga dan loyalitas terhadap bangsa. Namun, kita perlu mempertanyakan: apakah simbol ini selalu mampu menyampaikan kebenaran dan keotentikan pengalaman manusia? Sejauh mana simbol kebangsaan dapat menjembatani jarak antara individu dan negara, antara jiwa dan kolektif? Ini adalah pertanyaan mendasar karena seringkali simbol besar seperti bendera disambut dengan kebanggaan di permukaan, sementara di dalam jiwa banyak yang merasa terasing, kecewa, bahkan terluka.

Cinta adalah konsep yang kompleks dan multidimensi dalam filsafat. Dari Plato hingga Simone de Beauvoir, cinta dipandang bukan hanya sebagai emosi, tapi sebagai kondisi eksistensial yang mendalam. Plato membedakan cinta menjadi eros (cinta yang penuh hasrat) dan agape (cinta tanpa syarat dan universal). Dalam konteks bendera dan bangsa, cinta yang dimaksud biasanya adalah cinta agape, yaitu cinta yang tidak menuntut balasan dan berdasar pada penghormatan terhadap identitas bersama.

Dari sisi humanisme, Erich Fromm dalam The Art of Loving menekankan bahwa cinta adalah seni yang harus dipelajari dan dijalani secara aktif. Cinta bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan yang membutuhkan kesadaran, pengorbanan, dan tanggung jawab. Oleh karena itu, cinta kepada bangsa harus dilandasi oleh tindakan nyata, bukan hanya simbolik semata.

Jika bendera adalah lambang cinta tanah air, maka pertanyaan kritis yang harus diajukan adalah: apakah cinta itu sudah menyentuh realitas hidup manusia? Apakah negara mampu memberikan perhatian dan keadilan kepada setiap individu sehingga cinta itu tidak berujung pada kekecewaan?

Lalu, bagaimana dengan Luka ? Luka adalah pengalaman yang tak terhindarkan dalam perjalanan hidup manusia. Dalam konteks filsafat, luka bukan hanya kerusakan fisik, melainkan luka eksistensial, yaitu perasaan keterasingan, ketidakadilan, penindasan, dan kekecewaan.

Filsuf Emmanuel Levinas mengajarkan bahwa ketika rakyat merasa terabaikan, dilupakan, atau bahkan dizalimi oleh sistem sosial, mereka mengalami luka yang dalam, sebuah pengingkaran terhadap martabat kemanusiaan.

Luka-luka ini sering tersembunyi di balik simbol kebangsaan. Seorang ibu yang memasang bendera di rumah reyotnya mungkin memaknai bendera itu sebagai simbol harapan, namun sekaligus sebagai pengingat akan ketidakadilan dan penderitaan yang harus ia hadapi sehari-hari. Luka ini adalah suara batin yang berteriak dalam diam, yang kerap diabaikan oleh narasi besar nasionalisme.

Oleh karena itu: bendera, cinta, dan luka, berinteraksi dalam sebuah dialektika yang rumit. Bendera sebagai simbol kebangsaan dapat menjadi sumber cinta kolektif yang menguatkan rasa identitas dan solidaritas. Namun, bila realitas sosial tidak sejalan dengan simbol itu, maka bendera juga bisa menjadi sumber luka dan kekecewaan.

Dari sisi individu, cinta kepada bangsa harus berakar pada pengalaman autentik dan kesadaran kritis. Jika cinta itu hanya berupa ritual tanpa substansi, maka cinta itu menjadi semu dan bisa menimbulkan luka psikologis yang mendalam. Lebih jauh, luka yang dialami warga akibat ketimpangan sosial, diskriminasi, atau penindasan harus dibaca bukan sebagai kegagalan individu, melainkan sebagai tantangan bagi bangsa untuk memperbaiki diri. Luka ini adalah panggilan untuk refleksi moral dan etika kolektif.

Memahami hubungan antara bendera, cinta, dan luka memberikan kita beberapa pelajaran penting: Pertama, simbol tidak cukup tanpa tindakan nyata. Bendera sebagai simbol nasionalisme harus dilengkapi dengan kebijakan dan tindakan yang nyata untuk meningkatkan kesejahteraan dan martabat manusia.

Kedua, cinta harus dipupuk dengan kesadaran dan tanggung jawab. Cinta kepada bangsa bukan sekadar slogan, melainkan komitmen untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan bersama. Sementara luka, harus menjadi bahan refleksi dan perubahan. Luka-luka sosial dan eksistensial tidak boleh diabaikan. Mengabaikan luka berarti mengabaikan kemanusiaan dan merusak fondasi bangsa. Untuk itu rakyat harus diberikan ruang untuk mengkritik dan mengembangkan diri agar cinta kepada bangsa dapat tumbuh dengan otentik, bukan sekadar dipaksakan.

