KESALEHAN YANG RETAK

(Yang Saleh bisa salah, Yang salah bisa Saleh)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati

Malam telah jauh melewati puncak sunyinya. Setelah sholat tahajud, pesantren seakan menahan napas. Sajadah-sajadah masih terhampar, aroma kayu tua dan lantunan doa yang tertinggal menggantung di udara. Seorang Santri belum beranjak dari tempat duduknya. Air matanya belum kering, dadanya masih bergetar oleh doa-doa yang tak sempat terucap dengan kata.

Di sudut Masjid itu, Kiai duduk bersandar pada tiang, memejamkan mata, seolah menyimak sesuatu yang tak terdengar. Santri itu mendekat dengan langkah ragu, lalu bersimpuh. “Yai,” bisiknya lirih, takut memecah kesunyian, “mengapa setiap selesai tahajud, hati saya justru merasa semakin kecil, seolah semua amal saya tak berarti apa-apa?”

Kiai membuka mata perlahan. Wajahnya tenang, namun suaranya menghunjam. “Karena di sepertiga malam, Tuhan tidak membesarkan manusia, Nak. DIA mengecilkannya, agar tidak ada yang tersisa selain kejujuran.” Santri itu menelan ludah. “Lalu bagaimana dengan orang-orang yang merasa sudah dekat dengan-Nya?”. “Dekat menurut siapa?” tanya kiai pelan. “Orang yang benar-benar dekat biasanya gemetar. Ia takut jika sujudnya hanya gerak, doanya hanya suara, dan taatnya hanya cara halus untuk memuja diri.”

Hening kembali jatuh. Kiai melanjutkan, “Ada manusia yang rusak hidupnya, dan juga hancur hatinya. Dari kehancuran itu, ia mengenal Tuhannya. Dan ada yang rapi ibadahnya, tapi utuh egonya. Yang utuh itu justru menutup jalan menuju Tuhan-nya.” Air mata santri itu jatuh ke sajadah. Dalam sunyi selepas tahajud, ia mengerti: Tuhan lebih sering ditemui oleh hati yang remuk daripada oleh jiwa yang merasa telah sempurna

Ungkapan bahwa yang saleh bisa salah dan yang salah bisa saleh mengguncang cara pandang moral yang sering kita anggap mapan. Ia menolak pemisahan hitam-putih antara kebaikan dan keburukan, serta membongkar ilusi bahwa kesalehan adalah status tetap yang dapat dimiliki seseorang. Dalam filsafat ketuhanan, pernyataan ini mengarahkan kita pada pemahaman yang lebih dalam tentang relasi manusia dengan Yang Ilahiah: relasi yang tidak ditentukan oleh klaim kesucian, melainkan oleh kesadaran akan keterbatasan diri.

Kesalehan sering dipahami sebagai ketaatan lahiriah: kepatuhan pada aturan, konsistensi dalam ritual, dan kemampuan menjaga citra moral di hadapan sesama. Namun, ketika kesalehan diperlakukan sebagai identitas final, ia berisiko berubah menjadi bentuk keakuan yang halus. Pada titik ini, kesalehan tidak lagi mengarah ke Tuhan, melainkan berputar kembali kepada diri sendiri. Seseorang merasa telah “sampai”, merasa lebih benar, lebih bersih, dan lebih dekat kepada kebenaran dibanding yang lain. Dalam perspektif ketuhanan, inilah bentuk kesalahan yang paling sunyi namun paling berbahaya: kesalahan yang tersembunyi di balik keyakinan bahwa diri sudah benar.

Sebaliknya, kesalahan, dalam arti pelanggaran moral atau penyimpangan, sering dipandang sebagai jarak dari Tuhan. Namun pengalaman eksistensial manusia menunjukkan hal yang lebih kompleks. Kesalahan dapat menjadi ruang perjumpaan yang jujur dengan diri sendiri. Saat seseorang jatuh, runtuhlah ilusi kehebatan diri. Rasa hina, penyesalan, dan kesadaran akan kelemahan membuka ruang batin yang sebelumnya tertutup oleh kesombongan. Dalam ruang inilah, Tuhan tidak lagi dipahami sebagai legitimasi atas kebaikan diri, melainkan sebagai tempat kembali bagi jiwa yang rapuh.

Ungkapan bahwa ahli maksiat terkadang lebih mengenal Tuhannya dibanding ahli taat bukanlah glorifikasi kesalahan, melainkan kritik terhadap kesalehan palsu. Kesalahan tidak dipuji, tetapi kesadaran atas kesalahan itulah yang dinilai. Dalam filsafat ketuhanan, kesadaran adalah kunci. Tuhan tidak “didekati” melalui prestasi moral, tetapi melalui kejujuran batin. Ketika seseorang mengakui kesalahannya, ia sedang menyingkirkan tirai ego yang selama ini menghalangi pandangan kepada Yang Transenden.

Kesalehan sejati, dengan demikian, bukanlah ketiadaan dosa, melainkan keberlanjutan kesadaran. Ia hidup dalam ketegangan antara usaha dan pengakuan akan ketidakcukupan. Orang yang saleh secara autentik tidak pernah merasa aman dengan kesalehannya sendiri. Ia selalu menyisakan ruang ragu, ruang takut, dan ruang harap. Ragu terhadap kemurnian niatnya, takut terhadap kesombongannya, dan berharap pada rahmat yang melampaui perbuatannya.

Pada akhirnya, yang salah bukanlah mereka yang jatuh dan menyadari kejatuhannya, melainkan mereka yang berdiri tegak di atas keyakinan bahwa mereka tidak mungkin jatuh. Dalam pandangan ketuhanan yang mendalam, Tuhan lebih dekat pada hati yang remuk daripada dada yang membusung. Kesalahan bisa menjadi jalan, dan kesalehan bisa menjadi tirai. Yang menentukan bukan label moral, melainkan sikap batin: apakah manusia masih menunduk, atau sudah terlalu sibuk mengagumi bayangannya sendiri. Oleh karena itu para ulama terdahulu berpesan bahwa; Syariat itu mengajarkan kita untuk membenahi diri, torekat itu mengajarkan kita untuk mampu mengenali diri, hakekat itu mengajarkan kita untuk berserah diri, dan makrifat itu mengajarkan kita untuk mengenali sejatinya diri.

Salam Ramadan