Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Saat menerima hasil laboratorium pemeriksanaan darah dan mendapatkan penjelasan dokter bahwa biang keladi penyakit dalam tubuh saya saat ini adalah tingginya produksi sel darah putih atau leukosit. Komponen sel darah yang mengandung sedikit hemoglobin sehingga warnanya lebih pucat.
Kata sang dokter, leukosit diproduksi sumsum tulang belakang (bone marrow) yang terdiri dari sel darah merah dan keping darah putih yang berfungsi mendeteksi dan melawan mikroorganisme atau patogen asing penyebab penyakit, seperti virus, jamur, bakteri, dan parasit.
Selain itu, leukosit juga berperan dalam melindungi tubuh dari patogen asing lainnya yang dapat mengancam kesehatan. Kesimpulannya, barang ini semacam “tentara” yang bertugas untuk berperang melawan musuh. Hanya persoalan, tentara dalam tubuh ini kebanyakan dari yang diperlukan.
Akibatnya malah membahayakan rakyat lainnya, karena akan mengubah peran dan fungsi dari masing-masing mereka. Berikutnya tentara yang tidak ada kerjaan ini juga merepotkan karena dikhawatirkan akan membuat ulah, salah satu diantaranya “joged” di dalam tubuh.
Akibat tentara gemoy itu suhu badan jadi naik, kepala pusing, apalagi jogednya di akhir bulan, badan tanbah letoy. Tampak sekali keadilan Tuhan, bagaimana komposisi antara si merah dan si putih jika tidak mengikuti hukum keseimbangan yang Tuhan beri, maka malapetaka akan terjadi.
Bahkan jika diantara mereka bergemoy ria di dalam tubuh, itu pertanda malaikat maut akan menjemput. Hanya terkadang, kita abai akan tanda-tanda itu sehingga hidup jadi asyik-asyik aja.
Diskusipun berakhir karena sang dokter harus mengurus pasien lain lagi, tidak hanya mengurusi pasien satu professor yang rewel selalu bertanya fungsi dan peran dari apa yang disodorkan, dari obat sampai nama penyakit. Mungkin sambil berguman beliau berlalu “rewel amat professor ini”. Maafkan beta pak dokter
Kondisi di atas membawa pemikiran dan dialog diri, bagaimana kalau kejadian ini ada di dalam kehidupan sosial kemayarakatan nyata; betapa bahayanya jika sesuatu yang diperlukan ternyata jumlahnya melebihi dari yang dibutuhkan.
Sebagai contoh kita memerlukan kapasitas sesuatu jabatan dengan ukuran norma tertentu baik kuantitatif maupun kualitatif. Karena alasan tertentu, maka parameter itu kita turunkan; tentu saja semua menjadi berantakan dan terjadilah kegemoy-an di sana-sini.
Bisa juga manakala orang sibuk mencari pengamanan untuk posisi diri dengan berperisai kelompok besar lain, secara diam-diam menyusup intik merusak kekebalan masyarakat dari dalam. Teknik penyakit merusak tubuh karena ketidakseimbangan sistem kekebalan berpola seperti ini, dan ini diinisiasi oleh perusak persatuan negeri, dengan dalih apapun.
Bisa jadi banyak pencari popularitas dan suara di negeri ini lupa, bahwa di sana ada bibit perpecahan yang sedang bergemoy karena mendapat panggung.
Atas nama membela perjuangan negara lain, kita harus berhadap-hadapan dengan bangsa sendiri, dengan garis demarkasi “agama”. Tentu pemikiran ini sangat mundur dari cita-cita semula negara ini di dirikan.
Belum lagi di Timur sana setiap tanggal satu Desember pasti ada gelombang-gelombang yang ditengarai terus membesar, dan tentu saja membahayakan label negara kesatuan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri negeri ini.
Hampir setiap bulan kita mendengar “darah putih” negeri ini gugur sebagai pahlawan kesuma bangsa, menjaga kesatuan negara di sana. Namun banyak yang abai, bahkan masih bisa tertawa sambil bergemoy, dengan tidak lupa berteriak “saya ada di sini”.
Mari kita berpesta boleh saja, namun jangan sampai lupa sikut kita tidak harus menohok teman sebelah, karena sikut itu organ pemberian Tuhan yang berfungsi untuk memberikan manfaat bagi sesama.
