Ketika Emosi Mendahului Nalar

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Beberapa waktu lalu ada seorang wakil rakyat yang katanya “terhormat” ucapannya melecehkan, bahkan melukai hati profesi tertentu. Setelah “dirujak” warganet ia buru-buru melakukan klarifikasi dan meminta maaf.

Tokoh itu tidak mau belajar dari nasib teman-temannya yang beberapa waktu lalu rumah dan profertinya dijarah massa. Kondisi ini seolah kita melihat sebuah cermin besar tentang manusia seperti ini, yaitu “ngamuk dulu baru mikir.”

Fenomena ini bukan sekadar masalah komunikasi atau etika politik, melainkan soal filsafat manusia: tentang bagaimana emosi, ego, dan kesadaran moral bergumul dalam diri setiap individu yang diberi kekuasaan ataupun otoritas.

Manusia, dalam pandangan filsafat klasik hingga kontemporer, selalu hidup di antara dua kutub: rasionalitas dan impulsivitas. Kita diajari sejak kecil bahwa berpikir sebelum berbicara adalah kebijaksanaan dasar, tetapi pada kenyataannya, insting sosial kita, seperti keinginan dianggap benar, dihormati, atau superior; sering memaksa kita untuk berbicara tanpa refleksi.

Dalam konteks jabatan publik, efek dari ketidaksiapan berpikir ini tidak hanya menimpa diri sendiri, melainkan juga masyarakat yang mendengarkan. Sebuah kalimat yang merendahkan profesi tertentu menunjukkan minimnya pengakuan terhadap nilai pengetahuan, sekaligus mengungkap betapa rapuhnya struktur kesadaran seseorang ketika berhadapan dengan tekanan atau sorotan publik.

Filsafat manusia memandang kata-kata bukan sekadar bunyi, melainkan ekspresi interior seseorang. Saat seseorang meremehkan keahlian tertentu, yang tampak bukan hanya kesalahan logika, tetapi juga bias yang lebih dalam: kecenderungan memandang dunia secara sederhana, seolah-olah semua pengetahuan sama dan dapat dipertukarkan tanpa konsekuensi. Padahal, profesi seperti ahli gizi berdiri di atas landasan ilmiah, etika kesehatan, dan tanggung jawab terhadap kehidupan manusia. Meremehkan profesi tersebut sama dengan meremehkan warisan pengetahuan yang dibangun selama puluhan tahun melalui riset dan praktik. Tentu bagi yang masuk golongan “ngamuk dulu baru mikir”; otaknya tidak sampai pada tataran ini berpikirnya.

Namun momen koreksi publik yang berujung permintaan maaf juga membuka sisi lain dari kemanusiaan: kemampuan untuk mengakui kesalahan. Dalam filsafat eksistensial, pengakuan salah merupakan momentum kesadaran; momen ketika seseorang menyadari bahwa dirinya bukan entitas sempurna dan bahwa tindakannya memiliki dampak pada dunia di luar dirinya.

Masalahnya, permintaan maaf sering muncul bukan karena kesadaran mendalam, melainkan karena desakan sosial, takut kehilangan jabatan dan penghasilan. Ketika kritik ramai berdatangan, terutama di ruang digital, manusia cenderung kembali mencari perlindungan, dan permintaan maaf menjadi pelampung darurat. Di sini muncul pertanyaan filosofis: apakah permintaan maaf itu lahir dari kesadaran moral atau sekadar mekanisme bertahan?

Fenomena ini memperlihatkan pola umum dalam kehidupan berbangsa: kita masih hidup dalam budaya reaktif, bukan reflektif. Budaya yang mengutamakan kecepatan respons, bukan kedalaman makna.

Ketika pejabat berbicara tanpa menimbang, masyarakat mengamuk tanpa memisahkan kritik dari kebencian, dan media sosial memperbesar semuanya dalam hitungan detik. Dalam pandangan filsafat manusia, ini menunjukkan bahwa kita masih sering bergerak di bawah komando emosi, bukan akal budi. Kita belum benar-benar mencapai tahap “manusia rasional” sebagaimana diidealkan para filsuf klasik.

Meski demikian, setiap kekacauan verbal yang terjadi di ruang publik sebenarnya dapat menjadi peluang pembelajaran kolektif. Kita bisa melihatnya sebagai momen untuk memahami bahwa otoritas tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Jabatan tidak serta merta menanamkan kapasitas refleksi.

Kebijaksanaan adalah keterampilan yang harus dilatih, bukan atribut bawaan. Ketika seseorang di posisi publik salah bicara, kita diingatkan bahwa manusia selalu berada dalam proses menjadi; bahwa kesalahan adalah bagian dari perkembangan moral, meski konsekuensinya berbeda tergantung posisi sosialnya.

Kita juga belajar bahwa ilmu pengetahuan membutuhkan pembelaan yang terus-menerus.

Profesi apa pun yang berdiri di atas fondasi keilmuan tidak boleh dikecilkan oleh opini sembrono. Ketika sebuah profesi diremehkan, itu adalah pengingkaran terhadap kerja panjang manusia memahami dunia dan dirinya sendiri. Dari sudut pandang filsafat humanistik, menghormati profesi berarti menghormati martabat manusia yang bekerja di dalamnya.

Pada akhirnya, momen ini mengajari kita bahwa penggunaan akal budi memerlukan jeda.

Jeda untuk berpikir, merenung, dan mempertimbangkan dampak. “Ngamuk dulu baru mikir” bukan hanya refleksi kebiasaan seorang individu, tetapi gejala budaya yang lebih luas. Jika kita ingin kehidupan publik yang lebih sehat, semua pihak; pejabat, masyarakat, dan media harus belajar membangun jeda itu. Sebab hanya melalui jeda, kita bisa menghidupkan kembali kemampuan paling manusiawi: berpikir sebelum bertindak, menimbang sebelum menilai, dan berbicara dengan kesadaran bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk membangun atau merusak.