Bendera, cinta, dan luka adalah tiga konsep yang saling terjalin dalam kehidupan manusia dan bangsa. Bendera sebagai simbol kebangsaan mengundang kita untuk merenungkan makna cinta yang lebih dalam dan menyadari bahwa di balik semangat nasionalisme, ada luka-luka yang perlu disembuhkan.

Kita harus belajar bahwa cinta kepada bangsa tidak boleh menjadi beban yang menyakitkan, melainkan sebuah penguatan yang lahir dari keadilan, pengakuan martabat, dan solidaritas nyata. Luka yang ada adalah panggilan untuk perubahan, untuk membangun bangsa yang tidak hanya bangga dengan benderanya, tapi juga memanusiakan seluruh rakyatnya.

Akhirnya, dengan penuh kesadaran, kita semua diundang oleh hati nurani kita sendiri, untuk mengibarkan bendera kebangsaan bukan hanya dengan tangan, tetapi dengan hati yang utuh, dan hati yang penuh cinta kepada negeri ini, serta sekaligus kesiapan untuk menyembuhkan luka negeri akibat dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Namun jika di antara kita ada keinginan untuk mengibarkan bendera lain, selain bendera resmi negeri ini, itu adalah hak individual, seperti halnya jika ada konsekwensi karena itu. Untuk pilihan yang satu ini kita berbeda dan perbedaan itu sah-sah saja. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswa Universitas Malahayati Borong Medali di Cabang Karate POMProv Lampung 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati (UNMAL) dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (POMProv) Lampung 2025. Pada cabang olahraga Karate, para atlet muda UNMAL sukses memborong medali di berbagai kategori, membuktikan bahwa mereka tak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga berprestasi di arena kompetisi.

Lima mahasiswa dari program studi yang berbeda berhasil menyabet juara, menunjukkan keunggulan dan keragaman talenta di lingkungan Universitas Malahayati. Daftar Peraih Medali:
1. M. Ariq Al-Hakim H – Mahasiswa S1 Teknik Sipil Juara 1 Kumite Under 21 -61kg Putra. “Kemenangan ini saya persembahkan untuk almamater tercinta. Latihan keras selama ini akhirnya terbayar. Semoga bisa menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus semangat di bidang apa pun yang digeluti.”
2. Anissa Ade Amelliya (234210007) – Mahasiswi S1 Akuntansi Juara 1 Kumite Under 21 -61kg Putri. “Saya sangat bersyukur bisa meraih medali emas. Terima kasih kepada pelatih, keluarga, dan Universitas Malahayati yang selalu mendukung. Semoga prestasi ini menjadi langkah awal untuk target ke tingkat nasional.”
3. Dini Maharani (24380110P) – Mahasiswi S1 Farmasi Juara 2 Kata Perorangan Putri. “Meski belum emas, saya bangga bisa membawa pulang perak. Banyak pelajaran yang saya dapat dari kompetisi ini, terutama tentang semangat sportivitas dan disiplin.”
4. Zamzam Abdul Haq (22220356) – Mahasiswa S1 Manajemen Juara 2 Kumite Under 21 -67kg Putra. “Saya merasa ini adalah awal yang baik. Saya akan terus meningkatkan performa dan berharap bisa mengharumkan nama kampus di tingkat yang lebih tinggi.”
5. Ribka Tias Ayu – Mahasiswi S1 Teknik Sipil Juara 3 Kumite Under 21 -50kg Putri. “Kejuaraan ini memberikan pengalaman luar biasa. Saya bangga bisa berdiri di podium dan membawa nama UNMAL. Terima kasih atas semua dukungan yang saya terima.”

Prestasi ini menjadi bukti nyata dari komitmen Universitas Malahayati dalam mendukung pengembangan minat dan bakat mahasiswa di luar ruang kelas. Melalui fasilitas latihan yang memadai, dukungan moral dan akademik, serta semangat kebersamaan, UNMAL terus menjadi wadah berkembangnya para juara masa depan.

Pihak universitas menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh mahasiswa yang telah berjuang dan mengharumkan nama institusi di ajang POMProv 2025. Keberhasilan mereka menjadi inspirasi dan dorongan semangat bagi seluruh civitas akademika Universitas Malahayati untuk terus mengejar prestasi dalam berbagai bidang. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Pulang (Bukan Akhir; Tetapi Perjalanan Sejati)

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Membaca hasil penelitian di salah satu jurnal ternama, menemukan hasil penelitian bahwa para pensiunan itu rata-rata berpulang diwaktu tiga tahun sampai lima tahun setelah mereka purnabakti. Dan, setelah melampaui rerata itu, mereka yang masih bekerja atas dasar kemampuan otak, memiliki peluang hidup lebih panjang, disusul mereka yang bekerja mengandalkan aktivitas fisik. Sementara yang tidak memiliki aktivitas keduanya, berpeluang lebih cepat pulang. Tentu saja penelitian ini masih sangat dini untuk dipercaya tingkat validitasnya , sebab banyak variabel yang tidak tercover. Namun tulisan kali ini tidak ingin membahas itu, justru yang menjadi titik focus adalah istilah “pulang” untuk kata ganti meninggal; itupun focus pembahasan ada pada ranah filsafat.

