Agility, Personal Branding, dan Kesiapan Karier Digital di Era Bisnis Modern with HALOCA

Bandar lampung ( malahayati.ac.id ) – Salah satu rangkaian kegiatan MaXFAIR 2026, kegiatan literasi dan pengembangan kompetensi mahasiswa yang diselenggarakan di Graha Bintang Universitas Malahayati Bandar Lampung menjadi salah satu wadah penting dalam meningkatkan wawasan praktis mahasiswa, khususnya dalam menghadapi dinamika dunia kerja modern. Pada sesi ini, hadir narasumber dari HALOCA, yaitu Annisya Reskyla Izzati, yang membawakan materi terkait adaptabilitas, personal branding, serta strategi membangun karier digital yang sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Jalannya kegiatan dipandu oleh moderator .Icha Septiani yang mampu menghidupkan suasana diskusi sehingga interaksi antara pemateri dan peserta berlangsung secara aktif dan komunikatif.

Dalam pemaparannya, Annisya Reskyla Izzati menjelaskan bahwa persaingan di dunia kerja modern tidak lagi hanya berfokus pada indeks prestasi kumulatif (IPK) semata, tetapi lebih kepada bagaimana seorang calon profesional mampu membangun identitas diri yang kuat (personal branding). Hal ini berarti mahasiswa harus mampu mengenali potensi unik, nilai diri, serta keahlian spesifik mereka sebelum menawarkannya ke pasar industri. Pendekatan ini menjadi dasar utama dalam menarik perhatian para perekrut kerja di era digital.

Salah satu metode yang diperkenalkan dalam sesi ini adalah metode membangun branding yang autentik berbasis digital. Metode ini menekankan pentingnya memanfaatkan platform profesional seperti LinkedIn secara aktif, menyusun portofolio digital yang terstruktur, serta konsisten membagikan konten yang relevan dengan bidang keahlian yang ditekuni. Dengan penerapan metode ini, mahasiswa dapat membangun jejaring (networking) yang lebih luas serta meningkatkan nilai tawar mereka di mata perusahaan nasional maupun global.

 

Selain itu, pemateri juga membahas prinsip-prinsip penting dalam memiliki kelincahan berpikir dan bertindak (career agility), di antaranya adalah konsep continuous learning atau belajar sepanjang hayat. Dalam proses berkembang, mahasiswa diingatkan untuk tidak cepat puas dengan ilmu yang didapat di bangku perkuliahan, melainkan harus terus mengeksplorasi tren teknologi terbaru dan dinamika bisnis yang sedang berkembang. Kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi menjadi fondasi utama dalam menjaga relevansi karier di masa depan.

Materi berikutnya yang disampaikan adalah mengenai teknik menghadapi proses seleksi kerja digital, atau yang dikenal dengan digital recruitment. Pemateri menjelaskan beberapa strategi yang dapat digunakan, seperti optimalisasi CV dengan format ATS-friendly (Applicant Tracking System), yaitu teknik menyusun resume menggunakan kata kunci khusus agar mudah terbaca oleh sistem penyaringan otomatis perusahaan. Kemudian terdapat teknik star method (Situation, Task, Action, Result) dalam menjawab pertanyaan wawancara kerja untuk mempermudah penyampaian pengalaman kerja atau organisasi secara sistematis dan berbasis dampak nyata.

Tidak hanya itu, pemateri juga menekankan pentingnya melakukan pengembangan soft skills, seperti kecerdasan emosional, kemampuan memecahkan masalah (problem solving), dan komunikasi efektif. Dijelaskan bahwa sebagian besar keberhasilan seorang pemimpin masa depan (future leader) justru ditentukan oleh seberapa baik mereka berkolaborasi dalam tim dan mengelola konflik. Oleh karena itu, keterlibatan aktif dalam organisasi kemahasiswaan atau proyek independen menjadi faktor penting dalam mengasah keterampilan interpersonal ini sebelum benar-benar terjun ke dunia industri.

Lebih lanjut, peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya membangun ketahanan mental (grit) dalam berkarier. Keberhasilan karier tidak terbentuk secara instan, melainkan dari konsistensi, ketangguhan menghadapi kegagalan, dan kemauan untuk menerima umpan balik (feedback) yang konstruktif untuk perbaikan diri yang berkelanjutan.

Pemateri juga menjelaskan indikator keberhasilan dalam tahap awal pengembangan karier, seperti jumlah portofolio yang diselesaikan, sertifikasi kompetensi yang diraih, hingga efektivitas komunikasi dalam wawancara kerja. Indikator-indikator ini menjadi alat ukur bagi mahasiswa dalam menilai sejauh mana kesiapan mereka sebelum memasuki bursa kerja yang sesungguhnya.

Di akhir sesi, Annisya Reskyla Izzati memberikan motivasi kepada seluruh peserta di Graha Bintang agar terus menumbuhkan jiwa kepemimpinan (Born to Lead) sesuai dengan semangat acara MaXFAIR 2026. Ditekankan bahwa tantangan di era bisnis yang dinamis bukanlah hambatan, melainkan peluang emas bagi mereka yang memiliki persiapan matang, konsistensi, serta keberanian untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mahasiswa Universitas Malahayati tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga wawasan praktis dan taktis langsung dari praktisi HALOCA. Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen institusi dalam mempersiapkan generasi muda yang kompeten, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin masa depan di industri global.

Editor : Cfz