MENUJU PERJALANAN ABADI

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Malam telah turun perlahan. Lampu-lampu temaram menggantung di serambi suatu pesantren, sementara suara jangkrik bersahutan memecah keheningan. Seorang Santri duduk bersila, menunggu dengan gelisah. Ketika langkah kaki terdengar mendekat, ia menundukkan kepala.

“Engkau tampak resah,” ujar sang Kiai pelan, suaranya tenang seperti air yang mengalir. “Maaf, Kiai,” jawab Santri itu lirih. “Saya hanya… sering bertanya-tanya akhir-akhir ini.” “Pertanyaan adalah tanda hidup,” kata sang Kiai sambil duduk di hadapannya. “Apa yang mengusik pikiranmu?”

Santri itu menarik napas. “Mengapa di pesantren ini kami diajarkan hidup sederhana, diam, dan mengulang hal-hal yang sama setiap hari? Sementara di luar sana, orang berlomba-lomba mengejar banyak hal. Saya takut, jangan-jangan hidup saya tertinggal.” Sang Kiai tersenyum tipis. “Apakah engkau yakin hidup itu perlombaan?” Santri terdiam. “Bukankah semua orang ingin sampai lebih dulu, Kiai?”. “Kemana?” tanya sang Kiai balik.

Pertanyaan itu membuat Santri terhenyak. Ia menunduk, jemarinya saling menggenggam. “Saya tidak tahu,” jawabnya jujur. “Di sinilah letak pelajarannya,” ujar sang Kiai lembut. “Pesantren tidak mengajarkanmu untuk berlari, tetapi untuk berjalan dengan sadar. Tidak semua yang cepat itu benar, dan tidak semua yang sunyi itu tertinggal.”

Santri mengangkat wajahnya. “Lalu, apa sebenarnya yang sedang kami persiapkan di sini, Kiai?”. Sang kiai memandang langit yang gelap, seolah membaca sesuatu yang tak tertulis. “Engkau sedang mempersiapkan dirimu sendiri. Membersihkan niat, menata hati, dan mengenali batas-batasmu sebagai manusia.”

“Untuk apa semua itu?” tanya Santri pelan. “Untuk perjalanan yang tak bisa dihindari oleh siapa pun,” jawab sang Kiai. “Perjalanan yang tidak memerlukan bekal dunia, tetapi membutuhkan kejernihan jiwa.” Santri terdiam lama. Angin malam berembus pelan, membawa ketenangan yang aneh. “Berarti,” katanya kemudian, “jalan sunyi ini bukan hukuman?”. “Bukan,” sahut sang Kiai mantap. “Ia adalah tugas terakhir kehidupan. Agar ketika engkau sampai di ujung, engkau tahu siapa dirimu, dan ke mana engkau akan kembali.” Santri itu menunduk lebih dalam. Di wajahnya tak lagi tampak kegelisahan, melainkan kesadaran yang baru mulai tumbuh.

Jalan sunyi mempersiapkan perjalanan abadi adalah tugas terakhir dari kehidupan. Kalimat ini menemukan maknanya dalam sebuah ruang hidup yang sederhana, tertib, dan penuh pengendalian diri. Di tempat semacam ini, kehidupan tidak bergerak mengikuti arus dunia luar yang bising, melainkan berjalan pelan dalam irama yang teratur. Hari-hari diisi dengan rutinitas yang sama, doa yang berulang, dan keheningan yang justru mengajarkan banyak hal tentang arti menjadi manusia. Dari sudut pandang filsafat humanistik, ruang ini adalah tempat manusia belajar memahami dirinya sebagai makhluk yang sadar akan tujuan akhir, bukan sekadar pelaku aktivitas duniawi.

Filsafat manusia menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab. Namun kebebasan tidak selalu berarti bergerak tanpa batas. Di ruang hidup yang asketis ini, kebebasan justru ditemukan dalam pembatasan. Aturan-aturan yang mengikat, kesederhanaan fasilitas, dan kedisiplinan waktu bukanlah penjara, melainkan sarana untuk melatih kehendak. Manusia belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi, dan tidak semua dorongan harus diikuti. Dalam pengendalian diri itulah martabat manusia ditegakkan, karena ia mampu memilih nilai, bukan sekadar menuruti naluri.

Kesunyian menjadi elemen penting dalam proses ini. Kesunyian bukanlah ketiadaan kehidupan, melainkan ruang untuk mendengar suara batin. Filsafat humanistik memandang refleksi diri sebagai syarat utama bagi manusia untuk hidup secara otentik. Tanpa refleksi, manusia mudah terjebak dalam kehidupan yang mekanis. Dalam keheningan malam, ketika aktivitas fisik berhenti dan pikiran mulai tenang, manusia berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar: untuk apa hidup dijalani, apa yang benar-benar bernilai, dan ke mana arah langkah ini bermuara. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlahan mempersiapkan manusia menghadapi perjalanan yang tak dapat dihindari.

Jalan sunyi juga berarti mengambil jarak dari hiruk-pikuk dunia tanpa harus memusuhinya. Dunia tetap diakui sebagai bagian dari kehidupan, tetapi bukan sebagai tujuan akhir. Dalam filsafat humanistik, ini disebut sebagai kemampuan transendensi: manusia mampu melampaui kepentingan sesaat menuju nilai yang lebih tinggi. Dengan mengurangi keterikatan pada hal-hal material dan simbol-simbol sosial, manusia diarahkan untuk menata ulang orientasi hidupnya. Ia belajar bahwa keberhasilan sejati tidak selalu tampak dari luar, melainkan dirasakan dari kedalaman batin.

Tugas terakhir dari kehidupan, jika dipahami secara filosofis, bukanlah pencapaian eksternal, melainkan kesiapan internal. Perjalanan abadi tidak menuntut bekal materi, melainkan keadaan batin yang jernih. Kesadaran akan kefanaan justru membuat hidup dijalani dengan lebih bertanggung jawab. Manusia menyadari bahwa setiap tindakan memiliki makna, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Kesadaran ini tidak melahirkan ketakutan, tetapi kebijaksanaan.

Pada akhirnya, jalan sunyi adalah proses memanusiakan manusia. Dalam kesederhanaan, keteraturan, dan keheningan, manusia diajak kembali pada esensinya. Hidup tidak lagi dipahami sebagai perlombaan tanpa akhir, melainkan sebagai perjalanan yang penuh makna. Setiap hari menjadi latihan, setiap diam menjadi pengajaran. Ketika saat perjalanan abadi itu tiba, yang dibawa bukanlah kebisingan dunia, melainkan ketenangan batin yang telah ditempa sepanjang jalan sunyi kehidupan. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly KR