Dalam jeda itulah kemanusiaan menemukan kembali kualitas terbaiknya. Tanpa jeda, kita hanya menjadi makhluk yang terseret emosi, reaktif, dan terus mengulang kesalahan yang sama. Dengan jeda, kita berpeluang menjadi manusia yang lebih matang; yang tidak hanya pandai meminta maaf, tetapi juga mampu mencegah kata-kata yang tak semestinya keluar sejak awal dari mulut kita. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly

Prodi S1 Akuntansi UNMAL Gelar Kuliah Umum Enterpreneur Bertema “Unlock Your Future: Kenali Potensimu, Pilih Jalurmu”

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi Akuntansi Universitas Malahayati mengadakan Kuliah Umum Enterpreneur bertema “Unlock Your Future: Kenali Potensimu, Pilih Jalurmu” pada Kamis, 20 November 2025, bertempat di Gedung Graha Bintang Universitas Malahayati.  Acara ini dihadiri oleh Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan, Wakil Rektor IV Drs. Suharman, M.Pd., M.Kes, para Dekan, dosen, narasumber inspiratif, serta ratusan mahasiswa.

Acara dibuka dengan sambutan penuh motivasi yang menekankan pentingnya kesiapan generasi muda menghadapi perubahan global. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Prof. Dr. Dessy Hermawan menyampaikan bahwa penguatan jiwa kewirausahaan merupakan langkah strategis untuk membangun kemandirian mahasiswa.

“Kegiatan seperti ini sangat penting untuk membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih adaptif dan kreatif. Dunia berubah sangat cepat dan kita ingin mahasiswa Universitas Malahayati mampu menjadi generasi yang tangguh, inovatif, dan berani mengambil peluang,” ujar Prof. Dessy.

Sementara itu, Dekan Dr. Rahyono, S.Sos., MM, yang melihat kegiatan kuliah umum ini sebagai langkah nyata menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan.
“Kuliah umum ini menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk membuka wawasan mahasiswa. Mereka perlu disadarkan bahwa potensi diri harus diarahkan dengan benar agar dapat menjadi kekuatan besar dalam perjalanan karier mereka kelak,” tuturnya.

Kuliah umum ini tidak hanya mengajak mahasiswa mengenali potensi diri, tetapi juga menekankan bahwa entrepreneur bukan sekadar membuka usaha, melainkan membangun pola pikir kreatif, inovatif, dan berorientasi pada solusi.

Universitas Malahayati menegaskan komitmennya dalam mengembangkan kompetensi mahasiswa secara menyeluruh—baik akademik, soft skills, mentalitas kewirausahaan, maupun karakter kepemimpinan. Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi mahasiswa dalam merancang masa depan yang cerah dan penuh peluang.

Acara ditutup dengan apresiasi kepada panitia, narasumber, dan seluruh peserta yang berpartisipasi dalam menyukseskan kuliah umum ini.

kuliah umum ini bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangkitkan semangat mahasiswa untuk berani mengenali potensi diri dan menciptakan peluang di masa depan. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan memberi dampak positif bagi generasi penerus Universitas Malahayati. (fkr)

 

RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Terima 114 Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Malahayati untuk Praktik Klinik Selama Enam Pekan

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Program Studi S1 Keperawatan Universitas Malahayati kembali melaksanakan kegiatan penyerahan mahasiswa dan persamaan persepsi bagi 114 mahasiswa yang akan mengikuti Praktik Klinik Keperawatan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek. Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin, 17 November 2025, sebagai tahap awal sebelum para mahasiswa memasuki area praktik.

Sebanyak 114 mahasiswa tersebut akan menjalani praktik klinik dengan fokus pada Keperawatan Kritis dan Keperawatan Gawat Darurat selama enam pekan, yakni mulai 24 November 2025 hingga 4 Januari 2026. Program ini bertujuan memberikan pengalaman langsung di lapangan, khususnya pada pelayanan kesehatan berintensitas tinggi di rumah sakit rujukan utama Provinsi Lampung.

Pemilihan RSUD Dr. H. Abdul Moeloek sebagai wahana praktik didasarkan pada statusnya sebagai Rumah Sakit Pendidikan Tipe A, yang memiliki kelengkapan fasilitas, sarana, serta sumber daya manusia untuk mendukung pembelajaran klinik tingkat lanjut. Dengan perannya sebagai pusat rujukan tertinggi di Provinsi Lampung, rumah sakit ini menjadi lokasi ideal bagi mahasiswa untuk memperkuat kompetensi profesional dalam layanan kritis dan kegawatdaruratan.

Dalam sambutannya, Kaprodi S1 Keperawatan, Aryanti Wardiyah, Ns., M.Kep., Sp.Kep.Mat, menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam menunjang kualitas lulusan.

“Praktek Klinik Keperawatan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek menjadi wahana strategis untuk memastikan mahasiswa kami mendapatkan pengalaman riil di lingkungan pelayanan kesehatan tingkat lanjut. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari kerja sama dengan mitra dalam negeri, khususnya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Harapannya, mahasiswa dapat mengasah kompetensi klinik secara optimal, profesional, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” ujarnya.

Sebagai institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen terhadap peningkatan mutu lulusan, Program Studi S1 Keperawatan Universitas Malahayati terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Kerja sama ini diharapkan mampu mendukung pencapaian lulusan yang unggul, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata dalam pelayanan keperawatan kritis dan kegawatdaruratan di berbagai tatanan kesehatan.