“salam waras dari orang yang belum sehat”. (SJ)
Dosen Universitas Malahayati Raih ISBN untuk Buku Ajar Manajemen Keuangan
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati Bandar Lampung menambah satu lagi koleksi buku ajar berjudul “Manajemen Keuangan”. Buku ini ditulis oleh Erna Listyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., AFA, dan berhasil mendapatkan nomor ISBN (International Standard Book Number dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
ISBN yang diberikan oleh Perpustakaan Nasional RI memberikan identifikasi unik untuk buku tersebut, yang nantinya akan memudahkan proses pencarian dan penggunaan buku di berbagai perpustakaan di seluruh dunia. Buku ajar ini dijadwalkan akan diterbitkan oleh penerbit Universitas Malahayati pada bulan Desember 2023.
Penanggungjawab Penerbit Universitas MalahayatiTyan Tasa, S.Kom menjelaskan, buku “Manajemen Keuangan” mencakup beragam aspek dalam bidang manajemen keuangan. Beberapa topik yang dibahas meliputi gambaran singkat manajemen keuangan, laporan keuangan, analisis laporan keuangan, pasar dan institusi keuangan, time value of money, return dan risiko, valuasi obligasi dan saham, biaya modal, struktur modal perusahaan, serta capital budgeting.
“ISBN merupakan nomor unik yang yang diberikan untuk buku yang sudah terdaftar di Perpusnas RI. ISBN juga bermanfaat untuk menunjang penilaian Beban kerja Dosen dan kepangkatan dosen karena memiliki nilai yang cukup tinggi”. Jelasnya. (451/**)
Tentara Gemoy
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Saat menerima hasil laboratorium pemeriksanaan darah dan mendapatkan penjelasan dokter bahwa biang keladi penyakit dalam tubuh saya saat ini adalah tingginya produksi sel darah putih atau leukosit. Komponen sel darah yang mengandung sedikit hemoglobin sehingga warnanya lebih pucat.
Kata sang dokter, leukosit diproduksi sumsum tulang belakang (bone marrow) yang terdiri dari sel darah merah dan keping darah putih yang berfungsi mendeteksi dan melawan mikroorganisme atau patogen asing penyebab penyakit, seperti virus, jamur, bakteri, dan parasit.
Selain itu, leukosit juga berperan dalam melindungi tubuh dari patogen asing lainnya yang dapat mengancam kesehatan. Kesimpulannya, barang ini semacam “tentara” yang bertugas untuk berperang melawan musuh. Hanya persoalan, tentara dalam tubuh ini kebanyakan dari yang diperlukan.
Akibatnya malah membahayakan rakyat lainnya, karena akan mengubah peran dan fungsi dari masing-masing mereka. Berikutnya tentara yang tidak ada kerjaan ini juga merepotkan karena dikhawatirkan akan membuat ulah, salah satu diantaranya “joged” di dalam tubuh.
Akibat tentara gemoy itu suhu badan jadi naik, kepala pusing, apalagi jogednya di akhir bulan, badan tanbah letoy. Tampak sekali keadilan Tuhan, bagaimana komposisi antara si merah dan si putih jika tidak mengikuti hukum keseimbangan yang Tuhan beri, maka malapetaka akan terjadi.
Bahkan jika diantara mereka bergemoy ria di dalam tubuh, itu pertanda malaikat maut akan menjemput. Hanya terkadang, kita abai akan tanda-tanda itu sehingga hidup jadi asyik-asyik aja.
Diskusipun berakhir karena sang dokter harus mengurus pasien lain lagi, tidak hanya mengurusi pasien satu professor yang rewel selalu bertanya fungsi dan peran dari apa yang disodorkan, dari obat sampai nama penyakit. Mungkin sambil berguman beliau berlalu “rewel amat professor ini”. Maafkan beta pak dokter
Kondisi di atas membawa pemikiran dan dialog diri, bagaimana kalau kejadian ini ada di dalam kehidupan sosial kemayarakatan nyata; betapa bahayanya jika sesuatu yang diperlukan ternyata jumlahnya melebihi dari yang dibutuhkan.
Sebagai contoh kita memerlukan kapasitas sesuatu jabatan dengan ukuran norma tertentu baik kuantitatif maupun kualitatif. Karena alasan tertentu, maka parameter itu kita turunkan; tentu saja semua menjadi berantakan dan terjadilah kegemoy-an di sana-sini.