Kata “pulang” seringkali diasosiasikan dengan akhir: akhir dari perjalanan, akhir dari penantian, akhir dari segala sesuatu yang bersifat duniawi. Namun dalam dimensi spiritual, “pulang” justru adalah awal. Ia adalah awal dari penyatuan, awal dari keutuhan, awal dari perjalanan yang sesungguhnya, dan atau perjalanan yang tak lagi dibatasi oleh ruang, waktu, dan bentuk. Dalam pengertian ini, pulang bukanlah kematian dalam arti fisik semata, tetapi kembalinya jiwa kepada asalnya, kepada fitrah, kepada Tuhan sebagai pemilik.

Manusia lahir bukan dari kehampaan. Ia berasal dari sumber yang mulia, dari Tuhan sendiri. Dalam banyak ajaran spiritual, hidup di dunia adalah pengembaraan sementara. Dunia hanyalah tempat ujian, tempat persinggahan sementara bagi jiwa yang akan kembali. Dan masih banyak lagi istilah yang berkonotasi sama, yaitu bukan akhir dari sesuatu. Maka “pulang” bukanlah hilang. Ia adalah penyatuan kembali. Seperti air hujan yang kembali ke samudera setelah lama mengalir sebagai sungai. Ia tidak musnah. Ia justru kembali ke asal yang lebih luas, lebih dalam, lebih utuh.

Kematian adalah misteri terbesar bagi manusia. Sebagian menganggapnya akhir dari segala sesuatu, tetapi bagi yang hidup dengan kesadaran spiritual, kematian justru adalah awal dari kehidupan yang sebenarnya. Ia adalah kelahiran kedua, yaitu lahir ke dalam dunia yang tidak lagi terikat oleh materi. Oleh sebab itu Jalaluddin Rumi berkata “Kamu tidak mati, kamu hanya berganti ruang.”

Pandangan seperti ini bukan sekadar puisi. Ia berakar pada pemahaman mendalam tentang ruh sebagai entitas yang tak hancur. Tubuh memang binasa, tetapi jiwa melanjutkan perjalanan. Dalam Al-Qur’an, digambarkan bahwa setelah mati, manusia memasuki alam barzakh, lalu hari kebangkitan, lalu akhirat. Semua itu bukan akhir, tapi tahap-tahap awal menuju keabadian. Maka mati bukan pulang untuk beristirahat, melainkan pulang untuk memulai kehidupan yang kekal.

Pulang tidak selalu harus menunggu kematian. Banyak orang yang secara spiritual telah “pulang” bahkan ketika mereka masih hidup. Mereka yang menemukan kembali fitrah, menundukkan egonya, dan hidup dalam kehadiran Tuhan, sejatinya telah pulang. Mereka tidak lagi tercerai dari asal mereka, meskipun raga masih tinggal di dunia. Ini yang disebut oleh para sufi sebagai fana’, yaitu melebur dalam Tuhan. Mereka tidak menunggu maut untuk pulang, tetapi sudah menjalani kehidupan sebagai hamba yang telah kembali. Mereka bebas dari rasa takut, bebas dari keserakahan, karena tahu bahwa dunia bukan rumah sejati mereka. Di sini Jalaludin Rumi berpesan “Ketika kamu mati sebelum mati, kamu akan tahu bahwa kematian bukanlah apa yang kamu pikirkan.” Kesadaran ini adalah pintu. Mereka yang melewatinya akan memandang hidup dengan cara yang berbeda. Setiap hari adalah perjalanan, setiap napas adalah bekal, dan setiap ujian adalah kesempatan untuk lebih dekat pada Tuhan.

Mengapa para filusuf mengatakan pulang disebut sebagai awal dari perjalanan sejati. Karena di sanalah kita menemukan keutuhan yang selama ini kita cari. Di dunia, manusia hidup dalam fragmentasi: terpecah oleh keinginan, tuntutan sosial, dan kekhawatiran. Kita mengejar sesuatu yang kita sendiri tak tahu ujungnya. Kita merasa ada yang kurang, tetapi tidak tahu apa itu yang kurang.

Pulang adalah momen di mana semua potongan jiwa bersatu kembali. Kita tidak lagi mencari di luar, karena telah menemukan di dalam. Tuhan bukan lagi konsep jauh di langit, melainkan kehadiran nyata di dalam hati. Penyatuan ini digambarkan bukan dengan logika, tapi dengan cinta. Tuhan adalah kekasih, dan jiwa manusia adalah perindu abadi. Pulang adalah saat pertemuan itu terjadi. Dan di sanalah perjalanan baru dimulai: perjalanan dalam keabadian, dalam cinta, dalam kedekatan yang tak terputus.