Praktik klinik ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa untuk masuk ke lingkungan pelayanan nyata, menguji kompetensi, serta menyiapkan diri menjadi perawat profesional yang siap menghadapi tantangan di dunia kesehatan. (fkr)

Prabu Tremboko

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Senja menyelimuti Balairung Pringgadani. Prabu Tremboko berbadan wadak raksasa, tetapi berjiwa ksatria; duduk di singgasana, menatap halaman yang mulai gelap. Abdi tua mendekat dengan langkah perlahan.
“Baginda, tampak ada kegelisahan di wajah Baginda hari ini,” ucap abdi itu.
“Aku Raja Pringgadani,” kata Prabu Tremboko lirih. “Aku menjaga rakyat, menata kerajaan, menegakkan hukum… tapi mengapa hatiku masih terasa hampa?”
Abdi tua menunduk. “Mungkin Baginda mencari jawaban di luar diri. Kekuasaan, istana, dan rakyat tak selalu memberi kedamaian.”
Prabu menatap langit senja. “Benar. Aku memerintah, tetapi setiap keputusan meninggalkan tanya. Apakah aku benar-benar memahami diriku sendiri, atau hanya mengikuti bayangan tanggung jawab?”
“Manusia memang begitu, Baginda,” sahut abdi tua. “Yang terlihat sering menipu, yang tak terlihat justru menuntut perhatian. Hati yang tenang lahir dari keberanian menatap diri sendiri.”

Prabu tersenyum pahit. “Kalau begitu, menjadi raja bukan soal menguasai kerajaan, tetapi tentang memahami diri, menerima batas, dan tetap berusaha memberi makna pada hidup.”
Abdi tua mengangguk. “Perjalanan itu tak pernah usai, Baginda. Selama ada pertanyaan, ada kehidupan.”

Mereka berdua duduk dalam keheningan, sementara Balairung Pringgadani diterangi cahaya senja, menjadi saksi perjalanan batin seorang raja yang juga manusia.

Kisah tentang Prabu Tremboko dapat dibaca sebagai cermin perjalanan manusia dalam memahami dirinya sendiri. Sosok ini bukan sekadar raja atau pemimpin dalam cerita, melainkan simbol tentang bagaimana manusia bergulat dengan waktu, kekuasaan, dan keterbatasan diri. Dalam setiap langkahnya, terpampang tanya yang secara diam-diam hidup dalam diri setiap manusia: siapa aku, untuk apa aku ada, dan apa yang semestinya kulakukan dengan hidup yang singkat ini?

Prabu Tremboko digambarkan sebagai figur yang telah memikul beban waktu. Ia hidup dengan kesadaran bahwa segala sesuatu memiliki ujung, bahkan kekuasaan yang tampak abadi sekalipun. Kesadaran akan kefanaan itu menjadikan hidupnya ruang kontemplasi yang tidak pernah usai. Dalam perjalanan batinnya, ia menyadari bahwa manusia bukan hanya makhluk yang mampu memerintah atau membangun, tetapi juga makhluk yang selalu bertanya, meragukan, dan mencari makna.

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan kelemahan, melainkan penanda bahwa manusia dianugerahi kesadaran untuk mengasah kedalamannya.
Dalam kehidupan Prabu Tremboko, terlihat bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar memuaskan kegelisahan manusia. Ia dapat mengatur kerajaan, menata rakyat, dan menegakkan aturan, tetapi ia tetap dihantui perasaan bahwa ada sesuatu yang melampaui kemampuan tangannya. Di sinilah manusia, sebagaimana tercermin pada dirinya, bukan sekadar makhluk rasional, tetapi makhluk yang selalu merasa kurang lengkap. Ada ruang kosong dalam diri yang tidak bisa diisi oleh harta, jabatan, ataupun penghormatan. Ruang itu adalah tempat di mana manusia menyembunyikan ketakutannya akan kehilangan, harapannya akan masa depan, dan pencariannya terhadap sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya.

Dalam perjalanannya, tampak bahwa Prabu Tremboko mencoba memahami hubungan antara manusia dan waktu. Waktu adalah kekuatan yang tak dapat ditaklukkan, bahkan oleh seorang raja. Ia mengalir tanpa kompromi, membawa setiap manusia semakin dekat pada kesudahan. Namun waktu pula yang mengajarkan bahwa setiap pengalaman, sekecil apapun, memiliki nilai. Dalam cengkeraman waktu, manusia belajar memilih apa yang benar-benar penting. Dan bagi Prabu Tremboko, pentingnya bukan pada peninggalan fisik yang akan hilang dimakan zaman, tetapi pada jejak batin yang dapat diwariskan kepada mereka yang hidup setelahnya.

Kisahnya dapat dipandang sebagai upaya manusia memahami kebebasannya sendiri.
Manusia sering merasa terikat oleh keadaan, oleh masa lalu, oleh peran sosial yang membentuk hidup mereka. Namun kebebasan sejati bukan sekadar kemampuan melakukan apa yang diinginkan, melainkan keberanian untuk bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang dibuat. Prabu Tremboko menunjukkan bahwa kebebasan adalah ruang refleksi: ruang untuk bertanya pada diri sendiri apakah yang dilakukan selama ini benar-benar berasal dari suara hati, atau hanya bayang-bayang dari tuntutan sekitar.

Cermin eksistensial itu mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa berproses. Ia tidak pernah selesai; ia terus berubah, berkembang, dan terkadang hancur untuk kemudian bangkit kembali. Proses itu tidak selalu nyaman. Justru dalam ketidaknyamanan, manusia sering menemukan siapa dirinya sebenarnya. Prabu Tremboko menghadapi berbagai pertarungan batin, dan setiap pertarungan menjadi bukti bahwa manusia hanya dapat memahami dirinya melalui pergulatan, bukan melalui kenyamanan yang statis.

Kisahnya juga merangkum hubungan manusia dengan kekuasaan. Kekuasaan, betapapun besarnya, hanyalah ilusi kendali atas dunia. Manusia sering merasa dapat menata segala sesuatu, tetapi pada akhirnya harus mengakui batas yang tidak dapat ditembus. Namun batas itu bukanlah kelemahan; ia adalah panggilan untuk memahami bahwa manusia hidup tidak hanya dalam ruang duniawi, tetapi juga dalam ruang makna. Kekuasaan tanpa pemahaman atas makna hanya akan menjerumuskan manusia dalam kesia-siaan.

Pada akhirnya, Prabu Tremboko menjadi simbol dari perjalanan manusia menuju kedewasaan batin. Kedewasaan itu bukan tentang usia atau pengalaman luar, melainkan tentang sejauh mana seseorang dapat memahami dirinya, menerima keterbatasannya, dan tetap berusaha memberi makna pada hidupnya. Melalui dirinya, kita belajar bahwa manusia bukan hanya penonton dalam dunia, tetapi aktor yang harus mempertanggungjawabkan setiap lakon yang diperankannya.