Bisa juga manakala orang sibuk mencari pengamanan untuk posisi diri dengan berperisai kelompok besar lain, secara diam-diam menyusup intik merusak kekebalan masyarakat dari dalam. Teknik penyakit merusak tubuh karena ketidakseimbangan sistem kekebalan berpola seperti ini, dan ini diinisiasi oleh perusak persatuan negeri, dengan dalih apapun.
Bisa jadi banyak pencari popularitas dan suara di negeri ini lupa, bahwa di sana ada bibit perpecahan yang sedang bergemoy karena mendapat panggung.
Atas nama membela perjuangan negara lain, kita harus berhadap-hadapan dengan bangsa sendiri, dengan garis demarkasi “agama”. Tentu pemikiran ini sangat mundur dari cita-cita semula negara ini di dirikan.
Belum lagi di Timur sana setiap tanggal satu Desember pasti ada gelombang-gelombang yang ditengarai terus membesar, dan tentu saja membahayakan label negara kesatuan yang telah diperjuangkan oleh para pendiri negeri ini.
Hampir setiap bulan kita mendengar “darah putih” negeri ini gugur sebagai pahlawan kesuma bangsa, menjaga kesatuan negara di sana. Namun banyak yang abai, bahkan masih bisa tertawa sambil bergemoy, dengan tidak lupa berteriak “saya ada di sini”.
Mari kita berpesta boleh saja, namun jangan sampai lupa sikut kita tidak harus menohok teman sebelah, karena sikut itu organ pemberian Tuhan yang berfungsi untuk memberikan manfaat bagi sesama.
“salam waras dari orang yang belum sehat”. (SJ)
Kamar 2515
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Semenjak beberapa hari lalu saya diberi anugerah oleh Allah untuk merasakan nikmatnya ruang perawatan VVIP atas rekomendasi ibu pimpinan setempat pada satu rumah sakit terkenal di Provinsi ini. Nomor kamarnya seperti judul di atas. Ada satu pengalaman psikologis yang takut hilang. Maka, sambil tangan dibalut selang infus, pengalaman batin itu harus ditulis, tentu dengan sembunyi-sembunyi.
Bulir-bulir infus itu menitik satu demi satu dan tidak boleh berhenti. Begitulah pesan perawat seolah mewakili instruksi ketuhanan bahwa jika kamu masih bergantung pada benda, maka pandanglah dengan cemas. Namun jika kamu bergantung pada Tuhanmu, maka bersyukurlah karena sudah berapa lama kamu diizinkan menghirup oksigen-Nya.
Di samping sana orang-orang terkasih menunggu dengan cemas. Entah apa yang sedang dipikirkan. Satu hal yang masih dari merka jangan baca dulu-lah berita berita itu dari gawai, dengan sedikit ancaman dari “polisi dapur saya”. Namun yang namanya manusia, tetap saja manusia; sekalipun sudah dikawal mata ini gatal kalau tidak lihat komentar-komentar orang sekelas Mas Oyos, Herman Batin Mangku, Hariwardoyo. Gino Vanoli, Pak Jau dan masih banyak lagi. Satu hal yang saya harus patuhi jangan kasih tahu banyak orang nanti tidak bisa istirahat, saya jawab “Siap Komandan-Ku”
Sambil merenungkan bagaimana hirukpikuk diluar sana dari informasi yang saya baca dan pahami, ternyata semakin seru saja; pertandingan “Banteng dengan Gemoy yang di Amin-kan”; tampaknya makin seru, mengalahkan issue Palestina dan Yesica. Pertandingan kali ini membuat banyak Orang-Orang Tua negeri ini turun gunung melalui keahliannya menjadi pengingat generasi. Bisa di simak bagaimana Gus Mus, Taufik Ismail dan lain lain lagi menjadi juru bicara generasinya. Hanya sayang ada diantara anak negeri ini yang dahulu waktu sekolah tidak belajar Pendidikan Budi Pekerti, memberi komentar yang sangat tidak pada tempatnya. Mereka belum sadar bahwa “orang tua itu yang pasti pernah muda, tetapi yang muda belum tentu sampai usia tua”, adalah adagium yang harusnya dipahami.
