Pernesan
Bahasa daerah sering kali menyimpan kearifan yang tidak mudah diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu istilah yang hidup dalam keseharian masyarakat Palembang adalah “pernesan”. Terjemahan bebasnya mungkin mendekati senda gurau, canda, atau kelakar.
Namun sesungguhnya, pernesan memiliki makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar humor, melainkan cara berbicara yang mengandung unsur kelucuan, sindiran, permainan kata, bahkan kadang dilebih-lebihkan untuk mencairkan suasana.
Dalam lingkungan pergaulan sehari-hari, pernesan adalah perekat hubungan sosial. Orang yang pandai pernesan sering dianggap ramah, akrab, dan mampu menghadirkan kegembiraan.
Namun, setiap budaya selalu mengenal ruang dan batas. Tidak semua tempat cocok dijadikan panggung untuk bercanda. Ada situasi yang menuntut kesungguhan, ketegasan, dan kewibawaan.
Dalam acara resmi, terlebih ketika seorang pemimpin berbicara kepada rakyat, yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan menghibur, melainkan kemampuan membangun kepercayaan.
Pada ruang seperti itulah pernesan kehilangan tempatnya. Bukan karena humor adalah sesuatu yang buruk, melainkan karena konteks menuntut sikap yang berbeda.
Seorang pemimpin memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menciptakan suasana cair. Setiap kata yang diucapkannya akan ditafsirkan sebagai arah kebijakan, sebagai pesan moral, bahkan sebagai cerminan keseriusan dalam mengelola negara.
Ketika persoalan yang dihadapi masyarakat menyangkut harga kebutuhan pokok, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesehatan, atau penegakan hukum, rakyat berharap mendengar penjelasan yang lugas, solusi yang jelas, dan komitmen yang meyakinkan.
Di tengah harapan seperti itu, terlalu banyak pernesan justru dapat menghadirkan kesan bahwa persoalan besar diperlakukan sebagai bahan candaan.
Muruah seorang pemimpin tidak lahir dari jabatan semata. Muruah dibangun oleh sikap, pilihan kata, dan kemampuan menempatkan diri sesuai keadaan. Pemimpin boleh tersenyum, boleh memiliki selera humor, bahkan sesekali mencairkan suasana. Akan tetapi, ketika humor menjadi lebih dominan daripada substansi, maka pesan yang seharusnya diterima masyarakat menjadi kabur.
Rakyat akhirnya lebih mengingat kelakar daripada isi pidato. Yang tersisa bukan keyakinan terhadap arah bangsa, melainkan kebingungan mengenai keseriusan pemerintah dalam menghadapi berbagai persoalan.
Fenomena seperti ini patut menjadi bahan renungan. Kehidupan berbangsa tidak sedang berlangsung di atas panggung hiburan. Negara adalah organisasi besar yang mengelola jutaan kepentingan, berbagai tantangan ekonomi, dinamika politik, serta harapan masyarakat yang terus berkembang.
Dalam kondisi demikian, komunikasi publik seharusnya menjadi instrumen yang menumbuhkan optimisme sekaligus rasa percaya. Ketika komunikasi justru dipenuhi pernesan yang berlebihan, sebagian masyarakat dapat menafsirkan bahwa masalah yang mereka hadapi tidak memperoleh perhatian yang semestinya.
Masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki tradisi yang sangat menghargai etika berbicara. Dalam berbagai budaya Nusantara dikenal pepatah bahwa kata-kata adalah cermin diri. Bahkan pada budaya jawa ada adagium yang mengatakan “aji ning diri kuwi ono lati”; terjemahan bebasnya harga diri seseorang itu ada pada ucapannya.
Orang yang mampu menempatkan ucapan sesuai waktu dan tempat dianggap memiliki kebijaksanaan. Sebaliknya, mereka yang tidak mampu membedakan ruang bercanda dan ruang resmi sering kali dipandang kurang arif. Karena itu, penggunaan pernesan yang berlebihan dalam pidato kenegaraan bukan sekadar buruknya persoalan gaya komunikasi, melainkan juga menyangkut penghormatan terhadap nilai-nilai kepemimpinan.
Bukan berarti seorang pemimpin harus selalu berbicara dengan wajah tegang dan tanpa senyum. Humor yang proporsional tetap memiliki tempat sebagai pemecah kebekuan dan pendekatan kepada masyarakat. Namun humor harus menjadi pelengkap, bukan inti.
Ia hadir sesekali untuk menghidupkan suasana, bukan untuk menggantikan substansi. Pidato yang baik adalah pidato yang meninggalkan keyakinan, bukan sekadar tawa. Sebab tawa hanya bertahan sesaat, sedangkan kepercayaan dibangun melalui konsistensi antara ucapan dan tindakan.
Di tengah berbagai tantangan yang sedang dihadapi negeri ini, masyarakat semakin membutuhkan kepastian, keteladanan, dan komunikasi yang jujur. Rakyat ingin diyakinkan bahwa setiap persoalan dipahami secara serius dan setiap kebijakan disusun dengan pertimbangan yang matang.
Jika ruang-ruang resmi justru dipenuhi pernesan, maka pertanyaan yang muncul menjadi wajar: apakah urusan sebesar mengelola negara dapat diselesaikan dengan senda gurau? Tentu jawabannya tidak. Negara membutuhkan pemikiran yang jernih, kebijakan yang cermat, dan komunikasi yang mencerminkan tanggung jawab.
Pernesan tetaplah bagian indah dari khazanah budaya Palembang. Ia layak dipelihara sebagai ekspresi keakraban dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, sebagaimana setiap nilai budaya yang bijaksana, pernesan pun mengenal batas.
Ketika memasuki ruang kepemimpinan dan kenegaraan, yang lebih dibutuhkan adalah kewibawaan, kebijaksanaan, serta kemampuan menghadirkan harapan melalui kata-kata yang berbobot. Sebab masa depan sebuah bangsa tidak dibangun oleh kelakar apalagi pernesan, melainkan oleh kesungguhan dalam berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab.