Dalam renungannya yang panjang, Prabu Tremboko menyadari bahwa hidup manusia pada akhirnya adalah tentang meninggalkan cahaya, bukan warisan yang dapat diukur secara materi. Cahaya itu adalah pemahaman, kebijaksanaan, dan keberanian untuk terus mencari meski tidak ada kepastian. Dan dalam pencarian itulah manusia menemukan dirinya: bukan sebagai raja, bukan sebagai pemilik kekuasaan, tetapi sebagai makhluk yang sadar bahwa hidup adalah perjalanan menghadapi tanya yang tak pernah benar-benar selesai. Salam Waras (SJ)

Editor: Fadly

Ketenangan Dalam Ketidakpastian (Jangan Memaksa Tuhan)

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Saat selesai melaksanakan Sholat Subuh, seorang Santri menghampiri Kiainya, seraya berkata:

Santri: ..”Kiai, mengapa doa saya tak kunjung dikabulkan? Saya sudah berdoa setiap malam, dengan air mata dan keyakinan penuh. Apakah Alloh tidak mendengar saya?..”

Kiai sambil tersenyum khas, seraya menjawab: ..”Nak, Alloh maha mendengar, bahkan sebelum lidahmu bergetar. Tapi ingat, berdoa bukanlah cara untuk memaksa langit menuruti bumi”…

Santri tadi penasaran dan berkata: ..”Jadi saya tak perlu berharap, Kiai?”…

Kiai menjawab dengan bijak: …”Harapan itu perlu, tetapi jangan dijadikan tuntutan. Dalam doa, kita bukan sedang menawar takdir, melainkan menata hati agar ridha terhadap kehendak yang lebih bijak dari keinginan kita sendiri”…

Tampaknya dialog di atas jika diringkas dalam satu diksi menjadi; “Jangan memaksa Tuhan.” Ungkapan ini menyentuh sisi paling dalam dari relasi manusia dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ia bukan hanya peringatan moral atau nasihat religius, melainkan sebuah refleksi filosofis tentang batas-batas eksistensi manusia. Di dalamnya tersimpan pengakuan bahwa manusia hidup dalam keterbatasan, sementara ada kekuatan yang tak dapat dikendalikan oleh kehendak atau logikanya. Kalimat itu bukan sekadar larangan untuk menentang sesuatu yang sakral, tetapi seruan agar manusia menyadari posisinya di hadapan misteri kehidupan yang tidak tunduk pada keinginannya.

Dalam pandangan filsafat manusia, relasi antara manusia dan yang transenden selalu dipenuhi ketegangan. Di satu sisi, manusia memiliki akal dan kehendak yang membuatnya ingin memahami dan menguasai dunia. Ia mencari makna, berdoa, merancang masa depan, dan berusaha agar hidupnya sesuai dengan yang ia anggap benar atau adil. Namun di sisi lain, selalu ada sesuatu yang tak dapat dijelaskan: penderitaan yang datang tanpa alasan, keajaiban yang tak masuk akal, atau peristiwa yang menentang rencana terbaik sekalipun. Ketika manusia berhadapan dengan yang tak bisa dikontrol ini, ia sering kali tergoda untuk menuntut penjelasan, bahkan untuk memaksa makna agar sesuai dengan keinginannya. Di sinilah letak masalahnya: manusia lupa bahwa ia bukan pusat dari keseluruhan realitas.

Kesadaran untuk tidak memaksa Tuhan adalah bentuk tertinggi dari kerendahan hati intelektual dan eksistensial. Ia menuntut pengakuan bahwa ada batas pada kemampuan rasio dan kehendak manusia. Hidup tidak selalu dapat direncanakan, dan makna tidak selalu bisa ditemukan dengan segera. Dalam kesadaran ini, manusia tidak menyerah, tetapi berdamai dengan ketidakpastian. Ia tetap berusaha, tetap berdoa, tetap berpikir, namun tanpa mengklaim bahwa segala sesuatu harus mengikuti kehendaknya. Ia memahami bahwa kebebasan manusia selalu berjalan berdampingan dengan misteri yang tidak dapat ia kuasai.

Jika manusia terus-menerus memaksa Tuhan, memaksa kehidupan untuk tunduk pada rencananya; maka dia akan hidup dalam frustrasi abadi. Segala yang tidak berjalan sesuai keinginannya akan dianggap ketidakadilan, padahal bisa jadi justru di sanalah ruang bagi pertumbuhan batin. Dengan berhenti memaksa, manusia membuka diri terhadap pengalaman hidup yang lebih luas. Ia mulai melihat bahwa tidak semua peristiwa harus segera dimengerti, bahwa sebagian besar makna justru muncul setelah dilewati, bukan sebelum.

Ungkapan ini juga menyentuh dimensi etis dalam diri manusia. Ketika seseorang berhenti memaksa Tuhan, ia belajar untuk tidak memaksakan kehendaknya kepada sesama. Ia menyadari bahwa setiap individu memiliki jalan hidup yang unik, dan bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dikontrol oleh siapa pun. Ia menjadi lebih sabar terhadap perbedaan, lebih tenang dalam menghadapi kegagalan, dan lebih tulus dalam menerima keberhasilan. Kesadaran ini melahirkan kebijaksanaan: kemampuan untuk hidup dengan lapang di tengah ketidakpastian.

Pada dunia modern, sikap memaksa Tuhan dapat dilihat dalam bentuk yang lebih halus: obsesi untuk mengendalikan segala hal melalui teknologi, logika, dan sistem. Manusia ingin menghapus penderitaan, memperpanjang hidup, menaklukkan alam, bahkan menciptakan kesadaran buatan yang menyerupai dirinya sendiri. Semua ini menunjukkan dorongan eksistensial yang sama, yaitu keinginan untuk menjadi pusat dari ciptaan. Namun pada titik tertentu, manusia akan selalu dihadapkan pada batas: penyakit yang tak bisa disembuhkan, kehilangan yang tak bisa dijelaskan, misteri yang tak bisa direkayasa. Di sanalah kalimat “jangan memaksa Tuhan” kembali bergema, mengingatkan bahwa tidak semua yang ada harus berada dalam genggaman manusia.