Di dunia, perjalanan manusia adalah perjuangan. Kita berusaha, kita jatuh, kita bangkit. Tetapi semua itu hanyalah persiapan. Seperti siswa yang belajar di kelas sebelum lulus dan memasuki kehidupan sebenarnya. Dengan “pulang” perjalanan sejati dimulai. Di sana tidak ada lagi pencarian, melainkan perjumpaan. Tidak ada lagi kegelisahan, melainkan ketenangan. Tidak ada lagi keterpisahan, melainkan keintiman abadi. Oleh sebab itu perjalanan sejati bukanlah tentang ruang atau waktu, tetapi tentang keadaan jiwa. Ini adalah perjalanan dari “mengetahui” menjadi “mengalami”; dari sekadar percaya, menjadi bersatu.

Setiap manusia, sadar atau tidak, sedang menuju pulang. Mereka yang tenggelam dalam dunia pun pada akhirnya akan pulang. Perbedaannya hanya pada kesiapan. Ada yang pulang dengan tangan kosong, ada yang membawa bekal. Karena itu, kehidupan sejati dimulai dengan kesadaran. Bahwa hidup ini bukan untuk mengejar dunia, tapi untuk mempersiapkan pulang. Mereka yang sadar akan hidup dalam ketenangan, karena tahu ke mana ia akan pergi. Pertanyaan sekarang adalah “sudahkah kita siapkan bekal untuk pulang”. Jawabannya ada dalam sanubari kita masing-masing. Karena perasaan kurang yang paling menyesakkan adalah manakala kita selalu merasa kurang akan bekal menuju “pulang”. Disana pula letak “keridho-an” dari Yang Maha Kuasa sebagai penyelamat segala mahlukNYA. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Hidup Ini Diawali Dengan Membuka Mata, Diakhiri Dengan Menutup Mata

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Beberapa waktu lalu mendapat kiriman hasil kreasi seorang murid empat puluh lima tahun lalu, yang sekarang sudah menjadi creator handal, dengan caption seperti judul di atas. Ada rasa bangga, senang, dan haru membacanya; karena itu dibuat oleh anak cerdas yang empat puluh lima tahun lalu masih berpakain putih abu-abu; dan sekarang sama-sama sudah bercucu. Akhirnya atas ijin yang bersangkutan penulis mencoba menelusuri dari sisi filsafat manusia. berdasarkan kajian literature baik digital maupun konvensional, ditemukan uraian sebagai berikut: Ungkapan “Hidup diawali dengan membuka mata, diakhiri dengan menutup mata” adalah kalimat yang secara sederhana menggambarkan perjalanan hidup manusia: lahir, tumbuh, mengalami, dan mati. Namun jika ditelusuri secara filosofis, ungkapan ini menyimpan makna eksistensial yang dalam. Dalam filsafat manusia, hidup bukan sekadar rentang biologis antara kelahiran dan kematian, melainkan sebuah dinamika keberadaan yang melibatkan kesadaran, kebebasan, kehendak, makna, dan tujuan.

Dalam filsafat, manusia tidak sekadar dipahami sebagai makhluk biologis, melainkan sebagai makhluk eksistensial. Eksistensi manusia adalah keberadaan yang sadar, reflektif, dan mampu mempertanyakan dirinya sendiri. Filsuf Ernst Cassirer menyebut manusia sebagai animal symbolicum, yaitu makhluk yang hidup dalam dunia simbol, makna, dan budaya. Dengan membuka mata, manusia tidak hanya melihat dunia secara indrawi, tetapi menafsirkan realitas: memberi nama, menyusun konsep, membangun bahasa dan budaya.

Membuka mata bukan sekadar gerakan refleks bayi yang baru lahir, melainkan simbol lahirnya kesadaran pertama. Dari titik inilah, manusia mulai “hadir” ke dalam dunia. Menurut Edmund Husserl, pengalaman manusia bersumber dari kesadaran. Kesadaran selalu “akan sesuatu” (intentionality). Ketika seorang bayi membuka mata, ia belum memahami apa yang ia lihat, tetapi mulai membentuk kesadaran prareflektif yang kelak berkembang menjadi persepsi, pemahaman, dan refleksi diri.

Setelah membuka mata, manusia tidak langsung menjadi makhluk dewasa secara penuh. Ia mengalami proses menjadi, yang melibatkan pengalaman, pembelajaran, kegagalan, dan pertumbuhan eksistensial. Oleh sebab itu Martin Heidegger menyebut manusia sebagai Dasein—ada-yang-menyadari-keberadaannya. Dasein selalu “menuju ke depan”, mengada dalam kemungkinan-kemungkinan, dan menyusun proyek-proyek kehidupannya. Dengan membuka mata pada dunia, manusia memasuki dunia historis, sosial, dan personal yang harus ia hadapi dan bentuk secara otentik.

