Ketika AKU Menjadi Hijab

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Di serambi pesantren yang mulai sunyi setelah isya, seorang santri duduk bersila di hadapan kiai. Lampu temaram menggantung, angin malam membawa aroma tanah basah. “Yai,” tanya santri itu pelan, “mengapa doa saya sering terasa jauh, padahal lisan tak pernah berhenti memohon?”. Kiai tersenyum, menatap halaman gelap di depannya. “Karena yang berdiri paling depan dalam doamu bukan Tuhan, tapi ‘aku’-mu.”

Santri terdiam. “Bukankah aku yang berdoa, Yai?”. “Benar,” jawab kiai lembut, “tetapi ketika engkau merasa sebagai pemilik doa, di situlah hijab bermula. ‘Aku’ ingin didengar, ingin dikabulkan, ingin diakui. Padahal doa sejati bukan soal didengar, melainkan soal hadir.”

“Lalu bagaimana caranya menyingkirkan ‘aku’ itu?” Jawab Santri. Kiai menggeleng perlahan. “Ia tidak disingkirkan dengan marah. “Aku” dilembutkan dengan sadar. Sadari bahwa nafasmu bukan milikmu, niatmu pun dipinjamkan. Ketika engkau menyadari itu, ‘aku’ akan menunduk dengan sendirinya.”. Santri menunduk lebih dalam. “Jika ‘aku’ menunduk, apa yang tersisa, Yai?”. “Yang tersisa,” kata kiai sambil tersenyum, “adalah hamba tanpa klaim. Di sanalah makrifat mulai berbisik. Bukan dengan suara, tapi dengan ketenangan yang tak lagi bertanya apakah doa sampai atau tidak.” Angin berhembus pelan. Santri itu terdiam, bukan karena tak paham, tetapi karena hatinya sedang belajar diam.

Di antara manusia dan Tuhan berdiri sesuatu yang tampak akrab, bahkan terasa sebagai diri sendiri, yaitu “aku”. Kata ini ringan diucapkan, tetapi berat maknanya. Ia membungkus kesadaran, mengklaim pengalaman, dan menuntut pengakuan. Dalam jalan makrifat, “aku” bukan sekadar kata ganti, melainkan tirai halus yang menutup pandangan batin. Selama tirai itu belum tersingkap, doa tetap terdengar, tetapi tidak sungguh sampai; ibadah dilakukan, tetapi belum sepenuhnya berjumpa.

Ego lahir dari kebutuhan untuk bertahan dan dikenali. Ia mengatur cerita tentang siapa diri ini, apa yang pantas didapat, dan bagaimana dunia seharusnya memperlakukan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, ego tampak wajar, bahkan perlu. Namun ketika ia dibawa masuk ke ruang ketuhanan, ego berubah menjadi penghalang. Doa yang seharusnya merupakan penyerahan berubah menjadi tuntutan. Harap yang seharusnya bersandar berubah menjadi transaksi. Kata “aku” menyusup di setiap kalimat batin: aku berdoa, aku beribadah, aku pantas dikabulkan. Pada saat itulah hubungan menjadi dua arah yang terpisah, bukan perjumpaan yang melebur.

Makrifat mengajarkan keheningan di balik kata. Di sana, kesadaran tidak lagi sibuk mengklaim. Ketika seseorang menyadari bahwa segala yang dimiliki: nafas, pikiran, bahkan kehendak, bukan sepenuhnya miliknya, maka “aku” mulai melunak. Ego tidak dihancurkan dengan kekerasan, melainkan dilunakkan dengan pengenalan. Ia dipahami, bukan dimusuhi. Kesadaran melihat bahwa ego hanyalah alat, bukan pusat. Ia berguna untuk hidup di dunia, tetapi harus ditinggalkan ketika memasuki hadirat Yang Maha Ada.

Doa yang terhijab ego sering kali penuh kata, tetapi miskin hadir. Bibir bergerak, pikiran mengembara, dan hati sibuk menghitung hasil. Dalam kondisi ini, doa menjadi cermin ego itu sendiri. Ia memantulkan keinginan, ketakutan, dan ambisi. Makrifat mengajak doa kembali pada asalnya: diam yang sadar. Dalam diam, tidak ada lagi yang meminta atas nama “aku”. Yang tersisa hanyalah kesaksian bahwa segala sesuatu berlangsung dalam kehendak-Nya. Dari sini, doa bukan lagi permohonan, melainkan penyelarasan.

Ego juga gemar merasa paling benar dan paling dekat. Ia bisa menyamar dalam kesalehan, merasa lebih suci, lebih tahu, atau lebih layak. Penyamaran ini paling halus dan paling berbahaya, karena ia membuat seseorang merasa sudah sampai, padahal justru terhenti. Makrifat tidak mengenal rasa selesai. Semakin dekat, semakin lenyap rasa memiliki. Semakin dalam, semakin ringan identitas diri. Di titik ini, ego tidak lagi memimpin, ia hanya mengikuti arus kesadaran yang lebih luas.

Menghadapi ego bukan berarti meniadakan diri secara fisik atau menolak peran hidup. Yang ditinggalkan adalah klaim, bukan keberadaan. Seseorang tetap bekerja, mencinta, dan berdoa, tetapi tanpa beban pengakuan. Ia hadir, namun tidak menuntut. Ia bergerak, namun tidak menguasai. Inilah keadaan ketika “aku” berubah menjadi amanah, bukan pusat semesta. Dalam keadaan ini, jarak dengan Tuhan menyempit bukan karena langkah mendekat, tetapi karena penghalang menyingkir.

Ketika ego mereda, doa menemukan jalannya sendiri. Ia tidak selalu berwujud terkabulnya keinginan, tetapi hadir sebagai ketenangan menerima. Jawaban tidak selalu datang sebagai perubahan keadaan, melainkan perubahan cara memandang. Inilah pengabulan yang sering luput disadari. Bukan dunia yang menyesuaikan diri dengan ego, melainkan ego yang larut dalam kehendak Ilahi. Pada saat itu, tidak ada lagi “aku” yang berdiri di depan-Nya. Yang ada hanyalah kesadaran yang bersaksi, bahwa sejak awal tidak pernah ada jarak, kecuali yang diciptakan oleh klaim diri.

Salam waras