Ketenangan sejati lahir bukan ketika manusia berhasil menguasai segalanya, melainkan ketika ia berdamai dengan ketidaktahuannya. Dengan menerima bahwa ada hal yang melampaui dirinya, manusia tidak menjadi lemah, tetapi justru menjadi utuh. Ia belajar untuk berharap tanpa menuntut, berjuang tanpa harus selalu menang, dan mencintai tanpa harus memiliki. Dalam ketidaktahuan itu, manusia menemukan ruang spiritual yang paling murni: ruang di mana ia bisa berbicara dengan yang transenden tanpa perlu memahami-Nya sepenuhnya.

Maka, “jangan memaksa Tuhan” bukanlah ajakan untuk pasrah secara pasif, melainkan undangan untuk hidup dengan kesadaran yang lebih dalam. Ia mengingatkan bahwa hidup adalah dialog antara kebebasan dan misteri, antara usaha dan penyerahan. Manusia bebas untuk memilih, berpikir, dan mencipta, tetapi ia juga harus tahu kapan harus berhenti dan membiarkan sesuatu berjalan apa adanya. Dalam batas itu, manusia menemukan kebijaksanaan, yaitu sebuah bentuk pengetahuan yang tidak lagi mencari kepastian, tetapi menerima ketidakpastian sebagai bagian dari keberadaan itu sendiri.

Akhirnya, yang dimaksud dengan tidak memaksa Tuhan adalah menerima bahwa hidup bukan proyek yang harus selesai, melainkan perjalanan yang terus berlangsung. Manusia tidak perlu memahami segalanya untuk dapat hidup dengan penuh. Ia hanya perlu menyadari bahwa sebagian dari makna kehidupan justru tersembunyi di balik apa yang tidak dapat dipaksa, di balik rahasia yang hanya bisa diterima dengan hening. Di situlah, manusia berhenti menjadi penguasa dan mulai menjadi penjelajah dari misteri yang tak bertepi. Salam Waras (SJ)

Editor: Fadly

Hening yang Menyempurna

Oleh: Sudjarwo

Guru Besar Universitas Malahayati Bandar Lampung

Dalam adegan terakhir Perang Baratayuda ada momen luar biasa. Peristiwa ini sering diberi muatan dakwah oleh para pendahulu melalui sikap berkesenian. Lengkap adegannya sebagai berikut: di Padang Kurusetra yang sunyi, Bima dan Yudistira berdiri menatap medan perang. Keduanya terlibat pembicaraan.

Bima: Kakanda, perang telah usai. Kita menang

Yudistira: Menang? Lihatlah, Bima. Kemenangan di atas kematian bukanlah kebahagiaan. Semua yang hidup kini terdiam tanpa napas.

Bima: Itulah hukum alam. Yang lahir pasti akan mati.

Yudistira: Benar. Tak ada yang abadi. Hidup hanyalah titipan singkat sebelum Allah menjemput kita pulang melalui suruhan-Nya.

Bima: Maka, jalani hidup dengan ketaatan, agar kematian datang tanpa penyesalan.

Yudistira: Engkau benar, Bima. Hidup berakhir, namun amal shalih tak akan hilang.

Mereka berdua menatap matahari tenggelam berwarna jingga. Apa pesan semua itu? Mari jelajahi dengan kedalaman hati.

Ada sebuah momen yang tidak pernah datang dengan tergesa, namun selalu pasti. Ia mendekat seperti senja yang menelan cahaya, pelan tapi tak terhindarkan. Manusia tahu tentangnya, namun jarang mau menatapnya. Bukan karena ia mengerikan, melainkan karena ia terlalu murni untuk dipahami oleh hati yang masih melekat pada dunia.

Dalam hening yang menyertai akhir dari segala gerak, tersimpan rahasia tertinggi tentang makna keberadaan. Di sanalah, segala bentuk kehilangan berubah menjadi kebebasan, dan segala yang tampak fana menemukan kepulangannya yang sejati.

Hidup adalah perjalanan yang tidak lain adalah serangkaian penyingkapan. Setiap langkah membawa manusia pada pemahaman baru tentang siapa dirinya. Dalam pencarian itu, ia terus berhadapan dengan batas: batas tubuh, waktu, dan makna. Ia berupaya melampaui semuanya, namun semakin jauh ia berjalan, semakin ia menyadari bahwa segala batas bukan untuk dilawan, melainkan untuk dimengerti. Karena justru di dalam keterbatasan itulah keabadian memperlihatkan dirinya secara halus, bukan sebagai sesuatu yang terpisah, melainkan sebagai napas yang menghidupi setiap detik yang berlalu.

Manusia hidup dalam gerak antara menahan dan melepaskan. Ia mencintai, namun sekaligus takut kehilangan. Ia berharap, etapi gentar terhadap perubahan. Dalam pertentangan itu, lahirlah penderitaan yang lembut namun abadi: keengganan untuk menerima bahwa segala sesuatu yang indah pada akhirnya harus pulang. Namun, bukankah keindahan justru lahir dari kefanaannya? Bukankah setiap bunga tampak lebih sempurna karena ia tidak mekar selamanya? Manusia yang memahami ini akan mulai melihat bahwa segala yang berlalu tidak pernah benar-benar hilang, akan tetapi dia hanya berganti wujud, berpindah dari yang kasat mata ke yang lebih dalam, dari bentuk menuju makna.