Jika membuka mata adalah awal kesadaran, maka menutup mata adalah akhir kesadaran duniawi. Dalam pandangan filosofis, kematian bukan semata-mata akhir biologis, tapi juga peristiwa eksistensial yang memberi makna pada kehidupan. Oleh karena itu Heidegger menyebut manusia sebagai “ada-untuk-mati”. Artinya, kesadaran akan kematian memberi bobot pada setiap tindakan manusia. Tanpa kematian, hidup tidak akan berarti. Dengan menyadari bahwa kita akan menutup mata suatu hari nanti, kita menjadi lebih sadar untuk hidup secara otentik dan bermakna.

Viktor Frankl, seorang psikiater dan filsuf eksistensialis, berpendapat bahwa manusia terdorong oleh kebutuhan akan makna (will to meaning). Bahkan dalam penderitaan dan keterbatasan, manusia tetap bisa menemukan makna hidup. Pengetahuan akan kematian memperdalam kesadaran kita akan nilai dari waktu, relasi, dan kontribusi kita pada dunia.

Perjalanan manusia dari membuka hingga menutup mata mencerminkan keseluruhan dinamika eksistensi: dari tidak sadar menjadi sadar, dari potensi menjadi aktual, dari pengembaraan menuju peristirahatan. Dalam pandangan Hegel, kehidupan manusia adalah proses dialektika: tesis, antitesis, dan sintesis. Manusia bertumbuh melalui konflik, kontradiksi, dan penyatuan kembali. Membuka mata adalah tesis, menghadapi dunia adalah antitesis, dan makna hidup tercapai sebagai sintesis yang membawa ke penyatuan atau transendensi.

Hidup adalah jeda singkat di antara dua keheningan: saat sebelum mata terbuka dan sesudah ia tertutup. Dalam rentang yang fana itu, kita belajar melihat; bukan sekadar dengan mata, tetapi dengan kesadaran yang terus tumbuh. Membuka mata bukan hanya tanda lahir, melainkan awal dari pencarian makna, dan menutupnya kelak bukan sekadar akhir, melainkan kepulangan yang sunyi. Maka, hidup sejatinya adalah perjalanan untuk memahami apa arti melihat, merasakan, dan menjadi. Sebab hanya mereka yang sungguh “terjaga” selama hidupnya, yang dapat menutup mata dengan damai. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

UPT Perpustakaan Universitas Malahayati Perkuat Kolaborasi Melalui Rapat Kerja FPPTI dan Penandatanganan MoU

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya memperluas akses informasi, meningkatkan kualitas layanan, serta mengoptimalkan sumber daya perpustakaan, UPT. Perpustakaan Universitas Malahayati terus menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan jejaring antarperpustakaan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mengikuti Rapat Kerja Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Wilayah Lampung, sekaligus menjalin kerjasama formal melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).

Kegiatan penting ini dihadiri oleh Nowo Hadiyanto, S.Sos., selaku Kepala UPT. Perpustakaan Universitas Malahayati, bersama sejumlah pejabat dan kepala perpustakaan dari berbagai lembaga pendidikan tinggi yang tergabung dalam FPPTI wilayah Lampung untuk periode 2025–2026.

Melalui penandatanganan MoU ini, antarperpustakaan di Lampung bersepakat untuk membangun sinergi dalam pengelolaan sumber daya informasi, pertukaran koleksi, serta pelaksanaan program peningkatan literasi informasi bagi sivitas akademika masing-masing institusi.

“Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk memajukan dunia perpustakaan di era digital ini. Dengan bekerjasama, kita tidak hanya saling memperkuat layanan, tapi juga menciptakan pengalaman belajar yang lebih kaya bagi para pemustaka,” ujar Nowo Hadiyanto.

Kerjasama ini diyakini akan memberikan dampak positif, baik bagi perpustakaan maupun pengguna layanan. Bagi pemustaka, kolaborasi ini berarti terbukanya akses yang lebih luas terhadap koleksi dan layanan informasi dari berbagai institusi, serta meningkatnya mutu layanan yang diberikan.

Bagi para pustakawan, kolaborasi ini menjadi wadah untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kompetensi profesional. Dengan adanya pertukaran praktik terbaik dan pelatihan bersama, kualitas layanan perpustakaan diharapkan akan meningkat secara signifikan.

UPT. Perpustakaan Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus mendorong inovasi dan kolaborasi di bidang perpustakaan, sejalan dengan visi universitas sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang modern dan inklusif. Kolaborasi dalam forum seperti FPPTI diharapkan menjadi katalis bagi terwujudnya perpustakaan yang adaptif, progresif, dan relevan di tengah tantangan zaman.

