Sekitar Kita PULANG KE DALAM (Saat Penilaian Tak Lagi Berkuasa)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Di serambi pesantren yang lengang selepas subuh, seorang santri duduk bersila dengan wajah gelisah. Kitab di pangkuannya tertutup sejak tadi. Sang kiai menghampiri perlahan, lalu duduk di depannya tanpa suara. “Kenapa pagi-pagi sudah berat begitu napasmu?” tanya kiai lembut. Santri menunduk. “Saya bingung, Yai. Kalau dipuji, hati saya berbunga. Tapi kalau dicela, rasanya runtuh. Saya capek bolak-balik seperti ini.”
Kiai tersenyum tipis. “Lalu apa yang kau cari dari pujian dan hinaan itu?” “Saya ingin merasa cukup,” jawab santri jujur. “Cukup menurut siapa?” tanya kiai. Santri terdiam lama. “Mungkin… menurut orang.”
Kiai mengambil segenggam kerikil di lantai. “Jika orang bilang kerikil ini emas, apakah ia berubah jadi emas?” “Tidak, Yai.” Jawab santri tegas. “Jika orang menghina emas dan menyebutnya batu, apakah emas itu kehilangan nilainya?” lanjut kiai. Santri menggeleng.
“Begitu juga dirimu,” kata kiai pelan. “Nilai tidak lahir dari lidah manusia. Ia lahir dari pengenalanmu kepada siapa dirimu di hadapan Tuhan.” Santri menarik napas. “Tapi bagaimana caranya, Yai, agar hati saya tidak ikut naik dan jatuh?” Kiai menatap halaman pesantren yang sunyi, dan berkata dengan tegas. “Pulang.” “Pulang ke mana?” jawab santri bingung. “Ke dalam,” jawab kiai. “Selama kau tinggal di luar, di mata orang, di suara manusia, kau akan terus jadi tamu. Tamu selalu gelisah. Tapi ketika kau pulang ke dalam dirimu, kau tak lagi sibuk meminta izin untuk merasa berharga.”
Santri mengangguk perlahan. “Jadi ketika pujian dan hinaan terasa sama…” “Itu bukan karena kau tak punya rasa,” potong kiai lembut, “melainkan karena rasamu sudah menemukan rumahnya.” Santri tersenyum kecil. “Berarti itu tanda saya selesai dengan diri saya?” Kiai tertawa pelan. “Bukan selesai hidup, tapi selesai bertengkar dengan diri sendiri. Dan itu awal dari ketenangan.” Angin pagi berembus. Santri menunduk, kali ini dengan dada yang lebih lapang.
Ada satu fase dalam perjalanan batin manusia yang sunyinya tidak menakutkan, justru menenangkan. Fase ketika sanjungan tidak lagi membuat dada mengembang, dan hinaan tidak lagi meruntuhkan langkah. Rasa yang muncul dari keduanya sama: netral, jernih, dan tenang. Pada titik inilah seseorang diam-diam telah menyelesaikan urusan terpanjang dalam hidupnya, yaitu urusan dengan diri sendiri.
Sejak awal, manusia tumbuh dengan cermin di sekelilingnya. Cermin itu bernama penilaian. Kita belajar mengenali diri dari apa yang dikatakan orang lain: pujian dianggap bukti keberhargaan, cercaan dianggap tanda kegagalan. Tanpa sadar, identitas dibangun dari gema suara luar. Maka tidak heran jika sanjungan terasa seperti cahaya yang menghidupkan, sementara hinaan menjelma gelap yang menyesakkan. Kita berlari mengejar yang satu dan menghindari yang lain, seolah keduanya menentukan siapa kita sebenarnya.
Namun, ada harga yang harus dibayar ketika hidup terlalu bergantung pada penilaian. Kegembiraan menjadi rapuh karena bersyarat, dan ketenangan mudah runtuh karena satu kalimat yang salah. Di sanalah kelelahan batin bermula. Seseorang bisa tampak kuat di luar, tetapi di dalam terus-menerus bernegosiasi dengan ekspektasi, membuktikan nilai, dan membela harga diri yang sesungguhnya belum benar-benar dikenal.
Ketika sanjungan dan hinaan terasa sama, bukan karena keduanya kehilangan makna, melainkan karena makna hidup tidak lagi dititipkan pada keduanya. Pujian bisa diterima sebagai apresiasi, bukan validasi. Hinaan bisa dipahami sebagai sudut pandang, bukan vonis. Keduanya lewat seperti angin: terasa, tapi tidak menetap. Yang tinggal hanyalah kesadaran bahwa nilai diri tidak berkurang oleh kebencian, dan tidak bertambah oleh kekaguman.
Di titik ini, seseorang mulai hidup dengan pijakan ke dalam. Keputusan diambil bukan untuk menyenangkan semua orang, melainkan untuk setia pada nilai yang diyakini. Ada keberanian untuk berkata tidak tanpa rasa bersalah, dan kerendahan hati untuk berkata salah tanpa takut kehilangan harga diri. Hidup menjadi lebih sederhana, bukan karena masalah berkurang, tetapi karena konflik batin tidak lagi diperpanjang.
Menyelesaikan diri sendiri juga berarti berhenti menjadikan masa lalu sebagai ruang sidang abadi. Penyesalan tidak lagi diulang-ulang untuk menghukum diri, dan kesuksesan lampau tidak terus dipuja untuk membenarkan ego. Semuanya ditempatkan sebagai pengalaman: pernah ada, memberi pelajaran, lalu dilepaskan. Dengan begitu, energi hidup tidak habis untuk mempertahankan cerita lama, tetapi tersedia untuk hadir sepenuhnya di hari ini.
Pada akhirnya, titik sunyi ini bukanlah tujuan yang bisa dipamerkan. Ia hadir diam-diam, sering kali setelah lelah mencoba menjadi banyak hal. Ketika keinginan untuk diakui berubah menjadi keberanian untuk menerima, dan kebutuhan untuk dipuji bergeser menjadi komitmen untuk jujur. Saat itulah sanjungan dan hinaan berdiri sejajar, bukan karena dunia menjadi lebih ramah, tetapi karena diri telah menjadi rumah yang aman. Dan mungkin, itulah bentuk kebebasan paling sederhana sekaligus paling langka: hidup tanpa, harus terus membela diri, tanpa harus terus membuktikan apa pun, karena kita akhirnya tahu, dan menerima, siapa diri kita sebenarnya.
Salam Ramadan