Kepulangan adalah hukum yang diam-diam mengatur semesta. Segala yang datang akan kembali, dan di dalam kembali itu tidak ada kehancuran, hanya penyempurnaan. Laksana sungai yang tidak kehilangan airnya ketika menyatu dengan laut, segala yang hidup tidak kehilangan dirinya ketika kembali kepada asalnya. Yang lenyap hanyalah batas-batas yang memisahkan, sedangkan yang sejati tetap berlangsung dalam keutuhan yang tak terbagi. Maka, apa yang tampak sebagai berakhir, sejatinya hanyalah bentuk tertinggi dari keberlangsungan; sebuah peralihan dari kepemilikan menuju kebebasan.

Manusia sering mengira bahwa kebebasan adalah kemampuan untuk memiliki, memilih, atau menguasai. Namun, kebebasan yang sejati justru terletak pada kemampuan untuk melepaskan. Selama manusia masih menggenggam, ia terikat; selama ia menolak berpisah, ia belum bebas. Hanya dalam pelepasanlah manusia menemukan dirinya sebagai bagian dari sesuatu yang lebih luas, sesuatu yang tidak lagi tunduk pada waktu dan bentuk. Dan ketika segala keterikatan itu luruh satu per satu, tersisa hanya kesadaran murni yang menatap keberadaan tanpa nama, tanpa jarak, tanpa keinginan untuk menjadi apa pun selain ada.

Dalam keheningan yang paling dalam, manusia mungkin akan mengerti bahwa perjalanan ini bukan tentang menambah, tetapi tentang mengurangi. Segala hal yang ia kumpulkan sepanjang hidup berupa ambisi, gelar, bahkan kenangan semua pada akhirnya hanyalah lapisan-lapisan yang menutupi inti dirinya. Ia menumpuk demi merasa utuh, namun justru kehilangan keutuhan sejatinya. Maka, proses pulang bukanlah kehilangan, melainkan penyingkapan. Ia seperti angin yang perlahan meniup debu dari cermin, hingga akhirnya bayangan diri yang sejati tampak dengan jernih.

Hening yang menyertai kepulangan bukan kehampaan, melainkan ruang bagi kebebasan untuk bernapas. Di sana tidak ada lagi waktu yang mendesak, tidak ada lagi keharusan untuk menjadi. Segala hal berada dalam keseimbangan yang sempurna, seperti embun yang menggantung di ujung daun sebelum jatuh menyatu dengan tanah. Dalam momen itu, keberadaan mencapai bentuk paling utuhnya; tidak lagi terpisah antara ada dan tiada, antara subjek dan objek. Segalanya menyatu dalam kesadaran yang tenang, seperti nada terakhir dari lagu yang indah: diam, tetapi bergema di kedalaman yang tak bertepi.

Barangkali inilah puncak dari seluruh pencarian manusia: bukan untuk memahami segalanya, melainkan untuk berdamai dengan yang tak terjelaskan. Sebab, ada hal-hal yang hanya dapat dipahami dengan diam. Dalam diam itu, manusia menemukan bahwa keberadaan tidak pernah berakhir, hanya bertransformasi. Ia tidak lenyap, melainkan kembali menjadi bagian dari irama besar yang dahulu melahirkannya. Di sanalah kebebasan sejati berdiam; bukan dalam teriakan kemenangan, melainkan dalam keheningan yang menyempurna.

Akhirnya, segala perjalanan manusia bermuara pada satu titik di mana kata-kata berhenti dan hanya pengertian yang tersisa. Tidak ada lagi “aku” dan “milikku”, tidak ada lagi “datang” dan “pergi”. Yang ada hanyalah keberlanjutan yang lembut, seperti napas yang berpindah dari dada manusia ke langit luas tanpa batas. Di sanalah, kebebasan mencapai makna tertingginya: bukan lagi sekadar kemampuan untuk memilih, tetapi keberanian untuk kembali, dengan hati yang telah mengerti bahwa tidak ada yang benar-benar berakhir. Dan, tidak ada satupun mahluk yang tidak akan “kembali” (Kullu nafsin dzaa’iqul maut). Salam Waras (SJ)

Editor: Fadly

Menyingkap Tirai Diri

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung

Di sebuah pesantren tua yang dikelilingi hamparan sawah hijau dan pepohonan rindang, senja turun perlahan. Langit berwarna jingga keemasan, dan sholat magrib baru saja berlalu, menyisakan keheningan yang dalam. Di serambi surau seorang santri muda duduk bersila di hadapan kiainya. Matanya redup, menatap tanah seolah mencari jawaban dari sesuatu yang tak terucap.
“Yai,” ucapnya perlahan, “aku belajar, berzikir, berdoa, tapi entah mengapa Allah terasa semakin jauh. Bukankah seharusnya aku semakin dekat?”
Sang kiai menatapnya lama, lalu tersenyum dengan sorot mata yang meneduhkan. “Nak,” katanya lembut, “Allah tidak pernah jauh, hanya hatimu yang berjalan menjauh karena engkau mencari di luar, bukan di dalam.”

Santri itu terdiam. Angin membawa suara daun bambu yang berdesir, seperti ikut berzikir bersama mereka. “Lalu, di mana aku harus mencari-Nya, Yai?” tanyanya lirih. Sang kiai memejamkan mata sejenak, lalu berkata pelan, “Carilah di dalam roso sejati. Ketika engkau benar-benar mengenal rasa yang paling dalam itu, engkau akan menemukan ada sejati — hakikat Allah yang bersemayam dalam dirimu sendiri.” Malam pun turun, dan dalam diam, sang santri merasa seolah baru saja membuka pintu menuju perjalanan batin yang sesungguhnya.

Santri tadi mendengarkan wejangan gurunya dengan takzim, yang jika kita sarikan wejangan itu sebagai berikut;
Dalam pandangan tasawuf, jalan menuju Tuhan bukan sekadar perjalanan menuju sesuatu di luar diri, melainkan perjalanan menembus lapisan diri yang semu hingga yang tersisa hanyalah hakikat. Diri manusia yang tampak, dengan segala hawa, keinginan, dan pikirannya, adalah bayangan dari sesuatu yang lebih hakiki. Ketika manusia hidup hanya di tataran bayangan itu, ia akan terjebak dalam keramaian wujud, dalam hiruk-pikuk dunia yang penuh bentuk, nama, dan perbedaan. Namun, ketika ia mulai mendengar getar halus dari dalam, itulah roso sejati; maka tirai-tirai mulai tersingkap satu demi satu.