Dengan semangat kolaborasi dan sinergi, perpustakaan bukan hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi juga pusat pembelajaran yang dinamis, inklusif, dan terhubung. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Mahasiswi Akuntansi Universitas Malahayati Raih Juara 2 Karate di Kejuaraan Piala Gubernur Lampung 2025

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Malahayati. Anissa Ade Amelliya (24210007), mahasiswi Program Studi S1 Akuntansi dengan, sukses meraih Juara 2 dalam cabang olahraga Karate Kategori Kumite -61kg Under 21 Putri pada ajang Lampung Karate Championship 2025 memperebutkan Piala Gubernur, yang berlangsung pada 27–29 Juni 2025 di GOR Sumpah Pemuda, Bandar Lampung.

Kejuaraan bergengsi ini diikuti oleh para atlet karate terbaik dari berbagai daerah di Lampung dan sekitarnya. Dalam kompetisi yang berlangsung ketat dan penuh semangat, Anissa berhasil menunjukkan ketangguhan dan teknik bertanding yang luar biasa hingga berhasil naik podium sebagai juara kedua.

“Hasil tidak akan mengkhianati proses. Tidak perlu banyak kata-kata, yang penting bukti nyata,” ujar Anissa usai menerima medali. Kalimat sederhana ini mencerminkan ketekunan dan dedikasinya dalam berlatih selama ini.

Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Malahayati tak hanya berprestasi di bidang akademik, tetapi juga mampu menunjukkan kemampuan luar biasa di bidang olahraga. Prodi Akuntansi khususnya, turut bangga atas prestasi Anissa yang telah membawa nama baik kampus ke tingkat provinsi.

Universitas Malahayati terus mendorong mahasiswanya untuk aktif dan unggul di berbagai bidang, baik akademik, seni, maupun olahraga. Dukungan terhadap pengembangan minat dan bakat menjadi bagian penting dalam mencetak generasi muda yang cerdas, tangguh, dan berintegritas.

Selamat untuk Anissa Ade Amelliya! Terus semangat dan terus berprestasi! (gil)

Editor: Gilang Agusman

ICESH 2025 Universitas Malahayati, Ribuan Peserta Tunjukkan Antusiasme Gagas Solusi Pembangunan Berkelanjutan

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali mencetak sejarah lewat penyelenggaraan The 2nd International Conference on Economy, Social, and Humanity (ICESH) 2025. Konferensi yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Juli 2025 ini, mencatat antusiasme luar biasa dengan melibatkan 2.010 peserta internal dari berbagai fakultas.

Tak hanya menjadi ajang diskusi ilmiah, ICESH 2025 juga membuka ruang kompetisi karya ilmiah dan presentasi poster yang menarik partisipasi luas dari mahasiswa. Tercatat, terdapat 98 artikel dari Fakultas Hukum, 44 artikel dari Program Studi Manajemen, dan 22 artikel dari Program Studi Akuntansi. Tak kalah signifikan, kontribusi eksternal pun mencolok dengan 59 artikel dari institusi Co-Host, 19 artikel dari peserta regular eksternal, serta 38 peserta dalam kategori presentasi poster.

Jumlah ini bukan hanya angka, melainkan wujud nyata semangat kolaboratif dan kepedulian akademisi baik dari dalam maupun luar kampus terhadap isu-isu krusial seputar pembangunan berkelanjutan.

Puncak kegiatan lomba artikel ilmiah dan poster dipusatkan di Lapangan Futsal Lantai VI Gedung Rektorat Universitas Malahayati, pada Selasa (29/7/2025). Mahasiswa dan mahasiswi Universitas Malahayati mempresentasikan hasil penelitiannya yang merupakan bagian dari proyek akademik, seperti skripsi dan tesis, yang dilakukan di bawah bimbingan dosen masing-masing.

Para finalis memaparkan karya mereka di hadapan tiga dewan juri eksternal, dengan durasi presentasi 5–7 menit. Suasana penuh semangat dan intelektualitas mewarnai sesi ini, menunjukkan kesiapan mahasiswa untuk tampil sebagai agen perubahan yang berpihak pada keberlanjutan.

Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH., secara resmi membuka konferensi ICESH 2025 di Gedung Graha Bintang, Senin (28/7/2025). Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan harapannya agar konferensi ini tidak hanya menjadi ajang akademik, tetapi juga melahirkan para ahli yang berpihak kepada kelestarian lingkungan hidup.

“Kita butuh pengatur yang adil dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan. Saya harap kegiatan ini melahirkan ide-ide besar dan menjadi tonggak sejarah bagi semuanya,” ujar Dr. Kadafi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ICESH merupakan ruang dialog lintas negara dan lintas disiplin ilmu, yang mempertemukan pemikir, akademisi, dan praktisi untuk saling bertukar informasi serta menyumbangkan solusi terhadap persoalan global.

ICESH 2025 mengangkat tema besar: “Tujuan Pembangunan Berkelanjutan: Titik Temu antara Kebijakan Ekonomi dan Hukum Lingkungan”, yang dinilai sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Tema tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh berjalan sendiri, melainkan harus seiring sejalan dengan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial.

