HENING TANPA TUNTUTAN
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Usai sholat Tarawih malam itu, nafas para santri masih terasa berat. Satu juz telah dilantunkan tanpa jeda panjang, membuat kaki pegal dan punggung terasa kaku. Beberapa santri langsung merebahkan diri di serambi masjid pesantren, sementara yang lain berjalan pelan menuju asrama. Di sudut halaman yang mulai sepi, seorang santri menghampiri kiai yang baru saja duduk melepas sorban.
“Yai,” ucapnya lirih, “malam ini terasa sekali lelahnya. Berdiri lama, bacaan panjang. Tapi saya justru merasa ada yang kosong.”
Kiai memandangnya lembut. “Kosong bagaimana, Nak?”
“Saya khawatir, jangan-jangan saya hanya sibuk menyelesaikan satu juz. Bangga karena kuat berdiri. Tapi hati saya tidak benar-benar hadir.”
Kiai tersenyum tipis. “Itu kegelisahan yang baik. Banyak orang selesai Tarawih merasa puas karena target tercapai. Tapi jarang yang bertanya apakah dirinya sudah benar-benar tunduk.”
Santri itu menunduk. “Bukankah semakin banyak bacaan semakin baik, Yai?”
“Baik, jika membuatmu makin kecil di hadapan Allah. Tapi kalau justru membuatmu merasa lebih kuat, lebih hebat, itu tanda ego masih ikut berdiri di saf.”
Santri itu terdiam, mengingat kembali rakaat demi rakaat yang baru saja ia jalani.
“Tarawih panjang,” lanjut kiai pelan, “seharusnya melatih kita merendah. Lelah itu mengikis kesombongan. Saat kaki gemetar dan punggung sakit, kau sadar bahwa kau rapuh. Di situlah sholat menjadi perendahan diri.”
“Jadi lelah ini bukan sia-sia, Yai?” sergah Santri.
“Tidak. Jika kau jadikan ia jalan untuk pasrah. Sholat bukan tentang kuat berdiri satu juz, tapi tentang luluhnya ‘aku’ dalam setiap ayat yang kau dengar.”
Santri itu menarik napas panjang, kali ini lebih ringan. Malam terasa hening, dan di antara rasa lelah, ia mulai memahami bahwa yang diuji bukan hanya fisiknya, melainkan egonya.
Ada satu tahap dalam perjalanan batin ketika sholat tidak lagi dipahami sebagai sekadar kewajiban ritual, gerakan tubuh, atau rangkaian bacaan yang harus ditunaikan. Ia berubah menjadi peristiwa eksistensial: perendahan diri serendah-rendahnya di hadapan Allah. Pada titik ini, sholat bukan lagi tentang apa yang kita lakukan, melainkan tentang siapa yang luruh ketika berdiri, rukuk, dan sujud. Yang hadir bukan ambisi rohani, bukan pula pencitraan kesalehan, melainkan kesadaran bahwa diri ini sepenuhnya milik dan dalam genggaman-Nya.
Sering kali manusia mendekati ibadah dengan membawa agenda. Ada yang ingin ketenangan, ada yang mencari solusi, ada yang berharap pahala, bahkan ada yang ingin diakui sebagai pribadi saleh. Tanpa disadari, ego menyelinap dalam bentuk yang paling halus. Ia bersembunyi di balik doa-doa panjang, dalam kekhusyukan yang dipamerkan, dalam keinginan agar dilihat sebagai hamba yang taat. Sholat menjadi panggung sunyi tempat diri masih ingin berdiri sebagai pusat perhatian; meskipun yang dituju adalah Tuhan.
Namun bagi mereka yang telah memahami hakikatnya, sholat adalah momen penghancuran pusat itu. Ketika takbir diucapkan, yang dibesarkan bukan diri, melainkan Allah semata. Ketika berdiri, yang dirasakan bukan kebanggaan sebagai hamba yang beribadah, tetapi kesadaran akan kerapuhan diri. Ketika rukuk, tulang punggung yang biasanya tegak oleh kesombongan dipaksa tunduk. Ketika sujud, dahi, simbol martabat manusia, diletakkan di tanah, seakan mengakui bahwa asal dan akhir manusia hanyalah debu dalam kehendak-Nya.