Roso sejati bukanlah perasaan emosional atau dorongan batin yang sesaat. Ia adalah kesadaran murni yang lahir dari kejernihan jiwa. Dalam diam yang dalam, ketika segala hasrat duniawi terlepas, muncullah pengalaman roso sejati: kesadaran yang tidak menilai, tidak menuntut, dan tidak membeda-bedakan. Di titik itu, manusia tak lagi memandang Tuhan sebagai sesuatu yang jauh di luar dirinya, tetapi sebagai inti yang senantiasa hadir di dalam dirinya sendiri. Tuhan bukan objek pencarian, tetapi sumber keberadaan yang menyinari seluruh wujud.
Ada sejati, pada sisi lain, adalah hakikat dari segala yang ada. Ia bukan sesuatu yang bisa dipahami oleh rasio semata, sebab ia melampaui konsep dan bentuk. Pikiran hanya mampu menggambarkan bayangannya, tetapi tidak dapat menjangkau keberadaannya yang mutlak. Oleh karena itu, perjalanan menuju ada sejati tidak dapat dilakukan dengan berpikir semata, melainkan dengan mengalami yaitu; dengan membiarkan kesadaran menyatu dengan keberadaan tanpa sekat. Dalam kondisi demikian, subjek dan objek melebur; yang mengenal dan yang dikenal menjadi satu dalam keheningan makrifat.

Jalan ini tidak mudah, karena ia menuntut pembubaran ego. Ego adalah bayangan yang menutupi cermin hati, membuat manusia melihat dirinya terpisah dari Tuhan. Selama ego masih menjadi pusat kesadaran, roso sejati tak akan muncul. Namun, ketika ego meleleh dalam cahaya kesadaran, manusia akan menyadari bahwa dirinya tidak lain adalah pancaran dari ada sejati. Segala yang ada bukanlah “lain”, melainkan manifestasi dari satu sumber yang sama. Dari kesadaran inilah lahir makrifat; pengetahuan langsung yang tidak diperoleh dari berpikir, tetapi dari penyatuan.

Makrifat adalah titik pertemuan antara roso sejati dan ada sejati. Ia bukan hasil belajar, tetapi hasil pengosongan. Ketika pikiran diam, ketika hati jernih, maka kebenaran itu menyingkap dirinya sendiri. Seperti mata air yang tidak pernah kering, roso sejati senantiasa mengalir dari sumber ada sejati. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan yang fana dengan yang abadi. Dalam pengalaman makrifat, manusia tidak lagi merasa menjadi pencari, karena yang dicari ternyata adalah dirinya sendiri dalam dimensi terdalam keberadaan.

Dalam kesadaran roso sejati, seluruh perbedaan luluh. Baik dan buruk, tinggi dan rendah, luar dan dalam; semuanya kehilangan maknanya di hadapan keutuhan ada sejati. Manusia menyadari bahwa segala bentuk adalah permainan dari keberadaan yang satu. Dari sinilah lahir cinta yang sejati, bukan sebagai emosi yang bergelora, tetapi sebagai penerimaan total terhadap segala wujud sebagai pancaran dari Tuhan. Cinta menjadi bentuk tertinggi dari makrifat, sebab di dalamnya tak ada lagi “aku” dan “Engkau”; yang ada hanyalah satu kehadiran yang tak terpisah.

Perjalanan ini menuntut keberanian untuk hening di tengah hiruk-pikuk, untuk melihat ke dalam ketika dunia menyeret ke luar. Dalam hening itu, manusia menemukan bahwa Tuhan tidak datang dari luar sebagai cahaya yang menyinari, melainkan sebagai cahaya yang selama ini berdiam dalam diri, menunggu disingkap. Roso sejati adalah kunci untuk membuka tirai itu, dan ketika tirai tersingkap, yang tampak hanyalah ada sejati, yaitu hakikat yang selama ini dicari di luar, padahal bersemayam di inti kesadaran.

Dengan demikian, ada sejati dan roso sejati bukan dua hal yang terpisah, tetapi dua jalan yang saling menyingkap. Roso sejati adalah kesadaran yang bergerak dari dalam menuju kebenaran, sementara ada sejati adalah kebenaran itu sendiri yang menunggu untuk disadari. Dalam kesatuan keduanya, makrifat terjadi; bukan sebagai pencapaian, tetapi sebagai pengingatan kembali atas asal dan tujuan manusia. Pada akhirnya, siapa yang benar-benar mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhan, karena diri sejati bukan lain dari pancaran ada sejati itu sendiri. Pak Yai menutup wejanannya kepada Santri dengan satu kalimat kunci bahwa “Keberadaan “Ada Sejati” itu lebih dekat dari urat lehermu, DIA hanya bisa kau kenali dengan “roso sejati” mu. Salam Waras (SJ)

Editor : Fadly

 

Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Jalin Kerja Sama Strategis dengan Hong Sheng Biotech di Taipei untuk Persiapan Pabrik Silver Nanoparticle Patch di Lampung

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Dalam upaya memperkuat kolaborasi riset dan teknologi di bidang bioteknologi medis, Dwi Marlina Syukri, Ph.D, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati, melakukan kunjungan kerja ke Hong Sheng Biotech Co., Ltd., Taipei, Taiwan pada 10–14 November 2025. Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam persiapan pendirian pabrik produksi Biogenic Silver Nanoparticle Patch di Bandar Lampung.

Kegiatan dimulai dengan pertemuan resmi bersama jajaran manajemen dan tim peneliti Hong Sheng Biotech. Dalam diskusi tersebut, kedua pihak membahas perkembangan teknologi produksi biogenic silver nanoparticles untuk aplikasi medis, mekanisme kerja antibakteri, serta standardisasi formula dan stabilitas produk untuk produksi skala industri. Pembahasan ini menjadi landasan penting dalam menyelaraskan kebutuhan industri dengan temuan riset akademik.