Berikut adalah nama-nama mahasiswa pemenang dalam lomba artikel ilmiah dan poster: pemenang_icesh_2025

ICESH 2025 tak hanya menjadi ruang unjuk karya, tetapi juga tonggak bagi mahasiswa Universitas Malahayati untuk membuktikan bahwa mereka siap menjadi bagian dari solusi global. Dengan semangat kolaboratif dan kepekaan terhadap isu pembangunan berkelanjutan, generasi muda kampus ini tengah membangun masa depan yang lebih baik—untuk Indonesia dan dunia. (gil)

Editor: Gilang Agusman

Maklamo Tula

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Ada teman yang sekalipun sudah lama meninggalkan kota kelahirannya di salah satu daerah wilayah Sumatera Selatan; namun aksen palembangnya sebagai bahasa sehari-hari, masih sangat kental. Pada waktu jumpa ditanya bagaimana perkembangan kehidupannya, terutama masalah ekonomi. Beliau menjawab dengan khas palembangnya “maklamo tula, idak begerak, malah banyak tekornya”, terjemahan bebasnya “masih seperti dulu, tidak bergerak, malah banyak ruginya”. Setelah itu beliau menjelaskan dengan bahasa khasnya tadi bagaimana hidup sekarang semakin susah. Setelah berlalu, istilah yang beliau ungkapkan maklamo tula, masih terngiang, dan itu menginspirasi untuk menulisnya dari kaca mata filsafat manusia.

Dalam bahasa Palembang, ungkapan “Maklamo Tula” menggambarkan kondisi yang stagnan, tidak berubah, dan tetap sama seperti sebelumnya. Istilah ini sering kali digunakan secara sarkastik untuk mengekspresikan kekecewaan kolektif masyarakat, khususnya terhadap keadaan yang dianggap tidak membawa perubahan signifikan dalam kehidupan. Dalam konteks sosial-politik, ungkapan ini menjadi semacam kritik budaya yang kuat, dan tidak selalu frontal, namun menyimpan makna eksistensial dan reflektif yang mendalam.

Dari perspektif eksistensialisme, manusia adalah makhluk yang sadar dan bebas, tetapi juga terjebak dalam absurditas kehidupan yang kadang tidak memberinya makna. Filsuf seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus banyak berbicara tentang kegelisahan manusia modern dalam menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Ketika rakyat menggunakan istilah maklamo tula, mereka sedang mengekspresikan kesadaran eksistensial; bahwa harapan mereka terhadap perubahan telah menemui jalan buntu. Mereka merasa hidup dalam suatu realitas sosial yang absurd, di mana perjuangan untuk hidup layak, adil, dan bermartabat selalu menemui tembok birokrasi, korupsi, dan ketidakpedulian dari penguasa. Dalam konteks ini, “maklamo tula” adalah bentuk kesadaran kolektif akan ketiadaan perubahan yang mereka harapkan. Ini adalah sebuah pengalaman eksistensial yang getir: manusia yang sadar akan deritanya, tetapi tidak mampu mengubahnya karena sistem yang membelenggu.

Filsafat Karl Marx mengenalkan konsep alienasi, yaitu keterasingan manusia dari hasil kerjanya, dari dirinya sendiri, dari sesama, dan dari sistem sosial yang tidak manusiawi. Dalam sistem yang gagal memberikan keadilan dan kesejahteraan, rakyat menjadi terasing, tidak merasa menjadi bagian dari pemerintahan yang harusnya mewakili mereka. Ungkapan “maklamo tula” mencerminkan alienasi rakyat terhadap negara. Mereka merasa bahwa suara dan aspirasinya tidak didengar.

Pembangunan yang dijanjikan tidak menyentuh mereka, bantuan yang dijanjikan tidak pernah datang, dan perubahan yang digaungkan hanya menjadi pepesan kosong. Dalam kondisi ini, rakyat kehilangan rasa memiliki terhadap negara. Pemerintah bukan lagi representasi dari kehendak rakyat, tetapi menjadi entitas asing yang tidak menyentuh realitas kehidupan sehari-hari mereka. Rakyat hanya menjadi penonton dari drama kekuasaan yang tidak melibatkan mereka.

Filsuf Gabriel Marcel, seorang eksistensialis, menyebut harapan sebagai unsur spiritual yang membuat manusia tetap manusiawi. Namun, ketika harapan terus-menerus dikhianati oleh kenyataan, manusia akan mengalami apa yang disebut sebagai “keletihan eksistensial”. Rakyat yang telah berkali-kali percaya pada janji kampanye, rencana pembangunan, dan wacana perubahan, akhirnya mengalami kejenuhan, akhirnya mereka menjadi apatis dan sinis.

“Maklamo tula” adalah bentuk pudarnya harapan. Ini bukan hanya sindiran sosial, tetapi sebuah pengakuan kultural bahwa idealisme dan realitas telah terputus. Manusia, dalam hal ini rakyat, berhenti berharap karena tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Dalam kondisi ini, mereka tidak hanya kecewa, tetapi juga terluka secara moral.