Pada titik ini, sholat menjadi titik nol kesadaran. Segala identitas sosial menguap: jabatan, harta, reputasi, bahkan citra kesalehan. Tidak ada lagi kebutuhan untuk dianggap baik. Tidak ada lagi hasrat untuk dipuji sebagai ahli ibadah. Yang ada hanyalah kesadaran murni bahwa diri ini sepenuhnya bergantung. Ketergantungan itu bukan kelemahan, melainkan kebenaran terdalam tentang keberadaan manusia. Di hadapan Yang Mahakuasa, semua ego hanyalah ilusi yang rapuh.
“Sowan Gusti Allah” menjadi ungkapan yang tepat sekaligus dalam untuk menggambarkan keadaan ini. Bukan datang untuk meminta, bukan pula datang untuk menawar takdir, tetapi datang sebagai hamba yang ingin hadir. Dalam keheningan itulah sholat menemukan maknanya yang paling dalam: kehadiran total tanpa syarat. Ketika seseorang sampai pada kesadaran ini, doa-doanya berubah. Ia tidak lagi didominasi oleh daftar permintaan. Bahkan permohonan pun terasa sebagai bentuk ketergantungan yang sederhana, bukan tuntutan. Jika diberi, ia bersyukur. Jika tidak, ia tetap bersujud. Kepasrahan bukan berarti pasif atau menyerah pada nasib tanpa usaha, melainkan menerima bahwa hasil akhir bukan berada dalam genggamannya. Usaha adalah kewajiban, tetapi keputusan adalah hak prerogatif Allah.
Kepasrahan total ini melahirkan kedamaian yang tidak tergantung pada keadaan. Sholat tidak lagi menjadi sarana untuk melarikan diri dari masalah, melainkan ruang untuk menempatkan masalah pada proporsinya. Masalah tetap ada, kesulitan tetap nyata, tetapi hati tidak lagi memberontak. Ada keyakinan sunyi bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari kehendak-Nya yang lebih luas dari pemahaman manusia.
Di sinilah ego benar-benar lenyap. Ego selalu ingin mengendalikan, ingin memastikan, ingin dihargai, ingin diakui. Namun dalam sholat yang sejati, semua keinginan itu lepas. Hamba tidak lagi menuntut agar hidupnya sesuai dengan rencana pribadinya. Ia tidak lagi memaksa doa agar terwujud sesuai ekspektasinya. Ia menerima bahwa kehendak Allah jauh melampaui logika dan harapan manusia.
Keadaan ini bukan sesuatu yang instan. Ia lahir dari pergulatan panjang melawan diri sendiri. Setiap kali sholat dilakukan dengan kesadaran yang jernih, sedikit demi sedikit ego terkikis. Setiap sujud menjadi latihan meruntuhkan kesombongan. Setiap salam menjadi pengingat bahwa hidup setelah sholat pun harus dijalani dengan kesadaran yang sama: rendah hati, pasrah, dan tulus.
Ketika sholat dipahami sebagai pertemuan, bukan sebagai transaksi, maka orientasi hidup pun berubah. Ibadah tidak lagi diukur dari seberapa banyak orang melihat atau memuji, tetapi dari seberapa dalam hati merasa kecil di hadapan-Nya. Keikhlasan tidak lagi menjadi konsep yang diucapkan, melainkan pengalaman yang dirasakan. Ada kelegaan ketika tidak perlu lagi menjadi apa-apa di mata manusia, karena yang terpenting adalah menjadi hamba di hadapan Allah.
Pada akhirnya, sholat adalah perjalanan kembali ke asal: kesadaran bahwa manusia bukan pusat semesta. Ia adalah makhluk yang bergantung, yang hidup atas izin, yang bergerak atas kehendak. Dalam sujud yang paling dalam, manusia menemukan kebebasan tertingginya yaitu; kebebasan dari ego, dari ambisi semu, dari kebutuhan akan pengakuan. Yang tersisa hanyalah kepasrahan total. Dan dalam kepasrahan itulah, justru martabat manusia menemukan kemuliaannya.
Salam Ramadhan