Sisi menarik dari adanya pesta pemilihan raya negeri ini adalah, kita dapat mengukur tingkat kematangan masyarakat dalam menerima perbedaan pandangan atau pilihan. Ternyata kelompok-kelompok pemaksa kehendak dan pendapat masih bermunculan di mana-mana. Barometer pendidikan melalui Pendidikan Moral yang telah dihilangkan pada sistem pendidikan pada pemerintahan ini, adalah kesalahan sejarah; yang tidak boleh terulang. Demikian juga banyak perguruan tinggi yang Program Pascasarjananya menghilangkan mata kuliah filsafat manusia dan logika. Sehingga, waktu menjadi pemimpin seolah manusia tidak bertongkat di jalan licin.
Kita tidak cukup mempercayai kemampuan berdebat dari calon saja, apalagi janji-janji yang mudah untuk diingkari, ditambah lagi dagangan kesederhanaan tampilan sebagai pembungkus. Semua bisa musnah ditelan masa manakala yang bersangkutan sudah berkuasa.
Mumpung masih ada waktu mari kita siapkan rekam digital sebagai bukti apa janji dan kesepakatan mereka setelah memimpin negeri ini, dan jika pada waktu terjadi penyimpangan, maka kita punya kuwajiban mengingatkan kepada mereka. Seterusnya kita harus mulai mengisiniasi norma atau apapun namanya akar menjadi pagar bagi mereka untuk tidak ingkar janji.
Mari kita bahu membahu menjadi juru selamat negeri ini, karena hanya satu yang harus jadi juru mudi. Karena kalau salah posisi, maka kapal akan berputar-putar di dermaga.
Salam waras dari rumah sakit! (SJ)
Gelar Yudisium, 7 Mahasiswa FIK Universitas Malahayati Jadi lulusan Terbaik
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Universitas Malahayati Bandar Lampung menggelar acara Yudisium dan Sumpah Profesi Fakultas Ilmu Kesehatan di Graha Bintang pada Sabtu (2/12/2023).
Sebanyak 7 Mahasiswa berhasil mencapai prestasi akademik tertinggi dan lulus tercepat dari 729 lulusan.
Berikut adalah daftar nama-nama mahasiswa lulusan terbaik beserta program studi dan prestasinya:
Selain Yudisium, acara juga melibatkan sumpah profesi bagi lulusan Prodi Kesehatan Masyarakat, Prodi Farmasi, dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan.
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati Bandar Lampung memiliki 10 program studi, termasuk S2 Kesehatan Masyarakat, S1 Kesehatan Masyarakat, S1 Kebidanan, S1 Farmasi, S1 Psikologi, S1 Keperawatan, DIII Anafarma, DIII Bidan, Pendidikan Profesi Bidan, dan Profesi Ners. (451/**)
Mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Malahayati, Raih Dua Gelar Juara dalam Ajang Festival Mahasiswa Psikologi tahun 2023
Ka.Prodi Psikologi, Octa Reni Setiawati, M.Psi mengucapkan rasa bangga dengan hasil yang diraih oleh kedua mahasiswanya.
“Prestasi ini akan memicu semangat baru terkhususnya untuk mahasiswa Prodi Psikologi, agar dapat berperan aktif dalam mengikuti lomba-lomba baik sifatnya akademik maupun non akademik,” ucap Octa.
Dengan hasil yang diraih ini, Azzahra beraharap dapat membanggakan dan mengharumkan nama Prodi Psikologi dan Universitas Malahayati. Disisi lain Ikrima pun berpendapat demikian, ia menambahkan semoga dengan presasi ini menjadikan motivasi untuk dirinya agar dapat terus membawa nama Universitas Malahayati diajang Nasional dan Internasional. (gil/humasmalahayatinews)
Tiga Dosen Universitas Malahayati Bandar Lampung Raih Beasiswa Pendidikan Indonesia Batch 2 2023
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Tiga dosen Universitas Malahayati Bandar Lampung berhasil lolos seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Batch 2 yang berlangsung pada 23-29 Oktober 2023.
Salah satu dosen yang berhasil lolos adalah Muhammad Rudy, M.Pd., dosen Program Studi S1 Farmasi. Dirinya akan melanjutkan S3 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Sementara itu, Nurhalina Sari, M.K.M., Dosen sekaligus Kaprodi Kesehatan Masyarakat, akan melanjutkan studi di Universitas Indonesia. Diah Ayu Wulandari, ST., M. Si, dosen Program Studi Teknik Lingkungan, juga berhasil meraih beasiswa dan akan melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia.
