Mati Berendak

Sudjarwo 

Guru Besar Universitas Malahayati

Pada pergaulan masyarakat Pasemah, Lahat, Pagaralam, dan kawasan sekitarnya, terdapat ungkapan yang sederhana tetapi mengandung lapisan makna yang dalam: “mati berendak”. Ungkapan ini sering terlontar ketika seseorang terus-menerus menginginkan sesuatu, memaksa agar keinginannya dipenuhi, sementara keadaan tidak memungkinkan untuk mewujudkannya.

Dalam kehidupan keluarga, misalnya, seorang anak menangis, merengek, bahkan berguling-guling meminta sesuatu kepada orang tuanya. Keinginan itu mungkin bukan sesuatu yang buruk, tetapi keadaan ekonomi keluarga sedang tidak memungkinkan.

Orang tua yang merasa sedih sekaligus tidak berdaya kadang mengucapkan, “mati berendak ” bukan sebagai kutukan, melainkan sebagai ungkapan terhadap keinginan yang terus dipaksa meskipun kenyataan tidak menyediakan jalan untuk memenuhinya.

Di balik ungkapan itu tersimpan sebuah pelajaran tentang hubungan antara keinginan dan kenyataan. Tidak semua yang diinginkan dapat segera diperoleh. Ada batas yang ditentukan oleh kemampuan, kesempatan, dan keadaan. Ketika keinginan tumbuh lebih besar daripada kemampuan untuk memenuhinya, maka lahirlah kekecewaan.

Jika kekecewaan itu terus dipelihara, ia berubah menjadi kemarahan. Dan ketika kemarahan menjadi cara utama dalam menghadapi kenyataan, seseorang akan kehilangan kemampuan untuk memahami situasi yang sebenarnya.

Kisah sederhana tentang seorang anak yang menangis meminta sesuatu dapat menjadi cermin bagi keadaan yang lebih besar. Apa yang terjadi dalam ruang keluarga sering kali juga terjadi dalam ruang sosial dan kehidupan berbangsa. Masyarakat, seperti halnya anak yang menginginkan sesuatu, memiliki banyak harapan.

Harapan akan kesejahteraan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih layak, pelayanan yang lebih cepat, harga kebutuhan yang lebih terjangkau, pendidikan yang lebih bermutu, dan berbagai keinginan lainnya. Semua itu wajar karena harapan adalah bagian dari kehidupan.

Namun persoalan muncul ketika harapan berkembang menjadi tuntutan yang tidak lagi memperhitungkan kenyataan. Setiap masalah diharapkan selesai seketika. Setiap kekurangan dituntut hilang dalam waktu singkat. Setiap perubahan diharapkan terjadi tanpa proses.

Padahal kehidupan, baik dalam keluarga maupun dalam negara, tidak pernah bergerak dengan cara seperti itu. Ada keterbatasan sumber daya, ada hambatan struktural, ada persoalan lama yang membutuhkan waktu untuk diperbaiki. Kenyataan sering kali jauh lebih rumit daripada yang tampak di permukaan.

Pada situasi seperti itulah makna mati berendak menjadi relevan. Ia menggambarkan keadaan ketika keinginan terus dipaksakan tanpa kesediaan memahami batas-batas yang ada. Akibatnya, yang muncul bukan lagi upaya mencari jalan keluar, melainkan sekadar ledakan emosi.

Orang menjadi lebih sibuk menunjukkan kekecewaan daripada mencari kemungkinan perbaikan. Keinginan yang tidak terpenuhi dianggap sebagai bukti bahwa segala sesuatu telah gagal, padahal sering kali masalahnya terletak pada jarak antara harapan dan kenyataan.

Di era sekarang, fenomena ini mudah ditemukan. Banyak orang menghendaki perubahan yang cepat, tetapi tidak selalu siap menjalani proses yang panjang. Banyak yang menginginkan hasil, tetapi kurang tertarik pada tahapan yang harus dilalui.

Ketika harapan tidak segera terwujud, muncul kemarahan yang meluas. Media sosial menjadi ruang tempat berbagai kekecewaan dilontarkan setiap hari. Kadang kritik yang disampaikan memang memiliki dasar yang kuat, tetapi tidak jarang pula kritik lahir dari ketidaksabaran menghadapi kenyataan yang kompleks.

Padahal dalam kehidupan, ada perbedaan antara harapan yang diperjuangkan dan keinginan yang dipaksakan. Harapan yang diperjuangkan mendorong seseorang bekerja lebih keras, berpikir lebih jernih, dan mencari solusi yang mungkin dilakukan.

Sebaliknya, keinginan yang dipaksakan sering kali hanya melahirkan rasa kecewa ketika kenyataan tidak sesuai dengan bayangan. Di sinilah pesan budaya yang terkandung dalam ungkapan mati berendak menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa tidak semua hal dapat dipenuhi hanya dengan desakan dan kemarahan.

Karena itu, mati berendak tidak seharusnya dipahami sebagai ejekan terhadap orang yang memiliki keinginan. Ungkapan ini lebih tepat dibaca sebagai peringatan agar keinginan tidak berubah menjadi tuntutan yang kehilangan akal sehat. Ia mengajarkan pentingnya memahami situasi sebelum melampiaskan kekecewaan.

Ia mengingatkan bahwa kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan dalam menghadapi kenyataan. Kalau dia pemimpin bukan dengan cara gebrak-gebrak podium untuk memaksakan kehendaknya, karena masyarakat akan berkata sambil meninggalkannya dengan ucapan mati berendak.

Kehidupan selalu berada di antara dua hal: apa yang kita inginkan dan apa yang mampu kita capai. Jarak di antara keduanya sering kali menimbulkan ketegangan. Namun jika setiap ketegangan hanya dijawab dengan tangisan, kemarahan, atau keluhan, maka tidak akan ada jalan keluar yang ditemukan.

Kearifan yang tersimpan dalam ungkapan mati berendak mengajak kita untuk melihat kenyataan dengan lebih jernih. Sebab tidak semua keinginan dapat dipenuhi saat ini, tetapi hampir semua harapan dapat diperjuangkan jika disertai kesabaran, pengertian, dan kemauan untuk menghadapi kenyataan sebagaimana adanya secara bersama dan saksama. (*)