RAMADAN (Musim atau Perubahan)
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati
Bandar lampung ( malahayati.ac.id )
Langit senja mulai meredup di atas halaman Pesantren. Cahaya jingga perlahan menghilang di balik pepohonan yang mengelilingi kompleks asrama. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah yang lembap setelah hujan sore tadi. Dari masjid tua di tengah pesantren terdengar lantunan ayat suci yang dibaca para santri setelah salat Magrib. Ramadan sudah memasuki penghujungnya. Sepuluh malam terakhir mulai dijalani, dan suasana di pesantren terasa lebih hidup dari biasanya.
Di serambi masjid, seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiai. Wajahnya tampak serius, seolah menyimpan banyak pertanyaan. Sementara itu sang kiai memegang tasbih, memandang halaman pesantren yang mulai dipenuhi santri yang berjalan membawa kitab masing-masing.
“Yai,” tanya santri itu pelan, “kenapa setiap menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan, pesantren terasa berbeda dari biasanya?”
Kiai tersenyum tipis. “Berbeda bagaimana maksudmu?”
“Rasanya lebih hidup,” jawab santri. “Masjid lebih ramai. Teman-teman yang biasanya cepat mengantuk sekarang malah kuat begadang. Bahkan yang biasanya jarang terlihat di pengajian tiba-tiba datang lebih awal.”
Kiai mengangguk perlahan. “Itu karena mereka mulai menyadari bahwa Ramadan hampir selesai. Waktu yang tersisa sedikit, sementara harapan mereka masih banyak.”
Santri itu menatap ke arah halaman pesantren yang mulai sepi. “Mereka berharap mendapatkan malam yang istimewa itu, ya Yai?”
“Benar,” jawab kiai. “Banyak orang memaknai bahwa di antara sepuluh malam terakhir ada satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu mereka berusaha memanfaatkan waktu yang tersisa.”
Santri itu tersenyum kecil. “Saya juga melihat beberapa teman membaca kitab suci hampir setiap waktu. Seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan satu halaman pun.”
“Ramadan memang punya kekuatan seperti itu,” kata kiai. “Bulan ini mampu membangunkan hati manusia. Orang yang biasanya jarang membaca kitab suci tiba-tiba ingin menamatkannya. Orang yang jarang berdoa menjadi lebih sering menengadahkan tangan.”
Santri itu tampak berpikir sejenak. Lalu ia berkata, “Tapi Yai, saya juga mendengar cerita dari kampung. Katanya menjelang hari raya justru banyak orang yang semakin sibuk berbelanja.”
Kiai tertawa kecil. “Itu juga kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri.”
“Mereka sibuk ke pasar, mencari pakaian baru, menyiapkan makanan untuk hari raya,” lanjut santri. “Bahkan ada yang lebih sering pergi ke pusat perbelanjaan daripada ke masjid.”
Kiai mengangguk pelan. “Manusia memang memiliki banyak kesibukan. Ada yang sibuk mengejar pahala, ada yang sibuk mengejar keuntungan, dan ada pula yang sibuk mengejar kesenangan.”
Santri itu kemudian bertanya, “Apakah itu berarti mereka salah, Yai?”
“Tidak selalu,” jawab kiai dengan tenang. “Mempersiapkan kebahagiaan untuk keluarga juga bagian dari kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah keseimbangannya. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita melupakan tujuan Ramadan.”
Santri itu menunduk sejenak. “Tujuan Ramadan adalah agar kita menjadi lebih baik, bukan?”
“Betul,” kata kiai. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia melatih kesabaran, kejujuran, dan kemampuan mengendalikan diri. Selama sebulan manusia belajar untuk menahan amarah, menjaga ucapan, dan memperbanyak kebaikan.”
Beberapa santri terlihat berjalan menuju masjid untuk mengikuti pengajian malam. Suara langkah mereka terdengar pelan di halaman yang mulai dipenuhi embun.
Santri itu kembali bertanya, “Yai, kalau selama Ramadan orang bisa berubah menjadi lebih baik, kenapa setelah Ramadan banyak yang kembali seperti semula?”
Kiai memutar tasbih di tangannya sebelum menjawab. “Karena sebagian orang menganggap Ramadan sebagai tujuan, bukan sebagai latihan.”
“Latihan?” tanya santri dengan heran.
“Ya,” kata kiai. “Ramadan itu seperti madrasah selama satu bulan. Di dalamnya manusia belajar mengendalikan diri, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak. Namun setelah bulan itu selesai, banyak orang yang melupakan pelajaran yang sudah mereka dapatkan.”
Santri itu mengangguk pelan, seolah mulai memahami.
“Coba kamu perhatikan,” lanjut kiai. “Selama Ramadan masjid penuh oleh orang yang ingin salat berjamaah. Kitab suci dibaca hampir setiap hari. Sedekah juga lebih sering diberikan. Tetapi setelah bulan itu berlalu, semua perlahan kembali seperti semula.”
Santri itu menghela napas kecil. “Masjid kembali sepi, ya Yai.”
“Begitulah sering terjadi,” jawab kiai.
Santri itu menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. “Berarti ujian sebenarnya justru datang setelah Ramadan selesai.”
Kiai tersenyum. “Kamu mulai mengerti.”
“Jika seseorang hanya rajin beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelahnya, berarti Ramadan belum benar-benar mengubah dirinya.”
Santri itu terdiam beberapa saat, lalu berkata pelan, “Saya ingin Ramadan tahun ini tidak berlalu begitu saja, Yai.”
“Bagus,” kata kiai. “Keinginan itu adalah langkah awal.”
“Tapi bagaimana cara menjaga semangat itu setelah Ramadan?” tanya santri.
Kiai menjawab dengan lembut, “Mulailah dari hal-hal kecil. Jika selama Ramadan kamu terbiasa membaca beberapa halaman kitab suci setiap hari, cobalah mempertahankannya walaupun tidak sebanyak sebelumnya. Jika kamu terbiasa salat berjamaah di masjid, jangan langsung meninggalkannya.”
Santri itu mengangguk mantap.
“Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan konsisten,” lanjut kiai.
Suasana malam semakin tenang. Dari dalam masjid terdengar suara santri yang mulai membaca kitab bersama-sama.
Santri itu berdiri perlahan. “Terima kasih, Yai. Saya akan mencoba menjaga pelajaran Ramadan, bukan hanya selama bulan ini.”
Kiai tersenyum sambil terus memutar tasbih di tangannya.
“Pergilah ke masjid,” katanya. “Malam masih panjang. Gunakan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya.”
Santri itu berjalan menuju masjid bersama teman-temannya. Sementara itu sang kiai tetap duduk di serambi, memandang langit Ramadan yang tenang.
Dalam hatinya ia berharap para santri tidak hanya menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan, tetapi juga mampu menjaga cahaya Ramadan dalam kehidupan mereka setelah bulan suci itu berlalu.
Salam Lailatul Qadar.