Baca Juga : Mau Ikut Beasiswa S3 Dosen BPI Kemendikbudristek, ini Syaratnya
Dalam keterangannya, Nurhalina mengucapkan rasa syukur, “Alhamdulillah, saya dan teman-teman lainnya berhasil lolos beasiswa BPI Batch 2 ini. Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan penuh dari keluarga dan Universitas Malahayati tempat saya bekerja. Semoga langkah ini dapat memotivasi teman-teman lainnya untuk melanjutkan kuliah doktoral.”
Pendaftaran Beasiswa Pendidikan Indonesia Batch 2 membuka kesempatan bagi dosen Perguruan Tinggi Akademik (PTA) dan Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) untuk mengikuti skema S3, baik beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Periode pendaftaran berlangsung pada 23-29 Oktober 2023.
Menurut informasi dari laman resmi beasiswa.kemdikbud.go.id, Program Beasiswa Pendidikan Indonesia merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (BPI Kemendikbudristek). Program ini merupakan bentuk dukungan Pemerintah Indonesia melalui pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. (451/**)
Mau Ikut Beasiswa S3 Dosen BPI Kemendikbudristek, ini Syaratnya
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Kemendikbudristek RI memberikan wadah bagi para dosen untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi melalui Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemendikbudristek sejak tahun 2021.
Ini Syarat Beasiswa S3 Dosen BPI Kemendikbudristek, yang bisa kamu siapkan sebelum mendaftar:
– Di bawah 48 tahun untuk non-ASN
– Di bawah 41 tahun untuk ASN Jabatan Pelaksana, JF Keterampilan, JF Keahlian Jenjang Pertama dan Muda
– Di bawah 43 tahun untuk JF Keahlian Jenjang madya
– Di bawah 48 tahun untuk JF Keahlian Jenjang Utama, JD Dosen Jenjang Asisten Ahli, Jenjang Lektor, dan Jenjang Lektor Kepala.
– Perguruan tinggi di dalam negeri yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), dan/atau lembaga akreditasi mandiri
– Perguruan tinggi kedinasan dalam negeri
– Perguruan tinggi di luar negeri yang diakui oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Ditjen Diktiristek) kementerian atau Kedutaan Besar Republik Indonesia di negara asal perguruan tinggi.
– TOEFL IBT: 80
– PTE Academic: 58
– IELTS: 6,5
– Surat keterangan sehat jasmani dari dokter RS, puskesmas, atau klinik
– Surat keterangan bebas narkoba dari dokter RS, puskesmas, klinik, atau lembaga yang berwenang menguji zat narkoba.
Esai komitmen kontribusi ke instansi asal atau negara setelah studi, meliputi deskripsi diri, peran yang akan dilakukan, caranya, dan penilaian diri seperti kekuatan, kelemahan, pengalaman membanggakan, yang kurang membanggakan, dan yang pernah dilakukan dan disesali dalam 1.500-2.000 kata.
Informasi tentang Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) S3 dalam negeri dan luar negeri dapat kamu telusuri di sini beasiswa.kemdikbud.go.id.
Tim Mahasiswa D3 Kebidanan Raih Juara 3 Video Edukasi Ajang Midwifery Students Competition and Seminar
Fera Ulfah selaku ketua tim, mengungkapkan harapaannya semoga kami dapat menghasilkan banyak prestasi lagi untuk prodi dan Universitas Malahayati.
“Kami sangat bangga dengan prestasi ini, kami akan terus siap untuk mengikuti ajang lomba berikutnya,” ujarnya.
“Semoga kedepannya kami dapat meraih prestasi yang lebih tinggi lagi, dan Universitas Malahayati dapat selalu mendungkung serta memfasilitasi terutama untuk mahasiswa agar berprestasi,” tandasnya. (gil/humasmalahayatinews)
Universitas Malahayati Borong Juara dan Penghargaan Peserta Terbanyak dari Kementerian Keuangan
Bandar Lampung (malahayati.ac.id): Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Malahayati Bandar Lampung, meraih juara dalam Lomba Menulis bertema “Aset Kita, Punya Kita” pada 29 November 2023, di Aula Kantor Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Dari 42 peserta yang berasal dari Perguruan Tinggi se-Lampung, empat mahasiswa Universitas Malahayati berhasil menorehkan prestasi. Herwindu Danu Pangestu (Juara 2), Wulan Septio Vani (Juara 3), Dwi Puja Arrahman (Juara Harapan 1), dan Rizkika Dafitri (Juara Harapan 2).