Sebagai perwakilan akademisi, Dwi Marlina Syukri, Ph.D memberikan pandangan mengenai aspek klinis serta potensi penggunaan silver nanoparticle patch dalam praktik kedokteran, mulai dari penyembuhan luka akut dan kronis hingga pencegahan infeksi. Pertemuan kemudian berlanjut pada pembahasan teknis pendirian fasilitas produksi di Bandar Lampung, mencakup rencana (Technology Transfer), kebutuhan infrastruktur berstandar Good Manufacturing Practices (GMP), spesifikasi peralatan produksi, alur pengembangan produk, hingga strategi pembentukan rantai pasok bahan baku lokal.

Kedua pihak juga menyusun tahapan implementasi yang meliputi:

  • Pilot production dan validasi proses
  • Penyusunan dokumen registrasi BPOM
  • Perencanaan uji klinis tahap awal di Indonesia
  • Penyusunan MoU dan dokumen kerja sama resmi sebagai dasar keberlanjutan proyek

Kunjungan ditutup dengan tur fasilitas laboratorium Hong Sheng Biotech untuk melihat langsung teknologi dan proses produksi yang menjadi acuan pada pendirian pabrik di Indonesia. Dalam kesempatan ini, disepakati pula komitmen untuk mempercepat persiapan pendirian pabrik Biogenic Silver Nanoparticle Patch di Bandar Lampung dan memperluas kerja sama riset antara kedua institusi.

Melalui kolaborasi ini, Universitas Malahayati diharapkan dapat berperan aktif dalam mendorong inovasi bioteknologi medis nasional dan menghadirkan produk nanopartikel yang efektif, aman, serta berdaya saing.

Kunjungan ini bukan hanya langkah teknis, tetapi juga bukti nyata bahwa kolaborasi antara akademisi dan industri mampu membuka peluang besar bagi kemajuan riset dan teknologi kesehatan di Indonesia. (fkr)

 

 

Dosen Universitas Malahayati Raih Penghargaan Internasional pada The 29th APSR Congress 2025 di Manila

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh sivitas akademika Universitas Malahayati. dr. Dwi Robbiardy Eksa, M.Kes., Sp.P, dosen Fakultas Kedokteran, berhasil meraih penghargaan internasional pada ajang bergengsi The 29th Congress of Asian Pacific Society of Respirology (APSR) yang digelar pada 10–13 November 2025 di SMX Convention Centre, Manila, Filipina.

Kongres tahunan yang menghimpun para ahli pulmonologi dan respirasi se-Asia Pasifik ini menjadi ruang strategis bagi para peneliti, akademisi, dan praktisi medis untuk berbagi temuan terbaru di bidang kesehatan pernapasan. Pada kegiatan tersebut, dr. Dwi Robbiardy Eksa tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga berkontribusi aktif sebagai peneliti dengan mempresentasikan dua penelitian penting.

Penelitian pertama berjudul:
“Comparison of Lateral Flow Lipoarabinomannan TB Antigen (LF LAM TB-Ag) and Xpert MTB/RIF for Diagnosing Non HIV Pulmonary Tuberculosis in Malnourished Patients.”
Karya ilmiah ini berhasil meraih Assembly Education Award dari APSR sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam upaya pengembangan metode diagnosis penyakit tuberkulosis.

Penelitian kedua berjudul:
“Exon Mutations and D-Dimer Levels in EGFR-Mutant Lung Adenocarcinoma: Correlation with 1-Year Progression-Free Survival at Ahmad Yani Metro General Hospital, Indonesia.”
Penelitian ini turut menegaskan komitmen dr. Dwi Robbiardy Eksa dalam pengembangan ilmu di bidang respirasi dan onkologi paru.

Pada kesempatan yang sama, dr. Dwi Robbiardy Eksa juga terpilih sebagai penerima International Award – Assembly Education Award of APSR 2025, khususnya dalam bidang Infeksi Tuberkulosis. Penghargaan ini diberikan kepada para peneliti yang memiliki kontribusi signifikan terhadap perkembangan riset dan inovasi dalam diagnosis serta penanganan penyakit paru.

Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Universitas Malahayati dan menegaskan peran aktif dosen Indonesia dalam forum ilmiah internasional. Diharapkan pencapaian ini dapat menginspirasi sivitas akademika untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghasilkan penelitian berkualitas di kancah nasional maupun internasional. (fkr)

Prestasi Membanggakan Anugrah Makhtias Rizky Raih Juara 1 Taekwondo di Tingkat Nasional dan Provinsi

BANDARLAMPUNG (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati kembali menorehkan prestasi melalui salah satu mahasiswanya, Anugrah Makhtias Rizky, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, yang sukses meraih penghargaan pada tingkat nasional dan tingkat provinsi.

Sebagai mahasiswa dengan NPM 25320128, Anugrah menunjukkan dedikasi dan kapasitas yang membanggakan dalam kompetisi yang diikutinya. Pencapaian ini menjadi bukti nyata kualitas mahasiswa Universitas Malahayati dalam menorehkan prestasi di berbagai ajang.

Dalam kesempatan wawancara, Anugrah mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian tersebut.
“Saya bersyukur bisa meraih prestasi ini. Semuanya tidak lepas dari doa keluarga, bimbingan dosen, dan dukungan teman-teman. Saya berharap pencapaian ini bisa memotivasi teman-teman mahasiswa lain untuk terus berusaha dan tidak takut mencoba,” ujarnya.

Pihak Fakultas Ilmu Kesehatan dan Program Studi Ilmu Keperawatan menyampaikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih. Mereka berharap keberhasilan Anugrah dapat menjadi contoh positif bagi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan potensi diri.

Universitas Malahayati berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan dan pengembangan mahasiswa, baik akademik maupun non-akademik, guna mencetak lulusan yang unggul, percaya diri, dan berdaya saing.

Selamat kepada Anugrah Makhtias Rizky atas capaian yang membanggakan ini. Semoga prestasi tersebut terus mengharumkan nama Universitas Malahayati. (fkr)