Dalam filsafat, manusia dipandang sebagai makhluk historis, dan ia tidak hidup dalam ruang kosong, tetapi terikat pada sejarah, budaya, dan memori kolektif. Ungkapan seperti “maklamo tula” adalah hasil akumulasi pengalaman historis dalam melihat ketimpangan yang terus berulang.

Manusia sebagai makhluk kritis tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya. Ketika rakyat mengucapkan “Maklamo Tula”, mereka sesungguhnya sedang mengekspresikan kesadaran historis atas siklus kekecewaan yang terus berulang. Ini adalah kritik yang tidak bisa diabaikan, sebab ia lahir dari perenungan yang panjang, bukan sekadar emosi sesaat.
“Maklamo Tula” menjadi cermin bahwa tanggung jawab etis pemimpin telah diabaikan. Rakyat tidak menuntut kemewahan; mereka hanya ingin keadilan, pelayanan publik yang manusiawi, dan kesempatan yang adil untuk hidup layak. Ketika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka yang muncul bukan hanya kekecewaan, tetapi juga krisis moral.

Filsafat manusia menegaskan bahwa martabat manusia tidak boleh dikorbankan oleh sistem apa pun. Ketika rakyat bangkit dari sikap pasif dan menjadi pelaku perubahan, maka kekuasaan yang lalai tidak akan lagi memiliki legitimasi moral. Sebagaimana dikatakan oleh filsuf Martin Heidegger, bahasa adalah rumah bagi keberadaan. Ketika rakyat mengucapkan “Maklamo Tula”, mereka sedang mendiami realitas melalui bahasa, dan mengekspresikan makna hidup mereka yang penuh luka, harapan, dan penantian. Apakah kita akan tetap berada pada posisi ini, semua berpulang pada kita baik secara individu maupun kolektif. Salam Waras (SJ)

Editor: Gilang Agusman

Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi Lepas 1.420 Mahasiswa KKL-PPM 2025 ke Tanggamus

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Rektor Universitas Malahayati, Dr. Muhammad Kadafi, SH., MH, secara resmi melepas keberangkatan 1.420 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Lapangan Pembelajaran Pengabdian Masyarakat (KKL-PPM) Tahun 2025. Seremoni pelepasan berlangsung khidmat dan penuh semangat di pelataran Gedung Rektorat Universitas Malahayati pada Rabu, 30 Juli 2025.

 

Selama 40 hari ke depan, para mahasiswa akan diterjunkan langsung ke tengah masyarakat, tepatnya di 5 kecamatan dan 70 pekon (desa) yang tersebar di wilayah Kabupaten Tanggamus, Lampung. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi civitas akademika Universitas Malahayati dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya di desa-desa yang membutuhkan sentuhan inovasi, edukasi, dan penguatan kapasitas masyarakat.

 

Dalam sambutannya, Rektor Dr. Muhammad Kadafi menyampaikan bahwa KKL-PPM bukan sekadar program rutin akademik, melainkan bentuk nyata pengabdian dan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjaga sikap selama berada di lapangan.

“KKL-PPM adalah ladang praktik bagi ilmu yang kalian peroleh di bangku kuliah. Jaga attitude, berbudaya di mana pun kalian berada, dan beradaptasilah dengan masyarakat. Jadikan ini sebagai momentum pembelajaran sekaligus kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat Tanggamus,” tegas Rektor.

Lebih lanjut, Rektor juga berpesan kepada para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) agar senantiasa mendampingi dan membimbing mahasiswa dengan optimal. Ia berharap kegiatan ini tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga membawa manfaat yang luas bagi semua pihak yang terlibat.

“Saya titip kepada para DPL untuk terus mengawal mahasiswa. Semoga KKL-PPM ini menjadi berkah untuk kita semua, mempererat hubungan kampus dengan masyarakat, dan menjadi pengalaman tak terlupakan bagi mahasiswa,” tandasnya.

Program KKL-PPM tahun ini mengangkat tema besar “Gerakan Kampus Berdampak pada Penanganan Stunting Tanggamus 2025”. Mahasiswa dari berbagai program studi akan melaksanakan berbagai kegiatan edukatif, promotif, dan preventif sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Mulai dari penyuluhan kesehatan, penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan ibu dan anak, hingga pelatihan manajemen organisasi desa.

Keberangkatan serentak ini juga menjadi simbol semangat kolaborasi lintas sektor yang terus dibangun Universitas Malahayati. Dengan semangat “mengabdi dan berdampak,” para mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mampu menyatu dengan masyarakat dan memberikan kontribusi yang relevan, solutif, dan berkelanjutan.

Selamat bertugas para mahasiswa KKL-PPM 2025. Bawa nama baik almamater, berikan yang terbaik untuk masyarakat, dan jadikan pengabdian ini sebagai pijakan awal menjadi insan profesional yang berintegritas. (gil)

Editor: Gilang Agusman