Tidak hanya meraih juara, Universitas Malahayati juga mendapat penghargaan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) atas peran serta aktif dan kontribusi kampus yang mengirimkan peserta terbanyak.
Penghargaan ini diterima oleh Nadia Tiara Putri, S.Si., M.B.A., Dosen Pembimbing Prodi Manajemen Universitas Malahayati.
Nadia Tiara Putri menyampaikan rasa syukur atas prestasi mahasiswa dan memberikan selamat kepada keempat mahasiswa yang telah meraih juara.
Dia juga berterima kasih kepada seluruh mahasiswa Manajemen yang berpartisipasi, serta mengapresiasi kontribusi Tim Dosen yang terlibat, yaitu Dr. Febrianty, S.E., M.Si., Ayu Nursari, S.E., M.E., dan Euis Mufahamah, SE., M. Ak.
“Penghargaan ini akan menjadi acuan untuk terus meningkatkan kualitas di masa depan. Semoga Prodi Manajemen dapat terus menyumbang prestasi di tingkat Nasional dan Internasional,” ujar Nadia Tiara Putri. (451/**).
Pengelola Jurnal Universitas Malahayati Gelar Workshop Tata Kelola OJS 3
BANDAR LAMPUNG (malahayati.ac.id): Pengelola jurnal Universitas Malahayati Bandar Lampung yang dipimpin Dr. Mala Kurniati, S. Si., M. Biomed, menggelar workshop tata kelola jurnal ilmiah berbasis open journal sistem (OJS) 3 di Gedung Rektorat Lantai 5, Rabu (29/11/2023).
Acara dibuka langsung Rektor Universitas Malahayati Bandar Lampung Dr. Achmad Farich, dr., M.M. Kegiatan ini selain digelar secara luring, juga secara hybrid diikuti seluruh dosen Universitas Malahayati.
Rektor Universitas Malahayati, Achmad Farich mengatakan, pihaknya mendorong para dosen untuk sebanyak mungkin menulis. “Saya berharap, kalau bisa semua jurnal di Universitas Malahayati dapat terakreditasi,” kata Rektor Achmad Farich.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Fajar Sandi Prawoco, sebagai Analis Data Publikasi Ilmiah Kemendikbudristek, yang menyampaikan materi tentang peningkatan akreditasi jurnal dan Itsar Bolo Rangka, S. Pd., M. Pd., dari Universitas Negeri Malang menyampaikan materi tentang Pengenalan Tata Kelola OJS 3.
Fajar Sandi Prawoco, SE, Analis Data Publikasi Ilmiah Kemendikbudristek menjelaskan, sementara untuk pemeringkatan jurnal lebih dilihat dari peringkat akreditasi dan yang kedua impactnya dari google scholar dua tahun terakhir.
“Saya cek di data, Universitas Malahayati sudah terakreditasi 11 jurnal, jika ada yang sudah terakreditasi namun belum tercatat di sistem, nanti kita sinkronkan bersama,” jelas Fajar Sandi Prawoco.
Persyaratan Akreditasi Jurnal Ilmiah diantaranya :
1. Memiliki nomor seri standar internasional elektronik (EISSN). Nama jumal harus sesuai dengan yang terdaftar di EISSN (issn.lipi.go.id)
2. Memiliki pengenal objek digital (Digital Object Identifier/DOI) di tiap artikel
3. Mencantumkan persyaratan etika publikasi (publication ethics statement) dalam laman jurnal. Jurnal ilmiah harus bersifat ilmiah, artinya memuat artikel yang secara nyata memajukan ilmu pengetahuan,
4. Teknologi dan seni yang didasarkan pada hasil penelitian, perekayasaan, dan/atau telaahan yang mengandung temuan dan/atau pemikiran yang orisinil serta tidak plagiat
5. Jumal ilmiah telah terbit paling sedikit 2 tahun berurutan, terhitung mundur mulai tanggal atau bulan pengajuan akreditasi.
6. Frekuensi penerbitan jurnal ilmiah paling sedikit 2 kali dalam satu tahun secara teratur.
7. Jumlah artikel setiap terbit sekurang-kurangnya 5 artikel.
8. Jurnal sudah terindeks di lembaga pengindeks nasional (451)